cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota malang,
Jawa timur
INDONESIA
Jurnal Mahasiswa Jurusan Teknik Sipil
Published by Universitas Brawijaya
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Engineering,
Arjuna Subject : -
Articles 1,483 Documents
Pengaruh Penggunaan Metakaolin sebagai Pengganti Semen terhadap Permeabilitas Beton Norma Hutauruk, Alexander; Waluyohadi, Indra; Nurlina, Siti
Jurnal Mahasiswa Jurusan Teknik Sipil Vol. 1 No. 3 (2026): Student Journal
Publisher : Jurusan Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Alexander Dionisius Hutauruk, Departemen Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Universitas Brawijaya, Juli 2026, Pengaruh Penggunaan Metakaolin sebagai Pengganti Semen terhadap Permeabilitas Beton Normal, Dosen Pembimbing: Indra Waluyohadi dan Siti Nurlina. Beton merupakan material yang paling sering digunakan karena memiliki kuat tekan yang tinggi, fleksibel dan relatif ekonomis dibanding material lainnya. Meningkatnya kebutuhan infrastruktur menyebabkan penggunaan beton juga semakin meningkat. Penggunaan semen berkontribusi dalam emisi gas karbon dioksida (CO2). Permasalahan lainnya adalah penetrasi air dan serangan sulfat yang sangat sering ditemukan dalam infrastruktur beton. Salah satu solusi dari permasalahan tersebut adalah penggunaan supplementary cementitious material (SCM) dengan contoh zat metakaolin. Metakaolin adalah pozzolan dari proses kalsinansi mineral kaolin pada temperatur 650-800°C. Metakaolin mengandung lebih dari 90% silika dan alumina hingga dapat membentuk senyawa kalsium silikat hidrat (C-S-H) tambahan. Selain itu, partikelnya yang sangat halus dapat memperbaiki ITZ beton sehingga strukur lebih padat dan mengurangi permeabilitas beton.  Pada penelitian ini digunakan benda uji kubus dengan sisi 15 cm. Digunakan metakaolin sebagai pengganti semen dengan variasi kadar 0%, 5%, 10%, 15%, dan 20% dari berat semen dan diberi superplasticizer 0,5% dari berat semen. Benda uji dicuring selama 7 hari dan setelah itu diuji pada umur 28 hari. Pengujian dilakukan dengan water permeability apparatus selama 72 jam dan dibelah setelah 10 menit pengeringan. Data tersebut kemudian dianalisa menggunakan turunan rumus Darcy untuk menentukan koefisien permeabilitas beton tiap kadar penggunaan metakaolin. Hasil penelitian menunjukkan substitusi metakaolin 10% menurunkan kedalaman penetrasi dan koefisien permeabilitas paling drastis (43% untuk kedalaman penetrasi dan 96% untuk koefisien permeabilitas). Pada kadar 15% kedalaman penetrasi dan koefisien permeabilitas kembali meningkat dibanding dengan kadar 10%. Hal ini menunjukkan kandungan pozzolan reaktif pada semen tidak cukup mengikat seluruh metakaolin untuk membentuk ikatan C-S-H tambahan.  Kata Kunci: metakaolin, pozzolan, permeabilitas beton, water permeability apparatus, supplementary cementitious material
Pengaruh Penambahan Metakaolin sebagai Pengganti Sebagian Semen terhadap Laju Korosi Beton Siagian, Ivan Reynal Jekson R.; Firdausy, Ananda Insan; Waluyohadi, Indra
Jurnal Mahasiswa Jurusan Teknik Sipil Vol. 1 No. 3 (2026): Student Journal
