cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kab. aceh besar,
Aceh
INDONESIA
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Bimbingan & Konseling
ISSN : 26150344     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Education,
Jurnal ini bertujuan untuk mempublikasikan karya-karya mahasiswa jurusan bimbingan dan konseling terutama hasil dari penelitian yang mereka lakukan. Jurnal berfokus pada semua aspek psikologis yang mempengaruhi pelajar dan semua teknik bantuan psikologis yang dapat diberikan untuk menolong mereka mencapai kesuksesan dalam belajar.
Arjuna Subject : -
Articles 206 Documents
STUDI KASUS TENTANG PERILAKU DISIPLIN SISWA SMA NEGERI 1 KUTAPANJANG Yusra Dani; Nur Janah; Hetti Zuliani
JIMBK: Jurnal Ilmiah Mahasiswa Bimbingan & Konseling Vol 3, No 3 (2018): September 2018
Publisher : Program Studi Bimbingan dan Konseling, FKIP Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (155.241 KB)

Abstract

Perilaku  disiplin  adalah  suatu  kondisi  yang  tercipta  dan  terbentuk  melalui  proses dan  serangkaian  perilaku  yang  menunjukkan  agar  siswa  patuh  terhadap  peraturanperaturan sekolah. Penelitian ini berjudul “Studi kasus tentang perilaku disiplin siswa pada SMA Negeri 1 Kutapanjang”. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui gambaran perilaku disiplin siswa pada SMA Negeri 1 Kutapanjang. Metode penelitian ini adalah pendekatan kualitatif  dengan  metode  deskriptif.  Lokasi  penelitian  di  SMA  Negeri  1  Kutapanjang dengan  jumlah  subjek  5  orang  siswa  dan  2  orang  guru  BK  dengan  jumlah  total  yaitu  7 orang. Teknik pengumpulan data melalui wawancara. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pelanggaran perilaku disiplin yang dilakukan siswa SMA Negeri 1 Kutapanjang Kab. Gayo Lues  yaitu  datang  sekolah  tidak  tepat  waktu,  merokok,  membolos,  berkelahi,  tidak mengerjakan PR (tugas sekolah), tidak jujur dan menyontek. Adapun upaya yang diberikan guru  BK  terhadap  pelanggaran  perilaku  disiplin  siswa  yaitu:  memberikan  informasi  dan pengarahan tentang perilaku disiplin dan hukuman kepada siswa yang datang sekolah tidak tepat waktu, memberikan informasi tentang bahaya merokok dan bahaya-bahaya lain yang merupakan peraturan-peraturan disiplin sekolah, Guru BK memanggil siswa yang ketahuan tidak  masuk  pada  saat  jam  pelajaran  ke  ruang  BK  untuk  dibimbing  dan  diarahkan  agar mereka  masuk  kelas  saat  jam  pelajaran  dan  mengingatkan  siswa  tentang  nilai  kenaikan kelas, Guru BK memanggil siswa ke ruang BK dan memberikan bimbingan kedua belah pihak yang berselisih dan guru BK melibatkan guru wali kelas dalam penyelesaaian kasus perkelahian  siswa  di  sekolah,  Guru  BK  memberikan  hukuman  bagi  siswa  yang  tidak mengerjakan  PR,memberikan  informasi  tentang  pentingnya  membiasakan  diri  bersikap jujur  dan  bertanggung  jawab  dalam  kehidupan,  memberikan  tugas-tugas  mata  pelajaran pada  siswa  dengan  itu  mereka  belajar  untuk  bertanggung  jawab  dan  berusaha  untuk menyelesaikan  tugas  yang  telah  diberikan  dengan  usaha  sendiri  maksudnya  tidak menyontek. Kata Kunci: Perilaku Disiplin 
Penggunaan Media Kolase Untuk Meningkatkan Kemampuan Gerak Motorik Halus Siswa Tunagrahita Ringan di SDLB Negeri Banda Aceh Aida Fitri; Syaiful Bahri; Fajriani Fajriani
JIMBK: Jurnal Ilmiah Mahasiswa Bimbingan & Konseling Vol 3, No 4 (2018): Desember 2018
Publisher : Program Studi Bimbingan dan Konseling, FKIP Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (69.377 KB)

Abstract

ABSTRACTOn students ' mental retardation, fine motor ability is indispensable in conducting daily activities that require them to learn more independently and not continue to depend on other people. This research aims to improve the ability of students ' fine motor motion light mental retardation in SDLB Land Banda Aceh through the use of Media collage. Collage is a technique of sticking to a range of elements into a frame so that it generates a new artwork, materials affixed like material such as paper, cloth, grain, dry leaves and so on. This type of research method using research case studies (case study), with a mixed method (mixed methods), which is a method that combines quantitative and qualitative approaches. The subject taken with purposive sampling methods that add up to 2 people. Data collection is done using an instrument of observation through the test Act and the use of the interview. Implementation of the research carried out for 14 times, with a time of 45 minutes/session. The research scoring results retrieved changes i.e. score post-test score higher than pre-test. As well as the results of the analysis of the qualitative data indicates the motion of fine motor ability of the students of mild mental retardation increased from undeveloped stage (BB) to the stage of developing appropriate expectations (BSH), started to grow (MB) to the very well developed (BSH).
