cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota surabaya,
Jawa timur
INDONESIA
Ordik
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Education,
Arjuna Subject : -
Articles 85 Documents
TINJAUAN ILMIAH JOGGING Endang Sri Wahjuni,
Ordik Vol 7, No 2 (2009)
Publisher : Ordik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Dengan adanya kemajuan tehnologi pada saat ini, maka orang akan semakin sedikit bergerak dalam menjalankan pekerjaan dan kehidupan sehari-hari. Dari banyak penelitian yang telah dilakukan terhadap dampak kurang gerak ini dengan kesehatan, maka tampak peningkatan penyakit yang disebabkan karena pola hidup yang kurang sehat ini, terutama penyakit-penyakit degeneratif, seperti penyakit darah tinggi, serangan jantung, diabetes daan lain-lain. Oleh karena itu berolahraga secara teratur sangat dianjurkan. Salah satu olahraga yang mudah dan murah adalah jogging. Banyak hal ilmiah yang dapat dijelaskan dari olahraga ini. Baik dari segi olahraganya maupun dari segi fisiologinya, yaitu efek jogging terhadap pembulu darah, jantung, dan metabolisme tubuh yang lain, dimana kesemuanya menunjukkan manfaat yang sangat baik bagi kesehatan tubuh
TEKNIK DASAR MANIPULASI MASASE Budi Rahardjo, ; Hari Wisnu,
Ordik Vol 7, No 2 (2009)
Publisher : Ordik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Sport massage yang dilakukan pada tubuh memberikan efek fisiologis berupa: peningkatan aliran darah, aliran limfatik, stimulasi sistem saraf,meningkatkan aliran balik vena. Keuntungan lain adalah menghilangkan rasa sakit dengan cara meningkatkan ambang rasa sakit, oleh karena merangsang peningkatan produksi hormon endorphin. Demikian pula sport massage dapat mencegah terjadinya trauma, memberikan efek rehabilitasi dan relaksasi
PERAN REINFORCEMENT TERHADAP MOTIVASI BELAJAR SISWA Bambang Ferianto Tjahyo Kuntjoro,
Ordik Vol 7, No 2 (2009)
Publisher : Ordik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Perkembangan yang pesat dalam ilmu olahraga memberikan rangsangan yang kuat terhadap perkembangan ilmu lain yang mendukungnya, termasuk ilmu Psikologi Olahraga. Dewasa ini banyak muncul penelitian-penelitian yang bertujuan untuk memajukan, mengefektifkan ataupun meningkatkan motivasi belajar siswa. Reward and Punishment adalah salah satu teori belajar yang berusia paling tua dan masih sangat berpengaruh di kalangan para ahli psikolog belajar masa kini, penciptanya bernama Burrhus Frederic Skinner (1904) seorang psikolog terkemuka dari Harvard University seorang penganut behaviorisme yang dianggap kontroversial, karena jika kita renungkan dan bandingkan dengan teori dan juga temuan riset psikologi kognitif, karakteristik yang terdapat dalam teori-teori behavioristik tersebut mengandung banyak kelemahan. Dalam teori ini diambil dari percobaannya yang kemudian dikenal dengan istilah Operant Conditioning (Pembiasaan Perilaku Respons). Ia berpendapat bahwa tingkah laku pada dasarnya merupakan fungsi dari konsekuensi tingkah laku itu sendiri, apabila munculnya tingkah laku diikuti dengan sesuatu yang menyenangkan (reward), maka tingkah laku tersebut cenderung untuk diulang. Sebaliknya, jika munculnya tingkah laku diikuti dengan sesuatu yang tidak menyenangkan (punishment), maka tingkah laku tersebut cenderung tidak akan diulang. Reward (hadiah), apakah dengan pemberian reward kepada siswa  yang berprestasi atau mampu melakukan hal-hal sesuai dengan keinginan dapat menjadikan pembelajaran menjadi lebih efektif? Reward dan Punishment seperti apakah yang proporsional bagi anak didik kita, sehingga dalam aplikasinya sesuai dengan tujuan yaitu dapat memberikan motivasi kuat dalam belajar siswa ? demikian juga di level perguruan tinggi, khususnya mahasiswa kita ? apakah peran dosen telah melakukan bentuk penguatan (reiforcement) tersebut ? di bawah ini akan diulas secara detail mengenai reinforment dalam pembelajaran.
