cover
Contact Name
Rolan Rusli
Contact Email
admin@jurnalfamul.com
Phone
+6282154639509
Journal Mail Official
admin@jurnalfamul.com
Editorial Address
Gedung Administrasi Fakultas Farmasi Universitas Mulawarman, Jalan Penajam, Kampus UNMUL Gn. Kelua, Samarinda, 75119. Indonesia.
Location
Kota samarinda,
Kalimantan timur
INDONESIA
Jurnal Sains dan Kesehatan
Published by Universitas Mulawarman
ISSN : 23030267     EISSN : 24076082     DOI : 10.25026/jsk
Jurnal Sains dan Kesehatan menerima naskah karya asli (Artikel Penelitian, Artikel Review, dan Studi Kasus), baik eksperimental maupun teoretis, dalam bidang-bidang berikut: Sains dan Kesehatan (Kedokteran, Farmasi, Kesehatan Masyarakat, Keperawatan, Kebidanan, Gizi, dan lain-lain). Tujuan penerbitan Jurnal Sains dan Kesehatan adalah untuk menyediakan informasi ilmiah tentang perkembangan ilmu dan teknologi di bidang Ilmu Pengetahuan dan Kesehatan.
Articles 750 Documents
Efektivitas Akupunktur “GI” terhadap Pengobatan Stres pada Pasien di Klinik Akupunktur Sukamenak dan UPT Layanan Kesehatan Bumi Medika Ganesa ITB Risna Agustina; Andreanus A. Soemardji
Jurnal Sains dan Kesehatan Vol. 1 No. 5 (2016): J. Sains Kes.
Publisher : Fakultas Farmasi, Universitas Mulawarman, Samarinda, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25026/jsk.v1i5.47

Abstract

Penelitian mengenai pengaruh akupunktur “GI” pada pengobatan stres telah dilakukan pada pasien stres yang melakukan terapi akupunktur di Klinik Akupunktur Sukamenak dan UPT Layanan Kesehatan Bumi Medika Ganesa. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui efektivitas Akupunktur “GI” terhadap penurunan tingkat stres pada pasien, serta untuk memperkuat kegunaan dan posisi akupunktur “GI” dalam sistem kesehatan sebagai terapi komplementer. Penelitian ini merupakan studi observasional konkuren secara kualitatif dan kuantitatif yang dilakukan selama 3 bulan melalui wawancara dengan parameter utama skala stres. Analisis pengaruh terapi Akupunktur “GI” terhadap pasien stres dapat diamati melalui penurunan skor stres pada responden yang rutin melakukan terapi akupunktur dan juga pengaruh usia, dan jenis kelamin terhadap penurunan skor stres. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada hubungan bermakna (r= -0,998) antara penurunan skor stres dengan jumlah terapi akupunktur “GI”, adanya hubungan jumlah terapi akupunktur “GI” yang dilakukan dengan penurunan skor stres. Selain itu, penelitian ini membuktikan adanya pengaruh jenis kelamin terhadap efektivitas terapi akupunktur “GI”. Dapat disimpulkan bahwa terapi akupunktur “GI” berperan dalam penekanan gejala stres, prospektif sebagai terapi alternatif ataupun komplementer bagi penderita stres.
Kadar Testosteron Darah Pasien Setelah Pemberian Jamu Aprodisiaka Di Rumah Riset Jamu“Hortus Medicus” Tawangmangu Danang Ardiyanto; Tofan Aries Mana
Jurnal Sains dan Kesehatan Vol. 1 No. 5 (2016): J. Sains Kes.
Publisher : Fakultas Farmasi, Universitas Mulawarman, Samarinda, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25026/jsk.v1i5.48

