cover
Contact Name
jumani
Contact Email
jumaniani@gmail.com
Phone
+628125875659
Journal Mail Official
jumaniani@gmail.com
Editorial Address
Jurnal Agriculture and Forestry Faculty of Agriculture of University 17 August 1945 Samarinda, East Kalimantan. Jl. Ir. H. Juanda No.80 Samarinda, East Kalimantan. Phone 0541 743390. Email:agrifor@untag-smd.ac.id; jumaniani@gmail.com, URL:http://ejurnal.untag-smd.ac.id/index.php/AG
Location
Kota samarinda,
Kalimantan timur
INDONESIA
Agrifor : Jurnal Ilmu Pertanian dan Kehutanan
ISSN : 14126885     EISSN : 25034960     DOI : https://doi.org/10.31293/af.v18i2
Core Subject : Agriculture,
Agrifor Journal is a scientific journal that contains writings in the form of research results, book review, conceptual studies, and scientific works in the field of Agriculture and Forestry concerning relevant cultivation.
Articles 561 Documents
PENGARUH PERLAKUAN PENDINGINAN (PRE-COOLING) DAN SANITASI PADA KUALITAS TOMAT SELAMA PENYIMPANAN DI SUHU RUANG Naibaho, Apriana; Ketaren, Bunga Raya; Ghazali, Nur Syafini
Agrifor : Jurnal Ilmu Pertanian dan Kehutanan Vol 24, No 1 (2025): Maret 2025
Publisher : Universitas 17 Agustus 1945 Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31293/agrifor.v24i1.8278

Abstract

Tomat merupakan tanaman hortikultura yang menguntungkan dan mempunyai potensi ekspor yang besar. Tomat kaya akan nutrisi, termasuk vitamin C, serat, dan antioksidan seperti likopen, akan tetapi tomat merupakan buah yang rentan akan kerusakan dan buah yang cepat busuk, oleh karena itu diperlukan perlakuan pra pendinginan dan sanitasi untu memperpanjang masa simpan. Untuk itu penelitian ini  bertujuan untuk mengetahui pengaruh perlakuan precooling dan sanitasi terhadap mutu tomat selama penyimpanan pada suhu ruang. Perlakuan pada penelitian ini ialah kontrol (suhu ruang), pra-pendinginan (hydrocooling), sanitasi klorin 150 ppm selama 1 menit, dan pra-pendinginan (hydrocooling) + sanitasi klorin 150 ppm selama 3 menit. Adapun parameter yang di uji, kimia (total padatan terlarut, pH, total asam tertitrasi, vitamin C), fisika (tekstur dan warna).  Penelitian menunjukkan bahwa perlakuan sanitasi dan pra-pendinginan berpengaruh nyata terhadap mutu tomat, karena sampai hari ke 7 tomat yang diberi perlakuan masih dalam kondisi baik, bertekstur padat dan berwarna merah cerah ( tekstur = 14.84, warna = 28.71), Sebaliknya tomat pada perlakuan kontrol (tekstur = 27.71),cenderung lebih lunak dibandingkan tomat lainnya.  
PENGARUH PUPUK SP-36 DAN PUPUK KCl TERHADAP PERTUMBUHAN DAN HASIL TANAMAN TERUNG HIJAU (Solanum melongenaL.) VARIETAS PATRIOT F1. Sari, Heni Indra; Napitupulu, Marisi; Sutejo, Hery; Astuti, Puji; Jannah, Noor
Agrifor : Jurnal Ilmu Pertanian dan Kehutanan Vol 24, No 1 (2025): Maret 2025
Publisher : Universitas 17 Agustus 1945 Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31293/agrifor.v24i1.7660

