cover
Contact Name
Samadi
Contact Email
jurnalagripet@usk.ac.id
Phone
+6281383736633
Journal Mail Official
jurnalagripet@usk.ac.id
Editorial Address
Animal Husbandry Department, The Faculty of Agriculture, Universitas Syiah Kuala Jln. Tgk. H. Hasan Krueng Kalee No. 3, Kopelma Darussalam, Banda Aceh, 23111, Aceh, Indonesia
Location
Kab. aceh besar,
Aceh
INDONESIA
Jurnal Agripet
ISSN : 14114623     EISSN : 24604534     DOI : https://doi.org/10.17969/agripet
Core Subject : Agriculture,
Aims Jurnal Agripet aims to publish original research results on farm tropical animals such as cattle, buffaloes, sheep, goats, horses, poultry, etc. Scope Jurnal Agripet encompasses a broad range of research topics in animal sciences and biotechnology including animal physiology and nutrition, feed processing and technology, animal productions, animal genetics, breeding and reproduction, meat and milk sciences, animal health, behavior and welfare, animal housing and livestock farming system.
Articles 462 Documents
Aktivitas Enzim dan Kecernaan Pakan Domba yang Disuplementasi Complete Rumen Modifier (CRM) Tri Laras Wigati; Fransiska Maria Suhartati; Sri Rahayu; Muhamad Bata
Jurnal Agripet Vol 23, No 1 (2023): Volume 23, No. 1, April 2023
Publisher : Agricultural Faculty

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17969/agripet.v23i1.26725

Abstract

ABSTRACT. Penelitian bertujuan mengkaji pengaruh suplementasi complete rumen modifier (CRM) terhadap aktivitas enzim rumen dan kecernaan pakan domba. Delapan belas ekor domba jantan lokal umur 6 8 bulan dengan bobot rata-rata 18,602,11 kg dibagi menjadi 6 kelompok berdasarkan bobot badan. Masing-masing kelompok tersebut diacak untuk mendapatkan satu dari tiga perlakuan sehingga penelitian menggunakan rancangan acak kelompok (RAK). Konsumsi bahan kering yang diberikan adalah 4% dari bobot badan domba dengan imbangan bahan kering jerami padi amoniasi dan konsentrat adalah 60 dan 40%. Perlakuan yang diuji adalah penambahan CRM 0, 1, dan 2% dari bahan kering ransum untuk P1, P2, dan P3. Peubah yang diamati meliputi aktivitas protease, dan selulase rumen, kecernaan bahan kering, protein kasar, dan serat kasar. Hasil penelitian menunjukkan bahwa suplementasi CRM menurunkan aktivitas protease rumen secara kuadrater (P0,01) dengan aktivitas terendah pada taraf CRM 1,16%. Aktivitas selulase meningkat secara kuadrater (P0,01) dengan aktivitas tertinggi pada taraf CRM 1,06% dengan aktivitas enzim sebesar 0,37 U/mg. Suplementasi CRM tidak berpengaruh (P0,05) terhadap kecernaan bahan kering pakan. Kecernaan protein kasar dan serat kasar meningkat secara kuadratik (P0,01) dengan kecernaan tertinggi dicapai pada taraf CRM 1,43% dan 1,69%. Kesimpulan penelitian, suplementasi CRM sebesar 1% - 2% mampu meningkatkan aktivitas enzim rumen dan kecernaan pakan pada domba. Taraf CRM 1% (P2) merupakan taraf terbaik untuk menghasilkan aktivitas enzim rumen dan kecernaan nutrien secara optimal.(Ruminal enzymes activity and nutrient digestibility of sheep supplemented with Complete Rumen Modifier (CRM))ABSTRAK. This research was carried out to study the supplementation of complete rumen modifier (CRM) to improve feed digestibility and rumen enzymes activity in lambs. Eighteen male local lambs age of 6 8 month with average body weight 18.602.11 kg were grouped into 6 blocks by initial body weight. Each group was randomly got one out of three treatments, so the experiment used randomized block design. Dry matter intake (DMI) was 4% of body weight which consisted of concentrate and ammoniated rice straw with ratio 60:40%. As a treatment were the addition of CRM to the concentrate of 0, 1, and 2% based on the diet for P1, P2, and P3 respectively. The variables measured were rumen enzymes activity (protease, and cellulose) and nutrient digestibility (dry matter, crude protein, and crude fiber). The result showed that CRM supplementation quadratically (P0.01) decreased protease activity with the lowest activity at CRM 1,16% but increase cellulose activity quadratically (P0.01) optimum at level CRM 1,06%. CRM supplementation had no effect (P0.05) on dry matter digestibility. CRM supplementation quadratically (P0.01) improved crude protein dan crude fiber digestibility optimum at CRM 1,47% and 1,69% respectively. In conclusion, CRM at a dose 1% - 2% can improve ruminal enzymes and nutrient digestibility in sheep. CRM dose 1% (P2) was the best dose to optimize specific enzymes activity and nutrient digestibility.
Suplementasi Nukleotida dan Ekstrak Kunyit pada Pakan terhadap Kualitas Kimia Daging Ayam Broiler Kusbiono Jumadi Rahman; Elly Tugiyanti; Agustinus Hantoro Djoko Rahardjo
Jurnal Agripet Vol 23, No 1 (2023): Volume 23, No. 1, April 2023
Publisher : Agricultural Faculty