Abstract

Aprodisiaka dikenal sebagai zat untuk meningkatkan gairah seksual khususnya pada laki-laki. Pemberian jamu aprodisiaka untuk meningkatkan libido memerlukan bukti ilmiah yang memadai terutama dalam efikasinya. Salah satu indikator efikasi adalah dengan mengukur kadar testosteron darah. Sebuah penelitian uji klinik dengan desain pre-post test telah dilakukan di Rumah Riset Jamu “Hortus Medicus” Balai Besar Litbang Tanaman Obat dan Obat Tradisional Tawangmangu untuk menilai kadar testoseron darah setelah pemberian jamu aprodiaka. Sebanyak 25 subjek secara sukarela mengikuti penelitian ini mendapatkan terapi formula jamu selama 2 bulan. Formula jamu merupakan infusa yang terdiri dari rimpang temulawak 15 gram, buah cabe jawa 3 gram, herba pegagan 9 gram, buah krangean 3 gram, biji adas 3 gram diminum 2 kali sehari. Kadar testosteron subyek diukur pada awal (hari ke-0), hari ke 28 dan hari ke 56. Hasil uji T antara kadar testosteron pada H-0 dibandingkan H-28, didapatkan nilai p=0,000, sedangkan hari ke-0 dibandingkan hari ke-56 didapapatkan nilai p=0,000. Hal tersebut menunjukkan perbedaan yang bermakna (p<0,05) antara sebelum dengan sesudah perlakuan. Dapat disimpulkan formula jamu untuk aprodisiaka meningkatkan kadar testosteron darah subjek.
Pemberian Ko-Kemoterapi Fraksi Etil Asetat Akar Pasak Bumi (Eurycoma longifolia Jack) terhadap Ekspresi Protein NF-K? pada Tikus Sprague Dawley yang Diinduksi DMBA Kony Putriani; Laela Hayu Nurani; Sitarina Widyarini
Jurnal Sains dan Kesehatan Vol. 1 No. 5 (2016): J. Sains Kes.
Publisher : Fakultas Farmasi, Universitas Mulawarman, Samarinda, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25026/jsk.v1i5.49

Abstract

Kanker payudara terjadi karena adanya paparan dari senyawa 7,12-dimethylbenz (a) antrasene (DMBA) yang bersifat mutagenik dan karsinogenik. Drug of choice untuk kanker payudara adalah Doxorubicin, namun menimbulkan efek samping dan toksik pada sel normal maka diperlukan penelitian ko-kemoterapi dalam hal ini digunakan fraksi etil asetat akar pasak bumi yang dapat bersifat sebagai antiinflamasi dan apoptosis. Penelitian ini adalah untuk menelusuri mekanisme ko-kemoterapi akar pasak bumi dan Doxorubicin terhadap ekspresi protein NF-K? pada Tikus SD yang diinduksi DMBA. Akar pasak bumi (Eurycoma longifolia Jack) diekstraksi menggunakan pelarut etanol 70 % dan difraksinasi menggunakan etil asetat. Fraksi etil asetat akar pasak bumi diuji mekanisme molekulernya secara in vivo terhadap 5 Kelompok tikus galur Sprague Dawley terdiri atas Kelompok 1 hanya diberi pakan dan minum, Kelompok 2 diberikan DMBA dosis 20 mg/kgBB, Kelompok 3 diberikan DMBA 20 mg/kgBB + Doxorubicin 1,17 mg/kgBB, Kelompok 4 diberikan DMBA 20 mg/kgBB + fraksi etil asetat akar pasak bumi 100 mg/kgBB, Kelompok 5 diberikan DMBA 20 mg/kgBB + Doxorubicin 1,17 mg/kgBB + fraksi etil asetat akar pasak bumi 100 mg/kgBB kemudian dilakukan pembedahan dan uji imunohistokimia analisis data Kolmogorof Smirnof, uji Levene, uji ANOVA atau Kruskal Wallis. Hasil nilai rata-rata % ekspresi protein NF-K? adalah (6,64± 11,28)%, (39,53± 16,49)%, (18,10± 15,08%, (16,66± 12,51)% dan (15,39± 8,76)%. Kesimpulan dari penelitian ini adalah kombinasi fraksi etil asetat ekstrak etanol akar pasak bumi dan Doxorubicin dapat menurunkan ekspresi protein NF-K? dan terhadap tikus galur Sprague Dawley yang diinduksi DMBA.
Karakterisasi Ekstrak Daun Cantigi (Vaccinium varingiaefolium Miq.) Ana Yulyana; Hendig Winarno; Kosasih Kosasih
Jurnal Sains dan Kesehatan Vol. 1 No. 5 (2016): J. Sains Kes.
Publisher : Fakultas Farmasi, Universitas Mulawarman, Samarinda, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25026/jsk.v1i5.50

