cover
Contact Name
Teguh Pribadi
Contact Email
teguh@malahayati.ac.id
Phone
+6282282204653
Journal Mail Official
holistik@malahayati.ac.id
Editorial Address
Jalan Pramuka No.27 Kemiling Bandar Lampung -Indonesia.
Location
Kota bandar lampung,
Lampung
INDONESIA
Holistik Jurnal Kesehatan
Published by Universitas Malahayati
ISSN : 19783337     EISSN : 26207478     DOI : https://doi.org/10.33024/hjk.v18i10
Core Subject : Health,
Berisi kumpulan karya ilmiah dari peneliti diberbagai perguruan tinggi di Indonesia, di bidang ilmu kesehatan khususnya bidang ilmu keperawatan yang berdasarkan kepada kebutuhan pasien secara total meliputi: kebutuhan fisik, emosi, sosial, ekonomi dan spiritual. Adapun penelitiannya mencakup 4 aspek pokok, yakni: promotif, preventif, kuratif, dan rehabilitatif. Jurnal terbit setiap bulan dan artikel ditulis dalam bahasa Indonesia, untuk abstrak artikel ditulis dengan dua bahasa yaitu bahasa Inggris dan bahasa Indonesia.
Articles 329 Documents
Hubungan manajemen konflik dan komunikasi terhadap produktivitas kerja perawat Sambas, Purnama Sari Rezeki; Siregar, Farida Linda Sari; Nurhidayah, Rika Endah
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 19 No. 7 (2025): Volume 19 Nomor 7
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v19i7.990

Abstract

Background: The productivity of nurses in hospitals is an important factor that contributes to the quality of health services. In the era of globalization, nurses experience low productivity, which can be influenced by conflict management and communication factors. Purpose:To analyze the relationship between conflict management and communication and the productivity of nurses. Method: Quantitative research, using a cross-sectional method, was conducted at the Haji Makassar Regional General Hospital in May 2025. The sampling technique used probability sampling with a sample size of 70 respondents. The independent variables in this study were conflict management and communication, while the dependent variable was nurse work productivity. The data analysis used univariate in the form of frequency distribution and bivariate using Spearman's rank. Results: Showed a significant relationship between conflict management and nurse productivity with a p-value of 0.000 and a correlation coefficient of 0.494, which was positive and unidirectional. This means that the better the conflict management, the higher the productivity of nurses. Conflict management affects the productivity of nurses. Conclusion: Optimizing conflict management is an important factor in improving the performance of nursing staff. Through a constructive approach to conflict management, a more supportive work climate can be created, team collaboration can be improved, and the quality of patient care can be maintained.   Keywords: Conflict Management; Communication; Nurse; Productivity.   Pendahuluan: Produktivitas kerja perawat di rumah sakit merupakan faktor penting yang berkontribusi terhadap mutu pelayanan kesehatan. Era globalisasi perawat mengalami rendahnya produktivitas yang dapat dipengaruhi oleh faktor manajemen konflik dan komunikasi. Tujuan: Untuk menganalisis hubungan manajemen konflik dan komunikasi terhadap produktivitas kerja perawat. Metode: Penelitian kuantitatif, menggunakan metode cross sectional, dilaksakanan di Rumah Sakit Umum Daerah Haji Makassar pada bulan Mei 2025. Teknik pengambilan sampel menggunakan probability sampling dengan jumlah sampel yang digunakan sebanyak 70 responden. Variable independen dalam penelitian ini adalah manajemen konflik dan komunikasi, sedangkan variable dependen adalah produktivitas kerja perawat. Analisis data yang digunakan univariate dalam bentuk distribusi frekuensi dan bivariate menggunakan spearman rank. Hasil: Adanya hubungan yang signifikan antara manajemen konflik dan produktivitas kerja perawat dengan nilai p = 0.000 dan koefisien korelasi 0.494 yang bersifat positif dan searah. Artinya, semakin baik manajemen konflik dilakukan, maka semakin tinggi pula produktivitas kerja perawat. Manajemen konflik berpengaruh terhadap produktivitas kerja perawat. Simpulan: Optimalisasi manajemen konflik menjadi faktor penting dalam meningkatkan kinerja tenaga keperawatan. Melalui pendekatan pengelolaan konflik yang konstruktif, dapat tercipta iklim kerja yang lebih mendukung, meningkatkan kolaborasi tim, serta menjaga kualitas pelayanan kepada pasien.   Kata Kunci : Komunikasi; Manajemen Konflik; Produktivitas Kerja; Perawat.
Pengembangan deteksi tuberkulosis oral berbasis teknologi canggih: Kajian komperhensif atas inovasi terkini dalam meningkatkan akurasi dan efektivitas diagnosis serta pengendalian penularan tuberkulosis (TB) Qotrunnada, Salsabila; Putra, Bayu Taruna Widjaja; Syafriadi, Mei
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 19 No. 7 (2025): Volume 19 Nomor 7
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v19i7.1018