Publisher : Jurusan Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Korosi pada tulangan baja merupakan salah satu penyebab utama kerusakan prematur struktur beton bertulang, khususnya di lingkungan yang terpapar ion klorida. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi pengaruh substitusi metakaolin (MK) sebagai pengganti sebagian semen terhadap ketahanan korosi beton bertulang menggunakan metode akselerasi arus paksa (impressed current). Benda uji berupa silinder beton berukuran 100×200 mm dengan tulangan baja ulir D16 (panjang terekspos 15 cm, luas permukaan = 75,40 cm²) dibuat dengan variasi kadar MK sebesar 0%, 5%, 10%, 15%, dan 20% terhadap berat binder, faktor air-semen (FAS) 0,35, dan superplasticizer 1%. Beton dirawat selama 28 hari lalu diuji dalam larutan NaCl 5% dengan tegangan konstan 10 V. Perubahan arus direkam setiap 4 jam hingga hari ke-24. Parameter yang diukur meliputi waktu initial corrosion (IC) dan tingkat korosi aktual tulangan berdasarkan kehilangan massa penimbangan. Seleksi sampel dilakukan berdasarkan uji deviasi, dan analisis statistik menggunakan One-Way ANOVA serta uji Tukey HSD (α = 0,05). Hasil menunjukkan bahwa penambahan MK berpengaruh signifikan terhadap kedua parameter (waktu IC: F = 17,69, p = 0,0002; tingkat korosi: F = 8,45, p = 0,0030). Kadar MK 10% memberikan performa optimal: waktu IC valid rata-rata 440 jam (152,9% lebih lama dari kontrol MK 0% = 174 jam) dan tingkat korosi valid terendah 0,463% (turun 72,3% dari kontrol 1,675%). MK 20% menunjukkan anomali overdosage dengan waktu IC hanya 216 jam dan tingkat korosi 2,003% — lebih buruk dari MK 0% dan MK 5%. Uji Tukey HSD mengkonfirmasi MK 10% dan MK 15% berbeda signifikan dari MK 20% dalam hal tingkat korosi. Nilai workability (slump) menurun seiring meningkatnya kadar MK dari 18 cm (MK 0%) menjadi 6 cm (MK 20%), menunjukkan perlunya penyesuaian water demand. Metakaolin 10% direkomendasikan sebagai kadar substitusi semen parsial optimal untuk meningkatkan ketahanan korosi beton bertulang.
Kuat Lentur Balok Beton Bertulang Berdasarkan Umur dan Rasio Tulangan dengan Persentase Ground Granulated Blast Furnace Slag 40% Naufal Irgi Villareal; Ming Narto Wijaya; Lilya Susanti
Jurnal Mahasiswa Jurusan Teknik Sipil Vol. 1 No. 3 (2026): Student Journal
Publisher : Jurusan Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Industri semen dan baja masing-masing menyumbang beban lingkungan yang besar, baik berupa emisi karbon dari proses kalsinasi maupun limbah hasil peleburan besi seperti Ground Granulated Blast Furnace Slag (GGBFS) yang berpotensi dimanfaatkan sebagai Supplementary Cementitious Material (SCM). Penelitian ini bertujuan menganalisis pengaruh variasi rasio tulangan dan umur beton terhadap kuat lentur balok beton bertulang dengan substitusi GGBFS sebesar 40%. Penelitian eksperimental dilakukan menggunakan balok beton bertulang berukuran 100 × 10 × 20 cm dengan faktor air semen 0,35, variasi rasio tulangan 0,00872 dan 0,01310, serta umur beton 28 dan 56 hari. Pengujian kuat lentur dilakukan menggunakan metode two-point loading, kemudian data dianalisis berdasarkan beban maksimum, tegangan lentur, regangan, lendutan, dan uji statistik Two-Way ANOVA. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rasio tulangan dan umur beton berpengaruh signifikan terhadap tegangan lentur (Sig. < 0,05). Peningkatan rasio tulangan meningkatkan rata-rata beban maksimum hingga 37,80% dan tegangan lentur maksimum hingga 19,24%, sedangkan peningkatan umur beton meningkatkan rata-rata tegangan lentur sebesar 3,37% disertai peningkatan regangan dan lendutan. Selain itu, balok dengan substitusi GGBFS 40% menunjukkan kapasitas beban dan tegangan lentur yang sedikit lebih tinggi dibandingkan beton normal. Hasil ini menunjukkan bahwa penggunaan GGBFS 40% berpotensi menjadi alternatif material semen yang lebih berkelanjutan tanpa mengurangi kinerja lentur balok beton bertulang. Kata kunci: GGBFS, kuat lentur, rasio tulangan, umur beton, balok beton bertulang
