cover
Contact Name
Elan Jaelani
Contact Email
redaksi.penerbitwidina@gmail.com
Phone
+628157000699
Journal Mail Official
redaksi.penerbitwidina@gmail.com
Editorial Address
Bandung Bandung kota
Location
Kab. bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Public Sphere: Jurnal Sosial Politik, Pemerintahan dan Hukum
Published by CV Widina Media Utama
ISSN : -     EISSN : 29645166     DOI : 10.59818/JPS
Public Sphare: Jurnal Sosial, Politik dan Pemerintahan (Journal of Social Politics, Government & Law) is a peer-reviewed journal published by the Scientific Research and Publication Division of Widina Publishers since 2022. The Public Sphare Journal is an integrated media for continuous communication related to significant new research findings related to contemporary issues and developments. socio-political and governmental fields, both practical and theoretical. In general, the coverage of the Public Sphare Journal includes: Civil Society Movement, Community Welfare, Social Development, Society & Digital Disruption, Citizenship, Public Policy Innovation, National Security & Defense, Information & Literacy, Politics, and Government.
Articles 70 Documents
Tanggapan Orang Tua Mengenai Dampak Penggunaan YouTube pada Perkembangan Sosial Emosional Anak (Studi pada Orang Tua Siswa Sekolah Dasar di Kabupaten Bekasi) Utami, Firda Annisa; Hidayanto, Syahrul
Public Sphere: Jurnal Sosial Politik, Pemerintahan dan Hukum Vol 4, No 2 (2025): JPS (Jurnal Sosial Politik, Pemerintahan dan Hukum)
Publisher : CV Widina Media Utama

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59818/jps.v4i2.1725

Abstract

This study discusses the impact of YouTube usage on children's social-emotional development. This study aimed to determine parents' responses to elementary school students in Bekasi regarding the impact of YouTube usage on their children's social-emotional development. The approach used by researchers in this study was qualitative research. The data collection techniques chosen were observation, interviews, and documentation. Based on the study's results, using gadgets and social media platforms, especially YouTube, positively and negatively impact children. Parents generally allow their children to use gadgets with certain limitations and supervision. YouTube is considered a medium that helps children obtain information and entertainment, but it also has the potential to affect social-emotional development if not adequately controlled. Parents apply rules for gadget use, such as limiting the duration of use and allowing access to certain social media (only YouTube). However, although YouTube can provide educational benefits, there is a risk of behavioral changes, such as addiction, reduced social interaction, and emotional changes such as irritability and lack of focus in daily activities. YouTube Kids is one of the solutions used by parents to minimize the negative impacts of YouTube. Some parents also try to divert their children's attention from gadgets by introducing traditional games or other more beneficial activities for their social-emotional development.ABSTRAKPenelitian ini membahas mengenai dampak penggunaan YouTube pada perkembangan sosial emosional anak. Adapun tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui tanggapan orang tua siswa Sekolah Dasar di Bekasi mengenai dampak penggunaan YouTube pada perkembangan sosial emosional anak-anak mereka. Pendekatan yang digunakan peneliti dalam penelitian ini adalah penelitian kualitatif. Teknik pengumpulan data yang dipilih yaitu observasi, wawancara, dan dokumentasi. Berdasarkan hasil penelitian, dapat disimpulkan bahwa penggunaan gadget dan platform media sosial, khususnya YouTube, memiliki dampak positif dan negatif terhadap anak. Para orang tua umumnya mengizinkan anak-anak mereka menggunakan gadget dengan batasan tertentu dan pengawasan. YouTube dianggap sebagai media yang membantu anak dalam memperoleh informasi dan hiburan, tetapi juga berpotensi memengaruhi perkembangan sosial-emosional jika tidak dikontrol dengan baik. Orang tua menerapkan aturan penggunaan gadget, seperti membatasi durasi pemakaian dan mengizinkan akses ke media sosial tertentu (hanya YouTube). Namun, meskipun YouTube dapat memberikan manfaat pendidikan, ada risiko perubahan perilaku, seperti kecanduan, berkurangnya interaksi sosial, serta perubahan emosi seperti mudah marah dan kurang fokus dalam aktivitas sehari-hari. YouTube Kids menjadi salah satu solusi yang digunakan orang tua untuk meminimalisir dampak negatif YouTube. Beberapa orang tua juga mencoba mengalihkan perhatian anak dari gadget dengan memperkenalkan permainan tradisional atau aktivitas lain yang lebih bermanfaat untuk perkembangan sosial-emosional mereka.
Strengthening the Functional Autonomy of Data Protection Officers Under Indonesia’s PDP Law 2022: A Critical Legal and Institutional Review Wiraguna, Sidi Ahyar
Public Sphere: Jurnal Sosial Politik, Pemerintahan dan Hukum Vol 4, No 3 (2025): JPS (Jurnal Sosial Politik, Pemerintahan dan Hukum)
Publisher : CV Widina Media Utama

