cover
Contact Name
Muhammad Asy'ari
Contact Email
m.asyari@litpam.com
Phone
+6281805273578
Journal Mail Official
sasambojurnal@gmail.com
Editorial Address
Perumahan Lingkar Permai Blok Q4 LK Sembalun, Tanjung Karang Sekarbela, Mataram, NTB
Location
Kota mataram,
Nusa tenggara barat
INDONESIA
Sasambo: Jurnal Abdimas (Journal of Community Service)
ISSN : -     EISSN : 2686519X     DOI : 10.36312/sasambo
Sasambo: Jurnal Abdimas (Journal of Community Service) is a scientific multidisciplinary journal published by Lembaga Penelitian dan Pemberdayaan Masyarakat (LITPAM) that publish 4 issues per year in February, May, August, and November. This journal accepts and publishes scientific articles that are original and focused on community service. Manuscripts are written using an academic approach or scientific method by presenting data on the impact of community service activities that have been carried out. The theme written must have an impact or can be generalized to local, regional or national populations such as various potentials, obstacles, challenges, and problems that exist in society, as a form of contribution to empowerment and sustainable development in the social and humanities, science and technology fields.
Arjuna Subject : Umum - Umum
Articles 440 Documents
Penerapan Inovasi Metode Pembelajaran Keagamaan Interaktif Dalam Mendorong Semangat Belajar Santri TKA/Tpa Desa Danau Ganting Alfiyani, Desti Pitri; Julviana, Alya; Nisrina, Yunda Rahayu; Ilahi, Muhammad Dhany Fajar; Nazma, Siti; Radhiansyah, Muhammad; Sari , Mirda; Ilmi, Ahmad Bahrul; Alfiyani, Desti Fitri; Wiranti, Jeni; Hadijah, Siti; Azis, Abdul
Sasambo: Jurnal Abdimas (Journal of Community Service) Vol. 8 No. 3 (2026): Agustus
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pemberdayaan Masyarakat (LITPAM)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36312/sasambo.v8i3.6781

Abstract

Lembaga pendidikan Islam nonformal seperti TKA/TPA memiliki peran strategis dalam membangun kemampuan keagamaan dan karakter peserta didik. Namun, proses pembelajaran pada sebagian lembaga masih menghadapi tantangan berupa penggunaan metode konvensional, dominasi aktivitas hafalan, dan keterbatasan media pembelajaran yang berdampak terhadap keterlibatan belajar santri. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan untuk meningkatkan kualitas pembelajaran keagamaan melalui inovasi metode pembelajaran interaktif serta penguatan kompetensi pengajar TKA/TPA Desa Danau Ganting. Pelaksanaan kegiatan menggunakan pendekatan pendampingan partisipatif melalui lima tahapan, yaitu identifikasi kebutuhan, sosialisasi, pelatihan dan praktik, evaluasi, serta pendampingan. Kegiatan melibatkan 30 peserta yang terdiri atas 24 santri dan 6 pengajar. Evaluasi program dilakukan melalui pretest-posttest untuk mengukur peningkatan kemampuan santri serta observasi, wawancara, dan dokumentasi untuk mengevaluasi perkembangan kompetensi pengajar. Hasil kegiatan menunjukkan peningkatan kemampuan santri dengan rata-rata nilai meningkat dari 62,1 menjadi 84,1, peningkatan sebesar 22,0 poin, dan nilai N-Gain sebesar 0,59 kategori sedang. Pengajar juga menunjukkan peningkatan kemampuan dalam menerapkan strategi pembelajaran yang lebih terstruktur melalui praktik, demonstrasi, dan penggunaan media pembelajaran interaktif. Kegiatan ini menunjukkan bahwa inovasi pembelajaran keagamaan interaktif melalui pendampingan dapat menjadi strategi efektif dalam meningkatkan kualitas pembelajaran pada lembaga pendidikan Islam nonformal..  Innovation of Interactive Religious Learning Methods to Enhance Students’ Learning Motivation in TKA/TPA Danau Ganting Village.  Non-formal Islamic educational institutions such as TKA/TPA play an important role in developing students’ religious competence and character. However, learning processes in some institutions still face challenges related to conventional teaching methods, excessive reliance on memorization, and limited instructional media, which may reduce students’ learning engagement. This community service program aimed to improve the quality of religious learning through innovative interactive learning methods and strengthening the competence of TKA/TPA instructors in Danau Ganting Village. The program was implemented using a participatory mentoring approach through five stages: needs identification, socialization, training and practice, evaluation, and follow-up mentoring. The activity involved 30 participants consisting of 24 students and 6 instructors. Program evaluation was conducted through pretest-posttest assessments to measure students’ learning improvement and through observations, interviews, and documentation to evaluate instructors’ development. The results showed an improvement in students’ learning outcomes, with the average score increasing from 62.1 to 84.1, representing a 22.0-point improvement and an N-Gain score of 0.59 in the moderate category. In addition, instructors demonstrated improved abilities in implementing structured learning strategies, practical activities, demonstrations, and interactive learning media. These findings indicate that interactive religious learning innovation through mentoring programs can contribute to improving the quality and sustainability of learning processes in non-formal Islamic education institutions.
OPTIMALISASI LAYANAN BIMBINGAN DAN KONSELING MELALUI PENDAMPINGAN GURU BK DI SMP SATU ATAP 1 JATINAGARA Pathmi, Sazkia Nuril; Jamaludin, Opik
Sasambo: Jurnal Abdimas (Journal of Community Service) Vol. 8 No. 4 (2026): November
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pemberdayaan Masyarakat (LITPAM)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36312/sasambo.v8i3.6713

