cover
Contact Name
Cecilia Soeriawidjaja
Contact Email
cecilia.soeriawidjaja@unpad.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
jurnal.fkg@unpad.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Jurnal Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran
ISSN : 08546002     EISSN : 25496514     DOI : -
Core Subject : Health,
Bidang cakupan Jurnal Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran adalah semua bidang ilmu kedokteran gigi, yaitu biologi oral; ilmu dan teknologi material gigi; bedah mulut dan maksilofasial; pedodonsia; ilmu kesehatan gigi masyarakat, epidemiologi, dan ilmu kedokteran gigi pencegahan; konservasi gigi, endodontik, dan kedokteran gigi operatif; periodonsia; prostodonsia; ortodonsia; ilmu penyakit mulut; radiologi kedokteran gigi dan maksilofasial; serta perkembangan dan ilmu kedokteran gigi dari pendekatan ilmu lainnya.
Arjuna Subject : -
Articles 10 Documents
Search results for , issue "Vol 37, No 3 (2025): Desember 2025" : 10 Documents clear
Prevalence of systemic risk factors in chronic periodontitis patients at Haji regional public hospital in East Java Province: a cross-sectional study Nilawati, Nina; Sumekar, Henu; Nafiah, Nafiah; Rizal, Moh. Basroni
Jurnal Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran Vol 37, No 3 (2025): Desember 2025
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/jkg.v37i3.64891

Abstract

Introduction: Periodontal disease is a chronic inflammatory disease that affects the tooth-supporting tissues  and is often associated with various systemic disorders. Understanding this relationship is essential for comprehensive dental management. The aim of this study was to determine the prevalence of systemic risk factors among patients with chronic periodontitis at Haji Regional Public Hospital, East Java Province. Methods: A descriptive observational study with a cross-sectional design involving 108 patients diagnosed with chronic periodontitis. Data were collected from electronic medical records and analyzed descriptively using cross-tabulation. Results: The majority of patients were older adults (51.9%) and female (59.3%). A total of 78.7% had systemic conditions, the most common being hypertension and diabetes mellitus. Conclusion: Most chronic periodontitis patients had systemic conditions, particularly among older adults. These findings emphasize the importance of an interdisciplinary approach in periodontal care.Prevalensi faktor risiko sistemik pada pasien periodontitis kronis di Rumah Sakit Umum Daerah Haji Provinsi Jawa Timur: Studi cross sectional Pendahuluan: Penyakit periodontal merupakan penyakit inflamasi kronis yang memengaruhi jaringan penyangga gigi dan sering kali berhubungan dengan berbagai gangguan sistemik. Memahami hubungan ini sangat penting untuk penatalaksanaan kedokteran gigi yang komprehensif. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui prevalensi faktor risiko sistemik pada pasien dengan periodontitis kronis di Rumah sakit Umum Daerah Haji Provinsi Jawa Timur. Metode: Penelitian observasional deskriptif dengan desain potong lintang yang melibatkan 108 pasien yang didiagnosis dengan periodontitis kronis. Data dikumpulkan dari dokumentasi medis elektronik dan dianalisis secara deskriptif menggunakan tabel krostab. Hasil: Mayoritas pasien berusia lanjut (51,9%) dan berjenis kelamin perempuan (59,3%). Sebanyak 78,7% memiliki kondisi sistemik, yang paling umum adalah hipertensi dan diabetes melitus. Simpulan: Sebagian besar pasien dengan periodontitis kronis memiliki kondisi sistemik, terutama pada kelompok usia lanjut. Temuan ini menekankan pentingnya pendekatan interdisipliner dalam perawatan periodontal.
Analisis cemaran logam berat dalam pasta gigi ekstrak biji kopi robusta Pujiastuti, Peni; Arina, Yuliana Mahdiyah Da'at; Praharani, Depi; Wahyukundari, Melok Aris; Sakinah, Neira Najatus; Sari, Desi Sandra
Jurnal Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran Vol 37, No 3 (2025): Desember 2025
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/jkg.v37i3.61265