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17969/agripet.v23i1.25600

Abstract

ABSTRACT. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengkaji pengaruh pemberian nukleotida dan ekstrak kunyit terhadap kualitas kimia daging ayam broiler pada periode finisher. Materi yang digunakan dalam penelitian yaitu DOC ayam broiler CP 707 Produksi PT. Charoen Pokphand Indonesia Tbk. sebanyak 168 ekor, yang dipelihara selama 42 hari. Rancangan penelitian yang digunakan yaitu Rancangan Acak Lengkap (RAL). Terdapat 7 perlakuan dan 4 ulangan yang meliputi kontrol negatif: pakan basal + antibiotik zinc bacitracin 0,1 g/hari; N0K0 (kontrol positif): pakan basal + nukleotida 0 mg/kg pakan + ekstrak kunyit 0 mg/kg pakan; N0K1: pakan basal + nukleotida 0 mg/kg pakan + ekstrak kunyit 600 mg/kg pakan; N1K0: pakan basal + nukleotida 250 mg/kg pakan + ekstrak kunyit 0 mg/kg pakan; N1K1: pakan basal + nukleotida 250 mg/kg pakan + ekstrak kunyit 600 mg/kg pakan; N2K0: pakan basal + nukleotida 500 mg/kg pakan + ekstrak kunyit 0 mg/kg pakan; N2K1: pakan basal + nukleotida 500 mg/kg pakan + ekstrak kunyit 600 mg/kg pakan. Variabel penelitian yang diukur dan diamati yaitu kualitas kimia daging ayam broiler yaitu kadar kolagen, kadar lemak, kadar protein daging dan kadar air. Analisis data yang digunakan yaitu analisis variansi/analysis of variance (ANOVA) menggunakan IBM SPSS. Hasil analisis variansi menunjukkan bahwa suplementasi nukleotida dan penambahan ekstrak kunyit pada pakan berpengaruh nyata (P0,05) terhadap kadar lemak dan kadar protein daging, tetapi tidak berpengaruh nyata (P0,05) pada kadar kolagen dan kadar air. Berdasarkan hasil penelitian, dapat disimpulkan bahwa suplementasi nukleotida dan ekstrak kunyit menunjukkan perbedaan yang cukup signifikan pada kadar lemak dan protein daging ayam broiler karena memiliki nilai yang lebih baik dan efektif dibandingkan dengan kontrol negatif (zinc bacitracin) dan kontrol positif (ransum basal).(Nucleotide supplementation and turmeric extract in feed on chemical quality of broiler meat)ABSTRAK. This study aims to examine the effect of giving nucleotides and turmeric extract on the chemical quality of broiler meat in the finisher period. The material used were 168 DOC broilers CP 707 produced by PT. Charoen Pokphand Indonesia Tbk. was kept for 42 days and used a Completely Randomized Design (CRD). There were 7 treatments and 4 replications which included negative control: Basal feed + antibiotic Zink Bacitracin 0.1 g/day; N0K0 (positive control): Basal feed + nucleotide 0 mg/kg feed + turmeric extract 0 mg/kg feed; N0K1: Basal feed + nucleotide 0 mg/kg feed + turmeric extract 600 mg/kg feed; N1K0: Basal feed + nucleotides 250 mg/kg feed + turmeric extract 0 mg/kg feed; N1K1: Basal feed + nucleotides 250 mg/kg feed + turmeric extract 600 mg/kg feed; N2K0: Basal feed + nucleotides 500 mg/kg feed + turmeric extract 0 mg/kg feed; N2K1: Basalt feed + nucleotides 500 mg/kg feed + turmeric extract 600 mg/kg feed. The research variables measured and observed were the chemical quality of broiler chicken meat, namely collagen content, fat content, meat protein content, and water content. Data analysis with analysis of variance (ANOVA) using IBM SPSS. The results of the analysis of variance showed that nucleotide supplementation and the addition of turmeric extract to feed had a significant effect (P0.05) on fat content and protein content of meat, but had no significant effect (P0.05) on collagen content and water content. Based on the results of the study, it can be concluded that nucleotide supplementation and turmeric extract showed significant differences in the fat and protein content of broiler meat because it had a better and more effective value than the negative control (zinc bacitracin) and positive control (basal ration).
Aktivitas Antioksidan dari Susu Pasteurisasi dengan Penambahan Ekstrak Kayu Manis (Cinnamomum burmannii) sebagai Minuman Kesehatan Zuraida Hanum; Zikri Maulina Gaznur; Zahratul Aini; Ari Wibowo
Jurnal Agripet Vol 23, No 1 (2023): Volume 23, No. 1, April 2023
Publisher : Agricultural Faculty

