cover
Contact Name
Elan Jaelani
Contact Email
redaksi.penerbitwidina@gmail.com
Phone
+628157000699
Journal Mail Official
redaksi.penerbitwidina@gmail.com
Editorial Address
Bandung Bandung kota
Location
Kab. bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Public Sphere: Jurnal Sosial Politik, Pemerintahan dan Hukum
Published by CV Widina Media Utama
ISSN : -     EISSN : 29645166     DOI : 10.59818/JPS
Public Sphare: Jurnal Sosial, Politik dan Pemerintahan (Journal of Social Politics, Government & Law) is a peer-reviewed journal published by the Scientific Research and Publication Division of Widina Publishers since 2022. The Public Sphare Journal is an integrated media for continuous communication related to significant new research findings related to contemporary issues and developments. socio-political and governmental fields, both practical and theoretical. In general, the coverage of the Public Sphare Journal includes: Civil Society Movement, Community Welfare, Social Development, Society & Digital Disruption, Citizenship, Public Policy Innovation, National Security & Defense, Information & Literacy, Politics, and Government.
Articles 62 Documents
Penentuan Kewarganegaraan dan Hak Asuh Anak Pasca Perceraian dalam Perkawinan Campuran: Tinjauan Hukum Perdata Internasional Sepya, Dita; Jaelani, Elan
Public Sphere: Jurnal Sosial Politik, Pemerintahan dan Hukum Vol 4, No 1 (2025): JPS (Jurnal Sosial Politik, Pemerintahan dan Hukum
Publisher : CV Widina Media Utama

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59818/jps.v4i1.678

Abstract

This study aims to analyze the regulation of child custody and citizenship of children from mixed marriages after divorce. The method used is normative juridical based on primary and secondary legal materials. The results of the study show that child custody and citizenship status are influenced by the law of the country where the divorce is processed, and must still refer to the principle of the best interests of the child. Determination of the legal status of children must pay attention to the provisions in the Child Protection Law and the Citizenship Law.ABSTRAKPenelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaturan hak asuh anak dan kewarganegaraan anak hasil perkawinan campuran pasca perceraian. Metode yang digunakan adalah yuridis normatif berdasarkan bahan hukum primer dan sekunder. Hasil kajian menunjukkan bahwa hak asuh anak dan status kewarganegaraan dipengaruhi oleh hukum negara tempat perceraian diproses, dan tetap harus mengacu pada prinsip kepentingan terbaik bagi anak. Penetapan status hukum anak harus memperhatikan ketentuan dalam UU Perlindungan Anak dan UU Kewarganegaraan.
Efektivitas Arbitrase dalam Penyelesaian Sengketa Bisnis dan Implementasi Pasal 11 Ayat (2) UU No. 30 Tahun 1999 Natalita, Ferawati; Widianingsih, Wiwin
Public Sphere: Jurnal Sosial Politik, Pemerintahan dan Hukum Vol 3, No 3 (2024): JPS (Jurnal Sosial Politik, Pemerintahan dan Hukum
Publisher : CV Widina Media Utama

