Claim Missing Document
Check
Articles

Found 28 Documents
Search

Morfologi Kelenjar Aksesori Kelamin Muncak (Muntiacus muntjak muntjak) Jantan Sri Wahyuni; Lidya Elizabeth M. Manik; Srihadi Agungpriyono; Muhammad Agil; Tuty Laswardi Yusuf; . Hamny; I Ketut Mudite Adnyane
Acta VETERINARIA Indonesiana Vol. 1 No. 2 (2013): Juli 2013
Publisher : IPB University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (10818.482 KB) | DOI: 10.29244/avi.1.2.80-90

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari morfologi kelenjar aksesori muncak jantan secara makroanatomi dan mikroanatomi. Seekor muncak jantan dewasa berumur 4-5 tahun dengan bobot badan 19 kg digunakan pada penelitian ini. Muncak terlebih dahulu di-exanguinasi untuk dikoleksi kelenjar aksesori kelaminnya. Untuk memperoleh gambaran mikroanatomi, sampel kelenjar aksesori diproses dengan teknik histologi dan diwarnai dengan pewarnaan hematoksilin-eosin (HE). Hasil pengamatan makroskopis menunjukkan bahwa kelenjar aksesori muncak jantan terdiri atas ampula, duktus deferens, kelenjar prostat, kelenjar vesikularis, dan kelenjar bulbouretralis. Karakteristik histologi kelenjar aksesori muncak adalah ditemukannya kelenjar prostat yang berbentuk pars diseminata dengan kelenjar-kelenjar sekretori tersebar di sekeliling lumen uretra pars pelvina dimana secara makroskopis kelenjar tersebut tidak dapat diamati. Tipe kelenjar sekresi pada ampula, kelenjar vesikularis, dan pars diseminata prostat adalah tubuloalveolar, sedangkan pada kelenjar bulbouretralis tipe tubular. Dapat disimpulkan bahwa morfologi kelenjar aksesori muncak jantan memperlihatkan kemiripan dengan kelenjar aksesori pada ruminansia kecil lainnya seperti kambing, domba, reeves muntjak, dan pampas deer.
Studi Histokimia Sebaran Karbohidrat Usus Biawak Air (Varanus salvator) Sri Wahyuni; . Zuchri; . Hamny; Muhammad Jalaluddin; I Ketut Mudite Adnyane
Acta VETERINARIA Indonesiana Vol. 3 No. 2 (2015): Juli 2015
Publisher : IPB University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1034.948 KB) | DOI: 10.29244/avi.3.2.77-84

