cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
Sari Pediatri
ISSN : 08547823     EISSN : 23385030     DOI : -
Core Subject : Health,
Arjuna Subject : -
Articles 1,519 Documents
Faktor Risiko Mortalitas Anak dengan Sepsis dan Disseminated Intravascular Coagulation: Peran Penanda Inflamasi dan Koagulasi di Rumah Sakit Zainoel Abidin Banda Aceh Nuriyanto, Alivia Rizky; Edward, Eka Destianti; Andid, Rusdi; Sovira, Nora; Herdata, Heru Noviat; Thaib, Teuku Muhammad
Sari Pediatri Vol 27, No 1 (2025)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp27.1.2025.9-17

Abstract

Latar belakang. Sepsis yang tidak tertangani dapat berlanjut menjadi Disseminated Intravascular Coagulation (DIC). Apabila DIC tidak segera ditangani dapat menimbulkan kegagalan organ dan meningkatkan mortalitas. Memahami pemeriksaan penanda inflamasi dan faktor koagulasi memegang peranan penting dalam prognosis dan upaya mencegah mortalitas pada anak dengan sepsis dan DIC. Tujuan. Untuk mengetahui faktor risiko mortalitas berdasarkan penanda inflamasi dan faktor koagulasi pada anak dengan sepsis disertai DIC di RSUD dr. Zainoel Abidin Banda Aceh.Metode. Penelitian ini merupakan studi observasional analitik dengan pendekatan cross-sectional pada anak usia 1 bulan sampai 18 tahun di ruang rawat inap dan Pediatric Intensive Care Unit (PICU) RSUD dr. Zainoel Abidin Banda Aceh sejak Januari sampai Desember 2023 dengan menggunakan data rekam medis 104 anak yang memenuhi kriteria penelitian. Analisa data Bivariat menggunakan uji chi-square dan uji fisher serta uji regresi logistik untuk data multivariat.Hasil. Insiden sepsis dan DIC pada anak sebanyak 104 subjek dengan kelompok meninggal paling banyak dijumpai pada kelompok usia <5 tahun, jenis kelamin perempuan, gangguan respirasi, ? 2 komorbid, lama rawatan yang lebih lama, skor PELOD-2 yang lebih dari 13, skor ISTH yang lebih dari 5, gizi baik dan penggunaan ventilasi mekanik. Faktor risiko mortalitas berdasarkan penanda inflamasi dan faktor koagulasi pada anak dengan sepsis dan DIC adalah Neutrofil to Lymphocyte Ratio (NLR) (p < 0,001) dengan OR 16,16 (IK95%: 4,43-154,42), leukosit (p=0,006) dengan OR 9,05 (IK95%: 1,83-43,79), D-dimer (p=0,006) dengan OR 6,25 (IK95%: 1,67-23,39) dan trombosit (p=0,026) OR 0,22 (IK95%: 0,06-0,835).Kesimpulan. Nilai NLR merupakan faktor risiko mortalitas pada anak dengan sepsis dan DIC.
Pengaruh Pola Asuh dan Pemberian Makan terhadap Status Gizi Balita di Puskesmas Kuta Alam Banda Aceh Hasibuan, Reina Rizqia Muharrami; Ismy, Jufitriani; Husnah, Husnah; Syahrizal, Syahrizal; Dimiati, Herlina
Sari Pediatri Vol 27, No 1 (2025)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp27.1.2025.38-43