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59818/jps.v3i3.1546

Abstract

This study examines the advantages of arbitration as an alternative dispute resolution mechanism for business disputes compared to conventional litigation. Using a normative juridical approach, it reviews Indonesia’s arbitration framework under Law Number 30 of 1999 and its alignment with international instruments such as the 1958 New York Convention, UNCITRAL, ICSID, and PCA. The analysis focuses on commercial and investment-related disputes. Findings indicate that arbitration offers key benefits—time and cost efficiency, confidentiality, procedural flexibility, and the appointment of expert arbitrators—making it the preferred method internationally. However, implementation in Indonesia remains hindered by inconsistent enforcement of arbitral awards, particularly due to broad public policy interpretations and the exequatur requirement. The study recommends judicial capacity-building, harmonization of legal interpretations, and institutional reforms to ensure Indonesia becomes a genuinely arbitration-friendly jurisdiction.ABSTRAKPenelitian ini menyoroti keunggulan arbitrase sebagai mekanisme penyelesaian sengketa bisnis alternatif dibandingkan proses litigasi konvensional. Dengan pendekatan yuridis normatif, studi ini mengkaji kerangka hukum arbitrase di Indonesia berdasarkan Undang-Undang Nomor 30 Tahun 1999 serta keterkaitannya dengan instrumen internasional seperti Konvensi New York 1958, UNCITRAL, ICSID, dan PCA. Fokus kajian meliputi sengketa perdagangan dan investasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa arbitrase menawarkan efisiensi waktu dan biaya, kerahasiaan, fleksibilitas prosedural, serta pemilihan arbiter ahli. Meskipun secara global menjadi metode dominan, pelaksanaan arbitrase di Indonesia masih terkendala, terutama dalam eksekusi putusan karena interpretasi luas terhadap ketertiban umum dan syarat exequatur dari pengadilan. Penelitian ini merekomendasikan peningkatan kapasitas yudisial, harmonisasi interpretasi hukum, dan reformasi kelembagaan guna menjadikan Indonesia sebagai yurisdiksi yang ramah arbitrase secara normatif dan praktik.
Pertanggungjawaban Hukum atas Kerugian Korban Kecelakaan Lalu Lintas akibat Kelalaian Pengemudi Nadiyati, Anisa
Public Sphere: Jurnal Sosial Politik, Pemerintahan dan Hukum Vol 4, No 1 (2025): JPS (Jurnal Sosial Politik, Pemerintahan dan Hukum
Publisher : CV Widina Media Utama

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59818/jps.v4i1.965

Abstract

This study aims to analyze the form of compensation given to victims of traffic accidents due to driver negligence. The method used is a normative juridical approach based on the analysis of Law No. 22 of 2009 and the Civil Code. The results show that although the law has clearly regulated the rights of victims, the implementation of compensation often experiences obstacles such as weak law enforcement and low public awareness. Institutional strengthening and legal literacy are needed so that victim protection can be realized effectively and fairly.ABSTRAKPenelitian ini bertujuan untuk menganalisis bentuk ganti rugi yang diberikan kepada korban kecelakaan lalu lintas akibat kelalaian pengemudi. Metode yang digunakan adalah pendekatan yuridis normatif berdasarkan analisis Undang-Undang No. 22 Tahun 2009 serta Kitab Undang-Undang Hukum Perdata. Hasil penelitian menunjukkan bahwa meskipun Undang-Undang telah mengatur secara jelas hak-hak korban, pelaksanaan ganti rugi seringkali mengalami kendala seperti lemahnya penegakan hukum dan rendahnya kesadaran masyarakat. Diperlukan penguatan kelembagaan dan literasi hukum agar perlindungan korban dapat terwujud secara efektif dan adil.
Analisis Yuridis Ratio Decidendi dalam Putusan Pembunuhan Berencana terhadap Anak (Studi Putusan No. 864/PID.B-2015.PN.DPS) Pidada, Ida Bagus Anggapurana
Public Sphere: Jurnal Sosial Politik, Pemerintahan dan Hukum Vol 4, No 1 (2025): JPS (Jurnal Sosial Politik, Pemerintahan dan Hukum
Publisher : CV Widina Media Utama

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59818/jps.v4i1.801

Abstract

This study aims to analyze the judge's consideration in decision No. 864/PID.B-2015.PN.DPS related to the crime of premeditated murder of a child. The method used is normative legal research with a statutory approach. The results showed that the use of Article 340 jo Article 56 of the Criminal Code in the decision did not consider the lex specialis in the Child Protection Law, specifically Article 76C jo 80 paragraph (3). This opens room for an appeal by the prosecutor due to an error in the application of the law.ABSTRAKPenelitian ini bertujuan menganalisis pertimbangan hakim dalam putusan No. 864/PID.B-2015.PN.DPS terkait tindak pidana pembunuhan berencana terhadap anak. Metode yang digunakan adalah penelitian hukum normatif dengan pendekatan Undang-Undang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan Pasal 340 jo Pasal 56 KUHP dalam putusan tersebut tidak mempertimbangkan lex specialis dalam UU Perlindungan Anak, khususnya Pasal 76C jo 80 ayat (3). Hal ini membuka ruang bagi upaya hukum banding oleh jaksa karena adanya kekeliruan penerapan hukum.
Analisis Program Tapera Berdasarkan Teori Keadilan John Rawls Maulana, Difky; Syafitri, Nila; Al-Hambra, Sheva; Susanti, Revameila; Rifaldy, Edward; Ahmad, Rafael
Public Sphere: Jurnal Sosial Politik, Pemerintahan dan Hukum Vol 4, No 1 (2025): JPS (Jurnal Sosial Politik, Pemerintahan dan Hukum
Publisher : CV Widina Media Utama

