cover
Contact Name
Cecilia Soeriawidjaja
Contact Email
cecilia.soeriawidjaja@unpad.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
jurnal.fkg@unpad.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Jurnal Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran
ISSN : 08546002     EISSN : 25496514     DOI : -
Core Subject : Health,
Bidang cakupan Jurnal Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran adalah semua bidang ilmu kedokteran gigi, yaitu biologi oral; ilmu dan teknologi material gigi; bedah mulut dan maksilofasial; pedodonsia; ilmu kesehatan gigi masyarakat, epidemiologi, dan ilmu kedokteran gigi pencegahan; konservasi gigi, endodontik, dan kedokteran gigi operatif; periodonsia; prostodonsia; ortodonsia; ilmu penyakit mulut; radiologi kedokteran gigi dan maksilofasial; serta perkembangan dan ilmu kedokteran gigi dari pendekatan ilmu lainnya.
Arjuna Subject : -
Articles 15 Documents
Search results for , issue "Vol 37, No 2 (2025): Agustus 2025" : 15 Documents clear
Differences in denture brush fibers made of apus bamboo (Gigantochloa apus) and nylon based on the level of Streptococcus mutans contamination: an experimental study Maulani, Alia Fatimah; Nawawi, Azkya Patria; Himawati, Marlin
Jurnal Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran Vol 37, No 2 (2025): Agustus 2025
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/jkg.v37i2.61197

Abstract

ABSTRACTIntroduction: Streptococcus mutans bacteria is one of the microorganisms that form plaque on the denture. Plaque can be cleaned using nylon denture brush fibers, which have no antibacterial effect and are at risk of becoming a medium for contamination. Nylon fibers can be replaced by natural fibers, namely apus bamboo (Gigantochloa apus). The purpose of the study was to analyze the difference between apus bamboo and nylon denture brush fibers based on the level of Streptococcus mutans contamination. Methods: The type of research was laboratory experimental with pre-test and post-test with control group design. Sampling using the unpaired numerical comparative test sample size formula. The treatment group with apus bamboo fibers was 10 samples while the control group with nylon fibers was 10 samples. Each sample was soaked for 3 minutes in a bacterial suspension, followed by dilution to 10-5, and counted by the total plate count (TPC) method. Variable measurements were taken before and after 24 hours of standing, then the amount of Streptococcus mutans contamination was compared between bamboo and nylon. Results: The mean number of Streptococcus mutans contamination after 24 hours of standing on the bamboo fibers was 7.6x106 and nylon fibers 1.7x105, then tested using the Mann-Whitney and obtained a value of p=0.009 (p<0.05). Conclusion: There is a difference between apus bamboo and nylon denture brush fibers based on the contamination level of Streptococcus mutans after standing for 24 hours. Keywords: brush fiber, dentures, bamboo apus, nylon, streptococcus mutans. Perbedaan serat sikat gigi tiruan berbahan bambu apus (Gigantochloa apus) dan nilon berdasarkan tingkat kontaminasi bakteri Streptococcus mutans: eksperimental laboratoris ABSTRAKPendahuluan: Bakteri Streptococcus mutans merupakan salah satu mikroorganisme pembentuk plak pada gigi tiruan. Plak umumnya dapat dibersihkan menggunakan serat sikat gigi tiruan berbahan nilon, yang tidak memiliki efek antibakteri dan beresiko menjadi media kontaminasi. Serat nilon pada sikat gigi tiruan dapat digantikan oleh serat alam, yaitu bambu apus (Gigantochloa apus). Tujuan dari penelitian adalah untuk menganalisis perbedaan antara serat sikat gigi tiruan bambu apus dan nilon berdasarkan tingkat kontaminasi bakteri Streptococcus mutans. Metode: Jenis penelitian yaitu eksperimental laboratorik dengan rancangan pre-test and post-test with control group design. Pengambilan sampel menggunakan rumus besar sampel uji komparatif numerik tidak berpasangan. Kelompok perlakuan dengan serat bambu apus sebanyak 10 sampel sedangkan kelompok kontrol dengan serat nilon sebanyak 10 sampel. Setiap sampel direndam selama 3 menit di dalam suspensi bakteri, dilanjutkan dengan pengenceran hingga 10-5, dan dihitung dengan metode total plate count (TPC). Pengukuran variabel dilakukan sebelum dan setelah didiamkan 24 jam, kemudian jumlah kontaminasi bakteri Streptococcus mutans dibandingkan antara serat bambu apus dan serat nilon. Hasil: Rerata jumlah kontaminasi bakteri Streptococcus mutans setelah didiamkan 24 jam pada serat bambu apus adalah 7.6x106 dan serat nilon 1.7x105, kemudian dilakukan pengujian menggunakan uji Mann-Whitney dan didapatkan nilai p=0,009 (p<0,05). Simpulan: Terdapat perbedaan antara serat sikat gigi tiruan bambu apus dan nilon berdasarkan tingkat kontaminasi bakteri Streptococcus mutans setelah didiamkan 24 jam. Kata Kunci : serat sikat gigi, gigi tiruan, bambu apus, nilon, streptococcus mutans
Pengaruh berkumur dengan jus jeruk lemon terhadap penurunan skor halitosis pada siswa usia sekolah menengah atas: studi eksperimental klinis Sitompul, Daniel Rexi; Pintauli, Sondang; Siregar, Darmayanti
Jurnal Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran Vol 37, No 2 (2025): Agustus 2025
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/jkg.v37i2.57745