Abstract

Latar belakang. Hasil survei status gizi Indonesia tahun 2022 menunjukkan prevalensi status gizi di Provinsi Aceh untuk kategori gizi buruk 95.504 balita, 584.232 balita gizi kurang. World Health Organization (WHO) memperkirakan bahwa 54% kematian anak di dunia disebabkan oleh keadaan gizi yang buruk. Sementara di Indonesia masalah gizi mengakibatkan lebih dari 80% kematian anak. Aceh diklasifikasikan sebagai salah satu provinsi dengan empat permasalahan gizi pada balita yakni stunting, wasting, underweight, dan overweight.Tujuan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara pola asuh dan pola pemberian makan dengan status gizi balita 12-59 bulan di wilayah Puskesmas Kuta Alam.Metode. Penelitian dilakukan pada bulan Juli sampai dengan September 2024 menggunakan desain observasional analitik dengan pendekatan cross-sectional, data dikumpulkan melalui pengisian kuesioner oleh 96 responden dengan teknik purposive sampling yang ditentukan berdasarkan kriteria inklusi dan eksklusi.Hasil. Hasil menunjukkan mayoritas ibu balita berusia 26–30 tahun, lulusan SMA, IRT, dan berpenghasilan < Rp1.000.000. Balita didominasi perempuan usia 12–24 bulan, berat <11 kg, dan tinggi 71–90 cm. Pola asuh sebagian besar kurang baik (58,33%) dan pola makan umumnya tepat (95,83%). Status gizi balita sebagian besar baik (66,67%). Terdapat hubungan signifikan antara pola asuh dan pola makan dengan status gizi (r=0,283 dan 0,272; p=0,005 dan 0,007). Kesimpulan. Pola asuh dan pola makan berpengaruh terhadap perbaikan status gizi balita. Oleh karena itu, intervensi yang menitikberatkan pada peningkatan kualitas pengasuhan dan pemberian makan yang tepat sangat penting untuk mendukung perbaikan status gizi anak di wilayah Puskesmas Kuta Alam.
Faktor yang Memengaruhi Perilaku Tantrum pada Anak dengan Gangguan Spektrum Autisme Nurfandini, Fiandra Fadiya; Anam, Moh Syarofil; Rahmadi, Farid Agung; Sareharto, Tun Paksi
Sari Pediatri Vol 27, No 1 (2025)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp27.1.2025.18-25

Abstract

Latar belakang. Tantrum merupakan perilaku yang umum ditemui pada anak, termasuk pada anak dengan Gangguan Spektrum Autisme (GSA). Pada anak usia 18-36 bulan, sebanyak 87-91% pernah mengalami tantrum, dan frekuensinya cenderung menurun seiring bertambahnya usia. Namun, pada anak dengan GSA, tantrum cenderung lebih intens dan berlangsung lebih lama dibandingkan anak tanpa autisme. Tujuan. Mengidentifikasi faktor-faktor yang memengaruhi perilaku tantrum pada anak dengan GSA.Metode. Penelitian analitik observasional dengan desain cross-sectional,menggunakan analisis bivariat melalui uji chi-square dengan nilai p<0,05 dianggap signifikan secara statistik. Subjek penelitian: pasien anak dengan GSA yang menjalani perawatan di Rumah Sakit Umum Pusat Kariadi Semarang, Rumah Sakit Nasional Diponegoro, dan Klinik Terapi Autisme di Semarang. Data penelitian didapat dari pengisian kuesioner oleh responden.Hasil. Hasil uji bivariat menunjukkan bahwa usia kronologis anak memiliki pengaruh signifikan terhadap perilaku tantrum Aspek lainnya meliputiusia pertama kali tantrum, adanya faktor pencetus, screen time yang tidak sesuai, dan adanya komorbid tidak menunjukkan hubungan bermakna terhadap perilaku tantrum pada anak dengan GSA.Kesimpulan. Usia kronologis anak berpengaruh terhadap perilaku tantrum anak. Beberapa faktor lainnya yang dianggap berpotensi memengaruhi perilaku tantrum pada anak dengan GSA, seperti usia pertama kali tantrum, faktor pencetus tantrum, usia pertama kali terpapar layar, durasi paparan layar, dan keberadaan komorbiditas tidak memiliki pengaruh yang signifikan secara statistik.
Efektivitas Metotreksat sebagai Terapi pada Anak dengan Sistemik Sklerosis Tololiu, Charity Cesilia; Takumansang, Raynald Oktafianus; Sondakh, Diana Devi
Sari Pediatri Vol 27, No 1 (2025)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp27.1.2025.58-64

