cover
Contact Name
Dr. Eddy Saputra, M.Pd.I.
Contact Email
akhlakjerb@gmail.com
Phone
+6281399958557
Journal Mail Official
akhlakjerb@gmail.com
Editorial Address
Jl. Nangka No. 58 C (TB. Simatupang), Kel. Tanjung Barat, Kec. Jagakarsa, Jakarta Selatan 12530, Jakarta, Indonesia.
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
Akhlak: Journal of Education Behavior and Religious Ethics
ISSN : -     EISSN : 30902304     DOI : https://doi.org/10.30998/ajebre
Core Subject :
Akhlak: Journal of Education Behavior and Religious Ethics is a peer-reviewed scientific open access journal. The journal is dedicated to publishing articles concerned with research, theory development, or program applications related to language and literature studies. Our Journal is concerned with the preparation the academician and practitioners to applied their understanding of language and literature studies with high responsibility; in agency or school settings; in colleges and universities; or other society context and levels.
Arjuna Subject : -
Articles 23 Documents
Integrasi Nilai Ketuhanan Dalam Pembentukan Manusia Paripurna: Dari Konsep Diri Hingga Pengembahan Karakter Profesional Fariz Faizzurrahman; Noor Laila Rahmawati; Rizki Febriansyah; Raden Roro Kinanti Hemas Ayuningtyas; Bina Prima Panggayuh
Akhlak: Journal of Education Behavior and Religious Ethics Vol. 2 No. 1 (2026)
Publisher : Universitas Indraprasta PGRI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30998/jebg.v2i1.378

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah menganalisis secara mendalam serta merumuskan model integrasi nilai Ketuhanan dalam proses pembentukan individu, mulai dari pengembangan konsep diri hingga terbentuknya karakter profesional yang utuh. Fenomena kontemporer menunjukkan melemahnya moralitas dan integritas profesional yang berakar pada fondasi spiritual yang rapuh. Karena itu, penelitian ini menegaskan bahwa nilai Ketuhanan perlu ditanamkan secara sistematis sebagai dasar ontologis untuk membentuk insan kamil yang memiliki keseimbangan antara kecerdasan spiritual, emosional, dan profesional. Penelitian menggunakan metode kualitatif melalui studi literatur filosofis-teologis dan analisis deskriptif-komparatif terhadap konsep pendidikan karakter dan etika profesi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa integrasi nilai Ketuhanan berlangsung melalui tiga tahap utama: (1) Internalisasi Konsep Diri Transendental sebagai hamba Tuhan dan khalifah. (2) Penyempurnaan Karakter Personal-Sosial yang berlandaskan sifat-sifat Tuhan seperti kejujuran dan keadilan. (3) Manifestasi Karakter Profesional melalui etos kerja, integritas, dan tanggung jawab sosial. Penelitian ini menyimpulkan bahwa nilai Ketuhanan memberikan arah ontologis yang kuat bagi pengembangan diri, sehingga mendorong terbentuknya profesionalisme yang bermoral tinggi dan berdaya saing spiritual.  
Strategi Interdisipliner Guru PAI Dalam Membentuk Penalaran Logis Siswa Kelas 7 di SMP GPI Solokan Jeruk   Anggi Nurmalita; Muhammad Luthfi Dzulfikar; Hasan Basri; A. Heris Hermawan
Akhlak: Journal of Education Behavior and Religious Ethics Vol. 2 No. 1 (2026)
Publisher : Universitas Indraprasta PGRI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30998/jebg.v2i1.405