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59818/jps.v4i3.2317

Abstract

Law Number 27 of 2022 on Personal Data Protection introduces the mandatory appointment of a Data Protection Officer (DPO) as a key mechanism for accountability and compliance. This study critically examines whether Articles 53–54 of the PDP Law sufficiently guarantee the functional autonomy of the DPO in the context of Indonesia’s expanding digital economy and growing risk of data capitalism, where personal data is commodified for economic value. Using a normative-comparative legal method with the GDPR, the analysis demonstrates that although the PDP Law requires professionalism in DPO appointments, it lacks structural safeguards such as protection from interference, conflict-of-interest rules, and guaranteed access to resources—elements expressly regulated under GDPR Article 38. These gaps risk positioning the DPO as a symbolic compliance actor rather than an independent oversight mechanism. The contribution of this research lies in proposing the concept of an institutional firewall as an evaluative framework to assess and strengthen DPO autonomy in Indonesia. The findings imply the need for implementing regulations that institutionalize independence guarantees, reporting hierarchy, and enforcement mechanisms. Strengthening DPO autonomy is essential to ensuring effective privacy governance and realizing the constitutional right to personal data protection.ABSTRAKUndang-Undang Nomor 27 Tahun 2022 tentang Perlindungan Data Pribadi memperkenalkan penunjukan wajib seorang Petugas Perlindungan Data (DPO) sebagai mekanisme kunci untuk akuntabilitas dan kepatuhan. Studi ini secara kritis mengkaji apakah Pasal 53–54 Undang-Undang PDP cukup menjamin otonomi fungsional DPO dalam konteks perekonomian digital Indonesia yang terus berkembang dan risiko meningkatnya kapitalisme data, di mana data pribadi dikomersialkan untuk nilai ekonomi. Menggunakan metode hukum normatif-komparatif dengan GDPR, analisis menunjukkan bahwa meskipun Undang-Undang PDP mensyaratkan profesionalisme dalam penunjukan DPO, undang-undang tersebut kekurangan jaminan struktural seperti perlindungan dari campur tangan, aturan konflik kepentingan, dan akses terjamin terhadap sumber daya elemen-elemen yang secara eksplisit diatur dalam Pasal 38 GDPR. Kekurangan ini berisiko menjadikan DPO sebagai aktor kepatuhan simbolis rather than mekanisme pengawasan independen. Kontribusi penelitian ini terletak pada usulan konsep “firewall institusional” sebagai kerangka kerja evaluatif untuk menilai dan memperkuat otonomi DPO di Indonesia. Temuan ini menyiratkan perlunya menerapkan regulasi yang menginstitusionalkan jaminan kemandirian, hierarki pelaporan, dan mekanisme penegakan. Memperkuat otonomi DPO esensial untuk memastikan tata kelola privasi yang efektif dan mewujudkan hak konstitusional atas perlindungan data pribadi.
Legal and Economic Feasibility of Circular Economy Practices in Small-Scale Food Enterprises: Case Study from Mushroom Snack Production in Indonesia Satwhikawara, Rachmi; Natalita, Ferawati
Public Sphere: Jurnal Sosial Politik, Pemerintahan dan Hukum Vol 4, No 3 (2025): JPS (Jurnal Sosial Politik, Pemerintahan dan Hukum)
Publisher : CV Widina Media Utama