Abstract

Latar belakang. Sklerosis sistemik juvenil pada anak (JSSc) merupakan penyakit jaringan ikat multisistem, kronis, dan autoimun yang menyerang anak-anak <10% dari semua kasus. Sementara itu, data yang dipublikasikan mengenai pengobatan JSSc dan ciri-ciri klinis pada anak-anak jarang dilaporkan dan sebagian besar berupa laporan kasus. Dibandingkan dengan orang dewasa, anak-anak dengan JSSc memiliki hasil yang lebih baik, terkait dengan angka kematian yang lebih rendah.Tujuan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas Metotreksat sebagai terapi pada anak dengan sklerosis sistemik juvenil.Metode. Penelusuran pustaka database elektronik, yaitu Pubmed dan google Scholar dengan kata kunci ”Juvenile Systemic Sclerosis” AND ”Methotrexate” AND ”Children”.Hasil. Empat artikel dievaluasi secara kritis. Rattanakaemakorn dkk. (2018) melaporkan bahwa Metotreksat (MTX) merupakan terapi efektif dan aman untuk terapi awal JSSc. Fadanelli dkk. (2020) melaporkan remisi total pada pasien Scleroderma yang diterapi dengan MTX. Zulian dkk melaporkan MTX merupakan terapi yang penting untuk anak dengan juvenile localized scleroderma (JLS). Sementara itu, Zulian dkk menemukan kombinasi MTX dan kortikosteroid merupakan terapi jangka panjang yang efektif pada JLS. Kesimpulan. Metotreksat (MTX) terbukti efektif dan dapat ditoleransi baik pada anak-anak dengan varian sklerosis sistemik juvenil.
Hubungan Asupan Protein dengan Kadar Zink Rambut terhadap Stunting pada Anak Usia 24-59 Bulan di Kota Padang As Siddiqi, Abdurrahman Arsyad; Masnadi, Nice Rachmawati; Jurnalis, Yusri Dianne; Izzah, Amirah Zatil; Mayetti, Mayetti; Yantri, Eny
Sari Pediatri Vol 27, No 1 (2025)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp27.1.2025.1-8

Abstract

Latar belakang. Stunting menggambarkan gangguan pertumbuhan yang disebabkan oleh masalah nutrisi. Defisiensi zink dapat menghentikan proses pertumbuhan. Asupan zink memiliki korelasi positif terhadap asupan protein dari makanan. Kadar zink tubuh dapat diukur melalui kadar zink rambut, yang lebih akurat menggambarkan kadar zink kronis dan sesuai untuk kondisi stunting.Tujuan. Mengetahui hubungan antara asupan protein dengan kadar zink rambut pada anak stunting usia 24-59 bulan di Puskesmas Anak Air, Ikur Koto, dan Seberang Padang.Metode. Penelitian cross-sectional dilakukan di tiga Puskesmas di Kota Padang dan Laboratorium Kesehatan Sumatera Barat dari Februari 2023 hingga Maret 2024. Subjek adalah anak dengan stunting berusia 24-59 bulan. Data asupan protein diukur dengan wawancara food recall 2x24 jam, sedangkan kadar zink rambut dianalisis menggunakan teknik flame atomic absorption spectrometry (FAAS).Hasil. Sebanyak 97 subjek yang diteliti, 67% memiliki asupan protein kurang dengan median 13,92 gram, dan 67% memiliki kadar zink rambut kurang dengan median 123,80 ppm. Selain itu, 64,6% anak dengan asupan protein kurang juga memiliki kadar zink rambut yang rendah. Hasil penelitian diuji dengan uji statistik chi-square dan diperoleh nilai p-value adalah 0,627 (p>0,05) maka Ho diterima yang menyatakan bahwa tidak ada hubungan signifikan antara asupan protein total harian dengan kadar zink rambut pada anak stunting usia 24-59 bulan.Kesimpulan. Tidak terdapat hubungan yang bermakna secara statistik antara asupan protein dengan kadar zink rambut pada anak stunting usia 24-59 bulan.
Pengaruh Pengajaran dengan Media Video terhadap Pengetahuan Mahasiswa tentang Pengukuran Antropometri Bayi Linati, Raudina Dwita; Handoko, Willy; Andriani, Rini
Sari Pediatri Vol 27, No 1 (2025)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp27.1.2025.51-7