EFEKTIFITAS PELATIHAN INTERVAL APLIKATIF TERHADAP DAYA TAHAN PEMAIN TENIS LAPANGAN Setiyo Hartoto,
Ordik Vol 7, No 3 (2009)
Publisher : Ordik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pelatihan interval (interval training) merupakan salah satu model pelatihan yang sering digunakan untuk peningkatan kondisi fisik atlet. Pada cabang tenis lapangan perlu dikembangkan pelatihan yang memadukan teknik dan fisik secara spesifik. Tujuan pelatihan ini adalah untuk memperoleh data empiris tentang efektifitas pelatihan interval 1 : 1, 1 : 2, dan 1 : 2 progres terhadap daya tahan pemain tenis lapangan. Penelitian ini menggunakan Randomized Control Group Pretest Design karena adanya kelompok perlakuan, kelompok kontrol dan dilakukan secara randomisasi. Subyek yang dilibatkan adalah mahasiswa putra UKM Tenis Lapangan Fakultas Ilmu Keolahragaan Universitas Negeri Surabaya yang memiliki usia 18–20 tahun, sebanyak 30 mahasiswa. Hasil analisis data ditemukan bahwa terdapat perbedaan rata-rata efektifitas pelatihan interval 1 : 1, pelatihan interval 1 : 2 dan pelatihan interval 1 : 2 progres terhadap daya tahan pemain tenis lapangan
SEKILAS TENTANG PROGRAM PROFESI GURU (PPG) PENJASORKES Nanik Indahwati, ; Abdul Rachman Syam Tuasikal,
Ordik Vol 7, No 3 (2009)
Publisher : Ordik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Guru merupakan jabatan profesional dan kerena itu seorang guru harus disiapkan melalui pendidikan profesi. Menurut UU No 20/2003 tentang SPN pendidikan profesi adalah pendidikan tinggi setelah program sarjana yang mempersiapkan peserta didik untuk memiliki pekerjaan dengan persyaratan keahlian khusus. Pendidikan profesi yang dimaksudkan untuk guru adalah program PPG, yakni suatu program pendidikan yang diselenggarakan untuk lulusan S-1 kependidikan dan S-1/D-IV Non Kependidikan yang memiliki bakat dan minat menjadi guru, agar mereka dapat menjadi guru yang profesional sesuai dengan standar nasional pendidikan dan memperoleh sertivikat pendidik. Pendidikan profesi tersebut hendaknya dapat segera diselenggarakan dan dilaksanakan dengan sebaik-baiknya oleh pihak yang berkompeten demi upaya peningkatan mutu pendidikan
EVALUASI SISTEM PENILAIAN HASIL BELAJAR MAHASISWA DI UNIVERSITAS NEGERI SURABAYA I Made Sriundy Mahardika,
Ordik Vol 7, No 3 (2009)
Publisher : Ordik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

IPK mahasiswa Unesa (IKIP Surabaya) ditengarai rendah dimana reratanya hanya  2,56 dan ini berdampak pada menurunkan daya saing lulusan. Tahun 1999 dilakukan revisi terhadap sistem penilaian dengan harapan IPK lulusan menjadi lebih baik. Apakah tujuan tersebut tercapai? Dampak apa yang timbul akibat revisi tersebut?. Evaluasi terhadap sistem evaluasi hasil belajar di Unesa menghasilkan kesimpulan: (1) Komposisi komponen-komponen penilaian hasil belajar mahasiswa yang diterapkan di Unesa sudah tepat dengan catatan perlu dilakukan pendeskripsian yang lebih jelas pada sub-komponen partisipasi. Jika sulit dilakukan penilaian terhadap kualitas atau bobot pertanyaan maka sebaiknya komponen partisipasi dihitung hanya dari kehadiran (60%) dan frekwensi interaksi (40%) saja, (2) Upaya peningkatan IPK dengan mengubah KKM 56% nilai C justru menurunkan kualitas lulusanntuk meningkatkan kualitas lulusan maka rentangan konversi nilai perlu direvisi ke tingkat yang lebih tinggi. Menurut sistem yang berlaku sekarang  mahasiswa yang tingkat ketuntasannya  . Karena semua prodi di Unesa sudah menerapkan kurikulum berbasis kompetensi, maka KKM perlu diubah menjadi 75% untuk nilai C, (3) kegiatan evaluasi sebaiknya dilengkapi juga dengan selalu mengukur tingkat efektivitas perkuliahan, jangan-jangan IPK rendah lebih disebabkan karena perkuliahan yang tidak efektif, (4) Penghitungan Nilai IPK perlu ditinjau kembali, dengan mempertimbangkan waktu tempuh sebagai fungsi pembagi, karena banyak IPK tinggi dicapai mahasiswa ternyata dicapai dengan mengulang matakuliah beberapa kali, (5) Khusus untuk matakuliah yang terdiri dari teori dan praktek perlu melakukan adaptasi.
