cover
Contact Name
Teguh Pribadi
Contact Email
teguh@malahayati.ac.id
Phone
+6282282204653
Journal Mail Official
holistik@malahayati.ac.id
Editorial Address
Jalan Pramuka No.27 Kemiling Bandar Lampung -Indonesia.
Location
Kota bandar lampung,
Lampung
INDONESIA
Holistik Jurnal Kesehatan
Published by Universitas Malahayati
ISSN : 19783337     EISSN : 26207478     DOI : https://doi.org/10.33024/hjk.v18i10
Core Subject : Health,
Berisi kumpulan karya ilmiah dari peneliti diberbagai perguruan tinggi di Indonesia, di bidang ilmu kesehatan khususnya bidang ilmu keperawatan yang berdasarkan kepada kebutuhan pasien secara total meliputi: kebutuhan fisik, emosi, sosial, ekonomi dan spiritual. Adapun penelitiannya mencakup 4 aspek pokok, yakni: promotif, preventif, kuratif, dan rehabilitatif. Jurnal terbit setiap bulan dan artikel ditulis dalam bahasa Indonesia, untuk abstrak artikel ditulis dengan dua bahasa yaitu bahasa Inggris dan bahasa Indonesia.
Articles 329 Documents
Pengaruh anemia terhadap tekanan darah pada pasien hemodialysis Aqillah, Sheilla Ayu; Setyowati, Lilis
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 19 No. 7 (2025): Volume 19 Nomor 7
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v19i7.1112

Abstract

Background: Anemia is a common complication in patients with chronic kidney disease (CKD), especially those undergoing hemodialysis (HD). Blood pressure instability often accompanies anemia in CKD patients. Purpose: To examine the effect of anemia on blood pressure in CKD patients undergoing HD. Method: Quantitative with cross-sectional design and observational approach. A total of 184 respondents were selected using purposive sampling, with inclusion criteria of having undergone HD for more than six months. Hemoglobin levels and blood pressure data were collected from medical records over the past three months. Data analysis was performed using logistic regression with a significance level of α < 0.05. Results: Showed that all respondents experienced anemia with varying severity: mild (6%), moderate (34.2%), and severe (59.8%). Most respondents were categorized as pre-hypertensive (91.3%), and no cases of hypertension were found. Statistical tests indicated a significant relationship between anemia severity and blood pressure (p-value = 0.001), with a negative correlation and a strong coefficient strength. Conclusion: There is a significant effect of anemia on blood pressure in CKD patients undergoing HD.   Keywords: Anemia; Blood Pressure; Chronic Kidney Disease; Hemodialysis; Hemoglobin.   Pendahuluan: Anemia merupakan komplikasi umum yang sering terjadi pada pasien gagal ginjal kronik (GGK), terutama yang menjalani terapi hemodialisis (HD). Tekanan darah yang tidak stabil menjadi salah satu dampak yang sering menyertai kondisi anemia pada pasien GGK. Tujuan: Untuk mengetahui pengaruh anemia terhadap tekanan darah pada pasien GGK yang menjalani HD. Metode: Kuantitatif dengan desain cross-sectional dan pendekatan observasional. Sampel berjumlah 184 responden yang dipilih secara purposive, dengan kriteria menjalani HD selama lebih dari enam bulan. Data kadar hemoglobin dan tekanan darah diperoleh dari rekam medis selama tiga bulan terakhir. Analisis data dilakukan menggunakan uji regresi logistik dengan tingkat signifikansi α < 0.05. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan seluruh responden mengalami anemia dengan tingkat keparahan bervariasi: ringan (6%), sedang (34.2%), dan berat (59.8%). Sebagian besar responden berada dalam kategori pre-hipertensi (91.3%), dan tidak ditemukan kasus hipertensi. Uji statistik menunjukkan adanya hubungan signifikan antara tingkat keparahan anemia dengan tekanan darah (p-value = 0.001), dengan arah hubungan negatif dan kekuatan koefisien yang tergolong kuat. Simpulan: Terdapat pengaruh yang signifikan antara anemia terhadap tekanan darah pada pasien GGK yang menjalani HD.   Kata Kunci : Anemia; Gagal Ginjal Kronik; Hemodialisis; Hemoglobin; Tekanan Darah.
Analisis faktor tentang psychological distress pada tenaga kesehatan Novianti, Hernia; Ichwansyah, Fahmi; Marthoenis, Marthoenis; Abdullah, Asnawi; Zakaria, Radiah
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 19 No. 7 (2025): Volume 19 Nomor 7
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v19i7.1115

