cover
Contact Name
Teguh Pribadi
Contact Email
teguh@malahayati.ac.id
Phone
+6282282204653
Journal Mail Official
holistik@malahayati.ac.id
Editorial Address
Jalan Pramuka No.27 Kemiling Bandar Lampung -Indonesia.
Location
Kota bandar lampung,
Lampung
INDONESIA
Holistik Jurnal Kesehatan
Published by Universitas Malahayati
ISSN : 19783337     EISSN : 26207478     DOI : https://doi.org/10.33024/hjk.v18i10
Core Subject : Health,
Berisi kumpulan karya ilmiah dari peneliti diberbagai perguruan tinggi di Indonesia, di bidang ilmu kesehatan khususnya bidang ilmu keperawatan yang berdasarkan kepada kebutuhan pasien secara total meliputi: kebutuhan fisik, emosi, sosial, ekonomi dan spiritual. Adapun penelitiannya mencakup 4 aspek pokok, yakni: promotif, preventif, kuratif, dan rehabilitatif. Jurnal terbit setiap bulan dan artikel ditulis dalam bahasa Indonesia, untuk abstrak artikel ditulis dengan dua bahasa yaitu bahasa Inggris dan bahasa Indonesia.
Articles 329 Documents
Pendidikan pranikah sebagai upaya pencegahan risiko reproduksi dan pendewasaan usia nikah: A scoping review Yulinda, Dwi; Anggawijayanto, Erydani; Ekawati, Ekawati; Sunarsih, Tri; Astuti, Endah Puji; Shanti, Elvika Fit Ari
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 19 No. 8 (2025): Volume 19 Nomor 8
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v19i8.1035

Abstract

Background: Early marriage remains a global challenge that negatively impacts reproductive health and the quality of human resources. In Indonesia, the high rate of child marriage is an obstacle to achieving superior, healthy, and competitive human resources. Purpose: To examine premarital education as an effort to prevent reproductive risks and to promote maturity at marriageable age. Method: A systematic literature review using the Population, Concept, Context (PCC) framework was conducted. The literature was searched through databases such as PubMed and Google Scholar for articles relevant to premarital education and reproductive health from 2018–2025. Results: Of the eight studies analyzed, premarital education was proven effective in increasing brides' knowledge about reproductive health, nutrition, and marriage readiness. Interventions included classes at religious affairs offices, school education, community seminars, and participatory models such as FOCUS–PDCA. Key barriers included cultural resistance, limited facilitators, and lack of contextual materials. Conversely, policy support, collaborative approaches, and interactive educational methods were important supporting factors. Conclusion: Premarital education has significant potential to reduce early marriage rates and improve the reproductive readiness of young couples. Adaptive implementation, based on local culture, and integrated with behavior change communication strategies, is essential for long-term effectiveness. Suggestion: Premarital education can be developed in a more adaptive and contextual manner by integrating participatory approaches, based on local culture, and easily accessible digital media. The program needs to be strengthened with behavior change communication strategies so that increased knowledge leads to changes in attitudes and actions.   Keywords: Early Marriage; Premarital Education; Reproductive Health.   Pendahuluan: Perkawinan usia dini masih menjadi tantangan global yang berdampak negatif terhadap kesehatan reproduksi dan kualitas sumber daya manusia. Di Indonesia, tingginya angka pernikahan anak menjadi salah satu hambatan dalam mencapai pembangunan SDM unggul, sehat, dan berdaya saing. Tujuan: Untuk mengkaji pendidikan pranikah sebagai upaya pencegahan risiko reproduksi dan pendewasaan usia nikah. Metode: Penelitian literatur sistematis dengan pendekatan scoping review, menggunakan kerangka kerja PCC (Population, Concept, Context). Literatur dicari melalui database seperti PubMed dan Google Scholar untuk artikel tahun 2018–2025 yang relevan dengan pendidikan pranikah dan kesehatan reproduksi. Hasil: Dari 8 studi yang dianalisis, pendidikan pranikah terbukti efektif meningkatkan pengetahuan calon pengantin tentang kesehatan reproduksi, gizi, dan kesiapan pernikahan. Intervensi dilakukan dalam bentuk kelas KUA, edukasi sekolah, seminar komunitas, hingga model partisipatif seperti FOCUS–PDCA. Hambatan utama mencakup resistensi budaya, keterbatasan fasilitator, dan materi kurang kontekstual. Sebaliknya, dukungan kebijakan, pendekatan kolaboratif, dan metode edukatif interaktif menjadi faktor pendukung penting. Simpulan: Pendidikan pranikah berpotensi besar dalam menurunkan angka pernikahan usia dini dan meningkatkan kesiapan reproduksi pasangan muda. Implementasi yang adaptif, berbasis budaya lokal, dan terintegrasi dengan strategi komunikasi perubahan perilaku sangat dibutuhkan untuk efektivitas jangka panjang. Saran: Pendidikan pranikah dapat dikembangkan secara lebih adaptif dan kontekstual dengan mengintegrasikan pendekatan partisipatif, berbasis budaya lokal, dan media digital yang mudah diakses. Program perlu diperkuat dengan strategi komunikasi perubahan perilaku agar peningkatan pengetahuan berlanjut pada perubahan sikap dan tindakan.   Kata Kunci: Kesehatan Reproduksi; Pendidikan Pranikah; Pernikahan Dini.
Efektivitas baby spa dalam meningkatkan kualitas tidur dan frekuensi menyusui pada bayi 3-6 bulan Andriani, Rezah; Anggarini, Inge Anggi
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 19 No. 8 (2025): Volume 19 Nomor 8
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v19i8.1161