Abstract

Cantigi (Vaccinium varingiaefolium Miq.) banyak tumbuh di sekitar kawah gunung berapi namun belum banyak informasi yang terkuak. Tujuan penelitian: Melakukan karakterisasi ekstrak daun Cantigi yang diekstraksi secara maserasi menggunakan pelarut n-heksan, etilasetat, dan etanol 95%; penapisan fitokimia ekstrak; uji aktivitas sitotoksik ekstrak; fraksinasi ekstrak dengan kromatografi kolom; uji sitotoksik fraksi; pembuatan profil GC/MS fraksi teraktif. Hasil penelitian: Hasil penapisan fitokimia menunjukkan positif untuk flavonoid, steroid, tannin, dan triterpenoid. Aktivitas sitotoksik pada sel leukemia L1210 (IC50) 12,67; 8,29; dan 10,42 µg/mL. Fraksinasi ekstrak teraktif etilasetat (Kromatografi kolom: Fase diam silika gel 60, fase gerak kloroform:metanol 10:1, 8:1, dan 4:1) diperoleh 4 fraksi. Aktivitas sitotoksik (IC50) Fraksi 1-4 adalah 3,62; 1,69; 2,98; dan 2,96 µg/mL. Karakterisasi fraksi F2 dengan GC/MS menunjukkan 15 senyawa. Simpulan: Aktivitas sitotoksik fraksi ekstrak etilasetat (F2) lebih tinggi dibandingkan non-fraksi ekstrak etilasetat dan ini belum pernah dilaporkan sebelumnya.
Kemampuan Antibakteri Ekstrak Etanol Daun Nangka (Atrocarpus heterophyllus Lam.) terhadap Escherichia coli Eko Kusumawati; Anita Apriliana; Rahmi Yulia
Jurnal Sains dan Kesehatan Vol. 1 No. 7 (2017): J. Sains Kes.
Publisher : Fakultas Farmasi, Universitas Mulawarman, Samarinda, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25026/jsk.v1i7.51

Abstract

Daun nangka (Atrocarpus heterophyllus Lam.) diketahui mengandung flavonoid, saponin dan tanin yang berperan sebagai senyawa antibakteri, digunakan dalam pengobatan antidiare, demam, bisul, penyakit kulit, analgesic dan imunomodulator. Escherichia coli adalah salah satu contoh bakteri penyebab penyakit di dalam tubuh manusia. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui aktivitas antibakteri ekstrak etanol daun nangka (Atrocarpus heterophyllus Lam.) terhadap Escherichia coli. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental. Tahapan penelitian dimulai dengan ekstraksi daun nangka menggunakan metode maserasi dan pelarut etanol 70%. Aktivitas antibakteri diuji menggunakan metode difusi cakram (Kirby-Bauer) dengan konsentrasi ekstrak etanol 20%, 40%, 60%, 80%, dan 100%, kontrol positif digunakan kloramfenikol 0,1% dan kontrol negative digunakan akuades. Hasil pengukuran zona hambat ekstrak etanol daun nangka (Atrocarpus heterophyllus Lam.) dengan konsentrasi 40%, 60%, 80% dan 100% terhadap bakteri Escherichia coli secara berurutan sebesar 9,3 mm, 9,8 mm, 10,48 mm dan 11,31 mm. Kloramfenikol 0,1% pada bakteri Escherichia coli sebesar 17,48 mm, dapat disimpulkan bahwa ekstrak etanol daun nangka (Atrocarpus heterophyllus Lam.) memiliki aktivitas antibakteri dalam kategori sedang sampai kuat terhadap Escherichia coli. Berdasarkan hasil pengujian dari ekstrak etanol daun nangka terhadap pertumbuhan bakteri Escherichia coli menunjukkan bahwa perlakuan dengan konsentrasi 40% merupakan perlakuan dengan konsentrasi hambat minimum. Hal ini didasarkan pada analisa statistik menggunakan Shapiro-wilk test p-value lebih dari 0,05 atau signifikasi lebih dari 0,05. Ini menunjukan bahwa data yang diperoleh berdistribusi normal sehingga dilanjutkan dengan analisis One way ANOVA. Berdasarkan uji tersebut memiliki signifikasi kurang dari 0,05 dengan keputusan yang berarti terdapat perbedaaan bermakna dari hasil perlakuan pada daya hambat antibakteri masing-masing konsentrasi ekstrak etanol daun nangka
Optimasi Formula Nanoemulgel Ekstrak Daun Pidada Merah (Sonneratia Caseolaris L) Dengan Variasi Gelling Agent Hajrah Hajrah; Lisna Meylina; Riski Sulistiarini; Lia Puspitasari; Awal Prichatin Kusumo
Jurnal Sains dan Kesehatan Vol. 1 No. 7 (2017): J. Sains Kes.
Publisher : Fakultas Farmasi, Universitas Mulawarman, Samarinda, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25026/jsk.v1i7.52

