cover
Contact Name
Harriyadi
Contact Email
amerta@brin.go.id
Phone
+6281225308529
Journal Mail Official
amerta@brin.go.id
Editorial Address
Direktorat RMPI - BRIN, Gedung BJ Habibie, Jl. M.H. Thamrin No.8, RW.1, Kb. Sirih, Kec. Menteng, Kota Jakarta Pusat, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 10340, Jakarta Pusat, Provinsi DKI Jakarta
Location
Kota tangerang selatan,
Banten
INDONESIA
Amerta
Published by BRIN Publishing
ISSN : 02151324     EISSN : 25498908     DOI : https://doi.org/10.55981/amt
Starting at Volume 40 Number 2 December 2022, AMERTA’s objective is to promote the wide dissemination of the results of systematic scholarly inquiries into the broad field of archaeological research in proto-history and history chronology themes in the Indonesian Archipelago. The primary, but not exclusive, audiences are researchers, academicians, graduate students, practitioners, and others interested in archaeological research. AMERTA accepts original articles on historical archaeology-related subjects and any research methodology that meets the standards established for publication in the journal. Papers published in the journal may cover a wide range of topics in historical archaeology, including, but not limited to: 1. Field of archaeological findings in Indonesia’s Proto History, Hindu-Buddhist, Islam, and Colonial periods; 2. New theoretical and methodological analyses; 3. Synthetic overviews of topics in the field of historical archaeology.
Articles 727 Documents
Application of Geoelectric Method to Determine the Distribution of Liyangan Temple in Central Java Surya Utama, Bonang; Yatini, Y; Seno Giamboro, Wrego; Hamdallah, Hafiz
AMERTA Vol. 42 No. 2 (2024)
Publisher : Penerbit BRIN (BRIN Publishing)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55981/amt.2024.4932

Abstract

Abstract, Application of Geoelectric Method to Determine the Distribution of Liyangan Temple in Central Java. The Liyangan Site was buried on the slopes of Mount Sindoro in a fairly complete condition, with the Liyangan Temple and a residential complex. Knowing the existence of the temple and residential complex is very important in helping to reveal the history of the complex. The geoelectric method aimed to obtain the distribution towards the lateral and depth of the temple. This method provides an overview of the distribution of the Liyangan Temple and settlement based on differences in the resistivity properties of igneous rocks (as temple materials) and the surrounding rocks (alluvial or pyroclastic rocks from the eruption of Mount Sindoro). There are nine geoelectric lines in dipole-dipole confguration, consists of fve parallel and four perpendicular lines, with a spacing of 10 meters and n = 1-8. Res2DInv was used to process the geoelectric data. The results show that the resistivity values below the surface are classifed into four criteria, which are low resistivity with a value of <100 Ω.m is interpreted as soil, medium (100-490 Ω.m) as pyroclastic breccia lithology, high (490-2100 Ω.m) as volcanic breccia lithology, and high resistivity value of 2100 Ω.m is interpreted as andesite lava at a depth of 20-40 meters below the surface. The results also show that six lines have very high resistivity value anomalies (>2100 Ω.m) and are located on the surface to a depth of 4 meters, which are interpreted to be the remains of the foundation of the Liyangan Temple. Keywords: Liyangan Temple, Resistivity, Geoelectric, Dipole-Dipole   Abstrak. Situs Liyangan yang terkubur di lereng Gunung Sindoro ditemukan dalam kondisi yang cukup lengkap, yaitu terdapat Candi Liyangan dan kompleks pemukiman. Mengetahui keberadaan candi dan kompleks permukiman menjadi permasalahan yang sangat penting dalam membantu upaya mengungkap sejarah kompleks tersebut. Upaya untuk memperoleh distribusi ke arah lateral maupun kedalaman candi dilakukan dengan metode geolistrik. Metode ini memberi gambaran persebaran Candi Liyangan dan pemukiman, berdasarkan perbedaan sifat resistivitas batuan beku (sebagai bahan candi) dan batuan sekelilingnya (aluvial atau batuan piroklastik produk letusan Gunung Sindoro). Sebanyak sembilan lintasan geolistrik konfigurasi dipole-dipole diambil untuk bisa memetakan kondisi bawah permukaan. Lima lintasan sejajar dan empat lintasan yang tegak lurus, dengan spasi 10 meter dan n=1-8. Res2DInv digunakan untuk mengolah data geolistrik. Hasil penelitian menunjukkan nilai resistivitas di bawah permukaan digolongkan menjadi resistivitas rendah dengan nilai <100 Ω.m diinterpretasikan sebagai soil, medium (100-490 Ω.m) sebagai litologi breksi piroklastik, tinggi (490- 2100 Ω.m) sebagai litologi breksi vulkanik, dan sangat tinggi dengan nilai 2100 Ω.m diduga sebagai lava andesit pada kedalaman 20-40 meter di bawah permukaan. Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa enam lintasan memiliki anomali nilai resistivitas yang sangat tinggi (>2100 Ω.m) dan terletak di permukaan tanah sampai kedalaman 4 meter yang diduga merupakan sisa bagian dari pondasi Candi Liyangan. Kata kunci: Candi Liyangan, Resistivitas, Geolistrik, Dipole-Dipole
Menelusuri Jejak Sejarah dan Warisan Kultural Kenegerian Lada: Pergulatan Perdagangan Rempah di Pesisir Timur Aceh Usman; Anis, Madhan; Ibrahim, Husaini; Riyani, Mufti; Rahman, Aulia
AMERTA Vol. 42 No. 2 (2024)
Publisher : Penerbit BRIN (BRIN Publishing)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55981/amt.2024.5515