Abstract

Terung merupakan komoditas pertanian yang penting dibutuhkan di Indonesia, hal ini disebabkan karena terung mempunyai kandungan gizi cukup lengkap dan mempunyai nilai ekonomis tinggi. Tujuan penelitian untuk mengetahui pengaruh pupuk SP-36 dan pupuk KCl serta interaksinya, terhadap hasil tanaman terong hijau, dan juga untuk memperoleh dosis pupuk SP-36 dan dosis pupuk KCl yang tepat untuk memperoleh hasil tanaman terong hijau tertinggi. Penelitian dilaksanakan di Desa Ujoh Bilang, Kecamatan Long Bagun, Kabupaten Mahakam Ulu. Pada bulan Juli-November 2022. Penelitian menggunakan rancangan percobaan dengan analisis faktorial 3 x 3 dalam Rancangan Acak Lengkap (RAL), dengan 4 kali ulangan. Terdiri atas 2 faktor perlakuan. Faktor I, Dosis Pupuk SP-36 (P) terdiri dari 3 taraf yaitu: tanpa pupuk SP-36 atau kontrol (p0), dosis pupuk 150 kg/ha atau setara dengan 12 g/polibag (p1), dan dosis pupuk 300 kg/ha atau setara dengan 24 g/polibag (p2). Faktor II, Pupuk KCl (B)) terdiri atas 4 taraf, yaitu: tanpa pupuk SP-36 atau kontrol (n0), dosis pupuk 100 kg/ha atau setara dengan 8 g/polibag (n1), dosis pupuk 200 kg/ha atau setara dengan 16 g/polibag (n2), dan dosis pupuk 300 kg/ha setara dengan 24 g/polibag. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan pupuk SP-36 tidak berpengaruh nyata terhadap umur saat berbunga dan umur saat panen. Berpengaruh nyata terhadap tinggi tanaman. Berpengaruh sangat nyata terhadap tinggi tanaman dan berat buah pertanaman. Perlakuan pupuk KCl berpengaruh nyata terhadap umur saat berbunga, umur saat panen dan jumlah buah per tanaman. Berpengaruh sangat nyata terhadap tinggi tanaman. Interaksi perlakuan tidak berpengaruh nyata terhadap tinggi tanaman
PENGEMBANGAN PERTANIAN DAN PETERNAKAN DALAM RANGKA PERCEPATAN PERTUMBUHAN INDUSTRI KELOMPOK TEKSTIL, KULIT, DAN KARET DI KALIMANTAN TIMUR Karmini, Karmini; Karyati, Karyati; Widiati, Kusno Yuli
Agrifor : Jurnal Ilmu Pertanian dan Kehutanan Vol 24, No 1 (2025): Maret 2025
Publisher : Universitas 17 Agustus 1945 Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31293/agrifor.v24i1.8506

Abstract

Industri manufaktur di Kalimantan Timur termasuk diantaranya kelompok tekstil, kelompok kulit (kulit, barang dari kulit, dan alas kaki), dan kelompok karet (karet, barang dari karet, dan plastik), perlu dipacu pertumbuhannya karena pertumbuhan nilai brutonya relatif masih rendah jika dibandingkan beberapa tahun lalu. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui perkembangan industri manufaktur; pertumbuhan industri kelompok tekstil, kulit, dan karet; dan pertumbuhan nilai tambah bruto industri di Kalimantan Timur; mendeskripsikan peran pertanian sebagai pemasok bahan baku bagi industri serta merumuskan upaya pengembangan pertanian dan peternakan untuk mempercepat pertumbuhan industri kelompok tekstil, kulit, dan karet. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif. Jumlah industri manufaktur di Kalimantan Timur menunjukkan kecenderungan yang semakin meningkat khususnya industri kelompok tekstil dan karet, tetapi jumlah industri kelompok kulit mengalami penurunan pada beberapa tahun terakhir. Serapan tenaga kerja pada sektor industri berfluktuasi di Kalimantan Timur, di mana terjadi peningkatan pada industri kelompok kulit dan karet pada beberapa tahun terakhir, sebaliknya terjadi pada industri kelompok tekstil. Laju pertumbuhan nilai bruto industri manufaktur di Kalimantan Timur (3,58 pada tahun 2023) perlu ditingkatkan. Sektor pertanian dan peternakan berperan sebagai pemasok bahan baku bagi industri. Upaya pengembangan sektor pertanian dan peternakan untuk mempercepat pertumbuhan industri kelompok tekstil, kulit, dan karet antara lain peningkatan permintaan akan produk; peningkatan kuantitas dan kualitas pelaku usaha; optimalisasi pemanfaatan lahan; efisiensi penggunaan sarana produksi dan penggalakan diversifikasi sarana produksi; dan penerapan teknologi yang sesuai dalam proses produksi.  
ANALISIS PROPORSI KONSUMSI PANGAN RUMAH TANGGA PETANI DI KAWASAN TRANSMIGRASI KECAMATAN WONOSARI, GORONTALO Sartika, Pipit; Murtisari, Amelia; Sirajuddin, Zulham
Agrifor : Jurnal Ilmu Pertanian dan Kehutanan Vol 24, No 1 (2025): Maret 2025
Publisher : Universitas 17 Agustus 1945 Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31293/agrifor.v24i1.8086