Abstract

Sediaan gel yang baik dapat diperoleh dengan cara memformulasikan beberapa jenis bahan pembentuk gel, namun yang paling penting untuk diperhatikan adalah pemilihan gelling agent. HPMC (Hidroxy Propyl Methyl Cellulose), Karbopol 960 dan Viskolam MAC 10 merupakan gelling agent yang sering digunakan dalam produksi kosmetik dan obat, karena dapat menghasilkan gel yang bening, mudah larut dalam air, dan mempunyai ketoksikan yang rendah. Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh gelling agent yang sesuai sebagai pembawa nanoemulgel ekstrak daun pidada merah yang memiliki kestabilan fisika yang sesuai dengan persyaratan yang telah ditetapkan. Formulasi nanoemulgel dibuat dengan variasi gelling agent yang digunakan selanjutnya dilakukan evaluasi sifat fisika yang meliputi uji organoleptis, homogenitas, daya sebar, pH, dan viskositas. Evaluasi basis gel terpilih dilakukan selama 30 hari. Hasil yang diperoleh dari uji stabilitas menunjukan basis gel dengan viskolam MAC 10 memiliki standar yang baik untuk viskositas, pH, daya sebar, homogenitas dan organoleptis.
Potensi Ekstrak Etanol Rimpang Jeringau (Acorus calamus L.) Sebagai Spasmolitik Marihot Pasaribu; Nataniel Tandirogang; Sjarif Ismail; Swandari Paramita; Agustina Rahayu Magdaleni; Hary Nugroho
Jurnal Sains dan Kesehatan Vol. 1 No. 7 (2017): J. Sains Kes.
Publisher : Fakultas Farmasi, Universitas Mulawarman, Samarinda, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25026/jsk.v1i7.53

Abstract

Pain due to smooth muscle stiffness can occur in various circumstances of patients, ranging from normal circumstances such as menstrual pain, to a pathological condition of gastrointestinal infections. To overcome the pain it can be given medication to reduce muscle stiffness as spasmolytics, but there are side effects of the drug. Thus, the need for developing new spasmolytics drugs based on medicinal herbs with fewer side effects. This study was conducted to examine the potential of rhizome extract of jeringau (Acorus calamus L.) that is traditionally used by Dayak tribe to heal upset stomach. Spasmolytic activity of plant extracts tested with isolates organ methods of guinea pig ileum induced by histamine. Result of the study showed 0.3 mg/ml A. calamus rhizomes extract could decrease ileum contraction better than papaverine 0.03 mg/ml (p=0.00). The conclusion of this study is rhizome extract of jeringau (A. calamus) has the potential to be used as spasmolytics in treatment of health problems caused by smooth muscle contraction
Aktivitas Antimikroba Ekstrak Daun Karamunting (Melastoma malabathricum L.) Terhadap Bakteri Penyebab Diare Nataniel Tandirogang; Swandari Paramita; Yadi Yasir; Yuniati Yuniati; Meiliati Aminyoto; Evi Fitriany
Jurnal Sains dan Kesehatan Vol. 1 No. 7 (2017): J. Sains Kes.
Publisher : Fakultas Farmasi, Universitas Mulawarman, Samarinda, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25026/jsk.v1i7.54