Abstract

Abstract, The Struggle for Spices Trade on the Eastern Coast of Aceh: Tracing the Historical Remain and Cultural Heritage of the Pepper Kingdom. The east coast of Aceh, as part of the Southeast Asian region, has an important role in the history of the spice trade. These trading activities have shaped civilization and international relations for centuries. This research aims to reveal the history of the spice civilization and raise awareness of the historical heritage of spices on the east coast of Aceh. Spices have long been an essential commodity in global trade, influencing the development of civilizations and relations between nations. Nonetheless, over time, knowledge of the important role of the east coast of Aceh in the history of spices is fading. This research uses an interdisciplinary approach that involves historical, archaeological, and ethnographic studies to explore traces of history that are hidden, and scattered on the east coast of Aceh. Through primary data collection, interviews with experts, local researchers, and the local community, as well as direct observation of physical and cultural remains, this research seeks to reconstruct the historical narrative of the heritage of the spice civilization on the east coast of Aceh. This research found that on most of the east coast of Aceh, there are several historical remains related to traces and civilizations of spices in the 17th to 19th centuries. These traces of history are significant in providing information and historical awareness for the people regarding the spice civilization on the east coast of Aceh. It’s just that there are still many challenges to instilling historical awareness about the history of spices. The historical heritage of the spice civilization has not been mapped correctly, and the condition of the heritage that has not been maintained has led to information and narratives on the history of spices on the east coast of Aceh. This research hopes to encourage concrete steps in protecting, preserving, and appreciating the heritage of the pepper kingdom on the East Coast of Aceh for present and future generations. Keywords: Awareness, History, Pepper, Coast, Aceh, Heritage     Abstrak, Pesisir timur Aceh, sebagai bagian dari kawasan Asia Tenggara memiliki peran penting dalam jejak sejarah perdagangan rempah. Aktifitas perdagangan tersebut telah membentuk peradaban dan hubungan internasional selama berabad-abad. Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap sejarah peradaban rempah dan meningkatkan kesadaran terhadap peninggalan sejarah rempah di pesisir timur Aceh. Rempah telah lama menjadi komoditas penting dalam perdagangan global, mempengaruhi perkembangan peradaban dan hubungan antarbangsa. Meskipun demikian, seiring berjalannya waktu, pengetahuan tentang peran penting pesisir timur Aceh dalam sejarah rempah semakin memudar. Penelitian ini menggunakan pendekatan lintas disiplin ilmu yang melibatkan kajian sejarah, arkeologi, dan etnografi untuk menggali jejak-jejak sejarah yang tersembunyi, bahkan berserakan di pesisir timur Aceh. Melalui pengumpulan data primer, wawancara dengan para ahli, peneliti lokal, dan masyarakat setempat, serta pengamatan langsung terhadap peninggalan-peninggalan fisik dan budaya, penelitian ini berusaha merekonstruksi narasi sejarah peninggalan peradaban rempah di pesisir timur Aceh. Penelitian ini menemukan bahwa di pesisir timur Aceh terdapat beberapa peninggalan sejarah yang berkaitan dengan jejak dan peradaban rempah pada abad ke-17 hingga 19. Jejak peninggalan sejarah tersebut signifikan dalam memberikan informasi dan kesadaran sejarah bagi masyarakat terkait peradaban rempah di pesisir Timur Aceh. Hanya saja, untuk menanamkan kesadaraan sejarah dalam kaitannya sejarah rempah masih ditemui banyak tantangan. Peninggalan sejarah peradaban rempah belum terpetakan dengan baik dan kondisi peninggalan yang tidak terpelihara menyebabkan informasi dan narasi sejarah rempah diwilayah tersebut. Penelitian ini berharap dapat mendorong langkah-langkah konkret dalam menjaga, memelihara, dan menghargai warisan kenegerian lada di pesisir Timur Aceh untuk generasi masa kini dan mendatang. Kata Kunci: Kesadaran, Sejarah, Lada, Pesisir, Aceh, Peninggalan
Cover Amerta Volume 42, Nomor 2, Tahun 2024 BRIN
AMERTA Vol. 42 No. 2 (2024)
Publisher : Penerbit BRIN (BRIN Publishing)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Appendix Amerta Volume 42, Nomor 2, Tahun 2024 BRIN
AMERTA Vol. 42 No. 2 (2024)
Publisher : Penerbit BRIN (BRIN Publishing)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Preface Amerta Volume 42, Nomor 2, Tahun 2024 BRIN
AMERTA Vol. 42 No. 2 (2024)
Publisher : Penerbit BRIN (BRIN Publishing)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Reflections on The Maitrakanyaka-Avadana at Candi Borobudur: The Teaching of Exchanging and Equalizing Lee, So Tju Shinta; Lee, Salim
AMERTA Vol. 43 No. 1 (2025)
Publisher : Penerbit BRIN (BRIN Publishing)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55981/amt.2025.4907