Abstract

Background: Healthcare workers face various challenges in carrying out their duties, which can impact their psychological condition. Work pressure, demands for professionalism, and situations in the healthcare service environment can affect their mental well-being. This condition requires attention, as it may influence the quality of care provided. Purpose: To analyze the factors associated with psychological distress among healthcare workers. Method: This quantitative study employed a cross-sectional design. The research was conducted in January in Central Aceh District. A total of 300 healthcare workers—including nurses, midwives, environmental health workers, and epidemiologists—participated in this study. The sampling technique used was cluster random sampling. Data were collected using a questionnaire distributed via Google Form. Data analysis was carried out using univariate, bivariate, and multivariate approaches through logistic regression and multiple logistic regression test. Results: Statistical analysis showed that low social support (OR = 10.07; p = 0.037), heavy workload (OR = 30.16; p = 0.0001), severe work fatigue (OR = 159.5; p = 0.0001), shorter duration of work (OR = 10.69; p = 0.0001), and the midwife profession (OR = 3.38; p = 0.007) were significantly associated with psychological distress. The most influential factors were severe work fatigue (AOR = 51.84; p = 0.040), longer duration of work (AOR = 59.83; p = 0.0001), and the profession of nurse (AOR = 8.12; p = 0.031) and midwife (AOR = 9.43; p = 0.031). Conclusion: The variables of social support, workload, work fatigue, length of service, and profession were significantly associated with psychological distress among healthcare workers.   Keywords: Healthcare Workers; Psychological Distress; Workload.   Pendahuluan: Tenaga kesehatan menghadapi berbagai tantangan dalam menjalankan tugasnya yang dapat berdampak pada kondisi psikologis tenaga kesehatan. Tekanan kerja, tuntutan profesionalisme, dan situasi di lingkungan pelayanan kesehatan dapat memengaruhi kesejahteraan mental tenaga kesehatan. Kondisi ini perlu mendapatkan perhatian, karena dapat berpengaruh terhadap kualitas pelayanan yang diberikan. Tujuan: Untuk menganailis faktor yang berhubungan dengan psychological distress pada tenaga kesehatan. Metode: Penelitian kuantitatif menggunakan desain cross-sectional. Penelitian dilaksanakan pada bulan Januari di Kabupaten Aceh Tengah. Sebanyak 300 tenaga kesehatan yang terdiri dari perawat, bidan, tenaga kesehatan lingkungan, dan epidemiologi menjadi partisipan dalam penelitian ini. Pemilihan sampel menggunakan teknik cluster random sampling. Alat pengumpulan data menggunakan angket yang disebarkan melalui Google Form. Analisis data dilakukan secara univariat, bivariat, dan multivariat menggunakan uji regresi logistik dan regresi logistik berganda. Hasil: Analisis statistik menunjukkan bahwa dukungan sosial rendah (OR = 10,07; p = 0,037), beban kerja berat (OR = 30,16; p = 0,0001), kelelahan kerja berat (OR = 159,5; p = 0,0001), masa kerja baru (OR = 10,69; p = 0,0001), dan profesi bidan (OR = 3,38; p = 0,007) memiliki hubungan yang signifikan dengan psychological distress. Faktor yang paling berpengaruh adalah kelelahan kerja berat (AOR = 51,84; p = 0,040), masa kerja lama (AOR = 59,83; p = 0,0001), serta profesi perawat (AOR = 8,12; p = 0,031) dan bidan (AOR = 9,43; p = 0,031). Simpulan: Variabel dukungan sosial, beban kerja, kelelahan kerja, masa kerja, dan profesi memiliki hubungan yang signifikan dengan psychological distress pada tenaga kesehatan.   Kata Kunci: Beban Kerja; Psychological Distress; Tenaga Kesehatan.
Asupan energi dan status gizi peserta didik Paendong, Nikita Ester; Punuh, Maureen Irinne; Musa, Ester Candrawati
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 19 No. 7 (2025): Volume 19 Nomor 7
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v19i7.1242

Abstract

Background: Adolescence is a crucial life period in human development marked by significant biological, emotional, social, and cognitive changes as individuals transition from childhood to adulthood. Meeting nutritional needs during adolescence is absolutely essential. Deficiencies in energy and other nutrients can have negative effects that persist into adulthood. Both under nutrition and overnutrition often stem from imbalanced energy intake. Most Indonesians still have unstable energy intake, often exceeding the recommended dietary allowance, even though many adolescents in Indonesia have normal nutritional status. Purpose: To analyze the relationship between energy intake and nutritional status among students. Method: This study used a quantitative, analytical observational design with a cross-sectional approach. The sample consisted of 77 seventh and eighth-grade students selected through total sampling (entire population). The variables examined were energy intake and nutritional status. Energy intake data were collected using a 24-hour food recall form, while nutritional status was assessed using BMI-for-age (BMI/U) through anthropometric measurements, including height (measured using a SECA microtoise) and weight (measured using a SECA digital scale). The relationship between variables was analyzed using Spearman’s Rank Correlation test. Results: The results showed that the respondents' nutritional status was dominated by good nutritional status (75.3%), and normal energy intake (51.9%). A Spearman's Rank Correlation test showed a relationship between energy intake and nutritional status (p = 0.000; r = 0.388). Conclusion: That most respondents had good nutritional status and normal energy intake. There was a relationship between energy intake and nutritional status, with a positive r value indicating a unidirectional relationship. Suggestion: Future researchers can use these results as a reference but should add other methods or variables that were not included in this study.   Keywords: Adolescents; Energy Intake; Nutritional Status.   Pendahuluan: Masa remaja adalah fase krusial dalam hidup manusia yang ditandai dengan transformasi signifikan pada aspek biologis, emosional, sosial, dan kognitif selama transisi dari anak-anak ke dewasa. Status gizi yang kurang maupun lebih, sering kali berakar dari asupan energi yang tidak seimbang. Sebagian besar masyarakat Indonesia memiliki asupan energi yang masih tidak stabil dan melebihi angka kecukupan energi meskipun sebagian besar remaja di Indonesia memiliki status gizi normal. Tujuan: Untuk menganalisis hubungan antara asupan energi dengan status gizi pada peserta didik. Metode: Jenis penelitian ini adalah penelitian kuantitatif yang bersifat observasional analitik dengan menggunakan desain atau rancangan penelitian yang dipakai yaitu studi potong lintang dengan sampel 77 siswa kelas VII-VIII yang dipilih secara total sampling/total populasi. Variabel dalam penelitian ini yaitu asupan energi dan status gizi. Data asupan energi dikumpulkan melalui formulir food recall 24 jam dan status gizi diukur dengan IMT/U melalui pengukuran antropometri terlebih dahulu menggunakan alat ukur tinggi badan dan berat badan yaitu mikrotoise dan timbangan digital merk SECA. Analisis hubungan menggunakan uji Spearman’s Rank Correlation. Hasil: Status gizi didominasi oleh status gizi baik (75.3%), asupan energi normal (51.9%), dan didapatkan adanya hubungan antara asupan energi dengan status gizi berdasarkan hasil uji Spearman’s Rank Correlation dengan nilai (p= 0.000; r = 0.388). Simpulan: Sebagian besar responden memiliki status gizi baik dan asupan energi normal, serta adanya hubungan antara asupan energi dengan status gizi dengan arah hubungan nilai r positif menunjukkan hubungan searah. Saran: Bagi peneliti selanjutnya dapat menggunakan hasil ini sebagai referensi, namun dengan menambah metode lain atau dengan menambahkan variabel yang belum ada pada penelitian ini.   Kata Kunci: Asupan Energi; Remaja; Status Gizi.
Analisis studi empiris tentang efektivitas mindfulness-based stress reduction untuk burnout perawat di rumah sakit: Kajian literatur Sulistianingsih, Ike; Tallutondok, Eva Berthy
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 19 No. 7 (2025): Volume 19 Nomor 7
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v19i7.1248

