cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota surakarta,
Jawa tengah
INDONESIA
Nexus Kedokteran Komunitas
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Health,
Arjuna Subject : -
Articles 306 Documents
Analisis Faktor Risiko Tuberkulosis di Daerah Wonogiri 2 Amira Masiah Syahvira; Amalia Aryasita Dewi; Nur Adhi Hutomo; Naufal Irsaly Zikri; Richard Philo; Yusuf Ari Mashuri; Pitut Kristianta Nugraha
Nexus Kedokteran Komunitas Vol 7, No 2 (2018): Nexus Kedokteran Komunitas
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Sebelas Maret Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pendahuluan: Tuberkulosis adalah suatu penyakit menular yang disebabkan oleh kuman Mycobacterium tuberculosis. Gejala utama pasien TBC paru yaitu batuk berdahak selama 2 minggu atau lebih. Batuk dapat diikuti dengan gejala tambahan yaitu dahak bercampur darah, batuk darah, sesak nafas, badan lemas, nafsu makan menurun, berat badan menurun, malaise, berkeringat malam hari tanpa kegiatan ?sik, demam meriang lebih dari satu bulan.Metode: Penelitian ini merupakan penelitian surveilans epidemiologi yang bersifat observasional deskriptif. Data yang dikumpulkan dari responden berupa data kualitatif berupa riwayat penyakit yang didapatkan melalui wawancara terbuka dan data kuantitatif yang didapatkan melalui survey dengan menggunakan kuisioner spesifik untuk pasien Tuberkulosis.Hasil: Responden berjumlah satu orang dengan jenis kelamin wanita, berusia 48 tahun, dan berprofesi ibu rumah tangga. Responden bertempat tinggal bersama satu orang suami dan satu orang anak perempuan.Kesimpulan: Tuberkulosis adalah penyakit menular yang di sebabkan oleh infeksi Myobacterium Tuberculosa. Prevalensi tuberkulosis di Indonesia masih cukup tinggi. Faktor risiko tuberkulosis antara lain usia tua, penyakit diabetus melitus, dan faktor sosial ekonomi. Salah satu faktor yang mempengaruhi kesembuhan pasien tuberkulosis adalah taatnya minum obat.Kata Kunci: Tuberculosis; TBC
Effect Yoga on Health-Related Quality of Life in Menopause Women Lulut Khoridatur Rosida; Sinu Andhi Jusup; Bhisma Murti
Nexus Kedokteran Komunitas Vol 6, No 2 (2017): Nexus Kedokteran Komunitas
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Sebelas Maret Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Introduction: Menopause causes changes in ovarian function that will automatically affect production of hormones that can cause a variety of physical and mental symptoms. These symptoms will lead to lower health-related quality of life in postmenopausal women. Yoga is a physical and meditation exercise. According to various studies, yoga can reduce symptoms of postmenopausal syndrome. This study aimed to investigate effect yoga on health-related quality of life in menopause. Methods: This research used observational analytic with case control approach. The subject were postmenopausal women who did yoga in Ganep's Surakarta. Samples were taken with fixed exposure sampling technique. There were 45 subjects of research which consists of 15 people did yoga and 30 people did not yoga. Independent variable of this research was yoga and dependent variable was health-related quality of life scores were measured using a questionnaire Medical Outcomes Study SF-36. Gained Data was presented in table form and analyzed bivariate analysis using t-test and multivariate analysis using multiple linear regression analysis. Results: This research showed t-test value p < 0.001 which meant that there was significant effect yoga on health related quality of life. And there were significant difference scores between yoga group and no yoga group (p < 0.001). Multiple linear regression value showed regression coefficients= 435,6; p < 0.001 (Constants: 3296.41; CI 95% (-692)-1230.82; R2adjusted: 32.2% and p < 0.001). Conclusions: Yoga can effect on health-related quality of life in menopause women. Keywords: Yoga, Quality of life, Menopause.