Abstract

Pendahuluan: Pasta gigi bermanfaat dalam upaya kontrol plak secara mekanis sehingga berperan dalam mencegah penyakit periodontal. Produk pasta gigi ekstrak biji kopi robusta dalam pasta gigi harus memenuhi Standar Nasional Indonesia (SNI) 8861:2020, diantaranya cemaran logam berat, Timbal (Pb), Cadmium (Cd), Raksa (Hg) dan Arsen (As)  dapat mengganggu kesehatan tubuh manusia. Belum ada informasi tentang adanya cemaran logam berat dalam pasta gigi ekstrak biji kopi robusta. Tujuan penelitian mengkaji kesesuaian cemaran Pb, Cd, Hg dan As dalam pasta gigi ekstrak biji kopi robusta dengan standar SNI 8861:2020. Metode: Jenis penelitian ini eksperimental laboratoris dengan sampel pasta gigi ekstrak biji kopi robusta dengan konsentrasi 0,0625%, 0,125%, 0,25%, dan 0,5% serta plasebo. Pembuatan ekstrak biji kopi robusta menggunakan metode maserasi. Pembuatan pasta gigi plasebo dengan kandungan magnesium karbonat, kalsium karbonat, gliserin, propilen glikol, trietanolamin, oleum menthae piperithae, dan aquades steril. Pembuatan pasta gigi ekstrak biji kopi robusta dengan cara mencampur bahan pasta gigi plasebo dengan ekstrak biji kopi robusta 0,0625%, 0,125%, 0,25%, dan 0,5%. Selanjutnya dilakukan uji Pb, Cd, Hg dan As dengan menggunakan metode spektrofotometri serapan atom. Hasil: Kadar Pb pada kontrol negatif 1,382 dan  perlakuan 1,687–1,846. Kadar Cd pada kontrol negatif 0,240 dan perlakuan 0,216–0,239. Kadar Hg dan As pada semua kelompok 0. Seluruh kadar logam masih di bawah batas cemaran. Simpulan: Terdapat cemaran logam berat Pb dan Cd pada pasta gigi ekstrak biji kopi robusta dibawah batas maksimal berdasarkan SNI 8861:2020.Analysis of the compliance of heavy metal contamination in robusta coffee bean extract toothpaste based on the Indonesian National Standard (SNI) 8861:2020: an experimental laboratory studyIntroduction: Toothpaste plays an important role in mechanical plaque control and in preventing periodontal disease. Natural ingredients, including robusta coffee beans, have been used in toothpaste formulations. Toothpaste products containing robusta coffee bean extract must meet the Indonesian National Standard (SNI) 8861:2020, which includes provisions on heavy metal contamination (Pb, Cd, Hg, and As) that can affect human health. To date, there is no information available regarding the presence of heavy metal contamination in robusta coffee bean extract toothpaste. The purpose of the study was to evaluate the compliance of Pb, Cd, Hg and As contamination levels in robusta coffee bean extract toothpaste with the SNI 8861:2020 standard. Method: This study employed an experimental laboratory design using samples of robusta coffee bean extract toothpaste with concentrations of 0.0625%, 0.125%, 0.25%, and 0.5%, as well as a placebo. The robusta coffee bean extract was prepared using the maceration method. The placebo toothpaste was composed of magnesium carbonate, calcium carbonate, glycerin, propylene glycol, triethanolamine, oleum menthae piperitae, and sterile distilled water. The robusta coffee bean extract toothpaste was made by mixing the placebo base with the extract at concentrations of 0.0625%, 0.125%, 0.25%, and 0.5%. Subsequently, tests for Pb, Cd, Hg, and As contamination were carried out using atomic absorption spectrophotometry (AAS). Result: Pb levels in the negative control  group were 1.382,  while those in treatment groups ranged from 1.687 to 1.846. Cd levels in the negative control were 0.240, and in the treatment groups ranged from 0.216 to 0.239. Hg and As levels in all groups were 0. All measured levels of heavy metals remained below the contamination limits set by SNI 8861:2020. Conclusion: The findings showed the presence of Pb and Cd contamination in robusta coffee bean extract toothpaste. However, all concentrations were below the maximum permissible limits established in SNI 8861:2020.
Factors affecting delayed tooth eruption among children aged 6-24 Months: a cross-sectional study Umniyati, Helwiah; Prasonto, Djuned; Pramigi, Ufo; Suriyah, Wastuti Hidayati; Mohd Dom, Tuti Ningseh
Jurnal Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran Vol 37, No 3 (2025): Desember 2025
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/jkg.v37i3.67954