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59818/jps.v4i3.2585

Abstract

This study examines the legal and economic feasibility of small-scale mushroom crispy snack production as a circular economy strategy to reduce post-harvest losses in Indonesia. Using a case study approach, the research focuses on a mushroom-based micro, small, and medium enterprise (MSME) located in Cikarang, Bekasi Regency, which internally valorizes unsold or downgraded mushrooms into crispy snack products instead of discarding them as waste. The study applies an integrated analytical framework combining quantitative financial feasibility analysis using break-even point (BEP), return on investment (ROI), net present value (NPV), and payback period indicators with qualitative legal compliance assessment based on Indonesian food safety, licensing, and consumer protection regulations. The findings indicate that mushroom crispy production operates near its break-even point and does not yet function as an independent profit center. However, when evaluated within the enterprise’s integrated production system, the activity contributes positively by preventing economic losses from unsold fresh mushrooms, improving resource efficiency, and strengthening overall business resilience. From a legal perspective, the enterprise is feasible at its current scale, as it complies with core regulatory requirements, including possession of a valid home-industry food production license (PIRT) and adherence to basic food safety and labeling standards. Overall, the study demonstrates that mushroom snack production from surplus mushrooms is economically rational and legally compliant as a circular economy practice, even when short-term profitability remains limited. The findings highlight the importance of integrating financial analysis with legal compliance in assessing the sustainability of food-processing MSMEs.ABSTRAKStudi ini mengkaji kelayakan hukum dan ekonomi produksi camilan keripik jamur skala kecil sebagai strategi ekonomi sirkular untuk mengurangi kerugian pasca panen di Indonesia. Dengan pendekatan studi kasus, penelitian ini berfokus pada usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) berbasis jamur yang berlokasi di Cikarang, Kabupaten Bekasi, yang secara internal mengolah jamur yang tidak terjual atau berkualitas rendah menjadi produk camilan keripik daripada membuangnya sebagai limbah. Studi ini menerapkan kerangka analitis terintegrasi yang menggabungkan analisis kelayakan finansial kuantitatif menggunakan titik impas (BEP), tingkat pengembalian investasi (ROI), nilai sekarang bersih (NPV), dan periode pengembalian modal dengan penilaian kepatuhan hukum kualitatif berdasarkan peraturan keamanan pangan, perizinan, dan perlindungan konsumen di Indonesia. Hasil penelitian menunjukkan bahwa produksi keripik jamur beroperasi dekat dengan titik impasnya dan belum berfungsi sebagai pusat keuntungan mandiri. Namun, ketika dievaluasi dalam sistem produksi terintegrasi perusahaan, aktivitas ini berkontribusi positif dengan mencegah kerugian ekonomi dari jamur segar yang tidak terjual, meningkatkan efisiensi sumber daya, dan memperkuat ketahanan bisnis secara keseluruhan. Dari perspektif hukum, perusahaan layak beroperasi pada skala saat ini, karena mematuhi persyaratan regulasi inti, termasuk kepemilikan lisensi produksi makanan industri rumahan (PIRT) yang valid dan kepatuhan terhadap standar keamanan pangan dan penandaan dasar. Secara keseluruhan, studi ini menunjukkan bahwa produksi camilan jamur dari jamur sisa merupakan praktik ekonomi sirkular yang secara ekonomi rasional dan sesuai dengan peraturan hukum, meskipun keuntungan jangka pendek masih terbatas. Temuan ini menyoroti pentingnya mengintegrasikan analisis keuangan dengan kepatuhan hukum dalam menilai keberlanjutan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di sektor pengolahan makanan.
Rekontruksi Model Restorative Justice Berbasis Peradilan dalam Sistem Peradilan Pidana di Indonesia Yusuf, Hudi; Fahlevie, Rinaldi Agusta; Chrisbiantoro, Chrisbiantoro
Public Sphere: Jurnal Sosial Politik, Pemerintahan dan Hukum Vol 4, No 3 (2025): JPS (Jurnal Sosial Politik, Pemerintahan dan Hukum)
Publisher : CV Widina Media Utama

