cover
Contact Name
Akuatika Indonesia
Contact Email
akuatika.indonesia@unpad.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
akuatika.indonesia@unpad.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Jurnal Akuatika Indonesia
ISSN : 2528052X     EISSN : 26217252     DOI : -
Jurnal Akuatika Indonesia berisi tulisan ilmiah untuk bidang ilmu hewan dan zoologi yang mencakup aspek budidaya perikanan, bioteknologi perikanan, pengelolaan sumberdaya perikanan, sosial ekonomi perikanan, teknologi hasil perikanan, perikanan tangkap dan oseanografi. Akhir kata semoga kehadiran Jurnal Akuatika Indonesia dapat mengkomunikasikan dengan baik berbagai aspek tentang Perikanan dan Kelautan.
Arjuna Subject : -
Articles 184 Documents
Kajian Efektivitas Air Kelapa (Cocos nucifera) dalam Pakan terhadap Rasio Kelamin Ikan Nila (Oreochromis niloticus) Zulendra, Muhammad Fiqi; Malingkas, Ronal; Muharam, Gani Asri; Luntungan, Diane O. M.; Natalia, Natalia; Abadi, Rahman Fawaid; Hartiningsih, Lusia Dwi; Hariyoto, Fitroh Dwi; Kusuma, Ni Putu Dian
Akuatika Indonesia Vol 11, No 1 (2026): Jurnal Akuatika Indonesia (JAkI)
Publisher : Direktorat Sumber Daya Akademik dan Perpustakaan Universitas Padjadjaran, Grha. Kandaga (P

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/jaki.v11i1.68535

Abstract

Secara umum, ikan nila jantan menunjukkan pertumbuhan lebih pesat dibandingkan betina sehingga dapat mempercepat waktu pemanenan. Upaya peningkatan proporsi kelamin jantan dapat dilakukan melalui teknik maskulinisasi sehingga ikan betina terdiferensiasi kelaminnya menjadi jantan. Kandungan kalium dalam air kelapa berpotensi menggantikan fungsi hormon sintetis 17α metil testosteron dan dinilai lebih ramah lingkungan karena bersumber dari bahan alami. Penelitian ini bertujuan menentukan dosis air kelapa yang optimal untuk meningkatkan persentase kelamin jantan dan mempertahankan tingkat kelangsungan hidup larva ikan nila. Penelitian disusun menggunakan rancangan acak lengkap dengan 4 perlakuan dan 3 ulangan, terdiri atas kontrol tanpa penambahan air kelapa serta penambahan air kelapa 0,09 mL/g pakan, 0,12 mL/g pakan, dan 0,15 mL/g selama 14 hari dengan menggunakan ikan sebanyak 30 ekor/akuarium dengan total akuarium 12 buah dengan bobot rata-rata ± 0,01 gr/ekor. Pengamatan terhadap kelamin jantan dilakukan setelah 60 hari. Data dianalisis menggunakan ANOVA satu arah (α = 0,05) dan dilanjutkan dengan uji Duncan menggunakan SPSS versi 26. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penambahan air kelapa. Penambahan air kelapa 0,15 mL/g pakan merupakan dosis paling optimal dengan persentase kelamin jantan sebesar 67,05±1,75. Variasi dosis air kelapa dalam pakan tidak menimbulkan perbedaan pengaruh terhadap tingkat kelangsungan hidup yang berada pada kisaran 93-100%.
Chlorella Bag: Rancangan Bioremediasi Air dari Kandungan Amonia Pada Akuarium Ikan Hias Menggunakan Chlorella sp. Nurerlindajava, Visivalery; Nurjanah, Anita; Narda, Nadia Dwi; Hanjayanto, Suryo Damar Priluckito; Zahidah, Zahidah
Akuatika Indonesia Vol 11, No 1 (2026): Jurnal Akuatika Indonesia (JAkI)
Publisher : Direktorat Sumber Daya Akademik dan Perpustakaan Universitas Padjadjaran, Grha. Kandaga (P

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/jaki.v11i1.56855

Abstract

Kegiatan budidaya ikan hias di Indonesia memiliki prospek cukup baik untuk dikembangkan, terutama pada komoditas ikan tertentu dengan harga jual yang relatif tinggi. Usaha budidaya ikan hias mampu memberikan keuntungan karena permintaan pasar yang semakin meningkat. Kualitas air merupakan salah satu kendala dalam pelaksanaan budidaya ikan hias, salah satunya yaitu kandungan amonia dalam media budidaya. Amonia merupakan produk metabolisme nitrogen yang paling banyak diproduksi oleh ikan dan memiliki sifat toksik pada batas tertentu. Selain dari hasil metabolisme pakan yang mengandung nitrogen dan sisa pakan yang tidak termakan, amonia juga berasal dari dekomposisi organisme mati yang terdapat pada media budidaya. Penelitian ini dilakukan untuk menerapkan manfaat bioremediasi dengan mikroalga Chlorella sp. yang efektif dan efisien karena mampu meremediasi sisa metabolisme ikan berupa amonia. Penelitian ini dilakukan di Laboratorium Sumber Daya Perairan FPIK Universitas Padjadjaran pada rentang waktu 3-15 Juni 2024, dengan pengujian kadar amonia selama lima hari berturut-turut menggunakan metode spektrofotometri. Dengan hasil yang didapat yaitu Chlorella Bag dengan perlakuan 1:1000 efisien dalam meremediasi kandungan amonia selama masa pengujian lima hari dibandingkan dengan perlakuan lainnya.
Komposisi Kimia Dan Uji Mikrobiologi Abon Ikan Cakalang (Katsuwonus pelamis) Asal Kabupaten Flores Timur Batafor, Yosephina Margaretha; Cahyono, Eko
Akuatika Indonesia Vol 11, No 1 (2026): Jurnal Akuatika Indonesia (JAkI)
Publisher : Direktorat Sumber Daya Akademik dan Perpustakaan Universitas Padjadjaran, Grha. Kandaga (P