Abstract

Introduction: Nutritional status is one of the most important things that parents must pay attention to, especially when the child is in the golden period of growth, which consists of the period of growth and development, including tooth eruption. Tooth eruption is influenced by various factors, one of which is nutritional factors. Mothers' health status may then determine their children's primary dentition status, and also the child's status itself. This study aims to analyze factors related to delayed tooth eruption in children aged 6–24 months. Methods: This research was a cross-sectional study conducted among 464 children aged 6–24 months. The sampling method employed was a total sampling technique undertaken in 10 villages within the Pandeglang district, West Java. Tooth eruption time used the Primary Tooth Development figure by the American Dental Association (ADA). Statistical analysis was performed using chi-square and logistic regression. Research ethics were obtained from YARSI University. Results: There was a significant relationship between delayed tooth eruption and mother’s Body Mass Index (BMI), nutritional status of children, and gender, with a value of ρ<0.05. Female sex (AOR=1.51), stunting (AOR=1.86), and underweight (AOR=1.78) increased the odds of delayed eruption. Conclusion: Nutritional status influences eruption timing. Integrating oral assessments into routine child growth monitoring could improve early detection of developmental risks in children aged 6 – 24 months.  Faktor-faktor yang mempengaruhi keterlambatan erupsi gigi pada anak usia 6-24 bulan: studi cross-sectionalPendahuluan: Status gizi merupakan faktor krusial yang perlu diperhatikan oleh orang tua, terutama pada masa perkembangan awal anak, yang meliputi periode pertumbuhan pesat, perkembangan fisiologis, serta erupsi gigi. Erupsi gigi dipengaruhi oleh berbagai faktor, salah satunya adalah faktor gizi. Status kesehatan ibu menentukan status gigi sulung anak-anak mereka, demikian pula status anak itu sendiri. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor-faktor yang berhubungan dengan keterlambatan erupsi gigi pada anak usia 6 - 24 bulan. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian potong lintang yang dilakukan di antara 464 anak usia 6 - 24 bulan. Metode pengambilan sampel yang digunakan adalah teknik total sampling yang dilakukan di 10 desa di kabupaten Pandeglang, Jawa Barat. Waktu erupsi gigi menggunakan angka Perkembangan Gigi Sulung oleh American Dental Association (ADA). Analisis statistik dilakukan dengan menggunakan chi-square dan regresi logistik. Hasil: Terdapat hubungan yang signifikan antara keterlambatan erupsi gigi dengan IMT ibu, status gizi anak, dan jenis kelamin, diperoleh nilai p=0,05. Jenis kelamin perempuan (AOR=1,51), stunting (AOR=1,86), dan berat badan kurang (AOR=1,78) meningkatkan kemungkinan erupsi tertunda. Simpulan: Status gizi secara memengaruhi waktu erupsi. Mengintegrasikan pemeriksaan gigi ke dalam pemantauan pertumbuhan anak secara rutin dapat meningkatkan deteksi dini risiko pada anak usia 6-24 bulan. 
PENGARUH LAMA PEMANASAN DAN JENIS PREHEATED RESIN KOMPOSIT SEBAGAI BAHAN SEMENTASI TERHADAP KEKUATAN GESER PELEKATAN VINIR LITHIUM DISILICATE Mayasari, Rena; Untara, Tri Endra; Kristanti, Yulita
Jurnal Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran Vol 37, No 3 (2025): Desember 2025
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/jkg.v37i3.61896