Abstract

Latar belakang. Antropometri adalah salah satu metode dalam penilaian status nutrisi pada anak maupun dewasa. Malnutrisi menjadi salah satu masalah kesehatan masyarakat di Indonesia terutama Kalimantan Barat dengan proporsi 19,58%. Saat pandemi COVID-19 dilaksanakan pembelajaran jarak jauh, sehingga diperlukan suatu media yang inovatif sebagai upaya pembelajaran mahasiswa mengenai pengukuran antropometri bayi. Tujuan. Mengetahui perubahan pengetahuan mahasiswa mengenai pengukuran antropometri bayi setelah pengajaran dengan media video.Metode. Penelitian menggunakan metode one group pretest-posttest. Sampel penelitian diambil secara total sampling dengan jumlah 100 mahasiswa Program Studi Kedokteran Universitas Tanjungpura angkatan 2021. Analisis bivariat menggunakan uji t berpasangan.Hasil. Proporsi mahasiswa dengan tingkat pengetahuan “sangat baik” meningkat dari 29% sebelum intervensi menjadi 72% setelah intervensi, menunjukkan adanya peningkatan yang signifikan setelah pemberian media video. Penggunaan media pembelajaran berbasis video terbukti efektif dalam meningkatkan pengetahuan siswa mengenai pengukuran antropometri pada bayi.Kesimpulan. Pengajaran dengan media video secara signifikan meningkatkan pengetahuan mahasiswa kedokteran mengenai pengukuran antropometri bayi.
Efektivitas Eltrombopag dalam Penanganan Anemia Aplastik Berat pada Anak Septiana, Mega; Sari, Teny Tjitra
Sari Pediatri Vol 27, No 2 (2025)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp27.2.2025.126-35

Abstract

Latar belakang. Efektivitas pemberian eltrombopag pada kasus anemia aplastik berat pada anak masih kontroversial. Tujuan. Melakukan telaah kritis untuk melihat efektivitas pemberian eltrombopag dalam penanganan anemia aplastik berat pada anak.Metode. Penelusuran pustaka pangkalan data elektronik berupa PubMed, The Cochrane Library, dan Embase pada bulan Juli 2023. Pencarian dilakukan dengan menggunakan Boolean term dengan kata kunci berupa “severe anemia aplastic,” “children,” “pediatric,” dan “eltrombopag.”Hasil. Terdapat dua artikel yang dipilih kemudian dilakukan telaah kritis. Level of evidence kedua studi tersebut adalah 1a. Kedua studi tersebut menunjukkan pemberian eltrombopag memberikan perbaikan profil hematologi pada anak dengan anemia aplastik bila dikombinasikan dengan terapi imunosupresi standar. Meskipun demikian, tidak semua studi terlibat memiliki hasil yang sama.Kesimpulan. Pemberian eltrombopag pada anak dengan anemia aplastik berat menunjukkan kemungkinan perbaikan profil hematologi yang lebih besar dibandingkan tidak diberikan eltrombopag, pada pemantauan jangka panjang dan bila dikombinasikan dengan terapi imunosupresi standar.
Profil Serum Serotonin dan Brain-Derived Neurotrophic Factor sebagai Indikator Kompleksitas Gejala Anak Autisme Usia 6-10 Tahun Solek, Purboyo; Gamayani, Uni; Rusmil, Kusnandi; Afriandi, Irvan; Prasetya, Taufan; Rizqiamuti, Anggia Farrah; Nurfitri, Eka; -, Burhan; Sahril, Indra; Gunawan, Kevin
Sari Pediatri Vol 27, No 2 (2025)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp27.2.2025.96-101

