cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota malang,
Jawa timur
INDONESIA
Jurnal Mahasiswa Jurusan Teknik Sipil
Published by Universitas Brawijaya
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Engineering,
Arjuna Subject : -
Articles 1,483 Documents
Analisis Embodied Carbon pada Modular Construction melalui Integrasi Building Information Modelling Studi Kasus Manufaktur X di Jawa Barat Al Firos, Zaidan Dafa' Al Firos; Kartika Puspa Negara; Indradi Wijatmiko
Jurnal Mahasiswa Jurusan Teknik Sipil Vol. 1 No. 3 (2026): Student Journal
Publisher : Jurusan Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Modular construction berkembang sebagai pendekatan konstruksi berkelanjutan, namun evaluasi terukur terhadap jejak karbon materialnya belum banyak diintegrasikan dengan model digital bangunan. Penelitian ini menganalisis nilai embodied carbon fase produksi (cradle-to-gate) modul Flat Pack produksi PT X pada proyek Y di Ibu Kota Nusantara (IKN), melalui integrasi model Building Information Modelling (BIM) dengan perangkat lunak Life Cycle Assessment (LCA). Komponen dimodelkan tiga dimensi pada Autodesk Revit 2025, data kuantitas material diekstraksi memakai fitur Material Takeoff (MTO) dan divalidasi terhadap spesifikasi berat modul aktual, kemudian dipetakan ke basis data Environmental Product Declaration (EPD) untuk menghitung Global Warming Potential (GWP). Validasi menunjukkan model BIM merepresentasikan massa aktual modul dengan deviasi 2,4%. Analisis embodied carbon menghasilkan total GWP 9.070 kgCO₂e per ruangan (dua modul, 27,44 m²) yang setara dengan 330,5 kgCO₂e/m². Baja struktural SS400 menjadi kontributor emisi terbesar (42,1%), diikuti Aluminium Composite Panel/ACP pada dinding (34,3%) walaupun hanya menyumbang 14,3% massa modul. Integrasi BIM dan LCA terbukti mampu menyediakan data kuantitas material yang akurat dan tertelusur untuk analisis embodied carbon komponen modular dan dapat direplikasi ke komponen lain. Kata Kunci: Building Information Modelling (BIM), Embodied Carbon, Life Cycle Assessment (LCA), Modular Construction, Cradle-to-Gate
PENGARUH PENAMBAHAN PERKUATAN BRACING TERHADAP RESPONS SEISMIK GEDUNG X AKIBAT BEBAN GEMPA TIME HISTORY Vania Olivia Patiung; Roland Martin Simatupang; Bhondana Bayu Brahmana Kridaningrat
Jurnal Mahasiswa Jurusan Teknik Sipil Vol. 1 No. 3 (2026): Student Journal
Publisher : Jurusan Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Indonesia merupakan negara dengan tingkat aktivitas seismik yang tinggi sehingga bangunan gedung harus dirancang agar mampu menahan beban gempa. Pemasangan area evakuasi tahan api pada gedung bertingkat berpotensi menimbulkan ketidakberaturan struktur akibat distribusi massa dan kekakuan yang tidak merata, sehingga dapat memengaruhi respons seismik bangunan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh penambahan perkuatan Rangka Bresing Konsentrik terhadap respons seismik Gedung X akibat pembebanan gempa Time History yang ditinjau berdasarkan parameter perpindahan, simpangan antar lantai, dan rasio simpangan. Analisis dilakukan terhadap gedung perkuliahan beton bertulang sembilan lantai menggunakan perangkat lunak ETABS. Pemodelan mengacu pada SNI 2847:2019, SNI 1726:2019, dan SNI 1727:2020, dengan analisis Time History menggunakan data rekaman gempa aktual. Evaluasi dilakukan dengan membandingkan respons struktur eksisting dan struktur yang telah diperkuat menggunakan bresing. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penambahan bresing mampu menurunkan rata-rata simpangan antar lantai sebesar 34,92% pada arah X dan 21,30% pada arah Y. Perpindahan pada titik ekstrem bangunan mengalami penurunan pada arah X, sedangkan pada arah Y terjadi peningkatan di beberapa lantai. Nilai rasio simpangan juga menurun pada arah X dan meningkat pada arah Y, namun seluruh nilai masih memenuhi kriteria tingkat kinerja Immediate Occupancy (IO) berdasarkan ATC-40. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perkuatan Rangka Bresing Konsentrik efektif meningkatkan kinerja seismik struktur, terutama dalam mengurangi simpangan antar lantai.