Abstract

Program transmigrasi bertujuan untuk pemerataan jumlah penduduk sekaligus peningkatan kesejahteraan masyarakat di wilayah transmigrasi, mendorong pembangunan ekonomi daerah dengan memanfaatkan sumber daya alam salah satunya melalui sektor pertanian. Tujuan penelitian adalah menganalisis proporsi konsumsi pangan rumah tangga petani di kawasan transmigrasi. Lokasi penelitian di Kecamatan Wonosari, Provinsi Gorontalo. Metode penelitian adalah deskriptif kuantitatif dengan menggunakan rumus perhitungan konsumsi pangan rumah tangga. Penelitian dilaksanakan dari bulan Februari sampai Juni 2024. Hasil penelitian adalah pengeluaran tertinggi dalam setiap rumah tangga petani di kawasan transmigrasi adalah rokok dengan rata-rata Rp.784.875/ bulan atau sebesar 29,24%, bumbu dapur Rp 566.250/ bulan (21,9%), dan ayam sejumlah Rp 426.625/ bulan (15,89%).
PENGARUH PEMBERIAN PUPUK ORGANIK LIMBAH CAIR TAHU SEBAGAI NUTRISI PADA SISTEM HIDROPONIK APUNG TERHADAP PERTUMBUHAN DAN HASIL TANAMAN SELADA MERAH (Lactuca sativa L. var. crispa) Supriyanto, Bambang; Yusuf, Naima; Saleh, Muhammad
Agrifor : Jurnal Ilmu Pertanian dan Kehutanan Vol 24, No 1 (2025): Maret 2025
Publisher : Universitas 17 Agustus 1945 Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31293/agrifor.v24i1.7952

Abstract

Industri tahu dalam setiap produksinya menghasilkan limbah cair tahu yang dapat menimbulkan pencemaran lingkungan, apabila tidak dilakukan pengolahan terlebih dahulu. Limbah cair tahu memiliki potensi diolah menjadi Pupuk Organik Cair (POC), yang dapat digunakan sebagai nutrisi pada sistem hidroponik. Tujuan penelitian yaitu untuk mengetahui pengaruh pemberian pupuk organik limbah cair tahu sebagai nutrisi hidroponik terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman selada merah (Lactuca sativa L. var. crispa) pada sistem hidroponik apung.  Penelitian dilaksanakan di Jalan Belimau Kota Samarinda, pada bulan Juli-Agustus 2023. Metode yang digunakan yaitu Rancangan Acak Lengkap (RAL) Non Faktorial dengan 4 perlakuan meliputi perlakuan t0 (5 ml L-1 AB Mix), t1 (15%), t2 (30%), dan t3 (45%) dengan 5 kali pengulangan. Parameter yang diamati adalah pertambahan tinggi tanaman, pertambahan panjang akar, pertambahan jumlah daun, warna akar, berat segar tanaman, dan berat segar akar. Data pengamatan dianalisis dengan uji Anova, jika perlakuan berbeda nyata maka dilanjutkan dengan uji BNT pada taraf 5%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pupuk organik limbah cair tahu sebagai nutrisi hidroponik memberikan pengaruh berbeda nyata terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman selada merah, meskipun belum seoptimal dengan nutrisi AB Mix sebagai kontrol. Perlakuan terbaik pada taraf konsentrasi pupuk organik limbah cair tahu adalah konsentrasi 45% dengan nilai rerata berat segar tanaman tertinggi yaitu 32,58 g, dan membentuk grafik linier positif dengan persamaan regresi y = 68.6x + 1.56 dengan nilai r2 = 0.9994, hal ini mengindikasikan bahwa semakin tinggi konsentrasi POC maka semakin tinggi pengaruh yang diperoleh terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman selada merah.
PROFIL KEANEKARAGAMAN HAYATI KABUPATEN KOTAWARINGIN BARAT Shofiyah, Shofiyah; Purnawan, Eldy Indra; Jemi, Renhart; Delina, Anita; Syahyani, Syahyani; Fitriyana, Fitriyana
Agrifor : Jurnal Ilmu Pertanian dan Kehutanan Vol 24, No 1 (2025): Maret 2025
Publisher : Universitas 17 Agustus 1945 Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31293/agrifor.v24i1.8533