Abstract

Abstrak. Refleksi tentang Maitrakanyaka-avadana di Candi Borobudur: Ajaran “Menukar dan Menyamakan". Tulisan ini mengeksplorasi ajaran berlapis dalam cerita Maitrakanyaka yang tergambar pada relief Candi Borobudur, dengan fokus pada praktik “menukar dan menyamakan” (parivartana). Melalui analisis dialogis relief dan perbandingan dengan versi naskah Sanskerta, Tionghoa, Tibet, dan Pali, penelitian ini mengungkap unsur-unsur didaktik yang kaya. Narasi ini berpuncak pada ajaran mendalam tentang parivartana (atau tonglen), yang menekankan keberanian untuk mengambil alih penderitaan orang lain. Praktik yang dimotivasi oleh bodhicitta ini yang dipahat di Borobudur, merupakan bagian dari ajaran-ajaran terkenal dalam Buddhadharma mengenai budidaya pikiran. Relief-relief tersebut yang kemungkinan terinspirasi oleh berbagai versi naskah, juga menunjukkan proses seleksi, interpretasi, dan adaptasi yang terampil dari para perancang dan pemahat Borobudur dalam menciptakan narasi visual, sekaligus berfungsi sebagai bukti penguasaan literasi yang luas pada masanya. Pada akhirnya, penelitian ini menyoroti bagaimana relief Borobudur secara efektif menyampaikan ajaran yang mengakar kuat yang masih relevan dan masih dipraktikkan hingga sekarang. Kata kunci: Ajaran Borobudur, Cerita Maitrakanyaka, Parivartana, Relief naratif, Tonglen   Abstract. This paper explores the multi-layered teachings within the Maitrakanyaka story as depicted in the Borobudur reliefs, focusing on the practice of “exchanging and equalizing” (parivartana). Employing dialogical analysis of the reliefs and comparing them with Sanskrit, Chinese, Tibetan, and Pali manuscript versions, the study reveals rich didactic elements. The narrative culminates in a profound teaching on parivartana (or tonglen), emphasizing the courageous act of taking on the suffering of others. This bodhicitta-motivated teaching, carved at Borobudur, is part of the celebrated teachings within Buddhadharma regarding mind cultivation. The reliefs, likely inspired by various manuscript versions, also demonstrate the Borobudur designers’ and sculptors’ process of selection, interpretation, and adaptation in creating a visual narrative, while simultaneously serving as evidence of the extensive literary mastery of their time. Ultimately, this study highlights how Borobudur’s reliefs continue to convey these enduring teachings, which remain relevant and practiced today. Keywords: Borobudur teachings, Maitrakanyaka-avadana, Narrative relief, Parivartana, Tonglen
Peran dan Kedudukan Kalang dalam Pemerintahan Masa Kerajaan Mataram Kuno Berdasarkan Data Prasasti Chaerunissa, Yasmin Nindya
AMERTA Vol. 43 No. 1 (2025)
Publisher : Penerbit BRIN (BRIN Publishing)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55981/amt.2025.5549