Abstract

Dikotomi antara ilmu agama dan ilmu umum seringkali membuat siswa kesulitan memahami materi Pendidikan Agama Islam (PAI) secara rasional. Pembelajaran PAI kerap terjebak pada transfer dogma tanpa melatih daya kritis siswa. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis strategi guru PAI dalam menerapkan pendekatan interdisipliner guna membentuk kemampuan penalaran logis siswa kelas 7 di SMP GPI Solokan Jeruk. Metode yang digunakan dalam riset ini adalah kualitatif deskriptif dengan pendekatan studi kasus. Teknik pengumpulan data meliputi observasi partisipatif di kelas, wawancara mendalam dengan guru mata pelajaran, serta analisis dokumentasi modul ajar. Hasil penelitian menunjukkan bahwa guru PAI mengimplementasikan strategi interdisipliner dengan cara mengontekstualisasikan materi akidah dan fikih melalui fakta sains serta logika sosial. Temuan ini menegaskan bahwa siswa menjadi lebih aktif bertanya dan mampu membangun argumen logis terhadap dalil-dalil agama yang dipelajari. Dapat disimpulkan bahwa pendekatan interdisipliner efektif dalam meruntuhkan sekat pemahaman antara wahyu dan akal. Implikasi penelitian ini merekomendasikan pentingnya guru PAI memperluas wawasan keilmuan umum untuk mendukung proses pembelajaran yang holistik dan menumbuhkan nalar kritis siswa
Reaktualisasi Peran Guru di Era Artificial Intelligence: Studi Kasus Integrasi Teknologi dalam Pembelajaran di MTs Al Muawanah Majalaya Adi Sukma Barkah; Hasan Basri
Akhlak: Journal of Education Behavior and Religious Ethics Vol. 2 No. 2 (2026)
Publisher : Universitas Indraprasta PGRI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30998/jebg.v2i2.522

Abstract

Perkembangan pesat Artificial Intelligence (AI) telah memicu perlunya reaktualisasi peran pendidik agar tetap relevan dalam ekosistem digital. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi transformasi peran guru melalui studi kasus integrasi teknologi di MTs Al Muawanah Majalaya. Menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus, data dikumpulkan melalui observasi, dokumentasi, dan wawancara mendalam terhadap kepala madrasah dan guru. Hasil penelitian menunjukkan bahwa reaktualisasi peran guru di MTs Al Muawanah termanifestasi dalam tiga dimensi utama: sebagai fasilitator pembelajaran yang adaptif, kurator konten berbasis AI, dan kompas moral dalam etika penggunaan teknologi. Integrasi AI terbukti mampu meningkatkan efisiensi administratif dan personalisasi pembelajaran, namun tetap menempatkan guru sebagai pemegang otoritas pedagogis yang tidak tergantikan dalam aspek afektif dan penanaman nilai karakter. Penelitian ini juga mengungkap bahwa pola kolaborasi melalui peer-mentoring menjadi kunci dalam mengatasi kesenjangan literasi digital antar pendidik. Simpulan dari penelitian ini menegaskan bahwa peran guru di era AI mengalami pergeseran dari sekadar sumber pengetahuan menjadi mentor yang membimbing siswa dalam bernalar kritis dan beretika digital (tabayyun). Studi ini memberikan implikasi pentingnya pengembangan profesionalisme guru madrasah yang berkelanjutan dalam menghadapi disrupsi teknologi.
Pluralisme Budaya dan Toleransi Beragama Dalam Membangun Harmoni Sosial Multikultural Acep Acep
Akhlak: Journal of Education Behavior and Religious Ethics Vol. 2 No. 2 (2026)
Publisher : Universitas Indraprasta PGRI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30998/jebg.v2i2.864