Abstract

Studi ini dilakukan berdasarkan Peraturan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor 29 Tahun 2009 Tentang Pedoman Konservasi Keanekaragaman Hayati di daerah yaitu dilakukan secara eksplorasi dengan kombinasi metode Focus Group Discussion (FGD) untuk mengumpulkan data keanekaraman hayati.Hasil studi menunjukan bahwa keanekaragaman hayati Kabupaten Kotawaringin Barat cukup tinggi, dimana jenis liar daratan dan perairan yang belum bernilai ekonomi teridentifikasi untuk jenis tumbuhan sebanyak 532 jenis dan satwa sebanyak 879 Jenis. Jenis liar daratan dan perairan yang sudah bernilai ekonomi dari jenis tumbuhan teridentifikasi 15 jenis dan satwa sebanyak 39 Jenis. Jenis yang sudah dibudidayakan teridentifikasi sebanyak 134 jenis. Jenis tumbuhan obat berdasarkan pengetahuan tradisional ditemukan sebanyak 90 jenisKeanekaragaman hayati di Kabupaten Kotawaringin Barat menjadi aset dalam pembangunan daerah. Dilain sisi, bertambahnya jumlah penduduk akan berbanding lurus terhadap aktifitas pemanfaatan sumberdaya hayati. Hal ini dapat menjadi ancaman terhadap keanekaragaman hayati jika pemanfaatannya dilakukan secara tidak bijaksana. Terganggunya keanekaragaman hayati akan berpotensi menimbulkan ketidakseimbangan lingkungan yang berdampak pada munculnya penyakit dan bencana alam. Karena itu, penting menjaga kestabilannya dengan cara melakukan pematauan secara berkelanjutan melalui pembaharuan data tahunan
FORMULASI EKSTRAK KULIT BAWANG MERAH DAN ASAP CAIR TEMPURUNG KELAPA SEBAGAI PUPUK ORGANIK CAIR PADA TANAMAN BAYAM Fitriyana, Fitriyana; Kurnyawaty, Noorma; Khotimah, Fitriani Khusnul; Salsabila, Andi Putri
Agrifor : Jurnal Ilmu Pertanian dan Kehutanan Vol 24, No 1 (2025): Maret 2025
Publisher : Universitas 17 Agustus 1945 Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31293/agrifor.v24i1.8078

