cover
Contact Name
Ilham Zulfahmi
Contact Email
ilham.zulfahmi@usk.ac.id
Phone
+6285262743552
Journal Mail Official
jkpi@usk.ac.id
Editorial Address
Fakultas Kelautan dan Perikanan, Universitas Syiah Kuala, Jl. Teuku Nyak Arief No.441, Kopelma Darussalam, Kota Banda Aceh, Aceh 23111 Indonesia
Location
Kab. aceh besar,
Aceh
INDONESIA
Jurnal Kelautan dan Perikanan Indonesia
ISSN : -     EISSN : 27973735     DOI : https://doi.org/10.24815/jkpi
Jurnal Kelautan dan Perikanan Indonesia (JKPI) atau nama lain Indonesia Marine and Fisheries Journal merupakan jurnal ilmiah yang memuat hasil - hasil penelitian bidang kelautan dan perikanan dalam skala luas meliputi ilmu kelautan, akuakultur, perikanan tangkap, teknologi hasil perikanan, pengelolaan sumberdaya perairan, serta sosial ekonomi perikanan. JKPI terbit tiga kali dalam setahun yaitu pada bulan April, Agustus dan Desember. Artikel yang diterbitkan pada JKPI berupa artikel riset (research article) dan ulas balik (literature review). Jurnal Kelautan dan Perikanan Indonesia (JKPI) dikelola dan diterbitkan oleh Fakultas Kelautan dan Perikanan, Universitas Syiah Kuala. Focus and Scope Jurnal Kelautan dan Perikanan Indonesia (JKPI) adalah jurnal berskala nasional yang mencakup kajian ilmu perikanan dan kelautan. Jurnal ini menaruh perhatian pada perikanan dan kelautan di Indonesia. Topik yang dibahas dalam jurnal mencakup aspek : 1. Ilmu dan Teknologi Kelautan 2. Akuakultur 3. Teknologi Hasil Perikanan 4. Teknologi dan Manajemen Perikanan Tangkap 5. Pengelolaan dan Konservasi Sumberdaya 6. Iktiologi 7. Sosial Ekonomi Perikanan
Articles 103 Documents
Analisis Demografi dan Pengetahuan Konsumen terhadap Ekolabel pada Tuna Kaleng Asgha, Banguning; Indriyo, Wahyu
Jurnal Kelautan dan Perikanan Indonesia Vol 5, No 3: Desember (2025)
Publisher : Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24815/jkpi.v5i3.28216

Abstract

Ekolabel berperan penting dalam mendorong praktik perikanan berkelanjutan dengan memberikan informasi kepada konsumen mengenai atribut ramah lingkungan suatu produk. Dalam konteks industri tuna Indonesia yang menjadi salah satu produsen utama dunia, pemahaman konsumen terhadap ekolabel menjadi aspek penting dalam mendukung pengelolaan sumber daya laut yang berkelanjutan. Studi ini merupakan kajian pertama yang menilai pemahaman elolabel pada produk tuna di Indonesia. Tujuan dari penelitian ini adalah menganalisis tingkat pengetahuan konsumen tuna kaleng terhadap tiga jenis ekolabel: Dolphin-Safe, Marine Stewardship Council (MSC), dan Fairtrade, serta menelaah hubungan antara faktor demografi (jenis kelamin, usia, pendidikan, dan pendapatan) dengan tingkat pengetahuan tersebut. Hasil survei terhadap konsumen tuna kaleng di Jakarta menunjukkan bahwa label Dolphin-Safe paling dikenal karena telah lama hadir di pasar domestik, sementara MSC dan Fairtrade masih relatif kurang dipahami. Tingkat pendidikan dan pendapatan terbukti berhubungan signifikan dengan pengetahuan terhadap MSC dan Fairtrade, sedangkan jenis kelamin hanya berhubungan dengan label Dolphin-Safe. Tidak ditemukan hubungan antara usia dan pengetahuan terhadap ketiga label. Temuan ini menunjukkan perlunya strategi edukasi publik oleh pemerintah dan produsen untuk meningkatkan literasi konsumen mengenai ekolabel baru seperti MSC dan Fairtrade sebelum diterapkan secara luas.
Pola Pertumbuhan, Faktor Kondisi, dan Morfometrik Tiga Spesies Ikan Pelagis di Pesisir Bireuen, Aceh, Indonesia Radhi, M; Akmal, Yusrizal; Muliari, Muliari; Maisura, Mulqiya; Nursyifa, Nazwa; Maulina, Ina
Jurnal Kelautan dan Perikanan Indonesia Vol 5, No 3: Desember (2025)
Publisher : Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24815/jkpi.v5i3.28228