Abstract

Pendahuluan: Halitosis adalah istilah umum yang digunakan untuk menggambarkan keadaan bau nafas tak sedap yang keluar dari mulut serta melibatkan kesehatan dan kehidupan sosial seseorang. Salah satu terapi untuk mengatasi halitosis yang sering dilakukan adalah dengan menggunakan obat kumur. Jeruk lemon (Citrus limon) sudah lama dikenal sebagai obat dan bahan untuk membuat minuman, penyedap masakan, karena memiliki daya antibakteri dan antioksidan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis efektivitas berkumur jus jeruk lemon terhadap penurunan skor halitosis. Metode: Jenis Penelitian ini adalah eksperimental klinis dengan rancangan pre dan post tes control group design. Subjek berjumlah 30 orang, yang dibagi menjadi 2 kelompok yaitu kelompok berkumur jus jeruk lemon dan betadine. Pengukuran skor halitosis menggunakan Tanita breath checker. Tanita breath checker adalah monitor seukuran telapak tangan yang dapat mendeteksi dan mengukur keberadaan senyawa volatile sulfur compound (VSC) dengan menampilkan skor halitosis. Pengukuran dilakukan sebelum dan sesudah berkumur hari pertama dan hari ketujuh. Hasil: Terdapat penurunan skor halitosis yang signifikan pada kelompok berkumur jus jeruk lemon yaitu; sebelum perlakuan 4,13±0,63, sesudah berkumur hari pertama 3,06±0,70 dan hari ketujuh 0,60±0,50 sedangkan pada kelompok obat kumur betadine yaitu sebelum perlakuan 3,86±0,74, sesudah berkumur hari pertama 2,80±0,67 dan hari ketujuh 0,80±0,56. Skor halitosis Hasil analisis statistik menunjukkan tidak ada perbedaan yang signifikan antara selisih skor halitosis kelompok perlakuan dan kontrol (p>0,05). Simpulan: Berkumur jus jeruk lemon sama efektif dengan obat kumur betadine dalam mengatasi masalah halitosis.  Effect of gargling with lemon juice on the reduction of halitosis scores in high school students: a clinical experimental studyIntroduction: Halitosis is a general term used to describe the condition of unpleasant breath odor originating from the oral cavity, which can affect an individual’s health and social life. One of the most common treatments for halitosis is the use of mouthwash. Lemon (Citrus limon) has long been known for its medicinal properties and use as a beverage ingredient and flavoring agent due to its antibacterial and antioxidant activities. This study aims to analyze the effectiveness of gargling with lemon juice in reducing halitosis scores. Method: This clinical experimental study used a pre- and post-test control group design involving 30 subjects divided into two groups: the lemon juice group and betadine mouthwash group. Halitosis scores were measured using the Tanita breath checker, a palm-sized monitor that detects and measures volatile sulfur compounds (VSCs) by displaying a halitosis score. Measurements were conducted before and after gargling on day one and day seven. Results: There was a significant decrease in halitosis scores in the lemon juice gargle group, before treatment 4.13 ± 0.63, after the first day 3.06 ± 0.70 and after the seventh day 0.60 ± 0.50. Similarly, in the betadine mouthwash group, halitosis scores were 3.86 ± 0.74 before treatment, 2.80 ± 0.67 after the first day and 0.80 ± 0.56 after the seventh day. Statistical analysis showed no significant difference (p>0.05) between the changes in halitosis scores in the two groups. Conclusion: Gargling with lemon juice is as effective as betadine mouthwash in reducing halitosis problems. 
Antimicrobial efficacy of calcium hydroxide nanoparticle and nisin against Enterococcus faecalis in root canal therapy: an experimental study Sidiqa, Atia Nurul; Zakaria, Myrna Nurlatifah
Jurnal Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran Vol 37, No 2 (2025): Agustus 2025
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/jkg.v37i2.63132