Abstract

Onion skin contains the minerals Ca, K, Mg, P, Zn and Fe as well as the hormones auxin and gibberellin. The hormones auxin and gibberellin are hormones that trigger plant growth and stimulate the growth of shoots and roots.  The content of acidic groups in liquid smoke is also able to encourage growth and strengthen plant roots. Research on the combination of these two materials Liquid Organic Fertilizer (POC) is still not much done. This research is expected to increase plant growth and prevent plant diseases. Liquid Organic Fertilizer formulation is applied to spinach plants because spinach can be harvested in a short time, namely 25 days. The purpose of this study was to determine the effect of variations in the formulation of Liquid Organic Fertilizer and the frequency of application of Liquid Organic Fertilizer on the height and number of leaves of spinach plants. The research began with maceration of shallot skin using 96% ethanol solvent, then making Liquid Organic Fertilizer formulations by mixing coconut shell liquid smoke and shallot skin extract at a volume ratio of 1:0, 0:1, 1:1, 3:7 and 7:3. Each Liquid Organic Fertilizer formula was applied to spinach plants with a frequency of 0, 7 and 15 days. The data obtained were then analyzed using ANOVA and continued with Duncan's test. The results showed that the Liquid Organic Fertilizer formula had a significant effect on the height of spinach plants but the Liquid Organic Fertilizer formula did not have a significant effect on the number of spinach plant leaves. The best liquid organic fertilizer formula is 3:7. The frequency of application of Liquid Organic Fertilizer formula did not have a statistically significant effect on the height or number of leaves of spinach plants.
LABOR ABSORPTION OF THE FOOD CROPS SUB-SECTOR IN THE NEW NORMAL ERA IMPACT OF THE COVID19 PANDEMIC OUTBREAK (Case Study: Kapuk Village, Tabir Ulu District, Merangin Regency) Fikriman, Fikriman; Putri, Cahyani; Susilawati, Widuri; Is, Asnawati; Isyaturriyadhah, Isyaturriyadhah; Pitriani, Pitriani; Afrianto, Evo; Suryani, Lili; Setiono, Setiono; Febrialdi, Akhyarnis
Agrifor : Jurnal Ilmu Pertanian dan Kehutanan Vol 24, No 1 (2025): Maret 2025
Publisher : Universitas 17 Agustus 1945 Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31293/agrifor.v24i1.8318

Abstract

This research was carried out in Kapuk Village, Tabir Ulu District, Merangin Regency from 30 January to 30 February 2020 with the aim of (1) The Large Contribution of Labor to the Food Crops Sub Sector in the New Normal Era. The Impact of the COVID-19 Pandemic Outbreak (2) multiple times to determine the influence of productivity labor and wage levels in labor absorption in the food crop sub-sector The method for determining the sample was carried out purposively. The sampling technique is simple random sampling. Contribution data uses contribution analysis to determine the magnitude of the contribution of labor in the food crop sub-sector to the agricultural sector. To find out the magnitude of the contribution of labor in the food crop sub-sector to the entire sector, the data used in this research is secondary data from the village office and multiple linear regression to determine the influence labor productivity and wage levels in the employment of the food crop sub-sector and the data used is primary data..The results of this research are (1) The contribution of labor in the food crop sub-sector to the agricultural sector is 55.10% with a very good category including: the number of workers in the food crop sub-sector and the number of workers in the agricultural sector in Kapuk Village, Tabir Ulu District, Merangin Regency. (2) The contribution of labor in the food crops sub-sector to the entire sector is 53.65% with a very good category including: the number of workers in the food crops sub-sector and the number of workers in the entire sector (3) Labor Absorption (Y) is partially influenced by labor productivity X1, namely with a value of tcount 4.035< ttable 1.999. and simultaneously labor absorption is also influenced by labor productivity female labor wages (X3) have no effect on the dependent variable labor absorption (Y) because they have the same value.
ANALISIS TINGKAT BAHAYA EROSI DAS MANUBAR KABUPATEN KUTAI TIMUR MENGGUNAKAN METODE USLE DAN APLIKASI SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS Suryanto, Joko; Amprin, Amprin; Krisbiyantoro, Joko; Anisum, Anisum
Agrifor : Jurnal Ilmu Pertanian dan Kehutanan Vol 24, No 1 (2025): Maret 2025
Publisher : Universitas 17 Agustus 1945 Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31293/agrifor.v24i1.8268