Abstract

Dalam dinamika kehidupan sosial, agama telah lama memainkan peran sentral dalam membentuk nilai, norma, dan perilaku masyarakat. Agama tidak hanya berfungsi sebagai sistem kepercayaan spiritual, tetapi juga menjadi fondasi utama dalam pembentukan identitas kolektif suatu komunitas. Identitas budaya masyarakat lokal sangat dipengaruhi oleh nilai-nilai agama yang diwariskan secara turun-temurun melalui praktik ibadah, tradisi lisan, serta simbol sosial dalam kehidupan sehari-hari. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji peran agama dalam pembentukan identitas budaya masyarakat lokal melalui pendekatan kajian literatur sistematis. Data diperoleh dari berbagai sumber penelitian lima tahun terakhir yang relevan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa agama berperan dalam membentuk norma sosial, melestarikan tradisi, serta mendorong sinkretisme adaptif antara ajaran agama dan budaya lokal. Selain itu, lembaga keagamaan berfungsi sebagai agen utama dalam pewarisan nilai budaya. Namun, globalisasi dan paham keagamaan transnasional yang rigid menjadi tantangan dalam menjaga keseimbangan antara agama dan budaya lokal. Oleh karena itu, diperlukan pendekatan kontekstual dalam pendidikan agama dan pelestarian budaya guna mempertahankan identitas budaya yang berakar pada nilai religius.
Tradisi Selikuran di Masyarakat Desa Kedawung: Analisis Fikih Islam Berbasis ‘Urf Mukhamad Diki Indarto Ali Mustar; Muhammad Huda; Qodim Ma’shum
Akhlak: Journal of Education Behavior and Religious Ethics Vol. 2 No. 2 (2026)
Publisher : Universitas Indraprasta PGRI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30998/jebg.v2i2.1272

Abstract

Tradisi selikuran merupakan salah satu praktik keagamaan berbasis kearifan lokal yang masih dilestarikan oleh masyarakat Jawa, khususnya di Desa Kedawung, sebagai bentuk penyambutan malam Lailatul Qadar. Tradisi ini mengandung nilai religius dan sosial, namun belum banyak dikaji dalam perspektif fikih Islam berbasis konsep ‘urf. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis tradisi selikuran dalam perspektif ‘urf guna mengetahui kesesuaiannya dengan prinsip-prinsip hukum Islam. Metode yang digunakan adalah pendekatan kualitatif dengan teknik pengumpulan data melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi di tiga dusun, yaitu Wates, Ngelo, dan Babadan. Data dianalisis secara deskriptif kualitatif dengan mengaitkan temuan lapangan dengan konsep ‘urf dalam fikih Islam. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tradisi selikuran telah menjadi kebiasaan yang mengakar, dilakukan secara kolektif, serta tidak mengandung unsur yang bertentangan dengan syariat. Praktik seperti doa bersama, kenduri, dan buka bersama mencerminkan nilai ibadah sosial dan memperkuat solidaritas masyarakat. Dengan demikian, tradisi selikuran dapat dikategorikan sebagai ‘urf shahih yang memiliki legitimasi dalam hukum Islam serta relevan dengan prinsip maqashid syariah.
Analisis Surat Al Kahfi Ayat 70 Persfektif Relasi Guru dan Murid Dalam Kajian Tafsir Ayat dan Hadits Addin Mustofa Kamal; Resvitasari; Badruzzaman M Yunus; Abdul Holik
Akhlak: Journal of Education Behavior and Religious Ethics Vol. 2 No. 2 (2026)
Publisher : Universitas Indraprasta PGRI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30998/jebg.v2i2.1300

Abstract

Relasi guru dan murid dalam pendidikan Islam tidak hanya dipahami sebagai hubungan transfer ilmu pengetahuan, tetapi juga sebagai ikatan ruhani yang sarat dengan nilai-nilai keikhlasan, adab, keteladanan, dan keberkahan. Dalam perspektif Al-Qur’an, hubungan tersebut tercermin dalam kisah-kisah edukatif seperti interaksi Nabi Musa dan Khidir yang mengandung makna kesabaran, kerendahan hati, serta penghormatan terhadap otoritas keilmuan. Sementara itu, dalam hadits Nabi, banyak dijelaskan keutamaan guru sebagai pewaris para nabi dan pentingnya adab murid dalam menuntut ilmu. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kepustakaan (library research), yang berfokus pada analisis terhadap ayat-ayat Al-Qur’an dan hadits-hadits yang relevan, serta penafsiran para ulama dalam menjelaskan konsep relasi edukatif yang bernilai spiritual. Hasil kajian menunjukkan bahwa dimensi spiritual dalam hubungan guru dan murid mencakup beberapa aspek utama, yaitu niat yang ikhlas dalam proses pembelajaran, penghormatan terhadap guru sebagai pembimbing ruhani, keteladanan guru dalam perilaku dan akhlak, serta kesungguhan murid dalam mengamalkan ilmu. Dimensi ini menjadi fondasi penting dalam membentuk proses pendidikan yang tidak hanya berorientasi pada aspek kognitif, tetapi juga pada pembinaan karakter dan kedalaman spiritual.
Peran Istri Dalam Penggunaan Media Sosial: Kritik Sosial dan Tinjauan Etika Islam Enny Nurcahyawati
Akhlak: Journal of Education Behavior and Religious Ethics Vol. 2 No. 2 (2026)
Publisher : Universitas Indraprasta PGRI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30998/2vpjxb26