KONSEP DIRI DAN ORIENTASI MASA DEPAN PADA SISWA SYZYGY DI BANDA ACEH Khairi Wahyuna; Nurhasanah Nurhasanah; Abu Bakar
JIMBK: Jurnal Ilmiah Mahasiswa Bimbingan & Konseling Vol 3, No 4 (2018): Desember 2018
Publisher : Program Studi Bimbingan dan Konseling, FKIP Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (61.673 KB)

Abstract

The issue of sexual orientation in adolescents often worries parents, edocators, government and others. How to form a positive self concept so as to have a picture of a good future in accordance with their respective gender. This research aim to know self concept and future orientation of syzygy student in banda aceh. This research use descriptive qualitative approach. The subjects of this study are students whu classified syzygy (aanimma animus) as many as 5 people high school category. While the object of this research is the concept of self and future orientation. Data colection is done by interview.the self concept of syzygy students is viewed from the perspective of physically and non physically, and future orientation is seen fromhow desire to shape life in the future. Positive and negative  self concept that  they have affect the design of their futuere. At first glance looks like LGBT even there is a sexual orientation that has diverged.  Therefore, in relation to counseling service, teachers are expected to provide extensive and in-depth guidance on self-conceptual materials and future orientations specific to syzygy student (anima animus), so that their existing sexual orientation does not fall into the things that are not desirable and that are not in accordance with the norms of life.
Korelasi Antara Adversity Quotient Dengan Selfefficacy Pada Siswa Kelas XII SMA Negeri Di Kota Banda Aceh Iin Salwa Kamalia; Abu Bakar; Nurbaity Bustamam
JIMBK: Jurnal Ilmiah Mahasiswa Bimbingan & Konseling Vol 4, No 4 (2019): Desember 2019
Publisher : Program Studi Bimbingan dan Konseling, FKIP Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Adversity quotient and self-efficacy are needed by individuals to be able to optimize themselves and are two factors that influence student success. This study aims to determine the conditions and the relationship between adversity quotient with self-efficacy in class XII students of SMA Negeri in Banda Aceh. The study uses a quantitative approach with descriptive and correlation methods. The study population was all students of class XII in 6 public high schools in the city of Banda Aceh. The sampling method is done using multistage random sampling which was to randomize school samples and use the Slovin formula to determine the number of student samples. The schools that became the sample of the research were Banda Aceh 5 SMA, Banda Aceh 6 SMA and Banda Aceh 12 SMA and the number of samples that were used as research respondents were 222 students. The hypothesis examined in this study was there is a relationship between adversity quotient and self-efficacy. Data collection tools used are the adversity quotient scale and self-efficacy scale in the form of a Likert scale. The results showed that the adversity quotient of dominant students was in the medium category and the level of self-efficacy of the students was also dominant in the medium category. The results also showed a significant positive relationship between adversity quotient and self-efficacy with coefficients r = 0.666 and p = 0,000. This means that the higher the adversity quotient, the higher the student's self-efficacy. Vice versa, if the adversity quotient is low then the student's self-efficacy will also be low.Keywords: Adversity Quotient, Self-Efficacy, High School Student ABSTRAK Adversity quotient dan self-efficacy sangat diperlukan oleh individu untuk dapat mengoptimalkan diri dan merupakan dua faktor yang mempengaruhi keberhasilan siswa. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kondisi dan hubungan antara adversity quotient dengan self-efficacy pada siswa kelas XII SMA Negeri Di Kota Banda Aceh. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode  deskriptif dan korelasi. Populasi penelitian adalah seluruh siswa kelas XII di 6 SMA Negeri dikota Banda Aceh. Metode pengambilan sampel dilakukan menggunakan multistage random sampling yaitu untuk randominasi sampel sekolah dan menggunakan rumus slovin untuk menentukan jumlah sampel siswa. Sekolah yang menjadi sampel penelitian yaitu SMA Negeri 5 Banda Aceh, SMA Negeri 6 Banda Aceh dan SMA Negeri 12 Banda Aceh dan jumlah sampel yang dijadikan responden penelitian sebanyak 222 siswa. Hipotesis pada penelitian ini adalah adanya hubungan antara adversity quotient dan self-efficacy. Alat pengumpulan data yang digunakan adalah skala adversity quotient dan skala self-efficacy dalam bentuk skala likert. Hasil penelitian menunjukkan adversity quotient siswa dominan berada pada katagori sedang dan tingkat self-efficacy siswa juga dominan berada pada katagori sedang. Hasil penelitian juga menunjukkan adanya hubungan yang signifikan positif antara  adversity quotient dan self-efficacy dengan koefisien r = 0,666 dan p =  0,000. Artinya semakin tinggi adversity quotient maka semakin tinggi  self-efficacy siswa. Begitupun sebaliknya, apabila adversity quotient rendah maka self-efficacy siswa juga ikut rendah.Kata kunci : Adversity Quotient, Self-Efficacy, Siswa SMA
ANALISIS FAKTOR-FAKTOR PENYEBAB TERJADINYA PERGAULAN BEBAS PADA REMAJA DI KOTA BANDA ACEH Hafri Khaidir Anwar; Martunis Martunis; Fajriani Fajriani
JIMBK: Jurnal Ilmiah Mahasiswa Bimbingan & Konseling Vol 4, No 2 (2019): Juni 2019
Publisher : Program Studi Bimbingan dan Konseling, FKIP Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract: Free association is an increasingly alarming case, especially for adolescents who have been entangled with deviant behaviors that are not in accordance with religious values / norms, customs and rules that apply in society. This study aims to determine the causes of the occurrence of promiscuity in the city of Banda Aceh. This research includes descriptive research using a qualitative approach. The subjects of this study were teenagers in the Banda Aceh City area. Data collection techniques are interviews. While the data analysis technique is done in three steps, namely data reduction, data display and verification. The results of the study show that matters related to free association conducted by young people in Banda Aceh City include (1) coming home / late at night; (2) Associating with the opposite sex without any limitations; (3) Bullying; (4) Misuse of the internet, namely accessing pornographic content; (5) Looks not in accordance with age; (6) Violating school rules, namely skipping school, not doing homework / school assignments, not attending teaching and learning activities at certain learning hours, and not attending ceremonies. The causes of the occurrence of promiscuity in adolescents are; (1) Low self control; (2) Low self-awareness of adolescents about the dangers of promiscuity; (3) Religious values tend to be lacking; (4) Poor lifestyle; (5) Low level of family education; (6) Poor harmonious family environment; (7) Lack of attention from parents; (8) Peer influence; and (9) Effects of the Internet.Keywords: Causes, promiscuity, adolescence  Abstrak: Pergaulan bebas merupakan suatu kasus yang semakin mengkhawatirkan terutama bagi remaja yang telah terjerat dengan perilaku-perilaku menyimpang yang tidak sesuai dengan nilai/norma agama, adat istiadat serta kaidah-kaidah yang berlaku di masyarakat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor penyebab terjadinya pergaulan bebas di Kota Banda Aceh. Penelitian ini termasuk penelitian deskriptif dengan menggunakan pendekatan kualitatif. Subjek penelitian ini adalah para remaja dalam wilayah Kota Banda Aceh. Teknik pengumpulan data adalah wawancara. Sedangkan teknik analisis data dilakukan dengan tiga langkah, yaitu reduksi data, display data dan verifikasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hal-hal terkait pergaulan bebas yang dilakukan remaja Kota Banda Aceh meliputi (1) Keluar/pulang ke rumah larut malam; (2) Bergaul dengan lawan jenis tanpa adanya batasan; (3) Bullying; (4) Penyalahgunaan internet yakni mengakses konten pornografi; (5) Berpenampilan tidak sesuai dengan umur; (6) Melanggar aturan sekolah yakni bolos sekolah, tidak mengerjakan PR/tugas sekolah, tidak mengikuti kegiatan belajar mengajar pada jam pembelajaran tertentu, dan tidak mengikuti upacara. Adapun faktor penyebab terjadinya pergaulan bebas pada remaja yaitu ; (1) Rendahnya kontrol diri; (2) Rendahnya kesadaran diri remaja terhadap bahaya pergaulan bebas; (3) Nilai-nilai keagamaan cenderung kurang; (4) Gaya hidup yang kurang baik; (5) Rendahnya taraf pendidikan keluarga; (6) Keadaan lingkungan keluarga yang kurang harmonis; (7) Minimnya perhatian orang tua; (8) Pengaruh teman sebaya; dan (9) Pengaruh Internet.Kata Kunci : Faktor Penyebab, Pergaulan Bebas, Remaja.