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59818/jps.v4i1.1560

Abstract

This article analyzes the Public Housing Savings Program (Tapera) from the perspective of the theory of social justice developed by John Rawls. Tapera is an Indonesian government policy that aims to increase public access to decent housing through a mandatory contribution system for workers. This research uses a descriptive qualitative approach with a literature study method and secondary data analysis from official documents related to the implementation of Tapera. The results of the study show that although Tapera aims to create social justice in terms of home ownership, its implementation still leaves problems, especially for self-employed workers who are required to participate without an opt-out mechanism. In the context of Rawls' theory of justice, Tapera is in line with the principles of equal opportunity and protection of vulnerable groups, but has not fully fulfilled the principles of maximum freedom and fair distribution of benefits. Therefore, a thorough evaluation of the Tapera scheme and implementation is needed to ensure compliance with inclusive and non-discriminatory social justice values.ABSTRAKArtikel ini menganalisis Program Tabungan Perumahan Rakyat (Tapera) dari perspektif teori keadilan sosial yang dikembangkan oleh John Rawls. Tapera merupakan kebijakan pemerintah Indonesia yang bertujuan untuk meningkatkan akses masyarakat terhadap perumahan yang layak melalui sistem iuran wajib bagi pekerja. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan metode studi pustaka dan analisis data sekunder dari dokumen resmi terkait pelaksanaan Tapera. Hasil kajian menunjukkan bahwa meskipun Tapera bertujuan menciptakan keadilan sosial dalam hal kepemilikan rumah, pelaksanaannya masih menyisakan persoalan, khususnya bagi pekerja mandiri yang diwajibkan ikut serta tanpa mekanisme opt-out. Dalam konteks teori keadilan Rawls, Tapera sejalan dengan prinsip kesetaraan kesempatan dan perlindungan terhadap kelompok rentan, tetapi belum sepenuhnya memenuhi prinsip kebebasan sebesar-besarnya dan distribusi manfaat secara adil. Oleh karena itu, evaluasi menyeluruh terhadap skema dan pelaksanaan Tapera diperlukan untuk memastikan kesesuaian dengan nilai-nilai keadilan sosial yang inklusif dan non-diskriminatif.
Penegakan Hukum Kekerasan Seksual Pada Era Digital Wangsa, Gede Brata; Arjawa, A.A.Gede Putra; Hariyono, Benny
Public Sphere: Jurnal Sosial Politik, Pemerintahan dan Hukum Vol 4, No 1 (2025): JPS (Jurnal Sosial Politik, Pemerintahan dan Hukum
Publisher : CV Widina Media Utama

