cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
Sari Pediatri
ISSN : 08547823     EISSN : 23385030     DOI : -
Core Subject : Health,
Arjuna Subject : -
Articles 10 Documents
Search results for , issue "Vol 27, No 6 (2026)" : 10 Documents clear
Dampak Screen Time terhadap Perkembangan Sosioemosional Anak Karambe, Yunita Astari; Anggrahini, Simplicia Maria; Nalley, Samuel Willem
Sari Pediatri Vol 27, No 6 (2026)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp27.6.2026.435-42

Abstract

Latar belakang. Peningkatan penggunaan perangkat digital pada anak dalam beberapa tahun terakhir telah menimbulkan kekhawatiran akan dampaknya pada perkembangan sosioemosional. Masa kanak-kanak merupakan periode kritis dalam pembentukan kemampuan sosial, regulasi emosi, dan hubungan interpersonal, sehingga paparan layar yang berlebihan berpotensi mengganggu proses tersebut. Tujuan. Meninjau dampak screen time terhadap perkembangan sosial dan emosional anak berdasarkan literatur ilmiah terkini. Metode. Penulisan menggunakan pendekatan tinjauan pustaka dengan menelaah artikel yang diterbitkan antara tahun 2020–2024 melalui PubMed, ScienceDirect, Google Scholar, The Cochrane Library, dan portal jurnal pediatrik nasional yang membahas hubungan antara durasi screen time dan fungsi sosioemosional anak. Hasil. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa screen time berlebihan berhubungan dengan peningkatan risiko gangguan emosi dan perilaku, penurunan kualitas tidur, serta masalah kesehatan mental seperti kecemasan, depresi, dan gangguan pemusatan perhatian. Sebaliknya, paparan media digital yang bersifat edukatif dan disertai pendampingan orang tua dapat mendukung perkembangan sosial, bahasa, dan kognitif anak.Kesimpulan. Dampak screen time terhadap perkembangan sosioemosional anak bersifat dua arah, bergantung pada durasi, kualitas konten, dan keterlibatan orang tua. Pembatasan screen time sesuai usia, peningkatan literasi digital keluarga, dan pola asuh suportif diperlukan untuk memaksimalkan manfaat serta meminimalkan risikonya.
Korelasi Neutrophil Gelatinase-Associated Lipocalin Urin dan Laju Filtrasi Glomerulus pada Anak dengan Penyakit Kritis di Rumah Sakit dr Zainoel Abidin Banda Aceh Agustin, Amelia Wijaya; Sovira, Nora; Edward, Eka Destianti; Haris, Syafruddin; Ismy, Jufitriani; Andid, Rusdi
Sari Pediatri Vol 27, No 6 (2026)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp27.6.2026.408-14

Abstract

Latar belakang.Penyakit kritis merupakan kondisi akut yang mengancam jiwa dan membutuhkan perawatan intensif. Deteksi dini pemeriksaan fungsi ginjal terhadap kejadian Gagal Ginjal Akut (GGA) biasanya dilihat dari penurunan mendadak Laju Filtrasi Glomerulus (LFG). Kondisi GGA dapat menyebabkan peningkatan mortalitas pada pasien kritis. Banyak biomarker dapat digunakan untuk mendeteksi GGA, termasuk Neutrophil Gelatinase-Associated Lipocalin urin (NGALu) sebagai penanda yang lebih cepat untuk mendeteksi GGA. Penelitian ini ingin mengetahui korelasi NGALu dan LFG pada anak dengan penyakit kritis.Tujuan. Mengetahui korelasi NGALu dengan LFG pada anak dengan penyakit kritis.Metode. Penelitian ini merupakan studi observasional analitik dengan pendekatan cross sectional retrospektif. Penelitian dilakukan dengan pengambilan data dari rekam medis pada anak usia 1 bulan hingga 18 tahun yang dirawat di Pediatric Intensive Care Unit sejak Agustus 2023 hingga Desember 2023 dengan jumlah sampel 40 anak yang memenuhi kriteria penelitian. Data dianalisis dengan uji korelasi Spearman.Hasil. Penelitian mengikutsertakan 40 anak dengan penyakit kritis. Didominasi oleh anak laki-laki sebanyak 28 anak (70%), dengan rentang usia 6 tahun hingga 18 tahun yaitu 26 anak (65%). Berdasarkan status gizi, anak dengan status gizi baik dan kurang memiliki presentasi yang sama, yaitu masing-masing 18 anak (45%). Adapun penyakit kritis yang mendasari adalah infeksi SSP (35%) yang didapatkan paling banyak, dengan hasil LFG yang tidak normal yaitu hiperfiltrasi pada 19 anak (47,5%) dan AKI pada 2 anak (5%), dengan lama perawatan (?8 hari) sebanyak 52,5% dan banyak luaran yang meninggal yaitu 22 anak (55%). Hasil uji korelasi Spearman menunjukkan korelasi negatif yang bermakna antara kadar NGALu terhadap nilai LFG dengan nilai p = 0,001 dan r=-0,656 pada nilai LFG normal serta r=0,029 dengan nilai p=0,55 pada nilai LFG yang tidak normal.Kesimpulan.Kadar NGALu berkorelasi dengan nilai LFG yang tidak normal pada anak dengan penyakit kritis.
Faktor Risiko Peningkatan Tekanan Darah pada Anak Sekolah Dasar: Peran Indeks Massa Tubuh dan Riwayat Hipertensi Orang Tua Riadani, Dwiarsi Sajariana; Indraswari, Braghmandita Widya; Hermawan, Kristia; Baroto, Retno Palupi
Sari Pediatri Vol 27, No 6 (2026)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp27.6.2026.383-92