PELAKSANAAN LAYANAN BIMBINGAN DAN KONSELING DI SMP NEGERI INKLUSIF KOTA BANDA ACEH Nirwana Ulfha; Martunis Yahya; Khairiah Asfaruddin
JIMBK: Jurnal Ilmiah Mahasiswa Bimbingan & Konseling Vol 3, No 4 (2018): Desember 2018
Publisher : Program Studi Bimbingan dan Konseling, FKIP Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Nirwana Ulfha, Pelaksanaan Layanan Bimbingan dan Konseling  di SMP Negeri Inklusif Kota Banda Aceh. Skripsi, Jurusan Bimbingan dan Konseling, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Syiah Kuala. Pembimbing:(1)   Drs.Martunis, M.Si (2) Khairiah, S.Pd,M.Ed. Kata Kunci: Layanan BK, Inklusif Bimbingan dan konseling merupakan suatu proses bantuan yang diberikan  konselor  kepada seluruh siswa termasuk ABK. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui Pelaksanaan layanan bimbingan dan konseling di SMP Negeri Inklusif Kota Banda Aceh serta hambatan yang di hadapi dalam proses pelaksanaan layanan. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif. Subjek penelitian adalah Guru BK di SMP Negeri 4, 10, dan 18 Banda Aceh sebanyak 3 orang. Sedangkan Objek penelitian adalah layanan yang dilaksanakan di SMP Negeri Inklusif Kota Banda Aceh. Pengumpulan data dilakukan menggunakan metode wawancara, dokumentasi dan observasi. Hasil analisis deskriptif data menunjukkan pelaksanaan program BK di sekolah inklusif masih belum berjalan maksimal, dimana pelayanan yang diberikan guru BK masih sama dengan siswa reguler karena guru BK tidak mendapatkan kesempatan untuk mengikuti pelatihan khusus tentang menangani ABK, namun dari segi perencanaan program BK di sekolah inklusif sudah memenuhi prosedur, dalam hal penyusunan program BK di sekolah inklusif juga belum berjalan baik, implementasi program BK di sekolah inklusif kurang maksimal, kemudian evaluasi program BK di sekolah inklusif juga belum optimal. Simpulan dari penelitian ini bahwa pelaksanaan layanan BK di sekolah inklusif di Banda Aceh belum berjalan maksimal. Saran yang diberikan kepada kepala sekolah melalui Kepala Dinas Pendidikan untuk dapat meningkatkan kapasitas guru BK dalam bidang pelayanan BK khusunya bagi ABK yang bersekolah di sekolah tersebut dengan menyediakan tenaga ABK yang mempunyai keterampiln untuk melaksanakan layanan BK tersebut, dengan bekerja sama dengan jurusan BK  yang mempunyai konsentrasi tentang ilmu tersebut. Bagi guru BK diharapkan untuk meningkatkan kemampuan berkomunikasi dengan ABK agar seluruh siswa dapat tertangani dengan baik dengan cara mengikuti pelatihan dan workshop pendidikan inklusif.