Abstract

Diare hingga kini masih merupakan masalah kesehatan utama di Indonesia. Pemberian antibiotik merupakan salah satu upaya penatalaksanaan diare, namun belakangan terkendala masalah adanya resistensi terhadap antibiotik. Berdasarkan hal tersebut, maka upaya pencarian sumber antimikroba baru berbasis tumbuhan obat perlu dilakukan. Penelitian ini dilakukan untuk menguji potensi ekstrak daun karamunting (Melastoma malabathricum L.) yang secara tradisional digunakan etnis Dayak sebagai obat diare. Aktivitas antimikroba ekstrak tumbuhan diuji terhadap 5 bakteri standar; Escherichia coli ATCC 35128, Shigella sonnei ATCC 25931, Campylobacter jejuni ATCC 33291, Pseudomonas aeruginosa ATCC 15442, dan Enterobacter cloacae ATCC13047. Pengukuran aktivitas antimikroba dilakukan dengan disc diffusion method (Kirby-Bauer) dan pengukuran minimum inhibitory concentration (MIC). Hasil penelitian menunjukkan ekstrak daun M. malabathricum dapat menghambat pertumbuhan seluruh bakteri uji, dengan diameter zona hambat sebesar 12,3-16 mm dan MIC sebesar 2,3-13,3 mg/ml. Kesimpulan penelitian ini adalah ekstrak daun M. malabathricum berpotensi sebagai antidiare berdasarkan aktivitas antimikrobanya.
Uji Pendahuluan Fitokimia dan Antioksidan Tumbuhan Obat Suku Dayak Di Desa Petangis Kabupaten Paser Kalimantan Timur Septina Asih Widuri; Noorcahyati Noorcahyati; Ike Mediawati
Jurnal Sains dan Kesehatan Vol. 1 No. 6 (2016): J. Sains Kes.
Publisher : Fakultas Farmasi, Universitas Mulawarman, Samarinda, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25026/jsk.v1i6.55

Abstract

Antioksidan diketahui dapat mencegah penyakit akibat kerusakan oksidatif oleh radikal bebas. Meskipun antioksidan sintetis tersedia secara komersial, tetapi tingkat toksisitasnya menjadi masalah. Oleh sebab itu penelitian untuk memperoleh sumber-sumber baru antioksidan yang potensial dari tumbuhan tetap diperlukan. Penelitian ini bertujuan mengetahui senyawa metabolit sekunder dan aktivitas antioksidan dari sejumlah tumbuhan hutan yang digunakan sebagai obat tradisional oleh Suku Dayak di Desa Petangis, Kabupaten Paser, Kalimantan Timur. Sampel tumbuhan yang digunakan antara lain kulit batang Guioa pterorhachis, akar Flagellaria indica, akar Nauclea officinalis, dan akar Clerodendrum adenophysum. Skrining awal fitokimia dari ekstrak etanol sampel menunjukkan adanya kandungan flavonoid, tanin, saponin, dan triterpenoid. Uji penghambatan radikal bebas menggunakan metode DPPH menunjukkan bahwa ekstrak etanol kulit batang Guioa pterorhachis memiliki nilai IC50 lebih kecil dari 7,8 ppm dan akar Nauclea officinalis memiliki nilai IC50 43,7 ppm. Aktivitas antioksidan kedua tumbuhan tersebut tergolong kuat sedangkan akar Flagellaria indica dan akar Clerodendrum adenophysum tidak aktif sebagai antioksidan karena menghasilkan nilai IC50 lebih dari 200 ppm. Kata kunci: Guioa pterorachis, Flagellaria indica, Nauclea officinalis, Clerodendrum adenophysum, antioksidan
Pola Penggunaan Obat Bahan Alam Sebagai Terapi Komplementer pada Pasien Hipertensi Di Puskesmas Swandari Paramita; Ronny Isnuwardana; Muhammad Khairul Nuryanto; Ruth Djalung; Dewi Guntar Rachmawatiningtyas; Prilandy Jayastri
Jurnal Sains dan Kesehatan Vol. 1 No. 7 (2017): J. Sains Kes.
Publisher : Fakultas Farmasi, Universitas Mulawarman, Samarinda, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25026/jsk.v1i7.56

