cover
Contact Name
Teguh Pribadi
Contact Email
teguh@malahayati.ac.id
Phone
+6282282204653
Journal Mail Official
holistik@malahayati.ac.id
Editorial Address
Jalan Pramuka No.27 Kemiling Bandar Lampung -Indonesia.
Location
Kota bandar lampung,
Lampung
INDONESIA
Holistik Jurnal Kesehatan
Published by Universitas Malahayati
ISSN : 19783337     EISSN : 26207478     DOI : https://doi.org/10.33024/hjk.v18i10
Core Subject : Health,
Berisi kumpulan karya ilmiah dari peneliti diberbagai perguruan tinggi di Indonesia, di bidang ilmu kesehatan khususnya bidang ilmu keperawatan yang berdasarkan kepada kebutuhan pasien secara total meliputi: kebutuhan fisik, emosi, sosial, ekonomi dan spiritual. Adapun penelitiannya mencakup 4 aspek pokok, yakni: promotif, preventif, kuratif, dan rehabilitatif. Jurnal terbit setiap bulan dan artikel ditulis dalam bahasa Indonesia, untuk abstrak artikel ditulis dengan dua bahasa yaitu bahasa Inggris dan bahasa Indonesia.
Articles 329 Documents
Pengaruh cuddle therapeutic side sitting position dan breastfeeding terhadap nyeri imunisasi bayi usia 0-12 bulan Saputri, Apreni; Annisa, Rahma; Wijaya, Andra Saferi; Septiyanti, Septiyanti; Nafratilova, Mercy
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 19 No. 6 (2025): Volume 19 Nomor 6
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v19i6.1359

Abstract

Background: Immunization is one way to increase children's immunity to prevent diseases, especially infectious diseases. Immunization through injections can experience a direct effect, namely pain. Immunization injections, if not properly managed, can cause injuries that cause pain short-term and long-term effects on babies. One of the non-pharmacological pain managements that can be done is cuddle therapeutic side sitting position and breastfeeding. Purpose: To determine the effect of therapeutic side-sitting and breastfeeding on immunization pain scores in infants aged 0-12 months. Method: Quasi-experimental research with post-test only control group method, conducted at Sawah Lebar Community Health Center, Bengkulu City in March-April 2025. The independent variables are cuddle therapeutic side sitting position and breastfeeding while the dependent variable is immunization pain in infants. The sampling technique using total sampling obtained a total sample of 46 respondents who were divided into intervention and control groups, with inclusion and exclusion criteria. Data analysis used univariate in the form of frequency distribution and bivariate using the Mann Whitney test. Results: Mann-Whitney test showed p=0.000, meaning that there was a difference in the average pain score between the intervention group and the control group. It can be concluded that cuddle therapeutic side-sitting position and breastfeeding have a significant effect on pain scores in infants during immunization. Conclusion: Mann-Whitney test showed p=0.000, meaning that there was a difference in the average pain score between the intervention group and the control group. It can be concluded that cuddle therapeutic side-sitting position and breastfeeding have a significant effect on pain scores in infants during immunization.   Keywords: Breastfeeding; Cuddle Therapeutic; Immunization Pain; Infant; Side Sitting Position.   Pendahuluan: Imunisasi adalah salah satu cara untuk meningkatkan kekebalan tubuh anak-anak guna mencegah penyakit, terutama penyakit menular. Imunisasi melalui suntikan dapat menimbulkan efek langsung, yaitu rasa sakit. Suntikan imunisasi, jika tidak dikelola dengan baik, dapat menyebabkan cedera yang menimbulkan rasa sakit serta efek jangka pendek dan jangka panjang pada bayi. Salah satu metode pengelolaan rasa sakit non-farmakologis yang dapat dilakukan adalah posisi duduk menyamping dengan pelukan terapeutik dan menyusui. Tujuan: Untuk mengetahui pengaruh cuddle therapeutic side sitting position dan breastfeeding terhadap nyeri imunisasi bayi usia 0-12 bulan. Hasil: Uji Mann-Whitney menunjukkan p-value sebesar 0.000, artinya ada perbedaan rata-rata skor nyeri antara kelompok intervensi dan kontrol, sehingga cuddle therapeutic side-sitting position dan breastfeeding berpengaruh signifikan terhadap skor nyeri pada bayi saat imunisasi. Metode: Penelitian quasi eksperimental dengan metode post-test only control group, dilaksanakan di Puskesmas Sawah Lebar, Kota Bengkulu pada bulan Maret-April 2025. Variabel independen dalam penelitian ini adalah cuddle therapeutic side sitting position  dan breastfeeding, sedangkan variabel dependen adalah nyeri imunisasi pada bayi. Teknik pengambilan sampel menggunakan total sampling dan didapatkan jumlah sampel sebanyak 46 partisipan, terbagi ke dalam kelompok intervensi dan kontrol sesuai kriteria inklusi dan eksklusi. Analisis data yang digunakan univariat dalam bentuk distribusi frekuensi dan bivariat menggunakan uji Mann Whitney. Simpulan: Posisi cuddle therapeutic side sitting memberikan rasa aman, stabilitas, dan kedekatan fisik antara bayi dan orang tua, sehingga dapat menenangkan bayi dan menurunkan respon nyeri.   Kata Kunci: Bayi; Breastfeeding; Cuddle Therapeutic; Nyeri Imunisasi; Side Sitting Position.
Hubungan asupan protein hewani, IMT/U, dan waktu tidur dengan kadar hemoglobin pada remaja putri di SMA Rahmawati, Manda Ayu; Puteri, Hidayatusy Syukrina; Astuti, Dewi Woro; Hervidea, Radella
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 19 No. 6 (2025): Volume 19 Nomor 6
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v19i6.1360