Pengaruh Penambahan Serat Kenaf Terhadap Kinerja Marshall pada Campuran (AC-WC) Anugrah, Ixco; Hendi Bowoputro; Rahayu Kusumaningrum
Jurnal Mahasiswa Jurusan Teknik Sipil Vol. 1 No. 3 (2026): Student Journal
Publisher : Jurusan Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Serat alam berpotensi meningkatkan kinerja campuran beraspal sekaligus mengurangi ketergantungan pada bahan tambah sintetis. Penelitian ini mengevaluasi pengaruh panjang dan kadar serat kenaf terhadap karakteristik Marshall campuran asphalt concrete-wearing course (AC-WC) dan menentukan kombinasi yang memenuhi seluruh persyaratan kinerja. Aspal penetrasi 60/70 dan agregat terlebih dahulu dikarakterisasi. Kadar aspal optimum sebesar 6,5% ditetapkan dari seri kadar aspal 5%, 6%, dan 7% menggunakan metode grafik pita. Rancangan faktorial 3 x 3 terdiri atas panjang serat 6, 8, dan 10 mm serta kadar serat 0,2%, 0,3%, dan 0,4% terhadap berat agregat kering, dengan tiga ulangan untuk setiap kombinasi. Serat dikeringkan pada suhu ruang selama 24 jam, dicampurkan pada 160 °C, dan benda uji dipadatkan sebanyak 75 tumbukan pada setiap sisi. Parameter yang dianalisis meliputi VIM, VMA, VFB, stabilitas, flow, dan Marshall quotient (MQ). Dua kombinasi memenuhi seluruh batas rata-rata Bina Marga 2025, yaitu 8 mm/0,3% dan 10 mm/0,3%. Kombinasi 10 mm/0,3% dipilih karena menghasilkan stabilitas lebih tinggi, dengan VIM 4,67%, VMA 18,23%, VFB 74,63%, stabilitas 1.369,59 kg, flow 3,87 mm, dan MQ 355,08 kg/mm. Stabilitas tertinggi terjadi pada 10 mm/0,4%, tetapi kombinasi tersebut tidak memenuhi batas VIM, VFB, dan flow. ANOVA dua arah menunjukkan bahwa panjang serat berpengaruh signifikan terhadap VFB, stabilitas, flow, dan MQ; kadar serat hanya berpengaruh terhadap flow; dan seluruh interaksi tidak signifikan. Hasil ini menunjukkan bahwa optimasi serat kenaf harus mempertimbangkan seluruh respons Marshall, bukan stabilitas saja. Kata kunci: AC-WC, serat kenaf, uji Marshall, panjang serat, bahan tambah alami, ANOVA dua arah.
