cover
Contact Name
yosa fiandra
Contact Email
pichaq@telkomuniversity.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
jurnalrekam@gmail.com
Editorial Address
Fakultas Seni Media Rekam, Institut Seni Indonesia Yogyakarta Jalan Parangtritis Km 6,5 Sewon, Bantul, Yogyakarta Tlp. (62) 0274 384107, HP (62) 089649387947 Email: jurnalrekam@gmail.com
Location
Kab. bantul,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Rekam : Jurnal, Fotografi, Televisi Animasi
ISSN : 18583997     EISSN : 27453901     DOI : 10.24821
Rekam: Jurnal Fotografi, Televisi, Animasi is a scientific journal published by the Asosiasi Dosen Seni Media Rekam Indonesia in collaboration with the Fakultas Seni Media Rekam, Institut Seni Indonesia Yogyakarta. This journal contains articles on research results, conceptual ideas (results of thought), creation, and the results of community service in the fields of photography, television, and animation.
Articles 198 Documents
Female Perspectives sebagai Representasi Karya Foto Mahasiswa Perempuan Suratni, Suratni; Widiastuti, Ni Made; Suwarni, Wahyu; Amelia, Diah
Rekam Vol 20, No 2 (2024): Oktober 2024
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/rekam.v20i2.7881

Abstract

ABSTRACT In 2024, the Photography Study Program at Politeknik Negeri Media Kreatif will be 14 years old. This study program has produced hundreds of skilled photographer alumni who work in the creative industry. Every year, students hold a number of exhibitions to actualize their works. One of them is an exhibition of photos by female students called the Women's Exhibition. This article aims to explain how a photobook becomes a medium of representation of female student photography. The references used are several previous studies with the same focus on discussion. The method used is qualitative descriptive, with a photo curation technique from the results of the Women's Exhibition. Various interpretations on women are embodied in dozens of photo works which are then compiled into a photobook entitled Female Perspectives, which has six categories, namely (1) female beauty perspectives, (2) female food perspectives, (3) female profession perspectives, (4) female traveling perspectives, (5) female sport and healthy perspectives, and (6) female lifestyle perspectives. With the publication of this photobook, female students can represent their opinions on today's women in the form of a photobook, so that they can get their artistic value and economic value.Keywords: women's perspectives, photobook, representation, student work ABSTRAKTahun 2024, Prodi Fotografi di Politeknik Negeri Media Kreatif genap berusia 14 tahun. Prodi ini telah mencetak ratusan alumni fotografer terampil yang berkarya di bidang industri kreatif. Setiap tahunnya, mahasiswa menggelar sejumlah pameran untuk mengaktualisasikan karya-karya mereka. Salah satunya adalah pameran foto karya mahasiswa perempuan yang diberi nama Pameran Perempuan. Artikel ini bertujuan untuk menjelaskan bagaimana photobook menjadi media representasi karya foto mahasiswa perempuan. Referensi yang digunakan adalah beberapa penelitian terdahulu dengan fokus pembahasan yang sama. Metode yang digunakan adalah kualitatif deskriptif, dengan teknik kurasi foto dari hasil Pameran Perempuan. Berbagai pandangan tentang perempuan diwujudkan dalam puluhan karya foto yang kemudian disusun menjadi sebuah photobook yang berjudul Female Perspectives, yang memiliki enam kategori, yaitu (1) female beauty perspectives, (2) female food perspectives, (3) female profession perspectives, (4) female travelling perspectives, (5) female sport and healthy perspectives, and (6) female lifestyle perspectives. Dengan diterbitkannya photobook ini, mahasiswa perempuan dapat merepresentasikan pandangan mereka tentang perempuan masa kini dalam bentuk photobook, sehingga didapat nilai seni dan nilai ekonomisnya. Kata kunci: pandangan perempuan, photobook, representasi, karya mahasiswa
Widely Project: Utilizing an Ultra-Wide Angle Lens in Photographing Museum Bahari Jakarta Alyatalatthaf, Muhammad Dicka Ma'arief
Rekam Vol 20, No 2 (2024): Oktober 2024
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/rekam.v20i2.11525