Abstract

Media sosial telah berkembang menjadi ruang yang tidak hanya berfungsi sebagai alat komunikasi, tetapi juga sebagai arena pembentukan identitas dan representasi diri. Dalam konteks kehidupan rumah tangga, khususnya bagi seorang istri, media sosial menghadirkan dinamika baru yang tidak dapat dipisahkan dari aspek moral, psikologis, dan sosial. Artikel ini bertujuan untuk mengkaji secara kritis fenomena penggunaan media sosial oleh istri dalam perspektif etika Islam. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi literatur. Data diperoleh dari berbagai sumber ilmiah yang relevan, baik berupa buku maupun jurnal terbaru, kemudian dianalisis secara deskriptif-kritis. Hasil kajian menunjukkan bahwa media sosial mendorong munculnya perilaku eksibisionisme digital, ketergantungan terhadap validasi sosial, serta kecenderungan komodifikasi kehidupan rumah tangga (Turkle, 2011; Boyd, 2014; Vogel et al., 2021; Abidin, 2021). Selain itu, media sosial juga berpotensi membuka celah pelanggaran batas interaksi yang dapat memicu konflik dalam rumah tangga. Dalam perspektif Islam, fenomena tersebut bertentangan dengan prinsip menjaga kehormatan (hifz al-‘irdh), menahan pandangan, serta menutup pintu fitnah sebagaimana tercermin dalam QS. An-Nur ayat 31 dan QS. Al-Ahzab ayat 33. Kesimpulannya, penggunaan media sosial oleh seorang istri memerlukan kesadaran etis dan spiritual yang kuat agar tidak bergeser dari nilai-nilai moral yang seharusnya dijaga dalam kehidupan rumah tangga.
Strategi Pengajaran Agama Efektif di Era Digital:Menanamkan Nilai Spiritual di Tengah Arus Teknologi Nur Ali
Akhlak: Journal of Education Behavior and Religious Ethics Vol. 2 No. 2 (2026)
Publisher : Universitas Indraprasta PGRI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30998/jebg.v2i2.1400

Abstract

Perkembangan teknologi digital telah membawa perubahan besar dalam berbagai aspek kehidupan, termasuk dalam proses pengajaran agama. Kemudahan akses informasi memberikan peluang besar bagi pendidik agama untuk mengembangkan metode pembelajaran yang lebih kreatif, interaktif, dan relevan dengan kebutuhan generasi digital. Namun, derasnya arus teknologi juga menghadirkan tantangan berupa menurunnya perhatian terhadap nilai spiritual, berkurangnya interaksi langsung, serta meningkatnya paparan terhadap informasi yang tidak selaras dengan nilai-nilai keagamaan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis strategi pengajaran agama yang efektif dalam menanamkan nilai spiritual di tengah perkembangan teknologi digital. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif deskriptif melalui studi literatur dan analisis berbagai sumber ilmiah terkait pendidikan agama, transformasi digital, serta pendekatan pembelajaran berbasis teknologi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengajaran agama di era digital memerlukan pendekatan yang adaptif melalui pemanfaatan media digital seperti platform pembelajaran daring, video edukasi, aplikasi keagamaan, dan konten interaktif yang bernilai positif. Strategi yang efektif tidak hanya berfokus pada penyampaian pengetahuan agama, tetapi juga menekankan pembentukan sikap, keteladanan, refleksi spiritual, dan keterlibatan aktif peserta didik
Sebab Munculnya Aliran Teologi, Teologi Tujuan dan Teologi Proses Dalam Islam Mas Dodi; Rusmal Kahvi; Irvan Trisno Susandi; Karyanto; Suharyati; Siti Uswatun Khasanah
Akhlak: Journal of Education Behavior and Religious Ethics Vol. 2 No. 2 (2026)
Publisher : Universitas Indraprasta PGRI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30998/jebg.v2i2.1416