Abstract

Background: Burnout is a common problem experienced by hospital nurses due to high work pressure, characterized by emotional exhaustion, depersonalization, and decreased personal accomplishment. Mindfulness-Based Stress Reduction (MBSR) is an approach proven effective in addressing work burnout. Purpose: To determine the effectiveness of mindfulness-based stress reduction on nurse burnout. Method: A literature review of 13 studies meeting all inclusion criteria and 791 studies were excluded from scientific articles published between 2020 and 2025, evaluating the effectiveness of MBSR in hospital nurses. The literature search was conducted through PubMed, ScienceDirect, ProQuest, and CINAHL, following PRISMA guidelines with search keywords tailored to Medical Subject Headings (MeSH): ("Mindfulness-Based Stress Reduction" OR "MBSR" OR "Mindfulness Intervention") AND ("Burnout" OR "Job Stress" OR "Occupational Stress") AND ("Nurse" OR "Nurses") AND ("Hospital"). Results: MBSR was consistently effective in reducing stress and burnout, as well as improving nurses' job satisfaction and quality of life. These findings suggest that MBSR is suitable for integration into nurse training as a strategy to improve psychological well-being. Conclusion: The MBSR intervention effectively reduced burnout in hospital nurses by reducing stress, anxiety, and emotional exhaustion, while improving quality of life, job satisfaction, and self-compassion. MBSR offers the advantage of flexible training, including the use of digital applications and simple methods suitable for dynamic work environments.   Keywords: Burnout; Effectiveness; Intervention; Mindfulness-Based Stress Reductio; Nurses.   Pendahuluan: Burnout merupakan masalah umum yang dialami oleh perawat di rumah sakit akibat tekanan kerja yang tinggi, ditandai dengan kelelahan emosional, depersonalisasi, dan penurunan pencapaian pribadi. Mindfulness-Based Stress Reduction (MBSR) merupakan salah satu pendekatan yang terbukti efektif dalam mengatasi kelelahan kerja. Tujuan: Untuk mengetahui efektivitas mindfulness-based stress reduction terhadap burnout perawat. Metode: Tinjauan literatur terhadap 13 studi yang memenuhi semua kriteria inklusi dan 791 studi dikeluarkan dari artikel ilmiah yang diterbitkan antara tahun 2020–2025, yang mengevaluasi efektivitas MBSR pada perawat rumah sakit. Pencarian literatur dilakukan melalui PubMed, ScienceDirect, ProQuest, dan CINAHL, mengikuti pedoman PRISMA dengan kata kunci pencarian yang disesuaikan dengan Judul Subjek Medis (MeSH) yakni ("Mindfulness-Based Stress Reduction" OR "MBSR" OR "Mindfulness Intervention") AND ("Burnout" OR "Job Stress" OR "Occupational Stress") AND ("Nurse" OR "Nurses") AND ("Hospital"). Hasil: MBSR secara konsisten efektif dalam menurunkan stres atau burnout, serta meningkatkan kepuasan kerja dan kualitas hidup perawat. Temuan ini menunjukkan bahwa MBSR layak diintegrasikan dalam pelatihan perawat sebagai strategi untuk meningkatkan kesejahteraan psikologis. Simpulan: Intervensi MBSR efektif menurunkan burnout pada perawat rumah sakit dengan mengurangi stres, kecemasan, dan kelelahan emosional serta meningkatkan kualitas hidup, kepuasan kerja, dan self-compassion. MBSR memiliki keunggulan berupa fleksibilitas pelatihan, termasuk penggunaan aplikasi digital dan metode sederhana yang sesuai dengan lingkungan kerja yang dinamis.   Kata Kunci: Burnout; Efektivitas; Intervensi; Mindfulness-Based Stress Reduction; Perawat.
Triple herbal therapy geriatri terhadap penurunan kecemasan dan tekanan darah dalam pencegahan kegawatdaruratan kardiovaskuler Fadlilah, Maya; Wulandari, Febri
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 19 No. 7 (2025): Volume 19 Nomor 7
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v19i7.1259

