cover
Contact Name
Elida Zairina
Contact Email
elida-z@ff.unair.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
jfiki@ff.unair.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kota surabaya,
Jawa timur
INDONESIA
JURNAL FARMASI DAN ILMU KEFARMASIAN INDONESIA
Published by Universitas Airlangga
ISSN : 24069388     EISSN : 25808303     DOI : -
Jurnal ini adalah jurnal peer-review nasional, yang diterbitkan dua kali dalam membahas tentang topik-topik hasil penelitian di bidang pelayanan dan praktik kefarmasian, konsultasi masyarakat, teknologi kefarmasian serta disiplin ilmu kesehatan yang terkait dengan erat. Jurnal ini memfokuskan pada area-area berikut: 1. Farmasi Klinis 2. Farmasi Komunitas 3. Farmasetika 4. Kimia Farmasi 5. Farmakognosi 6. Fitokimia
Arjuna Subject : -
Articles 259 Documents
Evaluasi Rasionalitas Penggunaan Obat Neuroprotektif pada Pasien Stroke Iskemik di Rumah Sakit Stroke Nasional Bukittinggi Dita Permatasari; Dian Ayu Juwita; Rahmi Yosmar; Julio Fajar Rahmat Illahi
JURNAL FARMASI DAN ILMU KEFARMASIAN INDONESIA Vol. 8 No. 2 (2021): JURNAL FARMASI DAN ILMU KEFARMASIAN INDONESIA
Publisher : Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20473/jfiki.v8i22021.162-167

Abstract

Pendahuluan: Stroke iskemik disebabkan oleh pembentukan trombus lokal atau emboli yang terjadi pada arteri serebral. Hal tersebut menyebabkan kurangnya aliran darah sehingga oksigen yang dibutuhkan oleh jaringan otak juga berkurang. Angka kejadian stroke iskemik mencapai 87% yang merupakan angka tertinggi dari seluruh kasus stroke lainnya. Obat neuroprotektif termasuk salah satu terapi yang ditujukan untuk mengurangi kerusakan saraf yang disebabkan oleh serangan stroke iskemik. Tujuan: Tujuan penelitian ini untuk mengetahui karakteristik demografi pasien stroke iskemik, pola penggunaan obat dan rasionalitas obat neuroprotektif pada pasien stroke iskemik. Metode: Metode penelitian ini adalah observasional yang diambil dari data rekam medik instalasi rawat inap (n = 280) tahun 2019 secara retrospektif. Data yang diperolah akan dibandingkan terhadap standar pengobatan yang telah ditetapkan. Hasil: Hasil penelitian menunjukan bahwa pasien stroke iskemik terbanyak yaitu laki-laki sebesar 63,2% dengan rentang usia 55 - 64 tahun sebesar 39%. Persentase tertinggi dari status pendidikan terakhir yaitu SLTA mencapai 47,1%. diikuti dengan status pekerjaan terbanyak yaitu IRT sebesar 28,2%. Penggunaan obat neuroprotektif paling banyak digunakan adalah sitikolin sebesar 53,2% dengan rute pemberian secara intravena mencapai 51,8%. Evaluasi rasionalitas penggunaan obat neuroprotektif pada rumah sakit tersebut antara lain, tepat indikasi 100%, tepat pasien 99,3%, tepat obat 100%, tepat dosis 97,9%, dan tepat frekuensi pemberian obat 99,3%. Kesimpulan: Kejadian terapi tidak rasional masih ditemukan pada 8 orang pasien tersebar pada indikator tepat pasien, tepat dosis dan tepat frekuensi pemberian obat.
The Potential of Acetylfuran and Furfural from Tamarindus indica as Lipoxygenase Inhibitor: In Silico Study Apriani Herni Rophi; Yohanes Bare; Dewi Ratih Tirto Sari
JURNAL FARMASI DAN ILMU KEFARMASIAN INDONESIA Vol. 8 No. 2 (2021): JURNAL FARMASI DAN ILMU KEFARMASIAN INDONESIA
Publisher : Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20473/jfiki.v8i22021.139-142