Abstract

Background: Anemia is a common nutritional problem in adolescent girls, especially during periods of rapid growth. One of the main factors causing anemia is low intake of animal protein, which contains heme iron and plays a vital role in hemoglobin formation. Adolescent girls have higher iron requirements, putting them at higher risk of anemia if their diets are inadequate. Purpose: To determine the relationship between animal protein intake, BMI/Age, sleep time, and hemoglobin levels in high school adolescent girls. Method: This study used a quantitative approach with a cross-sectional design. The subjects were 87 tenth- and eleventh-grade adolescent girls selected using a total sampling technique. Data on animal protein intake were collected using a semi-quantitative Fast Response Questionnaire (FFQ), and hemoglobin levels were measured using a digital hemoglobin meter. Data were analyzed using the Spearman Rank test with a significance level of 0.05. Results: The majority of respondents (91.9%) had insufficient animal protein intake. 30.2% of respondents had mild anemia, and 4.7% had moderate anemia. Statistical test results showed a significant relationship between animal protein intake and hemoglobin levels (p < 0.05). Conclusion: There is a significant relationship between animal protein intake and hemoglobin levels in adolescent girls. Suggestion: Education on balanced nutrition is important to increase awareness and improve eating habits in adolescents to prevent anemia.   Keywords: Adolescent Girls; Anemia; Animal Protein; Hemoglobin.   Pendahuluan: Anemia merupakan salah satu masalah gizi yang umum terjadi pada remaja putri, terutama di masa pertumbuhan yang pesat. Salah satu faktor utama penyebab anemia adalah rendahnya asupan protein hewani, yang mengandung zat besi heme dan berperan penting dalam pembentukan hemoglobin. Remaja putri memiliki kebutuhan zat besi yang lebih tinggi, sehingga berisiko lebih besar mengalami anemia apabila pola makan tidak mencukupi. Tujuan: Untuk mengetahui hubungan asupan protein hewani, IMT/U, waktu tidur dengan kadar hemoglobin pada remaja putri di SMA. Metode: Penelitiian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain cross sectional. Subjek penelitian berjumlah 87 remaja putri kelas X dan XI yang dipilih menggunakan teknik total sampling. Data asupan protein hewani dikumpulkan melalui kuesioner semi kuantitatif FFQ, dan kadar hemoglobin diukur menggunakan alat digital hemoglobin meter. Data dianalisis menggunakan uji Spearman Rank dengan tingkat signifikansi 0.05. Hasil: Sebagian besar responden memiliki asupan protein hewani dalam kategori kurang (91.9%). Sebanyak 30.2% responden mengalami anemia ringan, dan 4.7% mengalami anemia sedang. Hasil uji statistik menunjukkan adanya hubungan yang signifikan antara asupan protein hewani dengan kadar hemoglobin (p < 0.05). Simpulan: Terdapat hubungan yang signifikan antara asupan protein hewani dengan kadar hemoglobin pada remaja putri. Saran: Pentingnya edukasi gizi seimbang untuk meningkatkan kesadaran dan pola makan remaja dalam mencegah anemia.   Kata Kunci: Anemia; Hemoglobin; Protein Hewani; Remaja Putri.
Hubungan kebiasaan jajan, pola makan, dan konsumsi pangan terhadap status gizi anak usia sekolah Hidayat, Nasrul; Rahmawati, Fadhilah Putri; Putri, Disti Dwi; Hafizhah, Inas Salwa; Oktaviani, Nur; Shausan, Khansa
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 19 No. 6 (2025): Volume 19 Nomor 6
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v19i6.1361