Abstract

Background: The urgency of this research is evident in the fact that cardiovascular problems are a leading cause of death in the elderly (geriatric) population. Risk factors for common degenerative and non-communicable diseases, such as hypertension, are common in the community. Hypertension can trigger bodily responses that result in physical symptoms such as heart palpitations, dizziness, and muscle tension. These symptoms can trigger or exacerbate existing anxiety, contributing to an increase in cardiovascular emergencies, such as heart attacks and strokes, and even becoming a leading cause of death worldwide. Pharmacological interventions to address hypertension and anxiety include the use of medications. Purpose: To analyze the effect of three herbal therapies for geriatrics in reducing anxiety and blood pressure in preventing cardiovascular emergencies. Method: This study was a pre-experimental study with a quasi-experimental design: pretest-posttest with multiple groups. The sample for each intervention consisted of 15 participants, who received the intervention in the morning and evening for one week. The analyses used were univariate and bivariate, including the Wilcoxon test to compare two paired data groups, the Kruskall-Wallis test to compare more than two independent groups, and a post hoc test to determine which pairs of groups differed significantly. Results: The post hoc test showed that the combination of bay leaves and soursop leaves had a statistically significant difference in reducing anxiety levels (p = 0.036). Conclusion: There was a significant difference between three geriatric herbal therapies: bay leaf (Syzygium polyanthum) decoction, moringa (Moringa oleifera) leaf decoction, and soursop (Annona muricata L.) leaf decoction in reducing anxiety and blood pressure in the prevention of cardiovascular emergencies. Of the three herbal decoctions, soursop leaf decoction was more effective in reducing anxiety levels than bay leaf decoction. Suggestion: Future researchers are advised to consider other factors that may influence blood pressure and anxiety levels.   Keywords: Anxiety; Blood Pressure; Geriatrics; Herbal Therapy.   Pendahuluan: Urgensi dari penelitian ini dilihat bahwa masalah kardiovaskuler menjadi penyebab utama kematian pada populasi lanjut usia (geriatri). Faktor risiko penyakit degeneratif dan penyakit tidak menular yang umum dimasyarakat seperti hipertensi. Hipertensi dapat memicu respons tubuh yang mengakibatkan gejala fisik seperti jantung berdebar (palpitasi), pusing, dan ketegangan otot, gejala-gejala ini dapat memicu perasaan cemas atau memperburuk kecemasan yang sudah ada hal ini dapat berkontribusi terhadap peningkatan kejadian kegawatdaruratan kardiovaskuler, seperti serangan jantung dan stroke dan bahkan ini penyebab utama kematian di dunia. Intervensi yang dapat dilakukan dalam mengatasi hipertensi dan kecemasan dapat dilakukan secara farmakologi dengan menggunakan obat-obatan. Tujuan: Untuk menganalisis triple herbal therapy geriatri terhadap penurunan kecemasan dan tekanan darah dalam pencegahan kegawatdaruratan kardiovaskuler. Metode: Jenis penelitian ini pra eksperimen dengan Quasi-experimental design: pretest-posttest with multiple groups. Sampel dari masing-masing intervensi adalah 15 partisipan yang diberikan intervensi  pada pagi dan sore hari selama satu minggu. Analisis yang digunakan adalah univariat dan bivariate yakni uji wilcoxon untuk membandingkan dua kelompok data berpasangan, uji kruskall Wallis untuk membandingkan lebih dari dua kelompok independen, uji post hoc untuk mengetahui pasangan mana dari kelompok-kelompok yang berbeda secara signifikan. Hasil: Berdasarkan uji post hoc, menunjukkan bahwa pasangan daun salam vs daun sirsak memiliki perbedaan yang signifikan secara statistik dalam penurunan tingkat kecemasan (p = 0.036). Simpulan: Terdapat perbedaan yang signifikan triple herbal terapi geriatric. air rebusan daun salam (syzygium polyanthum), air rebusan daun kelor (moringa oleifera) serta air rebusan daun sirsak (annona muricata l) terhadap penurunan kecemasan dan tekanan darah dalam pencegahan kegawatdaruratan kardiovaskuler serta dari ketiga rebusan herbal, intervensi rebusan daun sirsak lebih effektif memberikan efek yang lebih besar dalam menurunkan tingkat kecemasan dibandingkan dengan daun salam. Saran: Peneliti di masa depan disarankan untuk mempertimbangkan faktor-faktor lain yang dapat memengaruhi tekanan darah dan tingkat kecemasan.   Kata Kunci: Geriatri; Kecemasan; Tekanan Darah; Terapi Herbal.
Analisis hubungan pemberian ASI eksklusif dengan kejadian wasting pada balita usia 6-12 bulan Manangkot, Regina Hanna; Sanggelorang, Yulianty; Malonda, Nancy Swanida Henriette
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 19 No. 7 (2025): Volume 19 Nomor 7
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v19i7.1274