Abstract

Introduction: Failure in root canal therapy is often attributed to the incomplete elimination of pathogenic bacteria within infected canals. Enterococcus faecalis is the commonly identified bacteria in persistent cases. Its resistance to high pH environments is primarily mediated by a proton pump mechanism, which reduces the antimicrobial efficacy of calcium hydroxide (Ca(OH)2). Nisin, an antimicrobial peptide, exerts its bactericidal action by disrupting bacterial plasma membranes, leading to cell lysis. The study aimed to evaluate antimicrobial efficacy of Ca(OH)2 nanoparticles and their combination with nisin against E. faecalis. Methods: In the first phase, eight concentration of nisin (10-200 mg/mL) and three concentrations of Ca(OH)2 nanoparticles (0.425-1.7 mg/mL) were tested using the agar diffusion method against E. faecalis on days 1 and 5. In the second phase, Ca(OH)2 nanoparticles were combined with the most effective nisin concentration identified in phase one (100 and 150mg/mL), and antimicrobial activity was assessed on days 1, 3, 7, and 14. All experiments were conducted in triplicate to ensure reproducibility, and data were analyzed using one-way ANOVA followed by post hoc testing (α=0.05). Results: Nisin at 100 mg/mL and 150 mg/mL produced the largest inhibition zones (14.33 mm and 13.83 mm, respectively). The combination of Ca(OH)2 nanoparticles and nisin demonstrated reduced antimicrobial activity compared with Ca(OH)2 nanoparticles alone on days 7 and 14. Conclusions: Both Ca(OH)2 nanoparticles and nisin exhibited antimicrobial effects against E. faecalis. Nisin alone was more effective than Ca(OH)2 nanoparticles; however, their combination resulted in a diminished antimicrobial effect, suggesting a possible interaction or interference between the two agents. Efektivitas antimikroba nanopartikel kalsium hidroksida dan nisin terhadap Enterococcus faecalis pada perawatan saluran akar: studi eksperimenPendahuluan: Kegagalan perawatan saluran akar umumnya disebabkan oleh pembersihan bakteri patogen yang tidak efektif di saluran akar yang terinfeksi. Bakteri E. faecalis adalah bakteri persisten yang menjadi etiologi pada kasus ini. Bakteri E. faecalis memiliki mekanisme pompa proton yang mampu melawan aksi ion OH-, sehingga menghambat efektivitas Ca(OH)2. Antimikroba lain, yaitu Nisin merupakan peptida yang mampu menembus membran plasma bakteri dan menyebabkan lisis sel. Tujuan penelitian ini adalah mengevaluasi efektivitas nanopartikel Ca(OH)2 dan kombinasinya dengan nisin terhadap E. faecalis. Metode: Pada tahap pertama, penelitian terdiri dari 8 kelompok nisin dengan konsentrasi (10-200 mg/mL) dan 3 kelompok nanopartikel Ca(OH)2 konsentrasi (0,425-1,7 mg/mL). Semua kelompok diuji dengan metode difusi terhadap E. faecalis pada hari ke-1 dan ke-5. Bagian kedua, nanopartikel Ca(OH)2 dikombinasikan dengan konsentrasi nisin paling efektif dari penelitian tahap pertama (100 dan 150 mg/mL), kemudian diuji efektivitasnya pada hari ke-1, 3, 7, dan 14. Semua perlakuan diulang sebanyak tiga kali untuk memastikan standarisasi hasil. Analisis statistik dilakukan dengan uji ANOVA dan analisis post hoc (α=0,05). Hasil: Nisin dengan konsentrasi 100 mg/mL dan 150 mg/mL menunjukkan zona hambat terbesar, yaitu 14,33 dan 13,83 mm. Kombinasi nanopartikel Ca(OH)2 dan nisin menghasilkan zona hambat yang lebih kecil di pada pengukuran di hari ke-7 dan 14 dibandingkan dengan nanopartikel Ca(OH)2. Kesimpulan: Nanopartikel Ca(OH)2 dan nisin memiliki efek antimikroba terhadap E. faecalis. Nisin menunjukkan efek antimikroba yang lebih tinggi dibandingkan dengan nanopartikel Ca(OH)2, namun kombinasinya dengan nanopartikel Ca(OH)2 menghasilkan penurunan efektivitas antimikroba pada bakteri E. faecalis.
Pengaruh penambahan nanoselulosa serat daun nanas terhadap kekasaran permukaan resin akrilik polimerisasi panas: studi eksperimen Ahmad Joeffrey, Iffa Iessyahura; Wahyuni, Siti
Jurnal Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran Vol 37, No 2 (2025): Agustus 2025
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/jkg.v37i2.60102

Abstract

Pendahuluan: Resin akrilik polimerisasi panas (RAPP) merupakan bahan basis gigi tiruan yang sering digunakan karena memiliki nilai estetis yang baik, namun bahan ini memiliki sifat mekanis yang rendah sehingga bahan ini mudah mengalami retak atau fraktur. Hal ini dapat diatasi dengan penambahan nanoselulosa serat daun nanas yang mengandungi 69,5-71,5% selulosa. Namun, kekasaran permukaan pada RAPP juga harus dipertimbangkan. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis pengaruh penambahan nanoselulosa serat daun nanas terhadap kekasaran permukaan pada basis RAPP dengan konsentrasi 1 dan 1,5%. Metode: Rancangan penelitian ini adalah eksperimental laboratoris dengan 27 sampel berukuran 65x10x2,5mm. Sampel dibuat dari daun nanas yang dihaluskan hingga menjadi bubuk dan dilakukan delignifikasi untuk menghilangkan lignin serta bleaching. Kemudian dikeringkan dengan oven dan ball-mill untuk mengubah ukuran menjadi nano. Setiap sampel diuji dengan profilometer kontak untuk mengetahui nilai kekasaran permukaan dan dianalisis pengaruhnya menggunakan uji Anova. Hasil: Hasil uji univariat menunjukkan nilai rerata dan standar deviasi kekasaran permukaan basis RAPP tanpa penambahan 0,097±0,032 µm, dengan penambahan nanoselulosa 1% 0,174±0,010 µm dan dengan penambahan nanoselulosa 1,5% sebesar 0,221±0,034 µm. Uji Anova satu arah didapatkan hasil yang signifikan dengan p=0,001 (p<0,05) dan uji LSD yang signifikan dengan nilai p=0,001 (P<0,05). Simpulan: Terdapat perbedaan nilai kekasaran permukaan basis gigi tiruan resin akrilik polimerisasi panas tanpa dan dengan penambahan nanoselulosa serat daun nanas 1% dan 1,5%. Konsentrasi 1% merupakan tingkat konsentrasi paling baik yang ditambahkan pada bahan basis gigi tiruan RAPP untuk meningkatkan sifat mekanis tetapi mempunyai kekasaran permukaan yang rendah.Effect of addition of nanocellulose pineapple leaf fiber to surface roughness of heat polymerized acrylic denture base: an experimental studyIntroduction: Heat polymerized acrylic resin (HPA) is a denture base material that is often used because it has good aesthetic value, but this material has low mechanical properties which is easy to crack or fracture. This can be overcome by the addition of nanocellulose of pineapple leaf fiber which contains 69.5-71.5%. However, surface roughness of HPA must also be considered. The purpose of this study is to analyze the effect of the addition of nanocellulose of pineapple leaf fiber on the surface roughness of the HPA with concentrations of 1% and 1.5%. Methods: The design of this study was a laboratory experiment with 27 samples measuring 65x10x2.5mm. Pineapple leaves fiber were crushed into pulp and delignified to remove lignin and bleaching. Then dry it with an oven and grind with a ball-mill to obtain nanocellulose particles. Each sample was tested with a profilometer to determine the surface roughness value and the effects were analyzed using ANOVA test. Results: Based on the univariate test of the mean value and standard deviation of the surface roughness of HPA without the addition of nanocellulose 0,097±0,032 µm, with the addition of 1% nanocellulose 0,174±0,010 µm and with the addition of 1.5% nanocellulose 0,221±0,034 µm. The one-way Anova test obtained significant results with p=0.001 (p<0.05) and the LSD test with ilia p=0.001 (P<0.05). Conclusion: There was a difference in the surface roughness value of the HPA without and with the addition of 1% and 1.5% pineapple leaf fiber nanocellulose. The 1% concentration is the optimal concentration that can be added to HPA to produce mechanical strength but favorable surface roughness.
Hubungan inklinasi insisivus atas dan ketebalan bibir dengan sudut nasolabial pada maloklusi Angle Kelas I usia 8-11 tahun: studi cross-sectional Rohmah, Fadlilah Nur; Kuswandari, Sri; Supartinah, Al
Jurnal Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran Vol 37, No 2 (2025): Agustus 2025
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/jkg.v37i2.60915