Abstract

Latar belakang. Prevalensi hipertensi pada anak dan remaja mencapai 3,5%, sedangkan pada dewasa 34,7%. Anak yang memiliki riwayat hipertensi pada orang tuanya menunjukkan peningkatan risiko mengalami hipertensi primer sebelum usia 18 tahun. Skrining dini sangat penting karena prevalensi hipertensi pada anak meningkat seiring bertambahnya usia. Saat ini, belum ada upaya skrining rutin hipertensi pada anak, padahal skrining berperan penting untuk deteksi dini dan mencegah morbiditas.Tujuan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara hipertensi pada orang tua dan faktor risiko lainnya dengan peningkatan tekanan darah siswa Sekolah Dasar.Metode. Penelitian menggunakan desain observasional analitik potong lintang. Data dianalisis menggunakan Uji Chi-square, Uji Mann- Whitney dan regresi logistik.Hasil. Tidak terdapat hubungan signifikan antara hipertensi ibu (p=0,119) dan bapak (p=0,534) dengan peningkatan tekanan darah anak. Anak dengan ibu hipertensi memiliki tekanan darah sistolik lebih tinggi, yaitu 65 (55-78,3) mmHg dibandingkan anak yang ibunya tidak hipertensi, yaitu 63,5 (47-82) mmHg (p=0,039). Jumlah orang tua hipertensi (p=0,050) dan indeks massa tubuh (p=0,022) memiliki hubungan bermakna dengan peningkatan tekanan darah anak. Analisis regresi logistik menunjukkan indeks massa tubuh merupakan faktor risiko yang paling bermakna (OR=4,06; IK95%=1,29-12,77; p=0,017)Kesimpulan. Prevalensi hipertensi pada orang tua sebesar 34,6% dan prevalensi anak dengan tekanan darah tinggi sebesar 22%. Analisis multivariat menunjukkan IMT dan jumlah orang tua hipertensi memiliki hubungan bermakna.
Manifestasi Sindrom Metabolik pada Berbagai Regimen Dosis dan Durasi Terapi Steroid pada Anak dan Remaja Tjahjono, Harjoedi Adji; Labetubun, Nia Sahra; Permadi, Prasetya Ismail; Olivianto, Ery; Wibowo, Satrio
Sari Pediatri Vol 27, No 6 (2026)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp27.6.2026.371-6