Abstract

Background: Introduction: Wasting is a condition characterized by rapid weight loss or inability to gain weight, often reflecting acute malnutrition. Purpose: To identify and analyze the relationship between exclusive breastfeeding and wasting in toddlers aged 6 to 12 months. Method: This quantitative study used an observational analytical design and a cross-sectional approach. The population consisted of 90 toddlers aged 6-12 months living in Warembungan, Pineleng Satu, Pineleng Satu Timur, Pineleng Dua, and Pineleng Dua Indah villages. The sampling technique used total sampling. Data were collected using a questionnaire that explored exclusive breastfeeding history and anthropometric measurements to determine wasting status based on weight-for-height (BW/H) indicators according to WHO standards. Results: A total of 52.2% of toddlers were not exclusively breastfed, and 4.4% were wasted. Statistical tesing using the Fisher's Exact test showed a p-value of 0.3455 (p > 0.05), indicating no significant relationship between exclusive breastfeeding and wasting. Conclusion: Although exclusive breastfeeding did not significantly impact wasting in this population, other factors may play a significant role. These factors may include socioeconomic status, access to health services, and complementary feeding practices. Suggestion: Mothers with toddlers should participate more actively in routine Posyandu (integrated health posts) activities to monitor their children's nutritional status and consult with health workers if they experience breastfeeding difficulties.   Keywords: Exclusive Breastfeeding; Toddlers; Wasting.   Pendahuluan: Wasting adalah kondisi yang ditandai dengan penurunan berat badan yang cepat atau ketidakmampuan untuk menambah berat badan, yang sering kali mencerminkan malnutrisi akut. Tujuan: Untuk mengidentifikasi dan menganalisis hubungan antara pemberian ASI eksklusif dan kejadian wasting pada balita usia 6 hingga 12 bulan. Metode: Penelitian kuantitatif dengan desain observasional analitik dan pendekatan cross-sectional. Populasi dalam penelitian ini terdiri dari 90 balita berusia 6-12 bulan yang berdomisili di desa Warembungan, Pineleng Satu, Pineleng Satu Timur, Pineleng Dua, dan Pineleng Dua Indah. Teknik pengambilan sampel menggunakan total sampling. Pengumpulan data dilakukan dengan kuesioner yang menggali riwayat pemberian ASI eksklusif dan pengukuran antropometri untuk menentukan status wasting berdasarkan indikator berat badan menurut tinggi badan (BB/TB) sesuai standar WHO. Hasil: Sebanyak 52.2% balita tidak menerima ASI eksklusif dan 4.4% balita mengalami wasting. Uji statistik menggunakan uji Fisher’s Exact menunjukkan nilai p = 0.3455 (p > 0.05), mengindikasikan tidak adanya hubungan yang signifikan antara pemberian ASI eksklusif dan kejadian wasting. Simpulan: Meskipun pemberian ASI eksklusif tidak memiliki dampak signifikan terhadap kejadian wasting pada populasi ini, faktor lain mungkin memainkan peran yang penting. Faktor-faktor tersebut dapat mencakup status sosial ekonomi, akses terhadap layanan kesehatan, dan praktik pemberian makanan pendamping. Saran: Bagi ibu yang memiliki balita untuk lebih aktif berpartisipasi kegiatan posyandu secara rutin agar dapat memantau perkembangan status gizi anak serta berkonsultasi kepada tenaga kesehatan jika mengalami kendala dalam menyusui.   Kata Kunci: ASI Eksklusif; Balita; Wasting.
Identifikasi faktor resiko utama pada kanker paru non-smoker Effendy, Lyndia; Pribadi, Florence; Kusumah, Irwin Priyatna; Manurung, Riska Enjelica
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 19 No. 7 (2025): Volume 19 Nomor 7
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v19i7.1308