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59818/jps.v4i1.800

Abstract

In this modern era, social media has wide freedom in conveying information. But sometimes this is misused by unscrupulous people who harm their victims, ranging from fraud, defamation, sexual harassment, and many more. Basically, sexual violence is gender-based violence, which is defined as actions that cause physical, sexual or psychological damage or suffering, including threats of certain actions, coercion, and various deprivations of freedom. Sexual violence can not only take the form of direct or physical violence, but can also take the form of indirect or non-physical violence Sexual violence is a violation of human rights, a crime against human dignity, and a form of discrimination that must be eliminated (Explanation of Law No. 12 of 2022). Referring to Article 1 number 1 of Law Number 12 of 2022 (TPKS Law), Sexual Violence is any act that fulfills the elements of a criminal offense as regulated in this Law and other acts of sexual violence as regulated in the Law to the extent not specified in this Law To find out the act of Sexual Violence in crime in the Digital Age. Normative law research uses normative case studies in the form of legal behavior products, for example examining laws. In sexual crimes mostly experienced by women and also children, the Indonesian people find the fact that they experience social and humanitarian problems that must get more attention. Law enforcement is the process of making efforts to uphold or. This is the first time that a law enforcement officer has been involved in a criminal case.ABSTRAKPada era modern seperti sekarang ini, media sosial memiliki kebebasan yang luas dalam menyampaikan suatu informasi. Namun terkadang hal ini disalah gunakan oleh para oknum nakal yang dimana merugikan para korbannya, mulai dari penipuan, pencemaran nama baik, pelecehan seksual, dan masih banyak lagi. Pada dasarnya kekerasan seksual adalah kekerasan yang berbasis gender (gender based violence) yang didefinisikan sebagai tindakan yang menimbulkan kerusakan atau penderitaan fisik, seksual atau psikologis, termasuk ancaman dengan tindakan tertentu, pemaksaan, dan berbagai perampasan kebebasan. Kekerasan seksual tidak hanya dapat berupa kekerasan langsung atau fisik, melainkan juga dapat berupa kekerasan tidak langsung atau non-fisik Kekerasan seksual merupakan pelanggaran Hak Asasi Manusia, kejahatan terhadap martabat kemanusiaan, serta bentuk diskriminasi yang harus dihapuskan (Penjelasan Undang-Undang No. 12 Tahun 2022). Merujuk pada Pasal 1 angka 1 Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2022 (Undang-Undang TPKS), Tindak Pidana Kekerasan Seksual adalah segala perbuatan yang memenuhi unsur tindak pidana sebagaimana diatur dalam Undang-Undang ini dan perbuatan kekerasan seksual lainnya sebagaimana diatur dalam Undang-Undang sepanjang tidak ditentukan dalam Undang-Undang ini Untuk mengetahui tindak Kekerasan Seksual dalam kejahatan di Era Digital. Penelitian hukum normatif (normative law research) menggunakan studi kasus normatif berupa produk prilaku hukum, misalnya mengkaji undang-undang. Didalam Tindak kejahatan seksual kebanyakan dialami oleh Perempuan dan juga anak-anak Bangsa Indonesia mendapati kenyataan bahwa mengalami masalah sosial dan kemanusiaan yang harus mendapatkan perhatian lebih. Penegakan hukum adalah proses dilakukannya upaya untuk tegaknya atau. Ditinjau dari sudut objeknya, penegakan hukum itu dapat. penegakan hukum oleh subjek dalam arti yang terbatas atau sempit.
Peran Kemenkumham Dalam Proses Mediasi Pelanggaran Hak Cipta Prayogi, Prayogi; Hendarman, Hari; Nasrullah, Nasrullah; Astarudin, Tatang; Kholid, Muhamad
Public Sphere: Jurnal Sosial Politik, Pemerintahan dan Hukum Vol 4, No 2 (2025): JPS (Jurnal Sosial Politik, Pemerintahan dan Hukum)
Publisher : CV Widina Media Utama

