cover
Contact Name
winci firdaus
Contact Email
wincifirdaus1@gmail.com
Phone
+6285220720191
Journal Mail Official
wincifirdaus1@gmail.com
Editorial Address
Jalan Baranangsiang No.259/34B Bandung
Location
Kota denpasar,
Bali
INDONESIA
Aksara
Published by Balai Bahasa Bali
Aksara aims at providing a media or forum for researchers, faculties, and graduate students to publish their research papers in the field of linguistic and literary studies. The scope of Aksara includes linguistic, applied linguistic, interdisciplinary linguistic studies, theoretical literary studies, interdisciplinary literary studies, literature and identity politics, philology, and oral tradition. Aksara is published by Balai Bahasa Bali, Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Aksara accepts articles from authors of national or international institutions. Authors are free of charge throughout the whole process including article submission, review and editing process, and publication.
Articles 201 Documents
Fabula dalam Novel Fiksi-Ilmiah Penjelajah Antariksa 5 Kapten Raz Karya Djokolelono: Kajian Naratologi Mieke Bal Mangera, Elisabet; Arrang, Judith Ratu Tandi
Aksara Vol 36, No 1 (2024): AKSARA, EDISI JUNI 2024
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29255/aksara.v36i1.4256.194--202

Abstract

The fabula (story) present in the science fiction novel "Penjelajah Antariksa 5: Kapten Raz" by Djokolelono is analyzed by examining the narrative elements that construct the overall story. This study aims to analyze the fabula in the science fiction novel "Penjelajah Antariksa 5: Kapten Raz" by Djokolelono using Mieke Bal's narratological approach. The study seeks to analyze the elements of fabula by examining the events, actors, time, and setting. Mieke Bal's narratology theory is utilized as the theoretical framework. The research method employed is text analysis, with data collection techniques involving close reading and note-taking. Data is collected from the descriptions of events, characters, time, and place within the story. The data is then analyzed using narrative analysis based on Mieke Bal's theory. The findings reveal that the science fiction novel "Penjelajah Antariksa 5: Kapten Raz" by Djokolelono has a complex fabula, with the use of rich narrative techniques such as analepsis (flashback) and prolepsis (foreshadowing). The characters in the novel play a pivotal role in driving the narrative and creating dynamic conflicts and resolutions. The elements of characters (actors), time, and location provide a strong foundation for constructing the fabula by providing the agents of action, the temporal framework for the sequence of events, and the physical context for the actions.  This study contributes to the field of narratology, particularly in the application of Mieke Bal's theory to science fiction literature. The findings can serve as a reference for future researchers who wish to explore narrative analysis. AbstrakFabula yang terdapat dalam novel fiksi-ilmiah Penjelajah Antariksa 5: Kapten Raz karya Djokolelono, dengan mencari elemen-elemen fabula yang membentuk keseluruhan narasi dalam novel. Penelitian ini bertujuan menganalisis fabula dalam novel fiksi-ilmiah Penjelajah Antariksa 5: Kapten Raz karya Djokolelono dengan menggunakan kajian naratologi Mieke Bal. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis elemen-elemen fabula dengan memperhatikan peristiwa, aktor, lata latar waktu dan tempat. Penelitian ini menggunakan teori naratologi Mieke Bal. Metode yang digunakan menggunakan analisis teks. Teknik pengumpulan data menggunakan teknik baca dan teknik catat. Data dikumpulkan dari deskripsi persitiwa, karakter, latar waktu dan tempat yang terdapat dalam cerita. Data dianalisis menggunakan analisis naratif berdasarkan teori Mieke Bal. Hasil penelitian menunjukkan bahwa novel fiksi-ilmiah Penjelajah Antariksa 5: Kapten Raz karya Djokolelono memiiki fabula yang kompleks dengan penggunaan teknik naratif yang kaya akan analepsis (flaschback) dan prolepsis (foreshadowing), karakter-karakter dalam novel memainkan peran penting dalam menggerakkan narasi dan menciptakan konflik dan resolusi yang dinamis. Elemen tokoh (aktor), waktu, dan lokasi memberikan dasar yang kuat untuk membangun fabula dengan menyediakan tokoh yang melakukan tindakan, kerangka waktu untuk urutan peristiwa, dan konteks fisik untuk aksi. Penelitian ini memberikan kontribusi bagi studi naratologi, khususnya dalam penerapan teori Mieke Bal pada karya sastra fiksi-ilmiah. Temuan ini dapat dijadikan sebagai referensi bagi peneliti selanjutnya yang ingin mengeksplorasi analisis naratif. 
Transformasi Dramaturgis Indang Piaman dalam Pertunjukan Teater “Anggun Nan Tongga” Karya Wisran Hadi N, Sahrul; Yusril, Yusril; H, Afrizal
Aksara Vol 36, No 1 (2024): AKSARA, EDISI JUNI 2024
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29255/aksara.v36i1.4170.68--82