Abstract

Pendahuluan: Sepertiga wajah bawah merupakan bagian penting yang menentukan estetika wajah. Salah satu parameter untuk menentukan estetika wajah yaitu sudut nasolabial. Sudut nasolabial dipengaruhi oleh inklinasi gigi insisivus atas dan ketebalan bibir atas. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis korelasi inklinasi gigi insisivus atas dan ketebalan bibir atas terhadap sudut nasolabial total dan komponen bawah pada maloklusi Angle kelas I modifikasi Dewey tipe 2 pada anak usia 8-11 tahun. Metode: Jenis penelitian yaitu penelitian observasional analitik dengan pendekatan cross-sectional. Sefalogram lateral dari 37 anak, laki-laki 21 dan perempuan 16, usia 8-11 tahun pasien RSGM UGM Prof. Soedomo. Data dianalisis menggunakan analisis korelasi product moment dan regresi linier ganda dengan tingkat signifikansi sebesar 5%. Hasil: Terdapat korelasi negatif antara sudut inklinasi gigi insisivus rahang atas (r=-0,42; p<0.05) dan ketebalan bibir atas (r=-0,53; p<0.05) terhadap sudut nasolabial komponen bawah, sedangkan dengan sudut nasolabial total tidak ditemukan hubungan. Persamaan analisis regresi Y=144-0.44X1-2.17X2 dan R2=0,345. Simpulan: Terdapat hubungan inklinasi gigi insisivus atas dan ketebalan bibir dengan sudut nasolabial. Semakin besar inklinasi gigi insisivus rahang atas dan semakin tebal bibir maka sudut nasolabial komponen bawah semakin kecil. Relationship between upper incisor inclination and lip thickness with nasolabial angle in Angle Class I malocclusion aged 8-11 years:  an analytical observational studyIntroduction: The lower third of the face is an important part that determines facial aesthetics. One of the parameters for determining facial aesthetics is the nasolabial angle. The nasolabial angle is influenced by the inclination of the upper incisors and the thickness of the upper lip. This study aims to analyze the correlationship between the inclination of the upper incisors and the thickness of the upper lip to the total nasolabial angle and the lower component in Angle class I malocclusion modified by Dewey type 2 in children aged 8-11 years. Methods: The type of study is an analytical observational study with a cross-sectional approach. Lateral cephalograms of 37 children, 21 boys and 16 girls, aged 8-11 years, patients of RSGM UGM Prof. Soedomo. Data were analyzed using product moment correlation analysis and multiple linear regression with a significance level of 5%. Results: There is a negative correlation between the angle of inclination of the maxillary incisor teeth (r=-0.42; p<0.05) and the thickness of the upper lip (r=-0.53; p<0.05) to the lower component nasolabial angle, while no relationship was found with the total nasolabial angle. Regression analysis equation Y=144–0.44X1–2.17X2 and R2=0.345. Conclusion: There is a relationship between the inclination of the upper incisor teeth and the thickness of the lip with the nasolabial angle. The greater the inclination of the maxillary incisor teeth and the thicker the lip, the smaller the lower component nasolabial angle.
Differences in factors influencing orthodontists’ consideration of clear aligners, satisfaction, and stability levels in a capital city: a cross-sectional study Purbiati, Maria; Husna, Asmaul; Purwanegara, Miesje Karmiati; Develas, Deo
Jurnal Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran Vol 37, No 2 (2025): Agustus 2025
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/jkg.v37i2.61035