Abstract

Abstract. The Role and Status of the Kalang in the Administration of the Ancient Mataram Kingdom Based on Epigraphic Data. Kalang was an officer at the wanua (village) level and frequently mentioned in various inscriptions, especially regarding sīma ceremonies. The position of Kalang is associated with people whose work was related to forests and timber. Although there have been several previous studies on Kalang, discussions on the role and position of Kalang in the village administration during the Mataram Kingdom based on the details of pasĕk-pasĕk (gift) they received in ceremonies are still limited. This research aims to analyse the role and position of Kalang in the government during the Mataram Kingdom based on inscriptional data. This research uses a qualitative approach by collecting data from 29 inscriptions from 804 CE to 909 CE. The data was then subjected to processing, content analysis, and interpretation. The results of this study show that Kalang did not only stand as Kalang alone, but there were also other positions related to Kalang such as Tuha Kalang, Kalang Manguwu, Kalang Tunggu Durung, and others, which signalled the difference in their roles from one another. As for status, the results show that in some villages during the late Rakai Kayuwangi period and briefly during the Dyah Balitung period, Kalang and other Kalang-related positions occupied a high degree within the wanua bureaucracy, as seen from the number of pasĕk-pasĕk received which tended to be higher than other officials from the village that organised the ceremony. Keywords: Kalang, Mataram Kingdom, Inscriptions, Pasĕk-Pasĕk    Abstrak. Kalang adalah jabatan di tingkat wanua (desa) dan kerap disebut dalam berbagai prasasti, utamanya mengenai upacara penetapan sīma. Posisi Kalang erat diasosiasikan dengan orang-orang yang pekerjaannya berkaitan dengan hutan dan kayu. Meski telah ada beberapa penelitian terdahulu mengenai Kalang, pembahasan mengenai peran dan kedudukan Kalang dalam bidang pemerintahan desa masa Kerajaan Mataram Kuno secara spesifik, misalnya melihat secara detail pasĕk-pasĕk (semacam hadiah) yang mereka terima dalam upacara, masihlah terbatas. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis peran dan kedudukan Kalang dalam pemerintahan pada masa Kerajaan Mataram Kuno berdasarkan data prasasti. Riset ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan mengumpulkan data dari 29 prasasti yang berasal dari tahun 804 M hingga 909 M. Data tersebut kemudian dilakukan pengolahan, analisis isi, dan interpretasi. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa Kalang tidak hanya berdiri sebagai Kalang saja, namun juga ada jabatan lain terkait Kalang seperti Tuha Kalang, Kalang Manguwu, Kalang Tunggu Durung, dan lain-lain, yang menandakan perbedaan peran mereka satu sama lain. Sementara perihal kedudukan, hasil menunjukkan bahwa di beberapa desa pada masa akhir Rakai Kayuwangi dan sempat pada masa Dyah Balitung, Kalang dan jabatan lain terkait Kalang menempati derajat yang tinggi dalam birokrasi di wanua, sebagaimana dilihat dari jumlah pasĕk-pasĕk yang diterima cenderung lebih tinggi dibanding pejabat lain dari desa penyelenggara upacara. Kata kunci: Kalang, Kerajaan Mataram Kuno, Prasasti, Pasĕk-Pasĕk
Mantra dalam Dua Prasasti Timah Koleksi Rumah Menapo Jambi: Indikasi Praktik Ritual Masyarakat Sumatra Kuno Wadhah, Altahira; Hafiful Hadi Sunliensyar; Leihitu, Irsyad
AMERTA Vol. 43 No. 1 (2025)
Publisher : Penerbit BRIN (BRIN Publishing)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55981/amt.2025.5675