Abstract

Daerah Aliran Sungai (DAS) Manubar terletak di dua wilayah administratif kabupaten sehingga membutuhkan perencanaan pengendalian erosi yang terpadu. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui laju erosi dan sebaran spasial tingkat bahaya erosi (TBE) pada DAS Manubar mengunakan model Universal Soil Loss Erosion (USLE) dan aplikasi Sistem Informasi Geografis (SIG). Metode USLE digunakan untuk mengestimasi erosi, dengan memperhitungkan faktor ersoivitas hujan (R), erodibiltas tanah (K), manajemen tanaman penutup (C), panjang dan kemiringan slope (LS), dan praktik konservasi (P) yang diolah mengunakan program komputer GIS. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata erosi DAS Manubar sebesar 22,344 ton/ha/tahun dan termasuk kelas TBE rendah. Luas DAS Manubar dengan tingkat bahaya erosi sangat rendah mencapai 86,5% dengan rata-rata erosi 1,64 ton/ha/tahun, kelas rendah 6,6% dangan rata-rata erosi 33,1 ton/ha/tahun, kelas sedang 4,6% dengan rata-rata erosi 104,2 ton/ha/tahun, kelas berat 1,8% dengan rata-rata erosi 276,1 ton/ha/tahun dan kelas sangat berat 0,6%  dengan rata-rata erosi 1.556 ton/ha/tahun. dari luas total DAS. Jenis penutupan lahan hutan tanaman, pemukiman, perkebunan dan pertanian lahan kering bercampur semak terutama yang berada pada jenis tanah podsolik membutuhkan prioritas usaha pengendalian erosi karena termasuk ke dalam kelas TBE sedang hingga berat.
KOMPOSISI DAN KEANEKARAGAMAN VEGETASI PADA LAHAN AGROFORESTRI KAPULAGA DI KTH JAYA TANI Tsani, Machya Kartika; Harianto, Sugeng Prayitno; Surnayanti, Surnayanti
Agrifor : Jurnal Ilmu Pertanian dan Kehutanan Vol 24, No 1 (2025): Maret 2025
Publisher : Universitas 17 Agustus 1945 Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31293/agrifor.v24i1.8394

Abstract

Studi agroforestri di Provinsi Lampung mayoritas berfokus pada sistem kopi, sementara penelitian terkait sistem agroforestri kapulaga masih sangat terbatas. Sehingga tujuan dalam penelitian ini yaitu menganalisis komposisi dan keanekaragaman vegetasi pada lahan agroforestri kapulaga di KTH Jaya Tani. Pengambilan data dilakukan dengan menggunakan teknik analisis vegetasi pada petak ukur bersarang. Analisis Data menggunakan analisis indeks nilai penting, indeks keanekaragaman spesies, indeks kekayaan, indeks kemerataan, dan indeks dominansi. Hasil penelitian menunjukkan vegetasi penyusun KTH Jaya Tani terdiri dari 31 spesies tanaman yang terdiri dari berbagai tingkat pertumbuhan seperti pohon, tiang, pancang dan semai. Selain itu juga terdiri dari berbagai tanaman herba yang menyusun bagian tumbuhan bawah yang didominasi oleh kapulaga sebagai tanaman pertanian utama yang diusahakan oleh petani. Setiap tingkat pertumbuhan menunjukkan INP tertinggi didominasi oleh spesies yang berbeda. Pohon INP tertinggi pada pada kelapa (128,696 %). Kakao memiliki INP tertingi pada tingkat tiang (126,118%) dan semai (6,801%). Pada tingkat pancang terdapat pisang (35,238%). Sedangkan pada tumbuhan bawah yaitu tanaman kapulaga (125,533 %). Nilai H’ menunjukkan pohon, tiang, pancang dan semai berada pada kategori sedang. Sedangkan untuk tumbuhan bawah menunjukkan nilai H’ pada kategori rendah. Nilai E pada pohon, tiang, pancang, dan semai menunjukkan nilai E > 0,6 yang berarti kemerataan jenis tergolong tinggi. Sebaliknya, tumbuhan bawah (0,20) memiliki besaran nilai E < 0,3 yang menunjukkan kemerataan jenis yang rendah. Indeks dominasi (C) tertinggi dari seluruh tingkat pertumbuhan ada pada tumbuhan bawah (0,86) yaitu pada kapulaga. Indeks kekayaan spesies seluruh tanaman menunjukkan kategori yang rendah (di bawah 3,5).