cover
Contact Name
Erni Yusnita Lalusu
Contact Email
erni.lalusu33@gmail.com
Phone
+62811455689
Journal Mail Official
bambangdwicahya@gmail.com
Editorial Address
Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Tompotika Luwuk Jl. Dewi Sartika No.67 , Luwuk-Banggai, Sulawesi Tengah. 9471
Location
Kab. banggai,
Sulawesi tengah
INDONESIA
Jurnal Pengabdian Maleo
ISSN : -     EISSN : 29648254     DOI : https://doi.org/10.51888/maleo.v3i1.231
Jurnal Pengabdian Maleo adalah Jurnal Pengabdian ilmiah yang menyajikan hasil pengabdian masyarakat di bidang kesehatan yang meliputi intervensi kepada masyarakat atau lembaga yang berkaitan dengan kesehatan. Ruang lingkup kesehatan dalam penelitian ini adalah yang terdiri dari kegiatan promotif, preventif, rehabilitasi maupun advokasi untuk peningkatan kesehatan dan kesejahteraan masyarakat secara luas. Kegiatan pengabdian yang dilaksanakan dapat melalui berbagai pendekatan yang inovatif dengan pengejawantahan pendekatan akademik dan teknologi Kesehatan yang dapat diadopsi oleh masyarakat yang terlibat. kegiatan pengabdian tersebut diharapkan dapat terus berjalan untuk mencapai kemandirian dalam peningaktan Kesehatan dan kesejahteraan masyarakat.
Articles 39 Documents
Edukasi Pengelolaan Sampah Rumah Tangga Berbasis Masyarakat di Desa Sakay Tahun 2025: Community-Based Household Waste Management Education in Sakay Village in 2025 Alamsyah, Moh. Fajar; Dwicahya, Bambang; Syahrir, Muhammad
Jurnal Pengabdian MALEO Vol. 4 No. 2 (2026): Jurnal Pengabdian Maleo
Publisher : Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Tompotika Luwuk

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51888/maleo.v4i2.448

Abstract

Permasalahan sampah rumah tangga masih menjadi tantangan dalam upaya peningkatan kesehatan lingkungan masyarakat. Pengelolaan Sampah Tingkat Rumah Tangga dilaksanakan di Desa Sakay, Kecamatan Totikum, Kabupaten Banggai Kepulauan dengan tujuan meningkatkan pengetahuan dan sikap masyarakat melalui pendekatan partisipatif. Kegiatan ini melibatkan 62 responden yang terdiri dari aparat desa, tokoh masyarakat, dan kelompok pengelola sampah. Metode yang digunakan adalah desain pre-eksperimental dengan pendekatan one group pretest-posttest, melalui penyuluhan, diskusi interaktif, serta evaluasi pengetahuan dan sikap sebelum dan sesudah kegiatan. Tahapan kegiatan meliputi persiapan, pelaksanaan penyuluhan, diskusi interaktif, serta evaluasi. Hasil menunjukkan peningkatan pengetahuan masyarakat kategori baik dari 29,0% pada pre-test menjadi 91,9% pada post-test. Sikap positif masyarakat juga meningkat dari 98,4% menjadi 100%. Hasil ini menunjukkan bahwa penyuluhan berbasis komunitas efektif dalam meningkatkan literasi dan kesadaran masyarakat terhadap pengelolaan sampah tingkat rumah tangga. Program ini diharapkan dapat menjadi model pemberdayaan masyarakat dalam menciptakan lingkungan yang bersih, sehat, dan berkelanjutan. The problem of household waste remains a challenge in efforts to improve community environmental health. Household Waste Management was implemented in Sakay Village, Totikum District, Banggai Islands Regency with the aim of improving community knowledge and attitudes through a participatory approach. This activity involved 62 respondents consisting of village officials, community leaders, and waste management groups. The method used was a pre-experimental design with a one-group pretest-posttest approach, through counseling, interactive discussions, and evaluation of knowledge and attitudes before and after the activity. The activity stages included preparation, implementation of counseling, interactive discussions, and evaluation. The results showed an increase in community knowledge in the good category from 29.0% in the pre-test to 91.9% in the post-test. The community's positive attitude also increased from 98.4% to 100%. These results indicate that community-based counseling is effective in increasing community literacy and awareness of household waste management. This program is expected to become a model for community empowerment in creating a clean, healthy, and sustainable environment.
Edukasi Pencegahan Malaria melalui Peningkatan Pengetahuan Masyarakat di Desa Sakay Tahun 2025: Education on Malaria Prevention through Increasing Community Knowledge in Sakay Village in 2025 Amalia, Risqa; Dwicahya, Bambang; Kanan, Maria
Jurnal Pengabdian MALEO Vol. 4 No. 2 (2026): Jurnal Pengabdian Maleo
Publisher : Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Tompotika Luwuk