Abstract

Background: Poor nutritional status in children can be caused by indiscriminate snacking, consuming foods that do not meet balanced nutrition guidelines, and irregular eating patterns. This can lead to stunted growth and development in school-age children. Purpose: To determine the relationship between nutritional status and students' snacking habits, eating patterns, and daily food consumption. Method: This quantitative descriptive study used a cross-sectional approach. The population studied were students of Dramaga 2 Elementary School, Bogor, in March 2025. A total of 12 students were randomly selected. Data were obtained through anthropometric measurements, 2x24-hour food recall interviews, and questionnaires about eating patterns and snacking habits. The data were then analyzed using Microsoft Excel and SPSS. Results: A total of 41.7% of respondents were obese, and 41.7% were underweight. Macronutrient deficiencies were also present in 70.6% of respondents, and micronutrient deficiencies in 87.5%. Seventy-five percent had poor dietary habits. Most had uncontrolled snacking habits. Conclusion: There is a relationship between the nutritional status of school-age children and their snacking habits, eating patterns, and food consumption. Suggestion: It is hoped that future researchers can use larger samples and add variables that are not yet included in the study.   Keywords: Dietary Patterns; Food Intake; Nutritional Status; School Aged Children; Snacking Behaviours   Pendahuluan: Status gizi buruk yang terjadi pada anak dapat disebabkan dari kebiasaan jajan yang sembarangan, konsumsi pangan yang tidak sesuai dengan pedoman gizi seimbang, dan pola makan yang tidak teratur. Hal ini dapat mengakibatkan lambatnya pertumbuhan dan perkembangan pada anak usia sekolah.  Tujuan: Untuk mengetahui hubungan antara status gizi dengan kebiasaan jajan, pola makan, dan konsumsi pangan sehari-hari siswa. Metode: Penelitian kuantitatif deskriptif dengan menggunakan pendekatan cross sectional. Populasi yang diteliti adalah siswa/I di SDN Dramaga 2 Bogor pada bulan Maret 2025. Total sampel yang digunakan sebanyak 12 siswa/I yang dipilih melalui teknik random sampling. Data didapatkan melalui pengukuran antropometri, wawancara food recall 2x24 jam, serta pengisian kuesioner pola makan dan kebiasaan jajan. Data kemudian dianalisis menggunakan Microsoft Excel dan SPSS. Hasil: Sebanyak 41.7% responden mengalami obesitas dan sebesar 41.7% tinggi badan kurang. Defisit zat gizi makro juga terjadi sebesar 70.6% responden dan defisit zat gizi mikro sebesar 87.5%. Sebanyak 75% memiliki pola makan kurang. Sebagian besar memiliki kebiasaan jajan yang tidak terkontrol. Simpulan: Ada hubungan antara status gizi anak usia sekolah dengan kebiasaan jajan, pola makan, dan konsumsi pangan. Saran: Peneliti selanjutnya diharapkan dapat menggunakan sampel dalam jumlah yang lebih besar dan menambahkan variabel yang belum ada pada penelitian.    Kata Kunci: Anak Usia Sekolah; Kebiasaan Jajan; Konsumsi Pangan; Pola Makan; Status Gizi.
Manajemen agresi pasien di unit perawatan jiwa: A literature review Daisiu, Casey Petry; Kamaluddin, Ridlwan
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 19 No. 6 (2025): Volume 19 Nomor 6
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v19i6.1434

Abstract

Background: Violent incidents in hospital settings, particularly in psychiatric units, create complex challenges for healthcare workers, patients, and hospital management. Aggression can range from verbal abuse to potentially harmful physical actions, and this phenomenon negatively impacts the well-being of healthcare workers and creates a care environment less conducive to recovery. Purpose: To analyze the most effective nursing management strategies for managing patients with aggressive behavior and provide evidence-based recommendations. Method: A systematic review was conducted using PRISMA, with a literature search conducted through PubMed, Science Direct, and Google Scholar. Seven relevant original research articles were analyzed during the selection process. Results: The most effective strategy was a holistic and integrated approach that did not rely on a single method. This included enhancing nurse competency through de-escalation and communication training, establishing strong organizational and system support, implementing structured risk assessments, and adopting a patient-centered care model. Conclusion: Comprehensive and adaptive aggression management is key to creating a safe and supportive care environment. Suggestion: Further research could quantitatively compare the effectiveness of different combinations of strategies and conduct more longitudinal studies to evaluate the long-term impact of organizational policy changes.   Keywords: Aggression Management; Patients; Psychiatric Nursing.   Pendahuluan: Insiden kekerasan di lingkungan rumah sakit terutama di unit psikiatri menciptakan tantangan yang kompleks bagi tenaga kesehatan, pasien, dan manajemen rumah sakit. Agresi dapat berupa kekerasan verbal hingga tindakan fisik yang membahayakan dan fenomena ini berdampak negatif pada kesejahteraan tenaga medis serta menciptakan lingkungan perawatan yang kurang kondusif bagi pemulihan. Tujuan: Untuk menganalisis strategi manajemen agresi pasien di unit perawatan jiwa.  Metode: Tinjauan sistematis mengacu pada PRISMA, dengan pencarian literatur melalui database PubMed, Science Direct, dan Google Scholar. Dari proses seleksi, tujuh artikel penelitian orisinal yang relevan dianalisis. Hasil: Strategi yang paling efektif adalah pendekatan holistik dan terintegrasi yang tidak bergantung pada metode tunggal. Peningkatan kompetensi perawat melalui pelatihan de-eskalasi dan komunikasi, adanya dukungan sistem dan organisasi yang kuat, implementasi penilaian risiko yang terstruktur, serta adopsi model perawatan yang berpusat pada pasien (patient-centered care). Simpulan: bahwa manajemen agresi yang komprehensif dan adaptif merupakan kunci untuk menciptakan lingkungan perawatan yang aman dan mendukung pemulihan. Saran: Penelitian selanjutnya disarankan untuk membandingkan efektivitas kombinasi strategi yang berbeda secara kuantitatif dan melakukan lebih banyak studi longitudinal untuk mengevaluasi dampak jangka panjang dari perubahan kebijakan organisasi.   Kata Kunci: Keperawatan Jiwa; Manajemen Agresi; Pasien.
Faktor internal dan eksternal yang memengaruhi motivasi belajar mahasiswa program profesi dokter Hamzah, Wafi Ramadhan; Julyani, Sri; Aisyah, Windy Nurul; Amir, Suliati Paduppai; Akib, Marlyanti Nur Rahmah
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 19 No. 7 (2025): Volume 19 Nomor 7
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v19i7.1444