Abstract

Hypertension is a major health problem throughout the world, including Indonesia. The use of traditional medicine as part of the treatment of hypertension is increasing in the last decade. This is due to several factors, especially traditional medicine is a cheaper alternative with fewer undesirable side effects. This study tried to look at the pattern of use of natural medicine as a complementary therapy in hypertensive patients at the health center. The study is a descriptive study conducted in Puskesmas Sempaja Samarinda in the period September 2016, interviewing 62 hypertension patients with the use of natural medicine. The results showed 70.9% of patients with hypertension in the health center also uses natural medicines. All patients using herbal medicine which in theory is proven to lower blood pressure. However, there is no natural medicines used include standardized herbal medicine or phytopharmacy. Only 15.2% of patients using herbal medicine in accordance with the criteria BPOM regulation on herbal medicine. For conclusions, this study shows the patients still need to be educated for the use of natural medicine in the management of hypertension.

Page 5 of 75 | Total Record : 750


Filter by Year

2015 2025


Filter By Issues
All Issue Vol. 7 No. 6 (2025): J. Sains Kes. Vol. 7 No. 5 (2025): J. Sains Kes. Vol. 7 No. 4 (2025): J. Sains Kes. Vol. 7 No. 3 (2025): J. Sains Kes. Vol. 7 No. 2 (2025): J. Sains Kes. Vol. 7 No. 1 (2025): J. Sains Kes. Vol. 6 No. 6 (2024): J. Sains Kes. Vol. 6 No. 5 (2024): J. Sains Kes. Vol. 6 No. 4 (2024): J. Sains Kes. Vol. 6 No. 3 (2024): J. Sains Kes. Vol. 6 No. 2 (2024): J. Sains Kes. Vol. 6 No. 1 (2024): J. Sains Kes. Vol. 5 No. 6 (2023): J. Sains Kes. Vol. 5 No. 5 (2023): J. Sains Kes. Vol. 5 No. 4 (2023): J. Sains Kes. Vol. 5 No. 3 (2023): J. Sains Kes. Vol. 5 No. 2 (2023): J. Sains Kes. Vol. 5 No. SE-1 (2023): Spesial Edition J. Sains Kes. Vol. 5 No. 1 (2023): J. Sains Kes. Vol. 4 No. 6 (2022): J. Sains Kes. Vol. 4 No. 5 (2022): J. Sains Kes. Vol. 4 No. 4 (2022): J. Sains Kes. Vol. 4 No. 3 (2022): J. Sains Kes. Vol. 4 No. 2 (2022): J. Sains Kes. Vol. 4 No. SE-1 (2022): Spesial Edition J. Sains Kes. Vol. 4 No. 1 (2022): J. Sains Kes. Vol. 3 No. 6 (2021): J. Sains Kes. Vol. 3 No. 5 (2021): J. Sains Kes. Vol. 3 No. 4 (2021): J. Sains Kes. Vol. 3 No. 3 (2021): J. Sains Kes. Vol. 3 No. 2 (2021): J. Sains Kes. Vol. 3 No. 1 (2021): J. Sains Kes. Vol. 2 No. 4 (2020): J. Sains Kes. Vol. 2 No. 3 (2020): J. Sains Kes. Vol. 2 No. 2 (2019): J. Sains Kes. Vol. 2 No. 1 (2019): J. Sains Kes. Vol. 1 No. 10 (2018): J. Sains Kes. Vol. 1 No. 9 (2018): J. Sains Kes. Vol. 1 No. 8 (2017): J. Sains Kes. Vol. 1 No. 7 (2017): J. Sains Kes. Vol. 1 No. 6 (2016): J. Sains Kes. Vol. 1 No. 5 (2016): J. Sains Kes. Vol. 1 No. 4 (2015): J. Sains Kes. Vol. 1 No. 3 (2015): J. Sains Kes. Vol. 1 No. 2 (2015): J. Sains Kes. Vol. 1 No. 1 (2015): J. Sains Kes. More Issue