Abstract

Kaba "Anggun Nan Tongga" is a Minangkabau folktale, precisely in the Pariaman area. This Kaba tells a story of power struggle and a very complex love affair, then transformed by Wisran Hadi (director and leader of the Bumi Teater group) into a modern theater form. Wisran Hadi interpreted the Kaba "Anggun Nan Tongga" differently, so it can be said that this work is a counter kaba to the traditional kaba. For Wisran Hadi, kaba is not a holy book that cannot be changed. The majority of Wisran Hadi's works rely on kaba as inspiration for the creation of his plays and theater performances, so they are different from the original form. The interesting thing in the theater work "Anggun Nan Tongga" lies in the pattern of three lines on the left, right and back. This pattern is basically based on one of the traditional Minangkabau art forms in Pariaman, called Indang Piaman. This Indang Piaman pattern is then used as an attractive performance spectacle element in motion, as well as dendang (singing) combined with modern western theater dramaturgy. This research method relies on a qualitative method that prioritizes interviews and literature studies. Meanwhile, to answer the research problem, the dramaturgical approach developed by Mary Luckhurst is used. Through this dramaturgy, the theater can be analyzed to see the extent to which the dramatic potential of Indang Piaman is able to make a significant contribution to the spectacle of the theater work "Anggun Nan Tongga" by Wisran Hadi. This research is expected to find various aspects that shape the creation of Indang Piaman's dramatic potential in the theater work "Anggun Nan Tongga". AbstrakKaba “Anggun Nan Tongga” merupakan cerita rakyat Minangkabau, tepatnya di daerah Pariaman. Kaba ini mengisahkan tentang perebutan kekuasaan dan hubungan percintaan yang sangat kompleks, kemudian ditransformasi oleh Wisran Hadi (sutradara dan pimpinan kelompok Bumi Teater) ke dalam bentuk teater modern. Wisran Hadi melakukan penafsiran yang berbeda terhadap Kaba “Anggun Nan Tongga” tersebut, sehingga bisa dikatakan karya ini merupakan kontra kaba terhadap kaba tradisi. Bagi Wisran Hadi, kaba bukan kitab suci yang tidak boleh diubah. Mayoritas karya Wisran Hadi bertolak pada kaba sebagai inspirasi penciptaan naskah drama maupun pertunjukan teaternya sehingga memiliki perbedaan dengan bentuk aslinya. Hal yang menarik di dalam karya teater “Anggun Nan Tongga” terletak pada pola tiga garis yang berada di sebelah kiri, kanan, dan belakang. Pola seperti ini pada dasarnya bertolak pada salah satu bentuk kesenian tradisi Minangkabau di Pariaman, yang disebut dengan istilah Indang Piaman. Pola Indang Piaman ini, kemudian dijadikan sebagai elemen spektakel pertunjukan yang atraktif secara gerak, maupun dendang (nyanyian) yang dipadukan dengan dramaturgi teater modern barat. Metode penelitian ini bertolak pada metode kualitatif yang mengutamakan pada aspek wawancara dan studi literatur. Sementara, untuk menjawab permasalahan penelitian, digunakan pendekatan dramaturgi yang dikembangkan oleh Mary Luckhurst. Melalui dramaturgi ini, teater mampu dianalisis untuk melihat sejauh mana potensi dramatik Indang Piaman mampu memberikan kontribusi signifikan terhadap spektakel karya teater “Anggun Nan Tongga” karya Wisran Hadi. Penelitian ini diharapkan mampu menemukan berbagai aspek yang membentuk terciptanya potensi dramatik Indang Piaman pada karya teater “Anggun Nan Tongga”. 
ORIENTALISME DALAM "HUJAN PERTAMA DARI KAMPUNG KAFIR" KARYA SILVESTER PETARA HURIT Koten, Innosentus Soni
Aksara Vol 36, No 2 (2024): AKSARA, EDISI DESEMBER 2024
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29255/aksara.v36i2.4265.283-296