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59818/jps.v4i2.1768

Abstract

Copyright is an exclusive right granted to the creator automatically based on the declarative principle. As one of the components of Intellectual Property Rights with the broadest scope of creation, copyright contributes significantly to the growth of Indonesia's creative economy. This paper examines mediation as one of the alternative methods for resolving copyright infringement disputes involving a neutral third party called a mediator. According to Article 95(4) of Law No. 28 of 2014 on Copyright, mediation is recognized as one of the dispute resolution options, including copyright infringement cases. Mediation offers a non-litigation approach where the parties meet under the guidance of a mediator, in this case the Regional Office of the Ministry of Law and Human Rights of West Java Province. This research focuses on the types of copyright infringement resolved through mediation at the Regional Office, as well as the role of the Regional Office in facilitating settlement through mediation. This research uses normative juridical methods, using statutory and conceptual approaches. The results showed that in a copyright infringement case involving Nusa Putra University Sukabumi, the West Java Regional Office successfully mediated the dispute.ABSTRAKHak cipta adalah hak eksklusif yang diberikan kepada pencipta secara otomatis berdasarkan prinsip deklaratif. Sebagai salah satu komponen Hak Kekayaan Intelektual dengan cakupan ciptaan yang paling luas, hak cipta memberikan kontribusi yang signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi kreatif Indonesia. Tulisan ini mengkaji mediasi sebagai salah satu metode alternatif untuk menyelesaikan sengketa pelanggaran hak cipta yang melibatkan pihak ketiga yang netral yang disebut mediator. Menurut Pasal 95 (4) Undang-Undang No. 28 Tahun 2014 tentang Hak Cipta, mediasi diakui sebagai salah satu pilihan penyelesaian sengketa, termasuk kasus pelanggaran hak cipta. Mediasi menawarkan pendekatan non-litigasi di mana para pihak bertemu di bawah bimbingan mediator, dalam hal ini Kantor Wilayah Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia Provinsi Jawa Barat. Penelitian ini berfokus pada jenis-jenis pelanggaran hak cipta yang diselesaikan melalui mediasi di Kantor Wilayah, serta peran Kantor Wilayah dalam memfasilitasi penyelesaian melalui mediasi. Penelitian ini menggunakan metode yuridis normatif, dengan menggunakan pendekatan perundang-undangan dan konseptual. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dalam kasus pelanggaran hak cipta yang melibatkan Universitas Nusa Putra Sukabumi, Kantor Wilayah Jawa Barat berhasil memediasi sengketa tersebut.
Penyelesaian Sengketa Gugatan Perjanjian Bisnis Akibat Perbuatan Melawan Hukum Menurut Hukum Perdata dan Hukum Islam Hendarman, Hari; Yusuf, Deni Kamaludin; Astarudin, Tatang
Public Sphere: Jurnal Sosial Politik, Pemerintahan dan Hukum Vol 4, No 2 (2025): JPS (Jurnal Sosial Politik, Pemerintahan dan Hukum)
Publisher : CV Widina Media Utama

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59818/jps.v4i2.1844

Abstract

In the business world, which is carried out in various businesses, both to maintain business relationships, as well as in choosing the form of business dispute resolution, the agreement becomes the initial guide and benchmark and is stated in the agreement. Therefore, in making agreements to maintain and resolve disputes must be based on legal provisions to avoid the settlement of legal problems that can sometimes give birth to legal problems. However, if legal problems have already occurred due to unlawful acts as a result of a business agreement, it is necessary to resolve the business dispute either by using civil law channels or Islamic law channels (for all Muslim parties) which have previously been included in the contents of the business agreement. In this Journal, we will discuss how to settle business lawsuit disputes due to unlawful acts according to civil law and Islamic law along with the advantages and disadvantages of each seen from the type of business dispute resolution options, so that there is no mistake in choosing a legal dispute resolution due to a business agreement.ABSTRAKDalam dunia usaha, yang dijalankan dalam berbagai bisnis, baik untuk menjaga hubungan bisnis, maupun dalam memilih bentuk Penyelesaian sengketa bisnis, perjanjian menjadi pegangan dan tolak ukur awal dan dituangkan didalam perjanjian tersebut. Oleh karena itu dalam membuat perjanjian untuk menjaga dan menyelesaikan sengketa haruslah didasarkan kepada ketentuan-ketentuan hukum untuk menghindari terjadinya Penyelesaian masalah hukum yang terkadang dapat melahirkan masalah hukum.  Namun apabila sudah terlanjur terjadi permasalahan hukum yang disebabkan oleh perbuatan melawan hukum akibat perjanjian bisnis, maka diperlukan Penyelesaian sengketa bisnis tersebut baik dengan menggunakan jalur hukum perdata ataupun jalur hukum islam (bagi semua para pihak beragama islam) yang sebelumnya sudah dicantumkan dalam isi perjanjian bisnis. Dalam Jurnal ini kita akan mengupas bagaimana cara Penyelesaian sengketa gugatan bisnis akibat perbuatan melawan hukum menurut hukum perdata dan hukum islam beserta kekurangan dan kelebihannya masing-masing dilihat dari jenis pilihan Penyelesaian sengketa bisnis, supaya tidak salah dalam memilih Penyelesaian sengketa hukum akibat perjanjian bisnis.
Analisis Perilaku Komunikasi Narsistik pada Pemain Gim Mobile Legends Profesional di Kota Bekasi Aufar, Kevatama Bent; Hidayanto, Syahrul
Public Sphere: Jurnal Sosial Politik, Pemerintahan dan Hukum Vol 4, No 2 (2025): JPS (Jurnal Sosial Politik, Pemerintahan dan Hukum)
Publisher : CV Widina Media Utama