Abstract

Background: Tamarindus indica is a type of plant sub-family Caesalpinioideae, which is predicted to have anti-inflammatory properties. When inflammation occurs, arachidonic acid will undergo metabolism, the LOX pathway will release 5-lipoxygenase (5-LOX). Objective: This study aimed to analyze the potential of acetylfuran and furfural compounds on LOX action. Methods: The compound Acetylfuran (CID 14505), Furfural (CID 7362) were downloaded from the PubChem database. The 5-LOX protein was obtained from PDB (6N2W), preparation by removing ligands and molecules that bind to Discovery Studio V19.1.0.18287. Compound and protein interactions have interacted with the Vina autodock software integrated into the PyRX software and analyzed by Discovery Studio V19.1.0.18287. Results: The results showed that the content of Acetylfuran and Furfural compounds in Tamarindus indica is predicted to have the potential as an inhibitor of the LOX gene on different amino acid residues, namely 3 amino acid residues and 4 amino acid residues, respectively and produce binding energy. In addition, van der Waals forces, hydrogen and hydrophobic bonds were found, giving the strength of the bonds formed. Conclusion:  Bioactive acetylfuran and furfural have the potential as a drug to curve inflammation in the human body.
Optimasi Aristoflex®ï¸ AVC dan Propilen Glikol Gel Tabir Surya Rimpang Kunyit dengan Metode Desain Faktorial Arsiaty Sumule; Gunawan Pamudji; Endang Diyah Ikasari
JURNAL FARMASI DAN ILMU KEFARMASIAN INDONESIA Vol. 8 No. 2 (2021): JURNAL FARMASI DAN ILMU KEFARMASIAN INDONESIA
Publisher : Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20473/jfiki.v8i22021.168-177

Abstract

Pendahuluan: Kunyit (Curcuma domestica) mengandung kurkumin yang cocok digunakan sebagai pelindung kulit dari sinar ultraviolet (UV). Produk tabir surya topikal perlu dikembangkan, salah satunya gel, sediaan paling stabil dan tidak menunjukkan pemisahan fase. Optimasi lebih menguntungkan dibandingkan metode trial and error dari segi biaya, waktu, dan keakuratan hasil. Tujuan: Mengetahui pengaruh kombinasi Aristoflex® AVC dan propilen glikol pada sifat fisik gel ekstrak rimpang kunyit, mengetahui formula gel ekstrak rimpang kunyit yang optimum, dan mengetahui pengaruh kombinasi Aristoflex® AVC dan propilen glikol pada nilai SPF dari sediaan gel ekstrak rimpang kunyit. Metode: Gel dibuat empat formula dengan komposisi Aristoflex® AVC 1% dan 3% dan propilen glikol 5% dan 10%. Parameter yang digunakan meliputi daya sebar, daya lekat, viskositas, dan nilai SPF yang dihitung secara in vitro menggunakan spektrofotometri. Hasil uji dioptimasi dengan metode desain faktorial menggunakan Design Expert 7.1.5. Hasil: Kombinasi Aristoflex® AVC dan propilen glikol berpengaruh terhadap daya sebar, daya lekat, viskositas dan nilai SPF yang dihasilkan. Hasil penelitian menunjukkan formula optimum gel ekstrak rimpang kunyit pada kombinasi Aristoflex® AVC dan propilen glikol masing-masing 1,68% dan 9,87% sehingga diperoleh nilai daya sebar 5,1 cm, daya lekat 2,018 detik, viskositas 110,008 dPas, dan nilai SPF 11,935. Kesimpulan: Kombinasi Aristoflex® AVC dan propilen glikol memberikan pengaruh pada daya sebar, daya lekat, viskositas, dan nilai SPF sediaan gel ekstrak rimpang kunyit. Proporsi Aristoflex® AVC 1,68% dan propilen glikol 9,87% merupakan formula optimum gel ekstrak rimpang kunyit.
Evaluasi Mutu Pelayanan Kefarmasian di Puskesmas Seluruh Kota Kendari Sunandar Ihsan; Nuralifah Nuralifah; Asriulah Jabar; Sabarudin Sabarudin; Fitriani Sonaru; Rahmat Ramadhan
JURNAL FARMASI DAN ILMU KEFARMASIAN INDONESIA Vol. 8 No. 2 (2021): JURNAL FARMASI DAN ILMU KEFARMASIAN INDONESIA
Publisher : Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20473/jfiki.v8i22021.107-116

