cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota surabaya,
Jawa timur
INDONESIA
Pendidikan Sekolah Dasar
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Education,
Arjuna Subject : -
Articles 90 Documents
PENGEMBANGAN MODEL PEMBELAJARAN BERBASIS MASALAH DENGAN STRATEGI METAKOGNITIF UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN PEMECAHAN MASALAH PADA SISWA SEKOLAH DASAR Suyono, ; Budi Usodo, ; Tri Yanto, ; Sri Purwaningtyas,
Pendidikan Sekolah Dasar Vol 6, No 5 (2012)
Publisher : Pendidikan Sekolah Dasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

PEMANFAATAN UNSUR SENI RUPA PADA MATERI GAMBAR ILUSTRASI UNTUK MENINGKATKAN KREATIVITAS SISWA PADA PEMBELAJARAN SENI RUPA DI KELAS IV SEKOLAH DASAR Dewi Widiana Rahayu, ; Suprayitno,
Pendidikan Sekolah Dasar Vol 6, No 5 (2012)
Publisher : Pendidikan Sekolah Dasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Bahasa Indonesia Pembelajaran seni rupa adalah komponen dalam kurikulum sekolah karena kegiatan seni memiliki orientasi ke proses dan titik untuk pemikiran kreatif. Pembelajaran seni dapat digunakan sebagai alat untuk mengembangkan kemampuan kreatif individu, sehingga seni merupakan sarana untuk tumbuh dan berkembangnya kreativitas siswa. Kreativitas adalah perilaku inovatif dan produktif yang dapat diamati melalui tindakan dan kemampuan seseorang. Salah satu cara untuk mengembangkan kreativitas adalah dengan memberikan inovasi baru dalam membuat kreasi dari guru kepada siswa dengan memanfaatkan unsur seni rupa. Unsur seni rupa merupakan bagian yang menetapkan terwujudnya penciptaan sesuatu. Unsur seni meliputi garis, bidang, bentuk, ruang, warna, tekstur, pencahayaan dan banyak orang lain yang tidak memunculkan dalam karya seni yang dapat mempengaruhi nilai estetika. Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan elemen seni rupa sebagai alat pembelajaran alternatif yang dapat diterapkan untuk meningkatkan kreativitas siswa dalam mata pelajaran SBK khususnya dalam bahan ilustrasi gambar. Masalah yang diajukan dalam penelitian ini adalah bagaimana aktivitas siswa dan guru dalam proses pembelajaran, pengembangan siswa kreativitas, respon terhadap proses pembelajaran dan kendala meningkat dalam waktu SBK belajar di kelas empat SDN Cangkringturi Prambon Kecamatan Sidoarjo Kabupaten. Penelitian ini, dilakukan di SDN Cangkringturi Prambon Kecamatan Sidoarjo Kabupaten, memiliki tujuan untuk mengetahui tentang perkembangan kreativitas siswa dalam menggambar ilustrasi. Data yang diambil aktivitas siswa dan guru dengan melakukan pengamatan. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa pemanfaatan elemen seni dapat meningkatkan kreativitas siswa dengan rata-rata kelas sekitar 65,5 pada siklus I, 68,7 pada siklus II, dan 80, 6  pada siklus III. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa kreativitas siswa mengalami peningkatan dalam setiap siklus pembelajaran. Berdasarkan penelitian ini, dapat disimpulkan bahwa kreativitas dapat ditingkatkan dengan memanfaatkan elemen seni rupa sehingga siswa dapat aktif dalam proses pembelajaran dan kreativitas siswa adalah lebih meningkat. Kata kunci: Dasar Seni rupa, Kreativitas     Abstrak Bahasa Inggris Fine art learning is a component in school curriculum because an art activity has an orientation to a process and point to the creative thinking. Art learning can be used as a tool to develop an individual creative power, so art is a means to grow up the student creativity. Creativity is an innovative and productive behavior that can be observed through action and proficiency of a person. One of the ways to grow up the creativity is by giving a new innovation in making a creation from the teacher to the students. The innovation is by utilizing fine art element. Fine art element is a part that establishes the materialized of a creation.  The element includes line, plane, shape, space, color, texture, lighting and many others which not always appear in a work art but those are influence its aesthetics value. In this research, the researcher utilize the fine art element as a alternative learning tool which is applicable for increasing the student creativity in SBK subject especially in illustration picture material. The problem which is raised in this research is how the student and teacher activity in learning process, student creativity development, response to the learning process and the rising obstacle in SBK learning time in fourth grade of SDN Cangkringturi Prambon subdistrict Sidoarjo regency. This research, which is done in SDN Cangkringturi Prambon Subdistrict Sidoarjo Regency, has a purpose to know about the development of student creativity in drawing the illustration. The data of student and teacher activity are acquired by doing an observation. The result of this research show that the utilization fine art element is able to increase the student creativity with class average about 65,5 or 45,5% in cycle I, 68,7 0r 87,09% in cycle II, and 80,6 or 93,5% in cycle III. The results of this research show that student creativity is increase in every learning cycle. Based on this research, it can be concluded that creativity is able to be increased by utilizing fine art element so the student can be active in learning process and student creativity is more increase.   Keywords: Fine art element, Creativity
Peningkatan Hasil Belajar Membaca dan Menulis Melalui Penerapan Terapeutik Teman Sebaya Ari Wahyudi,
Pendidikan Sekolah Dasar Vol 4, No 4 (2006)
Publisher : Pendidikan Sekolah Dasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini mengkaji apakah dengan penerapan terapeutik teman sebaya dapat meningkatkan hasil belajar  membaca dan menulis di SDN Kauman Mojosari Mojokerto. Sampel dalam penelitian ini  sejumlah anak yang mengalami kesulitan membaca dan menulis di kelas rendah (1, 2,dan 3) yakni sejumlah 20 siswa. Dengan rancangan penelitian one group pre test post test design yang dianalisis dengan rumus sign test, hasilnya menunjukkan bahwa nilai Zh sebesar 3,81 > 1,64 pada taraf  kepercayaan 0,05. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa penerapan terapeutik teman sebaya dapat meningkatkan hasil belajar membaca dan menulis.