Evaluasi Kebutuhan Bangunan Halte Bus Trans Jatim Koridor I Berdasarkan Standar Pelayanan Minimal Angkutan Massal dan Metode IPA (Segmen Terminal Landungasari – Terminal Batu) Pamungkas, Tri Anggara; Hendi Bowoputro; Rahayu Kusumaningrum
Jurnal Mahasiswa Jurusan Teknik Sipil Vol. 1 No. 3 (2026): Student Journal
Publisher : Jurusan Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK Layanan Bus Trans Jatim Koridor I pada segmen Terminal Landungsari-Terminal Batu menghadapi distribusi beban penumpang yang tidak merata dan kesenjangan prasarana halte terhadap Standar Pelayanan Minimal (SPM). Penelitian ini bertujuan menghitung aktivitas penumpang pada setiap halte, mengevaluasi kondisi fisik dan geometrik halte, menentukan prioritas peremajaan berdasarkan persepsi pengguna, serta menyusun rekomendasi desain prasarana. Pendekatan yang digunakan adalah kuantitatif deskriptif. Data primer diperoleh melalui survei dinamis di dalam bus pada empat sesi perjalanan, observasi checklist 14 atribut fasilitas berdasarkan PM 29 Tahun 2015, pengukuran geometrik berdasarkan KP 271/1996, dan kuesioner skala Likert 1-5 kepada 108 pengguna. Data dianalisis menggunakan Gap Analysis dan Importance Performance Analysis (IPA). Survei mencatat 116 aktivitas naik-turun, terdiri atas 39 penumpang naik dan 77 penumpang turun. Terminal Batu menjadi halte tersibuk dengan 60 aktivitas atau 51,7%, sedangkan dua halte teratas menyumbang 61,2% dari seluruh aktivitas. Pemenuhan fasilitas tertinggi terdapat pada aspek keamanan sebesar 91,67%, sedangkan aspek kesetaraan sebesar 0%. Seluruh halte belum memenuhi panjang minimum ruang tunggu karena dimensi eksisting hanya 4,00 m dibandingkan standar 12,00 m. Sebanyak 21 dari 23 atribut memiliki gap negatif; kesenjangan terbesar terdapat pada lampu penerangan malam hari (-0,54). IPA menempatkan lima atribut pada Kuadran I, yaitu lampu malam, marka pembatas halte, pemisahan area tunggu dari lajur kendaraan, guiding block, dan ramp kursi roda. Terminal Batu ditetapkan sebagai prioritas sangat tinggi. Rekomendasi utama berupa halte 12,00 x 2,00 m berkapasitas 48 orang serta penambahan fasilitas keselamatan dan aksesibilitas pada empat halte prioritas.   Kata Kunci: Halte Bus, Trans Jatim, Standar Pelayanan Minimal, Importance Performance Analysis, Gap Analysis.
Studi Analisis Perencanaan Gedung X Dengan Menggunakan Struktur Komposit Hrp, Harun Alrasid; Ir. Mohammad Taufik Hidayat, MT.; Dr. Ir. Retno Anggraini, ST., MT.
Jurnal Mahasiswa Jurusan Teknik Sipil Vol. 1 No. 3 (2026): Student Journal
Publisher : Jurusan Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Gedung X merupakan gedung perkantoran tiga lantai di Kota Malang yang semula direncanakan dengan struktur beton bertulang. Pada penelitian ini dilakukan studi analisis perencanaan ulang struktur atas gedung tersebut dengan menggunakan struktur komposit baja-beton, yang meliputi balok induk, balok anak, dan kolom. Perencanaan dilakukan dengan metode Load and Resistance Factor Design (LRFD) mengacu pada SNI 1729:2020, dengan pembebanan berdasarkan SNI 1727:2020 dan beban gempa statik ekivalen berdasarkan SNI 1726:2019. Gaya dalam diperoleh dari analisis struktur menggunakan program ETABS. Hasil perencanaan diperoleh profil balok induk WF 300×150×6,5×9, balok anak WF 200×100×5,5×8, dan kolom WF 500×200×10×16 yang bekerja secara komposit dengan pelat beton eksisting tebal 120 mm melalui penghubung geser stud Ø 19 mm. Seluruh kontrol lentur, geser, dan lendutan memenuhi persyaratan. Setelah terjadi aksi komposit, kapasitas lentur balok induk meningkat dari φMn = 117,47 kNm menjadi 248,90 kNm (≈112%) dan balok anak meningkat dari φMn = 45,03 kNm menjadi 82,85 kNm (≈84%). Hal ini menunjukkan bahwa aksi komposit antara profil baja dan pelat beton mampu meningkatkan kapasitas lentur balok secara signifikan. Kata kunci: gedung perkantoran, struktur komposit, LRFD, balok komposit, penghubung geser