The Relation between Nutritional Status and Acne in Female Teenagers Ages 15-17 years old in Surakarta Egtheastraqita Chithivema; . Widardo; Slamet Riyadi
Nexus Kedokteran Komunitas Vol 4, No 2 (2015): Nexus Kedokteran Komunitas
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Sebelas Maret Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Background: Acne is one of the most common skin problems especially on teenagers. Acne is resulted from chronic inflammation on sebaceous gland. Acne can be caused by some factors, one of them is the increase of sebaceous gland production which can be caused by over nutrition / obesity. This research aims to see the relation between nutritional status and acne on female teenagers age 15 17 years old in Surakarta. Methods: This is an observational analytic research with cross sectional approach. The research was done in 5 high schools in Surakarta, which are SMA Negeri 1, SMA Negeri 7, SMA Muhammadiyah 3, SMA Batik 1, and SMA Islam Diponegoro. Sample used are 15 17 years old female student, not on menstruation / 1 week before menstruation period, have not use cosmetics for the past 1 week, not on acne treatment, and not on antibiotic or steroid. The sampling method used was purposive random sampling after inclusive and exclusive selection based on research criteria. Dependent variable is acne, and independent variable is nutritional status. Research subject completed (1) informed consent, (2) acne questionnaire, (3) bio data and food recall questionnaire, (4) height and weight measurement. As much as 196 data were collected and analyzed using Chi-Squared followed by Odds Ratio (OR) finding. Result: Result shown p = 0,001 (p < 0,05) from data analysis with significance number ? = 0,05 and OR value = 6,923. Conclusion: Statistically, there is a significant relation between nutrition status and acne on female teenagers age 15 17 years old in Surakarta. Keywords: acne, nutritional status
Hubungan Penggunaan Jamban Sehat dengan Kejadian Bayi dan Balita Underweight di Wilayah Kerja Puskesmas Banyuanyar Surakarta Sumardiyono .; Adji Danarto; Amalina Elvira Anggraini; Maulida Narulita; Megayani Santoso
Nexus Kedokteran Komunitas Vol 7, No 2 (2018): Nexus Kedokteran Komunitas
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Sebelas Maret Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar belakang: Riskesdas Menkes (2018) menunjukkan prevalensi balita gizi kurang dan gizi buruk di Indonesia masih tinggi, yakni 17,7% yang terdiri dari 3.9% balita dengan gizi buruk dan 13,8% balita dengangizi kurang. Hal ini disebabkan oleh banyak faktor, salah satunya adalah perilaku sehat dari individu, dimana salah satu indikatornya dalah penggunaan jamban sehat.Metode penelitian: Penelitian ini adalah penelitian observasional analitik dengan pendekatan cross sectional. Subjek penelitian adalah bayi dan balita (0-5 tahun) yang bertempat tinggal di Kelurahan Banyuanyar yang dipilih menggunakan teknik convenient sampling.. Teknik analisis data menggunakan uji korelasi pearson dengan tingkat kepercayaan 95% (? = 0,05). Data diolah melalui SPSS 22 for Windows.Hasil penelitian: Hasil analisis data yang dilakukan menunjukkan nilai p= 0,001 yang berarti p<0,05 menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara penggunaan jamban sehat dan kejadian bayi dan balita underweight di Kelurahan Banyuanyar.Simpulan penelitian: Terdapat hubungan yang signifikan antara penggunaan jamban sehat dan kejadian bayi dan balita underweight di Kelurahan Banyuanyar, Surakarta (p=0,001)Kata kunci: Underweight, Healthy latrines, Infants, Toddler
Analisis Faktor Resiko Terjadinya Hipertensi pada Warga Dusun Dungrejo, Desa Manjung, Kabupaten Wonogiri Dania .; Devi Amara Maritza; Dian Utami; Elvina Estelita; Enni Hazizah Pulungan; Cahyaning Setyo; Titik Setyaningsih
Nexus Kedokteran Komunitas Vol 7, No 1 (2018): Nexus Kedokteran Komunitas