Abstract

Background: Lung cancer in non-smokers represents a distinct clinical and biological entity from smoking-associated lung cancer, characterized by different risk factors, molecular profiles, and prognosis. Understanding the predominant risk factors in this population is critical for early detection, prevention, and personalized treatment. Purpose: To identify and elucidate the most common risk factor for lung cancer in non-smokers through an integrative review of epidemiological, genetic, and environmental research, highlighting their clinical relevance. Method: The literature review and article search were conducted using the PCC framework (Population, Concept, Context) with sources extracted from three databases: Google Scholar, PubMed, and Scopus. The keywords used included "psychological stress" AND "lung cancer" AND "non-smoker". Inclusion criteria for articles were as follows: published between 2000–2025, full-text available, open-access, published in scientific journals, written in English or Indonesian, original research studies. Results: Among the identified risk factors secondhand smoke exposure, genetic predispositions, environmental pollutants, oncogenic viruses, and pre-existing lung diseases exposure to secondhand smoke (environmental tobacco smoke) emerges as the most common and well-supported risk factor for lung cancer in non-smokers. Meta-analyses report a 15-27% increased risk associated with spousal or occupational exposure, underscoring its epidemiological significance. Genetic mutations such as EGFR and ALK rearrangements are prevalent in non-smoker lung cancer patients but represent somatic changes rather than primary risk factors. Other contributors like radon exposure, cooking fumes (particularly in developing countries), and infections have variable and less consistent evidence. Screening guidelines currently do not extend to non-smokers due to insufficient risk stratification. Conclusion: The predominant risk factor for lung cancer in non-smokers is exposure to secondhand tobacco smoke. This highlights the critical public health need to reduce environmental tobacco exposure. Suggestion: Further research is needed to clarify the pathogenic contribution of other factors and to develop tailored screening criteria for non-smoking populations.   Keywords: Lung Cancer; Non-Smoker; Risk Factors Identification.   Pendahuluan: Kanker paru pada non-perokok merupakan entitas klinis dan biologis yang berbeda dari kanker paru terkait merokok, ditandai dengan faktor risiko, profil molekuler, dan prognosis yang berbeda. Memahami faktor risiko utama pada populasi ini sangat penting untuk deteksi dini, pencegahan, dan pengobatan yang dipersonalisasi. Tujuan: Untuk mengidentifikasi dan menjelaskan faktor risiko paling umum untuk kanker paru pada non-perokok melalui tinjauan integratif penelitian epidemiologi, genetik, dan lingkungan, dengan menekankan relevansi klinisnya. Metode: Penelitian review literature sistemik dilakukan dengan kerangka PCC (Population, Concept, Context) menggunakan sumber literature yang diambil dari tiga basis data: Google Scholar, PubMed, Scopus. Kata kunci yang digunakan meliputi sudi hubungan AND stress AND kanker paru AND non-smoker. Kriteria inklusi artikel antara lain artikel yang dipublikasi tahun 2000-2025, full text, akses terbuka, jurnal ilmiah, ditulis dalam Bahasa Inggris dan Indonesia serta penelitian asli. Hasil: Diantara faktor risiko yang teridentifikasi - paparan asap rokok orang lain (secondhand smoke), predisposisi genetik, polutan lingkungan, virus onkogenik, dan penyakit paru yang sudah ada sebelumnya, paparan asap rokok orang lain (environmental tobacco smoke) muncul sebagai faktor risiko yang paling umum dan didukung bukti kuat untuk kanker paru pada non-perokok. Meta-analisis melaporkan peningkatan risiko sebesar 15-27% terkait paparan dari pasangan atau lingkungan kerja, yang menegaskan signifikansi epidemiologisnya. Mutasi genetik seperti penyusunan ulang EGFR dan ALK memang prevalen pada pasien kanker paru non-perokok, tetapi lebih merupakan perubahan somatik daripada faktor risiko primer. Kontributor lain seperti paparan radon, asap memasak (terutama di negara berkembang), dan infeksi memiliki bukti yang bervariasi dan kurang konsisten. Pedoman skrining saat ini belum mencakup non-perokok karena stratifikasi risiko yang belum memadai. Simpulan: Faktor risiko utama kanker paru pada non-perokok adalah paparan asap rokok orang lain. Hal ini menyoroti kebutuhan mendesak dalam kesehatan masyarakat untuk mengurangi paparan tembakau di lingkungan. Saran: Penelitian lebih lanjut diperlukan untuk memperjelas kontribusi patogenik dari faktor-faktor lain dan mengembangkan kriteria skrining yang disesuaikan untuk populasi non-perokok.   Kata Kunci: Faktor Resiko Utama; Kanker Paru; Non-Smoker.
Hubungan perilaku “cerdik” terhadap tekanan darah pada penderita hipertensi Listina, Febria; Erfiyani, Nyoman; Maritasari, Dwi Yulia
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 19 No. 7 (2025): Volume 19 Nomor 7
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v19i7.1313

Abstract

Background: Hypertension is known as a non-communicable disease with serious consequences if not properly controlled. These consequences include coronary heart disease, kidney failure, and stroke. Data shows an increasing trend in the number of hypertension sufferers, from 18.57% in 2022, 19.91% in 2023, and 19.93% in 2024. Purpose: To determine the relationship between “cerdik” behavior and blood pressure levels in hypertension sufferers. Method: This study used an observational analytical design with a cross-sectional approach. The sample consisted of 83 long-term hypertensive patients, selected using a purposive sampling technique. The research instrument utilized a questionnaire collected through interviews with the Chi-Square statistical test. Results: Of the 83 respondents, 55 (66.3%) had uncontrolled blood pressure. based on bivariate testing, there was a significant correlation between blood pressure and routine health check-up behavior (p-value 0.000), regular physical activity (p-value 0.013), a balanced diet (p-value 0.001), adequate rest (p-value 0.000), and stress management (p-value 0.000). However, no significant correlation was found between the behavior of eliminating cigarette smoke and blood pressure (p-value 0.450). community health centers need to improve programs and innovations related to cerdik behavior as a step to control hypertension for hypertension sufferers in maintaining blood pressure. Conclusion: There is a significant correlation between most components of cerdik behavior and blood pressure values ​​in hypertension sufferers, but there is one variable, eliminating cigarette smoke, that does not have a relationship with blood pressure values ​​in hypertension sufferers.   Keywords: Blood Pressure; Cerdik Behavior; Hypertension.   Pendahuluan: Hipertensi dikenal sebagai penyakit tidak menular yang memiliki dapak serius apabila tidak dikontrol dengan baik. Dampak tersebut seperti, jantung koroner, gagal ginjal, serta stroke. Berdasarkan data yang diperoleh jumlah penderita hipertensi menunjukan adanya tren peningkatan dari tahun 2022 sebesar  18.57%,  tahun 2023 sebesar 19.91% hingga tahun 2024 sebesar 19.93%. Tujuan: Untuk mengetahui Hubungan  perilaku “cerdik” terhadap tekanan darah pada penderita hipertensi. Metode: penelitian desain analitik observasional pendekatan cross sectional. Sampel penelitian pada penelitian ini adalah pasien hipertensi lama berjumlah 83 pasien yang ditentukan dengan teknik purposive sampling. Instrumen penelitian memanfaatkan kuesioner yang diambil melalui wawancara dengan uji statistik Chi-Square. Hasil: Dari 83 responden ditemukan sebanyak 55 responden (66.3%) memiliki tekanan darah tidak terkontrol. berdasarkan uji bivariat terdapat relasi yang signifikan antara tekanan darah dengan perilaku rutin cek kesehatan dengan p-value 0.000, rajin aktivitas fisik dengan p-value 0.013, diet seimbang dengan p-value 0.001, istirahat yang cukup dengan p-value 0.000, dan pengelolaan stres dengan p-value 0.000. namun, tidak ditemukan relasi yang bermakna antara perilaku enyahkan asap rokok dengan tekanan darah p-value 0.450. Peningkatakn program dan inovasi terkait dengan perilau cerdik perlu dilakukan oleh puskesmas sebagai langkah untuk pengendalian Hipertensi bagi penderita hipertensi di dalam menjaga tekanan darah. Simpulan: Adanya relasi yang signifikan antara sebagian besar komponen perilaku cerdik dengan nilai tekanan darah pada pengidap hipertensi namun ada 1 variabel enyahkan asap rokok yang tidak terdapat hubungan dengan nilai tekanan darah pada pengidap hipertensi.   Kata Kunci: Hipertensi; Perilaku Cerdik; Tekanan Darah.
Pengaruh regimen kombinasi transcutaneous electrical nerve stimulation (TENS) dan infra red radiation (IRR) dengan exercise therapy terhadap nyeri dan fungsional lutut pada petani penderita osteoartritis Kurniawan, Ryanda Masri; Berawi, Khairun Nisa; Suharmanto, Suharmanto; Pramesona, , Bayu Anggileo; Saftarina, Fitria
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 19 No. 7 (2025): Volume 19 Nomor 7
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v19i7.1344