Abstract

Background: Medical students' learning motivation is influenced by internal factors, such as interest, ambition, and self-confidence, as well as external factors, including family support, lecturers, and the learning environment. Students with a strong interest in learning tend to be more motivated to study diligently. Furthermore, personal values, such as ambition and a sense of responsibility towards their profession, can also be powerful motivators. Purpose: To analyze the relationship between internal and external factors influencing medical students' learning motivation. Method: This study used a cross-sectional design with 171 respondents selected using purposive sampling. The study was conducted at Ibnu Sina Hospital, Makassar, over three months, from June to August 2024. Data were collected using a Likert-based questionnaire via Google Forms, and the research instrument was the Motivated Learning Strategies Questionnaire (MSLQ). Results: A total of 72.5% of respondents had high learning motivation, with an average internal factor score of 4.34 and an external factor score of 4.32. A chi-square test showed a significant relationship between internal (p=0.000) and external (p=0.000) factors, with ambition and enjoyment of learning being the most important internal factors, while family support and information technology were the most important external factors. Conclusion: Internal factors (chi-square value of 44.78 and p-value of 0.000) and external factors (chi-square value of 46.75 and p-value of 0.000) have a significant relationship to learning motivation. Students' learning motivation is not formed randomly but is strongly influenced by the quality of their internal and external factors. In this study, internal factors have a more dominant influence on student learning motivation than external factors.   Keywords: External Factors; Internal Factors; Learning; Medical Profession; Motivation; Students.   Pendahuluan: Motivasi belajar mahasiswa kedokteran dipengaruhi oleh faktor internal, seperti minat, ambisi, dan kepercayaan diri, serta faktor eksternal, meliputi dukungan keluarga, dosen, dan lingkungan belajar. Mahasiswa yang memiliki minat belajar yang tinggi, cenderung lebih termotivasi untuk belajar dengan tekun. Selain itu, nilai-nilai personal, seperti ambisi dan rasa tanggung jawab terhadap profesinya juga dapat menjadi dorongan yang kuat. Tujuan: Untuk menganalisis hubungan faktor internal dan eksternal yang memengaruhi motivasi belajar mahasiswa program profesi dokter. Metode: Desain penelitian menggunakan cross-sectional dengan 171 responden yang dipilih melalui purposive sampling. Penelitian dilakukan di Rumah Sakit Ibnu Sina Makassar dan dilaksanakan selama tiga bulan pada Juni-Agustus 2024. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner berbasis Likert melalui google form dan instrumen penelitian menggunakan Motivated Strategies for Learning Questionnaire (MSLQ). Hasil: Sebanyak 72.5% responden memiliki motivasi belajar tinggi dengan rata-rata faktor internal 4.34 dan eksternal 4.32. Uji Chi-Square memperlihatkan hubungan signifikan antara faktor internal (p=0.000) dan eksternal (p=0.000) dengan ambisi dan kesenangan belajar menjadi faktor internal utama, sementara dukungan keluarga dan teknologi informasi menempati faktor eksternal tertinggi. Simpulan: Faktor internal (nilai chi-square sebesar 44.78 dan p-value 0.000) dan eksternal (nilai chi-square sebesar 46.75 dan p-value 0.000) memiliki hubungan yang signifikan terhadap motivasi belajar. Motivasi belajar mahasiswa tidak terbentuk secara acak, melainkan sangat dipengaruhi oleh kualitas faktor internal dan eksternal yang mereka miliki. Pada penelitian ini, faktor internal memberikan pengaruh yang lebih dominan terhadap motivasi belajar mahasiswa dibandingkan faktor eksternal.   Kata Kunci: Belajar; Faktor Eksternal; Faktor Internal; Mahasiswa; Motivasi; Profesi Dokter.
Pengetahuan dan pencegahan kekambuhan pasien asma Khomsah, Ida Yatun; Milindasari, Praty
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 19 No. 7 (2025): Volume 19 Nomor 7
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v19i7.1555