Perencanaan Ulang Bangunan Kantor dengan Struktur Baja dan Sistem Balok Castellated Pratama, Satya Agae; Hidayat, Mohammad Taufik; Anggraini, Retno
Jurnal Mahasiswa Jurusan Teknik Sipil Vol. 1 No. 3 (2026): Student Journal
Publisher : Jurusan Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Perencanaan ulang struktur atas bangunan kantor empat lantai setinggi 16 m di Kota Malang dilakukan menggunakan struktur baja dengan sistem balok kastela (castellated beam) komposit, menggantikan struktur beton bertulang. Perencanaan berpedoman pada AISC Design Guide 31 dan SNI 1729:2020 dengan metode Load and Resistance Factor Design (LRFD). Pembebanan mengacu pada SNI 1727:2020, sedangkan beban gempa dihitung dengan metode statik ekuivalen sesuai SNI 1726:2019, dan gaya dalam diperoleh dari pemodelan software ETABS. Kelas situs SE menghasilkan SDS = 0,69 G dan SD1 = 0,64 G, Kategori Desain Seismik D, sehingga digunakan Sistem Rangka Pemikul Momen Khusus (R = 8) dengan gaya geser dasar V = 996,71 kN dari berat seismik W = 11.604,90 kN. Balok induk bentang 12 m direncanakan sebagai balok kastela hasil ekspansi profil WF 500×200×10×16 dengan rasio ekspansi k = 1,5, menghasilkan tinggi penampang 750 mm, tinggi bukaan ho = 500 mm, dan sudut potong 60°, tanpa menambah berat baja per meter. Aksi komposit dicapai dengan penghubung geser stud ⌀19 mm serta penutupan sepuluh bukaan pada daerah geser tinggi. Seluruh kontrol kekuatan dan kemampuan layan menghasilkan rasio kapasitas kurang dari 1,0 dengan nilai tertinggi 0,883 pada kontrol geser vertikal balok kastela tahap pasca-komposit, sehingga struktur dinyatakan aman dan masih memiliki cadangan kapasitas.
Studi Analisis Perencanaan Sistem Pracetak pada Gedung X Pratama, Dimas Adi; Hidayat, Mohammad Taufik; Anggraini, Retno
Jurnal Mahasiswa Jurusan Teknik Sipil Vol. 1 No. 3 (2026): Student Journal
Publisher : Jurusan Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pekerjaan beton cor di tempat memiliki keterbatasan berupadurasi pelaksanaan dan kebutuhan tenaga kerja yang relatif besar. Beton pracetak dapat menjadi alternatif, tetapi kinerja sambunganserta keamanan elemen pada tahap pengangkatan harusdiverifikasi. Penelitian ini menganalisis perencanaan sistempracetak pada Gedung X, bangunan kantor tiga lantai setinggi 15 m di Kota Malang. Modifikasi difokuskan pada balok pracetak, hubungan balok–kolom, dan tahapan pengangkatannya. Analisismenggunakan ETABS v22 dan perhitungan manual dengan acuanSNI 2847:2019, SNI 1726:2019, SNI 1727:2020, dan SNI 7833:2012. Material yang digunakan adalah beton f'c 35 MPa dan baja tulangan fy 420 MPa. Hasil perencanaan memberikan balokinduk B1 dan balok anak BA1 berukuran 300 × 500 mm, sertakolom K1 berukuran 700 × 700 mm. Tulangan tumpuan B1 adalah 6D19 tarik dan 3D19 tekan, sedangkan BA1 menggunakan5D16 tarik dan 3D16 tekan. Pada sambungan basah balok–kolomtengah, momen ultimit 246,51 kNm lebih kecil daripada momennominal maksimum 321,468 kNm; gaya geser 729,209 kN juga lebih kecil daripada kapasitas geser 3.696,07 kN. Titik angkatbalok sepanjang 6 m ditempatkan 140,56 cm dari setiap ujung, menggunakan tulangan angkat Ø10. Berat elemen 1.382,4 kg masih berada di bawah kapasitas crane 16 ton pada radius maksimum 35 m. Dengan demikian, dimensi, sambungan, dan prosedur pengangkatan yang direncanakan memenuhipemeriksaan kekuatan dalam ruang lingkup studi.  