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Sebelas Maret Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pendahuluan: Hipertensi adalah suatu keadaan ketika tekanan darah di pembuluh darah meningkat secara kronis.Data puskesmas Wonogiri I menunjukkan hipertensi menjadi salah satu penyakit tersering ditahun 2018 dengan jumlah 4.974 kasus, kasus terbanyak berada di Dusun Dungrejo, Desa Manjung.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan kemungkinan terjadinya hipertensi oleh warga Dusun Dungrejo, Desa Manjung.Metode: Penelitian ini merupakan penelitian observasional dengan pendekatan cross-sectional , teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah total sampling independent . Hasil: Distribusi respondenlansia sebanyak 12 orang (75%), memiliki riwayat penyakit dahulu sebanyak 12 orang (75%), memiliki riwayat penyakit keluarga sebanyak 2 orang (15,4%), pekerjaan sebagai petani sebanyak 13 orang (84,6%), merokok sebanyak 4 orang (36,4%), mengonsumi alkohol sebanyak 0, memiliki gizi seimbang sebanyak 7 orang (46,7%), rutin olahraga sebanyak 6 orang (40%), dan memiliki BMI normal sebanyak 10 orang (66,7%). Uji statistik menggunakan uji chi square. Kesimpulan: Hasil penelitian menunjukkan adanya pengaruh positif yang signifikan antara faktor usia, riwayat penyakit dahulu, riwayat penyakit keluarga, pekerjaan, gizi seimbang, dan rutinitas olahraga, tetapi tidak terdapat pengaruh positif yang signifikan antara kebiasaan merokok dan konsumsi alkohol serta BMI terhadap peluang terjadinya hipertensi di Dusun Dungrejo Desa Manjung Kabupaten Wonogiri.Kata Kunci: Age Factor; Past and Family Medical History; Occupation; Smoking and Alcohol; Exercise; Balanced Nutrition and BMI; Hypertension
Persebaran Kasus Diare di Puskesmas Colomadu II Berdasarkan Desa dan Rentang Usia Januari Februari 2019 Latifahanne A; Lulu Fariha; Luthfianita Fahria S; Meilani Laksita; Millennia Tasya; Vitri Widyaningsih; Ririn Nurliyani BR; Iwan Christiawan
Nexus Kedokteran Komunitas Vol 7, No 1 (2018): Nexus Kedokteran Komunitas
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Sebelas Maret Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pendahuluan : Diare merupakan penyakit yang umum terjadi di masyarakat, akan tetapi diare juga dapat menjadi berbahaya bahkan menyebabkan kematian. Oleh karena bahaya tersebut dan angka penderita diare yang meningkat akhir-akhir ini, maka kami memutuskan untuk menuliskan artikel mengenai persebaran diare di Puskesmas Colomadu II. Metode : Dalam melakukan penelitian, kami menggunakan data dari jumlah penderita diare dalam kurun waktu Januari hingga Februari 2019 yang didapat dari Puskesmas Colomadu II dengan subjek penelitian masyarakat Kecamatan Colomadu dari lima desa, Blulukan, Baturan, Klodran, Gedongan, dan Tohudan. Hasil : Dengan data yang kami dapat, kemudian dilakukan analisis data sekunder dan didapatkan hasil bahwa pada bulan Januari, penderita diare terbanyak berasal dari Desa Blulukan yang didominasi oleh anak-anak usia 1-4 tahun, sedangkan pada bulan Februari, penderita diare terbanyak berasal dari Desa Klodran yang didominasi oleh orang dewasa usia di atas 20 tahun, serta terjadi peningkatan kasus dari bulan Januari ke bulan Februari.Kesimpulan : Diare dapat disebabkan dan dipengaruhi oleh banyak faktor seperti sanitasi, kebersihan lingkungan, juga perilaku dari tiap individu. Segala usia dan jenis kelamin dapat terkena diare tergantung penyebabnya.Kata Kunci : diarrheaABSTRACTIntroduction : Diarrhea is a common disease in the community, but diarrhea can also be dangerous and even cause death. Because of the danger and the increasing number of people with diarrhea lately, we decided to write an article about the distribution of diarrhea at Colomadu II Health Center.Methods : In conducting research, we used data from the number of diarrhea sufferers in the period January to February 2019 obtained from Colomadu II Health Center with Colomadu sub-district community research subjects from five villages, Blulukan, Baturan, Klodran, Gedongan, and Tohudan.Results : With the data we obtained, then secondary data analysis was carried out and the results showed that in January, most diarrhea patients came from Blulukan village which was dominated by children aged 1-4 years, whereas in February, most diarrhea patients came from Klodran village which is dominated by adults over the age of 20 years, and there is an increase in cases from January to February.Conclusion : Diarrhea can be caused and influenced by many factors such as sanitation, environmental cleanliness, as well as the behavior of each individual. All ages and genders can get diarrhea depending on the cause.Keywords : diarrhea