Efektifitas Layanan Mediasi dalam Mengatasi Konflik antar Siswa di SMAN 1 dengan SMKN 2 Langsa Rizka Az-Zahra; Martunis Martunis; Dahliana Abd
JIMBK: Jurnal Ilmiah Mahasiswa Bimbingan & Konseling Vol 4, No 4 (2019): Desember 2019
Publisher : Program Studi Bimbingan dan Konseling, FKIP Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAKKonflik antar siswa merupakan hal yang tidak dapat dihindari dalam hubungan pertemanan siswa. Konflik dapat terjadi akibat beberapa faktor yaitu, adanya perselisihan, pertentangan dan sikap saling menjatuhkan dalam mencapai tujuan. Bentuk konflik berbeda-beda, mulai konflik kecil yang melibatkan individu dengan individu hingga konflik besar yang melibatkan kelompok. Layanan mediasi adalah salah satu layanan yang bertujuan untuk membangun kembali hubungan baik antar siswa yang berkonflik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor penyebab konflik antar siswa SMKN 2 dengan SMAN 1 Langsa, strategi layanan mediasi yang dilakukan oleh sekolah dan efektifitas dari layanan mediasi yang telah dilakukan sekolah dalam mengatasi konflik. Penelitian ini dilakukan melalui pendekatan deskriptif kualitatif dengan menggunakan instrumen wawancara dan dokumentasi. Subjek penelitian ini adalah Kepala Sekolah dan guru BK di SMAN 1 dan SMKN 2 Langsa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konflik antar siswa kedua sekolah  disebabkan adanya siswi SMAN 1 Langsa yang di ganggu oleh siswa SMKN 2 Langsa saat menonton pertandingan bola, ketidakpuasan siswa dalam menerima hasil pertandingan, adanya saling ejek-mengejek antar siswa, dan adanya provokasi yang memancing emosi siswa. Strategi layanan mediasi dilakukan sesuai tahap yaitu perencanaan, pelaksanaan, evaluasi, analisis hasil evaluasi, dan tindak lanjut. Hasil layanan mediasi yang dilakukan sekolah menunjukkan adanya kesadaran siswa, adanya sikap perdamaian, terjalinnya kembali hubungan yang harmonis antar dua sekolah. Layanan mediasi yang dilakukan sekolah dapat dikatakan efektif, karena strategi layanan disesuaikan dengan kearifan lokal seperti, peusijuek, ganti rugi kerusakan fasilitas sekolah dan biaya pengobatan siswa.Kata kunci: Efektifitas, Layanan Mediasi, Konflik 
HUBUNGAN REGULASI DIRI DENGAN KECEMASAN AKADEMIS PADA SISWA SMA NEGERI 1 BANDA ACEH Iqbal Nugraha; Nurhasanah Nurhasanah; qurrata a'yuna
JIMBK: Jurnal Ilmiah Mahasiswa Bimbingan & Konseling Vol 3, No 2 (2018): Juni 2018
Publisher : Program Studi Bimbingan dan Konseling, FKIP Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK Penelitian ini berjudul “Hubungan Regulasi Diri dengan Kecemasan Akademis pada Siswa SMA Negeri 1 Banda Aceh”. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran regulasi diri, kecemasan akademis dan hubungan antara kedua variabel tersebut pada siswa kelas XI SMA Negeri 1 Banda Aceh yang berjumlah 199 orang. Adapun yang menjadi sampel yaitu 133 siswa. Jenis penelitian adalah deskriptif korelasional dengan pendekatan kuantitatif dan teknik pengumpulan data melalui angket skala psikologi (Likert). Teknik analisis data menggunakan deskriptif persentase dan korelasi. Hasil analisis deskriptif data menunjukkan bahwa gambaran regulasi diri siswa berada pada kategori tinggi. Hal tersebut terlihat dari jumlah frekuensi jawaban dimana pada umumnya siswa yaitu 113 orang atau sebesar 85,0% berada dalam kategori tinggi. Gambaran kecemasan akademis siswa termasuk kategori sedang. Hal tersebut terlihat dari jumlah frekuensi jawaban sebagian besar siswa yaitu 102 orang atau sebesar 76,7% berada dalam kategori sedang. Berdasarkan hasil penelitian terdapat hubungan antara regulasi diri dengan kecemasan akademis pada siswa dengan nilai r hitung r tabel yaitu -0,753 0,1703 pada alpha 0,05. Artinya, regulasi diri mempunyai hubungan yang kuat, signifikan dan tidak searah dengan kecemasan akademis siswa, sehingga hipotesis Ha diterima. Dengan kata lain, semakin tinggi regulasi diri pada siswa, maka akan semakin rendah kecemasan akademisnya. Kata kunci: Regulasi Diri - Kecemasan Akademis – Siswa
MOTIVASI PERILAKU PROSOSIAL PADA RELAWAN KOMUNITAS TAMAN EDUKASI PEMULUNG DI KAMPUNG JAWA KOTA BANDA ACEH Sarah Fhonna; Said Nurdin; Martunis Martunis