Abstract

Latar belakang. Gangguan spektrum autisme (GSA) adalah gangguan neurodevelopmental kompleks yang melibatkan faktor neurobiologis seperti serotonin dan brain-derived neurotrophic factor (BDNF).Tujuan. Penelitian bertujuan untuk mengevaluasi kadar serotonin dan BDNF serum pada anak dengan autisme serta menilai potensinya sebagai biomarker diagnostik.Metode. Penelitian potong lintang melibatkan 51 anak autisme usia 6-10 tahun di Melinda dan Indigrow Child Development Center. Kadar serum serotonin dan BDNF dianalisis dengan metode ELISA dan dinilai berdasarkan tingkat kompleksitas gejala menggunakan Childhood Autism Rating Scale (CARS). Uji T-test independent digunakan untuk menganalisis perbedaan kedua biomarker berdasarkan tingkat kompleksitas gejala. Kadar serotonin dan BDNF dianalisis lebih lanjut menggunakan ROC.Hasil. Rerata kadar serotonin adalah 339,86 ng/ml, dengan perbedaan signifikan antara autisme ringan-sedang (398,82 ng/ml) dan berat (325,48 ng/ml) (p<0,05). Rerata kadar BDNF adalah 41,77 ng/ml, cenderung lebih tinggi pada autisme berat (42,92 ng/ml) dibandingkan autisme ringan-sedang (37,05 ng/ml), namun tidak signifikan (p>0,05). Analisis ROC menunjukkan nilai diagnostik suboptimal untuk kedua biomarker. Kesimpulan. Meskipun terdapat perbedaan kadar serotonin dan BDNF serum berdasarkan tingkat kompleksitas gejala anak autisme, namun penggunaannya sebagai biomarker diagnostik masih terbatas dan memerlukan penelitian lebih lanjut.
Analisis Kadar Zink Serum pada Anak Perawakan Pendek: Studi Cross-Sectional di Makassar Badaria, Badaria; Maddeppungeng, Martira; Daud, Dasril
Sari Pediatri Vol 27, No 2 (2025)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp27.2.2025.113-7

Abstract

Latar belakang. Perawakan pendek merupakan salah satu masalah kesehatan anak di Indonesia yang belum teratasi. Perawakan pendek disebabkan oleh malnutrisi kronis dan infeksi kronis. Perawakan pendek terjadi oleh banyak faktor dan salah satunya adalah defisiensi zink.Tujuan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis kadar zink serum pada anak perawakan pendek.Metode. Penelitian cross-sectional ini menggunakan data primer pada anak usia 24-72 bulan di PAUD dan TK di Makassar, dilakukan Oktober 2019–Februari 2020. Subjek dibagi menjadi dua kelompok: anak perawakan pendek dan normal (kontrol). Kadar zink serum diukur dan dibandingkan antar kelompok, dengan analisis data menggunakan Chi-square dan Mann-Whitney.Hasil. Dari total 91 subjek didapatkan 31 anak perawakan pendek dan 60 perawakan normal. Kadar zink serum rerata pada kelompok perawakan pendek adalah 26,81 ?g/dL (rentang: 0,4-102,2 ?g/dL), secara signifikan lebih rendah dibandingkan kelompok normal (49,04 ?g/dL; rentang: 4,4-157,8 ?g/dL; p=0,000). Frekuensi defisiensi zink tidak berbeda bermakna antara kelompok perawakan pendek (83,9%) dan normal (81,7%; p=0,793).Kesimpulan. Pada penelitian ini didapatkan bahwa baik kelompok anak perawakan pendek maupun perawakan normal mengalami defisiensi zink, tetapi kadar zink pada anak perawakan pendek jauh lebih rendah dibandingkan perawakan normal.
Korelasi Neutrofil-Limfosit Rasio dengan Kadar C-Reaktif Protein sebagai Biomarker Sepsis Neonatus pada Bayi Prematur di Rumah Sakit Wangaya Denpasar Sriwaningsi, Lina; Bikin Suryawan, I Wayan; Suarca, I Kadek
Sari Pediatri Vol 27, No 2 (2025)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp27.2.2025.89-95