Abstract

Pendahuluan: Tujuan evaluasi mutu pelayanan adalah untuk mengevaluasi seluruh rangkaian kegiatan pelayanan kefarmasian dan sebagai dasar perbaikan pelayanan kefarmasian selanjutnya sehingga meningkatkan kualitas hidup pasien. Tujuan: Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui mutu pelayanan kefarmasian di seluruh Puskesmas di Kota Kendari berdasarkan permenkes nomor 74 tahun 2016. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian observasional yang bersifat deksriptif menggunakan desain cross sectional. Mutu pelayanan yang diukur adalah kepuasan pasien, dimensi waktu pelayanan dan ketersediaan serta pelaksanaan Standar Operational Procedure/SOP. Instrumen yang digunakan adalah kuesioner kepuasan pasien, pedoman wawancara dan lembar observasi. Parameter penilaian mutu pelayanan kefarmasian di Puskesmas yang digunakan adalah Permenkes no. 44 tahun 2016 tentang pedoman manajemen mutu di Puskesmas, dengan kategori baik yaitu > 8,5, cukup 5,5 – 8,4, dan kategori kurang yaitu < 5,5 yang didapat dari nilai rata-rata empat skala nilai. Hasil: Tingkat kepuasan pasien didapatkan 79,51% kategori cukup (skala nilai = 7), sedangkan untuk dimensi waktu pelayanan obat yaitu 80% puskesmas telah menetapkan waktu pelayanan baik obat racikan maupun non racikan dengan skala nilai 7. Hanya 59,04% (skala nilai 7) puskesmas yang menerapkan standar prosedur pelayanan (SOP) minimal sesuai permenkes RI nomor. 74 tahun 2016. Dalam pelaksanaan pelayanan kefarmasian oleh farmasis didapatkan 43,65% pada skala nilai 4. Kesimpulan: Secara keseluruhan rata-rata nilai mutu pelayanan kefarmasian seluruh Puskesmas di Kota Kendari adalah 6,25 atau kategori cukup.
Perbandingan Metode Sintesis Senyawa 1-benzil-3-(4-etil-benzoil)urea dan 1-benzil-3-(4-klorometil-benzoil)urea sebagai Calon Obat Antikanker Farida Suhud; Daryono Hadi Tjahjono; Tegar Achsendo Yuniarta; Galih Satrio Putra; Melanny Ika Sulistyowaty
JURNAL FARMASI DAN ILMU KEFARMASIAN INDONESIA Vol. 8 No. 3 (2021): JURNAL FARMASI DAN ILMU KEFARMASIAN INDONESIA
Publisher : Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20473/jfiki.v8i32021.277-283

Abstract

Pendahuluan: Pengembangkan obat antikanker yang selektif dari turunan hidroksiurea masih diteliti sampai saat ini. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan metode sintesis senyawa turunan hidroksiurea yaitu 1-benzil-3-(4-etil-benzoil)urea dan 1-benzil-3-(4-klorometil-benzoil)urea. Metode: Optimasi metode sintesis yang dilakukan dengan membandingkan produk hasil sintesis dengan pemanasan refluks dan tanpa pemasanan refluk. Produk yang didapat dilakukan analisis elusidatif meliputi FTIR, 1H-NMR dan 13C-NMR. Hasil: berdasarkan hasil perbandingan metode sintesis menggunakan refluks menyebabkan terbentuknya dua produk samping sehingga perlu dilakukan pemisahan dengan kromatograsi kolom antara produk utama dengan dua produk sampingnya. Metode tanpa pemasanan lebih dipilih karena tidak menghasilkan dua produk hasil samping walaupun rendemen masih dalam rentang 20-30%. Kesimpulan: Metode sintesis senyawa turunan 1-benzil-3-benzoilurea lebih direkomendasikan tanpa pemasanan daripada menggunakan pemanasan refluks, tetapi penelitian kedepannya harus didapatkan metode yang lebih baik untuk mendapatkan rendemen yang lebih besar.
The Effect of Serotonin-Norepinephrine Reuptake Inhibitor Milnacipran on Anxiety-like Behaviors in Diabetic Mice Tuhfatul Ulya; Chrismawan Ardianto; Mahardian Rahmadi; Dewi Wara Shinta; Junaidi Khotib
JURNAL FARMASI DAN ILMU KEFARMASIAN INDONESIA Vol. 8 No. 3 (2021): JURNAL FARMASI DAN ILMU KEFARMASIAN INDONESIA
Publisher : Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20473/jfiki.v8i32021.200-206