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/jaki.v11i1.63607

Abstract

Kabupaten Flores Timur merupakan salah satu sentra produksi ikan cakalang (Katsuwonus pelamis) di Provinsi Nusa Tenggara Timur. Abon ikan cakalang diproduksi secara industri dan dipasarkan ke luar daerah, namun informasi mengenai mutu kimia dan mikrobiologi produk ini selama penyimpanan masih terbatas, sehingga berisiko menimbulkan penurunan mutu yang tidak terdeteksi dan ketidaksesuaian dengan SNI 7690.1:2013. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi mutu kimia (kadar air, protein, lemak, dan abu) serta mutu mikrobiologi (Angka Lempeng Total) abon ikan cakalang asal Flores Timur selama penyimpanan 91 hari pada suhu ruang, serta menilai kesesuaiannya dengan standar SNI yang berlaku. Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Pengolahan Hasil Perikanan, Institut Keguruan dan Teknologi Larantuka. Bahan baku berupa ikan cakalang segar dari PPI Amagarapati, yang diolah menjadi abon dan dikemas menggunakan stand up pouch. Pengujian kadar air dan abu mengacu pada SNI 01-2891-1992, kadar lemak pada SNI 9331:2024, kadar protein pada SNI 01-2354.4:2006, dan ALT pada SNI 2332.3:2015. Hasil penelitian menunjukkan kadar protein meningkat dari 35,73% menjadi 37,87%, kadar lemak menurun dari 22,22% menjadi 21,10%, dan kadar abu meningkat dari 3,46% menjadi 3,59%; seluruh parameter ini memenuhi SNI 7690.1:2013. Namun, kadar air (8,32–8,37%) melebihi batas maksimum SNI (7%) sejak awal penyimpanan. Nilai ALT berkisar 2,0×10¹ hingga 2,5×10² koloni/g, masih jauh di bawah batas SNI (5×10⁴ koloni/g). Disimpulkan bahwa abon ikan cakalang memenuhi syarat mutu kimia dan mikrobiologi SNI kecuali parameter kadar air, sehingga perbaikan proses pengeringan atau pengepresan diperlukan.
Evaluasi Penggunaan Maggot Bsf (Hermetia illucens) Sebagai Substitusi Pakan Komersil Benih Ikan Betok (Anabas testudineus) Yulintine, Yulintine; Wulandari, Linda; Runting, Asi Pebrina; Gea, Darlis; Aprinsia, Aprinsia; Carolin, Sherra Alicia; Khairunnisa, Khairunnisa
Akuatika Indonesia Vol 11, No 1 (2026): Jurnal Akuatika Indonesia (JAkI)
Publisher : Direktorat Sumber Daya Akademik dan Perpustakaan Universitas Padjadjaran, Grha. Kandaga (P

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/jaki.v11i1.69113

Abstract

Untuk pertumbuhan dan perkembangan ikan dengan baik, asupan nutrisi dari pakan ikan menjadi sangat penting, tetapi pakan ikan termasuk mahal harganya sehingga diperlukan upaya menemukan pakan alternatif atau pakan tambahan yang murah dan mudah untuk mendapatkannya. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengevaluasi penggunaan maggot BSF sebagai pakan tambahan untuk pakan ikan betok (Anabas testudineus). Sampel ikan betok diperoleh dari Instalasi Budidaya Ikan di Lahan Gambut, Desa Garong, Kabupaten Pulang Pisau, Kalimantan Tengah dengan ukuran 3 - 5 cm, dan 1 – 1.5 g. Percobaan ini menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) dengan 5 perlakuan dan 3 ulangan.   Perlakuan A, B, C, D, dan E masing-masing adalah full pellet komersil, pellet komersil 75% + maggot BSF 25%, pellet komersil 50% + maggot BSF 50%, pellet komersil 25% + maggot BSF 75%, dan full maggot BSF sebagai pakan. Hasil yang diperoleh bahwa penggunaan maggot BSF memberikan pengaruh yang signifikan terhadap rasio konversi pakan (FCR) benih ikan betok selama pemeliharaan 35 hari. Perlakuan terbaik adalah perlakuan C yaitu pellet komersil dan maggot BSF masing-masing 50% berat kering dengan rata-rata laju pertumbuhan harian spesifik (SGR) dan kelangsungan hidup (SR), dan FCR masing-masing adalah 3,31%/hari, 92,7% dan 1,78.  Penggunaan maggot BSF yang dianjurkan maksimal 50% karena tidak mengurangi pertumbuhan dan kelangsungan hidup benih ikan betok.   Penggunaan maggot BSF 100% tidak disarankan karena maggot BSF mengandung kadar lemak tinggi yang menyebabkan kualitas air lebih cepat memburuk.