Abstract

Pendahuluan: Vinir Lithium disilicate banyak diminati sebagai kebutuhan estetik gigi anterior. Pemilihan bahan sementasi penting diperhatikan untuk mencapai keberhasilan vinir. Pemanasan resin komposit untuk meningkatkan sifat fisik dan mekaniknya menjadikan preheated resin komposit sebagai alternatif semen resin yang banyak digunakan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh jenis resin komposit dan lama pemanasan preheated resin komposit sebagai bahan sementasi vinir lithium disilicate. Metode: Penelitian eksperimental laboratoris menggunakan 48 sampel gigi premolar maksila yang dibagi menjadi enam kelompok yaitu jenis resin komposit microhybrid dengan lama pemanasan 10, 20, dan 30 menit dan resin komposit nanohybrid dengan lama pemanasan 10, 20, dan 30 menit  yang dipanaskan pada suhu 55ºC sebagai bahan sementasi lithium disilicate. Sampel disimpan dalam inkubator suhu 37º selama 24 jam, lalu diuji kekuatan geser pelekatan menggunakan Universal Testing Machine (UTM) kecepatan 0,5 mm/menit. Pengamatan tambahan dilakukan dengan mikroskop stereo untuk mengidentifikasi tipe kegagalan pelekatan. Hasil: Uji ANAVA dua jalur menunjukkan bahwa jenis preheated resin komposit memiliki nilai p=0,001 (p<0,05) artinya terdapat pengaruh signifikan jenis resin komposit nanohybrid dan microhybrid terhadap kekuatan geser pelekatan, sedangkan variabel lama pemanasan diperoleh nilai  p=0,058 (p>0,05) artinya tidak ada pengaruh antar kelompok lama pemanasan resin komposit nanohybrid dan microhybrid terhadap kekuatan geser pelekatan. Simpulan: preheated resin komposit microhybrid sebahai bahan sementasi lithium disilicate menghasilkan kekuatan geser lebih baik dibandingkan nanohybrid. Lama pemanasan resin komposit  suhu 55° selama 10, 20, dan, 30 menit tidak berpengaruh signifikan terhadap kekuatan geser pelekatan.
Hubungan karies gigi dengan kualitas hidup pada anak usia Sekolah Dasar: studi cross-sectional Nanda, Lisa May; Endriani, Rita; Anggraini, Dewi; Prakoso, Agung Tri; Rafni, Elita
Jurnal Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran Vol 37, No 3 (2025): Desember 2025
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/jkg.v37i3.60135

Abstract

Pendahuluan: Karies gigi merupakan salah satu masalah kesehatan gigi dan mulut yang umum terjadi di dunia dan dapat memengaruhi kualitas hidup anak. Berdasarkan data WHO melaporkan prevalensi karies gigi pada anak sekolah di dunia mencapai 60–90%. Prevalensi karies gigi di Indonesia berdasarkan Survei Kesehatan Indonesia (SKI) tahun 2023 dilaporkan mencapai 82,8%. Sementara itu Riskesdas 2018 melaporkan bahwa prevalensi karies gigi pada anak di Indonesia mencapai 88,8% dengan tingkat karies tertinggi pada kelompok usia 5-9 tahun dan 10-14 tahun. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis hubungan antara karies gigi dengan kualitas hidup pada anak di SDN 004 Teratak Buluh. Metode: jenis penelitian adalah observasional analitik dengan pendekatan cross sectional. Teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah stratified random sampling dengan jumlah sampel sebanyak 55 orang. Penelitian ini dilakukan dalam rentang waktu Juli–Desember 2024. Kuesioner yang digunakan adalah Oral Health Impact Profile-14 (OHIP-14). Skala OHIP-14 digunakan untuk mengukur kualitas hidup, sedangkan indeks DMF-T/def-t digunakan untuk mengukur status karies. Data yang digunakan merupakan data primer yang diambil dari formulir hasil pemeriksaan karies gigi siswa SDN 004 Teratak Buluh dan data penilaian kualitas hidup diambil dari hasil penilaian kuesioner OHIP-14. Uji analisis data menggunakan Chi-Square. Hasil:  Sebagian besar responden mengalami karies gigi sebanyak 80%, status kualitas hidup responden berkategori buruk sebanyak 67,3%. Uji statistik hubungan karies gigi dengan kualitas hidup menunjukkan hubungan signifikan dengan nilai p<0.001 Simpulan: Peningkatan kejadian karies gigi berhubungan dengan penurunan kualitas hidup pada anak usia sekolah dasar.      Relationship between dental caries and quality of life among elementary school aged children : a cross-sectional studyIntroduction: Dental caries is a common oral health problem worldwide and can significantly affect quality of life among children. According to the World Health Organization (WHO), the prevalence of dental caries in school-aged children worldwide ranges from 60% to 90%. According to the 2023 Indonesian Health Survey (SKI), the prevalence of dental caries in Indonesia was reported to reach 82.8%. Meanwhile, the 2018 Basic Health Research (Riskesdas) report showed that the prevalence of dental caries in Indonesian children reached 88.8%, with the highest incidence observed among those aged 5–9 years and 10–14 years. This study aimed to analyze the relationship between dental caries and quality of life among children at SDN 004 Teratak Buluh. Methods: This study was an analytical observational study with a cross-sectional approach. The sampling technique used was stratified random sampling, with a total sample of 55 participants. Data collection was carried out from July to December 2024. The questionnaire was Oral Health Impact Profile-14 (OHIP-14), which was used to measure quality of life, while the DMF-T/def-t index was used to measure caries status. Data analysis was conducted using the Chi-square test. Results: The majority of respondents experienced dental caries 80%, while 67.3% were categorized as having poor quality of life. Statistical analysis of the relationship between dental caries and quality of life showed a significant relationship (p <0.001) Conclusion: An increased incidence of dental caries was significantly associated with a decrease in quality of life among elementary school–aged children.
Efektivitas minyak atsiri daun dan batang semu serai dapur (Cymbopogon citratus (DC)Stapf.) terhadap pertumbuhan bakteri Streptococcus mutans penyebab karies gigi: studi eksperimental Kamlau, Raisha Suci; Bakhtiar, Amri; Sari, Widya Puspita
Jurnal Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran Vol 37, No 3 (2025): Desember 2025
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/jkg.v37i3.61488