Abstract

An ultra-wide angle lens is an “abnormal” type of lens that is capable of capturing scenes with a super vast perspective. The strongest characteristic of this lens is its distortion. Often distortions are seen as imperfections and disasters. However, in the “Widely Project”, distortion is used to create a unique and aesthetic perspective. The aim of this research is to use an ultra-wide angle lens to photograph Museum Bahari Jakarta. The photography project was subsequently utilized to preserve objects in the museum and the architecture of its buildings, which contain the historical story of the archipelago. The results show that ultra-wide angle lens are able to: create an attractive, artistic, and aesthetic perception, a “real” feeling on miniatures, furthermore a majestic atmosphere on ships and buildings.
The Recontextualization of Parang Rusak Barong Batik Into Animated Characters Lionardi, Angelia; Vincencia, Violet
Rekam Vol 21, No 1 (2025): April 2025
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/rekam.v21i1.15037

Abstract

Recontextualization is a dynamic process aimed at bringing traditional concepts to life in a modern context, making them more accessible and relevant to today's audience. By adapting cultural artifacts into contemporary forms, this approach ensures that valuable traditions remain vibrant and engaging. One such tradition is the Parang Rusak Barong batik from the Yogyakarta Palace (Keraton Yogyakarta), a restricted pattern (batik larangan) that carries deep cultural significance. Batik larangan are batik patterns forbidden for common use. While its beauty is undeniable, the values and meanings it holds risk being lost if confined only to royal circles. To prevent this, the author has chosen to recreation the Parang Rusak Barong motif as animated character, enabling it to reach and resonate with a broader audience, particularly younger generations. This character will play a central role in "Mira and the Batik Fairy 2," an animated series that delves into the theme of restricted batik motifs. The research explores how traditional visual elements of batik can be transformed into animated characters. Using a qualitative method that combines observation and literature review, the study ultimately results in the creation of a character named Wasis, designed to embody the cultural essence of the Parang Rusak Barong batik in a form that appeals to modern viewers.
Penerapan Aerial Photography Berbasis Model Komunikasi Aisas untuk Promosi Desa Wisata Lebakmuncang, Ciwidey, Bandung Fiandra, Yosa; Budiman, Arief; Noor, Sri Dwi Astuti Al
Rekam Vol 21, No 1 (2025): April 2025
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/rekam.v21i1.13924

Abstract

Aerial Photography adalah teknik memotret permukaan bumi dari atas dengan menggunakan kamera yang dipasang di pesawat terbang, roket drone atau satelit yang mengorbit dari atas bumi, tehnik ini memungkinkan kita untuk mengambil gambar dari sudut pandang yang tidak biasa, yaitu dari atas, cara ini banyak digunakan dalam indsutri pariwisata. Foto udara dari tempat-tempat indah seperti pantai, gunung dan kota memberikan sudut pandang yang menarik dan dramatis, disini kita bisa melihat dunia dari perspektif yang berbeda dan memahami lebih dalam tentang lingkungan di sekitar kita.Desa Wisata Lebak Muncang, Ciwidey, Kabupaten Bandung memiliki potensi yang besar untuk dikembangkan sebagai destinasi wisata. Namun, promosi yang dilakukan selama ini belum optimal. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis penerapan model komunikasi AISAS (Attention, Interest, Search, Action, Share) pada aerial photography sebagai media promosi Desa Wisata Lebak Muncang. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif deskriptif dengan teknik pengumpulan data melalui wawancara, observasi, dan studi dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan model komunikasi AISAS pada aerial photography dapat dilakukan dengan baik.
Visualisasi Pamor Keris pada Desain Karakter Animasi 2D untuk Menjaga Eksistensi Desa Aengtongtong sebagai Pusat Perajin Keris Sumenep Anugerah, Ahmed David; Hidayat, Imam; Hujairi, Ahmad Walid
Rekam Vol 21, No 1 (2025): April 2025
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/rekam.v21i1.13834