Abstract

Penelitian ini bertujuan mengetahui sebaran karbohidrat pada usus biawak air dengan metode histokimia. Organ usus dari satu ekor biawak jantan dewasa dikoleksi melalui prosedur perfusi dan selanjutnya difiksasi dengan larutan paraformaldehid 4%. Usus biawak dibagi menjadi enam bagian, yaitu bagian I sampai VI dan selanjutnya diproses menjadi preparat histologi. Deteksi sebaran karbohidrat pada lapisan mukosa usus dilakukan dengan pewarnaan alcian blue (AB) pH 2,5 untuk karbohidrat asam dan periodic acid schiff (PAS) untuk karbohidrat netral. Hasil penelitian menunjukan bahwa sebaran karbohidrat asam ditemukan pada sel goblet pada keenam bagian usus dengan intensitas reaksi sedang (++) sampai kuat (+++), dan tidak ditemukan pada struktur usus lainnya. Sebaran karbohidrat netral ditemukan di seluruh permukaan jaringan usus dengan intensitas reaksi lemah (+) sedangkan intensitas reaksi sedang (++) sampai kuat (+++) ditemukan pada sel goblet. Jumlah sel goblet penghasil karbohidrat asam dan netral pada usus bagian I-IV lebih sedikit (+~++) dibandingkan usus bagian V-VI (+++). Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa sebaran karbohidrat asam dan netral ditemukan diseluruh bagian usus dengan intensitas pewarnaan yang bervariasi. Jumlah sel goblet yang terdeteksi menghasilkan kedua jenis karbohidrat tersebut lebih banyak ditemukan pada usus bagian kaudal.Kata kunci: jaringan usus, sel goblet, karbohidrat asam dan netral, Varanus salvator. (Histochemical Study of Intestinal Carbohydrates Distribution in the Water Monitor (Varanus salvator))The objective of this study was to elaborate the distribution of carbohydrate in intestine tissue of water monitor using histochemical method. Intestinal organ from an adult male water monitor was collected after perfused and subsequently fixed in paraformaldehyde 4%. Intestinal organ was divided to six regions e.g. I to VI and then processed to histological slides. The carbohydrate distribution on the mucosal surface of intestinal tissue was stained with alcian blue (AB) pH 2.5 for detect the acid carbohydrates and periodic acid Schiff (PAS) for the neutral carbohydrates. The results showed that the distribution of acid carbohydrates found in the goblet cells at the I to VI regions with vary intensity of staining reaction with good staining (++) to intense staining (+++), whereas other intestinal structures did not contain the acid carbohydrates. Furthermore, the distribution of neutral carbohydrates was found in the whole intestinal tissue with weak reaction (+), while good staining (++) to intense staining (+++) was appeared in the goblet cells. Additionally, the number of goblet cells containing acid and neutral carbohydrates at the I-IV region was fewer (+~++) than at V-VI region (+++). Conclusion of this study is the distribution of acid and neutral carbohydrates appeared in all regions of the intestinal tissue. The large number of goblet cells that secreting both of carbohydrate type was found at the caudal of intestinal tissue.Keywords: intestinal tissue, goblet cells, acid and neutral carbohydrates, Varanus salvator.
Penanganan Paraparesis Kaki Belakang pada Kucing Domestik dengan Metode Terapi Elektroakupunktur Mudhita Zikkrullah Ritonga; Cut Nila Thasmi; Sri Wahyuni; M. Nur Salim; M. Ikhsanuddin
Acta VETERINARIA Indonesiana Vol. 10 No. 1 (2022): Maret 2022
Publisher : IPB University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/avi.10.1.51-57

Abstract

Paraparesis atau paresis merupakan suatu kondisi ditandai oleh lemahnya gerak badan, atau hilangnya sebagian gerakan badan atau adanya gangguan gerakan. Kucing domestik berumur ±4 bulan, berjenis kelamin jantan, ras kucing domestik campuran, warna rambut putih bercampur coklat muda, dengan berat badan 1,5 kg mengalami kelemahan pada kedua kaki belakang, tidak bisa berjalan disertai dengan kondisi tubuh yang tampak lemah serta lesu, dan tidak memberikan respon rasa sakit saat dilakukan penekanan pada regio femur dan digit sehingga menyebabkan ketidakmampuan pada kedua kaki belakang untuk mengangkat tubuh bagian belakang dengan sempurna sehingga menunjukkan adanya gangguan pada sistem saraf yang mempengaruhi anggota gerak dan muskuloskeletal. Hasil foto x-ray menunjukkan bahwa tidak adanya tulang yang fraktur dan pada organ visceral juga tidak menunjukkan perubahan ataupun kelainan yang signifikan. Namun terdapat suatu kondisi radiopaque dari perkembangan osteofit pada tulang belakang diantara L6-L7 sehingga menunjukkan diagnosa yaitu paraparesis kaki belakang. Terapi paraparesis kaki belakang pada kucing dengan metode elektroakupunktur dilakukan di titik BL-23, BL-25, BL-32 dan ST-36 pada tubuh kucing selama 4 minggu dengan durasi setiap terapi selama 15 menit yang dilaksanakan seminggu sekali selama 4 minggu. Kucing diberikan terapi Neurobion® injeksi 0,15 cc intra muscular setelah setiap terapi akupunktur dan diresepkan neurobion® sebanyak seperdelapan tablet satu kali sehari. Kesimpulannya yaitu metode terapi elektroakupunktur dengan titik akupunktur BL-23, BL-25, BL-32 dan ST-36 pada kucing yang mengalami paraparesis kaki belakang menunjukkan perkembangan yang membaik setelah dilakukannya terapi selama empat kali.
AH-15 The Morphology of Salivary Glands in Water Monitor (Varanus salvator) Hamny Hamny; Alfajri Saputra; Muhammad Jalaluddin; Sri Wahyuni; Mustafa Sabri
Media Veteriner Proceedings of The 5th Congress of Asian Association of Veterinary Anatomists (Asian AVA) 2015
Publisher : Media Veteriner