Analisis Pengaruh Variasi Kekakuan Sambungan pada Struktur Portal terhadap Gaya Dalam, Deformasi, dan Tegangan pada Balok Komposit Bakhtiar, Qori; Wisnumurti; Achfas Zacoeb
Jurnal Mahasiswa Jurusan Teknik Sipil Vol. 1 No. 3 (2026): Student Journal
Publisher : Jurusan Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

       Kondisi sambungan balok dan kolom aktual umumnya bersifat semi-rigid, bukan sepenuhnya rigid atau simple. Penelitian ini menganalisis pengaruh variasi kekakuan sambungan terhadap gaya dalam, lendutan, tegangan, dan daktilitas balok komposit. Fokus kajian ialah membandingkan respons semi-rigid dengan rigid dan simple. Analisis SAP2000 dilakukan pada portal baja tiga lantai dengan bentang 8 m dan tinggi 3,5 m per lantai. Sambungan dimodelkan melalui fitur Releases/Partial Fixity sebesar 90% (rigid), 50% (semi-rigid), dan 20% (simple) terhadap momen ujung kondisi full rigid. Pembebanan dan desain mengacu SNI terkait, sedangkan daktilitas dianalisis secara nonlinier bertahap dengan sendi plastis pada daerah kritis balok. Penurunan kekakuan sambungan meredistribusi momen dari tumpuan ke lapangan. Pada semi-rigid, momen tumpuan dan lapangan sebesar 8.297,99 kgm dan 20.996,40 kgm. Lendutan semi-rigid sebesar 9,621 mm, 33,91% lebih besar daripada rigid (6,358 mm) dan 25,44% lebih kecil daripada simple (12,069 mm). Seluruh variasi memenuhi batas lendutan 22,222 mm. Pada lapangan, tegangan lentur semi-rigid sebesar 105,820 MPa berada di antara rigid 78,130 MPa dan simple 126,588 MPa. Berbeda dari pola tersebut, daktilitas semi-rigid justru paling rendah (μδ = 9,121), 33,22% lebih rendah daripada rigid (12,151) dan 50,60% lebih rendah daripada simple (13,736).   Kata kunci: Balok Komposit, Struktur Portal, Kekakuan Sambungan, Gaya Dalam, Deformasi, Tegangan, Daktilitas
Pengaruh Kadar Metakaolin sebagai Substitusi Sebagian Semen terhadap Mutu Beton Berdasarkan Pengujian dengan Merusak (Destructive Test) serta Pengujian tanpa Merusak (Non-Destructive Test) Aziz, Dzaki Abdul; Firdausy, Ananda Insan; Nurlina, Siti
Jurnal Mahasiswa Jurusan Teknik Sipil Vol. 1 No. 3 (2026): Student Journal
Publisher : Jurusan Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Beton merupakan material konstruksi yang paling banyak digunakan karena kuat tekannya tinggi, mudah diperoleh, dan ekonomis, namun produksi semen Portland sebagai bahan pengikat utamanya berkontribusi besar terhadap emisi karbon dioksida serta menuntut konsumsi energi dan eksploitasi sumber daya alam yang besar (Habeeb et al., 2007). Kondisi ini mendorong pemanfaatan metakaolin, yaitu pozzolan hasil kalsinasi kaolin dengan kandungan silika dan alumina aktif tinggi, sebagai substitusi sebagian semen. Reaksi pozzolanik metakaolin dengan kalsium hidroksida hasil hidrasi semen menghasilkan gel pengikat tambahan, tetapi korelasi pengaruh variasi kadarnya terhadap parameter uji tanpa merusak (Non-Destructive Test/NDT) masih jarang dikaji bersamaan dengan uji kuat tekan langsung. Penelitian ini bertujuan menganalisis pengaruh variasi kadar metakaolin terhadap kuat tekan beton, hasil uji NDT, serta korelasi antara kedua metode tersebut. Benda uji silinder 150×300 mm dibuat dengan kadar metakaolin 0%, 5%, 10%, 15%, dan 