Abstract

Background: Unknowingly, many tuberculosis (TB) patients visit dentists for examinations. TB can be detected in dental practices, appearing as an oral manifestation that is rarely diagnosed without TB symptoms. Purpose: To describe the development of advanced technology-based oral tuberculosis detection: a comprehensive review of recent innovations to improve the accuracy and effectiveness of tuberculosis (TB) diagnosis and control. Method: This study is a narrative review aimed at providing a comprehensive understanding of oral tuberculosis (TB) detection and the role of advanced technologies, such as Artificial Intelligence (AI) and the Internet of Things (IoT), in improving diagnostic accuracy and effectiveness. This method was conducted by collecting and compiling various research findings, case reports, and scientific studies relevant to the topic of oral TB and technological innovation in the medical world. Results: This study found that asymptomatic TB is often found in some patients, but they complain of unusual changes in the oral cavity, such as ulcers, osteomyelitis, and sore throat. Conclusion: Diagnosing TB lesions and disease using the latest technology is fast, effective, and accurate to determine appropriate treatment immediately.   Keywords: Accuracy; Advanced Technology; Innovation; Oral Tuberculosis Detection; Tuberculosis.   Pendahuluan: Tanpa disadari, banyak pasien tuberculosis (TB) yang datang ke dokter gigi untuk memeriksakan diri. Penyakit TB dapat ditemukan di praktik dokter gigi yang muncul sebagai manifestasi oral yang jarang sekali terdiagnosis tanpa gejala TB. Tujuan: Untuk memaparkan pengembangan deteksi tuberkulosis oral berbasis teknologi canggih: kajian komperhensif atas inovasi terkini dalam meningkatkan akurasi dan efektivitas diagnosis serta pengendalian penularan tuberkulosis (TB). Metode: Penelitian ini merupakan sebuah ulasan naratif (narrative review) yang bertujuan untuk menyajikan pemahaman komperhensif mengenai deteksi tuberculosis (TB) oral serta peran teknologi canggih, seperti Artificial Intelligence (AI) dan Internet of Things (IoT), dalam meningkatkan akurasi dan efektivitas diagnosis. Metode ini dilakukan dengan mengumpulkan dan menyusun berbagai hasil penelitian, laporan kasus, serta kajian ilmiah yang relevan dengan topik TB oral dan inovasi teknologi dalam dunia medis. Hasil: Penelitian ini menemukan bahwa, TB asimtomatik sering ditemukan pada beberapa pasien, hanya saja mereka mengeluhkan adanya perubahan yang tidak biasa pada rongga mulut pasien, seperti ulkus, oesteomielitis, dan sakit tengggorokan. Simpulan: Diagnosis lesi dan penyakit TB menggunakan teknologi terkini secara cepat, efektif, dan akurat untuk menentukan pengobatan yang tepat dengan segera.   Kata Kunci: Akurasi; Deteksi Tuberculosis Oral; Inovasi; Teknologi Canggih; Tuberculosis.
Hubungan celebrity worship dengan perilaku modeling pada remaja penggemar k-pop Octavia, Nurul; Adiyanti, Maria Goretti
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 19 No. 7 (2025): Volume 19 Nomor 7
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v19i7.1019