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51888/maleo.v4i2.449

Abstract

Desa Sakay, Kecamatan Totikum, merupakan wilayah yang memiliki faktor risiko penularan malaria akibat kondisi lingkungan dan rendahnya pemahaman masyarakat mengenai pencegahan penyakit tersebut. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan masyarakat tentang penyakit malaria melalui program penyuluhan kesehatan. Metode yang digunakan adalah penyuluhan edukatif dengan pendekatan partisipatif yang disertai evaluasi menggunakan pre-test dan post-test terhadap 62 responden. Materi yang diberikan meliputi pengertian malaria, penyebab dan cara penularan, gejala, serta upaya pencegahan seperti penggunaan kelambu berinsektisida, menjaga kebersihan lingkungan, dan menghindari gigitan nyamuk. Hasil kegiatan menunjukkan adanya peningkatan pengetahuan secara deskriptif setelah dilakukan penyuluhan. Pada pre-test, responden dengan kategori pengetahuan baik sebesar 40,3%, cukup 53,2%, dan kurang 6,5%. Setelah penyuluhan (post-test), kategori pengetahuan baik meningkat menjadi 98,4%, cukup menurun menjadi 1,6%, dan tidak terdapat lagi responden dengan kategori kurang (0%), dan sikap positif terhadap perilaku pencegahan mencapai 100%. Kegiatan Program penyuluhan ini terbukti efektif dalam meningkatkan pengetahuan masyarakat mengenai pencegahan malaria. Sakay Village, Totikum District, is an area with risk factors for malaria transmission due to environmental conditions and low public understanding of disease prevention. This community service activity aims to increase public knowledge about malaria through a health education program. The method used is educational education with a participatory approach accompanied by evaluation using pre-tests and post-tests for 62 respondents. The material provided includes the definition of malaria, causes and modes of transmission, symptoms, and prevention efforts such as the use of insecticide-treated bed nets, maintaining environmental cleanliness, and avoiding mosquito bites. The results of the activity showed an increase in descriptive knowledge after the education. In the pre-test, respondents with good knowledge were 40.3%, sufficient 53.2%, and poor 6.5%. After the education (post-test), the good knowledge category increased to 98.4%, sufficient decreased to 1.6%, and there were no more respondents with poor (0%) category, and positive attitudes towards preventive behavior reached 100%. This outreach program activity has proven effective in increasing public knowledge regarding malaria prevention.
Edukasi Pengelolaan Saluran Pembuangan Air Limbah (SPAL) Rumah Tangga untuk Meningkatkan Sanitasi Lingkungan di Desa Sakay Tahun 2025: Household Wastewater Management Education to Improve Environmental Sanitation in Sakay Village in 2025 Alamsyah, Moh. Fajar; Dwicahya, Bambang
Jurnal Pengabdian MALEO Vol. 4 No. 2 (2026): Jurnal Pengabdian Maleo
Publisher : Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Tompotika Luwuk