Abstract

Ikan pelagis kecil merupakan komoditas perikanan yang memiliki peranan penting di perairan Jangka. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pola pertumbuhan, faktor kondisi, serta karakter morfometrik tiga spesies ikan pelagis kecil, yaitu Rastrelliger kanagurta, Rastrelliger brachysoma, dan Decapterus sp., pada musim hujan. Sampel ikan dikumpulkan dari Tempat Pendaratan Ikan (TPI) Jangka pada periode November-Desember, dengan jumlah masing-masing 30 individu per spesies. Analisis hubungan panjang-berat digunakan untuk menentukan pola pertumbuhan, faktor kondisi untuk mengevaluasi kondisi fisiologis ikan, serta analisis morfometrik dan diskriminan untuk mengantisipasi potensi kesalahan identifikasi antarspesies. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Rastrelliger brachysoma memiliki pola pertumbuhan allometrik positif dengan nilai b sebesar 3,85, sedangkan Rastrelliger kanagurta dan Decapterus sp. menunjukkan pola pertumbuhan allometrik negatif dengannilai b masing-masing sebesar 2,21 dan 0,95. Nilai faktor kondisi ketiga spesies berada pada kisaran 0,99-1,00, yang mengindikasikan bahwa kondisi ikan relatif baik selama musim hujan. Karakter morfometrik utama yang membedakan antarspesies terdapat pada bagian anggota gerak, khususnyatinggi dan panjang pangkal ekor, serta pada bagian kepala yang meliputi panjang kepala dan panjang moncong. Analisis diskriminan mampu memisahkan ketiga spesies secara jelas. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa parameter pertumbuhan dan karakter morfometrik dapat dimanfaatkan sebagai informasi dasar pendukung dalam pengelolaan perikanan pelagis kecil yang berkelanjutan.
PRODUKTIVITAS ALAT TANGKAP RAWAI DASAR (BOTTOM LOONGLINE) TERHADAP KOMPOSISI HASIL TANGKAPAN DI DEAH RAYA Muhammad, Muhammad; Aqshal, Riyadh; Lubis, Ahmad Fauzan
Jurnal Kelautan dan Perikanan Indonesia Vol 5, No 3: Desember (2025)
Publisher : Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24815/jkpi.v5i3.28573

Abstract

Rawai dasar merupakan alat tangkap yang terdiri dari tali utama yang dibentangkan secara horizontal di dasar perairan, dilengkapi dengan sejumlah mata pancing dan umpan sebagai penarik perhatian ikan. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi jenis hasil tangkapan serta menganalisis tingkat produktivitas alat tangkap rawai dasar yang digunakan oleh nelayan di Desa Deah Raya. Penelitian ini dilakukan pada Bulan Mei yang bertempat di Desa Deah Raya, Kecamatan Syiah Kuala, Banda Aceh.Pengumpulan data dilakukan melalui observasi lapangan, survei, dan wawancara dengan nelayan, disertai penggunaan data hasil tangkapan selama satu tahun. Hasil penelitian menunjukkan bahwa produktivitas rawai dasar mengalami fluktuasi sepanjang periode satu tahun (JanuariDesember), dengan nilai produktivitas terendah terjadi pada bulan Desember, sedangkanproduktivitas tertinggi tercatat pada bulan Juni. Jenis ikan yang dominan tertangkap meliputi ikan Kuwe Gerong (Caranx ignobilis), Kwee (Carangoides dinema), Kakap Merah (Lutjanusargentimaculatus), Kerapu (Epinephelus bleekeri), dan Lencam (Lethrinus lentjan). Komposisi hasil tangkapan didominasi oleh ikan Kuwe Gerong (Caranx ignobilis) dari total hasil tangkapankeseluruhan.
Analisis Sistem Sosial dan Ekologi pada Wisata Hutan Mangrove (Nanga Sira Island Mangrove Tracking) Desa Penyaring, Sumbawa, Nusa Tenggara Barat Hikmahyanti, Hikmahyanti; Erlangga, Haqqy Rerian; Kautsari, Neri; Nikmah, Nadratun; Uzaman, Budi; Alamsyah, Alamsyah; Yusuf, Yusuf
Jurnal Kelautan dan Perikanan Indonesia Vol 5, No 3: Desember (2025)
Publisher : Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24815/jkpi.v5i3.28224