Abstract

Background: Everyone has idolized a celebrity or public figure. According to the Great Dictionary of the Indonesian Language, a celebrity is a famous person, commonly referred to as an artist. A celebrity certainly has fans who support their career. Likewise, the country known as the Land of Ginseng is one of the most advanced countries, especially in the fields of technology and entertainment. South Korea's entertainment industry is not only renowned domestically but also internationally. This renowned entertainment industry encompasses music, drama, and fashion, which serve as role models for many fans. Purpose: To determine the relationship between celebrity worship and modeling behavior among adolescent K-pop fans. Method: Quantitative with a purposive sampling technique, with a total of 204 adolescents. Data analysis used Pearson's product-moment correlation. Two scales were used in this study: the celebrity worship scale and the modeling behavior scale. Results: There was a correlation of r = 0.803 with p = 0.000 (p <0.05), indicating a significant positive relationship between celebrity worship and modeling behavior. This means that if celebrity worship is high, modeling behavior is also high, and conversely, if celebrity worship is low, modeling behavior is also low. Conclusion: There is a relationship between celebrity worship and modeling behavior in adolescent K-pop fans.   Keywords: Adolescent K-pop Fans; Celebrity Worship; Modeling Behavior.   Pendahuluan: Semua orang pernah mengidolakan selebriti atau seorang public figure. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia selebriti merupakan seorang yang terkenal dan biasa disebut dengan artis. Seorang selebriti pastilah memiliki penggemar yang mendukung karir mereka. Begitu pula dengan negara yang terkenal dengan sebutan Negeri Ginseng, merupakan salah satu negara yang maju terkhususnya pada bidang teknologi dan dunia hiburan. Dunia hiburan Korea Selatan tidak hanya terkenal di dalam negeri namun juga sampai ke luar negeri. Dunia hiburan yang terkenal tersebut adalah segi musik, drama, hingga fashion yang menjadi banyak panutan bagi sebagian besar penggemar. Tujuan: Untuk mengetahui bagaimana hubungan antara celebrity worship dan perilaku modeling pada remaja penggemar K-pop. Metode: Kuantitatif dengan teknik purposive sampling, dengan total 204 remaja. Metode analisis data menggunakan korelasi product moment dari Pearson. Terdapat dua skala yang digunakan dalam penelitian ini, yaitu skala celebrity worship dan skala perilaku modeling. Hasil: Terdapat korelasi sebesar r = 0.803 dengan p = 0.000 (p<0.05), terdapat hubungan yang signifikan positif antara celebrity worship dan perilaku modeling. Artinya bila celebrity worship tinggi maka perilaku modeling juga tinggi, sebaliknya jika celebrity worship rendah maka perilaku modeling juga rendah. Simpulan: Terdapat hubungan celebrity worship dengan perilaku modeling pada remaja penggemar K-pop.   Kata Kunci: Celebrity Worship; Perilaku Modeling; Remaja Penggemar K-Pop.
Intervensi keperawatan untuk mengatasi kecemasan anak pada fase pemulihan pascabencana Gustiani, Ajeng; Ariestanti, Nurrachma; Izzany, Raden Maghfira; Nurani, Rai; Safitri, Helni Yusriya; Situmorang, Gantiar Marsaulina; Nuraeni, Aan; Trisyani, Yanny
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 19 No. 7 (2025): Volume 19 Nomor 7
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v19i7.1034

Abstract

Background: Children are the most vulnerable group to the impacts of disasters, including disruptions to their physical and mental health. A common psychological effect is anxiety, which can develop into post-traumatic stress disorder (PTSD), depression, and prolonged trauma. Nurses play a crucial role in providing interventions to help reduce post-disaster anxiety in children. Purpose: Identify and explore nursing interventions that have been proven effective in reducing anxiety among children in post-disaster situations. Method: A scoping review method following the PCC (Population, Concept, Context) framework. Literature searches were conducted in the PubMed, Scopus, EBSCOhost, and Science Direct databases, covering publications from 2015 to 2025. Only experimental study designs (Randomized Controlled Trials and quasi-experimental studies) focusing on nursing interventions for post-disaster anxiety in children were included. Articles were selected using PRISMA guidelines and assessed using the Joanna Briggs Institute (JBI) Critical Appraisal Tools. Results: 8,114 identified articles, seven met the inclusion criteria and were further analyzed. The findings indicate that various nursing interventions effectively reduce post-disaster anxiety in children, including Cognitive Behavioral Therapy (CBT), Trauma-Focused CBT (TF-CBT), thought-stopping therapy, Eye Movement Desensitization and Reprocessing (EMDR), technology-based interventions (Bounce Back Now), and micronutrient supplementation. Studies suggest that technology-based and brief interventions can reach a wider population at a lower cost, while nutrition-based interventions provide additional benefits in reducing anxiety and improving psychosocial functioning. Conclusion: Nursing interventions such as CBT, technology-based approaches, and micronutrient supplementation are effective in managing post-disaster anxiety in children. Additionally, micronutrient supplementation can serve as a complementary intervention to support children's recovery.   Keywords: Anxiety; Children; Nursing Interventions; Post-Disaster.   Pendahuluan: Anak merupakan kelompok paling rentan terhadap dampak bencana, termasuk gangguan kesehatan fisik dan mental. Dampak psikologis yang sering terjadi adalah kecemasan, yang dapat berkembang menjadi gangguan stres pasca trauma (PTSD), depresi, dan trauma berkepanjangan. Perawat memiliki peran penting dalam memberikan intervensi yang dapat membantu mengurangi kecemasan anak pascabencana. Tujuan: Untuk mengidentifikasi dan mengeksplorasi intervensi keperawatan yang telah terbukti efektif dalam mengurangi kecemasan pada anak-anak pascabencana. Metode: Scoping review dengan mengikuti kerangka kerja PCC (Population, Concept, Context). Pencarian literatur dilakukan di database PubMed, Scopus, EBSCOhost, dan Science Direct dengan rentang tahun 2015–2025. Hanya artikel dengan desain penelitian eksperimental (Randomized Controlled Trial dan quasi-eksperimental) yang berfokus pada intervensi keperawatan dalam mengatasi kecemasan anak pascabencana. Artikel diseleksi menggunakan pedoman PRISMA dan dinilai menggunakan Joanna Briggs Institute (JBI) Critical Appraisal Tools. Hasil: Sebanyak 8,114 artikel yang diidentifikasi, 7 artikel memenuhi kriteria inklusi dan dianalisis lebih lanjut. Berbagai intervensi keperawatan efektif dalam mengurangi kecemasan anak pascabencana, termasuk terapi kognitif perilaku (CBT), trauma-focused CBT (TF-CBT), terapi penghenti pikiran, desensitisasi gerakan mata dan pemrosesan ulang (EMDR), intervensi berbasis teknologi (Bounce Back Now), serta suplementasi mikronutrien. Studi menunjukkan intervensi berbasis teknologi dan terapi singkat dapat menjangkau populasi yang lebih luas dengan biaya lebih rendah, sementara intervensi berbasis nutrisi memberikan manfaat tambahan dalam mengurangi kecemasan dan meningkatkan fungsi psikososial. Simpulan: Intervensi keperawatan seperti CBT, teknologi, dan suplementasi mikronutrien efektif mengatasi kecemasan anak pascabencana. Selain itu, suplementasi mikronutrien dapat digunakan sebagai intervensi tambahan untuk mendukung pemulihan anak.   Kata Kunci: Anak-anak; Intervensi Keperawatan; Kecemasan; Pascabencana.
Efektivitas terapi self-help group dalam mengurangi gejala eksternalisasi pada remaja Pramudianingtias, Ajeng; Arfianto, Muhammad Ari; Salsa, Sefira Khoirotus; Sari, Amelia Wulan; Purbaningrum, Setia; Utomo, Rafika Azzahra Salsabila; Rahayu, Nanda Putri
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 19 No. 7 (2025): Volume 19 Nomor 7
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v19i7.1043