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51888/maleo.v4i2.450

Abstract

Fasilitas pembuangan air limbah rumah tangga masih menjadi tantangan dalam meningkatkan sanitasi lingkungan, terutama ketika air limbah domestik dibuang langsung ke halaman, selokan terbuka, atau badan air tanpa pengelolaan standar kesehatan yang tepat. Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan dan sikap masyarakat mengenai pengelolaan pembuangan air limbah rumah tangga di Desa Sakay, Kecamatan Totikum, Kabupaten Banggai Kepulauan. Metode yang digunakan adalah desain pra-eksperimental dengan pendekatan pretest-posttest satu kelompok. Kegiatan ini melibatkan 62 responden yang terdiri dari pejabat desa, tokoh masyarakat, dan perwakilan rumah tangga. Intervensi dilakukan melalui pendidikan kesehatan, diskusi interaktif, dan evaluasi menggunakan kuesioner pretest dan posttest. Data dianalisis menggunakan analisis deskriptif kuantitatif melalui distribusi frekuensi dan persentase. Hasil menunjukkan peningkatan deskriptif pada pengetahuan masyarakat. Responden dalam kategori pengetahuan baik meningkat dari 67,7% pada pretest menjadi 87,1% pada posttest. Kategori pengetahuan sedang menurun dari 24,2% menjadi 9,7%, sedangkan kategori pengetahuan rendah menurun dari 8,1% menjadi 3,2%. Dari segi sikap, responden dengan sikap positif tetap sebesar 88,7% baik pada pra-uji maupun pasca-uji. Temuan ini menunjukkan bahwa pendidikan pengelolaan air limbah rumah tangga meningkatkan pengetahuan masyarakat, meskipun tidak menunjukkan perubahan pada kategori sikap. Kegiatan ini perlu ditindaklanjuti dengan bantuan teknis, pemantauan fasilitas air limbah rumah tangga, dan pengembangan hasil konkret seperti model fasilitas pembuangan air limbah untuk memastikan bahwa peningkatan pengetahuan dapat diterjemahkan ke dalam praktik sanitasi berkelanjutan. Household wastewater disposal facilities remain a challenge in improving environmental sanitation, particularly when domestic wastewater is discharged directly into yards, open drains, or water bodies without proper health-standard management. This educational activity aimed to improve community knowledge and attitudes regarding household wastewater disposal management in Sakay Village, Totikum District, Banggai Kepulauan Regency. The method used was a pre-experimental design with a one-group pretest-posttest approach. The activity involved 62 respondents consisting of village officials, community leaders, and household representatives. The intervention was conducted through health education, interactive discussion, and evaluation using pre-test and post-test questionnaires. Data were analyzed using quantitative descriptive analysis through frequency distribution and percentages. The results showed a descriptive increase in community knowledge. Respondents in the good knowledge category increased from 67.7% in the pre-test to 87.1% in the post-test. The moderate knowledge category decreased from 24.2% to 9.7%, while the poor knowledge category decreased from 8.1% to 3.2%. In terms of attitude, respondents with positive attitudes remained at 88.7% in both the pre-test and post-test. These findings indicate that household wastewater management education improved community knowledge, although it did not show a change in attitude category. This activity should be followed up with technical assistance, monitoring of household wastewater facilities, and the development of concrete outputs such as a model wastewater disposal facility to ensure that improved knowledge can be translated into sustainable sanitation practices. 
Edukasi Gerakan Masyarakat Hidup Sehat (GERMAS) dalam Meningkatkan Perilaku Hidup Sehat di Desa Sakay Tahun 2025: Healthy Living Community Movement (GERMAS) Education to Improve Healthy Living Behavior in Sakay Village in 2025 Halima, Siti; Dwicahya, Bambang
Jurnal Pengabdian MALEO Vol. 4 No. 2 (2026): Jurnal Pengabdian Maleo
Publisher : Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Tompotika Luwuk