Abstract

Desa Penyaring terletak di Kecamatan Moyo Utara, Kabupaten Sumbawa, Nusa Tenggara Barat, memiliki kawasan mangrove yang dikembangkan menjadi ekowisata bahari berbasis masyarakat. Kawasan ini berperan dalam melindungi pantai dari abrasi, tempat hidup biota laut, dan penyerap karbon. Namun, masih ditemui keterbatasan dalam pemahaman masyarakat terhadap fungsi ekologis mangrove serta pengelolaannya. Penelitian ini bertujuan menganalisis Sistem Sosial-Ekologi (SES) pada kawasan wisata hutan mangrove Desa Penyaring. Metode penelitian mencakup pengumpulandata primer dan sekunder. Data primer meliputi pengamatan aspek ekologi dan sosial. Aspek ekologi dikumpulkan melalui observasi partisipatif serta pengukuran parameter kualitas air (suhu, pH, oksigen terlarut, salinitas) pada tiga stasiun pengamatan. Aspek sosial diperoleh melalui pengisian kuesioner oleh 80 responden dan wawancara dengan pemerintah desa serta pengelola wisata mangrove. Datasekunder diperoleh dari studi literatur (buku, laporan, artikel jurnal). Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekowisata mangrove Desa Penyaring berada pada kondisi ekologis yang stabil. Resource Systems (RS) yang meliputi kualitas air perairan sesuai baku mutu, dengan Stasiun II sebagai terbaik(DO 10,8 mg/L, kekeruhan 3,7 NTU). Resource Units (RU) juga optimal, terlihat dari kejernihan air, fauna khas, dan persepsi pengunjung yang tinggi terutama pada aspek keindahan vegetasi dan kenyamanan tracking. Actors mencakup wisatawan, masyarakat, dan pemerintah desa terlibat aktif dalam pemanfaatan dan pengelolaan kawasan wisata mangrove. Aspek Governance Systems dinilaiefektif dalam menjaga fasilitas dan stabilitas ekologi, namun edukasi lingkungan masih terbatas. Secara keseluruhan, integrasi RSRUAGS menunjukkan potensi keberlanjutan yang kuat, dengan prioritas peningkatan pada edukasi dan pengelolaan perilaku pengunjung.
Perbandingan Pendapatan Nelayan Jaring Insang Dengan Alat Tangkap Alternatif Bubu Dalam Upaya Mitigasi Bycatch Hiu dan Pari di Tpi Lhok Keluang, Aceh Jaya Fajri, Ilham; Mardhatillah, Inda; Aprilla, Ratna Mutia; Iqbal, Teuku Haris; Lubis, Ahmad Fauzan; Tarmizi, Tarmizi; Luthfiansyah, Delvi Mahrani
Jurnal Kelautan dan Perikanan Indonesia Vol 5, No 3: Desember (2025)
Publisher : Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24815/jkpi.v5i3.28218