Abstract

Background: Mental health issues have become a serious concern worldwide, especially mental health issues among adolescents. This study aims to determine the effect of Self-help Groups (SHGs) on symptoms of externalizing disorders in adolescents. Purpose: To analyze the effect of Self-help Group therapy on symptoms of externalizing disorders in adolescents Method: This quantitative study used a one-group pre-post-test method and was conducted from April to August 2024 at Junior High School X in Malang Regency, East Java. The sampling technique used total sampling with a sample size of 76 respondents. The independent variable in this study was Self-Help Group therapy, while the dependent variable was the reduction in externalizing symptoms. Data analysis used univariate data in the form of frequency distributions and bivariate data using the Wilcoxon test. Results: Statistical tests showed p = 0.005 (< 0.05), so it can be concluded that SHG therapy has a significant effect on reducing externalization symptoms in adolescents. Conclusion: The effects of SHG provided and carried out directly by selected and trained cadres can reduce externalization symptoms in schools. The reduction in externalization symptoms in this study is in line with social learning theory, where the atmosphere, environment, conditions, and learning behavior can influence a person's behavior with definition.   Keywords: Adolescents; Effectiveness; Externalization Symptoms; Self-Help Group (SHG).   Pendahuluan: Masalah kesehatan mental telah menjadi masalah yang cukup memprihatinkan di seluruh dunia, terutama masalah kesehatan mental pada remaja. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh Self-help Group (SHG) terhadap gejala gangguan eksternalisasi pada remaja. Tujuan: Untuk menganalisis efek terapi self-help group terhadap gejala gangguan eksternalisasi pada remaja Metode: Penelitian kuantitatif menggunakan metode pre-post-test one group, dilaksanakan pada April-Agustus 2024 di SMP X di Kabupaten Malang, Jawa Timur. Teknik pengambilan sampel menggunakan total sampling dengan jumlah sampel yang digunakan sebanyak 76 responden. Variabel independen dalam penelitian ini adalah terapi Self-help Group, sedangkan variabel dependen adalah penurunan gejala eksternalisasi. Analisis data yang digunakan univariate dalam bentuk distribusi frekuensi dan bivariat menggunakan Wilcoxon test. Hasil: Uji statistik menunjukkan p = 0.005 (< 0.05), sehingga dapat disimpulkan bahwa terapi SHG berpengaruh signifikan terhadap penurunan gejala eksternalisasi pada remaja. Simpulan: Efek SHG yang diberikan dan dilakukan secara langsung oleh kader yang telah dipilih dan dilatih dapat mengurangi gejala eksternalisasi di sekolah. Penurunan gejala eksternalisasi dalam penelitian sejalan dengan teori pembelajaran sosial, di mana suasana, lingkungan, kondisi dan perilaku belajar dapat mempengaruhi perilaku seseorang dengan definisi. Kata Kunci: Efektivitas; Gejala Eksternalisasi; Remaja; Self-Help Group (SHG).
Penggunaan inovasi teknologi dalam perawatan di ruang intensif care unit: A literatur review Mufimah, Mufimah; Monica, Rica; Firmansyah, Dedy; Kamaluddin, Ridlwan
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 19 No. 7 (2025): Volume 19 Nomor 7
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v19i7.1047