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59818/jps.v4i2.1723

Abstract

This research aims to understand narcissistic communication behavior in professional Mobile Legends game players in Bekasi City. Narcissism is often found in people who over-glorify things that some think are normal. Apart from being often found in artists, this phenomenon can also be seen in professional gamers just starting their careers. In Indonesia, there are many professional gamers, but the main topic of conversation in the gaming industry is Mobile Legends gamers. Researchers used a qualitative research approach with data collection techniques: observation, interviews, and documentation. Based on the results of research data processing, narcissistic communication behavior was found in LVo team members. Symptoms of narcissistic communication behavior include showing off one's skills to the opposing team, praising one's greatness, considering them unique, uploading successes on status on social media, and claiming to master the game because of high-flying hours. The impact of narcissistic communication behavior on professional gaming teams is tarnishing the good name of the team, coach, and team members. Then, it will be difficult for the team to get sponsors because the team often loses in tournaments, and one of the members is known to have a bad attitude. Not only that, narcissistic communication behavior can also affect team dynamics, including interactions between team members and overall team performance. Narcissistic has effect on professional gamers such as selfish decision making, dominance in conversations and decision-making, lack of empathy, and unprofessionalism.ABSTRAKPenelitian ini bertujuan untuk memahami perilaku komunikasi narsistik pada pemain gim Mobile Legends profesional di Kota Bekasi. Narsistik sering dijumpai pada orang-orang yang mengglorifikasi sesuatu secara berlebihan, yang menurut anggapan sebagian orang biasa saja. Selain sering dijumpai pada artis, fenomena ini juga dapat dilihat pada pemain gim profesional yang masih baru merintis karirnya. Di Indonesia ada banyak sekali pemain gim profesional, namun yang saat ini menjadi topik perbincangan utama dalam industri gim adalah pemain gim Mobile Legends. Peneliti menggunakan pendekatan penelitian yaitu kualitatif dengan teknik pengumpulan data adalah observasi, wawancara, dan dokumentasi. Berdasarkan hasil olah data penelitian, perilaku komunikasi narsistik ditemukan pada anggota tim LVo. Bentuk dari perilaku komunikasi narsistik yang diketahui adalah melakukan pamer keahlian kepada tim lawan, memuji kehebatan diri sendiri, menganggap mereka spesial, mengunggah kesuksesan pada status di media sosial, dan mengklaim menguasai permainan karena jam terbang yang tinggi. Dampak perilaku komunikasi narsistik pada tim gim profesional seperti tercorengnya nama baik tim, pelatih, dan anggota tim. Kemudian, tim akan sulit mendapatkan sponsor karena tim sering mengalami kekalahan dalam turnamen dan salah satu anggota dikenal memiliki attitude yang buruk. Tidak hanya itu, perilaku komunikasi narsistik juga dapat memengaruhi dinamika tim, termasuk interaksi antar anggota tim dan performa tim secara keseluruhan. Narsisme memiliki efek terhadap pemain gim profesional seperti dalam pengambilan keputusan yang egois, dominasi dalam percakapan dan pengambilan keputusan, kurang empati, dan tidak profesional.
Pelepasan Moral pada Generasi Z Pemain Gim Genre Battle Royale di Dalam Gameplay (Studi pada Pemain PUBG Mobile di Kota Bekasi) Susanto, Dwiky Nurrochman; Hidayanto, Syahrul
Public Sphere: Jurnal Sosial Politik, Pemerintahan dan Hukum Vol 4, No 2 (2025): JPS (Jurnal Sosial Politik, Pemerintahan dan Hukum)
Publisher : CV Widina Media Utama

