Jurnal Ilmu Sosial dan Humaniora
Jurnal Ilmu Sosial dan Humaniora (JISH) is a journal that uses a double-blind peer review model that can be accessed online. The purpose of JISH is to publish a journal containing quality articles that will be able to contribute thoughts from a theoretical and empirical perspective in society and humanities at a regional, national, and global scale. The writings at JISH will significantly contribute to critical thinking in the area of society and humanities. The scope of the fields contained in JISH covers the following areas: social work, social welfare, social change, and social policy; humanism and human rights; corporate governance, and community studies; crosscultural and multiculturalism studies; population, and development studies; ethics, and intergroup relations; war, conflict, and international relations; linguistics, literature, and media studies; performing arts (music, theatre, and dance); studies of inequality (class, race and gender studies); and other related areas. Articles published on research results and literature review with acceptable research methodologies, qualitative studies, quantitative studies, or a combination of both, statistical analysis, case studies, field research, and historical studies. JISH received manuscripts from various related circles, such as relevant researchers, professors, students, policy-makers, scientists, and others.
Articles
626 Documents
PENGARUH CITY BRANDING DAN CITY IMAGE TERHADAP CITY IDENTITY DAN KEPUTUSAN BERKUNJUNG WISATAWAN KE KOTA JAKARTA, INDONESIA
Amrullah Amrullah;
Nurbaeti Nurbaeti;
Heny Ratnaningtyas;
David Manumpak;
Muh. Rajesh Singh;
Joshua Budi
Jurnal Ilmu Sosial dan Humaniora Vol. 11 No. 2 (2022)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.23887/jish.v11i2.44960
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh city branding dan city image terhadap city identity dan keputusan kunjungan wisatawan ke Kota Jakarta. Pendekatan penelitian yang digunakan adalah deskriptif analisis dengan pendekatan kuantitatif dengan program Smart PLS. Populasi dalam penelitian ini adalah wisatawan yang berkunjung ke Kota Jakarta. Hasil penelitian, city branding dan city image berpengaruh signifikan terhadap city identity, sedangkan city branding dan city image tidak berpengaruh signifikan terhadap keputusan berkunjung, kemudian identitas kota berpengaruh signifikan terhadap keputusan berkunjung. Slogan Enjoy Jakarta akan menjadikan Kota Jakarta memiliki identitas di mata wisatawan, sehingga identitas Kota Jakarta tidak boleh hilang. Salah satu city image Kota Jakarta adalah padatnya penduduk, mengharuskan Pemerintah DKI Jakarta untuk menjaga sisa identitas Kota Jakarta yang dulunya memiliki kota hijau dan ruang terbuka dengan mendirikan wisata mangrove dan taman wisata. Hal ini sangat baik untuk kunjungan wisatawan. Kemacetan akan berdampak pada keengganan wisatawan untuk berkunjung ke Kota Jakarta. Kota Jakarta hanya dianggap sebagai kota transit sebelum sampai di tempat tujuan wisatanya. Oleh karena itu, harus ada sisa identitas Kota Jakarta yang dipertahankan oleh Pemprov DKI Jakarta. Hal ini akan berdampak pada keputusan untuk mengunjungi wisatawan. Pemerintah DKI Jakarta diharapkan dapat memberikan lebih banyak destinasi wisata yang memperkenalkan budaya Betawi mulai dari kesenian Betawi, rumah adat, pakaian hingga makanan khas Betawi pada setiap acara.