Abstract

Background: Osteoarthritis (OA) in farmers can cause significant functional impairment, which can be addressed with Transcutaneous Electrical Nerve Stimulation (TENS), Infrared Radiation (IRIR), and exercise therapy.Purpose: To analyze the effect of a combination of transcutaneous electrical nerve stimulation (TENS) and infrared radiation (IRIR) with exercise therapy on knee pain and function in farmers with osteoarthritis.Method: This was an experimental study with a two-group pre-test and post-test design. The study was conducted at the Karang Pucung Community Health Center, South Lampung, from May to June 2025. The study population consisted of 68 farmers with osteoarthritis, representing the total sample. Thirty-four farmers with OA received 25 minutes of exercise therapy, and 34 farmers with OA received a combination of TENS and IRIR for 30 minutes. Pain measurements before and after the intervention were conducted using the Visual Analogue Scale (VAS) and the Western Ontario and McMaster Universities Osteoarthritis Index (WOMAC). Analysis used the Wilcoxon test and the Mann-Whitney test.Results: The average age of farmers in the Exercise Therapy group was 45-50 years, while in the TENS & IRR group, it was 45-50 years. In the TENS & IRR with Exercise Therapy group, there were more women with a history of osteoarthritis. In the TENS & IRR group, lesions were more common on the right side, while in the Exercise Therapy group, farmers with osteoarthritis were more common on the left side. There were differences in average knee pain and functional scores before and after administration of analgesics, a combination of Transcutaneous Electrical Nerve Stimulation (TENS) and Infrared Radiation (IRR) with Exercise Therapy given to farmers with osteoarthritis. Conclusion: There was a difference in average pain scores before and after administration of exercise therapy in the Combined Transcutaneous Electrical Nerve Stimulation (TENS) and Infrared Radiation (IRR) group. However, there was a significant difference in the exercise group compared to the TENS & IRR group.Suggestion: Collaboration with relevant parties is recommended to organize educational programs and OA management for farmers using analgesics and exercise therapy. Keywords: Exercise Therapy; Farmers; Functional Knee; Infrared Radiation (IRR); Osteoarthritis Patients; Pain; Transcutaneous Electrical Nerve Stimulation (TENS).  Pendahuluan: Osteoartritis (OA) pada petani dapat menyebabkan gangguan fungsional yang signifikan, hal ini dapat diatasi dengan menggunakan Transcutaneous Electrical Nerve Stimulation (TENS), Infra Red Radiation (IRR) dan exercise therapy. Tujuan: Untuk menganalisis pengaruh regimen kombinasi transcutaneous electrical nerve stimulation (TENS) dan infra red radiation (IRR) dengan exercise therapy terhadap nyeri dan fungsional lutut pada petani penderita osteoartritis. Metode: Jenis penelitian ini eksperimental menggunakan pre and post test two group design. Penelitian ini dilakukan di wilayah kerja Puskesmas Karang Pucung Lampung Selatan pada bulan Mei-Juni 2025. Populasi penelitian adalah petani penderita osteoatrritis sebanyak 68 petani OA dengan total sampling. 34 petani OA diberikan exercise therapy selama 25 menit dan 34 petani OA diberikan kombinasi TENS dan IRR selama 30 menit. Pengukuran sebelum dan setelah intervensi menggunakan skala nyeri menggunakan Visual Analogue Scale (VAS) dan Western Ontario and Mcmaster Universities Osteoarthritis Index (WOMAC). Analisis menggunakan Wilcoxon test dan Mann Whitney test. Hasil: Mayoritas petani pada kelompok Exercise Therapy berusia rata – rata 45-50 tahun, sedangkan untuk kelompok TENS & IRR berusia 45-50 tahun. Pada kelompok TENS & IRR dengan Exercise Therapy, lebih banyak berjenis kelamin perempuan yang memeiliki riwayat penyakit osteoarthritis. Pada kelompok TENS & IRR lebih banyak pada lesi kanan, sedangkan pada kelompok Exercise Therapy petani mereka yang menderita osteoarthritis lebih banyak terkena pada lesi kiri. Ada tingkat rerata skor nyeri dan fungsional lutut sebelum dan sesudah diberikan Analgesik, Kombinasi Transcutaneous Electrical Nerve Stimulation (TENS) dan Infra Red Radiation (IRR) dengan Exercise Therapy pada petani penderita Osteoarthritis. Simpulan: Terdapat perbedaan skor rata-rata nyeri sebelum dan sesudah diberikan pada kelompok Kombinasi Transcutaneous Electrical Nerve Stimulation (TENS) dan Infra Red Radiation (IRR) dengan Exercise Therapy. Namun, pada kelompok Exercise terlihat selisih yang signifikan dari pada kelompok TENS & IRR. Saran: Agar menjalin kerjasama dengan pihak terkait untuk menyelenggarakan program edukasi dan penanganan OA pada petani menggunakan tindakan analgesik dan exercise therapy.   Kata Kunci: Exercise Therapy; Fungsional Lutut; Infra Red Radiation (IRR);  Nyeri; Penderita Osteoartritis; Petani; Transcutaneous Electrical Nerve Stimulation (TENS).
Hubungan tingkat depresi dengan fungsi kognitif pada lansia Hasbiah, Isratul; Kholidah, Nurilla; Putri, Audy Oktavioni Tiara
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 19 No. 7 (2025): Volume 19 Nomor 7
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v19i7.1369