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor determinan kemunculan aliran teologi Islam serta mengkaji transformasi paradigmatik dari teologi klasik menuju pendekatan teologi tujuan (teleological theology) dan teologi proses (process theology) dalam diskursus kontemporer. Metode kajian yang digunakan adalah kualitatif melalui studi kepustakaan (library research) dengan pendekatan deskriptif-analitis terhadap literatur teologi Islam klasik dan modern. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kemunculan faksi teologi awal seperti Khawarij, Murji’ah, Mu’tazilah, Asy’ariyah, dan Maturidiyah merupakan produk dialektika kompleks antara variabel politik (konflik suksesi), teologis (interpretasi iman dan amal), filosofis (penyerapan nalar Yunani), serta sosiokultural (interaksi lintas peradaban). Lebih lanjut, kajian ini menemukan bahwa teologi tujuan merekonstruksi pemikiran Islam menjadi lebih humanistik-aksiologis yang berbasis pada maqāṣid al-syarī‘ah. Sementara itu, teologi proses menawarkan paradigma yang dinamis dan adaptif melalui integrasi antara otoritas wahyu dan realitas sosial yang terus berkembang. Penelitian ini menyimpulkan bahwa rekonstruksi teologi Islam masa depan harus bersifat integratif dan kontekstual guna merespons tantangan modernitas secara solutif tanpa menegasi prinsip fundamental akidah Islam.
Membangun Karakter Pemuda Islam Melalui Pendidikan Islam Berbasis Tasawuf: Pendekatan Integratif Spiritual-Psikologis Fery Rahmawan Asma
Akhlak: Journal of Education Behavior and Religious Ethics Vol. 2 No. 2 (2026)
Publisher : Universitas Indraprasta PGRI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30998/jebg.v2i2.1428

Abstract

Pemuda Islam di era modern menghadapi berbagai tantangan sosial dan psikologis seperti hedonisme, individualisme, krisis moral, kecemasan, stres, dan degradasi spiritual akibat perkembangan globalisasi dan kemajuan teknologi. Kondisi ini menunjukkan bahwa pendidikan Islam tidak cukup hanya menekankan aspek intelektual dan kognitif, tetapi juga memerlukan pembinaan spiritual dan psikologis secara seimbang melalui penghayatan tiga pilar Islam. Tulisan ini bertujuan untuk mengkaji pembangunan karakter pemuda Islam melalui pendidikan Islam berbasis tasawuf dengan pendekatan integratif spiritual-psikologis dengan infiltrasi tiga pilar Islam; Iman, Islam dan Ihsan. Tulisan ini menggunakan penelitian kualitatiuf dengan metode studi kepustakaan (library research) dengan mengkaji berbagai literatur mengenai pendidikan Islam, tasawuf, psikologi, dan perkembangan pemuda modern. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa nilai-nilai tasawuf seperti tazkiyat al-nafs, sabar, tawakal, zuhud, syukur, ikhlas, dan muraqabah memiliki kontribusi besar dalam membentuk karakter pemuda yang berakhlak mulia, memiliki pengendalian diri, ketahanan mental, serta kesehatan psikologis yang lebih baik. Pendekatan integratif spiritual-psikologis mampu membantu pemuda menemukan makna hidup, mengelola emosi, dan menghadapi tekanan kehidupan modern secara lebih bijak. Dengan demikian, pendidikan Islam berbasis tasawuf dapat menjadi salah satu solusi dalam membangun generasi muda Islam yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga matang secara emosional dan kuat secara spiritual.

Page 2 of 3 | Total Record : 23