URGENSI KOMUNITAS, BUDAYA LOKAL DAN KETAHANAN PANGAN DALAM GERAKAN URBAN FARMING DI MASA PANDEMI COVID-19
Gabe Arif Ditama Sinaga;
Yani Kurniawan;
Ayuni Kusumawati
Jurnal Ilmu Sosial dan Humaniora Vol. 11 No. 2 (2022)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.23887/jish.v11i2.45041
Urban farming merupakan kegiatan bercocok tanam yang dilakukan guna melengkapi kebutuhan pangan di perkotaan. Hal ini semakin populer dengan adanya krisis pandemi COVID-19 yang tidak terduga. Aktivitas urban farming telah eksis sejak sebelum adanya pandemi, salah satunya di Kota Malang. Namun penelitian terdahulu masih ditemukan kendala eksternal seperti minimnya intervensi pemerintah, dan internal seperti kurangnya antusiasme dan pola pikir masyarakat yang konsumtif. Penelitian terbaru ini menelusuri faktor pendorong keberhasilan urban farming dalam mendukung ketahanan pangan dan dikaitkan dengan perspektif masyarakat terkait implementasi urban farming semasa pandemi. Penelitian ini dilakukan dengan studi reflektif kepada 30 informan melalui purposive sampling. Berdasarkan hasil wawancara di Kecamatan Lowokwaru, Kecamatan Sukun, dan Kecamatan Blimbing, ditemukan kondisi urban farming, antusiasme masyarakat dan intervensi pemerintah semakin meningkat saat pandemi. Masyarakat yang menjalankan urban farming didominasi usia produktif, tergantung pada waktu luang, dan ada atau tidaknya pekerjaan terikat yang dimiliki. Artikel ini juga mengkorelasikan wujud masyarakat komunal dan unsur budaya lokal dalam aktivitas urban farming, sesuatu yang jarang dijangkau dalam kajian akademis. Faktor keberhasilan internal dan eksternal urban farming dapat menjadi acuan dalam implementasi ke depannya. Praktek urban farming semakin optimal jika diimplementasikan pada skala komunitas dan dikaitkan dengan aspek budaya lokal. Studi ini mengungkap praktik baru urban farming melalui pengenalan konsep urban farming berbasis komunitas yang mampu mendukung ketahanan pangan wilayah perkotaan dengan tetap mempertimbangkan eksistensi budaya yang ada pada masing-masing daerah.
Preferensi Perilaku Penghuni Rumah Type 36-45 Sebagai Dampak Aktivitas Bekerja dan Belajar Jarak Jauh di Masa Pandemi Covid 19
Akhmadi Akhmadi;
Setiamurti Rahadjo;
Asventania Putri Rachmawati
Jurnal Ilmu Sosial dan Humaniora Vol. 11 No. 3 (2022)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.23887/jish.v11i3.38366
Satu tahun lebih pandemic COVID-19 telah melanda negara indonesia. Pemerintah Indonesia sudah banyak mengeluarkan kebijakan demi menurunkan angka penularan di lapisan masyarakat. Beberapa kebijakan peraturan pemerintah mengharuskan warga supaya tidak berkerumunan di suatu tempat di dalam maupun luar ruangan. Kebijakan lain adalah peraturan untuk bekerja (WFH) dan belajar (SFH) dari rumah. Beberapa peraturan ini membentuk Adaptasi Kebiasaan Baru (AKB) di masyarakat. Kebiasaan baru yang sebelumnya tidak pernah dilakukan di rumah kini harus mulai dibiasakan di rumah. Penelitian ini bertujuan untuk mencari kebiasaan perilaku dan konflik baru yang muncul selama aktivitas bekerja dan belajar dari rumah. Metode penelitian menggunakan deskriptif kualitatif dengan teknik analisis data dari hasil kuisioner 160 responden yang berdomisili di Bandung, Jakarta, Banten, Bengkulu, Padang, Pekanbaru, Surabaya, Makasar, dan Banjarmasin. Hasil penelitian menyebutkan terdapat berbagi bentuk preferensi perilaku yang berubah secara signifikan sebagai bentuk AKB. Jika sebelumnya rumah akan kosong penghuni saat jam kerja, justru sekarang rumah semakin riuh ramai karena banyak suara yang tercipta dari aktivitas bekerja dan belajar yang bersamaan. Peningkatan kebutuhan daya listrik, perangkat gadjet dan perabotan penunjang kerja juga dirasakan oleh penghuni rumah. Dampak positif beraktivitas dari rumah diantaranya menjadi lebih dekat dengan sesama penghuni dan terdapat waktu lebih banyak untuk menekuni hobi serta merasa lebih rajin dalam membersihkan rumah. Manfaat penelitian dapat dijadikan referensi dalam memutuskan kebutuhan furnitur maupun efektivitas penyimpanan barang di dalam ruang rumah tipe 36-45. Penerapan hasil preferensi perilaku dapat dipakai sebagai acuan dalam memahami WFH dan SFH demi mengantisipasi penularan virus COVID-19 di lapisan masyarakat yang lebih luas.
Buruknya Layanan dalam Kerangka Otonomi Khusus: Apakah Papua Masih Memiliki Kesempatan untuk Berkembang?