Abstract

Background: Infancy is a golden period for child growth and development, requiring special attention. Factors influencing infant growth include rest and nutrition patterns. Therefore, adequate sleep and nutrition needs must be met to prevent adverse impacts on future growth. One way to improve sleep and breastfeeding quality is through baby spa treatments. Purpose: To determine the effectiveness of baby spa treatments in improving sleep quality and breastfeeding frequency in infants aged 3-6 months. Method: This quantitative study used a quasi-experimental design with a pre-post test and control group design. The study was conducted at the Fauziah Hatta Independent Midwife Practice in Palembang from December 2024 to May 2025. The study sample consisted of infants aged 3-6 months who met the inclusion and exclusion criteria. There were 30 participants in the intervention group and 30 participants in the control group. Results: Based on the Wilcoxon test, there was a significant difference between infant sleep quality and breastfeeding frequency before and after the intervention in the intervention group (p<0.05). However, in the control group, there was no significant difference between infant sleep quality before and after (p>0.05). Meanwhile, there was a significant difference in infant breastfeeding frequency before and after (p<0.05). Conclusion: Baby spa is effective in improving infant sleep quality and sleep duration. Furthermore, baby spa is also effective in increasing breastfeeding frequency and duration in infants aged 3-6 months. Suggestion: Baby spa can be implemented in infants aged 3-6 months to improve sleep quality, sleep duration, breastfeeding frequency, and breastfeeding duration. Future research can conduct long-term evaluations and further development to determine the long-term impact of baby spa interventions on infant growth and development, as well as create app-based self-learning tools for parents.   Keywords: Baby Spa; Breastfeeding Frequency; Sleep Quality.   Pendahuluan: Periode bayi merupakan periode emas untuk pertumbuhan dan perkembangan anak, sehingga perlu mendapatkan perhatian khusus. Faktor yang memengaruhi pertumbuhan bayi adalah pola istirahat dan nutrisi bayi, maka kebutuhan tidur dan nutrisi harus benar-benar terpenuhi agar tidak berpengaruh buruk terhadap pertumbuhannya di masa yang akan datang. Salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk membantu meningkatkan kualitas tidur dan menyusui bayi adalah dengan memberikan perawatan baby spa. Tujuan: Untuk mengetahui efektivitas baby spa dalam meningkatkan kualitas tidur dan frekuensi menyusui pada bayi 3-6 bulan. Metode: Penelitian kuantitatif menggunakan desain quasi eksperimen dengan jenis pre-post test control group design. Penelitian dilakukan di wilayah kerja Praktik Mandiri Bidan Fauziah Hatta Palembang dan dilaksanakan pada bulan Desember 2024 - Mei 2025. Sampel dalam penelitian ini adalah bayi usia 3-6 bulan yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi yang berjumlah 30 partisipan pada kelompok intervensi dan 30 pada kelompok kontrol. Hasil: Berdasarkan uji Wilcoxon, pada kelompok intervensi ditemukan perbedaan yang bermakna antara kualitas tidur bayi dan frekuensi menyusui bayi sebelum dan sesudah intervensi (p<0.05). Namun, pada kelompok kontrol tidak terdapat perbedaan yang bermakna antara kualitas tidur bayi sebelum dan sesudah (p>0.05). Sementara   frekuensi menyusui bayi justru ditemukanperbedaan yang bermakna sebelum dan sesudah (p<0.05). Simpulan: Baby spa efektif dalam meningkatkan kualitas tidur bayi dan durasi tidur bayi. Selain itu, juga efektif dalam meningkatkan frekuensi dan durasi menyusui bayi 3-6 bulan.    Saran: Baby spa dapat diterapkan pada bayi 3-6 bulan untuk meningkatkan kualitas tidur, durasi tidur, frekuensi menyusui, dan durasi menyusui bayi. Penelitian selanjutnya dapat melakukan evaluasi jangka panjang dan pengembangan lanjutan untuk melihat dampak jangka panjang dari intervensi baby spa terhadap pertumbuhan dan perkembangan bayi serta membuat media pembelajaran mandiri untuk orang tua berbasis aplikasi.   Kata Kunci: Baby Spa; Frekuensi Menyusui; Kualitas Tidur.
Pendampingan kader kesehatan dengan metode home visit terhadap percepatan pemulihan fisik dan psikologis ibu nifas Qardhawijayanti, Suci; Hasriani, Siti; Dirman, Rezki; Asnuddin, Asnuddin
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 19 No. 8 (2025): Volume 19 Nomor 8
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v19i8.1162