Abstract

ABSTRACTIntroduction: With the increasing number of adult orthodontic patients, there is also a growing demand for more aesthetic and comfortable treatments. Clear aligners are a quite new treatment technique in the field of orthodontics that is being developed using digital-based technology, and their usage is increasing due to their perceived aesthetic and comfortable nature. This research objective was to analyze differences in factors influencing orthodontists’ consideration of clear aligners, satisfaction, and stability levels in a capital city. Methods: This comparative analytical study with a cross-sectional design was conducted to examine the perception of orthodontists in a capital city in Indonesia, Jakarta, regarding the use of clear aligners. Fifty orthodontists taken through Slovin sampling technique, were given a set of questionnaires and divided into two groups based on users and non-users of aligner. The survey utilized a questionnaire consisting of 17 questions with both clinical and satisfactionary criteria, which were sent online via WhatsApp Messenger to the respondents. To compare the data were analyzed by the chi square test statistically. Results: Most of respondent practiced in elite areas of South Jakarta, 52.2%, among other 4 differences cities were observed in the perception of orthodontists who were 46% users and 54% non-users aligner regarding periodontal health factors, treatment efficiency, pain complaints, root resorption, satisfaction levels, and treatment outcome stability. Both clear aligners users and non-users have similar perceptions regarding treatment cost factors influencing the usage of clear aligners, improved oral hygiene, minimal white spot lesions, and better aesthetics. Conclusion: Some parameters were not different, especially for the parameters of treatment cost as a negative perception, and oral hygiene, white spot lesion, and aesthetics, all of which gave similar positive perceptions rated by respondents. This is good considerably for an aligner producer. Keywords clear aligner users and non-users, capital city, orthodontists perception Perbedaan faktor-faktor yang mempengaruhi pertimbangan penggunaan clear aligners, tingkat kepuasan, dan stabilitas oleh ortodontis di sebuah ibu kota negara: studi potong lintang ABSTRAK Pendahuluan: Dengan meningkatnya jumlah pasien ortodontik dewasa, permintaan akan perawatan yang lebih estetis dan nyaman juga meningkat. Clear aligner merupakan teknik perawatan yang cukup baru di bidang ortodontik yang sedang dikembangkan menggunakan teknologi berbasis digital, dan penggunaannya semakin meningkat karena sifatnya yang estetis dan nyaman. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis Perbedaan faktor-faktor yang mempengaruhi pertimbangan penggunaan clear aligners, tingkat kepuasan, dan stabilitas oleh ortodontis di sebuah ibu kota negara. Metode: Metode penelitian analitik komparatif dengan desain potong lintang  dilakukan melalui teknik sampling Slovin, untuk mengkaji persepsi ortodontis di Jakarta, sebuah ibukota negara, Indonesia, mengenai penggunaan clear aligner. Sebanyak lima puluh ortodontis di Jakarta, diberikan kuesioner dan dibagi menjadi dua kelompok berdasarkan pengguna dan bukan pengguna aligner. Survei menggunakan kuesioner dengan 17 pertanyaan tentang reaksi klinis dan kepuasan, yang dikirimkan secara online melalui WhatsApp Messenger kepada responden. Data dianalisis secara statistik dengan uji Chi-Square. Hasil: Sebagian besar responden berpraktik di kawasan elit Jakarta Selatan, 52,2%, di antara 4 kota lainnya perbedaan diamati pada persepsi ortodontis yang merupakan 46% pengguna dan 54% bukan pengguna aligner mengenai faktor kesehatan periodontal, efisiensi perawatan, keluhan nyeri, resorpsi akar, tingkat kepuasan, dan stabilitas hasil perawatan. Baik pengguna clear aligner maupun bukan pengguna memiliki persepsi yang sama mengenai faktor biaya perawatan yang memengaruhi penggunaan clear aligner, peningkatan kebersihan mulut, minimalnya white spot lesion, dan estetika yang lebih baik. Simpulan: Beberapa parameter tidak berbeda, terutama untuk parameter biaya perawatan sebagai persepsi negatif, dan kebersihan mulut, lesi white spot, dan estetika, yang semuanya memberikan persepsi positif yang sama yang dinilai oleh responden. Hal ini cukup baik bagi produsen dan pengguna aligner. Kata kunci Pengguna dan non-pengguna clear aligner, Ibukota negara, persepsi ortodontis.
Korelasi antara profil darah lengkap dengan waktu penyembuhan Recurrent Aphthous Stomatitis: observasional analitik Rajah, Karthiyayinee Alagir; Ayuningtyas, Nurina Febriyanti; Parmadiati, Adiastuti Endah; Radithia, Desiana; Mahdani, Fatma Yasmin; Pratiwi, Aulya Setyo; Bakti, Reiska Kumala; Dewi, Gremita Kusuma
Jurnal Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran Vol 37, No 2 (2025): Agustus 2025
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/jkg.v37i2.61016