Abstract

Background: Asthma is a respiratory condition marked by the swelling and constriction of the air passages. Asthma exacerbation is a condition that can present with no symptoms or with mild to severe symptoms, and can be life-threatening. Asthma relapses are caused by improper treatment, and the environment can also trigger asthma attacks. Factors that influence asthma recurrence are excessive activity, stress, allergens such as pet dander, cold air, air pollution, and dust. Patient knowledge about asthma determines the extent of efforts made to prevent relapses. Purpose: To describe the knowledge of asthma patients in Kemiling regarding relapse prevention. Method: This research is a descriptive survey study using the Asthma General Knowledge Questionnaire as the instrument. The sample consisted of 44 respondents. Results: A total of 5 respondents (11.4%) had good knowledge, 27 respondents (61.4%) had sufficient knowledge, and 12 respondents (27.2%) had poor knowledge. Conclusion: Lack of knowledge may cause patients to pay insufficient attention to the risk factors that can trigger asthma relapse. Enhancing knowledge through accurate information plays an important role in efforts to prevent asthma relapse.   Keywords: Asthma; Knowledge; Prevention of Relapse.   Pendahuluan: Asma merupakan penyakit saluran pernapasan dimana adanya peradangan dan penyempitan saluran napas. Kekambuhan asma adalah kondisi yang tidak menunjukkan gejala maupun dengan gejala mulai dari ringan hingga berat dan berpotensi mengancam jiwa. Kekambuhan asma disebabkan oleh pengobatan yang tidak tepat dan lingkungan juga dapat menyebabkan kambuhnya asma. Faktor-faktor yang memengaruhi kekambuhan asma adalah aktivitas berlebihan, stres, alergen seperti bulu hewan peliharaan, udara dingin, polusi udara, dan debu. Pengetahuan pasien tentang asma  menentukan tindakan yang diambil untuk mencegah kekambuhan berulang. Tujuan: Untuk menggambarkan pengetahuan pencegahan kekambuhan pasien asma di Kemiling. Metode: Penelitian ini menggunakan desain survei deskriptif dengan instrumen kuesioner Asthma General Knowledge Questionnaire. Jumlah sampel adalah 44 responden. Hasil: Sebanyak 5 responden (11.4%) memiliki pengetahuan baik, 27 responden (61.4%) memiliki pengetahuan cukup, dan 12 responden (27.2%) memiliki pengetahuan kurang. Simpulan: Kurangnya pengetahuan pasien dapat menyebabkan mereka tidak memperhatikan faktor risiko yang memicu kekambuhan asma. Peningkatan pengetahuan melalui informasi yang tepat berperan penting dalam upaya pencegahan kekambuhan asma.   Kata Kunci: Asma; Pencegahan Kekambuhan; Pengetahuan.
Disease prevention strategies following flood disasters: A scooping review Taqiuddin, Muhammad Hafidh; Stephania, Agnes; Wiguna, Ilham; Afriana, Reni; Agustin, Sigit; Liana, Yeni; Pakpahan, Yetty Mardelima Uli; Muthmainnah, Muthmainnah; Trisyani, Yanny; Emaliyawati, Etika
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 19 No. 7 (2025): Volume 19 Nomor 7
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v19i7.1041