Abstract

Abstract. Mantras in the Two Tin Inscriptions of the Rumah Menapo Collection in Jambi: the Indication of Ritual Practice of Old Sumatran Society. Tin is the media used to write of inscriptions on Hindu and Buddhism era in Indonesia. In 2019, there were 103 tin inscription that discoreved and inventoried in Sumatra. Two of that tin inscription discovered in Jambi were inventoried in number 10/PADMA/Pb/VIII/2019 and 17/PADMA/Sn//VIII/2019. The previous researches to these inscriptions were result the limited interpretation and differs between researchers. Therefore, urgent to re-read and re-interpretating the text of inscription deeply. This research utilizes epigraphic method which consist of stages, that is: collecting of data, pre-analysis, analysis of data, and interpretation. The transliteration of these two inscriptions use standard edition method and its translation use literal method. The analysis of data consists of intern and extern analysis. The interpretation is focused to ritual aspect of its society. The result of this study explained that the tin inscription 10/PADMA/Pb/VIII/2019 contains the protection mantra. This mantra indicated the ritual of Old Sumatran society that used betels as object and offerings. Meanwhile, the tin inscription 17/PADMA/Sn/VIII/2019 contains the mantra for worshiping of Yama God. This mantra maybe was spelled when the practice of pūjā caru ritual. Keywords: Tin Inscriptions, Mantra, Old Sumatra, Jambi   Abstrak. Timah merupakan bahan logam yang dijadikan sebagai media tulis prasasti pada masa Hindu dan Buddha di Indonesia. Pada tahun 2019, diinventarisasi sebanyak 103 prasasti berbahan timah yang ditemukan dan masih berada di wilayah Sumatra. Dua di antaranya ditemukan di Jambi bernomor inventaris 10/PADMA/Pb/VIII/2019 dan 17/PADMA/Sn//VIII/2019. Penelitian terdahulu terhadap prasasti ini menghasilkan interpretasi yang terbatas dan berbeda antarpeneliti Oleh sebab itu, perlu pengkajian ulang terhadap kedua prasasti tersebut. Penelitian ini menggunakan metode penelitian epigrafi yang terdiri dari pengumpulan data, pra-analisis, analisis, dan interpretasi. Alih aksara dilakukan dengan metode edisi standar dan alih bahasa dilakukan dengan metode harfiah. Analisis yang dilakukan adalah analisis kritis yang meliputi kritik intern dan ekstern prasasti. Sementara itu, interpretasi difokuskan pada aspek ritual masyarakat pendukungnya. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa prasasti timah 10/PADMA/Pb/VIII/2019 berisi mengenai mantra perlindungan. Mantra ini mengindikasikan adanya ritual masyarakat Sumatra Kuno yang menggunakan media dan sesaji berupa sirih. Sementara itu, prasasti timah 17/PADMA/Sn/VIII/2019 berisi mantra pemujaan terhadap Dewa Yama.  Mantra ini kemungkinan dibacakan saat pelaksanaan ritual pūjā caru. Kata kunci: Prasasti timah, Mantra, Sumatra Kuno, Jambi
Konsep Arkeologi Eksperimental sebagai Opsi Rencana Pengelolaan Warisan Budaya Berbasis Masyarakat: Studi Kasus Candi Morangan Surya, Pratama Dharma
AMERTA Vol. 43 No. 1 (2025)
Publisher : Penerbit BRIN (BRIN Publishing)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55981/amt.2025.5747