Abstract

Background: Although the development of technology in health care in Indonesia has progressed, the application of technology in the ICU is still relatively limited. According to the Indonesian Ministry of Health (2024), several large hospitals in Jakarta and other big cities have implemented electronic-based patient data management systems and remote monitoring. However, it cannot be denied that there are still many hospitals in the regions that have not utilized technology optimally. Purpose: To analyze the use of technological innovation in intensive care unit care. Method:This research is a literature study with the PRISMA approach. Systematic review using PICO. The search databases used were PubMed/NCBI, Scopus and Sciencedirect with the keywords Innovation AND Technology AND Intensive Care Unit. Results: The types of technological innovations used in intensive care unit care are educational multimedia tools designed to improve ICU nurses' compliance with infection prevention and control practices, an intensive care telemedicine (tele-ICU) program called ERIC (Enhanced Recovery after Intensive Care), Ultrasonic technique Combination of Out-of-Plane Orientation and In-Plane Guidance for radial artery cannulation especially in shock patients in ICU, Virtual Reality (VR) to support the development of clinical decision-making skills, Remotely Tele-mentored Ultrasound (RTMUS) telemedicine to perform ultrasonography remotely. And each type of innovation technology used is significantly influential or effective according to the dependent variable measured. Conclusion: The use of technological innovation in intensive care unit care has been proven to provide benefits in all aspects, starting from infection prevention, quality indicators, and decision making.   Keywords: Innovation; Intensif Care Unit (ICU); Technology.   Pendahuluan: Perkembangan teknologi dalam perawatan kesehatan di Indonesia telah mengalami kemajuan, namun penerapan teknologi di ICU masih tergolong terbatas. Menurut Kemenkes RI (2024), beberapa rumah sakit besar di Jakarta dan kota-kota besar lainnya telah menerapkan sistem manajemen data pasien berbasis elektronik dan pemantauan jarak jauh. Namun tak dapat dipungkiri masih banyak rumah sakit di daerah yang belum memanfaatkan teknologi dengan optimal. Tujuan: Untuk menganalisis penggunaan  inovasi teknologi dalam perawatan di ruang intensif care unit. Metode: Penelitian literatur review dengan  pendekatan Preferred  Reporting  Items  for  Systematic  Reviews  and Meta-Analyses (PRISMA) dan menggunakan PICO. Database pencarian yang digunakan adalah pubmed/NCBI, Scopus,dan  Sciencedirect dengan  kata  kunci  "(Innovation) AND (Technology) AND (Intensif Care Unit)” Hasil: Jenis inovasi teknologi yang digunakan dalam perawatan di ruang intensif care unit yakni alat multimedia edukatif yang dirancang untuk meningkatkan kepatuhan perawat ICU terhadap praktik pencegahan dan pengendalian infeksi, program telemedis perawatan intensif (tele-ICU) bernama ERIC (Enhanced Recovery after Intensive Care), teknik Ultrasonik Kombinasi Out-of-Plane Orientation dan In-Plane Guidance untuk kanulasi arteri radial khususnya pada pasien syok di ICU, Virtual Reality (VR) untuk mendukung pengembangan kemampuan pengambilan keputusan klinis, Remotely Tele-mentored Ultrasound (RTMUS) telemedicine untuk melakukan ultrasonografi dari jarak jauh. Serta setiap jenis teknologi inovasi yang digunakan memberikan pengaruh atau efektif secara signifikan sesuai dengan variabel dependen yang diukur. Simpulan: Penggunaan inovasi teknologi dalam perawatan di ruang Intemsif care unit terbukti dapat memberikan manfaat pada segala aspek mula dari pencegahan infeksi, indicator mutu, dan pengambilan keputusan.   Kata Kunci: Intensif Care Unit (ICU); Inovasi ;Teknologi.
Hubungan koping religius dengan tingkat depresi pada mahasiswa kedokteran tahun pertama Wulandari, Putri; Kusuma, Wijaya; Setyaningrum, Rohmaningtyas Hidayah
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 19 No. 7 (2025): Volume 19 Nomor 7
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v19i7.1059