Abstract

Latar belakang. Penggunaan steroid jangka panjang pada anak dengan penyakit kronis berisiko memicu efek samping metabolik serius, namun saat ini masih terdapat kesenjangan data mengenai bagaimana dosis spesifik memengaruhi komponen sindrom metabolik secara individual pada populasi pediatrik. Tujuan. Penelitian ini bertujuan menganalisis perbedaan dosis dan lama terapi steroid terhadap manifestasi klinis sindrom metabolik pada anak dan remaja, dengan fokus mengevaluasi hubungan antara dosis steroid dan lama terapi terhadap obesitas sentral, tekanan darah, kadar glukosa, serta profil lipid. Metode. Pendekatan penelitian menggunakan desain observasional analitik cross sectional pada lima puluh lima subjek anak yang menerima terapi steroid di Rumah Sakit Dokter Saiful Anwar Malang. Data dikumpulkan melalui pemeriksaan antropometri, pengukuran tekanan darah, serta uji laboratorium profil lipid dan glukosa darah puasa. Hasil. Paparan steroid dosis tinggi memiliki nilai statistik signifikan terhadap kejadian sindrom metabolik dengan nilai p sebesar 0,03. Manifestasi yang berhubungan signifikan dengan paparan dosis tinggi adalah obesitas sentral dengan nilai p sebesar 0,02. Sebaliknya, tidak ditemukan perbedaan signifikan pada parameter tekanan darah, glukosa darah, dan profil lipid antarkelompok paparan. Pemberian kombinasi terapi steroid secara intravena dan peroral juga menunjukkan hubungan bermakna terhadap manifestasi hipertrigliseridemia dengan nilai p sebesar 0,02. Kesimpulan. Terapi steroid paparan tinggi terbukti meningkatkan risiko obesitas sentral meskipun komponen metabolik lainnya belum menunjukkan perubahan bermakna. Praktisi klinis disarankan melakukan pemantauan lingkar pinggang dan antropometri lainnya secara rutin selama masa terapi steroid untuk memantau risiko sindrom metabolik.
Nilai Prediktif Indeks Imun Inflamasi Sistemik terhadap Kejadian Dengue Berat pada Anak: Sebuah Studi Kohort Retrospektif Rahmawati, Riza; Indrawanti, RR. Ratni; Pangarso, Alexandra
Sari Pediatri Vol 27, No 6 (2026)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp27.6.2026.415-22

Abstract

Latar belakang.Indonesia adalah salah satu negara endemik dengue. Pada tahun 2022, jumlah kasus dengue di Indonesia sebanyak 143.000 dengan insiden 52/100.000 penduduk, dan fatality rate 0,9%. Proporsi kasus anak sebesar 49%, sementara proporsi kematian anak mencapai 70%. Manifestasi klinis dengue sangat dipengaruhi oleh respons inflamasi sistemik, seperti rasio neutrofil-limfosit (RNL) dan indeks imun inflamasi sistemik (IIS). Nilai RNL dan IIS pada fase demam dapat digunakan untuk memprediksi dengue berat pada anak.Tujuan. Untuk mengetahui apakah RNL dan IIS dapat digunakan sebagai prediktor dengue berat pada anak.Metode. Penelitian ini merupakan studi observasional analitik dengan kohort retrospektif. Populasi penelitian adalah anak usia 1-18 tahun dengan demam dengue sejak Januari 2019 sampai Juni 2024 di RS Sardjito, Yogyakarta. Profil hematologi diambil pada demam hari ke-2 hingga ke-4. Data RNL dan IIS lalu dianalisis menggunakan kurva receiver operating characteristic (ROC) dan ditentukan titik potong dengan Youden Index, kemudian dilakukan analisis multivariat.Hasil. Didapatkan 530 pasien demam dengue dalam periode penelitian dan hanya 97 pasien yang memenuhi kriteria inklusi maupun eksklusi. Tidak ada perbedaan secara statistik untuk karakteristik jenis kelamin, obesitas, dan status infeksi sekunder pada luaran dengue berat dan dengue tidak berat. Nilai IIS <73.050,89 (p<0,05; RO 6,95; IK95% 1,97 – 24,61), usia 1-5 tahun (p<0,05; RO 5,56; IK95% 1,59 – 19,32), dan usia 6-10 tahun (p<0,05; RO 4,58; IK95% 1,54 – 13,61) merupakan prediktor dengue berat, sementara RNL (p<0,17; RO 0,40; IK 95% 0,11 – 1,48) tidak dapat dijadikan prediktor.Kesimpulan. Nilai IIS ?73.050,89, usia 1-5 tahun, dan usia 6-10 tahun merupakan prediktor kejadian demam berdarah (dengue) berat pada anak.
Faktor Risiko Determinan Gagal Napas pada Anak dengan Pneumonia Zuhaira, Zuhaira; Bakhtiar, Bakhtiar; Yusuf, Sulaiman; Safri, Mulya; Sovira, Nora; Edward, Eka Destianti
Sari Pediatri Vol 27, No 6 (2026)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp27.6.2026.401-7