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (591.13 KB)

Abstract

The Morphology of Salivary Glands in Water Monitor (Varanus salvator)
AH-25 Sperm Morphology of the Javan Muntjak, Muntiacus muntjak muntjak Sri Wahyuni; Gholib Gholib; Wahono Esthi Prasetyaningtyas; I Ketut Mudite Adnyane; Srihadi Agungpriyono; Hamny Hamny; Muhammad Jalaluddin; Mustafa Sabri; Muslim Akmal; Muhammad Agil; Tuty Laswardi Yusuf
Media Veteriner Proceedings of The 5th Congress of Asian Association of Veterinary Anatomists (Asian AVA) 2015
Publisher : Media Veteriner

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (479.056 KB)

Abstract

Sperm Morphology of the Javan Muntjak,  Muntiacus muntjak muntjak
AH-35 Potence for Osteogenesis of (Cissus quadrangularis Salisb) Ekstract in Ovariectomized Rats Mustafa Sabri; Nurhidayat Nurhidayat; Wasmen Manalu; Bambang Pontjo Priosoeryanto; Hamny Hamny; Sri Wahyuni
Media Veteriner Proceedings of The 5th Congress of Asian Association of Veterinary Anatomists (Asian AVA) 2015
Publisher : Media Veteriner

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (550.081 KB)

Abstract

Potence for Osteogenesis of (Cissus quadrangularis Salisb) Ekstract in Ovariectomized Rats
Praktik Tim dan Kerjasama Tim Antar Profesional Pemberi Asuhan dalam Implementasi Interprofessional Collaboration di RSUD Meuraxa Kota Banda Aceh Sri Wahyuni; Nova Dian Lestari; Nurjannah Nurjannah; Dedy Syahrizal
Jurnal Kedokteran Syiah Kuala Vol 21, No 3 (2021): Volume 21 Nomor 3 Desember 2021
Publisher : Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24815/jks.v21i3.20714

Abstract

Pendahuluan: Praktik Interprofessional Collaboration (IPC) merupakan bentuk kerjasama antar tenaga kesehatan yang dilakukan secara kolaboratif untuk memastikan asuhan pasien berjalan secara optimal dan berkesinambungan. Profesional Pemberi Asuhan (PPA) dengan profesi dan keilmuan yang berbeda dituntut untuk bisa berkontribusi secara individu maupun dalam tim. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran praktik tim dan kerjasama tim antar PPA dalam implementasi Interprofessional Collaboration di RSUD Meuraxa Kota Banda Aceh.Metode: Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan pendekatan fenomenologi menggunakan metode in-depth interview dan Focus Group Discussion (FGD). Data direkam, ditranskripsi kemudian dianalisis menggunakan analisis tematik. Informan penelitian ini sebanyak 12 orang PPA yang terdiri dari Dokter Penanggung Jawab Pasien (DPJP), perawat, apoteker, dan dietisien. Penelitian dilakukan di RSUD Meuraxa Kota Banda Aceh selama bulan Juni-Juli tahun 2020.Hasil: Hasil penelitian menggambarkan bahwa tim dan kerjasama tim secara interprofessional di RSUD Meuraxa belum efektif. Kegiatan visite bersama yang melibatkan keempat profesi belum pernah dilakukan. Profesi apoteker dan dietisien yang dibutuhkan dalam melakukan kolaborasi tidak cukup dari segi kuantitas. Perawat sesuai kompetensi klinis dalam melaksanakan kolaborasi belum sesuai. PPA belum memahami konsep IPC dengan baik sehingga dominansi kerjasama tim dilakukan oleh profesi dokter-perawat.Diskusi: Rumah Sakit harus melakukan tela’ah staf untuk menyediakan dan mendistribusikan PPA yang cukup secara kuantitas maupun kualitas sesuai kebutuhan kolaborasi. Sosialisasi tentang regulasi dan pelaksanaan Interprofessional Collaboration perlu dilakukan secara berkala agar PPA memahami konsep IPC dengan baik.
Profil Biokimia Darah Sapi Aceh yang Mengalami Kawin Berulang Cut Nila Thasmi; Husnurrizal Husnurrizal; Muslim Akmal; Sri Wahyuni; Tongku Nizwan Siregar
Jurnal Veteriner Vol 22 No 1 (2021)
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University and Published in collaboration with the Indonesia Veterinarian Association