Abstract

Background: The puerperium is a crucial period in the recovery of the mother's physical and psychological condition after childbirth. Appropriate assistance during this period is needed to prevent complications and support the recovery process. One potential approach is the home visit method by health cadres. Purpose: To analyze the effect of health cadre assistance through the home visit method on accelerating the physical and psychological recovery of postpartum women. Method: A quasi-experimental design with a pre-test and post-test approach in two groups, namely the intervention group and the control group. The study sample consisted of 30 postpartum women who were evenly divided into two groups. The intervention was carried out through the assistance of health cadres with structured home visits during the postpartum period. Data analysis using paired t-test. Results: Statistical test showed that in the intervention group there was a significant effect on accelerating the recovery of postpartum women, as indicated by changes in wound status (p=0.000), bleeding (p=0.001), pain (p=0.000), and EPDS score (p=0.000). In contrast, in the control group there were no significant changes in the four variables (p>0.05). Conclusion: The assistance of health cadres with the home visit method is proven to be effective in accelerating the physical and psychological recovery of postpartum women. This intervention can be integrated into community-based public health service programs as a promotive and preventive strategy.   Keywords: Cadre Assistance; Home Visit; Physical Recovery; Postpartum Mothers; Psychological Recovery.   Pendahuluan: Masa nifas merupakan periode krusial dalam pemulihan kondisi fisik dan psikologis ibu setelah persalinan. Pendampingan yang tepat selama masa ini sangat diperlukan untuk mencegah komplikasi dan mendukung proses pemulihan. Salah satu pendekatan yang potensial adalah metode home visit oleh kader kesehatan. Tujuan: Untuk menganalisis pengaruh pendampingan kader kesehatan melalui metode home visit terhadap percepatan pemulihan fisik dan psikologis ibu nifas. Metode: Desain quasi eksperimen dengan pendekatan pre-test dan post-test pada dua kelompok, yaitu kelompok intervensi dan kelompok kontrol. Sampel penelitian terdiri dari 30 ibu nifas yang dibagi secara merata ke dalam dua kelompok. Intervensi dilakukan melalui pendampingan kader kesehatan dengan kunjungan rumah terstruktur selama masa nifas. Analisis data menggunakan uji paired t-test. Hasil: Uji statistik menunjukkan bahwa pada kelompok intervensi terdapat pengaruh signifikan terhadap percepatan pemulihan ibu nifas, ditunjukkan oleh perubahan status luka (p=0.000), perdarahan (p=0.001), nyeri (p=0.000), dan skor EPDS (p=0.000). Sebaliknya, pada kelompok kontrol tidak ditemukan perubahan yang signifikan pada keempat variabel tersebut (p>0.05). Simpulan: Pendampingan kader kesehatan dengan metode home visit terbukti efektif dalam mempercepat pemulihan fisik dan psikologis ibu nifas. Intervensi ini dapat diintegrasikan ke dalam program pelayanan kesehatan masyarakat berbasis komunitas sebagai strategi promotif dan preventif.   Kata Kunci: Home Visit; Ibu Nifas; Pendampingan Kader; Pemulihan Fisik; Pemulihan Psikologis.
Kesadaran kesehatan reproduksi dan kejadian kegawatdaruratan obstetri pada remaja Sofais, Danur Azissah Roesliana; Rustandi, Handi; Suyanto, Jipri; Pebriani, Emi
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 19 No. 8 (2025): Volume 19 Nomor 8
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v19i8.1176