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan karakter menggunakan animasi 2D yang merepresentasikan pamor keris sebagai upaya mengenalkan budaya keris kepada generasi muda. Metode design thinking digunakan dalam proses pengembangan, meliputi tahapan empathize, define, ideate, prototype, dan test. Data diperoleh melalui wawancara dengan perajin keris dan 15 pemuda di Sumenep termasuk Desa Aengtongtong, serta melalui pengujian prototipe awal kepada audiens setempat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kelima karakter yang dirancang—Mindaraga, Aeng Sagara, Kal Blarak, Kuning Geni, dan Mpu Baskala—mampu menarik minat pemuda lokal dan diapresiasi oleh perajin keris, terutama karena perpaduan elemen visual modern dengan makna pamor keris yang autentik. Namun, terdapat limitasi pada cakupan audiens yang terbatas dan kompleksitas desain karakter. Oleh karena itu, disarankan agar penelitian selanjutnya melibatkan audiens yang lebih beragam dan mengeksplorasi karakter lebih dalam melalui format film atau serial animasi dan game dengan format interaktifnya. Rekomendasi lain adalah memperkuat narasi dan pengembangan karakter sehingga dapat menjadi ikon budaya yang tidak hanya menarik secara visual, tetapi juga memiliki kedalaman cerita yang mampu membangun koneksi emosional dengan penontonnya.
Perancangan Animasi 2D Riksa and the History of Tangkuban Perahu Rahmi, Lutfia Fatihah; Afif, Riky Taufik
Rekam Vol 21, No 1 (2025): April 2025
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/rekam.v21i1.13243

Abstract

Tangkuban Perahu adalah gunung berapi aktif di Jawa Barat, Indonesia, terletak di Jalan Tangkuban Perahu, Lembang, Bandung Barat. Nama "Tangkuban Perahu" berarti "perahu terbalik" dalam bahasa Sunda, merujuk pada bentuk kawahnya yang menyerupai perahu terbalik. Gunung ini memiliki sejarah letusan yang panjang sejak zaman prasejarah, Tangkuban Parahu terbentuk dari aktivitas letusan yang paling muda diantara jajaran gunung Api Sunda Purba dengan tipe letusanstrato, menciptakan topografi unik, kekayaan geologi serta cerita rakyat yang dipercaya masyarakat luas. Pentingnya penelitian geologi gunung ini adalah untuk memberikan pemahaman mendalam tentang deformasi sejarah alam dan mengaitkannya dengan legenda Sangkuriang sebagai cerita rakyat setempat. Tujuan dari animasi ini adalah untuk mengungkap sejarah  geologis  Tangkuban  Perahu,  memberikan  wawasan  tentang  evolusi  fisiknya,  dan memahami bagaimana mitos dan cerita tradisional bisa muncul dari interpretasi peristiwa alam. Metode yang digunakan adalah analisis deskriptif kualitatif , sedangkan metode perancangan animasi 2D menggunakan metode frame to frame.
Penguatan Dramatisasi Film Tari “Cunduk” Melalui Penataan Cahaya Low Key Lighting Widyasmoro, Agnes; Kustanto, Lilik Kustanto; Elbaraja, Dafi Muhamad Hegar
Rekam Vol 21, No 1 (2025): April 2025
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/rekam.v21i1.13757