Abstract

Keterbatasan kompetensi guru yang menjalankan fungsi Bimbingan dan Konseling (BK) tanpa latar belakang pendidikan BK dapat memengaruhi kualitas perencanaan, administrasi, dan pelaksanaan layanan di sekolah. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan memperkuat layanan BK melalui pendampingan administratif bagi guru non-BK di SMP Satu Atap 1 Jatinagara. Pelaksanaan kegiatan menggunakan pendekatan pendampingan partisipatif yang melibatkan guru yang menjalankan fungsi BK, kepala sekolah, dan peserta didik. Kegiatan dilaksanakan melalui enam tahap, yaitu identifikasi kondisi awal, pemetaan kebutuhan, perencanaan pendampingan, pelaksanaan pendampingan, penyusunan output, serta refleksi dan tindak lanjut. Data awal diperoleh melalui observasi, wawancara semi-terstruktur, dan dokumentasi. Hasil identifikasi menunjukkan bahwa kebutuhan peserta didik mencakup bidang pribadi, sosial, belajar, dan perencanaan masa depan, sementara penyelenggaraan layanan BK masih didominasi layanan responsif dan belum didukung administrasi yang tersusun secara sistematis. Pendampingan dilakukan melalui diskusi kolaboratif, penguatan pemahaman mengenai layanan dasar, layanan responsif, perencanaan individual, dan dukungan sistem, serta praktik penyusunan perangkat administrasi. Kegiatan menghasilkan Rencana Pelaksanaan Layanan, format laporan konseling individual dan kelompok, catatan perkembangan peserta didik, serta kerangka perencanaan program BK. Hasil tersebut menunjukkan terbentuknya fondasi awal untuk penyelenggaraan layanan BK yang lebih terencana dan terdokumentasi. Namun, keberlanjutan program tetap memerlukan implementasi perangkat, pendampingan kompetensi secara berkelanjutan, dukungan manajemen sekolah, kolaborasi lintas fungsi, serta evaluasi berkala berbasis kebutuhan peserta didik. Strengthening Guidance and Counseling Services through Administrative Mentoring for Non-Guidance-and-Counseling Teachers at SMP Satu Atap 1 Jatinagara Limited competence among teachers who perform Guidance and Counseling (GC) functions without a formal educational background in guidance and counseling may affect the quality of service planning, administration, and implementation in schools. This community service program aimed to strengthen guidance and counseling services through administrative mentoring for non-GC teachers at SMP Satu Atap 1 Jatinagara. The program employed a participatory mentoring approach involving the teacher responsible for GC functions, the school principal, and students. The activities were implemented through six stages: initial condition identification, needs mapping, mentoring planning, mentoring implementation, output development, and reflection and follow-up. Initial data were collected through observation, semi-structured interviews, and documentation. The findings showed that students’ needs covered personal, social, learning, and future planning domains, while the existing GC services were still predominantly responsive and were not yet supported by systematically organized administrative procedures. The mentoring activities were conducted through collaborative discussions, reinforcement of understanding regarding basic services, responsive services, individual planning, and system support, as well as practical assistance in developing administrative tools. The program produced service implementation plans, individual and group counseling report formats, student development records, and a framework for GC program planning. These outcomes indicate the establishment of an initial foundation for more systematic, planned, and well-documented guidance and counseling services. However, program sustainability requires further implementation of the developed tools, continuous competency development, stronger school management support, cross-functional collaboration, and periodic evaluation based on students’ needs.
PEMBERDAYAAN KADER PKK DESA ASRIKATON SEBAGAI SUMBER BELAJAR MASYARAKAT DALAM MENGENALKAN JAMU HERBAL KEPADA ANAK SEBAGAI GENERASI PENERUS Maghfiroh, Siti; Shofa Wardana, Eka; Hasanah, Lailatul; Atullatipah, Mar; Marifah, Marifah; Angelita Asmaradani, Maya; Halim, Moh; Wulandari, Nika; Ika Nurwahyuni, Nila; Albab, Ulil; Apriliyana Wijiani, Widya
Sasambo: Jurnal Abdimas (Journal of Community Service) Vol. 8 No. 4 (2026): November
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pemberdayaan Masyarakat (LITPAM)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36312/sasambo.v8i4.6748