Abstract

Latar belakang. Sepsis neonatus merupakan kondisi yang mengancam jiwa dengan angka kematian yang tinggi pada bayi prematur. Bayi prematur memiliki sistem kekebalan tubuh yang belum matang. Sampai saat ini, kultur darah masih menjadi pemeriksaan standar emas untuk mendiagnosis sepsis neonatus. Neutrofil-limfosit Rasio (NLR) diusulkan sebagai penanda inflamasi, mendeteksi, dan menentukan tingkat keparahan sepsis, sedangkan C-Reaktif Protein (CRP) paling banyak digunakan pada fase akut, tetapi parameter ini dibatasi oleh sensitivitas, spesifisitas, ketersediaan, dan biaya. Kami mencoba menganalisis NLR sebagai alternatif pada sepsis neonatus.Tujuan. Mengetahui nilai cut-off point Neutrofil-limfosit Rasio yang optimal sebagai prediktor sepsis neonatus pada bayi prematur di Rumah Sakit Umum Daerah Wangaya.Metode. Penelitian ini merupakan penelitian analitik observasional cross-sectional menggunakan data sekunder dari rekam medis bayi yang dirawat di perinatologi dan NICU/neonatal intensive care unit Rumah Sakit Umum Daerah Wangaya. Total 94 bayi yang memenuhi kriteria inklusi dan ekslusi. Data yang terkumpul disajikan secara deskriptif, dengan analisis bivariat dan analisis cut-off point menggunakan kurva ROC.Hasil. Berdasarkan sosiodemografi, bayi sepsis dengan berat badan lahir rendah sebanyak 81%, sebagian besar mengalami sepsis neonatorum awitan dini (SNAD) 73 bayi (77%). Nilai cut-off point NLR 3,52 dengan nilai AUC 85%, sensitivitas 81%, dan spesifisitas 81%. Sedangkan nilai cut-off point CRP dengan nilai AUC 71%, sensitivitas 68%, dan spesifisitas 67%. Terdapat hubungan nilai NLR dengan CRP pada sepsis neonatus bayi prematur p-value 0,00 (p=<0,05).Kesimpulan. Nilai cut-off point NLR dapat digunakan sebagai prediktor deteksi dini sepsis neonatus. Deteksi sepsis neonatus menjadi lebih baik bila dikombinasikan dengan CRP.