Abstract

Tulisan ini merupakan sebuah upaya pembacaan kritis atas cerpen “Hujan Pertama dari Kampung Kafir” dengan menggunakan perspektif orientalisme Edward Said. Cerpen ini ditulis oleh Silvester Petara Hurit dan diterbitkan pada koran Jawa Pos pada 25 Oktober 2020. Tujuannya adalah untuk menemukan gagasan orientalisme dalam cerpen. Metode yang digunakan adalah kualitatif-interpretatif melalui dua tahap kajian. Tahap pertama adalah membaca dengan cermat teks cerpen ‘Hujan Pertama dari Kampung Kafir”. Pada tahap kedua, wacana orientalisme disintesiskan dengan teks cerita pendek. Seluruh pembacaan cerpen ini dikaitkan dengan konteks sejarah kolonialisme dan akibat yang ditinggalkan di Flores Timur. Hasil penelitian menunjukkan bahwa cerpen ini menampilkan adanya dominasi kekuasaan kolonial (politis, intelektual kultural dan moral) serta hegemoni identitas agama penjajah di hadapan agama tradisional di Flores Timur
Ritual Hape Kleru Gaka Kaju di Desa Tapobali Lembata sebagai Pewarisan Pendidikan Nilai bagi Peserta Didik Bala, Alexander; Butun, Yuvenalis; Genua, Veronika; Larasati, Maria Marietta Bali; Demon, Yosef
Aksara Vol 36, No 1 (2024): AKSARA, EDISI JUNI 2024
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29255/aksara.v36i1.4090.138--150