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51888/maleo.v4i2.451

Abstract

Gerakan Masyarakat Hidup Sehat (GERMAS) merupakan strategi promotif dan preventif untuk mendorong masyarakat menerapkan perilaku hidup sehat sebagai upaya pencegahan penyakit tidak menular. Rendahnya pemahaman masyarakat mengenai tujuan, manfaat, dan penerapan GERMAS dalam kehidupan sehari-hari menjadi salah satu kendala dalam membangun budaya hidup sehat di tingkat desa. Kegiatan edukasi ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan dan sikap masyarakat tentang GERMAS di Desa Sakay, Kecamatan Totikum, Kabupaten Banggai Kepulauan. Metode yang digunakan adalah desain pre-eksperimental dengan pendekatan one group pretest-posttest. Kegiatan melibatkan 62 responden yang dipilih dengan teknik total sampling terhadap peserta yang hadir dan mengisi kuesioner secara lengkap. Intervensi dilakukan melalui penyuluhan edukatif-partisipatif, diskusi, dan tanya jawab. Evaluasi dilakukan menggunakan kuesioner pre-test dan post-test, kemudian dianalisis secara deskriptif kuantitatif melalui distribusi frekuensi dan persentase. Hasil kegiatan menunjukkan adanya peningkatan pengetahuan secara deskriptif. Responden dengan pengetahuan kategori baik meningkat dari 9,7% menjadi 29,0%, kategori cukup meningkat dari 35,5% menjadi 56,1%, sedangkan kategori kurang menurun dari 54,4% menjadi 19,4%. Pada aspek sikap, responden dengan sikap positif meningkat dari 83,9% menjadi 98,4%. Hasil ini menunjukkan bahwa edukasi GERMAS dapat meningkatkan pemahaman dan penerimaan masyarakat terhadap perilaku hidup sehat. Namun, kegiatan lanjutan masih diperlukan agar peningkatan pengetahuan dan sikap dapat berkembang menjadi praktik nyata, seperti aktivitas fisik rutin, konsumsi buah dan sayur, pemeriksaan kesehatan berkala, serta pengendalian faktor risiko penyakit tidak menular. The Healthy Living Community Movement (GERMAS) is a promotive and preventive strategy aimed at encouraging communities to adopt healthy behaviors as an effort to prevent non-communicable diseases. Limited community understanding of the objectives, benefits, and implementation of GERMAS in daily life remains a challenge in developing a healthy living culture at the village level. This educational activity aimed to improve community knowledge and attitudes regarding GERMAS in Sakay Village, Totikum District, Banggai Kepulauan Regency. The method used was a pre-experimental design with a one-group pretest-posttest approach. The activity involved 62 respondents selected through total sampling among participants who attended the activity and completed the questionnaires. The intervention was conducted through participatory health education, discussion, and question-and-answer sessions. Evaluation was carried out using pre-test and post-test questionnaires, and the data were analyzed descriptively using frequency distributions and percentages. The results showed a descriptive increase in knowledge. Respondents with good knowledge increased from 9.7% to 29.0%, those with moderate knowledge increased from 35.5% to 56.1%, while those with poor knowledge decreased from 54.4% to 19.4%. In terms of attitude, respondents with positive attitudes increased from 83.9% to 98.4%. These findings indicate that GERMAS education can improve community understanding and acceptance of healthy living behaviors. However, follow-up activities are still needed to translate improved knowledge and attitudes into actual practices, such as regular physical activity, fruit and vegetable consumption, periodic health checks, and control of risk factors for non-communicable diseases.
Edukasi Kepesertaan Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) untuk Meningkatkan Akses Pelayanan Kesehatan di Desa Sakay Tahun 2025: Education on National Health Insurance (JKN) Participation to Improve Access to Health Services in Sakay Village in 2025 Maddasene, Cantika Putri; Dwicahya, Bambang
Jurnal Pengabdian MALEO Vol. 4 No. 2 (2026): Jurnal Pengabdian Maleo
Publisher : Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Tompotika Luwuk