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59818/jps.v4i2.1726

Abstract

Online battle royale genre games such as PUBG Mobile are popular among Generation Z because they offer a competitive and social experience. However, they also encourage the emergence of moral disengagement behavior, such as verbal violence and indifferent actions. This phenomenon is important to study because it can affect the moral perception of players, especially in Bekasi City, which has a high level of online game participation among the younger generation. The qualitative descriptive method was chosen to understand and describe the phenomenon or context in depth. The researcher describes the study's results by conducting interviews with informants considered to have the criteria needed in the study. In addition, observation and documentation collection techniques were also carried out to complete the research data. The research informants were selected intentionally (purposive sampling). An interesting research finding related to moral disengagement in PUBG Mobile is that when female players are targeted for moral disengagement by other players, they tend to be silent and do not choose to fight back. In addition, the frequency of female Generation Z PUBG Mobile players committing moral disengagement also tends to be lower than male players. However, this does not apply to male PUBG Mobile players. When someone commits verbal violence against them, they will fight back and retaliate harder. Moral disengagement in gameplay is also generally carried out by male PUBG Mobile players. The basic moral disengagement factors are competitive game types, in-game interactions, low moral education, attention-seeking, and lack of empathy. Meanwhile, the forms of moral disengagement found in this study are, cursing fellow players, normalizing discrimination against female players, and arguing. Third, the forms of moral disengagement above, if borrowing the term coined by Bandura, are called dehumanization, where individuals consider other individuals as worthless entities, making them vulnerable to violating ethics or morals without a strong moral filter.ABSTRAKGim daring genre battle royale seperti PUBG Mobile populer di kalangan Generasi Z karena menawarkan pengalaman kompetitif dan sosial, namun juga mendorong munculnya perilaku pelepasan moral seperti kekerasan verbal dan tindakan acuh tak acuh. Fenomena ini penting diteliti karena dapat memengaruhi persepsi moral pemain, khususnya di Kota Bekasi yang memiliki tingkat partisipasi gim daring tinggi di kalangan generasi muda. Metode deskriptif kualitatif dipilih dengan tujuan memahami dan menggambarkan fenomena atau konteks secara mendalam. Peneliti menguraikan hasil penelitian dengan melakukan wawancara bersama informan yang dianggap memiliki kriteria yang dibutuhkan dalam penelitian. Selain itu, teknik pengumpulan observasi dan dokumentasi juga dilakukan untuk melengkapi data-data penelitian informan penelitian dipilih secara sengaja (pusposive sampling). Temuan penelitian yang menarik terkait pelepasan moral dalam PUBG Mobile adalah ketika pemain perempuan menjadi sasaran pelepasan moral oleh pemain lain, mereka biasanya cenderung diam dan tidak memilih untuk melawan balik. Selain itu frekuensi pemain Generasi Z PUBG Mobile perempuan melakukan pelepasan moral juga cenderung rendah dibandingkan dengan pemain laki-laki. Namun, ini tidak berlaku pada pemain PUBG Mobile laki-laki. Ketika ada yang melakukan kekerasan verbal terhadapnya, mereka akan melawan balik dan membalasnya lebih keras. Pelepasan moral di dalam gameplay juga umumnya dilakukan pemain PUBG Mobile laki-laki. Adapun faktor-faktor dasar pelepasan moral yaitu jenis gim yang kompetitif, interaksi dalam gim, rendahnya pendidikan moral, mencari perhatian, dan kurangnya rasa empati. Sedangkan, bentuk-bentuk pelepasan moral yang ditemukan dalam penelitian ini yaitu, memaki sesama pemain, menormalisasi diskriminasi terhadap pemain perempuan, dan debat kusir. Ketiga, bentuk-bentuk pelepasan moral di atas, jika meminjam istilah yang dicetuskan oleh Bandura, disebut sebagai dehumanisasi yaitu di mana individu menganggap individu lain sebagai entitas yang tidak berharga, yang membuatnya rentan melanggar etika atau moral tanpa filter moral yang kuat.