Abstract

Jaring insang merupakan alat tangkap utama nelayan di tempat pelelangan ikan (TPI) Lhok Keluang, namun penggunaannya menimbulkan tangkapan sampingan (bycatch) berupa hiu dan pari yang dilindungi, sehingga berdampak negatif terhadap ekosistem laut dan keberlanjutan ekonomi nelayan. Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan nilai jual dan masa pakai antara jaring insang dan bubu, serta menilai efektivitas bubu dalam mitigasi bycatch. Penelitian dilakukan pada Oktober November 2024 dengan pendekatan deskriptif kuantitatif melalui wawancara dan observasi lapangan. Data yang dikumpulkan dianalisis terhadap komposisi bycatch, nilai jual hasil tangkapan, dan masa pakai alat tangkap. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jaring insang menghasilkan bycatch hiu dan pari sebesar 56,6 kg, sedangkan bubu tidak menghasilkan bycatch. Hasil penelitian menunjukkan bahwa total nilai jual hasil tangkapan bubu mencapai Rp 15.752.200, lebih tinggi dibandingkan jaring insang sebesar Rp 10.078.800. Dengan demikian pendapatan pengguna bubu tercatat sekitar 56.2% lebih tinggi dibanding pengguna jaring insang. Selain itu, masa pakai bubu mencapai sembilan bulan, sedangkan jaring insang hanya dua minggu. Berdasarkan hasil tersebut, bubu dinilai lebih selektif, ramah lingkungan, danmenguntungkan secara ekonomi. Oleh karena itu, bubu direkomendasikan sebagai alternatif alat tangkap berkelanjutan bagi nelayan di Aceh Jaya.
Efektivitas Air Kelapa (Cocos nucifera) terhadap Maskulinisasi dan Kelulushidupan Ikan Mas Koki (Carassius auratus) Melati, Kesuma; Batubara, Juliwati Putri; Rumondang, Rumondang; Laila, Khairani; Panjaitan, Pohan
Jurnal Kelautan dan Perikanan Indonesia Vol 5, No 2: Agustus (2025)
Publisher : Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24815/jkpi.v5i2.28214

Abstract

Ikan mas koki (Carassius auratus) merupakan salah satu jenis ikan hias air tawar bernilai ekonomis tinggi di pasar perikanan. Budidaya sistem monoseks jantan menjadi alternatif yang banyak dipilih karena ikan jantan umumnya memiliki laju pertumbuhan lebih cepat dibandingkan betina. Namun,penggunaan hormon sintetis dalam maskulinisasi menimbulkan kekhawatiran terhadap dampak lingkungan dan keamanan pangan. Penelitian ini menjawab keterbatasan studi bahan alami dalam maskulinisasi ikan mas koki sebagai alternatif pengganti hormon sintetis. Tujuan penelitian ini adalahuntuk mengevaluasi pengaruh perendaman embrio dalam air kelapa (Cocos nucifera) dengan berbagai konsentrasi terhadap maskulinisasi, tingkat penetasan telur, durasi penyerapan kuning telur, dan kelulushidupan benih ikan mas koki. Penelitian dilaksanakan selama 90 hari menggunakan RancanganAcak Lengkap (RAL) dengan lima perlakuan konsentrasi air kelapa (0%, 10%, 20%, 30%, dan 40%) dan lima ulangan masing-masing. Embrio direndam selama 8 jam pada tahap blastula. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan P3 (konsentrasi 30%) menghasilkan nisbah kelamin jantan tertinggi sebesar 63%, waktu penyerapan kuning telur tercepat (70, 20 jam), dan kelulushidupan tertinggi (58%).Sementara itu, perlakuan kontrol (P0) menunjukkan daya tetas tertinggi sebesar 72%. Perlakuan P4 (konsentrasi 40%) menunjukkan hasil terendah pada hampir seluruh parameter. Dengan demikian, air kelapa konsentrasi 30% berpotensi sebagai agen maskulinisasi alami yang efektif dan ramah lingkungan untuk diaplikasikan dalam skala budidaya ikan mas koki.
Analisis Isi Lambung Ikan Introduksi Red Devil (Amphilophus labiatus) Terhadap Risiko Invasifnya Di Danau Toba Silitonga, Afrizal Bigman; Batubara, Agung Setia
Jurnal Kelautan dan Perikanan Indonesia Vol 5, No 2: Agustus (2025)
Publisher : Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24815/jkpi.v5i2.25917