Abstract

Background: Adolescents are a reproductive health vulnerable group, facing high risks due to limited knowledge and access to essential health information. These deficiencies often lead to high rates of obstetric emergencies, including eclampsia, obstructed labor, sepsis, and postpartum hemorrhage. Purpose: To analyze the relationship between reproductive health awareness and the incidence of obstetric emergencies among adolescents. Method: This quantitative study used a cross-section al method and was conducted from January to May 2025 in Bengkulu. The sampling technique used purposive sampling with a sample size of 150 respondents. The independent variable in this study was reproductive health awareness, while the dependent variable was obstetric emergencies. Data analysis used univariate in the form of frequency distribution and bivariate using logistic regression. Results: The Age, education, income, health beliefs, health literacy, perception, access to health care, and family support were significantly associated with the level of emergency awareness (p < 0.05). Conclusion: Poor awareness of reproductive health significantly increases the risk of obstetric emergencies in adolescents, along with other sociodemographic and psychosocial factors. Improved education, better access to health services, and family involvement are essential to reduce maternal morbidity and mortality in this age group.   Keywords: Adolescents; Obstetric Emergency Incidents; Reproductive Health Awareness.   Pendahuluan: Remaja merupakan kelompok rentan dalam kesehatan reproduksi, menghadapi risiko tinggi akibat keterbatasan pengetahuan dan akses terhadap informasi kesehatan esensial. Kekurangan ini seringkali menyebabkan tingginya insiden kegawatdaruratan obstetrik, termasuk eklamsia, persalinan macet, sepsis, dan perdarahan pascapersalinan. Tujuan: Untuk menganalisis hubungan antara kesadaran kesehatan reproduksi dengan kejadian kegawatdaruratan obstetri pada remaja. Metode: Penelitian kuantitatif menggunakan metode cross-sectional, dilaksanakan pada Januari-Mei 2025 di Bengkulu. Teknik pengambilan sampel menggunakan purposivel sampling dengan jumlah sampel yang digunakan sebanyak 150 responden. Variabel independen dalam penelitian ini adalah kesadaran kesehatan reproduksi, sedangkan variabel dependen ialah kegawatdaruratan obstetric. Analisis data yang digunakan univariate dalam bentuk distribusi frekuensi dan bivariate menggunakan regressi logistic Hasil: Faktor usia, pendidikan, pendapatan, keyakinan kesehatan, literasi kesehatan, persepsi, akses kesehatan, dan dukungan keluarga berhubungan signifikan dengan tingkat kesadaran gawat darurat (p < 0.05). Simpulan: Rendahnya kesadaran akan kesehatan reproduksi secara signifikan meningkatkan risiko kegawatdaruratan obstetrik pada remaja, bersama dengan faktor sosiodemografi dan psikososial lainnya. Peningkatan pendidikan, akses layanan kesehatan yang lebih baik, dan keterlibatan keluarga sangat penting untuk mengurangi morbiditas dan mortalitas ibu pada kelompok usia ini. Kata Kunci: Kejadian Kegawatdaruratan Obstetric; Kesadaran Kesehatan Reproduksi; Remaja.
Determinan health locus of control pada pasien diabetes mellitus tipe 2 Nurjaman, Iman; Jinan, Ridwan Riadul; Sutrisno, Nisa Wening Asih; Sumarni, Nining; Nurulhuda, Aziz's
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 19 No. 8 (2025): Volume 19 Nomor 8
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v19i8.1260

Abstract

Background: Diabetes mellitus (DM) is a growing public health issue in Indonesia, with West Java ranking 17th in prevalence. Many patients still exhibit low self-control in managing their condition. Purpose: To identify determinants of health locus of control (HLoC) among patients with type 2 DM at the Outpatien Unit of dr. Slamet Regional Public Hospital Garut. Method: A cross-sectional analytical survey was conducted among 103 patients using structured questionnaires assessing knowledge, attitude, motivation, and family support. Data were analyzed using Chi-square and logistic regression tests. Results: Significant associations were found between HLoC and attitude (p = 0.020), motivation (p = 0.001), and family support (p = 0.011), while knowledge showed no significant relationship (p = 0.074). Motivation emerged as the strongest determinant of HLoC (p = 0.001; OR = 5.379; 95% CI = 2.065–14.015). Conclusion: Motivation plays a key role in shaping the HLoC among type 2 DM patients. Those with higher motivation were over five times more likely to exhibit a strong internal HLoC. Strengthening patient motivation through education and empowerment strategies is essential to foster better self-management and outcomes in diabetes care.   Keywords: Diabetes Mellitus; Health Locus of Control; Motivation; Patient Empowerment; Self-Control.   Pendahuluan: Diabetes melitus (DM) merupakan masalah kesehatan masyarakat yang terus meningkat di Indonesia, dengan Provinsi Jawa Barat menempati peringkat ke-17 dalam hal prevalensi. Banyak pasien masih menunjukkan kontrol diri yang rendah dalam mengelola kondisinya. Tujuan: Untuk mengidentifikasi determinan health locus of control (HLoC) pada pasien diabetes melitus tipe 2. Metode: Penelitian ini menggunakan desain survei analitik cross-sectional terhadap 103 pasien dengan menggunakan kuesioner terstruktur yang menilai pengetahuan, sikap, motivasi, dan dukungan keluarga. Data dianalisis menggunakan uji Chi-square dan regresi logistik. Hasil: Ditemukan hubungan yang signifikan antara HLoC dengan sikap (p = 0.020), motivasi (p = 0.001), dan dukungan keluarga (p = 0.011), sementara pengetahuan tidak menunjukkan hubungan yang signifikan (p = 0,074). Motivasi muncul sebagai determinan terkuat dari HLoC (p = 0.001; OR = 5.379; 95% CI = 2.065–14.015). Simpulan: Motivasi memegang peran kunci dalam membentuk HLoC pada pasien DM tipe 2. Pasien dengan motivasi tinggi memiliki kemungkinan lebih dari lima kali lipat untuk memiliki HLoC internal yang kuat. Penguatan motivasi pasien melalui strategi edukasi dan pemberdayaan sangat penting untuk mendorong pengelolaan diri yang lebih baik dan hasil perawatan diabetes yang optimal.   Kata Kunci: Diabetes Mellitus; Health Locus of Control; Motivasi; Pemberdayaan Pasien; Pengendalian Diri.
Pendekatan body mind spirit sebagai solusi holistik untuk meningkatkan kualitas hidup pasien gagal ginjal kronis Istianah, Istianah; Ramadhan, Muhammad Deri; Tohri, Tonika
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 19 No. 8 (2025): Volume 19 Nomor 8
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v19i8.1262