Abstract

Latar belakang. Gagal napas merupakan fase lanjut dari gangguan pernapasan yang menyebabkan kegagalan paru untuk memenuhi kebutuhan oksigen dan mengeluarkan karbondioksida. Infeksi pernafasan, khususnya pneumonia merupakan penyebab paling umum gagal napas yang membutuhkan ventilasi mekanis pada anak. Tujuan. Mengetahui faktor risiko determinan gagal napas pada anak dengan pneumonia.Metode. Penelitian ini merupakan studi analitik observasional dengan pendekatan cross-sectional pada anak usia 1 bulan sampai < 18 tahun yang dirawat di ruang rawat anak dan Pediatric Intensive Care Unit (PICU) RSUD dr. Zainoel Abidin sejak 1 Januari 2022 sampai 31 Desember 2022 dengan data dari rekam medis yang memenuhi kriteria penelitian. Data dianalisis bivariat dengan uji chi square dan uji fisher dan selanjutnya dilakukan analisis multivariat dengan regresi logistik.Hasil. Total sampel dalam penelitian ini 182 pasien dengan pneumonia, 33 (18,1%) pasien mengalami gagal napas. Faktor risiko determinan gagal napas pada anak dengan pneumonia adalah sepsis (p=0,000) dengan OR 57,62 (IK95%:13,55-245,05), hipoksemia (p=0,002) dengan OR 7,19 (IK95%: 2,04-25,27), anemia (p=0,036) dengan OR 4,17 (IK95%: 1,097-15,87) dan penyakit jantung bawaan (p=0,047) dengan OR 3,86 (IK 95%: 1,02-14,599).Kesimpulan. Faktor risiko determinan gagal napas pada anak dengan pneumonia adalah sepsis, hipoksemia, anemia dan penyakit jantung bawaan.
Hubungan Kepatuhan Minum Obat dengan Aktivitas Penyakit Systemic Lupus Erythematosus pada Anak: Studi Potong Lintang Shanti, Anita Dwi; Harsono, Ganung; Nugroho, Hari Wahyu
Sari Pediatri Vol 27, No 6 (2026)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp27.6.2026.377-82

Abstract

Latar belakang. Systemic Lupus Erythematosus (SLE) pada anak merupakan penyakit autoimun kronis yang memerlukan terapi jangka panjang. Kepatuhan minum obat mejadi faktor kunci dalam mengontrol aktivitas penyakitTujuan. Menganalisis hubungan antara kepatuhan minum obat dengan derajat aktivitas SLE pada anakMetode. Penelitian potong lintang dilakukan pada 30 anak berusia 5-18 tahun dengan diagnosis SLE di poliklinik anak Rumah Sakit Dr. Moewardi pada bulan Juli-November 2024. Analisis menggunakan SPSS 25. Nilai p<0,05 dianggap signifikan secara statistik.Hasil. Sebagian besar pasien adalah perempuan (93,3%) dengan usia median 15 tahun. Skor median MMAS adalah 6 (kepatuhan sedang), dan skor median SLEDAI adalah 3 (aktivitas penyakit rendah). Analisis bivariat menunjukkan hubungan negatif yang signifikan antara kepatuhan minum obat dengan aktivitas penyakit (r=- 0.706; p<0,001). Analisis multivariat mengonfirnasi setiap peningkatan skor MMAS sebesar 1 poin mengurangi skor SLEDAI rata-rata sebesar 0.681 (p<0,001). Indeks Massa Tubuh (IMT) menunjukkan korelasi positif signifikan dalam analisis bivariat (r=0,454; p=0,012), tetapi tidak signifikan dalam analisis multivariat (p=0,087) Kesimpulan. Kepatuhan minum obat memiliki hubungan negatif yang kuat dengan derajat aktivitas SLE pada anak. Intervensi untuk meningkatkan kepatuhan minum obat dapat menjadi strategi penting dalam mengontrol aktivitas penyakit SLE pada anak.
Faktor Risiko Kejadian Laringomalasia pada Anak dengan Stridor Inspirasi yang Dilakukan Fiberoptic Laryngoscopy di Rumah Sakit M. Djamil Padang Mukhti, Karina Astarini; Yani, Finny Fitry; Lestari, Rahmi; Mariko, Rinang; Jurnalis, Yusri Dianne; Ihsan, Indra; Novialdi, Novialdi
Sari Pediatri Vol 27, No 6 (2026)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp27.6.2026.393-400