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51888/maleo.v4i2.452

Abstract

Kepesertaan Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) merupakan salah satu upaya penting dalam meningkatkan akses masyarakat terhadap pelayanan kesehatan dan mengurangi risiko beban pembiayaan kesehatan rumah tangga. Meskipun cakupan JKN terus meningkat, masih terdapat masyarakat yang belum memahami manfaat, prosedur pendaftaran, status keaktifan, hak dan kewajiban peserta, serta mekanisme pemanfaatan layanan kesehatan. Kegiatan edukasi ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan dan sikap masyarakat mengenai pentingnya kepemilikan dan keaktifan JKN di Desa Sakay, Kecamatan Totikum, Kabupaten Banggai Kepulauan. Metode yang digunakan adalah desain pre-eksperimental dengan pendekatan one group pre-test and post-test. Kegiatan melibatkan 62 responden yang terdiri atas aparat desa, tokoh masyarakat, kader kesehatan, dan warga setempat. Intervensi dilakukan melalui sosialisasi, diskusi interaktif, serta evaluasi menggunakan kuesioner pre-test dan post-test. Data dianalisis secara deskriptif kuantitatif melalui distribusi frekuensi dan persentase. Hasil kegiatan menunjukkan adanya peningkatan pengetahuan secara deskriptif. Responden dengan pengetahuan kategori baik meningkat dari 37,1% pada pre-test menjadi 95,2% pada post-test. Kategori cukup menurun dari 53,2% menjadi 4,8%, sedangkan kategori kurang menurun dari 9,7% menjadi 0%. Pada aspek sikap, responden dengan sikap positif meningkat dari 98,4% menjadi 100%. Hasil ini menunjukkan bahwa edukasi JKN dapat meningkatkan pemahaman dan memperkuat sikap positif masyarakat terhadap kepesertaan JKN. Kegiatan lanjutan diperlukan melalui pendampingan pendaftaran, pengecekan status keaktifan peserta, dan kolaborasi dengan pemerintah desa serta fasilitas kesehatan agar peningkatan pengetahuan dapat berkembang menjadi kepesertaan JKN yang aktif dan berkelanjutan. National Health Insurance (JKN) membership is an important effort to improve community access to health services and reduce the risk of household health-related financial burdens. Although JKN coverage continues to increase, some community members still have limited understanding of its benefits, registration procedures, active membership status, participants’ rights and obligations, and mechanisms for accessing health services. This educational activity aimed to improve community knowledge and attitudes regarding the importance of JKN ownership and active membership in Sakay Village, Totikum District, Banggai Kepulauan Regency. The method used was a pre-experimental design with a one-group pre-test and post-test approach. The activity involved 62 respondents consisting of village officials, community leaders, health cadres, and local residents. The intervention was conducted through socialization, interactive discussion, and evaluation using pre-test and post-test questionnaires. Data were analyzed descriptively using frequency distributions and percentages. The results showed a descriptive increase in knowledge. Respondents with good knowledge increased from 37.1% in the pre-test to 95.2% in the post-test. The moderate knowledge category decreased from 53.2% to 4.8%, while the poor knowledge category decreased from 9.7% to 0%. In terms of attitude, respondents with positive attitudes increased from 98.4% to 100%. These findings indicate that JKN education can improve community understanding and strengthen positive attitudes toward JKN membership. Follow-up activities are needed through registration assistance, active membership status checks, and collaboration with village government and health facilities to ensure that improved knowledge leads to active and sustainable JKN participation.
Program Penyuluhan dan Pemberdayaan Masyarakat tentang Pengolahan dan Pemilahan Sampah di Desa Sampaka Kecamatan Totikum: Community Education and Empowerment Program on Waste Processing and sorting in Sampaka Village, Totikum District, Banggai Islands Regency Cahya; Sakati, Sandy Novryanto
Jurnal Pengabdian MALEO Vol. 4 No. 2 (2026): Jurnal Pengabdian Maleo
Publisher : Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Tompotika Luwuk

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51888/maleo.v4i2.453

Abstract

Pengelolaan dan pemilahan sampah merupakan upaya strategis dalam meningkatkan derajat kesehatan lingkungan serta mencegah masalah gizi seperti gizi kurang dan stunting. Di Desa Sampaka, keterbatasan pemahaman mengenai teknis pemilahan sampah organik dan anorganik masih menjadi kendala utama. Tujuan Kegiatan pengabdian masyarakat ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan dan kesadaran masyarakat mengenai pentingnya pengolahan serta pemilahan sampah secara mandiri. Metode: Pelaksanaan program menggunakan metode sosialisasi, diskusi interaktif, dan demonstrasi teknis pemilahan sampah. Efektivitas kegiatan diukur melalui desain pre-test dan post-test terhadap 68 peserta di Desa Sampaka. Hasil evaluasi menunjukkan peningkatan signifikan pada pengetahuan masyarakat dari 29,4% menjadi 79%. Selain itu, terjadi penguatan sikap dan Komitmen (Sikap) keluarga dalam melakukan pemilahan sampah rumah tangga hingga mencapai angka maksimal 100%. Program edukasi ini terbukti efektif dalam mentransformasi perilaku masyarakat terhadap sanitasi lingkungan. Keberhasilan ini diharapkan dapat memutus rantai perkembangbiakan vektor penyakit dan berkontribusi terhadap perbaikan status gizi keluarga di wilayah pedesaan. Waste management and waste segregation are strategic efforts to improve environmental health and prevent nutritional problems such as undernutrition and stunting. In Sampaka Village, limited community understanding of the technical aspects of separating organic and inorganic waste remains a major challenge. This community service activity aimed to increase public knowledge and awareness regarding the importance of independent waste management and segregation. The program was implemented using socialization sessions, interactive discussions, and technical demonstrations on proper waste segregation. The effectiveness of the activity was evaluated using a pre-test and post-test design involving 68 participants in Sampaka Village. The evaluation results showed a significant increase in community knowledge, from 29.4% before the intervention to 79% after the intervention. In addition, there was a substantial improvement in family attitudes and commitment toward household waste segregation, reaching a maximum score of 100%. This educational program proved effective in transforming community behavior toward better environmental sanitation practices. The success of this program is expected to help break the chain of disease vector breeding and contribute to improving family nutritional status in rural areas.
Program Penyuluhan dan Pemberdayaan Masyarakat tentang Gizi Seimbang Pada Keluarga di Desa Sambiut, Kecamatan Totikum, Kabupaten Banggai Kepulauan: Community Education and Empowerment Program on Balanced Nutrition for Families in Sambiut Village, Totikum District, Banggai Islands Regency Safitri, Ilhani; Sudarsa, Caca
Jurnal Pengabdian MALEO Vol. 4 No. 2 (2026): Jurnal Pengabdian Maleo
Publisher : Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Tompotika Luwuk