Abstract

Pendahuluan : Karies gigi merupakan masalah kesehatan gigi dan mulut dengan prevalensi tertinggi di Indonesia yang disebabkan oleh Streptococcus mutans. Penggunaan antibiotik masih menjadi perawatan utama, namun beresiko menimbulkan alergi dan resistensi bakteri apabila tidak diberikan secara tepat. Permasalahan tersebut dapat diatasi dengan pemanfaatan tanaman obat sebagai alternatif antibakteri, salah satunya serai dapur (Cymbopogon citratus (DC.) Stapf.) yang mengandung minyak atsiri dengan senyawa antibakteri seperti sitral, geraniol, dan neral. Tujuan penelitian untuk menganalisis efektivitas minyak atsiri daun dan batang semu serai dapur terhadap pertumbuhan Streptococcus mutans. Metode: Penelitian ini adalah studi eksperimental laboratorium dengan rancangan post-test only control group design. Sampel penelitian ini Streptococcus mutans  ATCC 25175. Minyak atsiri serai dapur daun dan batang semu didapatkan dari destilasi air-uap kemudian diuji aktivitas antibakteri dengan metode difusi cakram menggunakan media Nutrient Agar (NA) terhadap konsentrasi 5%, 10%, 15% dan kontrol positif (Amoksisilin 32 µg), serta kontrol negatif (DMSO). Analisis statistik menggunakan uji two way ANOVA yang dilanjutkan uji LSD. Hasil: Terdapat zona hambat minyak atsiri daun dan batang semu terhadap Streptococcus mutans. Minyak atsiri daun serai dapur konsentrasi 5% (2,86 mm), 10% (9,78 mm) dan 15% (14,96 mm), sedangkan minyak atsiri batang semu serai dapur konsentrasi 5% (1,23 mm), 10% (7,58 mm) dan 15% (13,55 mm). Uji two way ANOVA dan uji LSD diperoleh hasil yang signifikan dengan p=0,001 (p<0,05). Simpulan: Terdapat efektivitas minyak atsiri daun dan batang semu serai dapur terhadap pertumbuhan Streptococcus mutans pada konsentrasi 15% dengan kategori kuat.The effectiveness of essential oil from lemongrass leaves and pseudostems on the growth Of Streptococcus mutans: an experimental studyIntroduction: Dental caries is the most prevalent oral health problem in Indonesia, primarily caused by the bacterium Streptococcus mutans. Antibiotics remain the main treatment, but they carry the risk of causing allergies and bacterial resistance if not administered properly. This problem can be addressed by utilizing medicinal plants as alternative antibacterial agents, one of which is lemongrass (Cymbopogon citratus (DC.) Stapf.), which contains essential oils with antibacterial compounds such as citral, geraniol, and neral. The purpose of this study was to analyze the effectiveness of essential oils from lemongrass leaves and pseudostems on the growth of Streptococcus mutans. Methods: This study was a laboratory experimental study with a post-test only control group design. The research sample was Streptococcus mutans ATCC 25175. Essential oils from lemongrass leaves and pseudostems were obtained from steam distillation and then tested for antibacterial activity using the disc diffusion method with Nutrient Agar (NA) medium at concentrations of 5%, 10%, 15%, and a positive control (Amoxicillin 32 µg) as well as a negative control (DMSO). Statistical analysis was performed using a two-way ANOVA test followed by an LSD test. Results: There was an inhibition zone formed by essential oils from lemongrass leaves and pseudostems against Streptococcus mutans. Essential oil from lemongrass leaves at concentrations of 5% (2.86 mm), 10% (9.78 mm), and 15% (14.96 mm), while lemongrass pseudostem essential oil at concentrations of 5% (1.23 mm), 10% (7.58 mm) and 15% (13.55 mm). The two-way ANOVA and LSD tests yielded significant results with p=0.001 (p<0.05). Conclusion: There was significant antibacterial activity in essential oil from the leaves and pseudostems of lemongrass against the growth of Streptococcus mutans at a concentration of 15%,indicating strong antibacterial strength.
Effect of adding durian seed flour (Durio zibethinus Murr.) on the setting time of alginate impression material: an experimental laboratory study Fransiska, Aria; Isnain, Zahrotus Shobah; Ramayanti, Sri; Yohana, Nelvi; Cahyanto, Arief
Jurnal Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran Vol 37, No 3 (2025): Desember 2025
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/jkg.v37i3.62817