20% dari berat semen (tiga sampel per variasi), menggunakan faktor air semen konstan 0,35 dan superplasticizer 1%. Pada umur 28 hari, setiap benda uji diuji dengan Hammer Test dan Ultrasonic Pulse Velocity (UPV) sebelum diuji kuat tekan menggunakan Compression Testing Machine (CTM); estimasi kuat tekan non-destruktif dihitung dengan metode Sonic Rebound (SonReb) menggunakan spreadsheet Proceq, sedangkan hubungan antarvariabel dianalisis dengan regresi linier berganda (SPSS) dan divisualisasikan dengan MATLAB. Hasil menunjukkan substitusi metakaolin 10% memberikan kinerja paling optimum: kuat tekan meningkat dari 40,5 MPa menjadi 43,0 MPa, diikuti kenaikan angka pantul hammer (48,05→50,5), UPV (3.964,5→4.079,0 m/s), dan estimasi SonReb (40,72→43,16 MPa), sebelum seluruh parameter menurun pada kadar 15% dan 20%. Model regresi langsung menghasilkan R2=0,856 namun belum signifikan (Sig.=0,144), sedangkan model SonReb menghasilkan korelasi lebih kuat dan signifikan (R2=0,984; Sig.=0,016) dengan rata-rata deviasi terhadap kuat tekan aktual hanya 2,072%, sehingga SonReb terbukti akurat sebagai alat estimasi kuat tekan beton di lapangan. Kata Kunci: metakaolin, kuat tekan beton, hammer test, ultrasonic pulse velocity (UPV), sonic rebound (SonReb)
Analisis Tingkat Risiko Ergonomi Postur Kerja pada Pekerjaan Plesteran dan Acian dengan Menggunakan Metode RULA pada Proyek Gedung Bertingkat di Surabaya Jonathan; Kartika Puspa Negara; M. Hamzah Hasyim
Jurnal Mahasiswa Jurusan Teknik Sipil Vol. 1 No. 3 (2026): Student Journal
Publisher : Jurusan Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK Pekerjaan arsitektural basah (wet trades), khususnya pekerjaan plesteran dan acian pada proyek konstruksi gedung bertingkat, sangat identik dengan beban fisik yang tinggi dan postur kerja janggal yang berpotensi menurunkan kinerja pekerja. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi tingkat risiko ergonomi menggunakan metode Rapid Upper Limb Assessment (RULA) serta menguji pengaruhnya secara empiris terhadap tingkat produktivitas kerja aktual pada pekerjaan plesteran dan acian. Observasi lapangan dilaksanakan pada dua proyek gedung bertingkat di Surabaya, yaitu Pembangunan Gedung Health Science Kampus A Universitas Airlangga dan Hotel Patra Surabaya, dengan mengklasifikasikan postur berdasarkan elevasi area kerja (overhead, neutral, dan lower zone). Analisis hubungan antara variabel bebas (Skor RULA) dan variabel terikat (Produktivitas) diuji menggunakan statistik non-parametrik korelasi Spearman's Rho melalui perangkat lunak SPSS. Hasil analisis RULA menunjukkan bahwa secara keseluruhan pekerja beroperasi pada tingkat risiko ergonomi sedang hingga sangat tinggi (Action Level 3 dan 4), dengan postur terburuk terekam secara konsisten pada area kerja overhead dan lower. Hasil uji korelasi membuktikan adanya pengaruh negatif yang signifikan (Sig. < 0,001) antara tingkat bahaya postur kerja terhadap produktivitas pada kedua jenis pekerjaan, dengan keeratan korelasi pada pekerjaan acian sebesar r = -0,375 dan pekerjaan plesteran sebesar r = -0,319. Temuan ini mengonfirmasi bahwa semakin ekstrem postur kerja yang dipertahankan untuk melawan gravitasi dan beban material, maka tingkat kelelahan biomekanika akan meningkat sehingga secara signifikan menekan laju produktivitas tenaga kerja.   Kata Kunci: Ergonomi Konstruksi, Metode RULA, Produktivitas Kerja, Pekerjaan Plesteran dan Acian, Korelasi Spearman.  