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17969/agripet.v23i1.28380

Abstract

ABSTRACT. Proses pasteurisasi membuat susu hanya dapat disimpan hingga 5 hari, sehingga diperlukan teknik pengawetan dan pengolahan lainnya untuk memperpanjang masa simpan susu pasteurisasi. Tujuan penelitian ini adalah memperpanjang masa simpan dari susu sapi pasteurisasi dengan penambahan bahan alam berupa ekstrak kayu manis dilihat dari aktivitas antioxidant. Ekstrak kayu manis yang ditambahkan pada susu pasteurisasi sebanyak 1 %. Ekstrak kayu manis diperoleh dengan metode maserasi dan dipekatkan menggunakan rotary evaporator. Penelitian ini menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) yang terdiri dari 5 perlakuan penyimpanan (0 hari, 5 hari, 7 hari, 9 hari, dan 11 hari), setiap perlakuan diulang sebanyak 4 kali. Parameter yang dihitung meliputi uji storch, Total Plate Count nilai pH, dan nilai antioksidan (IC50). Hasil pengamatan menunjukkan nilai storch pada susu pasteurisasi yang mengindikasikan kesempurnaan susu pasteurisasi dengan hasil pemanasan yang sempurna, nilai TPC masih dalam standar normal pertumbuhan mikroba sampai dengan hari ke 7, nilai pH normal sampai dengan hari ke 7 dan nilai antioksidan mengindikasikan bahwa penambahan 1% ekstrak kayu manis mampu mempertahankan nilai antioksidan dengan kategori sangat kuat. Kesimpulan yang diperoleh dari penelitian susu pasteurisasi dengan penambahan 1% ekstrak kayu manis memiliki daya antioksidan yang kuat dan memperpanjang masa simpan susu pasteurisasi hingga hari ke 7.(The antioxidant activity of pasteurized milk with the addition cinnamon (Cinnamomum burmannii) as healthy drink)ABSTRAK. The pasteurization process makes milk only be stored for 5 days, so preservation and other processing techniques are needed to extend the shelf life of pasteurized milk. The purpose of this research was to extend the shelf life as antioxidant activity. of pasteurized cow's milk with the addition of natural ingredients in the form of cinnamon extract. The cinnamon extract added to pasteurized milk as much as 1%. The cinnamon extract was obtained by maceration method and concentrated using a rotary evaporator. This study used a completely randomized design (CRD) consisting of 5 storage treatments (0 day, 5 days, 7 days, 9 days and 11 days), each treatment was repeated 4 times. The calculated parameters include Storch test, Total Plate Count pH value, and antioxidant value (IC50). The results showed that the storch value in pasteurized milk indicated the perfection of pasteurized milk with perfect heating results, the TPC value was still within the normal standard for microbial growth up to day 7, normal pH value up to day 7 , and antioxidant value indicated that the addition of 1% extract cinnamon is able to maintain antioxidant value with a very strong category. The conclusions obtained from research on pasteurized milk with the addition of 1% cinnamon extract has strong antioxidant power and extends the shelf life of pasteurized milk up to the 7th day.
Perubahan Morfologi dan Morfometri Saluran Reproduksi Kelinci Lokal Bunting Semu Hasil Induksi Menggunakan GnRH Sri Wahyuni; Syafruddin Syafruddin; Muhammad Fathan Rizky Athallah; Tongku Nizwan Siregar; Mulyadi Adam; Roslizawaty Roslizawaty
Jurnal Agripet Vol 23, No 1 (2023): Volume 23, No. 1, April 2023
Publisher : Agricultural Faculty