Abstract

Background: Diabetes mellitus is a chronic disease that causes neuronal plasticity and increased hypothalamic pituitary adrenal (HPA) axis of stress disorders. The change in metabolism is reportedly associated with inadequate response to antianxiety and antidepressant agents. Objective: This study aimed to determine the effect of milnacipran antidepressants on anxiety-like behavior in mice with diabetes mellitus. Methods: Male ICR mice were divided into naive, stress, diabetes mellitus (DM), DM + stress groups to measure anxiety-like behavior. Diabetes mellitus was induced using alloxan, and electric footshock stress was used as a stressor for 14 consecutive days. Anxiety-like behavior was measured using the light-dark box (LDB) and elevated plus maze (EPM) test at days 0, 7 and 14. The antidepressant milnacipran (MIL) was given for 7 days, on days 8 to 14. On day 14, evaluation of anxiety-like behavior after administration of MIL was carried out in all groups using LDB and EPM tests. Results: The results showed that administration of milnacipran effectively ameliorated anxiety-like behavior in the non-DM, but not in the DM group, using the LDB test. A similar result was demonstrated in the EPM test showing the non-DM group's attenuation after milnacipran administration. Conclusion: The present results indicate that there is an inadequate attenuation of the anxiety-like behavior after treatment with milnacipran in diabetes conditions.
Pengetahuan dan Ketepatan Apoteker dalam Pemusnahan Obat Sisa, Obat Rusak dan Obat Kadaluarsa di Apotek Malang Raya Hananditia Rachma Pramestutie; Ratna Kurnia Illahi; Ayuk Lawuningtyas Hariadini; Tamara Gusti Ebtavanny; Malyda Savira
JURNAL FARMASI DAN ILMU KEFARMASIAN INDONESIA Vol. 8 No. 3 (2021): JURNAL FARMASI DAN ILMU KEFARMASIAN INDONESIA
Publisher : Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20473/jfiki.v8i32021.250-258

Abstract

Pendahuluan: Apoteker mempunyai peranan dalam pemusnahan obat diantaranya adalah melakukan pemusnahan obat dengan tepat di pelayanan kefarmasian dan mengedukasi masyarakat terkait dengan pemusnahan obat yang benar. Pemusnahan obat yang dilakukan dengan metode yang tidak tepat dapat menimbulkan kerusakan lingkungan serta kerugian klinis bagi masyarakat. Apoteker diharapkan memiliki pengetahuan yang baik dan tepat dalam melakukan pemusnahan obat dan mengedukasi masyarakat terkait pemusnahan obat. Tujuan: Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara tingkat pengetahuan apoteker dengan ketepatan pemusnahan obat sisa, obat rusak dan obat kedaluarsa di apotek Malang Raya. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian observasional analitik dengan rancangan cross-sectional. Sampel penelitian adalah Apoteker di Apotek Malang Raya yang dipilih dengan menggunakan tehnik convenient sampling. Sampel yang digunakan yakni sebanyak 106 responden. Terdapat 2 macam kuesioner yaitu kuesioner pengetahuan dan ketepatan Apoteker dalam memusnahkan obat sisa, obat rusak dan obat kadularsa yang digunakan dalam penelitian ini. Uji korelasi yang digunakan dalam penelitioan ini adalah uji Rank Spearman. Hasil: Dari 106 responden, 59% responden memiliki kategori tingkat pengetahuan "baik” dan 10% responden dikatakan "tepat” dalam pemusnahan obat. Dari uji korelasi diketahui bahwa tidak terdapat hubungan signifikan antara tingkat pengetahuan dan ketepatan Apoteker dalam pemusnahan obat (p = 0,522). Kesimpulan: Sebagian besar apoteker yang berpraktik di apotek wilayah Malang Raya memiliki pengetahuan baik mengenai pemusnahan obat sisa, obat rusak dan obat kedaluwarsa. Meskipun demikian, sebagian besar apoteker masih tidak tepat dalam memusnahkan obat sisa, rusak, dan kedaluwarsa, sehingga hasil uji korelasi antara pengetahuan dan ketepatan tersebut tidak berhubungan secara signifikan.
Comparative Analysis of Actual Cost and INA CBG Rate in Diabetic Gangrene Inpatients Diajeng Putri Kinanti; Umi Athiyah; Yunita Nita; Muhammad Noor Diansyah
JURNAL FARMASI DAN ILMU KEFARMASIAN INDONESIA Vol. 8 No. 3 (2021): JURNAL FARMASI DAN ILMU KEFARMASIAN INDONESIA
Publisher : Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20473/jfiki.v8i32021.284-292