Analisis Perbandingan Karbon Terkandung (Embodied Carbon) pada Tiga Skenario Desain Struktur (Beton Konvensional, Baja, dan Beton Pracetak) Menggunakan Integrasi BIM-LCA Studi Kasus: Gedung Geodiversity BRIN Kebumen rabbani, Ikhsan Ghani; Indradi Wijatmiko; Retno Anggraini
Jurnal Mahasiswa Jurusan Teknik Sipil Vol. 1 No. 3 (2026): Student Journal
Publisher : Jurusan Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Praktik rekayasa struktur di Indonesia umumnya masih berfokus pada pemenuhan kekuatan teknis sesuai Standar Nasional Indonesia (SNI) dan efisiensi biaya, sementara dampak lingkungan dari pemilihan sistem struktur belum dipertimbangkan secara kuantitatif sejak tahap desain. Penelitian ini membandingkan emisi karbon terkandung (embodied carbon) dari tiga skenario sistem struktur, yaitu Beton Bertulang Konvensional (cast-in-place), Rangka Baja, dan Beton Pracetak, pada studi kasus Gedung Geodiversity BRIN Kebumen setinggi tiga lantai. Ketiga skenario dirancang dengan pendekatan berbasis kapasitas (capacity-based design) mengacu pada kapasitas nominal elemen eksisting sebagai baseline, sehingga komparasi bersifat setara (apple-to-apple). Alur kerja penelitian mengintegrasikan Tekla Structural Designer untuk analisis dan desain struktur, Autodesk Revit untuk ekstraksi volume material (Quantity Take-Off), dan platform One Click LCA untuk menghitung Global Warming Potential (GWP) pada lingkup Cradle-to-Practical Completion (Modul A1–A5). Hasil penelitian menunjukkan Skenario Rangka Baja memenuhi kapasitas momen balok 1,1–84,4% dan kapasitas aksial kolom 16,3–82,7% di atas baseline, sedangkan Skenario Beton Pracetak dirancang ekuivalen dengan Skenario 1. Total emisi karbon terkandung yang dihasilkan adalah 2.172.196 kg CO2e untuk Beton CIP, 2.141.466 kg CO2e untuk Rangka Baja, dan 1.878.811 kg CO2e untuk Beton Pracetak, dengan Modul A1–A3 menyumbang 82–84% dari total emisi pada ketiga skenario. Beton Pracetak tercatat sebagai skenario dengan emisi terendah, 13,5% di bawah Beton CIP, meskipun capaian ini dipengaruhi pemilihan data EPD generik yang telah menyertakan asumsi kandungan tulangan industri. Analisis kelayakan ekonomi berada di luar lingkup penelitian ini dan direkomendasikan sebagai kajian lanjutan melalui pendekatan Life Cycle Cost.
Analisis Retrofit Struktur Kolom Menggunakan Metode Concrete Jacketing dan Carbon Fiber Reinforced Polymer (CFRP) pada Bangunan Beton Bertulang Hafidz, Muhammad Yudhistira; Dr. Ir. Retno Anggraini, ST., MT.; Ir. Ari Wibowo, ST., MT., Ph.D., IPU., ASEAN Eng.
Jurnal Mahasiswa Jurusan Teknik Sipil Vol. 1 No. 3 (2026): Student Journal
Publisher : Jurusan Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penambahan lantai pada bangunan eksisting meningkatkan beban dan gaya dalam pada kolom sehingga diperlukan evaluasi kapasitas serta perkuatan struktur. Penelitian ini menganalisis metode Concrete Jacketing dan Carbon Fiber Reinforced Polymer (CFRP) pada bangunan ruko eksisting 2 lantai yang direncanakan menjadi 4 lantai. Gaya dalam dianalisis menggunakan ETABS, sedangkan kapasitas kolom diperiksa melalui diagram interaksi aksial–momen dan analisis geser. Concrete Jacketing diterapkan dengan memperbesar dimensi kolom menjadi 450 mm × 450 mm dan meningkatkan kapasitas aksial tekan, momen, serta geser masing-masing sebesar 119,86%, 210,88%, dan 131,02%. CFRP 1 lapis meningkatkan kapasitas tersebut sebesar 19,99%, 16,90%, dan 85,21%, sedangkan CFRP 2 lapis sebesar 39,99%, 33,80%, dan 87,37%. Concrete Jacketing memberikan peningkatan kapasitas lebih besar, tetapi menambah berat dan memerlukan pelaksanaan yang lebih kompleks. CFRP lebih ringan, tidak memperbesar dimensi penampang, dan lebih praktis. CFRP direkomendasikan apabila kebutuhan kapasitas terpenuhi, sedangkan Concrete Jacketing lebih sesuai untuk kebutuhan peningkatan kapasitas yang lebih besar. Kata kunci: retrofit, kolom beton bertulang, Concrete Jacketing, CFRP, penambahan lantai.