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59818/jps.v4i3.2583

Abstract

The paradigmatic shift in criminal law from a retributive approach toward restorative justice has encouraged the adoption of various sectoral policies by law enforcement agencies in Indonesia. However, the implementation of restorative justice outside judicial mechanisms through Police and Prosecution Service regulations raises fundamental legal issues within the framework of criminal procedural law. This study aims to analyze the position of restorative justice within the Indonesian criminal justice system, examine the normative conflict between the Criminal Procedure Code (KUHAP) and Police regulations, and formulate a court-based restorative justice model consistent with the rule of law. This research employs normative legal research methods using statutory, conceptual, and doctrinal approaches. The findings indicate that the practice of restorative justice outside the judicial process not only fails to ensure legal certainty and finality in case resolution but also has the potential to obscure the distribution of authority among law enforcement institutions and weaken the system of checks and balances within the integrated criminal justice system. Therefore, restorative justice should be reconstructed as an integral part of criminal judicial proceedings by placing restorative agreements under judicial supervision and incorporating them into court decisions. Theoretically, this study contributes to the rearticulation of restorative justice within criminal procedural law, while practically providing institutional implications for strengthening the role of the judiciary in national criminal law reform and the criminal justice system.ABSTRAKPergeseran paradigma hukum pidana dari pendekatan retributif menuju restorative justice telah mendorong lahirnya berbagai kebijakan sektoral aparat penegak hukum di Indonesia. Namun, implementasi restorative justice yang dilakukan di luar mekanisme peradilan melalui Peraturan Kepolisian dan Peraturan Kejaksaan menimbulkan persoalan yuridis mendasar dalam kerangka hukum acara pidana. Penelitian ini bertujuan menganalisis kedudukan restorative justice dalam sistem hukum pidana Indonesia, mengkaji konflik normatif antara KUHAP dan Peraturan Kepolisian, serta merumuskan model restorative justice berbasis peradilan yang selaras dengan prinsip negara hukum. Penelitian ini menggunakan metode penelitian hukum normatif dengan pendekatan perundang-undangan, konseptual, dan doktrinal. Hasil penelitian menunjukkan bahwa praktik restorative justice di luar peradilan tidak hanya gagal menjamin kepastian hukum dan finalitas penyelesaian perkara, tetapi juga berpotensi mengaburkan batas kewenangan antar lembaga penegak hukum serta melemahkan mekanisme checks and balances dalam sistem peradilan pidana terpadu. Oleh karena itu, restorative justice harus direkonstruksi sebagai bagian integral dari proses peradilan pidana dengan menempatkan kesepakatan restoratif di bawah pengawasan hakim dan dituangkan dalam putusan pengadilan. Penelitian ini berkontribusi secara teoretis terhadap penataan ulang konsep restorative justice dalam hukum acara pidana, serta secara praktis memberikan implikasi kelembagaan bagi penguatan peran pengadilan dalam pembaruan hukum pidana dan sistem peradilan pidana nasional.
Persepsi Seonhohada di Indonesia Terkait Karakter Psikopat Kim Seon-Ho pada Film The Childe Khoirunisa, Nadhira; Hidayanto, Syahrul
Public Sphere: Jurnal Sosial Politik, Pemerintahan dan Hukum Vol 4, No 2 (2025): JPS (Jurnal Sosial Politik, Pemerintahan dan Hukum)
Publisher : CV Widina Media Utama

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59818/jps.v4i2.1724

Abstract

Film is a medium that has the power to transfer messages and values to a wide audience. The audience of the film is diverse and thanks to the diversity of its audience, film becomes a unique mass communication medium because it can create different perceptions among its viewers. The author chose the film The Childe as the object of research because the depiction of the psychopath character in the film The Childe is different from other films or series about psychopaths. This film depicts a psychopath as a figure who has empathy, looks neat with a suit and formal hairstyle. In addition, Kim Seon-Ho, one of the South Korean actors who is known for often playing the protagonist in films so that he is nicknamed "good boy" by his fans (Seonhohada), actually chooses to be a character who has a psychopathic character in the film The Childe. This is interesting, considering that Seonhohada's perception of psychopaths is assumed to have shifted from the original psychopath being seen as a cruel figure to a charming figure who has empathy. This study aims to determine the perception of Seonhohada in Indonesia regarding the psychopathic character of Kim Seon-Ho in the film The Childe. In this study, the author used a qualitative research method. The author uses data collection techniques including observation, interviews via the Zoom application and documentation. The results of the study showed that several informants expressed their perceptions that the psychopathic character in the film The Childe played by Kim Seon-Ho is a psychopathic figure who has a good, positive side and also looks neat. The informants who have been interviewed each have their own rules of life. One of them is an informant who has a rule of life that his safety and security play a very important role so that he thinks that psychopaths do not have empathy, unlike in the film The Childe.ABSTRAKFilm adalah medium yang memiliki kekuatan transfer pesan dan nilai kepada khalayak yang luas. Audiens film beragam dan berkat keberagaman audiensnya ini membuat film menjadi media komunikasi massa yang unik karena dapat menimbulkan persepsi yang berbeda diantara penontonnya. Penulis memilih film The Childe sebagai objek penelitian karena penggambaran tokoh psikopat dalam film The Childe berbeda dengan film atau series tentang psikopat yang lain. Film ini menggambarkan psikopat sebagai sosok yang memiliki rasa empati, berpenampilan rapi dengan jas dan gaya rambut yang formal. Selain itu, Kim Seon-Ho, salah satu aktor Korea Selatan yang dikenal sering memerankan tokoh protagonis dalam film sehingga diberi julukan “anak baik” oleh penggemarnya (Seonhohada), justru memilih menjadi tokoh yang memiliki karakter psikopat dalam film The Childe. Hal ini menarik, mengingat persepsi Seonhohada terkait psikopat diasumsikan bergeser dari yang semula psikopat dilihat sebagai sosok yang kejam menjadi sosok yang charming dan memiliki rasa empati. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui persepsi Seonhohada di Indonesia terkait karakter psikopat Kim Seon-Ho pada film The Childe. Dalam penelitian ini, penulis menggunakan metode penelitian kualitatif. Penulis menggunakan teknik pengumpulan data yang meliputi observasi, wawancara melalui aplikasi Zoom dan dokumentasi.  Hasil penelitian menunjukkan, beberapa informan mengungkapkan persepsinya bahwa karakter psikopat pada film The Childe yang diperankan oleh Kim Seon-Ho sebagai sosok psikopat yang memiliki sisi baik, positif dan juga berpenampilan rapi. Informan yang telah diwawancarai, masing- masing memiliki aturan hidup tersendiri. Salah satunya terdapat informan yang memiliki aturan hidup bahwa keselamatan dan keamanan dirinya berperan sangat penting sehingga ia beranggapan bahwa psikopat tidak mempunyai rasa empati, tidak seperti pada film The Childe.
PERAN MEDIA KOMUNITAS DALAM PENDIDIKAN BUDAYA LITERASI DI INDONESIA. STUDI KASUS TABLOID KORAN2AN SLANK Lasawedy, Aslamuddin
Public Sphere: Jurnal Sosial Politik, Pemerintahan dan Hukum Vol 5, No 1 (2025): JPS (Jurnal Sosial Politik, Pemerintahan dan Hukum)
Publisher : CV Widina Media Utama