Pengaruh Kecerdasan Visual-Spasial terhadap Kreativitas Anak dalam Menggambar di Sekolah Dasar Nurul Khotimah,
Pendidikan Sekolah Dasar Vol 4, No 4 (2006)
Publisher : Pendidikan Sekolah Dasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kecerdasan visual-spasial merupakan kemampuan untuk berpikir dalam bentuk gambar, visual, imajinasi, dan kreativitas.  Dengan demikian, pendidikan di sekolah dasar khususnya pendidikan kerajinan tangan dan kesenian haruslah dibina oleh seorang pendidik yang berkompeten pada bidangnya. Pengaruh kecerdasan visual-spasial terhadap kreativitas anak dalam menggambar di sekolah dasar akan membangunkan anak lebih cerdas dalam berpikir, berbuat, melakukan eksperimen, mengekplorasi, dan mentransformasi bidang seni ke bidang IPTEK yang lain.
Pemahaman Konsep Matematika dalam Soal Cerita untuk Anak Sekolah Dasar (Suatu Tinjauan Teoretis) Wiryanto,
Pendidikan Sekolah Dasar Vol 4, No 4 (2006)
Publisher : Pendidikan Sekolah Dasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Dalam kehidupan sehari-hari, manusia tidak dapat terlepas dari matematika. Bahkan matematika mempunyai andil yang cukup besar dalam perkembangan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi. Objek yang dipergunakan dalam matematika adalah sesuatu yang abstrak. Hal ini menyebabkan guru mengalami kesulitan dalam penyampaian materi matematika pada anak SD, sebab taraf berpikir anak SD menurut J. Piaget digolongkan pada taraf operasi kongkret. Oleh sebab itu sebagai jalan keluarnya adalah memanipulasi objek-objek yang abstrak ke dalam benda-benda kongkret. Soal cerita merupakan bentuk matematika yang materinya telah dihubungkan dengan pengalaman dalam kehidupan sehari-hari. Sehingga soal cerita bisa dipakai sebagai alternatif penyampaian materi matematika pada anak usia Sekolah Dasar (SD). Tetapi setelah diamati, berdasarkan teori perkembangan manusia (oleh J.Piaget), ternyata kemampuan anak SD dalam memahami kalimat (verbal) dan mengubahnya ke dalam simbol-simbol matematika masih mengalami kesulitan.
Meningkatkan Kemampuan Pemahaman Matematika Soal Cerita Melalui Metode Sakamoto Rohita,
Pendidikan Sekolah Dasar Vol 4, No 4 (2006)
Publisher : Pendidikan Sekolah Dasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Metode Sakamoto adalah salah satu metode dalam pembelajaran matematika yang berkembang di Indonesia. Keberadaannya menjawab tantangan dan permasalahan yang dihadapi oleh sebagian besar guru-guru matematika sekolah dasar (SD) serta para siswa yang fobia terhadap matematika khususnya soal cerita. Metode Sakamoto adalah sebuah metode yang ditemukan oleh Hideo Sakamoto, seorang pendidik berkebangsaan Jepang. Sakamoto memberikan pelajaran matematika soal cerita dengan cara yang menarik. Hal ini dikarenakan penyajiannya melibatkan kedua belahan otak, kanan dan kiri. Cara penyelesaian yang runtut dan sistematis, menjadikan anak terlatih untuk berpikir secara sistematis pula. Hal yang lebih penting adalah kemampuan anak untuk menganalisa soal berkembang dengan baik. Hal ini dapat dibuktikan dari kemampuan anak-anak Jepang dan Singapura yang telah lebih dulu mengadopsi metode tersebut dalam pembelajaran matematikanya. Dengan pembahasan metode Sakamoto ini, kiranya dapat menjadi masukan yang dapat diterapkan dalam pembelajaran matematika soal cerita bagi para guru dan para siswa sekolah dasar di Surabaya, khususnya
Pentingnya Pengelolaan Kelas terhadap Keberhasilan Proses Belajar Mengajar di Sekolah Dasar Supriyono,
Pendidikan Sekolah Dasar Vol 4, No 4 (2006)
Publisher : Pendidikan Sekolah Dasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pengelolaan kelas merupakan hal mutlak yang harus dikuasai oleh guru dalam proses belajar mengajar. Dengan pengelolaan kelas yang baik , maka proses pembelajaran dapat dicapai secara maksimal. Sehubungan dengan hal tersebut, pengelolaan kelas yang dilakukan oleh guru  di SDN Jepara III Surabaya dapat  dijadikan model sebuah pengelolaan kelas yang efektif. Guru berupaya melakukan kegiatan pembelajaran secara wajar namun dari sisi efisiensi dan efektivitas berhasil dengan baik. Inilah yang dirasakan mampu memberikan nilai lebih bagi proses pembelajaran di SDN  Jepara III Surabaya