Abstract

Pendahuluan: Recurrent Aphthous Stomatitis (RAS) merupakan salah satu penyakit pada mukosa rongga mulut yang paling sering dijumpai. RAS timbul dengan berbagai faktor predisposisi, disertai rasa nyeri, dengan waktu penyembuhan yang berbeda-beda. Tes darah lengkap adalah tes darah mengukur beberapa komponen darah termasuk sel darah merah, sel darah putih, hemoglobin, hematokrit dan trombosit. Di antara faktor etiologi RAS diketahui faktor inflamasi yang berperan. Secara teori, diketahui bahwa neutrofil dan limfosit bertanggung jawab terhadap terjadinya inflamasi. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis apakah terdapat korelasi antara profil hitung darah lengkap dan waktu penyembuhan RAS. Metode: Penelitian ini adalah penelitian analitik observasional dengan rancangan potong-lintang (cross-sectional). Metode pengambilan sampel dalam penelitian ini adalah total sampling. Penelitian ini menggunakan 20 pasien yang sedang mengalami RAS. Data pasien didapatkan dari rekam medik RSGM Universitas Airlangga. Data yang diambil lengkap dengan tes darah pasien serta waktu penyembuhan RAS. Data dari kedua variabel dianalisis menggunakan uji korelasi statistik. Korelasi Pearson digunakan ketika data terdistribusi secara normal sedangkan Spearman's Rho digunakan ketika data tidak terdistribusi secara normal. Hasil: Hasil uji korelasi Pearson antara limfosit dan waktu penyembuhan RAS dengan nilai r=-0,459 ; p=0,042 menunjukkan nilai korelasi negatif yang berarti semakin tinggi kadar limfosit maka semakin rendah waktu penyembuhan RAS. Limfosit, trombosit, eosinofil dan LED juga menunjukkan nilai korelasi negatif tetapi tidak signifikan karena p>0,05. Tidak ada nilai signifikan yang ditemukan pada variabel lain kecuali limfosit dan MCHC. Simpulan: terdapat korelasi antara profil darah lengkap (limfosit dan MCHC) dengan waktu penyembuhan RAS.The correlation between complete blood profile and healing time of Recurrent Aphthous Stomatitis: analytical observationalIntroduction: Recurrent Aphthous Stomatitis (RAS) is one of the most common oral mucosa diseases. RAS occurs with various predisposing factors, accompanied by pain, and has varying healing times. A complete blood count is a blood test that measures several blood components, including red blood cells, white blood cells, hemoglobin, hematocrit, and platelets. Among the etiological factors of RAS, inflammatory factors are known to play a role. In theory, it is known that neutrophils and lymphocytes are responsible for inflammation. Methods: This study is an observational analytical study with a cross-sectional design. The sampling method in this study is total sampling. This study used 20 patients who were experiencing RAS. Patient data has been obtained from the medical records of RSGM Universitas Airlangga. The data is complete, including patient blood tests and RAS healing time. Data from both variables were analyzed using statistical correlation tests. Pearson correlation is used when the data is normally distributed, while Spearman's Rho is used when the data is not normally distributed. Results: The results of the Pearson correlation test between lymphocytes and RAS healing time with a value of r = -0,459; p = 0,042 showed a negative correlation value, meaning that the higher the lymphocyte levels, the lower the RAS healing time. Lymphocytes, platelets, eosinophils, and LED also showed negative correlation values but were not significant because p>0,05. No significant values were found in other variables except lymphocytes and MCHC. Conclusion: a correlation exists between complete blood profile (lymphocytes and MCHC) and RAS healing time.
Ekstrak daun biduri (Calotropis gigantea) sebagai anti inflamasi dalam menurunkan jumlah neutrofil pada model tikus inflamasi: studi eksperimental Permata, Dea; Meilawaty, Zahara; Astuti, Pudji; Dharmayanti, Agustin Wulan Suci; Setyaningsih, Sari; Prasetya, Rendra Chriestedy
Jurnal Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran Vol 37, No 2 (2025): Agustus 2025
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/jkg.v37i2.61210