Abstract

Background: Chronic kidney disease (CKD) patients undergoing hemodialysis often experience a decreased quality of life due to physical, psychological, social, and spiritual disorders. A holistic approach such as the Body Mind Spirit (BMS) model is believed to improve patients' overall quality of life. Purpose: To determine the effect of the body mind spirit approach in improving the quality of life of chronic kidney disease (CKD) patients. Method: This study used a quasi-experimental design with a pre-post-test approach without a control group. The study sample consisted of 30 CKD patients selected using purposive sampling. The BMS model intervention was implemented for 4 weeks through education, relaxation, and spiritual support sessions. Quality of life was measured using the KDQOL-36 questionnaire before and after the intervention. Results: Most participants were male with an average age of 52 years, had been on hemodialysis for >2 years, and most (80%) had a poor quality of life. However, after the BMS intervention, their quality of life improved. There was a significant increase in patients' quality of life scores after the BMS model intervention (p < 0.05). The physical, psychological, and spiritual dimensions showed significant improvements. Conclusion: The body-mind-spirit model is effective in improving the quality of life of chronic kidney disease (CKD) patients undergoing hemodialysis. This approach can be used as a holistic surgical intervention strategy in hospitals.   Keywords: Body-Mind-Spiritual; Chronic Kidney Failure; Hemodialysis; Quality of Life.   Pendahuluan: Pasien gagal ginjal kronik (GGK) yang menjalani hemodialisa sering mengalami penurunan kualitas hidup akibat gangguan fisik, psikologis, sosial, dan spiritual. Pendekatan holistik seperti model Body Mind Spirit (BMS) diyakini mampu meningkatkan kualitas hidup pasien secara menyeluruh. Tujuan: Untuk mengetahui pengaruh pendekatan body mind spirit dalam meningkatkan kualitas hidup pasien gagal ginjal kronis. Metode: Penelitian ini menggunakan desain quasi-eksperimental dengan pendekatan pre-post-test tanpa kelompok kontrol. Sampel berjumlah 30 pasien GGK yang dipilih secara purposive sampling. Intervensi model BMS dilaksanakan selama 4 minggu melalui sesi edukasi, relaksasi, dan dukungan spiritual. Pengukuran kualitas hidup dilakukan menggunakan kuesioner KDQOL-36 sebelum dan sesudah intervensi. Hasil: Sebagian besar partisipan laki-laki dengan rerata usia 52 tahun, menjalani hemodialisa > 2 tahun, dan sebagian besar (80%) memiliki kualitas hidup yang buruk, sedangkan setelah diberikan intervensi BMI kualitas hidup pasien menjadi meningkat. Terdapat peningkatan signifikan skor kualitas hidup pasien setelah diberikan intervensi model BMS (p < 0.05). Dimensi fisik, psikologis, dan spiritual menunjukkan perbaikan yang bermakna. Simpulan: Model body mind spirit efektif dalam meningkatkan kualitas hidup pasien GGK yang menjalani hemodialisa. Pendekatan ini dapat dijadikan strategi intervensi keperawatan berbasis holistik di rumah sakit. Kata Kunci: Body Mind Spirit; Gagal Ginjal Kronik; Hemodialisa; Kualitas Hidup.
Hubungan antara pemberian makanan pendamping air susu ibu dengan status gizi anak 6-24 bulan Igir, Anggun; Punuh, Maureen Irinne; Malonda, Nancy Swanida Henriette
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 19 No. 8 (2025): Volume 19 Nomor 8
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v19i8.1272