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17969/agripet.v23i1.25377

Abstract

ABSTRACT. Bunting semu pada kelinci dapat terjadi karena adanya induksi secara hormonal dan stimulasi fisik yang dapat menyebabkan perubahan pada morfologi saluran reproduksi. Salah satu metode induksi bunting semu adalah melalui injeksi GnRH. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi perubahan terhadap anatomi dan histologi saluran reproduksi pada kelinci lokal bunting semu yang diinduksi dengan penyuntikan GnRH. Dalam penelitian ini digunakan sembilan ekor kelinci betina lokal, berumur 1-2 tahun dengan bobot badan 1,8-2,2 kg. Kelinci yang dibagi ke dalam tiga kelompok perlakuan (n=3) yakni K1, K2, dan K3. Kelompok K1 (kontrol negatif), diinjeksi dengan 0,1 ml NaCl fisiologis tanpa perkawinan; K2 (kontrol positif), kelinci diinduksi dengan 100 IU PMSG, tiga hari kemudian dikawinkan dan diinjeksi 75 IU hCG; dan K3, kelinci diinduksi dengan penyuntikan 5 g GnRH secara intravena. Pada hari ke-8 setelah perlakuan seluruh kelinci disembelih lalu saluran reproduksi diambil untuk pengamatan morfologi dan morfometri oviduk, kornua uteri, serviks uteri dan vagina lalu diproses secara histoteknik dan diwarnai dengan pewarnaan hematoksilin dan eosin untuk pengamatan histologi dan histomorfometri. Panjang oviduk, kornua, dan vagina kelinci memperlihatkan perbedaan yang nyata (P0,05) antar K1 dan K2 dengan K3. Ketebalan lapisan muskularis ampula, lamina propia isthmus, lamina muskularis isthmus, tunika serosa isthmus memperlihatkan perbedaan yang nyata (P0,05) antara K1 dan K2 dengan K3. Tebal lapisan endometrium kornua uterus K2 berbeda sangat nyata (P0,05) dengan K3, namun tidak berbeda nyata (P0,05) dibandingkan K1. Lapisan serosa serviks uteri K1 dan K2 berbeda sangat nyata (P0,05) dengan K3. Histomorfometri vagina kelinci menunjukkan perbedaan yang nyata (P0,05). Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa induksi GnRH tidak menyebabkan perubahan morfologi dan morfometri saluran reproduksi kelinci lokal pada hari ke-8 setelah induksi.(Morphology and morphometry changes of reproductive tract in the pseudo pregnant doesusing GnRH)ABSTRAK. Pseudopregnancy in rabbits can occur due to hormonal induction and physical stimulation that can cause changes in the morphology of the reproductive tract. One method of hormonal induction is GnRH injection. This study aimed to determine the anatomical and histological changes of the reproductive tract in pseudo pregnant local rabbits induced by injection of GnRH. In this study, nine local female rabbits, aged 1-2 years with a body weight of 1.8-2.2 kg, were divided into three treatment groups (n=3), namely, K1 (negative control): injected with 0.1 ml of physiological NaCl without mating, K2 (positive control): injected with 100 IU PMSG and then mated with male rabbits after three days of injection and followed by injection of 75 IU Hcg; K3 injection 5g of GnRH intravena route. On the day-8 after treatment, all rabbits were slaughtered and the reproductive tract was collected for morphological and morphometric observation of the oviduct, uterine horn, uterine cervix, and vagina, and then processed histotechnically and stained with hematoxylin and eosin for histological and histomorphometric observation. The length of oviduct, uterine horn and vagina showed significant different (P0.05) between K1 and K2 with K3. The thickness of the lamina muscularis of ampulla, lamina propia of isthmus, lamina muscularis of isthmus, tunica serous of isthmus showed significant different (P0.05) between K1 and K2 with K3.The thickness of the endometrium of uterine horn was significant different (P0.05) between K2 and K3, but not significantly different (P0.05) with K1. The thickness of tunica serous of servical uterine K1 and K2 was significant different (P0.05) with K3. Vaginal histomorphometry of rabbits was not significantly different (P0.05). It can be concluded that the induction of GnRH did not changes the morphology and histology of the reproductive tract in the local rabbits on the day-8 after treatment.
Kualitas Semen Beku Sapi Limousin setelah Thawing Menggunakan Air Dingin dengan Lama Waktu yang Berbeda Aulia Puspita Anugra Yekti; Rheta Eva Ramadhani Setiawan; Achadiah Rachmawati; Trinil Susilawati
Jurnal Agripet Vol 23, No 1 (2023): Volume 23, No. 1, April 2023
Publisher : Agricultural Faculty

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17969/agripet.v23i1.23331

Abstract

ABSTRACT. Keberhasilan inseminasi buatan dipengaruhi oleh kualitas semen atau motilitas spermatozoa post thawing. Inseminator menggunakan air dingin (28oC) untuk thawing semen beku sedangkan SNI menyarankan thawing semen beku dengan air hangat (37oC) selama 30 detik. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh lama dan suhu thawing pada semen beku sapi Limousin terhadap kualitas semen serta mengetahui perlakuan terbaik dari penelitian ini. Materi yang digunakan adalah 50 straw semen beku sapi Limousin yang diproduksi oleh BBIB Singosari. Metode penelitian yang digunakan adalah eksperimental dengan 5 perlakuan dan 10 ulangan. Variabel yang diamati adalah Motilitas Individu spermatozoa, Viabilitas spermatozoa, Abnormalitas spermatozoa, Konsentrasi dan Total Motilitas Spermatozoa. Data yang diperoleh dianalisis menggunakan analisis ragam Analysis of Variance (ANOVA) dengan Rancangan Acak Kelompok (RAK) kemudian diuji dengan Duncan Multiple Range Test (DMRT) jika terdapat perbedaan nyata. Selanjutnya diuji Chi square untuk variabel motilitas individu, konsentrasi dan total spermatozoa dan dibandingkan dengan SNI untuk semen beku. Dari hasil penelitian, didapatkan bahwa thawing pada suhu 28C dengan lama waktu 60 detik berpengaruh sangat nyata (P0,01) terhadap viabilitas dan berpengaruh nyata (P0,05) pada motilitas individu dan total spermatozoa motil. Sedangkan, konsentrasi dan abnormalitas spermatozoa memberikan hasil tidak berpengaruh nyata (P0,05). Kesimpulan dari penelitian ini adalah thawing dengan air dingin (suhu 28C) selama 60 detik memberikan kualitas semen terbaik setelah thawing.(Quality of Post Thawing Frozen Semen on Limousin Bull Using Cold Water with Different Durations)ABSTRAK. The quality of post-thawing semen influences the success factor of artificial insemination (AI). Inseminators usually used tap water (28C) to thaw the frozen semen, while Indonesian National Standard used warm water (37C) for 30 seconds. This study aims to determine the effect of thawing duration on the frozen semen quality of Limousin Bull and also to know the best treatment between the five treatments of this experiment. The material used in this study was 50 straws of frozen semen produced by Artificial Insemination Center Singosari. The method was an experiment method with five treatments and ten replications. the variables observed were individual motility, sperm viability, sperm abnormality, concentration, and total motile of sperm. The data obtained were analyzed statistically using Analysis of Variance (ANOVA) of Randomized Block Design (RBD) and then using Duncan Multiple Range Test if there is a difference. Then using Chi-Square Test for individual motility, concentration, and total motile of sperm and compared with the Indonesian National Standard of frozen semen. The results show that a temperature of 28C with a duration of 60 seconds is highly significant (P0,01) to viability and significant (P0,05) to individual motility and total motile of sperm. While, the concentration and abnormality of sperm give no significant effect (P0,05). In conclusion, the temperature and duration of thawing at 28C for 60 seconds show the best quality of post-thawing semen.
Tingkat Produksi dan Keragaman Vegetasi Hijauan Pakan di Padang Penggembalaan Berdasarkan Sistem Penanaman Berbeda Iwan Prihantoro; Panca DMH Karti; Asep Tata Permana; Edit Lesa Aditia; Sherly Dwi Putri
Jurnal Agripet Vol 23, No 1 (2023): Volume 23, No. 1, April 2023
Publisher : Agricultural Faculty