Abstract

Jamu merupakan warisan pengetahuan dan budaya Indonesia, tetapi pengenalannya kepada anak kian berkurang akibat perubahan gaya hidup. Kader Pembinaan Kesejahteraan Keluarga (PKK) Desa Asrikaton, Kecamatan Pakis, Kabupaten Malang, masih terbatas pengetahuan dan keterampilannya dalam mengolah tanaman herbal menjadi jamu, serta belum berperan sebagai pendamping belajar anak. Kegiatan pengabdian ini bertujuan memperkuat kapasitas kader agar dapat membuat jamu secara higienis dan mengenalkannya kepada anak. Pendekatan partisipatif diterapkan dalam empat tahap: persiapan; pelaksanaan berupa edukasi, demonstrasi, dan praktik pembuatan Jamu Nusa Raga (jahe, kunyit, serai, ketumbar, kayu manis, asam jawa, jeruk nipis, dan gula batu) disertai pembekalan kader sebagai fasilitator bagi anak; evaluasi melalui pretest-posttest, observasi praktik, dan lembar evaluasi anak; serta pelaporan. Peserta terdiri atas 25 kader PKK dan 40 anak. Rata-rata skor pengetahuan kader bertambah dari 52,4 menjadi 86,7 (selisih 34,3 poin); 22 dari 25 kader (88%) mampu mempraktikkan pembuatan jamu sesuai prosedur higienis dengan pendampingan tim sehingga dihasilkan 27 botol Jamu Nusa Raga; dan 21 dari 25 kader (84%) mampu menyampaikan materi kepada anak melalui permainan edukatif dan pengamatan langsung bahan herbal. Dari sasaran total 40 anak, terdapat 20 anak (50%) yang mampu menyebutkan minimal tiga jenis tanaman herbal beserta manfaat kesehatannya setelah mengikuti program edukasi. Hasil ini bersifat deskriptif dan keberlanjutan praktik kader setelah kegiatan belum dipantau. Kegiatan ini mendukung SDG 3 dan SDG 4 serta pelestarian jamu sebagai Warisan Budaya Tak Benda yang ditetapkan UNESCO pada tahun 2023. Strengthening PKK Cadres as Facilitators in Introducing Jamu to Children in Asrikaton Village Jamu is an Indonesian herbal heritage whose introduction to children has been declining because of lifestyle changes. Cadres of the Family Welfare Movement (PKK) in Asrikaton Village, Pakis Sub-district, Malang Regency, had limited knowledge and skills in processing herbal plants into jamu and had not yet acted as facilitators of children’s learning. This community service activity aimed to strengthen the cadres’ capacity to prepare jamu hygienically and to introduce it to children. A participatory approach was applied in four stages: preparation; implementation, consisting of education, demonstration, and practice of making Jamu Nusa Raga (ginger, turmeric, lemongrass, coriander, cinnamon, tamarind, lime, and rock sugar) followed by coaching the cadres as facilitators for children; evaluation through a pre-test and post-test, practice observation, and a children’s assessment sheet; and reporting. The participants were 25 cadres and 40 children. The cadres’ mean knowledge score rose from 52.4 to 86.7 (a gain of 34.3 points); 22 of 25 cadres (88%) carried out the hygienic procedure with the team’s guidance, producing 27 bottles of Jamu Nusa Raga; and 21 of 25 cadres (84%) were able to deliver the material to children through educational games and direct observation of herbs. Out of a total target of 40 children, 20 children (50%) were able to name at least three herbal plants along with their respective health benefits after participating in the educational program. These findings are descriptive, and the continuity of the cadres’ practice after the activity has not been monitored. The activity supports SDG 3 and SDG 4 and the preservation of jamu, recognized by UNESCO in 2023 as an Intangible Cultural Heritage.
Edukasi Penggunaan dan Penyimpanan Obat Tetes Mata bagi Pasien Rawat Jalan di RSUD dr. Harjono S. Ponorogo” Arifianto, Nasruhan; Yuniar, Cinthya Ratna; Gusriyanti, Anik; Wati, Enfi Ambar; Chrisna, Ivo Nila; Fitriana, Lilis Ika; Rizkyana, Sazkia Dian; Aini, Iffah Qurratu; Hardiana, Luvia
Sasambo: Jurnal Abdimas (Journal of Community Service) Vol. 8 No. 4 (2026): November
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pemberdayaan Masyarakat (LITPAM)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36312/sasambo.v8i4.6811