Abstract

Background: Aging causes a decline in physical and psychological functions, including depression and cognitive impairment in the elderly. Depression worsens cognitive decline, negatively impacting the quality of life of the elderly. With the increasing number of elderly people in Indonesia, it is important to understand the relationship between depression and cognitive function to improve their care and quality of life. Purpose: To determine the association between the level of depression and cognitive function in elderly residents. Method: This research used an analytical design with a cross-sectional study approach. The sample size consisted of 74 elderly people selected using a purposive sampling technique. Data collection used the Geriatric Depression Scale-15 (GDS-15) questionnaire to assess depression levels and the Montreal Cognitive Assessment (MoCA-INA) questionnaire to assess cognitive function in the elderly. Data analysis used the Spearman rank correlation test with SPSS software. Results: The majority of respondents were female (36 respondents (48.6%), followed by 47 elderly respondents (63.5%), with no education (25 respondents (33.8%), and 49 respondents (66.2%). The Spearman rank correlation test showed a p-value (0.021) ≤ α (0.05), indicating a significant relationship between depression levels and cognitive function in the elderly. Conclusion: There is a significant relationship between the level of depression and cognitive function in the elderly, appropriate intervention efforts to manage depression in the elderly are very necessary to maintain and improve their cognitive function and quality of life.   Keywords: Cognitive Function; Depression; Elderly.   Pendahuluan: Penuaan menyebabkan penurunan fungsi fisik dan psikologis, termasuk depresi dan gangguan fungsi kognitif pada lansia. Depresi memperburuk penurunan fungsi kognitif, yang berdampak negatif pada kualitas hidup lansia. Dengan meningkatnya jumlah lansia di Indonesia, penting untuk memahami keterkaitan antara depresi dan fungsi kognitif agar dapat meningkatkan penanganan dan kualitas hidup mereka. Tujuan: Untuk mengetahui hubungan antara tingkat depresi dengan fungsi kognitif pada lansia. Metode: Penelitian desain analitik dengan pendekatan cross sectional study. Jumlah sampel penelitian terdiri dari 74 lansia yang diambil dengan teknik purposive sampling. Pengumpulan data mengguanakan menggunakan kuesioner Geriatric Depression Scale-15 (GDS-15) untuk menilai tingkat depresi dan kuesioner Montreal Cognitive Assesment (MoCA-INA) untuk menilai fungsi kognitif lansia. Analisis data mengguanakan uji korelasi Spearman rank dengan software SPSS. Hasil: Responden terbanyak adalah berjenis kelamin perempuan sebanyak 36 responden (48.6%), kelompok lanjut usia yaitu 47 responden (63.5%), riwayat pendidikan tidak sekolah sebanyak 25 responden (33.8%), dan memiliki riwayat penyakit kronis sebanyak 49 responden (66.2%). Berdasarkan hasil uji korelasi spearman rank menunjukkan nilai p (0.021) ≤ α (0.05), artinya adanya hubungan yang signfikan antara tingkat depresi dan fungsi kognitif pada lansia. Simpulan: Adanya hubungan signifikan antara tingkat depresi dan fungsi kognitif pada lansia, upaya intervensi yang tepat untuk mengelola depresi pada lansia sangat diperlukan guna mempertahankan dan meningkatkan fungsi kognitif serta kualitas hidup mereka.   Kata Kunci: Depresi; Fungsi Kognitif; Lansia.