Abstract

Background: First-year medical students face various stressors that make them vulnerable to depression. Individuals can use various coping strategies, one of which is religious coping, this approach involves utilizing religious beliefs to overcome life's difficulties and manage stress. Purpose: To explore the relationship between religious coping and depression among first-year medical students. Method: This quantitative study used a cross-sectional method and was conducted in March 2023 at the Faculty of Medicine, Sebelas Maret University. The sampling technique used total sampling with a sample size of 199 respondents. The independent variable in this study was religious coping, while the dependent variable was the level of depression. The data analysis used univariate in the form of frequency distribution and bivariate using Spearman's rank correlation. Results: The results of the analysis show that there is no significant relationship between positive religious coping and depression (p = 0.352; r = -0.066), while negative religious coping is significantly related to depression (p = 0.000; r = 0.333). The higher the level of negative religious coping, the higher the level of depression. Conclusion: No significant relationship was found between positive religious coping and depression, possibly influenced by other factors that affect individual religiosity, and there was a significant relationship between negative religious coping and depression.   Keywords: Depression; Medical Students; Religious Coping.   Pendahuluan: Mahasiswa kedokteran tahun pertama menghadapi berbagai stresor yang membuat mereka rentan mengalami depresi. Individu dapat menggunakan berbagai strategi koping, salah satunya adalah koping religius , pendekatan ini melibatkan pemanfaatan keyakinan agama untuk menghadapi kesulitan hidup dan mengelola stres. Tujuan: Untuk mengeksplorasi hubungan antara koping religius  dan depresi di kalangan mahasiswa kedokteran tahun pertama. Metode: Penelitian kuantitatif menggunakan metode cross sectional, dilaksanakan pada bulan Maret 2023 di Fakultas Kedokteran Universitas Sebelas Maret. Teknik pengambilan sampel menggunakan total sampling dengan jumlah sampel yang digunakan sebanyak 199 responden. Variabel independen dalam penelitian ini adalah koping religius, sedangkan variabel dependen adalah tingkat depresi. Analisis data yang digunakan univariate dalam bentuk distribusi frekuensi dan bivariate menggunakan spearman rank. Hasil: Hasil analisis menunjukkan bahwa tidak terdapat hubungan signifikan antara koping religius positif dengan depresi (p = 0.352; r = -0.066), sedangkan pada koping religius negatif ditemukan hubungan yang signifikan dengan depresi (p = 0.000; r = 0.333). Semakin tinggi tingkat koping religius negatif, semakin tinggi pula tingkat depresi. Simpulan: Tidak ditemukan hubungan signifikan antara koping religius positif dan depresi, kemungkinan dipengaruhi oleh faktor lain yang memengaruhi religiusitas individu dan terdapat hubungan signifikan antara koping religius negatif dan depresi.   Kata Kunci: Depresi; Koping Religius; Mahasiswa Kedokteran.
Efektivitas bahan oral care dalam upaya pencegahan ventilator-associated pneumonia (VAP) pada pasien kritis: A systematic review Utami, Mega; Martanti, Yuniar Dwi; Rukhayati, Yati; Umarmono, Umarmono; Kamaluddin, Ridlwan
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 19 No. 7 (2025): Volume 19 Nomor 7
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v19i7.1075