Abstract

Each ethnic group has local wisdom in interpreting cultural events in their environment. This article discusses the kleru gaka kaju hape ritual in the Wolowutun community, Tapobali Village, Wulandoni, Lembata, East Nusa Tenggara. This ritual is a ceremony of thanksgiving for harvesting Swallow nests. Hape kleru gaka kaju means biting a hanging betel nut. The research problem, namely the means used, the participants involved, the stages of implementation, and the educational values in it. The purpose of his research is to explain the means, participants, stages, and values in the hape klru gaka kaju ritual. The research design uses a qualitative design. Data collection techniques, including observation and interview techniques. Data analysis includes identification, classification, and interpretation of data. The findings of the study indicated that the ingredients used included coal fire, kitchen ashes, coconut shells, agarwood, ginger, cotton fiber, baby corn, areca nut, betel nut, titi corn, coconut shells, red chicken, chicken eggs, brown rice, mayang. coconut, roped bamboo, shell glass, palm sap, plates made of pumpkin, coconut shell spoon; the participants involved were the eldest, youngest, traditional house keepers, tara mortal envoys, representatives of the Tobil tribe and residents present; the implementation includes the stages of picking up ancestral spirits, the stages of hanging areca nuts on wood, the stages of collecting offerings, the stages of receiving blessed water, the stages of sweeping and cleaning the remnants of the tools used; and contain religious values, ecological, nationalism, love for the motherland. AbstrakSetiap etnik memiliki kearifan lokal dalam memaknai peristiwa budaya yang ada dalam lingkungannya. Artikel ini membahas tentang ritual hape kleru gaka kaju dalam masyarakat Wolowutun, Desa Tapobali, Wulandoni, Lembata, Nusa Tenggara Timur. Ritual ini merupakan seremonial syukur atas panen sarang Walet. Hape kleru gaka kaju berarti menggigit pinang yang digantung. Masalah penelitiannya, yakni sarana yang digunakan, partisipan yang terlibat, tahapan pelaksanaan, dan nilai-nilai pendidikan di dalamnya. Tujuan penelitiannya untuk menjelaskan tentang sarana, partisipan, tahapan, dan nilai-nilai dalam ritual hape kleru gaka kaju. Desain penelitiannya menggunakan desain kualitatif. Teknik pengumpulan data, meliputi teknik observasi dan wawancara. Analisis data meliputi identifikasi, klasifikasi, dan interpretasi data. Temuan penelitian menunjukkan bahwa sarana yang digunakan, antara lain bara api, abu dapur, tempurung kelapa, kayu gaharu, jahe, serat kapas, jagung muda, pinang, sirih, jagung titi, kukuran kelapa, ayam merah, telur ayam, beras merah, mayang kelapa, bambu bertali, gelas tempurung, nira lontar, piring dari buah labu, senduk tempurung kelapa; partisipan yang terlibat adalah sulung, bungsu, penjaga rumah adat, utusan tara fana, perwakilan suku Tobil dan warga yang hadir; pelaksanaan meliputi tahapan penjemputan arwah leluhur, tahapan menggantung pinang di kayu, tahapan mengumpulkan sesajian, tahapan menerima air berkat, tahapan menyapu dan membersihkan sisa-sisa sarana yang digunakan; dan mengandung nilai-nilai religius, ekologis, nasionalisme, cinta tanah air.
Klasterisasi Unggah-Ungguh Basa Jawa dan Fenomena Penggunaannya Pada Masyarakat: Studi Kasus di 5 Kota Besar di Indonesia Setyawan, Bagus Wahyu; Ulya, Chafit; Hidayah, Sa'adatun Nuril
Aksara Vol 36, No 1 (2024): AKSARA, EDISI JUNI 2024
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29255/aksara.v36i1.1132.1--14

Abstract

This article discusses and describe about speech level clasterization in Javanaese Language and the language using in society. Form of this research is case study with sociolinguistic approach. Data sources are taken from the use of Javanese language in 5 big cities in Indonesia that are Semarang, Yogyakarta, Surakarta, Surabaya, and Malang. The data in this study was obtained by interview methods, field studies, and the method of sightseeing. The results found from this study that there are several varieties of unggah-ungguh basa in Javanese language. The variety most often used by the community can be divided into 3 large groups that are ngoko, madya, and krama inggil. Ngoko (low level of courtesy) consists of ngoko lugu; ngoko andhap antya-basa; and ngoko andhap basa-antya. The variety of basa madya (moderate level of politeness) consists of madya-ngoko; madya-krama; and madyantara. The variety of krama (high level of politeness) consist of basa krama wredha-krama; mudha-krama; kramantara; and krama inggil. The use of various languages at each level is influenced by several factors, including the closeness or social distance between speakers (O1) and speech partners (O2); age; social status; gender; conversation settings; and context of speech. This rule can also be used as a benchmark for the level of politeness and respect of the Javanese people. AbstrakArtikel ini membahas dan mendeskripsikan klasterisasi tingkat tutur yang terdapat dalam bahasa Jawa dan penggunaannya di masyarakat. Penelitian ini berbentuk studi kasus dengan pendekatan sosiolinguistik. Sumber data diambil dari penggunaan bahasa masyarakat Jawa di 5 kota besar di Indonesia, yaitu Semarang, Yogyakarta, Surakarta, Surabaya, dan Malang. Data dalam penelitian ini diperoleh dengan metode wawancara, studi lapangan, dan metode simak-catat. Hasil yang ditemukan dari penelitian ini bahwa terdapat beberapa ragam unggah-ungguh basa dalam khazanah bahasa Jawa. Ragam yang paling sering digunakan oleh masyarakat dapat dibagi menjadi 3 kelompok besar, yaitu ngoko, madya, dan krama inggil. Ngoko (tingkat kesopanan rendah) terdiri dari ngoko lugu; ngoko andhap antya-basa; dan ngoko andhap basa-antya. Ragam bahasa madya (tingkat kesopanan sedang) terdiri atas madya-ngoko; madya-krama; dan madyantara. Ragam Bahasa krama (kesopanan tinggi) basa krama wredha-krama; mudha-krama; kramantara; dan krama inggil. Penggunaan ragam bahasa di setiap tingkatnya dipengaruhi oleh beberapa faktor, di antaranya kedekatan atau jarak sosial antara penutur (O1) dan mitra tutur (O2), umur penutur dan mitra tutur; status sosial mitra tutur, gender, tempat atau setting percakapan dan konteks yang melingkupi tuturan. Kaidah unggah-ungguh bahasa Jawa ini juga dapat digunakan sebagai tolok ukur tingkat kesopanan dan rasa menghormati dari masyarakat Jawa.
PENINGKATAN KEMAMPUAN MENULIS TEKS EKSPOSISI BERTEMA MASYARAKAT ADAT BANTEN MELALUI BUDAYA LITERASI KRITIS BERBASIS KEARIFAN LOKAL Sobri, Sobri; Iriyansah, Muhammad Rinzat; Safii, Imam; Ardianto, Teguh
Aksara Vol 36, No 2 (2024): AKSARA, EDISI DESEMBER 2024
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29255/aksara.v36i2.4379.399-408