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17969/agripet.v23i1.28096

Abstract

ABSTRACT. Padang penggembalaan yang berkualitas baik akan menghasilkan produktivitas ternak yang optimal. Sistem penanaman hijauan pakan secara monokultur dan polikultur berperanan penting dalam menciptakan padang penggembalaan yang berkualitas baik. Tujuan penelitian adalah untuk mengukur tingkat produksi dan keragaman vegetasi hijauan pakan di padang penggembalaan Balai Pembibitan Ternak Unggul dan Hijauan Pakan Ternak (BPTUHPT) Padang Mengatas berdasarkan sistem penanaman berbeda. Penelitian didesain menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) dengan dua perlakuan berdasarkan perbedaan sistem penanaman (monokultur dan polikultur) dan 4 ulangan. Data penelitian dianalisis menggunakan T-test paired sample berdasarkan perbedaan sistem penanaman. Peubah yang diamati adalah karakteristik warna dan pH tanah, tingkat keragaman vegetasi, dan tingkat produksi tanaman pakan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perbedaan sistem penanaman monokultur dan polikultur menghasilkan hasil yang sama baik dan tidak berbeda nyata (P0,05) terhadap pH tanah, produksi biomassa tanaman dan kapasitas tampung. Visualisasi warna tanah adalah cenderung gelap dan pedok didominasi tanaman pakan sesuai desain penanaman, yakni Brachiaria decumbens pada sistem monokultur, Brachiaria decumbens, Panicum maximum, dan Cynodon plectostachyus untuk sistem penanaman polikultur. Kesimpulan dari penelitian bahwa tingkat produksi hijauan dan kapasitas tampung padang penggembalaan tidak berbeda nyata (P0,05) antara perlakuan monokultur dan polikultur, tetapi cenderung lebih tinggi pada perlakuan sistem penanaman polikultur, yakni 4,86 0,88 ST/ha/th dan 5,26 2,42 ST/ha/th. Keragaman vegetasi dari rumput yang dikembangkan berdasarkan indeks nilai penting (INP) adalah tinggi dan dominan Brachiaria decumbens pada sistem monokultur. Begitu juga INP yang tinggi dan dominan dari tanaman Brachiaria decumbens, Panicum maximum, dan Cynodon plectostachyus untuk sistem penanaman polikultur.(Production rate and diversity of forage vegetation at pasture base on planting system)ABSTRAK. Good quality pasture will produce optimum livestock productivity. Forage planting system both monoculture and polyculture have important role to provide good quality pasture. The objective of the research was to evaluate production rate and forage diversity at Center of Animal Breeding and Forage (BPTUHPT) Padang Mengatas based on different planting system. A completely randomized design with 2 treatments based on planting system (monoculture and polyculture) and 4 replication were applied for the research. Data was analyzed by T-test paired sample based on planting system. Parameters observed were color characteristics and soil pH, vegetation diversity rate, and forage productivity. Research shows that planting system by monoculture and polyculture provide similar result (P0,05) for soil pH, biomass production and carrying capacity. Soil color visualization tend to be darker and paddock was dominated by Brachiaria decumbens for monoculture system, meanwhile Brachiaria decumbens, Panicum maximum, dan Cynodon plectostachyus were dominant for polyculture system. Production rate and carrying capacity of pasture were not significantly different (P0,05) for both monoculture and polyculture system, but tend to be higher on polyculture system. The average production rate were 4,860,88 AU/ha/yr for monoculture system and 5,262,42 AU/ha/yr for polyculture system. Diversity of forage vegetation according to the Importance Value Index (IVI) was high and dominance for Brachiaria decumbens at monoculture system. In addition, it was similar result for Brachiaria decumbens, Panicum maximum, dan Cynodon plectostachyus with polyculture system.
Analisis Kualitas Semen Ayam Lokal Indonesia Berdasarkan Galur dan Umur Dewasa Kelamin yang Berbeda Nurul Azizah; Komarudin Komarudin; Nurul Pratiwi; Tatan Kostaman; Tike Sartika
Jurnal Agripet Vol 23, No 1 (2023): Volume 23, No. 1, April 2023
Publisher : Agricultural Faculty