Abstract

Background: The most common nosocomial infection in Intensive Care Unit (ICU) patients on mechanical ventilators is ventilator-associated pneumonia (VAP). One recommended prevention strategy is oral care. However, the effectiveness of various oral care materials in preventing VAP remains unclear. Purpose: To assess the effectiveness of oral care materials in preventing ventilator-associated pneumonia (VAP) in critically ill patients. Method: This systematic review followed PRISMA guidelines. Articles were retrieved from PubMed, ScienceDirect, and Google Scholar databases published between 2014 and 2025. Included articles were RCTs or quasi-experimental studies that addressed oral care interventions in ventilator patients. Quality assessment was performed using CASP-JBI. Results: Based on the 10 articles reviewed, oral care materials used included chlorhexidine, hydrogen peroxide, orthodentol, lactoperoxidase, and probiotics. Oral care techniques included brushing and rinsing, performed two to three times daily. Most studies have shown a reduction in the incidence of VAP in the intervention group. Conclusion: Oral care is effective in preventing VAP, especially when performed regularly with appropriate techniques and materials. The combination of toothbrushing and antiseptics such as chlorhexidine has been shown to be optimal in reducing the risk of VAP.   Keywords: Critically Patients; Oral Care; Ventilator-Associated Pneumonia (VAP).   Pendahuluan: Infeksi nosokomial yang paling sering terjadi pada pasien di Intensive Care Unit (ICU) yang menggunakan ventilator mekanik adalah ventilator-associated pneumonia (VAP). Salah satu strategi pencegahan yang direkomendasikan adalah oral care. Namun, efektivitas berbagai bahan yang digunakan dalam oral care terhadap pencegahan VAP masih belum disepakati secara luas. Tujuan: Untuk mengkaji efektivitas bahan oral care dalam upaya pencegahan ventilator-associated pneumonia (VAP) pada pasien kritis. Metode: Penelitian systematic review yang mengikuti pedoman PRISMA. Artikel diperoleh dari database PubMed, ScienceDirect, dan Google Scholar dengan tahun terbit 2014–2025. Artikel yang disertakan adalah penelitian RCT atau quasi eksperimen yang membahas intervensi oral care pada pasien ventilator. Penilaian kualitas menggunakan CASP-JBI. Hasil: Berdasarkan 10 artikel yang dikaji, bahan oral care yang digunakan meliputi chlorhexidine, hydrogen peroxide, orthodentol, lactoperoxidase, dan probiotik. Teknik oral care yang digunakan antara lain brushing dan rinsing dengan frekuensi dua hingga tiga kali per hari. Sebagian besar studi menunjukkan penurunan kejadian VAP pada kelompok intervensi. Simpulan: Oral care efektif mencegah VAP, khususnya jika dilakukan secara teratur dengan teknik dan bahan yang tepat. Kombinasi brushing dan antiseptik seperti chlorhexidine terbukti paling optimal dalam menurunkan risiko VAP.   Kata Kunci: Oral Care; Pasien Kritis; Ventilator-Associated Pneumonia (VAP).
Peran suplementasi asam folat pada masa kehamilan sebagai strategi preventif terhadap risiko neural tube defects Kinasih, Prananingrum; Jannah, Miftahul; Zetta, Adelia Paradya; Anshari, Alfirqan; Walter, Beatrice Cynthia
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 19 No. 7 (2025): Volume 19 Nomor 7
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v19i7.1082

Abstract

Background: Neural tube defects (NTDs) are congenital abnormalities of the central nervous system that result from failure of the neural tube to close during embryonic development. They can cause permanent disability or death, and are a significant public health problem, especially in developing countries. Purpose: To review the role of folic acid supplementation during pregnancy as a preventive strategy against the risk of neural tube defects. Method: This study was a literature review using the narrative method. Selected articles published between 2020 and 2025 were reviewed, obtained from PubMed and ScienceDirect databases. Results: Folic acid consumption of 400 microgram per day can reduce the risk of NTDs by 50-70%. However, public compliance with folic acid consumption remains low due to lack of awareness, limited access, and lack of mandatory fortification policies in many countries. In addition, education and socioeconomic factors affect the level of knowledge and supplement consumption. Conclusion: Folic acid supplementation is an effective preventive strategy in reducing the incidence of NTDs. In addition to preventing NTDs, folic acid supplementation during pregnancy can reduce the risk of pregnancy complications and support fetal development.   Keywords: Folic Acid; Neural Tube Defects; Pregnancy; Supplementation.   Pendahuluan: Neural Tube Defects (NTD) adalah kelainan bawaan pada sistem saraf pusat yang terjadi akibat kegagalan penutupan tabung saraf selama perkembangan embrio. Kelainan ini dapat menyebabkan kecacatan permanen atau kematian, dan menjadi masalah kesehatan masyarakat yang signifikan, terutama di negara berkembang. Tujuan: Untuk mereview peran suplementasi asam folat pada masa kehamilan sebagai strategi preventif terhadap risiko neural tube defects (NTD). Metode: Penelitian ini merupakan literature review dengan metode naratif. Dikaji beberapa artikel terpilih yang dipublikasikan antara tahun 2020 hingga 2025, diperoleh dari basis data PubMed dan ScienceDirect. Hasil: Menunjukkan bahwa konsumsi asam folat sebesar 400 mikrogram per hari dapat menurunkan risiko NTD hingga 50-70%. Namun, tingkat kepatuhan masyarakat terhadap konsumsi asam folat masih rendah karena kurangnya kesadaran, akses terbatas, dan minimnya kebijakan fortifikasi wajib di banyak negara. Selain itu, faktor pendidikan dan sosial ekonomi memengaruhi tingkat pengetahuan dan konsumsi suplemen. Simpulan: Suplementasi asam folat merupakan strategi preventif yang efektif dalam menurunkan angka kejadian NTD. Selain dapat mencegah NTD, suplementasi asam folat pada masa kehamilan dapat menurunkan risiko komplikasi kehamilan dan mendukung perkembangan janin.   Kata Kunci: Asam Folat; Kehamilan; Neural Tube Defects; Suplementasi.
Faktor-faktor yang berhubungan dengan proses penyembuhan luka pada pasien post op appendectomy Kurniawan, Fajri; Ashra, Fauzi; Husna, Elfira
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 19 No. 7 (2025): Volume 19 Nomor 7
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v19i7.1086