Abstract

Analisis isi lambung ikan red devil (Amphilophus labiatus) di Danau Toba bertujuan untuk mengetahui jenis makanan dan dampak yang ditimbulkannya sehingga diketahui risiko invasif yang ditimbulkan di Danau Toba. Penelitian dilaksakan pada bulan Februari April 2025. Metode yang digunakan yaitu metode survey ditiga lokasi penelitian secara purposive sampling (Kecamatan Porsea Kab. Toba, Kecamatan Muara Kab. Tapanuli Utara, Kecamatan Onan Runggu Kab. Samosir) Sebanyak 25 sampel red devil dikoleksi dari masing-masing lokasi. Hasil penelitian yang diperoleh menunjukkan bahwa morfologi ikan red devil terdiri dari 2 warna yaitu merah atau oranye, merah kehitaman. Identifikasi panjang relatif usus = 1,40-1,61 menunjukkan ikan red devil omnivora. Makanan utama fitoplankton dengan nilai IP 79,48%, di lokasi I dan II zooplankton sebagai makanan pelengkap dan lokasi III zooplankton potongan akar dan lumut berperan sebagai makanan pelengkap, untuk makanan tambahan di lokasi I dan II yaitu potongan akar, potongan daun dan lumut sedangkan lokasi III hanya potonganlumut sebagai makanan tambahan. Nilai ISC = 0,011-0,014%. Risiko invasif dari ikan red devil di Danau Toba yaitu sebagai menyebabkan kompetisi makanan tinggi serta menyebabkan ikan red devil cepat mendominasi wilayah perairan dan menyebabkan ikan lain berkurang populasinya serta sulitdikendalikan populasinya.
Karakteristik Substrat dan Morfologi Rumput Laut di Kawasan Pesisir Aceh Selatan, Provinsi Aceh. Arhas, Firman Rija; Rasnovi, Saida; Dahlan, Dahlan; Nanda, Rizki
Jurnal Kelautan dan Perikanan Indonesia Vol 5, No 2: Agustus (2025)
Publisher : Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24815/jkpi.v5i2.28213

Abstract

Studi sebelumnya tentang rumput laut di Aceh Selatan hanya meneliti distribusi dan ekologi, tanpa mengeksplorasi hubungan antara karakteristik substrat dan morfologi, sehingga data dasar mengenai preferensi substrat dan variasi morfologi masih terbatas. Penelitian ini mengkaji substrat dan morfologi rumput laut di Aceh Selatan guna mengidentifikasi komposisi spesies, tipe substrat, dan variasi morfologinya. Pengambilan data dilakukan pada bulan Februari hingga April 2021 menggunakan metode gabungan line transect dan quadrat transect di zona intertidal dan subtidal. Hasil penelitian menunjukkan ditemukannya 32 spesies rumput laut yang termasuk dalam tiga kelas: Chlorophyceae (11 spesies), Phaeophyceae (11 spesies), dan Rhodophyceae (10 spesies). Preferensi substrat rumput laut yang paling banyak ditemukan adalah tipe substrat lithofitik (66%), dan rhizophitik (28 %). Sedangkan tipe subtrat lainnya dengan persentase yang sangat kecil, berupa: epifitik (4 %), dan drift macroalgae (2 %), dan epizoik tidak ditemukan. Adapun jenis substrat rumput laut yang ditemukan terdiri dari: karang hidup (live coral), karang mati (dead coral), pecahan karang (rubble), batu (rock), dan substrat campuran berupa sedimentasi laut yaitu: kerikil (gravel) dan pasir (sand).Variasi morfologi rumput laut terutama terlihat pada struktur holdfast, stipe, dan blade, yang menunjukkan adaptasi terhadap kondisi lingkungan dan kesesuaian dengan tipe substrat. Alga coklat (Phaeophyceae) memiliki morfologi paling kompleks (holdfast kuat, stipe jelas, blade tebal), adaptif untuk perairan berarus kuat dan berombak. Alga hijau (Chlorophyceae) memiliki bentuk morfologi sederhana (holdfast filamen, blade tipis/lunak), adaptif di perairan tenang. Sedangkan Rhodophyceae(alga merah) memiliki variasi morfologi tinggi (holdfast fleksibel, blade berkapur/gelatin), dominan di zona berarus sedang. Temuan penelitian ini memberikan dasar ilmiah untuk konservasi dan pengembangan budidaya rumput laut berkelanjutan dengan mempertimbangkan kesesuaian substratdan ketahanan morfologis spesies. Selain itu, hasil studi ini dapat menjadi data acuan (baseline) untuk pemetaan ekologi rumput laut serta mendukung upaya restorasi dan pengelolaan kawasan pesisir Aceh Selatan secara lebih efektif.
Teknik Pembenihan Ikan Nila (Oreochromis niloticus) pada Usaha Pembenihan Bina Mandiri Sejahtera, Sumbawa Ramadhan, Naufal Gumilang; Bahri, Syamsul; Mardhia, Dwi; Kautsari, Neri; Ahdiansyah, Yudi
Jurnal Kelautan dan Perikanan Indonesia Vol 5, No 2: Agustus (2025)
Publisher : Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24815/jkpi.v5i2.22756