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (98.013 KB) | DOI: 10.19087/jveteriner.2021.22.1.26

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah mengetahui profil biokimia darah sapi aceh yang mengalami kawin berulang/repeat breeding (RB). Dalam penelitian ini digunakan 16 ekor sapi aceh yang terdiri atas tujuh ekor sapi aceh fertil dan sembilan ekor sapi aceh RB, yang berumur 3-8 tahun dengan skor kondisi tubuh (SKT) 3-4. Koleksi serum dilakukan untuk pemeriksaan profil biokimia darah meliputi kadar kolesterol, protein, dan glukosa. Kadar kolesterol; protein; dan glukosa sapi aceh fertil vs RB masing-masing adalah 185,86±45,34 vs 144,00±40,69 mg/dL; 6,57±1,55 vs 6,96±2,05 g/dL; dan 67,43±13,72 vs 73,78±15,83 mg/dL. Disimpulkan bahwa kadar glukosa sapi aceh RB lebih tinggi dibandingkan sapi fertile, sedangkan kadar kolesterol dan protein relatif sama.
Uji Biokompatibilitas Serbuk Limbah Cangkang Cue (Faunus ater) Sebagai Bahan Implan Tulang (Bone Graft) pada Kelinci Astri Wulandari; Erwin Erwin; Rusli Rusli; Amiruddin Amiruddin; Sugito Sugito; Ummu Balqis; Mustafa Sabri; Sri Wahyuni
Jurnal Veteriner Vol 22 No 3 (2021)
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University and Published in collaboration with the Indonesia Veterinarian Association

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (209.163 KB) | DOI: 10.19087/jveteriner.2021.22.3.324

Abstract

Bahan implan tulang (bone graft) berbahan dasar alam saat ini mulai banyak dikembangkan. Penelitian ini bertujuan untuk menguji biokompatibilitas serbuk limbah cangkang cue (Faunus ater) sebagai kandidat bahan implan tulang pada kelinci berdasarkan pengamatan gambaran klinis otot, densitas radiografi, histopatologi tulang dan otot. Penelitian ini menggunakan enam ekor kelinci jantan berusia 8-10 bulan dengan bobot badan 1,5-2,0 kg. Tindakan bedah dilakukan secara steril dan aseptis dengan membuat defek area diaphysis tulang femur berdiameter 5 mm mencapai sumsum tulang. Kelompok perlakuan I (P1) diinfiltrasi NaCl 0,9% dan kelompok perlakuan II (P2) diberikan serbuk cangkang cue sebanyak 0,25 g. Pengamatan radiografi dilakukan pada hari ke-15, 30, 45, dan 60 setelah perlakuan dengan mengamati integrated density area implan dan area sekeliling implan. Hari ke-60 setelah perlakuan, semua kelinci dikorbankan nyawanya degan cara dieutanasi untuk pembuatan sediaan histopatologi dalam parafin blok. Integrated density material implan dan area sekeliling implan menunjukkan densitas radiopaque yang berbeda siginifikan antar kelompok perlakuan dan berfluktuasi di antara waktu pengamatan dengan perbedaan signifikan. Pengamatan histopatologi otot sekitar implan menunjukkan sel inflamasi, nekrosis dan jaringan ikat, sedangkan tulang sekitar implan menunjukkan proliferasi jaringan ikat, neovaskularisasi, proliferasi bone marrow, pertumbuhan tulang baru dan sel inflamasi. Serbuk cangkang cue memiliki biokompatibilitas yang baik dan berpotensi untuk dikembangkan menjadi bone graft.
Histologi dan Histomorfometri Testis dan Epididimis Muncak (Muntiacus muntjak muntjak) pada Periode Ranggah Keras (HISTOLOGY AND HISTOMORPHOMETRY OF THE TESTIS AND EPIDIDYMIS OF MUNTJAC (MUNTIACUS MUNTJAK MUNTJAK) DURING HARD ANTLER PERIOD) Sri Wahyuni; Srihadi Agungpriyono; Muhammad Agil; Tuty Laswardi Yusuf
Jurnal Veteriner Vol 13 No 3 (2012)
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University and Published in collaboration with the Indonesia Veterinarian Association