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51888/maleo.v4i2.468

Abstract

Penerapan gizi seimbang pada keluarga merupakan salah satu upaya promotif dan preventif untuk mencegah masalah gizi, seperti gizi kurang, stunting, anemia, obesitas, dan penyakit tidak menular. Kegiatan pengabdian ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan dan sikap masyarakat mengenai penerapan gizi seimbang dalam kehidupan sehari-hari di Desa Sambiut, Kecamatan Totikum, Kabupaten Banggai Kepulauan. Metode yang digunakan adalah desain pre-eksperimental dengan pendekatan one group pre-test and post-test. Kegiatan dilaksanakan pada Januari–Februari 2026 dengan melibatkan 71 responden yang terdiri atas aparat desa, tokoh masyarakat, ibu rumah tangga, dan kader kesehatan. Intervensi dilakukan melalui sosialisasi, penyuluhan edukatif, diskusi interaktif, dan demonstrasi penyusunan menu sehat. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner pre-test dan post-test, kemudian dianalisis secara deskriptif kuantitatif melalui distribusi frekuensi dan persentase. Hasil kegiatan menunjukkan adanya peningkatan pengetahuan secara deskriptif. Responden dengan kategori pengetahuan baik meningkat dari 50,7% pada pre-test menjadi 100% pada post-test, sedangkan kategori cukup menurun dari 38,0% menjadi 0% dan kategori kurang menurun dari 11,3% menjadi 0%. Pada aspek sikap, responden dengan sikap positif meningkat dari 97,2% menjadi 100%. Hasil ini menunjukkan bahwa edukasi gizi seimbang dapat meningkatkan pengetahuan dan memperkuat sikap positif masyarakat. Namun, kegiatan lanjutan tetap diperlukan melalui pendampingan kader, praktik penyusunan menu keluarga, dan pemantauan perilaku konsumsi agar peningkatan pengetahuan dapat berkembang menjadi kebiasaan makan sehat yang berkelanjutan. The implementation of balanced nutrition in families is a promotive and preventive effort to prevent nutritional problems, such as undernutrition, stunting, anemia, obesity, and non-communicable diseases. This community service activity aimed to improve community knowledge and attitudes regarding the application of balanced nutrition in daily life in Sambiut Village, Totikum District, Banggai Kepulauan Regency. The method used was a pre-experimental design with a one-group pre-test and post-test approach. The activity was conducted from January to February 2026 and involved 71 respondents consisting of village officials, community leaders, housewives, and health cadres. The intervention was carried out through socialization, educational counseling, interactive discussions, and demonstrations on healthy menu planning. Data were collected using pre-test and post-test questionnaires and analyzed descriptively through frequency distributions and percentages. The results showed a descriptive increase in knowledge. Respondents with good knowledge increased from 50.7% in the pre-test to 100% in the post-test, while moderate knowledge decreased from 38.0% to 0%, and poor knowledge decreased from 11.3% to 0%. In terms of attitude, respondents with positive attitudes increased from 97.2% to 100%. These findings indicate that balanced nutrition education can improve community knowledge and strengthen positive attitudes. However, follow-up activities are needed through cadre assistance, family menu-planning practice, and monitoring of dietary behavior to ensure that improved knowledge can be translated into sustainable healthy eating habits.
Program Penyuluhan Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) di Desa Sambiut, Kecamatan Totikum, Kabupaten Banggai Kepulauan: National Health Insurance (JKN) Counseling Program in Sambiut Village, Totikum District, Banggai Islands Regency Sunarto, Mulya alifia; Sudarsa, Caca; Ramli, Ramli; Kanan, Maria
Jurnal Pengabdian MALEO Vol. 4 No. 2 (2026): Jurnal Pengabdian Maleo
Publisher : Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Tompotika Luwuk