Indra Pratama Putra Salmon;
Agung Budi Irawan;
Asih Widi Lestari;
Fierda Nurany;
Ihsan Rahmat
Jurnal Ilmu Sosial dan Humaniora Vol. 11 No. 3 (2022)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.23887/jish.v11i3.40754
Pembangunan daerah di Provinsi Papua dalam kerangka otonomi khusus belum memiliki capaian signifikan meskipun telah berjalan selama dua puluh tahun. Kajian ini bertujuan merumuskan solusi atas belum otimalnya capaian pembangunan layanan dasar (pendidikan dan kesehatan) di Provinsi Papua dalam kerangka otonomi khusus. Metode yang digunakan berupa metode kualitatif dengan pendekatan naratif melalui studi kepustakaan. Data dan literatur dikumpulkan dari beberapa kajian bereputasi dengan topik kata kunci “otonomi khusus”, “layanan dasar”, dan “Provinsi Papua”. Analisa dilakukan dengan teknik triangulasi data dan literatur hasil penelitian untuk kemudian peneliti menarik sintesis dari setiap garis besar fokus kajian secara sistematis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingginya dana otonomi khusus telah berkorelasi dengan peningkatan capaian pembangunan seperti IPM dan peningkatan lauanan dasar (pendidikan dan kesehatan), namun signifikansinya sangat rendah. Pada Undang-Undang Otonomi Khusus terbaru, Provinsi Papua berkesempatan besar dalam berkontestasi secara nasional mengingat adanya peningkatan alokasi anggaran otonomi khusus guna mengakselerasi pola pembangunan. Sebagai alternative rekomendasi, kajian ini menawarkan alternative solusi berupa perbaikan pemahaman esensi otonomi khusus yang bukan hanya dari perspektif fiscal, perbaikan model mekanisme transfer dan pengawasan, intensifikasi dan optimalisasi koordinasi pemerintah dengan pemerintah daerah dalam kerangka pembangunan pos-pos strategis pembangunan, dan meninjau ulang terkait dasar petunjuk pelaksanaan dan petunjuk teknis sebagai pedoman. Implikasi penelitian ini adalah perlunya perbaikan pada aspek-aspek strategis dalam pengembangan layanan dasar di Papua melalui mekanisme solusi yang direkomendasikan.
Penyintas Covid-19: Strategi Menghadapi Stigma
Tito Edy Priandono;
Alwan Husni Ramdani;
Regine Deanaendra Hasmoro;
Hannie Mauliyandinie Pasrah;
Arin Nurul Annisa;
Gloria Elisha Kisyanto
Jurnal Ilmu Sosial dan Humaniora Vol. 11 No. 3 (2022)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.23887/jish.v11i3.41885
Pendemi COVID-19 tidak hanya menimbulkan dampak negatif bagi kesehatan jasmani dan juga efek domino pada aspek psikologis penyintasnya. Banyak mereka yang sejak awal terpapat virus COVID-19 hingga sudah dinyatakan sembuh secara medis mendapatkan stigma. Artikel ini mencoba untuk menelaah secara ilmiah bagimana manajemen stigma dari para penyintas COVID-19. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan studi kasus dengan data berupa wawancara mendalam. Partisipasipan penelitian ini merupakan penyintas COVID-19 yang berasal dari Kabupaten Bandung. Temuan penelitian menunjukan mereka yang terpapat virus COVID-19 mendapatkan stigma dari teman, tetangga, hingga rekan kerja. Stigma yang paling kuat ditemukakn pada aktor stigma interpersonal khususnya teman kerja. Secara psikologis mereka yang terpapa virus mendapatkan dampaknya, seperti stress merasa cemas, dan merasa hilang kepercayaan. Stigma tersebut dihadapi dengan berbagai upaya. Strategi yang domian digunakan dalam menghadapi situasi stigma para penyintas yakni berupa penerimaan dan mengurangi ketidaknyamanan. Implikasi dari penelitian ini menunjukan bahwa fenomena pandemi COVID-19 tidak hanya berbicara soal faktor kesehatan jasmani namun juga ada dampak psikologis yang dialami oleh para penyintasnya. Novelty dalam penelitian ini adalah penggunaan manajemenen stigma Meisenbach dalam lingkup komunikasi kesehatan. Studi selanjutnya akan berfokus pada riset terkait pola komunikasi penolak program vaksinasi.