Abstract

Pemuda merupakan generasi pelapis yang bertanggung jawab dalam mempertahankan nilai-nilai dalam budaya di daerah tersebut. Pesatnya perkembangan digitalisasi membuat pemuda tak acuh dalam nilai-nilai yang terkandung dalam budaya daerahnya. Penelitian ini bertujuan untuk menyelidiki sifat dan kekuatan hubungan antara literasi kritis berbasis kearifan lokal dengan kemampuan menulis teks eksposisi bertema masyarakat adat Banten. Penelitian dilakukan pada siswa kelas sebelas di SMAN 11 Pandeglang. Metode yang digunakan adalah survei dengan sampel 40 siswa yang dipilih secara random. Teknik statistik regresi dan korelasi digunakan untuk menganalisis data yang diperoleh. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat korelasi positif antara literasi kritis berbasis kearifan lokal dengan keterampilan menulis teks eksposisi bertema masyarakat adat Banten. Keterampilan menulis teks eksposisi siswa bertema masyarakat adat Banten dapat dikembangkan dengan meningkatkan kemampuan literasi kritis berbasis kearifan lokal
Formula Teks Tradisi lisan Cacap-cacapan dalam Persepektif Agama Islam Juita, Hartati Ratna; Istianingrum, Rika
Aksara Vol 36, No 2 (2024): AKSARA, EDISI DESEMBER 2024
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29255/aksara.v36i2.4246.215-224

Abstract

Masyarakat Melayu Sumatera Selatan memiliki tradisi lisan adat perkawinan cacap-cacapan. Studi ini melakukan penyelidikan di Lubuklinggau, sebuah kota di Sumatra Selatan yang mempertahankan budaya dan kebiasaan Melayu. Problem antara agama dan budaya muncul dari cara masyarakat melihat tradisi lisan yang dianggap bertentangan dengan ajaran agama Islam. Tujuan penelitian adalah untuk memberikan penjelasan tentang teks pantun yang digunakan sebagai ucapan dalam acara adat perkawinan cacap-cacapan, yang dievaluasi melalui analisis kebahasan, Al-Quran, dan Hadist. Metode kualitiatif deskriptif digunakan, dengan teknik pengambilan sampel yang diperlukan untuk penelitian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa teks pantun acara adat merupakan media untuk menyampaikan nasehat yang sesuai dengan ajaran agama dan dianalisis berdasarkan analisis kebahasan, Al-Quran, dan Hadist sehingga tidak bertentangan dengan ajaran agama Islam. Penyampaian nasehat di acara adat cacap-cacapan lebih mudah diterima karena irama pantun.
Perbandingan Suara Humanisme dalam di Bawah Langit Tak Berbintang dan Laut Bercerita Ekasiswanto, Rudi
Aksara Vol 36, No 1 (2024): AKSARA, EDISI JUNI 2024
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29255/aksara.v36i1.4168.83--99