ANALISIS BOW-TIE UNTUK IDENTIFIKASI HAMBATAN PENGENDALIAN RISIKO K3 PADA PROSES MANUFAKTUR MODULAR (STUDI KASUS MANUFAKTUR X DI JAWA BARAT) Manalu, Friscilla; Negara, Kartika Puspa; Hasyim, Hamzah
Jurnal Mahasiswa Jurusan Teknik Sipil Vol. 1 No. 3 (2026): Student Journal
Publisher : Jurusan Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Proses manufaktur konstruksi modular memiliki potensi risiko K3 yang tinggi akibat interaksi pekerja dengan mesin, alat angkat, dan material berukuran besar. Penelitian ini bertujuan menganalisis risiko K3 pada proses manufaktur modular menggunakan metode Bow-Tie untuk mengidentifikasi threats, top event, consequences, serta barriers pengendalian. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus pada salah satu perusahaan manufaktur modular di Jawa Barat. Data diperoleh melalui wawancara mendalam, studi dokumen, dan expert judgement. Hasil analisis mengidentifikasi tiga top event utama, yaitu tersengat listrik tegangan tinggi, crane ambruk, dan material jatuh menimpa pekerja. Ketiga top event dipengaruhi oleh faktor manusia, kondisi peralatan, dan ketidaksesuaian prosedur kerja. Analisis menunjukkan perlunya penguatan engineering control, inspeksi berkala, dan sistem tanggap darurat untuk meningkatkan efektivitas barrier pengendalian. Metode Bow-Tie memberikan gambaran hubungan sebab-akibat kecelakaan secara sistematis sehingga mendukung penyusunan strategi pengendalian risiko yang lebih efektif. Kata Kunci: Bow-Tie, K3, manufaktur modular, barrier management, Off-site construction
Pengaruh Variasi Persentase Metakaolin sebagai Pengganti Parsial Semen terhadap Kuat Tekan dan Modulus Elastisitas Beton Ilman, Robby Zidny; Firdausy, Ananda Insan; Waluyohadi, Indra
Jurnal Mahasiswa Jurusan Teknik Sipil Vol. 1 No. 3 (2026): Student Journal
Publisher : Jurusan Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Produksi semen dalam jumlah besar untuk kebutuhan konstruksi beton menimbulkan permasalahan lingkungan akibat tingginya emisi karbon dioksida (CO2) yang dihasilkan selama proses produksinya. Salah satu upaya mitigasi yang banyak dikembangkan adalah pemanfaatan bahan pozzolan sebagai pengganti parsial semen, salah satunya metakaolin (MK), yaitu hasil kalsinasi tanah liat kaolin yang bersifat pozzolanik reaktif. Pengaruh variasi persentase MK terhadap kuat tekan beton telah banyak dikaji, namun pengaruhnya terhadap modulus elastisitas, khususnya pada rentang substitusi yang lebih luas hingga 20%, masih memerlukan kajian lebih lanjut. Penelitian ini bertujuan menganalisis pengaruh variasi persentase MK (0%, 5%, 10%, 15%, dan 20% dari berat semen) terhadap kuat tekan dan modulus elastisitas beton normal pada faktor air semen (FAS) konstan sebesar 0,35. Sebanyak 15 benda uji silinder beton berdiameter 150 mm dan tinggi 300 mm diuji pada umur 28 hari, dengan pengujian kuat tekan mengacu ASTM C39/SNI 1974:2011 dan modulus elastisitas mengacu ASTM C469 menggunakan compressometer. Hasil penelitian menunjukkan kuat tekan beton meningkat dari 40,5 MPa (MK- 0) hingga mencapai nilai optimum sebesar 43 MPa pada variasi MK-10 (naik 6,2%), kemudian menurun pada variasi MK-15 (41,5 MPa) dan MK-20 (39 MPa). Modulus elastisitas menunjukkan pola yang berbeda: menurun pada variasi MK-5 menjadi 13.607,82 MPa dari 17.206,40 MPa pada MK-0, kemudian meningkat konsisten hingga mencapai nilai tertinggi sebesar 27.992,26 MPa pada variasi MK-20. Perbandingan dengan pendekatan teoritis SNI 2847:2019 (Ec = 4700√f'c) menunjukkan penyimpangan nilai eksperimental yang bervariasi antara - 4,6% hingga -55,3%, dengan penyimpangan terkecil justru terjadi pada kadar MK tinggi. Perbedaan pola antara kuat tekan dan modulus elastisitas mengindikasikan bahwa kekakuan beton bermetakaolin tidak semata-mata mengikuti besaran kuat tekannya, sehingga kadar substitusi optimum perlu ditentukan sesuai parameter kinerja yang menjadi prioritas.