Youth and Indigenous Language: Assessing Javanese Krama Madya Language Vitality
Munawwir Hadiwijaya;
Kingkin Puput Kinanti;
Ike Dian Puspitasari
Jurnal Ilmu Sosial dan Humaniora Vol. 11 No. 3 (2022)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.23887/jish.v11i3.44545
The younger generation is one of the elements of society that is expected to maintain regional languages amid the development of globalization since they are the portrait of the cultural future. This study aims to measure the level of vitality of the Krama Madya language from the perspective of the young Javanese generation in Malang. The measurement framework used in this study is adopted from UNESCO language vitality measurement factors. Data were obtained from 100 young Javanese generations aged 17-27 years who live in Malang City with various backgrounds using the cluster random sampling technique, ranging from students, teachers, government agencies, and employees to traders, by distributing questionnaires, interviews, and direct observations in the field. The data were analyzed using a qualitative descriptive analysis framework adopted from Miles and Huberman (1994). This study indicates that Javanese Krama Madya among the young Javanese generation, based on nine factors of language vitality to measure the level of UNESCO language vitality, is categorized as vulnerable. The indication of this conclusion is based on the diminishing number of language transmissions between generations; the unavailability of literacy that supports the teaching of the language; as well as the negative attitude of the younger Javanese generation, as shown by the shift in the use of this variety with Indonesian and foreign languages in interactions with older and respected speech partners to show their politeness.
TATA KELOLA LOKAL DAN COVID-19: PERLINDUNGAN KESEHATAN DAN EKONOMI DI DESA PUJON KIDUL
Nyimas Nadya Izana;
Anik Susanti;
La Ode Machdani Afala
Jurnal Ilmu Sosial dan Humaniora Vol. 11 No. 3 (2022)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.23887/jish.v11i3.45436
Ledakan pandemi COVID-19 telah melahirkan respon beragam di banyak wilayah. Banyak studi hanya fokus pada respon pemerintah di level nasional dan global dalam menghadapi pandemi, sedangkan penanganan di level lokal sangat jarang dilirik. Artikel ini bertujuan untuk menjelaskan bagaimana tata kelola di level lokal Desa Pujon Kidul dalam merespon pandemi COVID-19. Desa Pujon Kidul yang terletak di Kabupaten Malang merupakan salah satu desa wisata yang sukses mewujudkan kesejahteraan masyarakat desa dan salah satu desa wisata yang paling terdampak dengan adanya pandemi COVID-19. Studi ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Temuan kami menjelaskan bahwa institusi lokal seperti desa memainkan peran penting dalam tata kelola penanganan pandemi. Desa berperan dalam membangun perlindungan kesehatan dan ekonomi desa dengan menekan laju penyebaran COVID-19. Setidaknya terdapat tiga aspek penting yang menjelaskan peran sukses tata kelola desa dalam pengelolaan pandemi, yaitu; mobilisasi sumber daya, koordinasi lintas sektoral, dan perlindungan sosial-ekonomi. Aspek-aspek tersebut menegaskan sikap pemerintah desa yang sigap dan responsif terhadap pandemi. Tata kelola pandemi di level lokal ini menunjukkan penanganan pandemi lebih efektif. Selain itu, tata kelola lokal di Desa Pujon Kidul ini merepresentasikan model tata kelola yang adaptif (adaptive governance). Srtikel ini secara signifikan berkontribusi dalam memperluas studi governance terutama di masa krisis.
FENOMENA PEKERJA TIDAK TETAP (PRECARIOUS EMPLOYEE) DI INDONESIA DAN FAKTOR-FAKTOR PENENTUNYA
Nucke Widowati Kusumo Projo;
Mohammad Rifky Pontoh
Jurnal Ilmu Sosial dan Humaniora Vol. 11 No. 3 (2022)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.23887/jish.v11i3.45516
Indonesia mengalami peningkatan jumlah pekerja tidak tetap (precarious employee) sejak tahun 2016. Hal ini menunjukkan bahwa semakin banyak pekerja yang tidak mendapatkan pekerjaan yang layak. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasikan karakteristik pekerja dengan status precarious employee dan faktor-faktor yang menyebabkan seorang pekerja berstatus sebagai precarious employee. Penelitian ini menggunakan data Survei Angkatan Kerja Nasional (SAKERNAS) periode Agustus 2019 dengan metode regresi logistik biner. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pekerja laki-laki, kawin atau pernah kawin, memiliki pendidikan hingga maksimal SMA, tinggal di wilayah perdesaan, pernah memiliki pekerjaan sebelumnya, tidak terdaftar atau tidak mengetahui serikat pekerja, dan bekerja di sektor pertanian memiliki kecenderungan yang lebih besar untuk berstatus sebagai precarious employee. Sementara pekerja usia muda lebih berpeluang untuk berstatus menjadi precarious employee. Semakin kecil pendapatan pekerja maka menunjukkan bahwa pekerjaannya merupakan pekerjaan tidak tetap. Pemerintah dapat berkonsentrasi memberikan bantuan pada kelompok pekerja yang memiliki karakteristik rentan menjadi pekerja tidak tetap seperti menambah program peningkatan pendidikan dan kemampuan kerja pada pekerja dengan pendidikan SMA ke bawah serta memperluas jaminan kesejahteraan pekerja di wilayah perdesaan dan pekerja di sektor pertanian.