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59818/jps.v5i1.2755

Abstract

Print media play a strategic role in shaping popular cultural literacy practices amid the development of the media industry and popular music in Indonesia. One notable example of print media is Koran2an Slank or Koran Slank, a print publication that emerged from  the Indonesian rock band Slank. This study aims to analyze the role of Koran2an Slank as a print media platform in fostering popular cultural literacy in Indonesia. The research employs a descriptive qualitative approach using a literature review method. Data were collected from articles, books, and scholarly works related to cultural literacy, media literacy, and music journalism. The findings indicate that Koran2an Slank functions not only as a community information medium but also as a space for meaning-making, collective identity expression, and a vehicle for politic and cultural literacy education among its readers and the Slankers community. The publication presents alternative narratives outside mainstream media and strengthens participatory music literacy practices. In conclusion, Koran2an Slank represents a model of community media that contributes to strengthening popular cultural literacy and fostering social politics awareness within the sphere of Indonesian popular culture.ABSTRAKMedia cetak memiliki peran strategis dalam membentuk praktik budaya  literasi di tengah perkembangan industri media dan musik populer di Indonesia. Salah satu media cetak yang menarik untuk dikaji adalah tabloid bulanan Koran2an Slank atau Koran Slank. Sebuah media cetak yang lahir dari rahim Slank, salah satu supergrup musik Indonesia. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis peran Koran2an Slank sebagai media komunitas dalam pendidikan budaya literasi  di Indonesia. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan metode studi kepustakaan. Data diperoleh dari artikel, buku, dan kajian terkait budaya literasi, literasi media, serta jurnalisme musik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Koran2an Slank atau Koran Slank tidak hanya berfungsi sebagai media informasi dan ekspresi identitas komunitas, pun juga menjadi ruang produksi gagasan perlawanan politik dan budaya melalui musik, serta medium pendidikan budaya literasi di kalangan pembaca dan komunitas Slankers. Media ini menghadirkan narasi alternatif di luar media arus utama dan memperkuat praktik literasi musik yang partisipatif. Kesimpulannya, Koran2an Slank merepresentasikan model media cetak yang berkontribusi terhadap penguatan budaya literasi dan pembentukan kesadaran sosial politik dalam ruang budaya populer Indonesia.
PENGATURAN HUKUM INVESTASI PADA SEKTOR PERDAGANGAN DENGAN SISTEM ELEKTRONIK DAN PERIZINAN USAHANYA MENURUT PERATURAN PEMERINTAH NOMOR 31 TAHUN 2023 Prayogi, Prayogi; Hendarman, Hari; Yusup, Deni Kamaludin
Public Sphere: Jurnal Sosial Politik, Pemerintahan dan Hukum Vol 5, No 1 (2025): JPS (Jurnal Sosial Politik, Pemerintahan dan Hukum)
Publisher : CV Widina Media Utama