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51888/maleo.v4i2.470

Abstract

Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) merupakan program perlindungan kesehatan yang berperan penting dalam meningkatkan akses masyarakat terhadap pelayanan kesehatan dan mengurangi risiko beban pembiayaan kesehatan rumah tangga. Namun, pemahaman masyarakat mengenai manfaat, hak dan kewajiban peserta, kepesertaan aktif, pembayaran iuran, serta alur pemanfaatan layanan kesehatan masih perlu diperkuat, khususnya di wilayah pedesaan. Kegiatan pengabdian ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan dan sikap masyarakat mengenai program JKN di Desa Sambiut, Kecamatan Totikum, Kabupaten Banggai Kepulauan. Metode yang digunakan adalah desain pre-eksperimental dengan pendekatan one group pre-test and post-test. Kegiatan dilaksanakan pada Januari–Februari 2026 dengan melibatkan 71 responden yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling, terdiri atas aparat desa, tokoh masyarakat, ibu rumah tangga, dan kader kesehatan. Intervensi dilakukan melalui sosialisasi, penyampaian materi edukatif, diskusi interaktif, serta simulasi alur pelayanan kesehatan. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner pre-test dan post-test, kemudian dianalisis secara deskriptif kuantitatif melalui distribusi frekuensi dan persentase. Hasil kegiatan menunjukkan adanya peningkatan pengetahuan secara deskriptif. Responden dengan pengetahuan baik meningkat dari 43,7% pada pre-test menjadi 94,4% pada post-test, kategori cukup menurun dari 38,0% menjadi 5,6%, dan kategori kurang menurun dari 18,3% menjadi 0%. Pada aspek sikap, responden berada pada kategori positif sebesar 100% pada pre-test dan post-test. Hasil ini menunjukkan bahwa edukasi JKN dapat meningkatkan pengetahuan masyarakat dan mempertahankan sikap positif terhadap kepesertaan serta pemanfaatan layanan kesehatan. Kegiatan lanjutan diperlukan melalui pendampingan pengecekan status kepesertaan, edukasi pembayaran iuran, dan penguatan peran kader desa agar pemahaman masyarakat dapat berkembang menjadi kepesertaan JKN yang aktif dan berkelanjutan. The National Health Insurance Program (JKN) is an important health protection program that improves community access to health services and reduces the risk of household health-related financial burdens. However, community understanding of its benefits, participants’ rights and obligations, active membership, premium payment, and procedures for accessing health services still needs to be strengthened, particularly in rural areas. This community service activity aimed to improve community knowledge and attitudes regarding the JKN program in Sambiut Village, Totikum District, Banggai Kepulauan Regency. The method used was a pre-experimental design with a one-group pre-test and post-test approach. The activity was conducted from January to February 2026 and involved 71 respondents selected using purposive sampling, consisting of village officials, community leaders, housewives, and health cadres. The intervention was carried out through socialization, educational material delivery, interactive discussion, and simulation of the health service flow. Data were collected using pre-test and post-test questionnaires and analyzed descriptively using frequency distributions and percentages. The results showed a descriptive increase in knowledge. Respondents with good knowledge increased from 43.7% in the pre-test to 94.4% in the post-test, while the moderate knowledge category decreased from 38.0% to 5.6%, and the poor knowledge category decreased from 18.3% to 0%. In terms of attitude, respondents remained in the positive category at 100% in both the pre-test and post-test. These findings indicate that JKN education can improve community knowledge and maintain positive attitudes toward membership and health service utilization. Follow-up activities are needed through assistance in checking membership status, education on premium payment, and strengthening the role of village health cadres to ensure that improved understanding can lead to active and sustainable JKN participation.
Program Penyuluhan dan Pemberdayaan Masyarakat tentang Penyakit Tidak Menular di Desa Bolonan, Kecamatan Totikum, Kabupaten Banggai Kepulauan: Community Education and Empowerment Program on Non-Communicable Diseases in Bolonan Village, Totikum District, Banggai Islands Regency Claudia H., Miranda; Sattu, Marselina
Jurnal Pengabdian MALEO Vol. 4 No. 2 (2026): Jurnal Pengabdian Maleo
Publisher : Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Tompotika Luwuk