Abstract

Background: Malnutrition can lead to physical and mental retardation, decreased thinking ability, and increased productivity, as well as increasing the risk of disease and death in children. Malnutrition can be caused by inappropriate provision of complementary foods to meet children's nutritional needs. Purpose: To determine the relationship between complementary feeding and breast milk and the nutritional status of children aged 6-24 months. Method: This was an observational analytical study with a cross-sectional design. The population was 363 children aged 6-24 months, with a total sample size of 86 children. The sampling technique used was a probability sampling with simple random sampling. The instrument used in this study was the Child Feeding Questionnaire (CFQ) to measure the criteria for complementary feeding. Results: Based on the weight-for-age (W/A) index, 86.0% had normal weight and 11.6% were underweight. Based on the weight-for-height (W/B) index, 84.9% were categorized as well-nourished, and 10.5% were malnourished. In this study, the appropriate provision of complementary feeding was 88.4%, while the inappropriate provision was 11.6%. The bivariate analysis, based on the weight-for-age (W/A) and weight-for-height (W/H) indices, yielded a p-value of 0.000 (p<0.05). This indicates a relationship between the provision of complementary foods and breast milk and the nutritional status of children aged 6-24 months. Conclusion: There is a relationship between the provision of complementary foods and breast milk and the nutritional status of children aged 6-24 months. Suggestion: Complementary foods should be provided according to the child's age, starting with mashed, soft/finely chopped complementary foods, and continuing with family meals. Complementary foods should also include a variety of ingredients, such as carbohydrates, animal protein, vegetable protein, fruits, and vegetables, and hygiene should be maintained during the preparation and serving of complementary foods.   Keywords: Children; Complementary Foods; Nutritional Status.   Pendahuluan: Kekurangan gizi dapat menyebabkan hambatan fisik, mental, penurunan kemampuan berpikir, produktivitas, serta meningkatkan risiko penyakit dan kematian anak. Penyebab kekurangan gizi dapat disebabkan oleh pemberian MP-ASI yang tidak tepat dengan kebutuhan gizi anak. Tujuan: Untuk mengetahui hubungan antara pemberian makanan pendamping air susu ibu dengan status gizi anak 6-24 bulan. Metode: Penelitian observasional analitik dengan desain cross sectional study. Populasi dalam penelitian ini adalah 363 anak berusia 6-24 bulan dengan total sampel berjumlah 86 anak, teknik pengambilan sampel menggunakan probability sampel dengan metode simple random sampling. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini yaitu Child Feeding Questionnaire (CFQ) untuk mengukur kriteria MP-ASI. Hasil: Berdasarkan pengukuran indeks BB/U, terdapat 86.0% dengan berat badan normal dan sejumlah 11.6% dengan berat badan kurang. Berdasarkan pengukuran indeks BB/PB terdapat 84.9% dengan kategori gizi baik dan terdapat 10.5% mengalami gizi kurang. Pada penelitian ini, kategori pemberian MP-ASI tepat sejumlah 88.4% dan kategori MP-ASI tidak tepat sejumlah 11.6%. Hasil analisis bivariat berdasarkan indeks BB/U dan BB/PB diperoleh p-value 0.000 (p<0.05). Hal ini menunjukkan terdapat hubungan antara pemberian makanan pendamping air susu ibu dengan status gizi anak 6-24 bulan. Simpulan: Terdapat hubungan antara pemberian makanan pendamping air susu ibu dengan status gizi anak 6-24 bulan. Saran: MP-ASI perlu diberikan sesuai dengan usia anak, dimulai dari MP-ASI dengan bentuk lumat, lembek/dicincang halus hingga makanan keluarga. Pemberian MP-ASI juga harus beragam jenis bahan makanan, seperti karbohidrat, protein hewani, protein nabati, buah dan sayur serta harus menjaga kebersihan dalam proses pengolahan dan penyajian MP-ASI.   Kata Kunci: Anak; Makanan Pendamping Air Susu Ibu (MP-ASI); Status Gizi.
Hubungan antara status sosial ekonomi dengan kejadian stunting pada balita da Gomez, Avelina Maria Rosari; Malonda, Nancy Swanida Henriette; Sanggelorang, Yulianty
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 19 No. 8 (2025): Volume 19 Nomor 8
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v19i8.1273