Abstract

Abstract.Experimental Archaeology Concept in the Cultural Heritage Management of Morangan Temple Site in Sleman Regency. Cultural heritage holds significant value that must be managed properly to benefit current society and be passed on to future generations. Morangan Temple, located in Sleman Regency, has great potential to be developed into an attractive educational tourism destination. This study aims to design a cultural heritage management plan by adopting an experimental archaeology approach. Experimental archaeology involves reconstructing and testing buildings, technologies, artifacts, and past environmental contexts based on archaeological evidence to understand their structures, functions and uses in the past. Integrating experimental archaeology into the community-based management model can broaden perspectives, enrich educational experiences, and ensure meaningful community involvement in cultural preservation. The research methods include field observation at the Candi Morangan Temple site and surrounding areas, literature review on cultural heritage management and experimental archaeology, and analysis of secondary data related to the site. The results indicate that incorporating experimental archaeology can enhance public understanding of history and culture while promoting active participation in heritage conservation. The proposed management plan involves developing an interactive interpretation center, utilizing digital technologies, and creating educational tourism routes. It also includes hands-on visitor activities such as structure reconstruction, excavation simulations, and artifact observation. This integration is expected to transform Morangan Temple into a sustainable center for learning and tourism, reinforcing local cultural identity and supporting community economic growth. Keywords: Morangan Temple, Experimental Archaeology, Cultural Heritage Management, Educational Tourism, Sleman Regency   Abstrak. Warisan budaya memiliki nilai penting yang perlu dikelola dengan tepat agar dapat dimanfaatkan oleh masyarakat saat ini dan diwariskan kepada generasi mendatang. Candi Morangan yang berada di Kabupaten Sleman memiliki potensi untuk dikembangkan sebagai destinasi wisata edukasi yang menarik. Tujuan penelitian ini adalah merancang pengelolaan warisan budaya dengan mengadopsi pendekatan arkeologi eksperimental. Arkeologi eksperimental merupakan pendekatan arkeologi melalui rekonstruksi dan pengujian bangunan, teknologi, benda, dan konteks lingkungan masa lalu berdasarkan bukti arkeologi untuk memahami struktur, fungsi, dan penggunaannya di masa lalu. Pengintegrasian arkeologi eksperimental dalam rencana pengelolaan warisan budaya berbasis masyarakat dapat menjadi langkah penting untuk memperluas wawasan, memperkaya pengalaman, dan menjaga keterlibatan masyarakat dalam upaya melestarikan warisan budaya yang dimiliki. Metode yang digunakan dalam penelitian ini meliputi observasi terhadap Candi Morangan dan lingkungannya, studi literatur terkait pengelolaan warisan budaya dan arkeologi eksperimental, dan dilanjutkan analisis data sekunder yang berhubungan dengan Candi Morangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengintegrasian arkeologi eksperimental dalam pengelolaan Candi Morangan dapat meningkatkan pemahaman masyarakat terhadap sejarah dan budaya, serta mendorong partisipasi aktif mereka dalam pelestarian warisan budaya. Rencana pengelolaan yang diusulkan mencakup pengembangan pusat interpretasi interaktif, pemanfaatan teknologi, dan jalur wisata edukatif. Selain itu, kegiatan arkeologi eksperimental seperti rekonstruksi struktur, simulasi penggalian, dan observasi artefak akan menjadi bagian dari pengalaman wisata. Integrasi ini diharapkan dapat menjadikan Candi Morangan sebagai pusat pembelajaran dan wisata berkelanjutan yang memperkuat identitas budaya lokal dan mendukung pertumbuhan ekonomi masyarakat. Kata Kunci: Candi Morangan, Arkeologi Eksperimental, Pengelolaan Warisan Budaya, Wisata Edukasi, Kabupaten Sleman
Konservasi Lingkungan dan Pemanfaatan Mata Air Pura Tirta Empul : Kajian Prasasti Manukaya Sutejo, Alfan Azzury; Laksmi, Ni Ketut Puji Astiti; Zuraidah; Prihatmoko, Hedwi; Kamandalu, Si Gede Bandem
AMERTA Vol. 43 No. 1 (2025)
Publisher : Penerbit BRIN (BRIN Publishing)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55981/amt.2025.8670