Evaluasi Kinerja Seismik pada Gedung Beton Bertulang menggunakan Metode Pushover berdasarkan SNI 1726:2012 dan SNI 1726:2019 (Studi Kasus: Gedung X Universitas Y) Rusnandar, Aretha Verinza; Dr. Ir. Retno Anggraini, ST., MT.; Dr. Eng. Achfas Zacoeb, ST., MT.
Jurnal Mahasiswa Jurusan Teknik Sipil Vol. 1 No. 3 (2026): Student Journal
Publisher : Jurusan Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

              Indonesia, sebagai wilayah yang terletak pada pertemuan tiga lempeng tektonik utama dunia, memiliki tingkat kerentanan seismik yang sangat tinggi, menuntut adanya evaluasi berkelanjutan terhadap kelayakan infrastruktur eksisting. Pembaruan regulasi kegempaan dari SNI 1726:2012 menjadi SNI 1726:2019 membawa implikasi yang sangat signifikan terhadap perhitungan beban gempa rencana, yang berpotensi mengubah status kelayakan dan kinerja struktur bangunan yang telah dibangun berdasarkan standar terdahulu. Analisis komprehensif ini berfokus pada evaluasi kinerja seismik struktur beton bertulang bertingkat sedang, yakni Gedung X Universitas Y, dengan menggunakan metode statik non-linier pushover yang berpedoman pada panduan Applied Technology Council (ATC-40).             Respons struktural dievaluasi secara mendalam melalui parameter gaya geser dasar (base shear), simpangan antar lantai (story drift), stabilitas P-Delta, dan mekanisme pembentukan sendi plastis (plastic hinges). Hasil analisis mengindikasikan adanya eskalasi kebutuhan (demand) gaya lateral pada standar pembaruan, yang ditandai dengan peningkatan perpindahan atap sebesar 12% pada arah X dan 16% pada arah Y.             Lebih lanjut, analisis mengungkap bahwa gaya geser dasar maksimum pada titik kinerja (performance point) mengalami peningkatan margin sebesar 5%. Kendati struktur eksisting secara global tetap berada pada tingkat kinerja Immediate Occupancy (IO) di bawah kedua skenario peraturan gempa, investigasi simpangan antar lantai menunjukkan pelampauan batas izin simpangan pada SNI 1726:2019, khususnya pada sumbu lemah (arah Y). Pola keruntuhan menunjukkan indikasi kerentanan tingkat lunak (soft story) pada lantai dasar yang mencapai level Collapse Prevention (CP) pada akhir kurva kapasitas. Temuan ini menegaskan bahwa pemenuhan titik kinerja global tidak serta-merta menjamin keamanan elemen lokal terhadap deformasi lateral yang berlebihan. Kata kunci: Analisis Pushover, Kinerja Seismik, Kurva Kapasitas, Sendi Plastis, Spektrum Respons.
Analisa Stabilitas Lereng dengan Metode Keseimbangan Batas dalam Penanggulangan Longsor pada Lereng Desa Dadaprejo, Kecamatan Junrejo, Batu mukti, wisnu; Zaika, Yulvi; Suryo, Eko Andi
Jurnal Mahasiswa Jurusan Teknik Sipil Vol. 1 No. 3 (2026): Student Journal
Publisher : Jurusan Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Desa Dadaprejo, Kecamatan Junrejo, Kota Batu merupakan salah satu wilayah yang memiliki kondisi topografi berbukit sehingga berpotensi mengalami longsor, terutama pada lereng dengan kemiringan yang curam. Kondisi tersebut perlu mendapat perhatian karena dapat mengancam keselamatan masyarakat serta mengganggu rencana pengembangan kawasan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis tingkat stabilitas lereng menggunakan metode keseimbangan batas (Limit Equilibrium Method) dengan metode Bishop Simplified guna memperoleh nilai faktor keamanan (Factor of Safety/FoS) sebagai indikator kestabilan lereng. Data yang digunakan meliputi geometri lereng, parameter geoteknik tanah berupa berat isi tanah, kohesi, dan sudut geser dalam yang diperoleh dari hasil pengujian tanah. Analisis dilakukan menggunakan perangkat lunak geoteknik untuk menentukan bidang longsor kritis dan nilai faktor keamanan lereng. Hasil analisis menunjukkan bahwa nilai faktor keamanan dapat digunakan untuk mengevaluasi tingkat kestabilan lereng dan menjadi dasar dalam menentukan kebutuhan tindakan mitigasi apabila nilai faktor keamanan berada di bawah batas yang dipersyaratkan. Metode keseimbangan batas mampu memberikan hasil analisis yang efektif dalam mengidentifikasi potensi kelongsoran sehingga dapat digunakan sebagai dasar perencanaan penanggulangan longsor pada lereng di Desa Dadaprejo.