Abstract

Background: Indonesia faces significant nutritional challenges, namely high rates of stunting among toddlers. Stunting can begin during fetal development and continue after birth, but it usually becomes apparent at the age of two. The main causes of stunting are chronic malnutrition and recurrent infections experienced during the first 1,000 days of life. One of the underlying factors contributing to stunting is socioeconomic status. Purpose: To investigate the relationship between socioeconomic status and the incidence of stunting in infants. Method: A quantitative approach with an analytical observational design and a cross-sectional approach. The study population consists of infants aged 24–59 months in the Pineleng Health Center service area, with a sample size of 100. Sampling was conducted using probability sampling with simple random sampling. The instruments used include questionnaires and anthropometric measurements based on height-for-age (HAZ) indices. Data analysis was performed using the chi-square test and Fisher’s exact test. Results: There is a significant association between the father’s education (p = 0.002), the mother’s education (p = 0.002), and the mother’s occupation (p = 0.040) with stunting in toddlers in the Pineleng Health Center’s service area. Conversely, no association was found between the father's occupation (p = 1.000) and food and non-food expenditures (p = 1.000) with stunting in toddlers in the area. Conclusion: There is a significant relationship between socioeconomic status (parents' education, mother's occupation) and the incidence of stunting in toddlers in the working area of the Pineleng Community Health Center in Minahasa Regency. Suggestion: Parents should be more active in seeking information about meeting their children's nutritional needs through posyandu activities and nutritional counseling, and play a role in managing family resources to meet balanced food and nutritional needs.   Keywords: Sosio-economic Status; Stunting; Toddlers.   Pendahuluan: Indonesia menghadapi tantangan gizi yang signifikan yaitu tingginya angka stunting pada balita. Stunting dapat dimulai selama perkembangan janin dan berlanjut setelah kelahiran, tetapi biasanya menjadi terlihat pada usia dua tahun. Penyebab utama stunting adalah malnutrisi kronis dan infeksi berulang yang dialami selama 1.000 hari pertama kehidupan. Salah satu faktor yang mendasari terjadinya masalah stunting adalah status sosial ekonomi. Tujuan: Untuk menginvestigasi hubungan antara status sosial ekonomi dan kejadian stunting pada balita. Metode: Pendekatan kuantitatif dengan desain observasional analitik dan pendekatan cross sectional. Populasi dalam penelitian ini terdiri dari balita berusia 24-59 bulan di wilayah kerja Puskesmas Pineleng, dengan jumlah sampel sebanyak 100. Teknik pengambilan sampel dilakukan melalui probability sampling dengan metode simple random sampling. Instrumen yang digunakan mencakup kuesioner dan pengukuran antropometri berdasarkan indeks tinggi badan menurut umur (TB/U). Analisis data dilakukan menggunakan uji statistik chi-square dan fisher’s exact test. Hasil: Menunjukkan adanya hubungan signifikan antara pendidikan ayah (p = 0,002), pendidikan ibu (p = 0,002), dan pekerjaan ibu (p = 0,040) dengan kejadian stunting pada balita di wilayah kerja Puskesmas Pineleng. Sebaliknya, tidak ditemukan hubungan antara pekerjaan ayah (p = 1,000) serta pengeluaran pangan dan non-pangan (p = 1,000) dengan kejadian stunting pada balita di wilayah tersebut. Simpulan: Terdapat hubungan yang signifikan antara status sosial ekonomi (pendidikan orang tua, pekerjaan ibu) dengan kejadian stunting pada balita. Saran: Orang tua supaya lebih aktif mencari informasi tentang memenuhi kebutuhan gizi anak melalui kegiatan posyandu dan konseling gizi, serta berperan dalam mengelola sumber daya keluarga untuk memenuhi kebutuhan makanan dan gizi yang seimbang.   Kata Kunci: Balita; Status Sosial Ekonomi; Stunting.
Pendekatan verifikasionisme empiris terhadap efektivitas ultrasonografi mammae dalam proses diagnosis kanker payudara Obert, Hendra August; Adam, Arlin
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 19 No. 8 (2025): Volume 19 Nomor 8
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v19i8.1322

Abstract

Background: Breast cancer is a leading cause of death among women in Indonesia. Ultrasonography (USG) is widely used as an alternative diagnosis, especially for dense breast tissue. From a verificationist perspective, scientific validity must be supported by empirical verification. Purpose: To analyze the empirical verificationist approach to the effectiveness of breast ultrasonography in diagnosing breast cancer. Method: A retrospective cross-sectional design involving 100 adult patients undergoing ultrasonography and biopsy was used. Diagnostic analysis used a 2x2 matrix. Results: Sensitivity was 90%, specificity was 80%, NPP was 82%, and NPN was 88%. A sensitivity level of 90% indicates that ultrasound is capable of detecting most cases of breast cancer. Specificity of 80% indicates that a small proportion of non-cancerous cases are misclassified as cancer (false positives), but this is still within acceptable practical limits. Conclusion: Breast ultrasound (USG) examination demonstrated 90% sensitivity and 80% specificity in detecting breast cancer compared with histopathology, the gold standard. The positive predictive value (NPV) of 81.8% and negative predictive value (NPV) of 88.9% confirm that breast ultrasound has high diagnostic capability, particularly in providing a negative diagnosis in patients without cancer. Suggestion: Breast ultrasound clinical practice can be used as an initial method for breast cancer screening and diagnosis in hospitals. Healthcare workers require regular training to improve the accuracy of result interpretation.   Keywords: Breast Cancer; Breast Ultrasonography; Empirical Verification.   Pendahuluan: Kanker payudara merupakan penyebab kematian utama pada wanita di Indonesia. Ultrasonografi (USG) banyak digunakan sebagai alternatif diagnosa, terutama pada jaringan payudara padat. Dari perspektif verifikasionisme, keabsahan ilmiah harus didukung verifikasi empiris. Tujuan: Untuk menganalisis pendekatan verifikasionisme empiris terhadap efektivitas ultrasonografi mammae dalam proses diagnosis kanker payudara. Metode: Desain potong-lintas retrospektif melibatkan 100 pasien dewasa yang menjalani USG dan biopsi. Analisis diagnostik menggunakan matriks 2×2. Hasil: Sensitivitas 90%, spesifisitas 80 %, PPV 82%, NPV 88%. Tingkat sensitivitas 90% menandakan bahwa USG mampu mendeteksi mayoritas kasus kanker payudara. Spesifisitas 80% menunjukkan ada sebagian kecil kasus non-kanker yang salah diklasifikasikan sebagai kanker (false positive), namun masih dalam ambang batas penerimaan praktis. Simpulan: Pemeriksaan ultrasonografi (USG) mammae menunjukkan tingkat sensitivitas sebesar 90% dan spesifisitas sebesar 80% dalam mendeteksi kanker payudara jika dibandingkan dengan hasil histopatologi sebagai standar emas. Nilai prediktif positif (PPV) sebesar 81.8% dan nilai prediktif negatif (NPV) sebesar 88.9% menegaskan bahwa USG mammae memiliki kemampuan diagnostik yang tinggi, terutama dalam memberikan kepastian negatif bagi pasien tanpa kanker. Saran: Praktik Klinis USG mammae dapat dijadikan sebagai metode awal dalam skrining dan diagnosis kanker payudara di rumah sakit. Tenaga kesehatan perlu diberikan pelatihan rutin, guna meningkatkan akurasi interpretasi hasil.   Kata Kunci: Kanker Payudara; Ultrasonografi Mammae; Verifikasionisme Empiris.
Identifikasi tumbuh kembang anak dengan riwayat berat badan lahir rendah (BBLR) Damayanti, Dina Sulviana; Deviana, Meli
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 19 No. 8 (2025): Volume 19 Nomor 8
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v19i8.1326