Penggunaan Strategi Problem Based Learning untuk Meningkatkan Kemampuan Membaca Kritis Mahasiswa PGSD Wahyu Sukartiningsih,
Pendidikan Sekolah Dasar Vol 4, No 4 (2006)
Publisher : Pendidikan Sekolah Dasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengkaji efektivitas pembelajaran menggunakan strategi Problem Based Learning untuk meningkatkan kemampuan membaca kritis mahasiswa Program D2 PGSD-UNESA. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian tindakan kelas, yang teridiri atas tiga siklus pembelajaran, yaitu (1) memunculkan ide aktual dan kritis dari bahan bacaan dan menginformasikannya, (2) mereviu bahan bacaan dan menginformasikannya, dan (3) menulis karya ilmiah dan karya ilmiah populer hasil dari kegiatan membaca kritis dan menginformasikannya. Hasil analisis data menunjukkan bahwa pembelajaran menggunakan strategi Problem Based Learning dapat meningkatkan kemampuan membaca kritis mahasiswa Program D2 PGSD-UNESA: 1) secara kuantitatif, berupa peningkatan nilai membaca kritis mahasiswa, (2) secara kualitatif, berupa meningkatnya kemampuan berpikir kritis mahasiswa.
Garis Bilangan Kosong sebagai Model Mengajarkan Penjumlahan dan Pengurangan Sampai 100 di Sekolah Dasar Neni Mariana, ; Abdul Haris Rosyidi,
Pendidikan Sekolah Dasar Vol 4, No 3 (2005)
Publisher : Pendidikan Sekolah Dasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Bahasan penjumlahan dan pengurangan sampai bilangan 100 merupakan salah satu dasar pembelajaran mental aritmatika di kelas-kelas rendah sekolah dasar. Beberapa tahun ini, para matematikawan di beberapa negara berkembang, seperti Belanda, telah meneliti penggunaan model mental aritmatika baru untuk mengajarkan penjumlahan dan pengurangan di sekolah dasar, yaitu dengan garis bilangan kosong. Artikel ini tidak menggambarkan pembelajaran penjumlahan dan pengurangan itu sendiri, tetapi lebih menekankan pada penggunaan garis bilangan kosong yang nampaknya menjadi sebuah model yang sangat kuat untuk pembelajaran penjumlahan dan pengurangan sampai 100 bagi siswa sekolah dasar, karena memiliki beberapa keunggulan. Di Indonesia sendiri, penelitian tentang penggunaan garis bilangan kosong masih belum terdengar. Oleh sebab itu, dalam tulisan ini hasil-hasil penelitian yang dikemukakan merupakan hasil yang diambil dari negara lain. Dengan demikian, dapat dijadikan gambaran umum untuk disesuaikan dengan pembelajaran matematika bagi siswa-siswa sekolah dasar di Indonesia
Penggunaan Pertanyaan Penuntun dalam Pembelajaran Membaca di Sekolah Dasar Barokah Widuroyekti,
Pendidikan Sekolah Dasar Vol 4, No 3 (2005)
Publisher : Pendidikan Sekolah Dasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Terampil membaca bukan hanya berarti dapat membaca baris-baris kalimat yang tertulis tetapi juga memahami apa yang tersirat dari materi yang tertulis. Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan keterampilan membaca siswa melalui peningkatan keterampilan membaca kritis dalam pembelajaran membaca dengan menggunakan pertanyaan penuntun. Rancangan peneltian yang digunakan adalah rancangan penelitian tindakan. Penelitian dilaksanakan dengan mengikuti alur: merencanakan tindakan, melaksanakan tindakan dalam pembelajaran, melakukan pengamatan terhadap pelaksanaan tindakan, dan merefleksi pelaksanaan tindakan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa setelah dilakukan tindakan keterampilan membaca kritis siswa meningkat. Peningkatan keterampilan dalam proses membaca meliputi: keterampilan mengajukan pertanyaan sebelum membaca, keterampilan membaca kritis dengan mengajukan pertanyaan tentang materi yang dibaca, menjawab pertanyaan penuntun, mengemukakan pendapat untuk merespon bacaan selama proses membaca. Peningkatan hasil membaca dapat dilihat dari hasil tes yang dicapai siswa pada semua kelompok, dari siklus I sampai siklus III.