Hubungan Antara Jentik Jentik Nyamuk dengan Angka Kejadian DBD di Kecamatan Ngemplak Salman Alfarisy; Sephendra Lutfi; Yosia Yonggara; Adelia Laksita Dewi; Afifah Syifa; Sutartinah Sri Handayani; Eko Widatik; Noor Alifah
Nexus Kedokteran Komunitas Vol 7, No 2 (2018): Nexus Kedokteran Komunitas
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Sebelas Maret Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pendahuluan: Pencegahan dan pemberantasan penyakit menular dapat dilakukan dengan melaksanakan kegiatan surveilans epidemiologi. Penyakit menular, seperti demam berdarah dapat diatasi dengan melakukan penyelidikan epidemiologi untuk mengetahui faktor-faktor yang dapat menyebabkan penyakit terjadi. Data Puskesmas Ngemplak di Boyolali menunjukkan adanya peningkatan kejadian demam berdarah di awal tahun 2019. Incidence rate pada tahun 2018 adalah 14,8 per 100.000 penduduk dan pada tahun 2019 menjadi 17,37. Penelitian ini bertujuan untuk mengamati kepadatan jentik di lingkungan dengan radius 200 meter dan angka kejadian demam berdarah. Metode: Metode penelitian menggunakan metode kuantitatif deskriptif berupa survei dengan cara cross-sectional. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan bahwa keberadaan jentik dalam daerah radius 200 meter meningkatkan risiko demam berdarah menjadi 5,3 kali lebih besar. Kesimpulan: Untuk mengatasi kejadian demam berdarah, ke depannya diperlukan adanya kerja sama antara warga dan pihak puskesmas dalam mencegah penularan dan mengobati demam berdarah.Kata Kunci: Larvae, House Index, Dengue Fever, Ngemplak Sub-district, Boyolali
Manajemen Risiko Keselamatan Kesehatan Kerja dan Lingkungan dengan HIRADC di UPT Puskesmas Banyuanyar Kota Surakarta Rafael Bagus Yudhistira; Alfin Rizki; Aisyah Nooratisya; Erinda Kusuma; Auliya Bintan; Sumardiyono .; Adji Danarto
Nexus Kedokteran Komunitas Vol 7, No 2 (2018): Nexus Kedokteran Komunitas
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Sebelas Maret Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pendahuluan: Program kesehatan kerja merupakan suatu upaya pemberian perlindungan kesehatan dan keselamatan kerja bagi masyarakat pekerja yang bertujuan untuk memelihara dan meningkatkan derajat kesehatan masyarakat pekerja, mencegah timbulnya gangguan kesehatan, melindungi pekerja dari bahaya kesehatan serta menempatkan pekerja di lingkungan kerja yang sesuai dengan kemampuan fisik dan psikis pekerja. Puskesmas sebagai penyelenggara pembangunan kesehatan di masyarakat termasuk ke dalam kategori tempat kerja yang memiliki risiko bahaya kesehatan. Ada tiga upaya dasar yang dilakukan di bidang kesehatan dan keselamatan kerja, yaitu Hazard Identification (Identifikasi Bahaya), Risk Assessment (Penilaian Risiko), dan Determining Control (Penetapan Pengendalian) atau sering disebut dengan HIRADC.Metode: Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif. Sumber data yang digunakan yaitu data primer. Data primer yang diperoleh dengan studi pustaka, studi lapangan, dan wawancara yang dilaksanakan tanggal 20 Maret 2018 sampai dengan 9 April 2018.Hasil: Hasil penelitian ini menunjukkan aktivitas kegiatan petugas kesehatan dan pasien sudah tertata sesuai alur pelayanan pasien. Potensi bahaya di UPT Puskesmas Banyuanyar antara lain: (1) Titik kumpul evakuasi yang beralih fungsi menjadi tempat parkir (2) Letak APAR yang tertutup banner (3) Tiang yang menghalangi jalan (4) Plafon yang rusak (5) Kabel yang tidak tersusun rapi dan menghalangi jalan (6) Adanya jentik-jentik di kamar mandi pengunjung (7) Kamar mandi pasien yang tidak terpasang handrail (8) Penyimpanan oksigen dan alat bantu jalan pasien yang kurang rapi.Simpulan: Implementasi Keselamatan, Kesehatan Kerja dan Lingkungan (K3L) di UPT Puskesmas Banyuanyar sudah baik dan ideal.Kata kunci: HIRADC, Banyuanyar Public Health Center