Abstract

Pendahuluan: Inflamasi adalah respons imun terhadap rangsangan berbahaya yang bertujuan untuk menghilangkan kerusakan dan memulai penyembuhan. Proses inflamasi dimulai dengan pelepasan neutrofil yang mengatur dan memperkuat respon inflamasi namun. Obat Anti-Inflamasi Non-Steroid (NSAID), seperti aspirin, sering digunakan sebagai anti inflamasi tetapi memiliki efek samping. Ekstrak daun biduri (Calotropis gigantea)  yang kaya akan flavonoid, tanin, dan saponin, yang memiliki sifat anti-inflamasi dan penyembuhan luka dengan efek samping yang lebih sedikit dapat digunakan sebagai obat alami alternatif. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis perbedaan kemampuan ekstrak daun biduri (Calotropis gigantea) dalam menurunkan jumlah neutrofil pada inflamasi akut dan subakut pada model tikus inflamasi. Metode: Penelitian ini adalah studi eksperimental in vivo menggunakan desain serial group design. Daun biduri diekstrak menggunakan metode maserasi dengan pelarut etanol 70%. Dosis ekstrak daun biduri yang digunakan adalah 100 mg/kg BB, 200 mg/kg BB, dan 300 mg/kg BB. Tikus wistar diinjeksi dengan karagenan 2% pada punggungnya secara subkutan sebagai model inflamasi. Sampel darah diambil pada interval tertentu untuk membuat hapusan darah, selanjutnya dilakukan penghitungan jumlah neutrofil. Analisis menggunakan Two-way Anova yang dilanjutkan dengan uji LSD. Hasil: Ekstrak daun Calotropis gigantea pada dosis 100 mg/Kg BB, 200 mg/Kg BB, dan 300 mg/Kg BB terbukti dapat mengurangi jumlah neutrofil, terutama pada hari ke-3, dengan dosis 300 mg/Kg BB memberikan hasil terbaik (P=0,001). Simpulan: Pemberian ekstrak daun biduri (Calotropis gigantea) dosis 300 mg/Kg BB memberikan hasil terbaik dalam menurunkan jumlah sel neutrofil pada inflamasi akut dan subakut pada model tikus inflamasi.Calotropis gigantea leaf extract as an anti-inflammatory agent in reducing neutrophil count in an inflammatory rat model: an experimental studyIntroduction: Inflammation is an immune response to harmful stimuli that serves to eliminate tissue damage and initiate healing. The inflammatory process begins with the release of neutrophils, which regulate and amplify the inflammatory response. Non-steroidal anti-inflammatory drugs (NSAIDs), such as aspirin, are commonly used to treat inflammation but may cause side effects. Biduri leaf (Calotropis gigantea)extract which is rich in flavonoids, tannins, and saponins, possesses anti-inflammatory and wound-healing properties with fewer side effects, making it a potential natural alternative medicine. This study aims to evaluate the effectiveness of biduri leaf extract (Calotropis gigantea) in reducing the number of neutrophils during acute and subacute inflammation in an experimental rat model. Methods: This study is an in vivo experimental study using a serial group design. Biduri leaves were extracted using the maceration method with 70% ethanol as the solvent. The biduri leaf extract was administered at doses of 100 mg/kg BW, 200 mg/kg BW, and 300 mg/kg BW. Wistar rats were injected subcutaneously with 2% carrageenan on the dorsal region to induce inflammation. Blood samples were collected at predetermined intervals to prepare blood smears, followed by neutrophil counting. Data were analyzed using two-way ANOVA followed by the LSD post-hoc test. Results: Calotropis gigantea leaf extract at doses of 100 mg/Kg BW, 200 mg/Kg BW, and 300 mg/Kg BW significantly reduced neutrophil counts, particularly on day 3, with the 300 mg/Kg BW dose showing the most pronounced effect (p=0.001). Conclusion: Administration of biduri leaf (Calotropis gigantea) extract at a dose of 300 mg/Kg BW demonstrated the highest effectiveness in reducing neutrophil count during acute and subacute inflammation in an inflammation rat model.
Analisis kekuatan tarik denture adhesive ekstrak daun tembakau sediaan krim terhadap resin akrilik heat cured: studi eksperimental Parnaadji, R Rahardyan; Hardita, Ardhianing; Putri, Althea Berlian; Kristiana, Dewi
Jurnal Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran Vol 37, No 2 (2025): Agustus 2025
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/jkg.v37i2.61127

Abstract

Pendahuluan: Pasien lansia yang menggunakan gigi tiruan lengkap sering mengalami masalah pada saat adaptasi. Sediaan krim perekat gigi tiruan dapat meningkatkan kenyamanan namun memiliki kandungan zinc yang dapat menyebabkan pertumbuhan bakteri dalam rongga mulut, sehingga dicari bahan alternatif dari bahan alami. Tembakau (Nicotiana tabacum L.) diketahui mengandung senyawa bioaktif seperti alkaloid dan flavonoid yang berpotensi sebagai antibakteri, antimikroba sehingga tembakau (Nicotiana tabacum L.) dapat digunakan sebagai bahan adhesif gigi tiruan yang bersifat antimikroba. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis perbedaan kekuatan tarik denture adhesive ekstrak daun tembakau (Nicotiana tabacum L.) konsentrasi 10% dan 20% sediaan krim. Metode: Jenis penelitian ini adalah eksperimental laboratorik dengan rancangan penelitian yaitu post-test only control group design. Sampel penelitian sebanyak 27 sampel yang dibagi menjadi 3 kelompok, yaitu kelompok kontrol perekat gigi tiruan komersial, perekat gigi tiruan ekstrak daun tembakau 10%, dan perekat gigi tiruan ekstrak daun tembakau 20%, kemudian diberi perlakuan perendaman dalam saliva buatan selama 60 detik dan dilakukan uji kekuatan tarik dengan menggunakan Universal Testing Machine. Data yang diperoleh kemudian dianalisis dengan menggunakan uji normalitas Shapiro-Wilk, uji homogenitas Levene-test, uji Kruskal-Wallis dan uji Mann-Whitney Hasil: Perekat gigi tiruan ekstrak daun tembakau 10% memiliki nilai kekuatan tarik yang lebih tinggi jika dibandingkan dengan perekat gigi tiruan ekstrak daun tembakau 20%. Terdapat perbedaan yang signifikan (p<0,05) antara konsentrasi ekstrak daun tembakau 10% dan 20% dengan perekat gigi tiruan komersial Simpulan: Denture adhesive ekstrak daun tembakau (Nicotiana tabacum L.) 10% dan 20% memiliki kekuatan tarik yang sama baik, dengan nilai kekuatan tarik yang lebih tinggi pada ekstrak daun tembakau konsentrasi 10%.Tensile strength analysis of denture adhesive cream containing tobacco leaf extract on heat cured-acrylic resin: an experimental studyIntroduction: Elderly patients who use complete dentures often experience adaptation difficulties. Denture adhesive creams can improve comfort; however, many commercial products contain zinc, which may promote bacterial growth in the oral cavity. Therefore, natural alternative materials are being explored. Tobacco (Nicotiana tabacum L.) contains bioactive compounds such as alkaloids and flavonoids, which have antibacterial and antimicrobial potential. Thus, tobacco (Nicotiana tabacum L.) leaf extract can be utilized as an antimicrobial ingredient in denture adhesive formulations. This study aimed to analyze the differences in tensile strength between denture adhesive creams containing 10% and 20% concentrations of tobacco leaf extract. Methods: The research was carried out in a controlled experimental laboratory setting, utilizing a post-test-only design with a control group. A total of 27 samples were divided into three groups: a control group using commercial denture adhesive, a group using 10% tobacco leaf extract adhesive, and a group using 20% tobacco leaf extract adhesive. All samples were immersed in artificial saliva for 60 seconds before tensile strength testing using a Universal Testing Machine. Data were analyzed using the Shapiro-Wilk test for normality, the Levene-test homogeneity, followed by the Kruskal-Wallis and Mann-Whitney tests. Results: The 10% tobacco leaf extract denture adhesive exhibited a higher tensile strength value compared to the 20% extract formulation. A significant difference (p<0.05) was found between the 10% and 20% concentrations of tobacco leaf extract and the commercial denture adhesive. Conclusion: Denture adhesives containing 10% and 20% tobacco leaf extract (Nicotiana tabacum L.) both demonstrated good tensile strength, with 10% concentration showing superior tensile strength compared to the 20% formulation.
Kekuatan transversal resin akrilik polimerisasi panas dengan penambahan variasi konsentrasi nanoselulosa serat bambu betung (Dendrocalamus asper): studi eksperimental Simanjuntak, Priskila Dewi; Dahar, Eddy
Jurnal Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran Vol 37, No 2 (2025): Agustus 2025
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/jkg.v37i2.62458