Abstract

Latar belakang. Laringomalasia merupakan penyebab tersering stridor inspirasi pada bayi dan anak, dan sering dikaitkan dengan usia muda, jenis kelamin laki-laki, prematuritas, berat badan lahir rendah, malnutrisi, serta komorbiditas neurologis maupun kongenital. Data lokal diperlukan untuk memahami faktor risiko yang berperan pada populasi setempat.Tujuan. Mengetahui faktor risiko kejadian laringomalasia pada anak yang menjalani fiberoptic laryngoscopy (FOL) di RSUP Dr. M. Djamil, Padang.Metode. Studi retrospektif kasus–kontrol pada anak usia 1 bulan–5 tahun periode 2019–2023. Sebanyak 36 kasus laringomalasia dibandingkan dengan 72 kontrol. Data diperoleh dari rekam medis meliputi usia, jenis kelamin, berat badan lahir, usia gestasi, status gizi, dan komorbiditas. Analisis menggunakan uji chi-square/Fisher dan odds ratio (OR) 95%.Hasil. Seratus delapan anak yang dilakukan FOL, 36 (33,3%) memenuhi kriteria laringomalasia. Mayoritas berusia <2 tahun, laki-laki, lahir cukup bulan, dan memiliki berat lahir normal, dan gizi baik. Komorbiditas ditemukan pada 94,4% kasus. Tidak terdapat hubungan bermakna antara variabel yang diteliti dengan kejadian laringomalasia (p>0,05), meskipun terdapat kecenderungan peningkatan risiko pada usia <2 tahun (OR 2,42), jenis kelamin laki-laki (OR 1,26), dan usia gestasi < 37 minggu (OR 2,20).Kesimpulan. Tidak ditemukan hubungan signifikan dalam penelitian ini. Usia < 2 tahun, laki-laki, dan usia gestasi < 37 minggu berpotensi menjadi faktor risiko. Studi multisenter dengan sampel yang lebih besar diperlukan untuk memvalidasi temuan ini.
Efikasi Pemberian Madu Sebagai Ajuvan dibandingkan Terapi Standar pada Pasien Anak dengan Mukositis Oral Pascakemoterapi: Sebuah Laporan Kasus Berbasis Bukti Nadia, Charisha; Andriastuti, Murti
Sari Pediatri Vol 27, No 6 (2026)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp27.6.2026.423-34

Abstract

Latar belakang. Madu memiliki efek antimikrobial dan antioksidan, yang murah dan mudah untuk didapatkan, sehingga menjadi pilihan dalam terapi mukositis oral.Tujuan. Untuk mengetahui efikasi pemberian madu sebagai ajuvan dibandingkan terapi standar pada pasien anak dengan mukositis oral pascakemoterapi.Metode. Penelusuran literatur dilakukan secara ekstensif melalui pangkalan data (database) elektronik PubMed®, Cochrane Library®, ScienceDirect® dengan kata kunci meliputi: “honey” DAN “oral mucositis” DAN “chemotherapy” DAN (“children” ATAU “pediatric”).Hasil. Strategi penelusuran literatur menghasilkan dua artikel yaitu studi telaah sistematik dan meta-analisis oleh Hao dkk, tahun 2022, dan uji klinis acak tersamar tunggal oleh Badr, dkk. tahun 2023. Studi oleh Hao dkk memiliki kualitas studi yang diinklusi kurang baik, tetapi hasilnya waktu pemulihan mukositis oral pascakemoterapi/radioterapi pada kelompok intervensi secara signifikan lebih singkat dibandingkan kontrol dengan perbedaan rerata/mean difference (MD) -5.10 (IK 95% -0,91 – 0,61), p = 0,03. Studi oleh Badr, dkk. memiliki kualitas yang baik dengan hasil derajat berat mukositis oral secara signifikan menurun pada kelompok madu dibandingkan kontrol setelah pemberian hari ke-7 (MD 1,00±0,63 vs 2,50±0,71, p=0,019).Kesimpulan. Pemberian madu (madu biasa, komersial, sajian beku, dan madu Manuka) sebagai ajuvan memiliki luaran yang lebih baik dari segi waktu pemulihan dan derajat berat dibandingkan terapi standar pada anak dengan mukositis oral pascakemoterapi.
Status Nutrisi dan Gangguan Tidur pada Anak Indonesia Alim, Edward Goei; Sekartini, Rini
Sari Pediatri Vol 27, No 6 (2026)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp27.6.2026.361-70