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17969/agripet.v23i1.25747

Abstract

ABSTRACT. Rumpun ayam lokal Indonesia sangat bervariasi dan berpotensi menghasilkan ternak dengan kualitas unggul. Evaluasi semen saat umur dewasa kelamin merupakan kriteria penting dalam menseleksi ayam pejantan untuk menghasilkan genetik yang unggul. Penelitian ini bertujuan mengetahui pengaruh perbedaan galur dan umur terhadap karakteristik semen ayam lokal yang dipelihara di Kandang Riset Ayam Balai Penelitian Ternak, Ciawi-Bogor. Evaluasi semen dilakukan pada 36 ekor ayam, yang dibagi atas tiga kelompok (ayam Gaok, Sensi-1 Agrinak Abu, dan Sensi-1 Agrinak Pucak), masing-masing berjumlah 12 ekor. Koleksi semen dilakukan dengan teknik massage abdominal pada umur ke-24, 28, 32, dan 36 minggu dari ketiga galur. Parameter yang diamati dalam penelitian ini meliputi volume, pH, gerakan massa, motilitas, dan viabilitas spermatozoa. Data dianalisis menggunakan analisis general linear model univariat. Perbedaan umur menunjukkan pengaruh signifikan terhadap volume, motilitas, dan viabilitas spermatozoa ayam (p0,05). Volume, motilitas, dan viabilitas tertinggi pada umur 32 minggu sebesar 0,44 ml; 79,11%; dan 84,69%. Nilai pH signifikan terhadap tipe galur (p0,05) dengan pH tertinggi 7,91 pada ayam Gaok. Interaksi galur dengan umur tidak berpengaruh signifikan terhadap kualitas spermatozoa (p0,05). Perbedaan umur memengaruhi kualitas spermatozoa ayam, tetapi variasi galur tidak berpengaruh signifikan.(Analysis of male local chicken semen in Indonesia based on breed types and sexual mature age levels)ABSTRAK. Indonesian local chickens are very varied and have the potential to produce livestock of superior quality. Evaluation of semen at sexual maturity is an important criterion in selecting male hens to produce superior genetics. This study aims to determine the effect of differences in strain and age on the semen characteristics of local chickens reared in the Chicken Research Cage at the Livestock Research Institute, Ciawi-Bogor. Semen evaluation was carried out on 36 chickens, which were divided into three groups (Gaok chicken, Sensi-1 Agrinak Abu, and Sensi-1 Agrinak Pucak), and consisted of 12 chickens of each breed. Semen collection was performed using the abdominal massage technique at the ages of 24, 28, 32, and 36 weeks for the three strains. The parameters observed in this study include volume, pH, mass movement, motility, and viability of spermatozoa. The data were analyzed using general linear univariate model analysis. Differences in age showed a significant effect on the volume, motility, and viability of chicken spermatozoa (p0.05). The highest volumes, motility, and viability at 32 weeks of age were 0.44 ml, 79.11%, and 84.69%. The pH value was significant for the type of line (p0.05) on the highest pH of 7.91 in Gaok chickens. Line interaction with age did not significantly affect the quality of spermatozoa (p0.05). The difference in age affects the quality of chicken spermatozoa, but the variation in the strain does not have a significant effect.
Kompetensi Teknis Peternak Sapi Potong di Kabupaten Timor Tengah Utara dan Kabupaten Belu Ture Simamora; Anna Fatchiya; Dwi Sadono; Pang Suparman Asngari
Jurnal Agripet Vol 23, No 1 (2023): Volume 23, No. 1, April 2023
Publisher : Agricultural Faculty

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17969/agripet.v23i1.23918

Abstract

ABSTRACT. Pembangunan peternakan yang bertujuan meningkatkan produktivitas sapi potong belum menunjukkan hasil nyata di Provinsi Nusa Tenggara Timur. Hal ini disebabkan oleh peternakan rakyat masih bersifat tradisional dalam mengelola usaha sapi potong. Dengan demikian kompetensi menjadi aspek yang harus dimiliki peternak agar bisa mengelola usaha ternak secara benar dan menghasilkan produktivitas yang tinggi. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis tingkat kompetensi teknis peternak sapi potong di Kabupaten Timor Tengah Utara dan Kabupaten Belu. Penelitian menggunakan penelitian kuantitatif dengan rancangan penelitian survei yang bersifat menerangkan (explanatory research). Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode survei. Penelitian dilakukan di Kabupaten Timur Tengah Utara dan Kabupaten Belu. Jumlah sampel yang diambil di wilayah penelitian sebanyak 462 orang. Hasil penelitian menunjukkan Tingkat kompetensi teknis peternak berbeda nyata antara Kabupaten Timor Tengah Utara dan Kabupaten Belu. Secara umum kompetensi teknis peternak kategori tinggi (rerata = 55,32) di kedua kabupaten tersebut. Kompetensi peternak perlu ditingkatkan dengan meningkatkan kualitas layanan penyuluhan yang sesuai kebutuhan peternak serta melakukan pelatihan teknis usaha sapi potong.(Technical competence of beef cattle breeders in Timor Tengah Utara and Belu regencies)ABSTRAK. The development that aims to increase cattle productivity has not shown tangible results in the province of East Nusa Tenggara. This is because people's farms are still traditional in managing beef cattle business. Thus, competence is an aspect that must be owned by breeders in order to properly manage livestock business and produce high productivity. This study aims to analyze the level of technical competence of beef cattle breeders in North Central Timor Regency and Belu Regency. This research uses quantitative research with a descriptive research design (explanatory research). The method used in this research is a survey method. The research was conducted in North Middle East and Belu Districts. The number of samples taken in the research area was 462 people. The results showed that the level of technical competence of farmers was significantly different between North Central Timor Regency and Belu Regency. Competence needs to be improved by improving the quality of extension services according to the needs of breeders and conducting beef cattle business technicalities.
Produktivitas dan Nilai Ternak Sapi Lokal serta Kerbau di Pasar Tradisional Asti Fatmawati Fatonah; Rudy Priyanto; Henny Nuraini; Edit Lesa Aditia
Jurnal Agripet Vol 23, No 1 (2023): Volume 23, No. 1, April 2023
Publisher : Agricultural Faculty