Abstract

Penggunaan dan penyimpanan obat tetes mata memerlukan pemahaman yang tepat mengenai teknik pemberian, pencegahan kontaminasi, dan batas waktu penggunaan setelah kemasan dibuka. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan meningkatkan pengetahuan pasien rawat jalan dan keluarga pasien mengenai penggunaan dan penyimpanan obat tetes mata. Kegiatan dilaksanakan pada 2 Juli 2026 di ruang tunggu Apotek Rawat Jalan RSUD dr. Harjono S. Ponorogo dengan melibatkan 20 peserta. Pelaksanaan kegiatan meliputi edukasi interaktif, pembagian leaflet, demonstrasi menggunakan alat peraga, serta tanya jawab. Pengetahuan peserta dievaluasi sebelum dan sesudah edukasi menggunakan kuesioner berisi 10 pertanyaan pilihan ganda. Data dianalisis secara deskriptif dengan membandingkan rata-rata skor pre-test dan post-test. Hasil evaluasi menunjukkan peningkatan rata-rata skor dari 46,5% menjadi 88%, atau sebesar 41,5 poin persentase. Temuan ini menunjukkan adanya peningkatan pengetahuan peserta setelah mengikuti edukasi penggunaan dan penyimpanan obat tetes mata. Pemanfaatan ruang tunggu apotek sebagai tempat edukasi dapat menjadi pendekatan praktis untuk mendukung pelayanan informasi obat kepada pasien dan keluarga pasien. Education on Eye Drop Use and Storage for Outpatients at RSUD dr. Harjono S. Ponorogo The use and storage of eye drops require adequate knowledge of administration techniques, contamination prevention, and the period of use after opening. This community service activity aimed to improve outpatients’ and family members’ knowledge of eye drop use and storage. The activity was conducted on July 2, 2026, in the outpatient pharmacy waiting area of RSUD dr. Harjono S. Ponorogo and involved 20 participants. Activities included interactive education, leaflet distribution, demonstrations using teaching aids, and a question-and-answer session. Participants’ knowledge was assessed before and after the educational session using a questionnaire containing 10 multiple-choice questions. Data were analyzed descriptively by comparing mean pre-test and post-test scores. The results showed that the mean score increased from 46.5% to 88%, representing an increase of 41.5 percentage points. These findings indicate improved participant knowledge following education on eye drop use and storage. Using pharmacy waiting areas for educational activities may provide a practical approach to supporting medication information services for patients and their families.
Pemanfaatan Limbah Batang Jagung Menjadi Briket Biomassa Sebagai Energi Alternatif Bernilai Ekonomi Ariffianti, Indah; Fariantin, Erviva; Hidayat, Sukma; Oktaviani, Yusi Faizatul; Hikmah, Hikmah; Mutia, Galuh Ratna; Asdiansyuri, Ulfiani
Sasambo: Jurnal Abdimas (Journal of Community Service) Vol. 8 No. 4 (2026): November
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pemberdayaan Masyarakat (LITPAM)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36312/sasambo.v8i4.6894

Abstract

Batang jagung merupakan residu pascapanen yang berpotensi diolah sebagai bahan baku briket biomassa. Di Dusun Ireng Lauq, Desa Jatisela, pemanfaatan residu jagung oleh Kelompok Tani Rahayu masih menghadapi keterbatasan peralatan dan kebutuhan penguatan pemahaman proses pengolahan. Kegiatan pengabdian ini bertujuan memperkuat pengetahuan peserta mengenai pemanfaatan batang jagung dan memberikan pengalaman praktik melalui edukasi serta demonstrasi. Kegiatan berlangsung pada 17–21 September 2026 dengan tahapan observasi, pre-test, sosialisasi, demonstrasi oleh tim pendamping, praktik partisipatif pada tahap yang aman, diskusi, post-test, dan evaluasi. Analisis deskriptif menggunakan 13 pasangan data pre-test dan post-test lengkap dengan skor maksimum 25. Rata-rata skor meningkat dari 22,54 menjadi 23,62; persentase skor terhadap skor maksimum meningkat dari 90,15% menjadi 94,46% atau bertambah 4,31 poin persentase. Sembilan peserta memperoleh skor lebih tinggi dan empat peserta memiliki skor tetap. Peserta memperoleh pengalaman praktik dalam memahami alur pemanfaatan batang jagung. Hasil ini menunjukkan penguatan pengetahuan yang teramati dalam evaluasi jangka pendek, bukan bukti peningkatan keterampilan terukur, mutu briket, maupun manfaat ekonomi dan lingkungan. Education and Demonstration of Corn Stalk Utilization as Biomass Briquettes in Jatisela Village Corn stalks are post-harvest residues with potential use as feedstock for biomass briquettes. In Ireng Lauq Hamlet, Jatisela Village, the Rahayu Farmers Group faces limited production equipment and needs further understanding of the processing stages. This community service activity aimed to reinforce participants’ knowledge of corn stalk utilization and provide practical exposure through education and demonstration. Conducted on 17–21 September 2026, the activities included observation, a pre-test, outreach, a supervised demonstration, participation in safe activities, discussion, a post-test, and evaluation. Descriptive analysis was based on 13 complete paired pre-test and post-test records with a maximum score of 25. The mean score increased from 22.54 to 23.62; the mean score as a percentage of the maximum possible score rose from 90.15% to 94.46%, an increase of 4.31 percentage points. Nine participants improved and four obtained unchanged scores. Participants gained practical exposure to the general stages of corn stalk utilization. These findings indicate a short-term improvement in assessed knowledge, but do not establish measurable skill gains, product quality, financial viability, or environmental benefits.
INOVASI CODE BLUE FAKULTAS ILMU KEOLAHRAGAAN UNIVERSITAS NEGERI MALANG SEBAGAI MODEL TANGGAP DARURAT MEDIS DI PERGURUAN TINGGI Lenggono, Kumoro Asto; Isnaini, Moh Yudha; Bakti, Fajar Raya Ferdinal Kusuma; Rahayuni, Kurniati; Rasyid, 5Raden Muhammad Nuvail; Saputri, Puput
Sasambo: Jurnal Abdimas (Journal of Community Service) Vol. 8 No. 4 (2026): November
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pemberdayaan Masyarakat (LITPAM)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36312/sasambo.v8i4.6934