JIMBK: Jurnal Ilmiah Mahasiswa Bimbingan & Konseling Vol 4, No 2 (2019): Juni 2019
Publisher : Program Studi Bimbingan dan Konseling, FKIP Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Perilaku prososial adalah segala perilaku menolong orang lain tanpa mengharapkan imbalan, meskipun beresiko bagi si penolong. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui motivasi perilaku prososial pada relawan Komunitas Taman Edukasi Pemulung serta faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku prososial. Jenis penelitian ini yaitu penelitian kualitatif dengan pendekatan deskriptif. Subyek penelitian berjumlah empat orang relawan. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui wawancara, observasi dan studi dokumentasi. Hasil penelitian yang diperoleh adalah relawan memiliki motivasi intrinsik yang dominan yaitu keinginan dari hati nurani sendiri untuk membantu adik-adik pemulung dalam belajar, melihat antusias mereka untuk belajar dan menyambut dengan hangat para relawan  yang datang untuk merubah nasib dengan kegiatan pendidikan dan pengajaran. Selain itu keinginan untuk melakukan sesuatu kegiatan yang berbeda dari yang biasaya dan untuk mendapatkan pahala dari Allah. Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku prososial yaitu (1) memiliki karakteristik dengan kepribadian yang dididik dan diajarkan oleh orang tua untuk menjadi orang yang memiliki jiwa sosial tinggi (2) peduli dengan orang-orang yang membutuhkan perhatian dan bantuan dari orang sekitar dan (3) kondisi tempat yang strategis dan sangat tepat adanya Taman Edukasi Pemulung karena sebagain besar dari masyarakatnya merupakan pemulung dan memiliki anak yang masih wajib untuk mendapatkan pendidikan. Simpulan dari penelitian ini yaitu motivasi intrinsik yang lebih dominan pada relawan dalam berperilaku prososial.Kata Kunci: Motivasi, Perilaku Prososial, Relawan
GEJALA AWAL PERILAKU ANTISOSIAL TERHADAP SISWA DI SMP NEGERI 2 KUTA BARO KOTA ACEH BESAR Liza Refiza; said nurdin; nurbaity bustamam
JIMBK: Jurnal Ilmiah Mahasiswa Bimbingan & Konseling Vol 4, No 3 (2019): September 2019
Publisher : Program Studi Bimbingan dan Konseling, FKIP Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Perilaku antisosial merupakan sebuah tingkah laku yang menimbulkan keresahan dikalangan masyarakat, karena sifatnya yang secara langsung maupun tidak langsung sangat mengganggu ketentraman hidup bermasyarakat.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahu perilaku Antisosial remaja serta mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku antisosial pada remaja di SMP Negeri 2 Kuta Baro Aceh Besar. Subjek penelitian berjumlah lima orang remaja yang berperilaku antisosial. Sedangkan Objek penelitian adalah perilaku antisosial pada remaja di SMP Negeri 2 Kuta Baro Aceh Besar.Teknik pengumpulan data dilakukan melalui wawancara, dan observasi.Hasil penelitian yang diperoleh adalah pada umumnya remaja tersebut secara keseluruhan memiliki perilaku antisosial, hal tersebut di lihat dari sikap yang mereka tunjukkan di sekolah yakni, membolos, membangkang, tidak mentaati disiplin serta merugikan masyarakat di sekitar lingkungan mereka. Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku antisosial yaitu (1) Faktor keluarga kurangnya kasih sayang orang tua, penerapan pola asuh yang salah, dan lingkungan tumbuh kembang yang tidak kondusif akan menyebabkan anak lebih banyak melihat prilaku antisosial dalam kesehariannya (2) Faktor teman sebaya lingkungan teman sebaya merupakan suatu kelompok baru yang memiliki ciri, norma, kebiasaan yang jauh berbeda dengan apa yang ada di lingkungan rumah. Bahkan apabila kelompok tersebut melakukan penyimpangan, maka remaja juga akan menyesuaikan dirinya dengan norma kelompok. Saran yang diberikan kepada guru bimbingan dan konseling agar dapat memprogramkan dan melatih peserta didik dengan melaksanakan pelayanan bimbingan dan konseling  sesuai dengan kurikulum yaitu untuk mengatasi permasalahan-permasalahan  yang terjadi pada peserta didik, terutama pada peserta didik yang dikategorikan memiliki masalah perilaku antisosial.

Page 9 of 21 | Total Record : 206