IDENTIFIKASI FAKTOR PEMBENTUK LITERASI EKONOMI PADA MASYARAKAT NELAYAN DESA PULAU LEMUKUTAN
Okiana Okiana;
Munawar Thoharudin;
Tedi Suryadi
Jurnal Ilmu Sosial dan Humaniora Vol. 11 No. 3 (2022)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.23887/jish.v11i3.45525
Dengan literasi ekonomi yang baik, nelayan dapat secara bijak mengelola keuangan keluarga ditengah ketidakpastian pendapatan yang diperoleh nelayan dari tangkapannya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui 1) Perubahan pola pikir masyarakat nelayan di desa Pulau Lemukutan, 2) Mengetahui faktor-faktor perubahan pola pikir dengan literasi ekonomi. Penelitian ini didasari oleh berbagai hasil penelitian terdahulu yang relevan bahwa literasi ekonomi yang umumnya diperoleh dari proses pembelajaran formal memberikan peran positif terhadap perilaku ekonomi seseorang. Adapun dasar empiris adalah hasil riset peneliti pada tahun sebelumnya yang menyatakan bahwa tingkat literasi masyarakat Desa Pulau Lemukutan berada pada kategori sedang (stuff literacy). Fenomena pada masyarakat nelayan di Desa Pulau Lemukutan umumnya hanya memiliki tingkat pendidikan dasar dan menengah dengan pekerjaan utama sebagai nelayan. Metode yang digunakan adalah kualitatif dengan teknik pengumpulan data berupa wawancara mandala, observasi dan dokumentasi. Alat pengumpul data berupa pedoman wawancara. Responden penelitian dipilih menggunakan purposive sampling. Teknik analisa data yang digunakan yakni reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan. Berdasarkan hasil penelitian dapat diidentifikasi bahwa perubahan pola pikir masyarakat di desa Pulau Lemukutan dengan literasi ekonomi, bahwa dengan tingkat pendidikan dasar dan menengah, masyarakat di desa Pulau Lemukutan mampu bersaing dengan desa lain serta dapat meningkatkan taraf hidup. Sedangkan faktor-faktor perubahan pola pikir masyarakat di desa Pulau Lemukutan dengan literasi ekonomi, yaitu: faktor pendidikan; faktor sosial ekonomi; faktor budaya dan faktor perkembangan sosial.
Touristification and the Changing of Spaces for Tourism in Canggu Village
Bayu Adhinata;
Made Yaya Sawitri
Jurnal Ilmu Sosial dan Humaniora Vol. 11 No. 3 (2022)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.23887/jish.v11i3.45696
This article discusses the transformation of Canggu Village from a fishing and farmer village into an urban-characterized area with main economic activities based on tourism. The entry of capitalist investors and the government's designation of a tourism area provide more significant opportunities for this change. This study looks at how the transformation of space for the benefit of tourism causes changes in social conditions in public spaces in Canggu Village. This study used a qualitative approach through in-depth interviews with several informants, such as the head of the Canggu Village, the owner of tourism accommodations, and the Canggu farmers. This study indicates that the village of Canggu has experienced touristification marked by the establishment of accommodations built by investors supported by the local government by establishing this village as a tourism area to increase local revenue. The spaces that have changed by supporting tourism activities have ultimately changed the socio-economic order of the community from non-industrial activities to tourism-based economic activities. The new tourism climate in Canggu Village then co-opted the local community, marked by the emergence of accommodation built by the local community, such as villas, homestays, and guesthouses, as part of the changing perspective of the local community towards economic changes in Canggu Village.