Abstract

Fakultas Ilmu Keolahragaan Universitas Negeri Malang (FIK UM) memiliki aktivitas olahraga, praktikum, dan penggunaan fasilitas olahraga yang memerlukan kesiapan menghadapi kegawatdaruratan medis. Kegiatan pengabdian ini bertujuan mengembangkan sistem Code Blue sebagai kerangka tanggap darurat medis yang disesuaikan dengan kondisi lingkungan FIK UM. Kegiatan meliputi identifikasi kebutuhan, pembentukan tim Code Blue, penyusunan SOP, penguatan sarana kegawatdaruratan, pelatihan Basic Life Support (BLS), dan simulasi full-scale drill. Tim inti yang terbentuk terdiri atas 25 personel, sedangkan pelatihan BLS diikuti 50 peserta. Evaluasi pengetahuan menggunakan pre-test dan post-test menunjukkan peningkatan rata-rata skor dari 42,5 menjadi 89,4 atau meningkat 46,9 poin. Simulasi full-scale drill menunjukkan aktivasi sistem dalam 45 detik, kedatangan tim di lokasi dalam 2 menit 15 detik, dan analisis AED pada menit ke-2:50. Tiga unit AED ditempatkan di lokasi strategis FIK UM. Capaian tersebut menunjukkan kesiapsiagaan awal sistem dalam konteks simulasi melalui integrasi personel, prosedur, sarana, pelatihan, dan komunikasi. Hasil belum dapat digunakan untuk menyimpulkan efektivitas sistem pada kejadian kegawatdaruratan nyata karena evaluasi tidak menggunakan kelompok pembanding dan belum menilai retensi pengetahuan. Development of a Code Blue System to Strengthen Medical Emergency Preparedness at the Faculty of Sports Science, State University of Malang  Higher education environments with sports activities, practical sessions, and intensive use of physical facilities may face medical emergencies requiring rapid, coordinated, and procedure-based responses. This community service program aimed to develop a Code Blue system at the Faculty of Sports Science, Universitas Negeri Malang (FIK UM) to strengthen medical emergency preparedness. The program consisted of needs identification, establishment of a core Code Blue team, development and validation of a Standard Operating Procedure (SOP), provision of Automated External Defibrillators (AEDs), Basic Life Support (BLS) training, and a full-scale drill. A 25-member core team was established, while BLS training involved 50 participants. Knowledge evaluation using pre-test and post-test showed an increase in the mean score from 42.5 to 89.4, representing a 46.9-point descriptive increase. The simulation recorded system activation within 45 seconds, team arrival 2 minutes 15 seconds after activation, and simulated AED analysis at 2 minutes 50 seconds. Knowledge scores were obtained from the training evaluation, whereas response times were obtained from the simulation. The findings indicate that integrating personnel, SOPs, AED facilities, training, and simulation can strengthen initial Code Blue preparedness at FIK UM. Periodic drills, refresher training, and equipment maintenance are needed to sustain system readiness.
IMPLEMENTASI CODE RED FAKULTAS ILMU KEOLAHRAGAAN UNIVERSITAS NEGERI MALANG SEBAGAI STRATEGI KESIAPSIAGAAN DARURAT DI LINGKUNGAN KAMPUS TERPADU Lenggono, Kumoro Asto; Pritama, Muhammad Atiq Noviudin; Rusdiyanto, Rajip Mustafillah; Rahmadani, Jalalluddin; Saputri , Puput
Sasambo: Jurnal Abdimas (Journal of Community Service) Vol. 8 No. 4 (2026): November
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pemberdayaan Masyarakat (LITPAM)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36312/sasambo.v8i4.6935