Abstract

Abstract. Environmental Conservation and the Utilization of the Tirta Empul Temple Spring: A Study of the Manukaya Inscription. Water is a vital element for all creatures on earth. Moreover, for humans, water has a function to fulfill needs both spiritually and profanely (daily needs). One of the springs used to fulfill these two needs is at Tirta Empul Temple. To fulfill spiritual needs, the spring is used as tirtha (holy water) and to carry out the melukat procession. Profane use of this spring is used for several things, such as supplying household water in Manukaya and Tampaksiring Villages, water raw materials for PDAM Gianyar, meeting the water needs of the Tampaksiring Presidential Palace, and finally, irrigating the subaks located downstream of Tirta Empul Temple. Based on this, the things studied in this paper are related to environmental conservation activities and the use of this spring as stated in the Manukaya inscription. Apart from that, it is also necessary to observe the sustainability of conservation activities carried out by local indigenous communities. The research process is divided into three stages, namely data collection (literature study, observation, and interviews), data analysis (descriptive-qualitative and cultural ecology), and finally data interpretation to draw conclusions. The results of this research show that there are environmental conservation efforts and the use of the Tirta Empul spring in the Manukaya inscription. Conservation efforts are also carried out today by indigenous peoples by maintaining the sacredness of the main pond and having awig-awig regarding the prohibition of cutting down trees around Tirta Empul Temple. Keywords: Pura Tirta Empul, Conservation, Prasasti Manukaya, Water Spring   Abstrak. Air merupakan unsur yang sangat vital bagi seluruh makhluk di bumi. Selain itu, bagi manusia, air memiliki fungsi untuk memenuhi kebutuhan baik secara spiritual maupun profane (kebutuhan sehari-hari). Salah satu sumber air yang dimanfaatkan untuk memenuhi kedua kebutuhan tersebut adalah di Pura Tirta Empul. Untuk memenuhi kebutuhan spiritual, sumber air tersebut dimanfaatkan sebagai tirtha (air suci) dan untuk melaksanakan prosesi melukat. Pemanfaatan profane sumber air ini dimanfaatkan untuk beberapa hal, seperti penyediaan air rumah tangga di Desa Manukaya dan Desa Tampaksiring, bahan baku air untuk PDAM Gianyar, pemenuhan kebutuhan air Istana Kepresidenan Tampaksiring, dan terakhir, pengairan subak yang terletak di hilir Pura Tirta Empul. Berdasarkan hal tersebut, maka hal-hal yang dikaji dalam tulisan ini terkait dengan kegiatan pelestarian lingkungan dan pemanfaatan sumber air ini sebagaimana tercantum dalam prasasti Manukaya. Selain itu, perlu juga dicermati keberlanjutan kegiatan pelestarian yang dilakukan oleh masyarakat adat setempat. Proses penelitian dibagi menjadi tiga tahap, yaitu pengumpulan data (studi pustaka, observasi, dan wawancara), analisis data (deskriptif-kualitatif dan ekologi kultural), dan terakhir interpretasi data untuk menarik simpulan. Hasil penelitian ini menunjukkan adanya upaya pelestarian lingkungan dan pemanfaatan mata air Tirta Empul pada prasasti Manukaya. Upaya pelestarian juga dilakukan saat ini oleh masyarakat adat dengan menjaga kesakralan kolam utama dan memiliki awig-awig tentang larangan menebang pohon di sekitar Pura Tirta Empul. Kata kunci: Pura Tirta Empul, Konservasi, Prasasti Manukaya, Mata Air