MODEL PEMBELAJARAN RENANG PADA INDIVIDU YANG MENGALAMI AQUA-PHOBIA (Studi pada Mahasiswa S1 Angkatan 2008 Jurusan Pendidikan Olahraga FIK–Unesa yang memprogram mata kuliah Renang I di semester Genap 2009) Fifukha Dwi Khory,
Ordik Vol 7, No 3 (2009)
Publisher : Ordik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Renang merupakan olahraga yang sangat digemari oleh banyak orang, ini terbukti semakin banyak kolam renang yang dibangun di tempat-tempat rekreasi yang bernuansa air. Tetapi, meskipun banyak orang yang gemar berenang namun tidak sedikit pula orang yang menghindari berenang, hal ini dikarenakan resiko dari berenang bisa berakibat fatal yaitu tenggelam, apalagi jika orang tersebut tidak bisa berenang atau bahkan mempunyai fobia air (aqua-phobia) yaitu semacam ketakutan air yang berlebihan. Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh informasi tentang model pembelajaran renang pada individu yang mengalami aqua-phobia, sehingga para guru atau pelatih bisa memberikan pembelajaran renang dengan tepat pada individu yang mengalami aqua-phobia. Penelitian ini dilakukan pada 32 orang mahasiswa angkatan 2008 yang memprogram mata kuliah Renang I di semester Genap 2009 S1 Jurusan Pendidikan Olahraga FIK–Unesa yang mempunyai karakteristik belum bisa berenang dan mempunyai kategori aqua-phobia. Teknik pengambilan sampelnya dengan cara nonprobability purposive random sampling dan untuk analisis data statistik menggunakan uji t sampel bebas. Hasil penelitian ini didapatkan nilai P Value untuk uji Lavene’s (uji homogenitas antar kelompok) 0.991, artinya dua kelompok tersebut memiliki varian yang sama (homogen). Sementara hasil uji t didapatkan nilai P Value 0.226, berarti pada taraf signifikasi 0,05 tidak ada perbedaan yang signifikan rata-rata kemampuan renang antara kelompok model AP dan kelompok model K, kemudian untuk hubungan antara model pembelajaran dengan level aqua-phobia dari hasil analisis di dapatkan nilai χ² = 3.606, df = 2, n = 30 dan nilai P Value = 0.165, maka dapat disimpulkan bahwa tidak terdapat perbedaan yang signifikan antara perubahan level aqua-phobia setelah diberikan perlakuan model AP dan model K. Namun dari hasil pengamatan dalam perkembangan penelitian ternyata pemberian perlakuan dengan waktu yang lebih lama sampai pada akhir perkuliahan akan menghasilkan kemampuan berenang yang berbeda dari masing-masing subyek penelitian yaitu pada perlakuan model AP subyek penelitian mampu berenang sampai 3 gaya dengan jarak 50 meter, sedangkan untuk perlakuan model K subyek penelitian hanya bisa berenang 2 gaya dengan jarak 50 meter. Jadi bisa dipastikan bahwa hasil dari perlakuan model AP lebih baik dibandingkan perlakuan model K dalam hal kemampuan berenangnya.
PROFIL MODEL PEMBELAJARAN DAN METODE PENILAIAN GURU PENDIDIKAN JASMANI, OLAHRAGA DAN KESEHATAN SEKOLAH MENENGAH PERTAMA (SMP) DI BALI Made Agus Dharmadi,
Ordik Vol 7, No 3 (2009)
Publisher : Ordik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui profil tentang model pembelajaran dan metode penilaian yang digunakan oleh guru Pendidikan Jasmani, Olahraga dan Kesehatan (Penjasorkes) Sekolah Menengah Pertama (SMP) yang ada di Bali. Metode penelitian yang digunakan adalah metode diskriptif kuantitatif dengan populasi penelitian adalah guru-guru penjasorkes yang ada di Bali, adapun sampel penelitian ditentukan secara cluster, masing-masing wilayah diwakili oleh satu Kabupaten/Kota, sehingga dalam penelitian ini digunakan sampel sebanyak 5 kabupaten dan masing-mising kabupaten diambil 4 sekolah dengan 1 orang guru penjasorkes, maka jumlah sampel keseluruhan adalah 20 orang guru penjasorkes SMP yang ada di Bali. Data dikumpulkan dengan menggunakan kuesioner serta dianalisis dengan analisis despriptif kuantitatif. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa (1) Model pembelajaran yang paling dominan digunakan adalah sebesar 73% guru memilih model ekpositoris dan model pembelajaran paling dikuasai oleh guru adalah sebesar 91% guru memilih model ekpositoris (2) Alasan pemilihan model pembelajaran tersebut adalah a) karena model tersebut sangat praktis dan mudah diimplementasikan  sebesar 45%, b) karena paling sesuai dengan tuntutan materi dalam kurikulum sebesar 37%, dan c) karena model tersebut sudah biasa/rutin digunakan sebesar 13,5%, (3) Metode penilaian yang dominan digunakan dalam pembelajaran adalah sebesar 54% guru memilih metode penilaian unjuk kerja dan metode penilaian yang paling dikuasai adalah sebesar 50% guru memilih metode penilaian unjuk kerja (4) Alasan pemilihan jenis penilaian yang digunakan guru adalah a) karena paling sesuai dengan tuntutan kurikulum sebesar 73%, b) karena paling mudah digunakan sebesar 18%, c) karena paling praktis digunakan  sebesar 9%.