Abstract

Background: Diabetic gangrene is a complication of diabetes mellitus that imposes a substantial financial burden on patients and their families as well as the health care system. Objective: To determine the total cost of disease, and the difference between real cost and INA CBG rate for diabetic gangrene inpatients from January - December 2017 at Universitas Airlangga Hospital, Surabaya Methods: The study was conducted retrospectively by using a total sampling method. The perspective used was the hospital perspective. This study's direct medical costs were laboratory, drug and consumable medical device costs, medical equipment rental, radiology examination, red cross, oxygen, service, and room costs. Data analysis was performed using an independent samples t-test. Results: The results showed that 148 patients met the inclusion criteria. The total real cost of diabetic gangrene inpatients at Universitas Airlangga Hospital in 2017 was IDR 1,339,949,381, and the total INA CBG rate for inpatients with diabetic gangrene was IDR 1,365,047,500. The difference was (p = 0.000) between real cost and INA CBG rate. Conclusion: There is a difference between the actual cost and the INA CBG rate for diabetic gangrene inpatients.
Evaluasi Penggunaan Antibiotik pada Pasien Sepsis Neonatus di Rumah Sakit X Purwakarta Rani Hendiyani; Wawaimuli Arozal; Hesty Utami Ramadaniati
JURNAL FARMASI DAN ILMU KEFARMASIAN INDONESIA Vol. 8 No. 3 (2021): JURNAL FARMASI DAN ILMU KEFARMASIAN INDONESIA
Publisher : Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20473/jfiki.v8i32021.217-226

Abstract

Pendahuluan: Angka morbiditas dan mortalitas yang tinggi pada neonatus disebabkan oleh sepsis. Bakteri sebagai salah satu penyebabnya sehingga antibiotik menjadi salah satu terapi empiris. Penggunaan antibiotik yang tidak rasional dapat menyebabkan bakteri menjadi resisten sehingga tujuan terapi tidak optimal. Tujuan: Penelitian ini bertujuan mengevaluasi antibiotik yang digunakan oleh pasien sepsis neonatus baik dilihat dari kualitas (metode Gyssens) maupun kuantitas (metode Defined Daily Dose) serta untuk mengetahui hubungan antara rasionalitas obat dengan lama rawat menggunakan uji korelasi Rank Spearman. Metode: Penelitian observasional berdesain potong lintang yang di analisis secara deskriptif analitik. Pengumpulan data pasien secara Prospektif dari bulan Mei - Juli 2019 diperoleh 69 rekam medis yang memenuhi kriteria inklusi. Hasil: Dari hasil evaluasi kualitas antibiotik diperoleh penggunaan antibiotik tepat sebanyak 26 pasien (37,7%) dan tidak tepat sebanyak 43 pasien meliputi 56,5%  dosis pemberian antibiotik tidak tepat, 4,3% karena terdapat antibiotik lain yang lebih efektif dan 1,4% adanya pemberian antibiotik terlalu lama sedangkan kuantitas penggunaan antibiotik diperoleh total 12,9 DDD/100 pasien-hari meliputi Ampisilin-sulbaktam 3,25 DDD/100 pasien-hari, Sefoperazone-sulbaktam 4 DDD/100 pasien-hari, Meropenem 2,42 DDD/100 pasien-hari sedangkan nilai DDD yang melebihi nilai standar WHO yaitu Gentamisin 1,94 DDD/100 pasien-hari dan Amikasin 12,9 DDD/100 pasien-hari meliputi Ampicilin-Sulbaktam (3,25), Cefoperazone Sulbaktam (4), Meropenem (2,42) sedangkan nilai DDD yang melebihi nilai standar WHO yaitu gentamicin (1,94) dan Amikasin (1,29). Hasil korelasi diperoleh nilai r = 0,223 (P ≥ 0,05) yang artinya korelasi rendah bahwa tidak menunjukkan adanya hubungan antara rasional obat dengan lama rawat. Kesimpulannya: Penggunaan antibiotik yang tidak tepat masih ada dengan kuantitas melebihi standar WHO.
In Vitro Antimalarial Activity and Toxicity of Helianthus annuus L. Leaf Extract against Plasmodium falciparum Nuriha Marangoh; Suciati Suciati; Wiwied Ekasari
JURNAL FARMASI DAN ILMU KEFARMASIAN INDONESIA Vol. 8 No. 3 (2021): JURNAL FARMASI DAN ILMU KEFARMASIAN INDONESIA
Publisher : Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20473/jfiki.v8i32021.259-263