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59818/jps.v5i1.2747

Abstract

This study aims to analyze the legal framework for investment in the electronic trading sector (PMSE) and its business licensing mechanisms based on Government Regulation No. 31 of 2023, the latest regulation that amends and updates regulations in the digital trading sector in Indonesia. The focus of the study is directed at the urgency of updating investment regulations in the PMSE sector, given the rapid development of the digital economy, the increasing complexity of online business models, and the growing need for legal certainty for domestic and foreign businesses. The subject of this study is considered to be relevant and worthy of research because the transformation of electronic commerce continues to raise new issues related to consumer protection, business competition, foreign investment supervision, and risk-based licensing integration. The scope of the research is limited to a normative analysis of the provisions on investment and business licensing for PMSE as stipulated in PP 31/2023 and its synchronization with related laws and regulations, including the Trade Law, the Job Creation Law, and their implementing regulations. The method used is a normative juridical approach through literature study, regulatory analysis, and doctrinal review. The results of the study show that PP 31/2023 provides significant reinforcement to the governance of PMSE investment through the confirmation of business activity classifications, adjustments to risk-based licensing schemes, and increased obligations for business actors in the implementation of licensing.ABSTRAKPenelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaturan hukum investasi pada sektor perdagangan dengan sistem elektronik (PMSE) serta mekanisme perizinan usahanya berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 31 Tahun 2023 sebagai regulasi terbaru yang mengubah dan memperbarui pengaturan dalam sektor perdagangan digital di Indonesia. Fokus kajian diarahkan pada urgensi pembaruan regulasi investasi di sektor PMSE mengingat pesatnya perkembangan ekonomi digital, semakin kompleksnya model bisnis online, serta meningkatnya kebutuhan akan kepastian hukum bagi pelaku usaha dalam dan luar negeri. Obyek kajian ini dianggap masih aktual dan layak diteliti karena transformasi perdagangan elektronik terus memunculkan isu-isu baru terkait perlindungan konsumen, persaingan usaha, pengawasan investasi asing, hingga integrasi perizinan berbasis risiko. Cakupan penelitian dibatasi pada analisis normatif terhadap ketentuan investasi dan perizinan usaha PMSE sebagaimana diatur dalam PP 31/2023 serta sinkronisasinya dengan peraturan perundang-undangan terkait, termasuk UU Perdagangan, UU Cipta Kerja, dan regulasi pelaksanaannya. Metode yang digunakan ialah pendekatan yuridis normatif melalui studi kepustakaan, analisis peraturan, dan telaah doktrinal. Hasil penelitian menunjukkan bahwa PP 31/2023 memberikan penguatan signifikan terhadap tata kelola investasi PMSE melalui penegasan klasifikasi kegiatan usaha, penyesuaian skema perizinan berbasis risiko, serta peningkatan kewajiban pelaku usaha dalam penyelenggaraan layanan digital. Secara teoritis, penelitian ini memperkaya diskursus mengenai adaptasi hukum investasi terhadap transformasi digital. Secara praktis, hasil kajian memberikan rekomendasi bagi pemerintah, pelaku usaha, dan investor untuk mewujudkan iklim investasi elektronik yang lebih transparan, kompetitif, dan berkelanjutan.
EFEKTIVITAS BPSK DALAM MENANGANI SENGKETA KONSUMEN: STUDI KUALITATIF TENTANG POLA PENGADUAN, MEKANISME PENYELESAIAN, DAN KEPATUHAN PELAKU USAHA Prayogi, Prayogi; Hendarman, Hari; Kholid, Muhamad
Public Sphere: Jurnal Sosial Politik, Pemerintahan dan Hukum Vol 5, No 1 (2025): JPS (Jurnal Sosial Politik, Pemerintahan dan Hukum)
Publisher : CV Widina Media Utama