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17969/agripet.v23i1.22818

Abstract

ABSTRACT. Kebutuhan domestik daging sapi dan kerbau sebagian besar disuplai dari ternak lokal. Tujuan penelitian ini adalah karakterisasi produktivitas sapi Bali, sapi PO, dan kerbau serta nilai ternak di pasar tradisional berdasarkan kondisi ternak hidup, karkas dan non karkas serta komponen karkas dan non karkas. Penelitian ini menggunakan 17 ekor sapi lokal dan kerbau jantan, meliputi sapi Bali 6 ekor, sapi PO 6 ekor, dan kerbau 5 ekor dengan umur I2-I4. Data dianalisis menggunakan analysis of covariance dengan prosedur general linear model dan least square mean. Peubah yang diamati meliputi bobot potong, bobot dan persentase karkas, bobot komponen karkas, bobot dan persentase non karkas, bobot komponen non karkas, serta nilai ternak di pasar tradisional di daerah Bogor. Hasil penelitian menunjukkan ternak lokal dengan produktivitas karkas dan daging tertinggi yaitu sapi Bali, diikuti sapi PO dan kerbau. Persentase karkas sapi Bali 50,39%, sapi PO 49,96%, dan kerbau 46,41%. Sapi Bali memiliki persentase total daging tertinggi yaitu 72,23%, diikuti sapi PO 69,54%, dan kerbau 67,61%. Namun, kerbau memiliki hasil non karkas tertinggi, diikuti sapi PO dan sapi Bali. Berdasarkan bobot karkas dan komponen karkas, sapi Bali memiliki nilai ternak tertinggi, sedangkan sapi PO memiliki nilai ternak yang tinggi pada non karkas. Sapi Bali dan sapi PO memiliki nilai ternak lebih tinggi dari kerbau. Sapi dan kerbau akan mempunyai nilai tambah tertinggi pada saat diolah menjadi komponen karkas dan komponen non karkas.(Productivity and economic value of local cattle and buffalo in traditional markets)ABSTRAK. Domestic beef and buffalo supply mainly comes from local livestock. The purpose of this study was to compare the productivity of Bali cattle, PO cattle, and buffaloes, and their economic values for traditional markets based on live weight, carcass weight, and carcass and non-carcass component weights. This study used 17 heads of local bull and male buffaloes, comprising 6 Bali cattle, 6 PO cattle and 5 local buffaloes aged I2-I4. Data were analyzed using Analysis of Covariance, with the general linear model and least square mean procedures. Parameters observed included slaughter weight, weight and percentages of carcass, carcass components, non-carcass, non-carcass components, and their prices according to Bogor traditional market. The results showed that the local cattle with the highest productivity and meat yield were Bali cattle, followed by PO cattle and buffalo. The carcass percentage of Bali cattle were 50.39%, PO cattle were 49.96%, and buffalo were 46.41%. Bali cattle produced the highest meat yield 72.23%, followed by PO cattle 69.54%, and buffalo 67.61%. However, buffalo had the highest non-carcass productivity, followed by PO and Bali cattle. Based on carcass and its component weights, Bali cattle had the highest economic value, whereas PO cattle had the highest value on non-carcass weights. Bali cattle and PO cattle had higher economic value than buffalo. The ruminant animal had its highest added value when processed into carcass and non-carcass components.
Provision of Lactic Acid as Acidifier in Probiotics-Containing Ration on Protein Performance of Sentul Chicken Muhammad Teguh; Bambang Hartoyo; Elly Tugiyanti
Jurnal Agripet Vol 23, No 1 (2023): Volume 23, No. 1, April 2023
Publisher : Agricultural Faculty