Abstract

Background: Floods are a frequent natural disaster that significantly impacts public health, particularly the spread of infectious diseases. Effective health interventions are needed to reduce post-flood health risks. Purpose: To map the literature related to post-flood disease prevention strategies. Method: This scoping review involved five main stages: (1) identifying the research question; (2) identifying relevant studies; (3) selecting studies; (4) recording data; and (5) summarizing and reporting the results. The literature search for this observation was conducted in three databases: the National Library of Indonesia, ScienceDirect, and Google Scholar. The inclusion criteria for articles were published between 2021 and 2025 in English and Indonesian, literature reviews, opinion pieces, editorials, or conference abstracts focused on post-flood disease prevention, the research setting was community-based, participants were health workers, and post-flood outcomes were the primary outcome. Results: Five key themes emerged from the analysis: increasing access to clean water and sanitation, community education, surveillance and rapid response, mental health support, and a multisectoral approach. Integrated and collaborative health interventions have proven crucial in reducing post-flood disease incidence. Conclusion: Despite progress in post-flood health interventions, there are still gaps in research focusing on long-term interventions, vulnerable populations, and multisectoral approaches. Recommendation: Future research should address these aspects to improve the effectiveness of health policies and practices in addressing post-flood health challenges.   Keywords: Disease Prevention; Post-Flood Disaster; Strategy.   Pendahuluan: Banjir merupakan bencana alam yang sering terjadi dan berdampak signifikan terhadap kesehatan masyarakat, terutama dalam penyebaran penyakit menular. Intervensi kesehatan yang efektif diperlukan untuk mengurangi risiko kesehatan pasca banjir. Tujuan:  Untuk memetakan literatur terkait strategi pencegahan penyakit pasca bencana banjir. Metode: Penelitian scoping review yang melibatkan lima tahapan utama: (1) mengidentifikasi pertanyaan penelitian; (2) mengidentifikasi studi yang relevan; (3) pemilihan studi; (4) pencatatan data; (5) merangkum dan melaporkan hasil. Pencarian literatur dalam tinjauan ini dilakukan di 3 database  yaitu Perpusnas, ScienceDirect dan Google Scholar. Kriteria inklusi artikel yaitu diterbitkan antara 2021-2025 dalam bahasa Inggris dan Indonesia, literature reviews, opini, editorial, atau abstrak konferensi berfokus pada pencegahan penyakit setelah banjir, setting penelitian di komunitas, partisipan adalah tenaga kesehatan, dan post floods sebagai outcome utama. Hasil: Lima tema utama yang muncul dari analisis adalah peningkatan akses air bersih dan sanitasi, edukasi masyarakat, surveilans dan respons cepat, dukungan kesehatan mental, dan pendekatan multisektoral. Intervensi kesehatan yang terintegrasi dan kolaboratif terbukti penting dalam mengurangi insiden penyakit pasca banjir. Simpulan: Meskipun terdapat kemajuan dalam intervensi kesehatan pasca banjir, masih terdapat kesenjangan dalam penelitian yang berfokus pada intervensi jangka panjang, populasi rentan, dan pendekatan multisektoral. Saran: Penelitian di masa depan perlu memperhatikan aspek-aspek ini untuk meningkatkan efektivitas kebijakan dan praktik kesehatan dalam menghadapi tantangan kesehatan pasca banjir.   Kata Kunci: Disease Prevention; Following Flood Disasters; Strategies.
Kebiasaan sarapan dan status gizi pelajar SMP Makanoneng, Gwyneth Gwendellyn; Musa, Ester Candrawati; Sanggelorang, Yulianty
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 19 No. 7 (2025): Volume 19 Nomor 7
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v19i7.1245

Abstract

Background: According to the Global Nutrition Report, rates of malnutrition among adolescents have declined, but cases of obesity and overweight have increased significantly. In 2019, an estimated 15.1% of adolescents were obese, while 5.7% were classified as underweight. This situation creates a nutritional problem known as the "triple burden of malnutrition," a combination of undernutrition, overweight, and micronutrient deficiencies. Breakfast habits are one factor influencing nutritional status. Purpose: To determine the relationship between breakfast habits and nutritional status in junior high school students. Method: This quantitative, observational, and analytical study used a cross-sectional study design conducted at Pineleng 2 Public Junior High School, Minahasa Regency, involving 77 respondents. The variables in this study were breakfast habits and nutritional status. Data were collected through anthropometric measurements (weight and height) to determine BMI/A, followed by Z-scores and a non-sequential 2x24-hour breakfast habits and food recall questionnaire. Data analysis was performed univariately and bivariately using Fisher's exact test through the Statistical Program for Social Sciences to see the relationship between variables. Results: The majority of respondents (75.3%) had normal nutritional status, while 24.7% were categorized as abnormal (underweight, overweight, or obese). Ninety-four percent of students had frequent breakfast habits (≥4 times/week), and 5.2% had infrequent breakfast habits (<4 times/week). Students with good breakfast habits were mostly those with normal nutritional status (p=0.044) (p<0.05). Conclusion: There is a relationship between breakfast habits and nutritional status. Good breakfast habits are a determining factor in students' nutritional status. Regular and nutritious breakfasts help meet daily nutritional needs while maintaining ideal nutritional status according to body mass index and age. In addition to breakfast habits, other important factors influencing nutritional status include a balanced diet and general health. Suggestion: Future researchers are encouraged to conduct research on the factors influencing breakfast habits, macronutrient intake, and nutritional status of school students.   Keywords: Breakfast Habits; Lessons; Nutritional Status.   Pendahuluan: Berdasarkan laporan Global Nutrition Report, angka kekurangan gizi pada remaja memang menurun, tetapi kasus obesitas dan kelebihan berat badan justru mengalami kenaikan yang cukup signifikan. Pada tahun 2019, diperkirakan 15.1% remaja mengalami obesitas, sedangkan 5.7% tergolong kekurangan berat badan. Kondisi ini menimbulkan masalah gizi yang disebut "triple burden of malnutrition", yaitu kombinasi antara kurang gizi, kelebihan berat badan, dan defisiensi mikronutrien. Kebiasaan sarapan merupakan salah satu faktor yang memengaruhi status gizi. Tujuan: Untuk mengetahui hubungan antara kebiasaan sarapan dengan status gizi pada pelajar SMP. Metode: Penelitian kuantitaif yang bersifat observasional analitik dengan menggunakan desain atau rancangan cross sectional study yang dilaksanakan di SMP Negeri 2 Pineleng, Kabupaten Minahasa dengan melibatkan 77 responden. Variabel dalam penelitian ini adalah kebiasaan sarapan dan status gizi. Data dikumpulkan melalui pengukuran antropometri (berat badan dan tinggi badan) untuk mengetahui IMT/U, dilanjutkan dengan Z-score serta kuesioner kebiasaan sarapan dan food recall 2x24 jam secara tidak berurutan. Analisis data dilakukan secara univariat dan bivariat dengan uji Fisher’s exact test melalui program Statistical Program for Social Sciences untuk melihat hubungan antara variabel. Hasil: Sebagian besar responden 75.3% memiliki status gizi normal, sementara 24.7% termasuk dalam kategori tidak normal (kurus, gemuk, atau obesitas). Sebanyak 94.8% siswa memiliki kebiasaan sarapan yang sering (≥4 kali/minggu), dan sebanyak 5.2% siswa memiliki kebiasaan sarapan yang jarang (<4 kali/minggu). Siswa yang memiliki kebiasaan sarapan yang baik didominasi dengan status gizi normal (p=0.044) (p<0.05). Simpulan: Terdapat hubungan antara kebiasaan sarapan dengan status gizi. Kebiasaan sarapan yang baik merupakan salah satu faktor penentu status gizi siswa. Sarapan yang teratur dan bergizi membantu memenuhi kebutuhan nutrisi harian sekaligus mempertahankan status gizi ideal sesuai indeks massa tubuh dan kategori usia. Selain kebiasaan sarapan, faktor penting lain yang turut memengaruhi status gizi meliputi pola makan seimbang dan kondisi kesehatan secara umum. Saran: Bagi peneliti selanjutnya diharapkan dapat melakukan penelitian terkait tentang faktor-faktor yang mempengaruhi kebiasaan sarapan pagi, asupan zat gizi makronutrien dan status gizi siswa di sekolah.   Kata Kunci: Kebiasaan Sarapan; Pelajaran; Status Gizi.
Faktor-faktor berhubungan dengan pola asuh holistik Sunarsih, Tri; Astuti, Endah Puji; Shanti, Elvika Fit Ari
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 19 No. 7 (2025): Volume 19 Nomor 7
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v19i7.944