Abstract

Bcakground: Low birth weight remains a significant global public health problem due to its short- and long-term health effects. Low birth weight (LBW) is prevalent in developing countries, including Indonesia, particularly in areas with vulnerable populations. A baby's birth weight is the most important determinant of survival, growth, and subsequent development. Low birth weight can impact growth and development. Purpose: To determine the growth and development of children with a history of low birth weight. Method: A descriptive analytic cross-sectional study involving 53 respondents aged 36-72 months selected through accidental sampling. Chi-square analysis was used to determine the relationship between a history of low birth weight and child growth and development. Results: Most children with a history of low birth weight had normal nutritional status (BW/A) (77.4%) and age-appropriate development (58.5%). The analysis showed no significant relationship between children with a history of low birth weight and nutritional status (BW/A) (p-value = 0.111) and development (p-value = 0.380). Children with a history of low birth weight (LBW) had a slightly reduced risk of malnutrition (0.946% CI 95%) and a 1.934-fold increased risk of developmental disorders (95% CI 95%). Conclusion: There was no significant association between children with a history of low birth weight and the nutritional status and development of respondents. Suggestion: Optimization of early detection of growth and development should be intensified. This should be made available not only to health services such as community health centers and hospitals, but also to parents, to understand their child's growth and development so they can optimize stimulation at home.   Keywords: Child; Development; Growth; Low Birth Weight (LBW).   Pendahuluan: Berat badan lahir rendah saat ini masih menjadi masalah kesehatan masyarakat yang signifikan secara global karena efek jangka pendek maupun panjang terhadap kesehatan. BBLR sebagian besar ditemui dinegara berkembang termasuk Indonesia, khususnya di daerah yang populasinya rentan. Berat bayi saat lahir merupakan penentu yang paling penting untuk menentukan peluang bertahan, pertumbuhan, dan perkembangan di masa depannya, permasalahan BBLR yang bisa mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangannya. Tujuan: Untuk mengetahui pertumbuhan dan perkembangan anak dengan riwayat berat badan lahir rendah. Metode: Deskriptif analitik dengan pendekatan cross-sectional yang melibatkan 53 responden usia 36-72 bulan yang dipilih melalui accidental sampling. Analisis chi-square digunakan untuk mengetahui hubungan antara riwayat BBLR dengan tumbuh kembang anak. Hasil: Sebagian besar anak dengan riwayat berat badan lahir rendah memiliki status gizi (BB/U) normal (77.4%) dan perkembangan yang sesuai usia (58.5%). Hasil analisis menunjukkan tidak ada hubungan yang signifikan antara anak dengan riwayat berat badan lahir rendah dengan status gizi (BB/U) (p-value=0.111) dan perkembangan (p-value=0.380). Anak dengan riwayat BBLR memiliki sedikit penurunan resiko mengalami gizi kurang sebesar 0.946 (CI 95%) dan memiliki resiko sebesar 1.934 kali lipat adanya gangguan perkembangan (CI 95%). Simpulan: tidak ada hubungan yang signifikan antara anak dengan riwayat berat badan lahir rendah dengan status gizi dan perkembangan responden Saran: Pengotimalan deteksi dini tumbuh kembang harus lebih digencarkan, tidak hanya dipelayanan Kesehatan seperti puskesmas dan rumah sakit saja yang mengetahuinya, namun orang tua juga harus tahu bagaimana kondisi pertumbuhan dan perkembangan anaknya agar dapat mengoptimalkan stimulasi dirumah.   Kata Kunci: Anak; Berat Badan Lahir Rendah (BBLR); Perkembangan; Pertumbuhan.