Abstract

Keselamatan dan kesiapsiagaan kebakaran merupakan bagian penting dalam menciptakan lingkungan perguruan tinggi yang aman, khususnya pada kampus dengan aktivitas akademik tinggi dan fasilitas gedung yang beragam. Fakultas Ilmu Keolahragaan Universitas Negeri Malang (FIK UM) memiliki ruang perkuliahan, laboratorium, fasilitas olahraga, dan gedung bertingkat yang memerlukan kesiapan respons terhadap kebakaran. Program pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan mengimplementasikan Code Red untuk memperkuat kesiapsiagaan kebakaran melalui identifikasi kebutuhan, koordinasi, pelatihan berbasis praktik, pembagian peran, dan simulasi. Kegiatan dilaksanakan pada 23 Juli 2026 di gedung terpadu FIK UM selama kurang lebih lima jam, pukul 08.00–13.00 WIB, dengan melibatkan unsur tenaga kependidikan, dosen, mahasiswa, dan petugas keamanan serta dua instruktur dari Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan Kota Batu. Jumlah peserta aktual dan penyebut perhitungan partisipasi perlu dicantumkan pada naskah final: 29 peserta, dengan 24 peserta aktif (82,8%); berdasarkan laporan kegiatan yang tersedia, partisipasi aktif tercatat 82,8%. Kegiatan meliputi evakuasi gedung bertingkat, penggunaan APAR, pemadaman api awal menggunakan sarana sederhana, serta pembagian peran melalui sistem 4 Helm. Luaran aktual kegiatan berupa rancangan sistem Code Red dan hasil identifikasi kebutuhan yang menjadi dasar finalisasi SOP serta pengembangan Modul Pelaksanaan Code Red; SOP dan modul masih berada pada tahap pengembangan. Kegiatan memberikan pengalaman langsung dalam praktik kesiapsiagaan dan menjadi dasar penguatan sistem Code Red, namun belum digunakan untuk menyimpulkan peningkatan pengetahuan atau efektivitas respons karena tidak dilaporkan pengukuran pre-post. Tindak lanjut diarahkan pada finalisasi SOP dan modul, sosialisasi berkelanjutan, latihan berkala, pemeliharaan fasilitas, dan evaluasi keterampilan. Implementation of "Code Red" to Strengthen Fire Preparedness at the Faculty of Sports Science, State University of Malang  Fire safety and preparedness are important components of a safe higher education environment, particularly on campuses with high academic activity and diverse building facilities. The Faculty of Sports Science, Universitas Negeri Malang (FIK UM), has lecture rooms, laboratories, sports facilities, and multi-story buildings that require preparedness for fire response. This community service program aimed to implement Code Red to strengthen fire preparedness through needs identification, coordination, practice-based training, role distribution, and simulation. The activity was conducted on 23 July 2026 at the integrated building of FIK UM for approximately five hours, from 08.00 to 13.00 WIB, involving academic and support personnel, students, security officers, and two instructors from the Fire and Rescue Service of Batu City. The final manuscript should report the actual number of participants and the denominator used for the participation calculation: 29 participants, with 24 active participants (82.8%); the available activity report records 82,8% active participation. The activities covered evacuation of multi-story buildings, portable fire extinguisher use, initial fire suppression using simple resources, and emergency-response role distribution through the Four-Helmet system. The actual outputs were a draft Code Red system and a needs-identification result that serve as the basis for finalizing the Standard Operating Procedure (SOP) and developing the Code Red Implementation Module; the SOP and module remain under development. The activity provided participants with direct practical experience in preparedness and established a basis for strengthening the Code Red system, but it does not support conclusions about increased knowledge or response effectiveness because no pre-post measurement was reported. Follow-up actions include SOP and module finalization, continuous socialization, regular exercises, facility maintenance, and skills evaluation.
PENGUATAN LITERASI LINGKUNGAN MELALUI FORUM GROUP DISCUSSION (FGD) DALAM PENGEMBANGAN SMART ECOPEDAGOGY DI SDN MOJOREJO 2 KOTA BATU Lenggono, Kumoro Asto; Setiawan, Setiawan; Hamdan, Achmad; Humairo, Mika Vernicia; Putri, Fatikah Setyo; Rasyid, Raden Muhammad Nuvail; Ramadhana, Galuh Dyah Purwa
Sasambo: Jurnal Abdimas (Journal of Community Service) Vol. 8 No. 4 (2026): November
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pemberdayaan Masyarakat (LITPAM)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36312/sasambo.v8i4.6936