Abstract

Latar belakang. Nutrisi dan tidur sangat memengaruhi kesehatan maupun tumbuh kembang anak. Prevalens stunting nasional Indonesia tahun 2023 (21,5%) masih di atas target pemerintah (14%) dan prevalens gangguan tidur anak menurut beberapa studi cukup tinggi (31%-75,6%). Beberapa studi mengaitkan status nutrisi yang tidak normal dengan gangguan tidur yang lebih tinggi, tetapi penelitian yang sudah ada belum dilakukan dalam skala nasional, cakupan usianya sempit, dan hasilnya bervariasi.Tujuan. Penelitian ini bertujuan mengetahui hubungan antara status nutrisi dan gangguan tidur pada anak Indonesia usia 6 bulan sampai 12 tahun.Metode. Desain penelitian ini adalah observasional analitik dengan metode potong lintang (cross-sectional) menggunakan data sekunder dari studi South East Asian Nutrition Surveys II (SEANUTS II) yang diambil tahun 2019-2020. Subjek penelitian ini adalah anak usia 6 bulan sampai 12 tahun di 46 kabupaten dari 34 provinsi Indonesia. Penilaian status nutrisi menggunakan pengukuran dan skor z indeks antropometri berat badan terhadap umur (BB/U), indeks tinggi badan terhadap umur (TB/U), dan indeks berat badan terhadap tinggi badan (BB/TB), dan indeks massa tubuh terhadap usia (IMT/U) sedangkan penilaian gangguan tidur menggunakan Brief Infant Sleep Questionnaire (BISQ) dan Sleep Disturbance Scale for Children (SDSC).Hasil. Besar sampel yang diinklusi adalah 3463 anak. Jumlah anak dengan status nutrisi tidak normal adalah 35,4% (n=1227). Kategori status nutrisi tidak normal dengan persentase total terbesar adalah pendek (stunted), yaitu 21,4% (n=741). Persentase gangguan tidur subjek sebesar 23% (n=485) pada usia <5 tahun dan 40,3% (n=546%) pada usia ?5 tahun, dengan total 29,8% (n=1031). Analisis bivariat melalui uji Chi-Square tidak menunjukkan hubungan signifikan antara status nutrisi dan gangguan tidur, baik pada usia 0,5-2,9 tahun (p=0,312) dan 3-12,9 tahun (p=0,142).Kesimpulan. Status nutrisi tidak normal dan gangguan tidur ditemukan cukup tinggi, tetapi tidak ditemukan hubungan statistik yang signifikan antara status nutrisi dan gangguan tidur pada anak Indonesia usia 6 bulan sampai 12 tahun.