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (242.101 KB)

Abstract

The objective of this study was to describe the histology and histomorphometry of testis and epididymisof muntjac (Muntiacus muntjak muntjak) during hard antler period. The tissues of the testis and epididymisof an adult male muntjac were processed for histological examination and stained with haematoxylineosine(HE). The parenchyma of muntjac’s testis during hard antler period showed tubuli seminiferi waslined with germinal epithelium: spermatogonia, spermatocyte, spermatid that differentiated intospermatozoa. Sertoli cells were found among the germinal cells. In addition, Leydig cells were foundaround the blood vessel of interstitial tissue along with macrophages. Diameter of the seminiferous tubuleand epithelial thickness were 176,60±7,06 ?m and 50,27±3,62 ?m respectively. The epididymal duct wassubdivided into three segments: caput, corpus and cauda. They were lined predominantly withpseudostratified columnar epithelium which was varied in its thickness. The largest diameter of epididymalduct was found in cauda region (324,26±25,79 ?m), while caput epididymidis had the thickest of epithelialcell (62,21±4,21 ?m) and tended to ce thinner in corpus (49,53±3,01 ?m) and cauda epididymidis(16,30±2,27?m). The density of spermatozoa was observed the most in the lumen of cauda region comparedto caput and corpus epididymidis. In conclusion, the structure of histology and histomorphometry of theseminiferous tubule of testis and epididymal duct of muntjac were similar with small ruminants andother Cervidae during hard antler period.
Co-Authors . Nurliana . Zuchri Abdul Hamid Abdullah, Mohd Agus Nashri Agus Wahyuni Ahmad Syakir Ahmad Syakir Ainal Mardiah Alfajri Saputra Amalia Sutriana Amiruddin Amiruddin Anwar Anwar Arie Febretrisiana Astri Wulandari Bambang Pontjo Priosoeryanto Boni Anggara Cut Nila Thasmi Daffa Gustia Putra Akbar Dasrul Dasrul Dasrul Dasrul Dedy Syahrizal Dian Lestari, Nova Diana Fauzia Sari Dwinna Aliza Elisa Elisa Erdiansyah Rahmi Erwin Erwin Fadli A Gani Fadli A. Gani Gholib Gholib Ginta Riady Hafizuddin Hafizuddin Hafizuddin Hafizuddin Hamny Sofyan Husnurrizal . Husnurrizal Husnurrizal Idawati Nasution Indah Kesuma Siregar Ita Djuwita Kadriah Kadriah Ketut Adnyane Mudite Lia Angelina Surbakti Lidya Elizabeth M. Manik M Nur Salim M. Aman Yaman M. Ikhsanuddin Mudhita Zikkrullah Ritonga MUHAMMAD AGIL Muhammad Fathan Rizky Athallah Muhammad Iqbal Muhammad Jalaluddin Muhammad Jalaluddin Mulyadi Adam Mulyadi Adam Mulyadi Adam Mulyadi Adam Muslim Akmal Muslim Akmal Muslim Akmal Mustafa Mustafa Mustafa Sabri Mustafa Sabri Mustafa Sabri Nazaruddin Nazaruddin Ngadimin Ngadimin Nurhidayat, Nurhidayat Nurjannah Nurjannah Patcharin Kangkha Qadarsina Qadarsina Rahma Melinda Ridho Akbar Yuandi Ridho Akbar Yuandi Rinidar Rinidar Roslizawaty Roslizawaty Rusli Rusli Rusli Rusli Savitri Novelina Srihadi Agungpriyono Sugito Sugito Syafruddin Syafruddin Taufan Hidayat Taufan Hidayat Tongku Nizwan Siregar Tongku Nizwan Siregar Tuty Laswardi Yusuf Tuty Laswardi Yusuf Tuty Laswardi Yusuf Tuty Laswardi Yusuf Ummu Balqis Wahono Esthi Prasetyaningtyas Wasmen Manalu Yunisrina Q. Yusuf Zainabun Zainabun Zainuddin Zainuddin Zulyazaini Zulyazaini