DAMPAK FAALI DARI PROGRAM LATIHAN (EXERCISE PROGRAM) PADA ORANG DEWASA Mokhamad Nur Bawono,
Ordik Vol 7, No 3 (2009)
Publisher : Ordik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Perubahan yang terjadi pada waktu seseorang melakukan exercise disebut dengan respon. Sedangkan perubahan yang terjadi karena training disebut adaptasi. (Supriadi, 2000:69). Adaptasi sistem tubuh akibat latihan aerobik adalah sebagai berikut (McArdle, 2001:466-477):(1) Perubahan otot , (2) Perubahan kardiorespirasi, (3) Aspek hormonal,  (4) Pada individu yang terlatih terjadi peningkatan pengaturan panas tubuh karena dapat menyesuaikan diri terhadap kondisi panas dengan mudah, hal ini disebabkan oleh besarnya volume plasma dan lebih responsifnya mekanisme termoregulator, (5) Perubahan penampilan atau performa dengan meningkatnya kapasitas endurance ‘daya tahan’
KUALITAS GURU PENDIDIKAN JASMANI DI SEKOLAH: ANTARA HARAPAN DAN KENYATAAN Ali Maksum,
Ordik Vol 7, No 3 (2009)
Publisher : Ordik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tidak ada pendidikan yang lengkap tanpa kehadiran pendidikan jasmani; dan tidak ada pendidikan jasmani berkualitas tanpa kehadiran guru yang berkualitas. Kualitas guru diyakini sebagai faktor penting dalam pembelajaran pendidikan jasmani di sekolah. Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap kualitas guru pendidikan jasmani dilihat dari kompetensi pedagogik, profesional, kepribadian, dan sosial. Selain itu juga mengungkap gambaran penggunaan waktu oleh guru, termasuk waktu yang dialokasikan untuk peningkatan profesionalisme mereka. Penelitian dilakukan dengan pendekatan kuantitatif dan kualitatif secara terintegrasi. Subjek penelitiannya adalah guru-guru pendidikan jasmani tingkat Sekolah Dasar, Sekolah Menengah Pertama, dan Sekolah Menengah Atas pada tiga kota besar di Indonesia, yakni Jakarta, Surabaya, dan Padang. Sampel diambil secara purposive sampling sebanyak 36 guru, 12 guru untuk setiap kota. Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) kompetensi pedagogik guru pendidikan jasmani relatif optimal dilihat dari waktu aktif belajar gerak dan angka partisipasi siswa dalam pembelajaran; sayangnya masa kerja berbanding terbalik dengan kompetensi yang dimiliki; (2) kompetensi profesional pada saat pre-service maupun in-service masih sangat kurang; (3) kompetensi kepribadian dan sosial guru relatif tinggi, sayangnya, semakin lama masa kerja semakin menurun kompetensi kepribadian dan sosialnya; (4) waktu untuk pengembangan profesionalisme masih relatif rendah, yakni antara 24-42 menit per hari. Guru dengan masa kerja rendah cenderung memanfaatkan waktu untuk pemenuhan kebutuhan dasar, sementara itu guru dengan masa kerja lama cenderung memanfaatkan waktu untuk kegiatan yang bersifat produktif. Berdasarkan temuan-temuan di atas, maka dapat direkomendasikan hal-hal sebagai berikut: (1) Penyegaran kompetensi pedagogik, profesionalisme, kepribadian, dan sosial perlu dilakukan pada guru pendidikan jasmani, terutama mereka yang memiliki masa kerja cukup lama; (2) perlu peningkatan aksesabilitas bagi para guru pendidikan jasmani untuk meningkatkan kompetensinya; (3) LPTK sebagai penyedia layanan guru perlu memperbaiki diri, baik dari sisi kurikulum maupun sistem pengajaran.