Abstract

Perjalanan hidup perempuan yang dramatis menjadi salah satu topik yang menarik untuk di eksplorasi. Dibalik sifat perempuan yang lembut terdapat kekuatan besar yang membuat banyak perempuan mampu bertahan pada kondisi apapun. Kerinduan pada masa-masa yang telah lalu, menghadapi kesedihan dan kegembiraan, serta merangkul harapan masa depan menjadi kompleksitas kisah perempuan. Kehidupan pada masa muda akan selalu menjadi memori pada kehidupan masa dewasa, selalu hidup dan bertumbuh setiap waktu dalam hati dan pikiran perempuan. Kekuatan, cinta, cita-cita, dan harapan perempuan disimbolisasikan dengan “cunduk” atau tusuk konde. Cunduk merupakan perhiasan perempuan Jawa dari masa lalu, pengunci simpul rambut perempuan. Kekuatan bahan dan desainnya kuat menahan simpul rambut supaya tetap rapi tidak tergerai juga menggambarkan kekuatan dan keindahan jiwa perempuan.Dramatisasi dalam film dapat dikisahkan dengan berbagai cara penggambaran. Baik secara verbal ataupun non verbal dan juga dapat digambarkan melalui berbagai unsur dalam komponen gambar (visual). Salah satu unsur gambar dalam film dibentuk melalui penataan cahaya. Konsep “painting with light’ menjelaskan bagaimana visual dalam sebuah film layaknya sebuah gambar yang dilukis menggunakan cahaya. Permainan tata cahaya gelap dan terang akan membawa penonton ke dalam suasana yang dramatis. Kamera yang menjadi wakil mata penonton, pada saat ini menjadi sangat beragam sudut pandangnya (misalnya dekupase, match cut, dll). Teknologi yang semakin berkembang, memungkinkan Penari dan Tarian memiliki daya eksplorasi yang lebih tinggi. Menyajikan visual dalam film, seperti halnya melukis. Kedalaman dan dramatisasi adegan mampu dicapai salah satunya dengan penataan cahaya di dalam maupun di luar studio. Painting with lighting memang telah banyak digunakan dalam film tari di barat, namun belum banyak dilakukan di Indonesia khususnya koreografi dengan unsur gaya Yogyakarta. Dengan permainan cahaya di dalam maupun di luar ruangan, diharapkan secara estetis mampu mendistribusikan dengan baik, tujuan dan pesan dari film tari ini. Dasar gerak film tari “Cunduk” ini adalah tari kontemprer yang mengambil unsur tradisi khususnya gaya yogyakarta.Penggunaan tone gelap dan terang dalam lowkey light menghadirkan kesan kedalaman visual dalam gerak koreografi tarinya. Dengan tone gelap terang, akan memberikan fokus pada penari baik ekspresi maupun gerak tubuhnya.   
Degradasi Estetika dalam Tren Video Vertikal di Platform Digital: Studi Kasus Konten Instagram Reels dan Youtube Short Mustikawati, Retno; Sadewa, Ghalif Putra; Harist, Raihan Zaky Al
Rekam Vol 21, No 1 (2025): April 2025
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/rekam.v21i1.13423

Abstract

Popularitas video vertikal yang kian melejit sebagai perwujudan era konten digital dalam gengaman tangan (gawai) justru memiliki andil besar pada degradasi nilai-nilai estetika karya sinematografis. Kemunculan platform digital seperti Facebook, Snapchat, Instagram, Tiktok, Twitter, dan Youtube shorts memberikan kesempatan bagi siapapun untuk membuat dan mengunggah video kreatif berformat vertikal tanpa batasan. Kondisi demikian memungkinkan siapa saja menjadi kreator video vertikal dan tidak perlu memperdulikan prinsip-prinsip penciptaan karya sinematografis. Sejalan dengan itu, penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan rendahnya kualitas video demi pemenuhan kebutuhan konten video vertikal di platform digital. Melalui pendekatan deskriptif kualitatif, observasi, dan dokumentasi dari konten di platform digital Instagram dan Youtube shorts, penelitian ini menghasilkan dua temuan penting. Pertama, karya video vertikal di platform digital telah kehilangan nilai estetika karena tidak mengikuti konsep-konsep sinematografi. Kedua, adanya aspek komersialisasi di platform digital membuat video vertikal menjadi kurang memperhatikan kualitas akibat kejar tayang (trenviral). Oleh karenanya, penelitian ini memberikan pemahaman tentang potensi degradasi nilai estetika pada konten video vertikal. Diperlukan upaya untuk menyatukan kerja sama yang saling menguntungkan antara gagasan dan teknologi terbaru, seperti membahas bagaimana formula penciptaan video vertikal dapat sesuai dalam memenuhi kebutuhan pelaku atau penikmat, sambil tetap memperhatikan nilai estetika. Degradation Of Aesthetic Value In Vertical Video Trends On Digital Platforms. The growing popularity of vertical videos as the embodiment of the digital content era in the palm of our hands has contributed to the degradation of the aesthetic values of cinematographic works. The emergence of digital platforms such as Facebook, Snapchat, Instagram, TikTok, Twitter, and YouTube shorts provide opportunities for anyone to create and upload creative videos in vertical format without restrictions. This condition allows anyone to become a vertical video creator and does not need to care about the principles of creating cinematographic works. In line with this, this research aims to explain the low quality of videos to fulfil the needs of vertical video content on digital platforms. Through a descriptive qualitative approach, observation, and documentation of content on the digital platforms Instagram and YouTube shorts, this research produces two important findings. First, vertical video works on digital platforms have lost their aesthetic value because they do not follow cinematographic concepts. Secondly, the commercialization aspect of digital platforms has caused vertical videos to lose their quality due to airtime (trenviral). Therefore, this research provides insight into the potential degradation of aesthetic value in vertical video content. Efforts are needed to bring together mutually beneficial cooperation between ideas and the latest technology, such as discussing how the formula for creating vertical videos can be suitable for the audience.
Kehidupan dan Aktivitas Warga di Permukiman Kumuh Pejompongan, Jakarta dalam Fotografi Urban Novianti, Erlina; Amanda, Silviana; Ariani, Ariani; Annisa, Resky; Lambertus, Jennyfer
Rekam Vol 21, No 1 (2025): April 2025
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/rekam.v21i1.13452