Abstract

Literasi lingkungan perlu diperkuat sejak sekolah dasar melalui pembelajaran yang mampu menghubungkan pengetahuan dengan pengalaman dan tindakan nyata. Namun, di SDN Mojorejo 2 Kota Batu, pendidikan lingkungan belum terintegrasi secara sistematis dalam pembelajaran dan masih terdapat keterbatasan media pembelajaran berbasis ecopedagogy. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan mengembangkan dan memperkenalkan platform Smart Ecopedagogy berdasarkan kebutuhan mitra. Kegiatan menggunakan pendekatan partisipatif melalui Focus Group Discussion (FGD), identifikasi kebutuhan, simulasi prototype, serta evaluasi dan penyempurnaan berdasarkan masukan mitra. Hasil kegiatan menunjukkan bahwa kebutuhan utama sekolah meliputi penyediaan materi lingkungan yang lebih terstruktur dan relevan, media evaluasi pembelajaran, serta pencatatan aktivitas siswa. Prototype Smart Ecopedagogy dikembangkan dengan tiga peran pengguna, yaitu admin, guru, dan siswa, yang masing-masing memiliki fungsi sesuai kebutuhan pembelajaran. Hasil FGD kedua menghasilkan masukan berupa penambahan fitur gamifikasi dan reward, pembaruan konten Pendidikan Lingkungan Hidup (PLH), integrasi nilai Budaya Sekolah Aman dan Nyaman (BSAN), serta fitur unggah foto dengan timestamp sebagai alternatif pemantauan aktivitas siswa. Beberapa komponen, seperti sensor lingkungan dan integrasi AI dengan sensor kamera dan gerak, masih berada dalam tahap pengembangan. Dengan demikian, pendekatan partisipatif melalui FGD menghasilkan prototype Smart Ecopedagogy yang disesuaikan dengan kebutuhan mitra dan menjadi dasar untuk pengembangan serta uji coba lebih lanjut dalam mendukung literasi lingkungan di sekolah dasar. Strengthening Environmental Literacy Through Focus Group Discussions (FGD) in the Development of Smart Ecopedagogy at SDN Mojorejo 2 in Batu City  Environmental literacy needs to be strengthened from elementary school through learning approaches that connect knowledge with students’ experiences and real-life actions. However, at SDN Mojorejo 2 Kota Batu, environmental education has not yet been systematically integrated into the learning process, and teachers have limited access to structured ecopedagogy-based learning media. This community service activity aimed to develop and introduce the Smart Ecopedagogy platform based on the needs of the school community. A participatory approach was implemented through Focus Group Discussions (FGDs), needs identification, prototype simulation, and evaluation based on partner feedback. The results showed that the school needed more structured and relevant environmental learning materials, learning evaluation media, and a mechanism for recording students’ activities. The Smart Ecopedagogy prototype was developed with three user roles: administrator, teacher, and student, each with functions tailored to the learning process. The second FGD generated several recommendations, including the addition of gamification and reward features, updating Environmental Education (PLH) content, integrating Safe and Comfortable School Culture (BSAN) values, and adding photo uploads with timestamps as an initial alternative for monitoring student activities. Several technological components, including environmental sensors and the integration of artificial intelligence with camera and motion sensors, remain under development. Thus, the participatory FGD approach resulted in a Smart Ecopedagogy prototype that was adapted to the needs of the partner school and provided a basis for further development and testing to support environmental literacy in elementary education
EDUKASI RISIKO PENGGUNAAN GAWAI PADA ANAK USIA DINIBAGI KADER POSYANDU DESA BENGKAUNG Bayani, Faizul
Sasambo: Jurnal Abdimas (Journal of Community Service) Vol. 8 No. 4 (2026): November
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pemberdayaan Masyarakat (LITPAM)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36312/sasambo.v8i4.7131