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51888/maleo.v4i2.475

Abstract

            Penyakit Tidak Menular (PTM), khususnya hipertensi dan diabetes melitus, merupakan masalah kesehatan masyarakat yang sering tidak terdeteksi sejak dini karena gejalanya dapat berkembang secara perlahan. Rendahnya kesadaran masyarakat untuk melakukan pemeriksaan kesehatan rutin menjadi salah satu hambatan dalam pencegahan dan pengendalian PTM di tingkat desa. Kegiatan pengabdian ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan dan sikap masyarakat mengenai pencegahan dan pengendalian PTM di Desa Bolonan, Kecamatan Totikum, Kabupaten Banggai Kepulauan. Metode yang digunakan adalah desain pre-eksperimental dengan pendekatan one group pre-test and post-test. Kegiatan dilaksanakan pada Januari–Februari 2026 dengan melibatkan 55 responden yang terdiri atas aparat desa, tokoh masyarakat, kader kesehatan, dan masyarakat umum. Intervensi dilakukan melalui penyuluhan, diskusi interaktif, serta pemeriksaan tekanan darah dan gula darah sederhana. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner pre-test dan post-test, kemudian dianalisis secara deskriptif kuantitatif melalui distribusi frekuensi dan persentase. Hasil kegiatan menunjukkan adanya peningkatan pengetahuan secara deskriptif. Responden dengan pengetahuan kategori baik meningkat dari 41,8% pada pre-test menjadi 74,5% pada post-test, kategori cukup menurun dari 34,5% menjadi 23,6%, dan kategori kurang menurun dari 23,6% menjadi 1,8%. Pada aspek sikap, responden dengan sikap positif meningkat dari 81,8% menjadi 96,4%, sedangkan sikap negatif menurun dari 18,2% menjadi 3,6%. Hasil ini menunjukkan bahwa edukasi PTM dapat meningkatkan pemahaman dan memperkuat sikap positif masyarakat terhadap deteksi dini serta penerapan pola hidup sehat. Kegiatan lanjutan diperlukan melalui skrining berkala, pendampingan kader, dan penguatan program Posbindu agar peningkatan pengetahuan dan sikap dapat berkembang menjadi perilaku pencegahan PTM yang berkelanjutan. Non-communicable diseases (NCDs), particularly hypertension and diabetes mellitus, are public health problems that are often not detected early because their symptoms may develop gradually. Low community awareness of routine health checks remains a barrier to the prevention and control of NCDs at the village level. This community service activity aimed to improve community knowledge and attitudes regarding the prevention and control of NCDs in Bolonan Village, Totikum District, Banggai Kepulauan Regency. The method used was a pre-experimental design with a one-group pre-test and post-test approach. The activity was conducted from January to February 2026 and involved 55 respondents consisting of village officials, community leaders, health cadres, and community members. The intervention was carried out through health education, interactive discussion, and simple blood pressure and blood glucose screening. Data were collected using pre-test and post-test questionnaires and analyzed descriptively using frequency distributions and percentages. The results showed a descriptive increase in knowledge. Respondents with good knowledge increased from 41.8% in the pre-test to 74.5% in the post-test, while moderate knowledge decreased from 34.5% to 23.6%, and poor knowledge decreased from 23.6% to 1.8%. In terms of attitude, respondents with positive attitudes increased from 81.8% to 96.4%, while negative attitudes decreased from 18.2% to 3.6%. These findings indicate that NCD education can improve community understanding and strengthen positive attitudes toward early detection and healthy lifestyle practices. Follow-up activities are needed through regular screening, health cadre assistance, and strengthening of community-based NCD programs to ensure that improved knowledge and attitudes can be translated into sustainable preventive behaviors.

Page 4 of 4 | Total Record : 39