Abstract

Background: Holistic parenting is a comprehensive parenting approach, encompassing a child's physical, emotional, social, and spiritual aspects. In Indonesia, the success of this parenting style is still influenced by access to information, social norms, and environmental support. Purpose: To analyze the influence of health information and education, social norms, and social support on holistic parenting among mothers of young children. Method: A quantitative approach with multiple regression analysis was used. The sample consisted of 337 mothers in Ngalang Village, Gedangsari, Gunungkidul, selected using simple random sampling, and data were collected using a questionnaire. Data analysis included descriptive statistics, classical assumption tests (normality, multicollinearity, heteroscedasticity, autocorrelation), and multiple regression. The F test, t test, and coefficient of determination (R²) were used to measure the simultaneous and partial effects between variables on holistic parenting. Results: The three independent variables simultaneously had a significant effect on holistic parenting, with a significance value of 0.000 and a contribution of 45.3%. Social support was the most dominant factor influencing holistic parenting. Conclusion: These findings indicate that promoting optimal holistic parenting requires strengthening health education, establishing supportive social norms, and establishing a strong social support system. Practical implications include the need for integrated and sustainable community-based interventions to support healthy and holistic parenting. Suggestion: Conduct further research with a broader population and a more qualitative approach to further explore the factors influencing parenting and develop sustainable policies to support the sustainability of holistic parenting, particularly for socially and economically vulnerable groups.   Keywords: Health Education; Holistic Parenting; Mother-Child; Social Norms; Social Support.   Pendahuluan: Pola asuh holistik merupakan pendekatan pengasuhan yang menyeluruh, mencakup aspek fisik, emosional, sosial, dan spiritual anak. Di Indonesia, keberhasilan pola asuh ini masih dipengaruhi oleh akses informasi, norma sosial, dan dukungan lingkungan. Tujuan: Untuk menganalisis pengaruh informasi dan edukasi kesehatan, norma sosial, dan dukungan sosial terhadap pola asuh holistik ibu yang memiliki anak usia dini. Metode: Menggunakan pendekatan kuantitatif dengan analisis regresi berganda. Sampel terdiri dari 337 ibu di Desa Ngalang, Gedangsari, Gunungkidul, yang dipilih secara simple random sampling dan data dikumpulkan menggunakan kuesioner. Analisis data mencakup statistik deskriptif, uji asumsi klasik (normalitas, multikolinearitas, heteroskedastisitas, autokorelasi), serta regresi berganda. Uji F, uji t, dan koefisien determinasi (R²) digunakan untuk mengukur pengaruh simultan dan parsial antar variabel terhadap pola asuh holistik. Hasil: Ketiga variabel independen tersebut secara simultan berpengaruh signifikan terhadap pola asuh holistik dengan nilai signifikansi 0.000 dan kontribusi sebesar 45.3%. Dukungan sosial merupakan faktor yang paling dominan memengaruhi pola asuh holistik. Simpulan: Untuk mendorong pola asuh holistik yang optimal, diperlukan penguatan edukasi kesehatan, pembentukan norma sosial yang mendukung, serta sistem dukungan sosial yang kuat. Implikasi praktisnya adalah perlunya intervensi berbasis komunitas yang terintegrasi dan berkelanjutan untuk mendukung pengasuhan anak yang sehat dan holistik. Saran: Melakukan penelitian lanjutan dengan cakupan populasi yang lebih luas serta pendekatan yang lebih kualitatif agar dapat menggali lebih dalam faktor-faktor yang berperan dalam pola asuh dan pengembangan kebijakan yang berkelanjutan untuk mendukung keberlangsungan pola asuh holistik, khususnya bagi kelompok yang rentan secara sosial dan ekonomi.   Kata Kunci: Dukungan Sosial; Edukasi Kesehatan; Ibu-Anak; Norma Sosial; Pola Asuh Holistik.
Analisis kategori wilayah tempat tinggal dengan status calon pengantin wanita terhadap risiko melahirkan anak stunting Yustisia, Ananda Bela; Wijayanti, Siwi Pramatama Mars; Rejeki, Dwi Sarwani Sri; Nisa, Fauzia Annafiun; Aldila, Salsa Adi
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 19 No. 7 (2025): Volume 19 Nomor 7
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v19i7.969