Filter by Year

2000 2025


Filter By Issues
All Issue Vol 27, No 4 (2025) Vol 27, No 3 (2025) Vol 27, No 2 (2025) Vol 27, No 1 (2025) Vol 26, No 6 (2025) Vol 26, No 5 (2025) Vol 26, No 4 (2024) Vol 26, No 3 (2024) Vol 26, No 2 (2024) Vol 26, No 1 (2024) Vol 25, No 6 (2024) Vol 25, No 5 (2024) Vol 25, No 4 (2023) Vol 25, No 3 (2023) Vol 25, No 2 (2023) Vol 25, No 1 (2023) Vol 24, No 6 (2023) Vol 24, No 5 (2023) Vol 24, No 4 (2022) Vol 24, No 3 (2022) Vol 24, No 2 (2022) Vol 24, No 1 (2022) Vol 23, No 6 (2022) Vol 23, No 5 (2022) Vol 23, No 4 (2021) Vol 23, No 3 (2021) Vol 23, No 2 (2021) Vol 23, No 1 (2021) Vol 22, No 6 (2021) Vol 22, No 5 (2021) Vol 22, No 4 (2020) Vol 22, No 3 (2020) Vol 22, No 2 (2020) Vol 22, No 1 (2020) Vol 21, No 6 (2020) Vol 21, No 5 (2020) Vol 21, No 4 (2019) Vol 21, No 3 (2019) Vol 21, No 2 (2019) Vol 21, No 1 (2019) Vol 20, No 6 (2019) Vol 20, No 5 (2019) Vol 20, No 4 (2018) Vol 20, No 3 (2018) Vol 20, No 2 (2018) Vol 20, No 1 (2018) Vol 19, No 6 (2018) Vol 19, No 5 (2018) Vol 19, No 4 (2017) Vol 19, No 3 (2017) Vol 19, No 2 (2017) Vol 19, No 1 (2017) Vol 18, No 6 (2017) Vol 18, No 5 (2017) Vol 18, No 4 (2016) Vol 18, No 3 (2016) Vol 18, No 2 (2016) Vol 18, No 1 (2016) Vol 17, No 6 (2016) Vol 17, No 5 (2016) Vol 17, No 4 (2015) Vol 17, No 3 (2015) Vol 17, No 2 (2015) Vol 17, No 1 (2015) Vol 16, No 6 (2015) Vol 16, No 5 (2015) Vol 16, No 4 (2014) Vol 16, No 3 (2014) Vol 16, No 2 (2014) Vol 16, No 1 (2014) Vol 15, No 6 (2014) Vol 15, No 5 (2014) Vol 15, No 4 (2013) Vol 15, No 3 (2013) Vol 15, No 2 (2013) Vol 15, No 1 (2013) Vol 14, No 6 (2013) Vol 14, No 5 (2013) Vol 14, No 4 (2012) Vol 14, No 3 (2012) Vol 14, No 2 (2012) Vol 14, No 1 (2012) Vol 13, No 6 (2012) Vol 13, No 5 (2012) Vol 13, No 4 (2011) Vol 13, No 3 (2011) Vol 13, No 2 (2011) Vol 13, No 1 (2011) Vol 12, No 6 (2011) Vol 12, No 5 (2011) Vol 12, No 4 (2010) Vol 12, No 3 (2010) Vol 12, No 2 (2010) Vol 12, No 1 (2010) Vol 11, No 6 (2010) Vol 11, No 5 (2010) Vol 11, No 4 (2009) Vol 11, No 3 (2009) Vol 11, No 2 (2009) Vol 11, No 1 (2009) Vol 10, No 6 (2009) Vol 10, No 5 (2009) Vol 10, No 4 (2008) Vol 10, No 3 (2008) Vol 10, No 2 (2008) Vol 10, No 1 (2008) Vol 9, No 6 (2008) Vol 9, No 5 (2008) Vol 9, No 4 (2007) Vol 9, No 3 (2007) Vol 9, No 2 (2007) Vol 9, No 1 (2007) Vol 8, No 4 (2007) Vol 8, No 3 (2006) Vol 8, No 2 (2006) Vol 8, No 1 (2006) Vol 7, No 4 (2006) Vol 7, No 3 (2005) Vol 7, No 2 (2005) Vol 7, No 1 (2005) Vol 6, No 4 (2005) Vol 6, No 3 (2004) Vol 6, No 2 (2004) Vol 6, No 1 (2004) Vol 5, No 4 (2004) Vol 5, No 3 (2003) Vol 5, No 2 (2003) Vol 5, No 1 (2003) Vol 4, No 4 (2003) Vol 4, No 3 (2002) Vol 4, No 2 (2002) Vol 4, No 1 (2002) Vol 3, No 4 (2002) Vol 3, No 3 (2001) Vol 3, No 2 (2001) Vol 3, No 1 (2001) Vol 2, No 4 (2001) Vol 2, No 3 (2000) Vol 2, No 2 (2000) Vol 2, No 1 (2000) More Issue