Pengaruh Penambahan Serat Eceng Gondok terhadap Karakteristik Marshall AC-WC Asbuton Haura Azzah Jalilah Samodra Putri; Nayaka Danang Sayyidina; Ludfi Djakfar; Rahayu Kusumaningrum
Jurnal Mahasiswa Jurusan Teknik Sipil Vol. 1 No. 3 (2026): Student Journal
Publisher : Jurusan Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pengembangan pemanfaatan Asbuton dilakukan untuk menekan ketergantungan pada aspal impor serta mengoptimalkan potensi sumber daya alam lokal. Salah satu pendekatan yang dapat diterapkan yaitu dengan menambahkan serat eceng gondok sebagai bahan aditif dalam campuran beraspal. Eceng gondok merupakan gulma air yang mengandung selulosa sehingga berpotensi meningkatkan karakteristik campuran beraspal. Penelitian ini dilakukan untuk mengkaji pengaruh penambahan serat eceng gondok terhadap karakteristik Marshall campuran AC-WC, membandingkan karakteristik campuran dengan penggunaan Asbuton 8% dan 15%, serta menentukan rentang Kadar Aspal Optimum (KAO) dan kadar serat eceng gondok optimum. Penelitian menggunakan aspal penetrasi 60/70 dengan Asbuton tipe B 50/30 sebesar 8% dan 15% terhadap berat campuran. Campuran dibuat menggunakan metode pencampuran kering (Dry Method). Campuran Asbuton 8% menggunakan kadar aspal 6.5% dengan variasi kadar serat eceng gondok 5%, 6%, dan 7%, sedangkan campuran Asbuton 15% menggunakan variasi kadar aspal 6%, 7%, dan 8% serta kadar serat eceng gondok 4%, 5%, 6%, dan 7%. Karakteristik campuran dievaluasi melalui Penilaian karakteristik campuran dilakukan berdasarkan hasil pengujian Marshall yang meliputi parameter stabilitas, flow, VIM, VMA, VFB, serta MQ. Analisis statistik dilakukan menggunakan Generalized Linear Model (GLM) Robust, sedangkan penentuan KAO dan daerah optimum dilakukan menggunakan metode grafik pita dan grafik tiga dimensi (3D) berbantuan MATLAB. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan Asbuton 15% menghasilkan karakteristik volumetrik yang lebih baik, sedangkan Asbuton 8% memberikan nilai stabilitas dan Marshall Quotient (MQ) yang lebih tinggi. Analisis GLM Robust menunjukkan bahwa interaksi kadar aspal dan kadar serat eceng gondok berpengaruh signifikan terhadap seluruh parameter Marshall. Metode grafik pita menghasilkan rentang KAO sebesar 7.12%–7.69% dengan kadar serat optimum 4%, 5%, dan 6%, sedangkan metode grafik 3D menghasilkan rentang KAO sebesar 7.48%–7.87% dengan kadar serat optimum 4.14%–5.70%. Kata kunci: AC-WC Asbuton, serat eceng gondok, serat selulosa, pengujian Marshall.