Abstract

This research aims to reveal the articulation of humanism in Di Bawah Langit Tak Berbintang and Laut Bercerita. From the preliminary reading, humanism is the most apparent theme in the story structure, thus it needs to be further explored. A Bakhtian-style dialogic perspective and narratological analysis methods are used. There are several research results. First, Di Bawah Langit and Laut Bercerita relatively have the same stylistic diversity in terms of the presence of the author’s voice through the narrator, the stylization of everyday narratives (the experience of being an exile in China and student activism during the New Order era), extraliterary forms (the speech of the Biru Laut character to Asmara Jati, although he is dead), philological-scientific statements (ethnographic description of Cianjur, historical information about the G 30S PKI, moral statements about the nature of learning, the Kamisan action, and the violence in May 1998), as well as speeches between characters that show conflict and collective interaction. Second, the stylistic diversity shows the differences between the two works. In Di Bawah Langit, humanism is oriented toward individual interests so that individualist humanism is formed, only including Utuy himself. In contrast, in Laut Bercerita, humanism focuses on community relations, the nation-state, and the memory of the May 1998 violence in Indonesia. This shows that the two novels have different orientations, between individual and collective. By operating Bakhtin's theory in a comparative manner on two Indonesian novels, this research demonstrates that humanism is voiced not through a singular way, but rather in a plural manner. This can be further explored to reveal the diversity of humanistic voices in Indonesian novels. AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk mengungkapkan artikulasi humanisme dalam Di Bawah Langit Tak Berbintang karya Utuy Tatang Sontani dan Laut Bercerita karya Leila S. Chudori. Dari pembacaan awal, humanisme merupakan muatan yang paling tampak dalam struktur cerita sehingga perlu diungkapkan lebih lanjut. Perspektif dialogis ala Bakhtian dan metode analisis naratologis digunakan untuk membongkar keberagaman stilistik sehingga dapat ditemukan artikulasi humanisme dalam kedua karya itu. Terdapat beberapa hasil penelitian. Pertama, Di Bawah Langit dan Laut Bercerita relatif memiliki keberagaman stilistik yang sama dalam hal kehadiran suara pengarang melalui narator, stilisasi narasi sehari-hari (pengalaman sebagai eksil di Tiongkok dan aktivisme mahasiswa pada masa Orde Baru), bentuk ekstraliter (ucapan tokoh Biru Laut kepada Asmara Jati meskipun ia telah mati), pernyataan filologis-saintis (deskripsi etnografis Cianjur, informasi sejarah G 30S PKI, pernyataan moral tentang hakikat belajar, aksi Kamisan, dan kekerasan Mei 1998), serta tuturan antartokoh yang menunjukkan konflik dan interaksi kolektif. Kedua, keberagaman stilistik ter-sebut menunjukkan perbedaan antara kedua karya. Dalam Di Bawah Langit, humanisme berorientasi pada kepentingan individu sehingga terbentuk humanisme individualis, yang hanya menyangkut diri Utuy sendiri. Sebaliknya, dalam Laut Bercerita, humanisme berorientasi pada relasi masyarakat, negara-bangsa, dan memori kekerasan Mei 1998 di Indonesia. Hal ini menunjukkan bahwa kedua novel memiliki orientasi yang berbeda, antara individu dan kolektif. Dengan mengoperasikan teori Bakhtin secara komparatif pada dua novel Indonesia, penelitian ini menunjukkan bahwa humanisme disuarakan bukan dengan cara tunggal, melainkan plural. Hal ini dapat ditelusuri lebih lanjut untuk mengungkapkan keberagaman suara humanisme dalam novel-novel Indonesia. 
LEKSIKON DALAM PENGOBATAN TRADISIONAL SUNDA : KAJIAN ANTROPOLINGUISTIK Dewi, Cipta Wisuda
Aksara Vol 36, No 2 (2024): AKSARA, EDISI DESEMBER 2024
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29255/aksara.v36i2.4279.269-282