FAKTOR RISIKO ANGKA KEJADIAN PENYAKIT ISPA DI PUSKESMAS AMPEL KABUPATEN BOYOLALI Chofsoh Z, Anifa; Esha R, Andrini; Nur Aini, Ardelia; Purbaningrum, Ayunita; Agatha Adika Putri, Claudia; ., Latifah; Augusthina Ayusari, Amelya; Alifah, Noor
Nexus Kedokteran Komunitas Vol 7, No 1 (2018): Nexus Kedokteran Komunitas
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Sebelas Maret Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pendahuluan: ISPA (Infeksi Saluran Pernafasan Akut) adalah penyakit akut  yang menyerang saluran pernafasan bagian atas, mulai dari hidung sampai alveoli termasuk sinus, rongga telinga tengah, dan pleura. Berdasarkan laporan tahunan Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Boyolali (2009), ISPA merupakan penyakit yang paling banyak diderita masyarakat Boyolali dan merupakan salah satu daerah di Jawa Tengah yang memiliki prevalensi penderita ISPA yang tinggi. Jumlah kasus ISPA di Puskesmas Ampel Kabupaten Boyolali tercatat paling banyak terjadi pada anak laki-laki rentang usia 0-5 tahun dengan Desa Candi sebagai tempat kejadian terbanyak yaitu 174 kasus. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui tingkat kejadian dan penyebab (faktor lingkungan dan faktor balita) penyakit ISPA di Puskesmas Ampel Kabupaten Boyolali.  Metode: Metode yang digunakan adalah observasional deskriptif analitik.  Hasil: Hasil penelitian didapatkan bahwa balita laki-laki (usia 0-5 tahun) beresiko lebih tinggi untuk terkena ISPA dibandingkan balita perempuan. Hal ini dipengaruhi oleh beberapa faktor lingkungan dan faktor balita. Kesimpulan: Dari hasil analisis data, dapat disimpulkan bahwa prevalensi penyakit ISPA dipengaruhi oleh faktor lingkungan dan faktor balita. Faktor lingkungan meliputi asap rokok, rumah sehat, jarak desa ke fasilitas kesehatan. Faktor balita meliputi pemberian ASI, BBLR, imunisasi bcg, imunisasi hepatitis, imunisasi campak, imunisasi polio, imunisasi DPT, imunisasi dasar lengkap. Kata Kunci: ARI; risk factor; Ampel Health Center
SISTEM SURVEILANS TB DI UPTD PUSKESMAS SELOGIRI KABUPATEN WONOGIRI Hasya, Muhammad Hilal; Nuraini Hidayati, Cynthia; Kevin Adrizal Kamirudin, Muhammad; Robbany, Muhammad Ghazy; Yudhistira, Muhammad Yurizar; Kristianta Nugraha, Pitut; Maftuhah, Atik; Apriliawati, Anita; Sularti, Sri; ., Endang; Tri Wijayanti, Maria
Nexus Kedokteran Komunitas Vol 7, No 1 (2018): Nexus Kedokteran Komunitas
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Sebelas Maret Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pendahuluan: Saat ini, TB masih merupakan masalah kesehatan masyarakat yang menjadi tantangan global. Pentingnya penemuan kasus TB di masyarakat melalui sistem surveilans sebagai upaya pengendalian penyakit infeksi TB ini menjadi fokus dalam penelitian ini. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk memaparkan deskripsi mengenai sistem surveilans TB di UPTD Puskesmas Selogiri, Kabupaten Wonogiri.Metode: Metode penelitian dilakukan dengan observasi deskriptif yaitu dengan menguraikan dan menjelaskan pelaksanaan sistem surveilans TB di UPTD Puskesmas Selogiri Kabupaten Wonogiri, dimulai dari pengumpulan data, pengolahan data, analisis data, hingga diseminasi data penderita TB pada tahun 2019. Data yang dikumpulkan meliputi data sekunder berupa hasil pencatatan dan pelaporan, serta data primer yang didapatkan dari wawancara, observasi, dan data riwayat pengobatan pasien. Hasil: Sistem surveilans TB di UPTD Puskesmas Selogiri telah mengacu kepada peraturan menteri kesehatan RI no 45 tahun 2014 yang berisi mengenai arahan mengenai sistem surveilans. Namun ada beberapa hal yang masih belum dilakukan oleh UPTD Puskesmas Selogiri dalam arahan sistem surveilans dari kementrian kesehatan RI.Kesimpulan: UPTD Puskesmas Selogiri sudah menerapkan sistem surveilans dalam penanganan kasus Tuberculosis sejak tahun 2008 hingga kini. Namun pada pelaksanaannya ada beberapa hal yang perlu dievaluasi seperti penyelarasan antar beberagai fasilitas kesehatan di daerah Selogiri.