Abstract

Pendahuluan: Resin akrilik polimerisasi panas mudah untuk mengalami retak atau patah pada kondisi klinis tertentu. Hal tersebut diatasi dengan alternatif penambahan bahan penguat, salah satunya nanoselulosa serat bambu betung. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis perbedaan efek penambahan nanoselulosa serat bambu betung konsentrasi 0,5%, 0,75%, 1% pada bahan basis gigi tiruan resin akrilik polimerisasi panas terhadap kekuatan transversal. Metode: Rancangan penelitian ini adalah eksperimental laboratoris. Penelitian ini dilakukan pada sampel bahan basis gigi tiruan resin akrilik polimerisasi panas (Huge, China) tanpa dan dengan penambahan nanoselulosa serat bambu betung konsentrasi 0,5%, 0,75%, dan 1%. Sebanyak 32 sampel berukuran 65×10×2,5 mm diuji dengan Universal Testing Machine untuk mengetahui nilai kekuatan transversal. Data hasil penelitian dianalisis menggunakan uji Univariat untuk mengetahui nilai rata-rata dan standar deviasi, uji ANOVA satu arah untuk mengetahui pengaruh, dan uji post hoc LSD (Least Significant Difference) untuk mengetahui perbedaan pengaruh. Hasil: Berdasarkan uji Univariat, nilai rata-rata dan standar deviasi kekuatan transversal pada kelompok kontrol adalah (66,02±2,141) MPa, kelompok konsentrasi 0,5% sebesar (84,07±3,156) MPa, kelompok 0,75% sebesar (89,69±5,354) MPa dan kelompok 1% sebesar (75,35±2,539) MPa. Uji Anova satu arah menunjukkan nilai signifikan dengan p=0,0001 (p<0,05). Uji post hoc LSD menunjukkan nilai signifikan dengan nilai p=0,0001 (p<0,05) dan p=0,003 (p<0,05). Simpulan: Terdapat perbedaan efek penambahan nanoselulosa serat bambu betung konsentrasi 0,5%, 0,75%, dan 1% dalam meningkatkan kekuatan transversal bahan basis gigi tiruan resin akrilik polimerisasi panas.Transverse strength of heat-cured acrylic resin with various concentrations of nanocellulose from Betung bamboo (Dendrocalamus asper) fiber: an experimental studyIntroduction: Heat-cured acrylic resin is prone to cracking or breaking under certain clinical conditions. This issue can be addressed by adding alternative reinforcing materials, such as nanocellulose derived from Betung bamboo fibers (Dendrocalamus asper). This study aimed to analyze the effect of adding Betung bamboo fiber nanocellulose at different concentrations on the transverse strength of heat-cured acrylic resin denture base material. Methods: The research design was an experimental laboratory study. The study was conducted on samples of heat cured acrylic resin denture base ma0terial (Huge, China) both without and with Betung bamboo fiber nanocellulose at concentrations of 0.5%, 0.75%, and 1%. A total of 32 samples, each measuring 65×10×2.5 mm, were tested using a Universal Testing Machine to determine the transverse strength. The research data were analyzed using a univariate analysis to determine the mean values and standard deviations, one-way ANOVA test to determine the effect, and a post hoc LSD (Least Significant Difference) test to identify the differences between groups. Results: Based on Univariate analysis, the average transverse strength and its standard deviation for the control group were 66.02±2.141 MPa, for the 0.5% group were 84.07±3.156 MPa, for the 0.75% group were 89.69±5.354, and for the 1% group were 75.35±2.539 MPa. The one-way ANOVA test showed a statistically significant difference with p-value = 0.0001 (p < 0.05). The post hoc LSD test also showed significant results with p-value = 0.0001 (p < 0.05) and p-value = 0.003 (p < 0.05). Conclusion: There was a significant effect of adding Betung bamboo fiber nanocellulose at concentrations of 0.5%, 0.75%, and 1% on increasing the transverse strength of heat-cured acrylic resin denture base material.

Page 1 of 2 | Total Record : 15