Abstract

Ikan Nila merupakan salah satu komoditas perikanan air tawar yang banyak digemari di Sumbawa sehingga mendorong tingginya minat budidaya untuk memenuhi kebutuhan permintaan pasar. Usaha pembenihan ikan Nila merupakan ujung tombak keberhasilan usaha budidaya. Salah satu usaha pembenihan yang cukup berhasil di Sumbawa adalah usaha Bina Mandiri Sejahtera. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui teknik pembenihan ikan Nila (Oreochromis niloticus) pada usaha Bina Mandiri Sejahtera. Metode yang digunakan adalah observasi melalui kegiatan magang. Pelaksanaan magang selama 4 bulan dengan pengamatan pada 2 kolam. Hasil observasi menunjukkan bahwa teknik pembenihan ikan Nila di usaha Bina Mandiri Sejahtera menggunakan teknik alami dengan tahapan meliputi persiapan kolam, seleksi induk, pemijahan, pemeriksaan kualitas air, pemanenan dan pemasaran. Ikan Nila jantan dan betina yang sudah berumur 8 bulan, bobot 500 gram dan Panjang 30 cm sudah bisa dipilih untuk melakukan pemijahan. Perbandingan jantan dan betina ikan Nila yaitu 1 : 3 dengan jumlah indukan 32 induk. Hasil pengukuran kualitas air masih optimal untuk kegiatanpembenihan meliputi pH (6-8), suhu (26-30C) dan TDS (400-600 ppm).
Variasi Musiman Spasial-Vertikal Suhu dan Salinitas di Teluk Tomini dan Laut Banggai Yuliardi, Amir Yarkhasy; Napitupulu, Gandhi; Prayogo, Luhur Moekti; Rahmalia, Diah Ayu; Sari, Ratna Juita; Nugroho, Agung Tri
Jurnal Kelautan dan Perikanan Indonesia Vol 5, No 2: Agustus (2025)
Publisher : Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24815/jkpi.v5i2.25880

Abstract

Teluk Tomini merupakan salah satu wilayah semi-tertutup di Indonesia yang memiliki karakteristik oseanografi kompleks akibat pengaruh sirkulasi regional dan faktor musiman. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis variasi musiman, spasial, dan vertikal suhu serta salinitas di Teluk Tomini sepanjang tahun 2020 dengan menggunakan data reanalisis oseanografi dari produk Copernicus Marine Environment Monitoring Service (CMEMS) yang memiliki resolusi spasial 0,083 dan 50 lapisan vertikal. Analisis dilakukan terhadap distribusi suhu dan salinitas permukaan, penampang vertikalsepanjang lintang 0 antara 120125BT, serta profil vertikal pada tiga titik pengamatan (121BT, 123BT, dan 125BT). Hasil menunjukkan bahwa suhu permukaan laut (SPL) mencapai nilai maksimum 30C pada musim peralihan I, dan minimum 28C pada musim timur. Distribusi salinitasmemperlihatkan gradasi secara zonal, dengan nilai yang lebih tinggi di bagian timur (34,5 PSU) akibat intrusi massa air asin dari Laut Banda dan Laut Maluku. Secara vertikal, terdapat stratifikasi termohalin yang mencolok hingga kedalaman 100 m, dengan kolom air yang lebih homogen di wilayah timur. Arus permukaan memainkan peran penting dalam membentuk distribusi spasial parameter-parameter tersebut. Penelitian ini menegaskan pentingnya pengaruh dinamika musiman dan intrusi regional terhadap struktur termohalin di Teluk Tomini. Temuan ini memberikan dasar penting bagi pemahaman lebih lanjut mengenai proses oseanografi fisis serta implikasinya terhadap ekosistem laut dan perencanaan pengelolaan sumber daya perikanan di wilayah ini.

Page 10 of 11 | Total Record : 103