Abstract

Background: Appendictomy is an abdominal surgery due to inflammation of the appendix. The importance of taking care of post appendectomy patients is to help the wound healing process, reduce the risk of infection in the wound and prevent post appendectomy complications. Many factors affect the wound healing process in post appendectomy patients such as age, anemia, comorbidities, vascularization, obesity nutrition, drugs, smoking, early mobilization, personal hygiene and stress. Purpose: To knowing the factors that influence the wound healing process in post appendectomy patients Method: An analytic observational using a cross sectional approach, namely data collection of independent and dependent variables is carried out simultaneously. The sampling technique in this study was total sampling with a sample size of 50. This research was conducted in 3 hospitals in Pasaman, West Sumatra Province, namely in the Surgical Inpatient Room of TIB Hospital, Ibnu Sina Panti, and Tuanku Rao Pasaman Hospital. The analysis used was bivariate analysis with Chi-square test and Multivariate Analysis with multiple logistic regression. Results: Nutritional factors had a significant relationship with the post appendectomy wound healing process with a p value (0.013), the early mobilization factor also had a significant relationship with post appendectomy wound healing with a p value (0.021) and the anemia factor also had a significant relationship with the post appendectomy wound healing process with a p value (0.016). However, there was one factor that did not have a significant relationship with the post appendectomy wound healing process, namely the wound hygiene factor. Multivariate results showed that the most dominant factor influencing the post appendectomy wound healing process was anemia. Conclusion: Factors influencing the post-appendectomy wound healing process include nutritional status, wound hygiene, early mobilization, and anemia. Anemia is the most dominant factor. Implementing Orem's self-care model can significantly impact the nursing process, particularly in post-appendectomy cases, in addressing daily needs.   Keywords: Appendectomy; Wound Healing Factors; Wound Healing Process.   Pendahuluan: Apendektomi merupakan tindakan pembedahan abdomen akibat terjadinya peradangan pada apendiks. Perawatan pasien pasca apendektomi sangat penting untuk membantu proses penyembuhan luka, mengurangi risiko infeksi, serta mencegah terjadinya komplikasi. Terdapat banyak faktor yang memengaruhi proses penyembuhan luka pada pasien pasca apendektomi, antara lain usia, anemia, komorbiditas, vaskularisasi, obesitas, nutrisi, penggunaan obat-obatan, kebiasaan merokok, mobilisasi dini, personal hygiene, dan stres. Tujuan: Untuk mengetahui faktor-faktor yang memengaruhi proses penyembuhan luka pada pasien pasca post op appendectomy. Metode: Penelitian observasional analitik dengan pendekatan cross sectional, yaitu pengumpulan data variabel independen dan dependen dilakukan secara bersamaan. Teknik pengambilan sampel menggunakan total sampling dengan jumlah sampel sebanyak 50 responden. Penelitian dilaksanakan di tiga rumah sakit di Kabupaten Pasaman, Provinsi Sumatera Barat, yaitu di Ruang Rawat Inap Bedah RS TIB, RS Ibnu Sina Panti, dan RS Tuanku Rao Pasaman. Analisis data menggunakan analisis bivariat dengan uji Chi-square serta analisis multivariat dengan regresi logistik ganda. Hasil: Faktor nutrisi memiliki hubungan signifikan dengan proses penyembuhan luka pasca apendektomi dengan nilai p = 0.013. Faktor mobilisasi dini juga menunjukkan hubungan signifikan dengan nilai p = 0.021, demikian pula faktor anemia dengan nilai p = 0.016. Namun, faktor kebersihan luka tidak memiliki hubungan yang signifikan terhadap proses penyembuhan luka pasca apendektomi. Hasil analisis multivariat menunjukkan bahwa faktor yang paling dominan memengaruhi penyembuhan luka pasca apendektomi adalah anemia. Simpulan: Faktor yang memengaruhi proses penyembuhan luka post appendectomy adalah status gizi, kebersihan luka, mobilisasi dini dan anemia. Sementara faktor yang paling dominan adalah faktor anemia. Penerapan model self-care orem dapat memberikan efek yang signifikan terhadap proses keperawatan secara khusus pada kasus pasca operasi appendektomi dalam mengatasi masalah pemenuhan kebutuhan sehari-hari.   Kata Kunci: Appendectomy; Faktor Penyembuhan Luka; Proses Penyembuhan Luka.