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17969/agripet.v23i1.20511

Abstract

ABSTRACT. The aim of this research was to study the addition of an acidifier in feed containing probiotics on protein performance in Sentul chickens. The material used was 60 female Sentul chickens aged 6 months, kept for 2 months in 20 units of battery cages, and used a completely randomized design (CRD) with 4 treatments of 5 replications, therefore there were 20 experimental units with 3 head / replications. The variables measured included protein performance (protein consumption, liver protein percentage, and meat protein percentage and meat protein mass). Treatment: R0: basal feed; R1: basal feed + probiotic with lactic acid acidifier 0.5%; R2: basal feed + probiotic with lactic acid acidifier 1.0%; R3: basal feed + probiotic with lactic acid acidifier 1.5%. Data analysis with analysis of variance (ANOVA) using IBM SPSS. The results of the analysis of variance showed that lactic acid as an acidifier in feed containing probiotics had a significant effect (P 0.05) on protein consumption, liver protein percentage, meat protein percentage but had no significant effect (P 0.05) on meat protein mass. Based on the results of the study, it can be concluded that the addition of a 0.5% acidifier in probiotics containing ration can be used as additional feed for Sentul chickens because it is efficient in optimizing protein performance.(Pemberian Asam Laktat sebagai Acidifier pada Pakan Probiotik terhadap Kinerja Protein Ayam Sentul)ABSTRAK. Tujuan penelitian adalah untuk mengkaji penambahan acidifier dalam pakan yang mengandung probiotik terhadap kinerja protein pada ayam Sentul. Materi yang digunakan adalah ayam Sentul betina umur 6 bulan sebanyak 60 ekor yang dipelihara selama 2 bulan pada 20 unit kandang baterai, dan menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 4 perlakuan 5 ulangan oleh sebab itu terdapat 20 unit percobaan dengan 3 ekor / ulangan. Variabel yang diukur meliputi kinerja protein (konsumsi protein, persentase protein hati, persentase protein daging dan massa protein daging). Perlakuan: R0: pakan basal; R1: pakan basal + probiotik dengan acidifier asam laktat 0,5%; R2: pakan basal + probiotik dengan acidifier asam laktat 1,0%; R3: pakan basal + probiotik dengan acidifier asam laktat 1,5%. Analisis data dengan analisis variansi (ANOVA) menggunakan IBM SPSS. Hasil analisis variansi menunjukkan bahwa penggunaan asam laktat sebagai acidifier pada pakan yang mengandung probiotik berpengaruh nyata (P0,05) terhadap konsumsi protein, persentase protein hati dan persentase protein daging tetapi berpengaruh tidak nyata (P0,05) terhadap massa protein daging. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa penambahan acidifier dengan taraf 0.5% dalam pakan yang mengandung probiotik dapat mengoptimalkan kinerja protein ayam Sentul.

Page 6 of 47 | Total Record : 462


Filter by Year

2000 2025


Filter By Issues
All Issue Vol 25, No 2 (2025): Volume 25, No. 2 October 2025 Vol 25, No 1 (2025): Volume 25, No. 1, April 2025 Vol 24, No 2 (2024): Volume 24, No. 2, October 2024 Vol 24, No 1 (2024): Volume 24, No. 1, April 2024 Vol 23, No 2 (2023): Volume 23, No. 2, Oktober 2023 Vol 23, No 1 (2023): Volume 23, No. 1, April 2023 Vol 22, No 2 (2022): Volume 22, No. 2, Oktober 2022 Vol 22, No 1 (2022): Volume 22, No. 1, April 2022 Vol 21, No 2 (2021): Volume 21, No. 2, Oktober 2021 Vol 21, No 1 (2021): Volume 21, No. 1, April 2021 Vol 20, No 2 (2020): Volume 20, No. 2, Oktober 2020 Vol 20, No 1 (2020): Volume 20, No. 1, April 2020 Vol 19, No 2 (2019): Volume 19, No. 2, Oktober 2019 Vol 19, No 1 (2019): Volume 19, No. 1, April 2019 Vol 18, No 2 (2018): Volume 18, No. 2, Oktober 2018 Vol 18, No 1 (2018): Volume 18, No. 1, April 2018 Vol 17, No 2 (2017): Volume 17, No. 2, Oktober 2017 Vol 17, No 1 (2017): Volume 17, No. 1, April 2017 Vol 16, No 1 (2016): Volume 16, N0. 1, April 2016 Vol 16, No 2 (2016): Volume 16, No. 2, Oktober 2016 Vol 15, No 1 (2015): Volume 15, N0. 1, April 2015 Vol 15, No 2 (2015): Volume 15, No. 2, Oktober 2015 Vol 14, No 2 (2014): Volume 14, No. 2, Oktober 2014 Vol 14, No 1 (2014): Volume 14, No. 1, April 2014 Vol 13, No 2 (2013): Volume 13, No. 2, Oktober 2013 Vol 13, No 1 (2013): Volume 13, No. 1, April 2013 Vol 12, No 2 (2012): Volume 12, No. 2, Oktober 2012 Vol 12, No 1 (2012): Volume 12, No. 1, April 2012 Vol 11, No 2 (2011): Volume 11, No. 2, Oktober 2011 Vol 11, No 1 (2011): Volume 11, No. 1, April 2011 Vol 10, No 2 (2010): Volume 10, No. 2, Oktober 2010 Vol 10, No 1 (2010): Volume 10, No. 1, April 2010 Vol 9, No 2 (2009): Volume 9, No. 2, Oktober 2009 Vol 9, No 1 (2009): Volume 9, No. 1, April 2009 Vol 8, No 2 (2008): Volume 8, No. 2, Oktober 2008 Vol 8, No 1 (2008): Volume 8, No. 1, April 2008 Vol 7, No 2 (2007): Volume 7, No. 2, Oktober 2007 Vol 7, No 1 (2007): Volume 7, No. 1, April 2007 Vol 3, No 1 (2002): Volume 3, No. 1, April 2002 Vol 2, No 2 (2001): Volume 2, No. 2, Oktober 2001 Vol 2, No 1 (2001): Volume 2, No. 1, April 2001 Vol 1, No 1 (2000): Volume 1, No. 1, April 2000 More Issue