Page 1 of 1 | Total Record : 10


Filter by Year

2026 2026


Filter By Issues
All Issue Vol 27, No 6 (2026) Vol 27, No 5 (2026) Vol 27, No 4 (2025) Vol 27, No 3 (2025) Vol 27, No 2 (2025) Vol 27, No 1 (2025) Vol 26, No 6 (2025) Vol 26, No 5 (2025) Vol 26, No 4 (2024) Vol 26, No 3 (2024) Vol 26, No 2 (2024) Vol 26, No 1 (2024) Vol 25, No 6 (2024) Vol 25, No 5 (2024) Vol 25, No 4 (2023) Vol 25, No 3 (2023) Vol 25, No 2 (2023) Vol 25, No 1 (2023) Vol 24, No 6 (2023) Vol 24, No 5 (2023) Vol 24, No 4 (2022) Vol 24, No 3 (2022) Vol 24, No 2 (2022) Vol 24, No 1 (2022) Vol 23, No 6 (2022) Vol 23, No 5 (2022) Vol 23, No 4 (2021) Vol 23, No 3 (2021) Vol 23, No 2 (2021) Vol 23, No 1 (2021) Vol 22, No 6 (2021) Vol 22, No 5 (2021) Vol 22, No 4 (2020) Vol 22, No 3 (2020) Vol 22, No 2 (2020) Vol 22, No 1 (2020) Vol 21, No 6 (2020) Vol 21, No 5 (2020) Vol 21, No 4 (2019) Vol 21, No 3 (2019) Vol 21, No 2 (2019) Vol 21, No 1 (2019) Vol 20, No 6 (2019) Vol 20, No 5 (2019) Vol 20, No 4 (2018) Vol 20, No 3 (2018) Vol 20, No 2 (2018) Vol 20, No 1 (2018) Vol 19, No 6 (2018) Vol 19, No 5 (2018) Vol 19, No 4 (2017) Vol 19, No 3 (2017) Vol 19, No 2 (2017) Vol 19, No 1 (2017) Vol 18, No 6 (2017) Vol 18, No 5 (2017) Vol 18, No 4 (2016) Vol 18, No 3 (2016) Vol 18, No 2 (2016) Vol 18, No 1 (2016) Vol 17, No 6 (2016) Vol 17, No 5 (2016) Vol 17, No 4 (2015) Vol 17, No 3 (2015) Vol 17, No 2 (2015) Vol 17, No 1 (2015) Vol 16, No 6 (2015) Vol 16, No 5 (2015) Vol 16, No 4 (2014) Vol 16, No 3 (2014) Vol 16, No 2 (2014) Vol 16, No 1 (2014) Vol 15, No 6 (2014) Vol 15, No 5 (2014) Vol 15, No 4 (2013) Vol 15, No 3 (2013) Vol 15, No 2 (2013) Vol 15, No 1 (2013) Vol 14, No 6 (2013) Vol 14, No 5 (2013) Vol 14, No 4 (2012) Vol 14, No 3 (2012) Vol 14, No 2 (2012) Vol 14, No 1 (2012) Vol 13, No 6 (2012) Vol 13, No 5 (2012) Vol 13, No 4 (2011) Vol 13, No 3 (2011) Vol 13, No 2 (2011) Vol 13, No 1 (2011) Vol 12, No 6 (2011) Vol 12, No 5 (2011) Vol 12, No 4 (2010) Vol 12, No 3 (2010) Vol 12, No 2 (2010) Vol 12, No 1 (2010) Vol 11, No 6 (2010) Vol 11, No 5 (2010) Vol 11, No 4 (2009) Vol 11, No 3 (2009) Vol 11, No 2 (2009) Vol 11, No 1 (2009) Vol 10, No 6 (2009) Vol 10, No 5 (2009) Vol 10, No 4 (2008) Vol 10, No 3 (2008) Vol 10, No 2 (2008) Vol 10, No 1 (2008) Vol 9, No 6 (2008) Vol 9, No 5 (2008) Vol 9, No 4 (2007) Vol 9, No 3 (2007) Vol 9, No 2 (2007) Vol 9, No 1 (2007) Vol 8, No 4 (2007) Vol 8, No 3 (2006) Vol 8, No 2 (2006) Vol 8, No 1 (2006) Vol 7, No 4 (2006) Vol 7, No 3 (2005) Vol 7, No 2 (2005) Vol 7, No 1 (2005) Vol 6, No 4 (2005) Vol 6, No 3 (2004) Vol 6, No 2 (2004) Vol 6, No 1 (2004) Vol 5, No 4 (2004) Vol 5, No 3 (2003) Vol 5, No 2 (2003) Vol 5, No 1 (2003) Vol 4, No 4 (2003) Vol 4, No 3 (2002) Vol 4, No 2 (2002) Vol 4, No 1 (2002) Vol 3, No 4 (2002) Vol 3, No 3 (2001) Vol 3, No 2 (2001) Vol 3, No 1 (2001) Vol 2, No 4 (2001) Vol 2, No 3 (2000) Vol 2, No 2 (2000) Vol 2, No 1 (2000) More Issue