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59818/jps.v5i1.2749

Abstract

This study analyzes the effectiveness of the Consumer Dispute Settlement Agency (BPSK) in providing access to justice for consumers through a juridical-empirical approach that combines semi-structured interviews with BPSK stakeholders in Bandung, observation of the settlement process, and a review of the regulations underlying the establishment of the agency. Based on Presidential Regulation No. 90 of 2001, BPSK acts as a non-litigation institution that resolves disputes between consumers and business actors through conciliation, mediation, and arbitration, and has the authority to impose administrative sanctions on business actors who violate regulations. The findings show that the structure of the council, which consists of representatives from the government, businesses, and consumers in equal proportions, is an instrument of impartiality in the dispute adjudication process. However, the effectiveness of BPSK services still faces a number of challenges: limited institutional coverage because not all districts/cities have a BPSK, resulting in a centralized caseload and potential barriers to access for consumers from remote areas; conventional evidence procedures; and dependence on the good faith of business actors in implementing decisions. Nevertheless, the BPSK has succeeded in acting as the first line of legal protection before disputes escalate to litigation, with mediation remaining the dominant mechanism and strengthening the principle of procedural justice for the parties. This study contributes to the understanding of the BPSK's role in resolving consumer disputes and provides insights for improving its effectiveness.ABSTRAKPenelitian ini menganalisis efektivitas Badan Penyelesaian Sengketa Konsumen (BPSK) dalam memberikan akses keadilan bagi konsumen melalui pendekatan yuridis-empiris yang memadukan wawancara semi-terstruktur dengan pemangku kepentingan BPSK Kota Bandung, observasi proses penyelesaian, serta kajian regulasi yang mendasari berdirinya lembaga tersebut. Berdasarkan Perpres Nomor 90 Tahun 2001, BPSK berperan sebagai lembaga non-litigasi yang menyelesaikan sengketa antara konsumen dan pelaku usaha melalui konsiliasi, mediasi, dan arbitrase, serta berwenang menjatuhkan sanksi administratif kepada pelaku usaha yang melanggar. Temuan menunjukkan bahwa struktur keanggotaan majelis yang terdiri atas unsur pemerintah, pelaku usaha, dan konsumen dengan proporsi seimbang merupakan instrumen imparsialitas dalam proses ajudikasi sengketa. Namun, efektivitas layanan BPSK masih menghadapi sejumlah tantangan: keterbatasan cakupan kelembagaan karena belum seluruh kabupaten/ kota memiliki BPSK sehingga menimbulkan beban perkara terpusat serta potensi hambatan akses bagi konsumen dari wilayah pinggiran; prosedur pembuktian yang masih konvensional; dan ketergantungan penyelesaian pada itikad baik pelaku usaha dalam menjalankan putusan. Meski demikian, BPSK berhasil berperan sebagai garda awal perlindungan hukum sebelum sengketa meningkat ke ranah litigasi, dengan mekanisme mediasi tetap menjadi pilihan dominan dan memperkuat asas keadilan prosedural bagi para pihak. Penelitian ini memberikan kontribusi empiris dalam memahami posisi BPSK sebagai bagian dari arsitektur alternatif penyelesaian sengketa di Indonesia serta membuka ruang evaluasi terhadap urgensi peningkatan digitalisasi proses dan perluasan kelembagaan menuju efektivitas yang lebih optimal di masa mendatang.
Analisis Das Sollen dan Das Sein dalam Penerapan Prinsip Good Corporate Governance pada Perseroan Terbatas di Indonesia. Permadi, Adi; Aolia, Alfi Muhammad; Shahibul Hikam, Muhammad Athaillah; Husni, Asep; Najmudin, Nandang
Public Sphere: Jurnal Sosial Politik, Pemerintahan dan Hukum Vol 5, No 1 (2025): JPS (Jurnal Sosial Politik, Pemerintahan dan Hukum)
Publisher : CV Widina Media Utama

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59818/jps.v5i1.2498

Abstract

The principle of Good Corporate Governance (GCG) serves as a fundamental pillar in the management of Limited Liability Companies in ensuring transparency, accountability, and alignment with the interests of shareholders and stakeholders. In practice, however, the implementation of GCG often encounters a gap between das sollen the normative standards stipulated in the Company Law and GCG guidelines and das sein, which reflects the actual behavior of corporate organs, particularly the board of directors. This study aims to examine legally how the discrepancy between das sollen and das sein emerges in the application of GCG principles, and how such discrepancies affect the legal accountability of directors. This research employs a normative juridical method using a statutory approach, a conceptual approach, and case analysis based on relevant Supreme Court decisions. The analysis of decisions such as Supreme Court Decisions No. 374 K/Pdt/2012, No. 297 K/Pdt.Sus/2012, and No. 39 PK/Pdt.Sus-Pailit/2013 shows that directors may be held liable when proven to have exceeded their authority, acted negligently, or failed to fulfill their fiduciary duties as mandated under Article 97(3) and Article 98 of the Company Law. The findings indicate that deviations from GCG implementation arise due to weak internal oversight mechanisms, a lack of transparency in managerial decisions, and the persistent occurrence of conflicts of interest in corporate decision-making processes. These discrepancies lead to an increased risk of corporate losses and may result in personal liability for directors, whether through civil lawsuits or corporate legal accountability. Judicial enforcement through court decisions reinforces that GCG is not merely ethical guidance, but a binding normative standard with legal consequences. Thus, this study emphasizes that harmonizing das sollen and das sein is essential for the effective implementation of GCG in Indonesia. Strengthening regulations, improving oversight by corporate organs, and ensuring consistent law enforcement are crucial to achieving governance practices that comply with the prevailing legal standards.ABSTRAKPenelitian ini menganalisis efektivitas Badan Penyelesaian Sengketa Konsumen (BPSK) dalam memberikan akses keadilan bagi konsumen melalui pendekatan yuridis-empiris yang memadukan wawancara semi-terstruktur dengan pemangku kepentingan BPSK Kota Bandung, observasi proses penyelesaian, serta kajian regulasi yang mendasari berdirinya lembaga tersebut. Berdasarkan Perpres Nomor 90 Tahun 2001, BPSK berperan sebagai lembaga non-litigasi yang menyelesaikan sengketa antara konsumen dan pelaku usaha melalui konsiliasi, mediasi, dan arbitrase, serta berwenang menjatuhkan sanksi administratif kepada pelaku usaha yang melanggar. Temuan menunjukkan bahwa struktur keanggotaan majelis yang terdiri atas unsur pemerintah, pelaku usaha, dan konsumen dengan proporsi seimbang merupakan instrumen imparsialitas dalam proses ajudikasi sengketa. Namun, efektivitas layanan BPSK masih menghadapi sejumlah tantangan: keterbatasan cakupan kelembagaan karena belum seluruh kabupaten/ kota memiliki BPSK sehingga menimbulkan beban perkara terpusat serta potensi hambatan akses bagi konsumen dari wilayah pinggiran; prosedur pembuktian yang masih konvensional; dan ketergantungan penyelesaian pada itikad baik pelaku usaha dalam menjalankan putusan. Meski demikian, BPSK berhasil berperan sebagai garda awal perlindungan hukum sebelum sengketa meningkat ke ranah litigasi, dengan mekanisme mediasi tetap menjadi pilihan dominan dan memperkuat asas keadilan prosedural bagi para pihak. Penelitian ini memberikan kontribusi empiris dalam memahami posisi BPSK sebagai bagian dari arsitektur alternatif penyelesaian sengketa di Indonesia serta membuka ruang evaluasi terhadap urgensi peningkatan digitalisasi proses dan perluasan kelembagaan menuju efektivitas yang lebih optimal di masa mendatang.
ANALISIS YURIDIS PUTUSAN PENGADILAN TERHADAP PEMBATALAN KONTRAK KARYA: IMPLIKASI TERHADAP KEPASTIAN HUKUM DAN PERLINDUNGAN INVESTOR DI INDONESIA Prayogi, Prayogi; Hendarman, Hari; Astarudin, Tatang; Sumiati, Sumiati
Public Sphere: Jurnal Sosial Politik, Pemerintahan dan Hukum Vol 5, No 1 (2025): JPS (Jurnal Sosial Politik, Pemerintahan dan Hukum)
Publisher : CV Widina Media Utama