Abstract

Background: Stunting in Indonesia still has a high prevalence at 21.5% in 2023. Stunting is also caused by the mother's condition before marriage. Prospective brides still have low awareness about the importance of preventing stunting at a young age. Premarital health conditions can be influenced by various factors, including the type of ​​residence which may influence physical, social and economic environmental conditions. Purpose: To determine whether the regional category affects the status of prospective brides who run the risk of having children who are stunted. Method: A quantitative analytical study used a cross-sectional method and was conducted in June-July 2024 in Banyumas Regency, Central Java. The sampling technique used total sampling with a sample size of 3.399 respondents. The independent variables in this study were rural and urban areas of residence, while the dependent variable was stunting. Data analysis used univariate in the form of frequency distribution and bivariate using chi-square. Results: The chi-square test results showed a p-value of 0.216 (>0.050). This means that there is no significant relationship between rural and urban areas and the risk of stunting in prospective brides. Conclusion: The status of prospective brides by category puts them at risk of giving birth to stunted children, and this risk does not differ between rural and urban areas. Pre-marital and pregnancy education should be provided evenly across all regions, and assistance should be provided to prospective brides at risk to delay pregnancy until conditions are more ideal.   Keywords: Premarital Health; Stunting; Town; Village.   Pendahuluan: Stunting di Indonesia masih memiliki prevalensi yang tinggi, yaitu 21,5% pada tahun 2023. Stunting ikut dipengaruhi oleh kondisi ibu sejak sebelum menikah. Namun, calon pengantin wanita cenderung memiliki kesadaran yang rendah akan pentingnya pencegahan stunting sejak dini. Kondisi kesehatan pranikah dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor, termasuk wilayah tempat tinggal yang memungkinkan adanya kondisi lingkungan fisik, sosial, dan ekonomi yang mempengaruhi. Tujuan: Untuk mengetahui apakah kategori wilayah tempat tinggal berhubungan dengan status calon pengantin wanita berisiko melahirkan anak stunting. Metode: Penelitian kuantitatif analitik menggunakan metode cross sectional, dilaksanakan pada bulan Juni-Juli 2024 di Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah. Teknik pengambilan sampel menggunakan total sampling dengan jumlah sampel yang digunakan sebanyak 3399 responden. Variabel independen dalam penelitian ini adalah wilayah tempat tinggal perdesaan dan perkotaan, sedangkan variable dependen adalah stunting. Analisis data yang digunakan univariate dalam bentuk distribusi frekuensi dan bivariate menggunakan chi square. Hasil: Uji chi square menunjukkan p-value 0.216 (>0.050). Artinya, tidak terdapat hubungan yang signifikan antara wilayah perdesaan dan perkotaan dengan risiko stunting pada calon pengantin wanita Simpulan: Status calon pengantin wanita oleh kategori berisiko melahirkan anak stunting, dan risiko tersebut tidak berbeda antara wilayah perdesaan maupun perkotaan. Edukasi pranikah dan kehamilan secara merata di seluruh wilayah, serta pendampingan bagi calon pengantin berisiko untuk menunda kehamilan hingga kondisinya lebih ideal.   Kata Kunci: Kesehatan Pranikah; Perdesaan; Perkotaan; Stunting.