Abstract

Artikel ini menguraikan terminologi etnomedisin dalam pengobatan tradisional Sunda. Fokus penelitian ini adalah mengklasifikasikan nama tumbuhan yang dapat dijadikan obat tradisional, nama penyakit tradisional Sunda, dan pemanfaatan obat tradisional sebagai indigenous knowledge masyarakat Sunda. Pendekatan teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah antropologi linguistik, sedangkan pendekatan secara metodologis yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif dan kualitatif. Data dikumpulkan melalui metode kajian pustaka, observasi dan juga wawancara dengan informan. Analisisnya dibagi menjadi kamus klasifikasi nama penyakit tradisional, kamus klasifikasi nama obat tanaman tradisional, dan pemanfaatan obat tradisional masyarakat Sunda. Penelitian ini menghasilkan (1) 65 nama tumbuhan berkhasiat obat tradisional (2) 51 nama penyakit tradisional Sunda  (3) keberlangsungan praktik pengobatan tradisional
Mengikis Segregasi Sastra Indonesia Keturunan Tionghoa Suyadi, Suyadi
Aksara Vol 36, No 1 (2024): AKSARA, EDISI JUNI 2024
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29255/aksara.v36i1.4180.124--137

Abstract

This article aims to prevent the marginalization of Indonesian literature towards authors of Tionghoa descent. The marginalization (segregation) of Tionghoa circles is not only in residential areas, but also on the map of Indonesian literary history. This qualitative descriptive research was carried out using a historical approach. From literature studies and descriptive analysis it is known that the marginalization of Indonesian literary works of Tionghoa descent is determined by five factors, namely historical factors, sociological factors, political factors, economic factors and aesthetic factors. This research concludes that Indonesian-Tionghoa literature should be included in books on the history of Indonesian literature and that its authors should be given a place and space in the pluralistic Indonesian cultural treasures, side by side with other ethnicities. Like a garden, Indonesia will be beautiful if various flowers grow in it and bloom. Therefore, this article also recommends that Indonesian-Tionghoa literature be included in the educational curriculum in secondary schools and universities. AbstrakArtikel ini bertujuan agar tidak lagi terjadi marginalisasi sastra Indonesia terhadap pengarang keturunan Tionghoa. Peminggiran (segregasi) kalangan Tionghoa bukan saja berada di kawasan permukiman, tetapi juga dalam peta sejarah sastra Indonesia. Penelitian deskriptif kualitatif ini dilakukan dengan pendekatan sejarah. Dari studi pustaka dan analisis deskriptif diketahui bahwa marginalisasi terhadap karya-karya sastra Indonesia keturunan Tionghoa ditentukan oleh lima faktor, yaitu faktor historis, faktor sosiologis, faktor politik, faktor ekonomi, dan faktor estetik. Penelitian ini menyimpulkan agar sastra Indonesia-Tionghoa ini dimasukkan dalam buku-buku sejarah sastra Indonesia serta penulisnya diberikan tempat dan ruang dalam khazanah budaya Indonesia yang pluralis, berdampingan dengan etnis lain. Ibarat sebuah taman, Indonesia akan indah kalau di dalamnya tumbuh beraneka bunga nan bermekaran. Karena itu, artikel ini juga merekomendasikan agar sastra Indonesia-Tionghoa ini dimasukkan dalam kurikulum pendidikan di sekolah-sekolah tingkat menengah dan perguruan tinggi.