Abstract

Penggunaan gawai berulang untuk menenangkan anak sebagai “empeng digital” dapat menggantikan kesempatan interaksi pengasuhan responsif. Kegiatan pengabdian ini bertujuan memperkuat pengetahuan peserta pembinaan kader Posyandu mengenai risiko penggunaan gawai yang tidak tepat pada anak di bawah lima tahun dan alternatif pengasuhan tanpa layar. Kegiatan dilaksanakan pada 18 Agustus 2026 di Desa Bengkaung, Lombok Barat, melalui presentasi, pembahasan kasus, dan pengenalan strategi 4T. Evaluasi satu kelompok pretest–posttest mencakup 26 pasangan skor yang dapat dipadankan secara meyakinkan dari 43 respons pretest awal; status kader atau nonkader pada setiap pasangan tidak terdokumentasi. Rerata skor meningkat dari 72,69 ± 25,39 menjadi 82,31 ± 17,73 (selisih 9,62 poin). Uji Wilcoxon menunjukkan perbedaan skor bermakna (W = 15,00; p = 0,005), dengan korelasi rank-biserial 0,779 dan interval kepercayaan bootstrap 95% perubahan rerata 3,85–16,15 poin. Skor meningkat pada 13 peserta (50,0%), tetap pada 10 (38,5%), dan menurun pada tiga (11,5%). Temuan terbatas pada peningkatan skor pengetahuan segera setelah pembinaan pada peserta yang terpasangkan; perubahan perilaku pengasuhan dan efektivitas strategi 4T belum diukur. Pembinaan berorientasi kasus dapat menjadi dasar pengembangan evaluasi keterampilan kader dan tindak lanjut keluarga. Strengthening Posyandu Cadres' Knowledge of Gadget-Use Risks Among Toddlers Through Digital Parenting Education in Bengkaung Repeated use of screens as a “digital pacifier” to soothe young children may displace responsive caregiving. This community service program aimed to strengthen participants’ knowledge of inappropriate screen use among children under five and practical screen-free alternatives. The session was held on 18 August 2026 in Bengkaung Village, West Lombok, using a presentation, everyday caregiving cases, and the four-step 4T strategy. A one-group pretest–posttest evaluation retained 26 reliably matched score pairs from 43 initial pretest records; individual cadre versus non-cadre status was not documented. Mean scores increased from 72.69 ± 25.39 to 82.31 ± 17.73 (mean difference, 9.62 points). The Wilcoxon signed-rank test indicated a statistically significant paired difference (W = 15.00; p = 0.005), with a rank-biserial correlation of 0.779 and a 95% bootstrap confidence interval for the mean difference of 3.85–16.15 points. Scores increased in 13 participants (50.0%), were unchanged in 10 (38.5%), and decreased in three (11.5%). Findings are limited to immediate knowledge scores among matched respondents, rather than all cadres or families. Changes in caregiving practices and the effectiveness of the 4T strategy were not measured. Future programs should assess cadre counselling skills and family-level follow-up.
PEMANFAATAN LIMBAH KULIT BUAH DAN SAYURAN MELALUI PELATIHAN PEMBUATAN ECO-ENZIM DI SMKN 1 PRINGGARATA Hardianti, Baiq Dina; Pomeistia, Meilynda; Rahman, Rahman; Syafitri, Temi Ainul; Hidayah, Thauhidayatul; Sudirman, Sudirman; Bayani, Faizul
Sasambo: Jurnal Abdimas (Journal of Community Service) Vol. 8 No. 4 (2026): November
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pemberdayaan Masyarakat (LITPAM)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36312/sasambo.v8i4.7147

Abstract

Pengolahan kulit buah dan sayuran dapat dijadikan konteks edukasi pengelolaan sampah organik di sekolah kejuruan. Kegiatan pengabdian ini bertujuan mengenalkan langkah awal penyiapan campuran fermentasi eco-enzim dan menggambarkan perubahan skor evaluasi peserta di SMKN 1 Pringgarata, Lombok Tengah, pada 17 September 2026. Program mencakup penyampaian materi, demonstrasi bahan dan wadah, peragaan pencampuran, serta pretest dan posttest. Dokumentasi menunjukkan wadah dan bahan organik yang digunakan dalam peragaan; keterampilan setiap peserta dan mutu produk matang tidak diukur. Dari 42 catatan peserta, 41 memuat pasangan nilai lengkap. Rerata skor meningkat dari 7,02 ± 2,35 menjadi 9,37 ± 1,20 (kenaikan 2,34 poin); 36 peserta (87,80%) meningkat, tiga (7,32%) tetap, dan dua (4,88%) menurun. Uji Wilcoxon signed-rank menunjukkan perbedaan bermakna (p < 0,001). Kegiatan menghasilkan demonstrasi penyiapan campuran dan peningkatan skor tes setelah pelatihan, tetapi belum membuktikan efektivitas kausal, penguasaan keterampilan praktik, ataupun kualitas eco-enzim setelah fermentasi. Pendampingan bersama sekolah hingga tahap panen dan evaluasi keterampilan diperlukan. Education and Demonstration of Eco-Enzyme Mixture Preparation from Fruit and Vegetable Peels at SMKN 1 Pringgarata Fruit and vegetable peels offer a practical context for organic-waste education in vocational schools. This community service activity introduced the initial preparation of an eco-enzyme fermentation mixture and described changes in assessment scores at SMKN 1 Pringgarata, Central Lombok, Indonesia, on 17 September 2026. Activities included educational instruction, demonstration of materials and containers, mixture preparation, and pretest–posttest assessments. Photographs documented the preparation process, but individual practical competence and the quality of matured products were not measured. Of 42 participant records, 41 contained complete paired scores. The mean score increased from 7.02 ± 2.35 to 9.37 ± 1.20 (mean difference: 2.34 points); 36 participants (87.80%) improved, three (7.32%) remained unchanged, and two (4.88%) declined. The Wilcoxon signed-rank test showed a significant paired difference (p < 0.001). The activity demonstrated initial eco-enzyme mixture preparation and was followed by improved test scores. Without a control group, a validated skills assessment, or fermented-product testing, neither causality nor practical competence or final product quality can be established. Follow-up mentoring with the school is recommended.