Abstract

The capital city of Jakarta is a place with its own allure, offering a variety of attractions and serving as the center for all sectors. This significant appeal has made Jakarta a focal point for urbanization. Urbanization, which has been increasing year by year, has become a challenge for Jakarta, resulting, among other things, in the emergence of slum settlements. One such slum settlement exists in Pejompongan, Bendungan Hilir, Central Jakarta. The activities and daily lives of residents in this slum settlement are intriguing and will be the subject of a photographic project.The purpose of this research is to explore the activities and daily lives of urban residents in the slum settlement of Pejompongan, Bendungan Hilir, Central Jakarta, which will be depicted through urban photography. The method employed in this research is practice-led research, specifically creating new works, particularly urban photography, through practical investigation. Urban photography is utilized in this artistic creation to portray the lives of Jakarta's urban residents, particularly the activities and daily routines of those living in the slum settlement, amidst their challenges for survival.
Inovasi Gaya Naratif Sinematik dalam Produksi Film: Kreativitas dalam Keterbatasan Anggaran dan Teknologi Kabelen, Nicholaus Wayong
Rekam Vol 21, No 1 (2025): April 2025
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/rekam.v21i1.15056

Abstract

With the development of today's technology, it is not uncommon for AI to become a threat to young filmmakers in developing their ideas in the right way, and AI is only becoming an aid and not the main tool to achieve independent filmmaking.  This study aims to observe how budget and technical constraints in independent film production drive innovation in narrative and filmmaking styles. This research takes the subject of a 2024 production film with the title "Angkara Murka" by filmmaker Eden Junjung. The main focus of this study is to observe how independent films are produced with limited resources and rely on the creativity of their creators to produce high-quality works that can compete with the production of commercial films and be presented in cinema media.  In the process, this research uses a qualitative approach to analyze a case study of an independent film titled "Angkara Murka" which successfully uses the technique of film .In the process, this research uses a qualitative approach to analyze a case study of an independent film titled "Angkara Wrake" which successfully uses simple film techniques and strong narratives to create a visual experience that is acceptable in terms of message and story meaning by the audience. In indie film production, it is not uncommon for filmmakers to find that budget constraints often lead to the use of innovative techniques to create authentic cinematic effects, such as the use of natural light, locations with no rental fees, and low-cost cameras. In addition, these limitations also encourage the development of a more focused and intense narrative, with deeper characters and a more focused storyline.   The study shows that despite the great challenges associated with small costs, cost constraints can motivate independent filmmakers to find creative solutions that produce good visual style and original narratives. Result