Abstract

Background: Malaria is one of the public health problems in Indonesia. The morbidity rate is still quite high, especially in the eastern part of Indonesia. Objective: This study aimed to determine the inhibitory activity of the leaf extracts of Helianthus annuus L. against Plasmodium falciparum strain 3D7 as well as the cytotoxicity of the extracts. Methods: The leaves of H. annuus were extracted by the maceration method with n-hexane, chloroform, and ethanol 96% to increase polarity. The antimalarial assay was performed by using Trager and Jensen method, and the cytotoxicity test was carried out by the MTT method. Results: The results of antimalarial study showed that the chloroform extract had IC50 value of 0.002 µg/mL and CC50value of 138.03 µg/mL, 96% ethanol extract had an IC50 value of 0.02 µg/mL and CC50 value of 617.81 µg/mL, and n-hexane extract had an IC50 value of 1.29 µg/mL and CC50 value of 104.89 µg/mL. The selectivity index (SI) values of the chloroform, ethanolic, and n-hexane extracts were calculated and obtained 69,015.00, 30,890.50, and 81.31, respectively. Conclusion:  To conclude, the chloroform extract of H. annuus L. leaf gave strong antimalarial activity against P. falciparum strain 3D7 without any cytotoxicity; therefore, H. annuus L. leaf can be a good candidate for the development of an antimalarial drug.

Page 11 of 26 | Total Record : 259


Filter by Year

2016 2025


Filter By Issues
All Issue Vol. 12 No. 2 (2025): JURNAL FARMASI DAN ILMU KEFARMASIAN INDONESIA Vol. 12 No. 1 (2025): JURNAL FARMASI DAN ILMU KEFARMASIAN INDONESIA Vol. 11 No. 3 (2024): JURNAL FARMASI DAN ILMU KEFARMASIAN INDONESIA Vol. 11 No. 2 (2024): JURNAL FARMASI DAN ILMU KEFARMASIAN INDONESIA Vol. 11 No. 1 (2024): JURNAL FARMASI DAN ILMU KEFARMASIAN INDONESIA Vol. 10 No. 3 (2023): JURNAL FARMASI DAN ILMU KEFARMASIAN INDONESIA Vol. 10 No. 2 (2023): JURNAL FARMASI DAN ILMU KEFARMASIAN INDONESIA Vol. 10 No. 1 (2023): JURNAL FARMASI DAN ILMU KEFARMASIAN INDONESIA Vol. 9 No. 3 (2022): JURNAL FARMASI DAN ILMU KEFARMASIAN INDONESIA Vol. 9 No. 2 (2022): JURNAL FARMASI DAN ILMU KEFARMASIAN INDONESIA Vol. 9 No. 1 (2022): JURNAL FARMASI DAN ILMU KEFARMASIAN INDONESIA Vol. 8 No. 3 (2021): JURNAL FARMASI DAN ILMU KEFARMASIAN INDONESIA Vol. 8 No. 2 (2021): JURNAL FARMASI DAN ILMU KEFARMASIAN INDONESIA Vol. 8 No. 1 (2021): JURNAL FARMASI DAN ILMU KEFARMASIAN INDONESIA Vol. 7 No. 2 (2020): JURNAL FARMASI DAN ILMU KEFARMASIAN INDONESIA Vol. 7 No. 1SI (2020): Special Issue: Seminar Inovasi Teknologi dan Digitalisasi pada Pelayanan Kefa Vol. 7 No. 1 (2020): JURNAL FARMASI DAN ILMU KEFARMASIAN INDONESIA Vol. 6 No. 2 (2019): JURNAL FARMASI DAN ILMU KEFARMASIAN INDONESIA Vol. 6 No. 1 (2019): JURNAL FARMASI DAN ILMU KEFARMASIAN INDONESIA Vol. 5 No. 2 (2018): JURNAL FARMASI DAN ILMU KEFARMASIAN INDONESIA Vol. 5 No. 1 (2018): Jurnal Farmasi dan Ilmu Kefarmasian Indonesia Vol. 4 No. 2 (2017): Jurnal Farmasi dan Ilmu Kefarmasian Indonesia Vol. 4 No. 1 (2017): Jurnal Farmasi dan Ilmu Kefarmasian Indonesia Vol. 3 No. 2 (2016): JURNAL FARMASI DAN ILMU KEFARMASIAN INDONESIA Vol. 3 No. 1 (2016): Jurnal Farmasi dan Ilmu Kefarmasian Indonesia More Issue