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59818/jps.v5i1.2748

Abstract

Contract of Work is a legal instrument that plays an important role in natural resource management and investment in Indonesia. However, in practice, manyContracts of Work have been revoked by court decisions, giving rise to serious issues related to legal certainty and investor protection. This studyaims to analyze the legal considerations of judges in court decisions that cancel Work Contracts and their implications for the investment climate in Indonesia. The research method used is normative legal research with a legislative approach, a conceptual approach, and a case approach, by examining court decisions that have the force of law. The results of the study show that the annulment of Contracts of Work by the court is generally based on violations of the principles of agreement, inconsistency with the provisions of laws and regulations, as well as changes in legal policy in the field of mining and investment. These rulings have an impact on reducing legal certainty for investors, particularly in relation to contract stability and legal protection guarantees. Therefore, there is a need for regulatory harmonization, consistency in court rulings, and strengthening of the pacta sunt servanda principle in order to create a fair, sustainable, and legal certainty-oriented investment climate in Indonesia.ABSTRAKKontrak Karya merupakan instrumen hukum yang berperan penting dalam pengelolaan sumber daya alam dan penanaman modal di Indonesia. Namun, dalam praktiknya, tidak sedikit Kontrak Karya yang dibatalkan melalui putusan pengadilan, sehingga menimbulkan persoalan serius terkait kepastian hukum dan perlindungan investor. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis secara yuridis pertimbangan hakim dalam putusan pengadilan yang membatalkan Kontrak Karya serta implikasinya terhadap iklim investasi di Indonesia. Metode penelitian yang digunakan adalah penelitian hukum normatif dengan pendekatan perundang-undangan, pendekatan konseptual, dan pendekatan kasus, dengan menelaah putusan pengadilan yang telah berkekuatan hukum tetap. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pembatalan Kontrak Karya oleh pengadilan pada umumnya didasarkan pada adanya pelanggaran asas-asas perjanjian, ketidaksesuaian dengan ketentuan peraturan perundang-undangan, serta perubahan kebijakan hukum di bidang pertambangan dan investasi. Putusan tersebut berdampak pada menurunnya kepastian hukum bagi investor, khususnya terkait stabilitas kontrak dan jaminan perlindungan hukum. Oleh karena itu, diperlukan harmonisasi regulasi, konsistensi putusan pengadilan, serta penguatan asas pacta sunt servanda guna menciptakan iklim investasi yang adil, berkelanjutan, dan berorientasi pada kepastian hukum di Indonesia.