Abstract

Introduction: Alginate is one of the most commonly used impression materials in dentistry to obtain a negative reproduction of teeth and surrounding tissues. To achieve an accurate impression, alginate must have an adequate setting time. However, its tendency to set too quickly is one of the material’s main weaknesses in clinical use. Modification of alginate with durian seed flour (Durio zibethinus Murr.), which contains amylose and amylopectin, may alter its setting time. This study aimed to analyze the effect of adding durian seed flour on the setting time of alginate impression material. Methods: This was an experimental laboratory study using a post-test only control group design. The samples consisted of pure alginate and alginate mixed with 20% and 40% durian seed flour, for a total of 30 samples. The setting time was measured using a cylinder rod tip and recorded with a stopwatch. Data were analyzed using One-way ANOVA followed by Post Hoc LSD tests. Results: The mean setting times of pure alginate, alginate 80% + durian seed flour 20%, and alginate 60% + durian seed flour 40% were 132.2 ± 3.495 s; 212.3 ± 3.742 s; and 266.8±3.369 s, respectively. The addition of durian seed flour significantly affected the setting time of alginate impression material (p<0.05). Conclusion: Alginate with 40% durian seed flour addition exhibited the longest setting time compared with other sample groups. However, alginate with 20% and 40% durian seed flour additions still met the American Dental Association (ADA) Specification No. 18 for acceptable setting time.Pengaruh penambahan tepung biji durian (Durio zibethinus Murr.) terhadap setting time bahan cetak alginat: eksperimental laboratorisPendahuluan: Bahan cetak alginat merupakan bahan cetak yang paling sering digunakan di kedokteran gigi untuk mendapatkan reproduksi negatif gigi dan jaringan disekitarnya. Alginat harus memiliki setting time yang cukup agar dapat menghasilkan cetakan yang baik. Setting time yang cenderung terlalu cepat menjadi salah satu kelemahan alginat dalam keadaan klinis. Modifikasi alginate dengan penambahan tepung biji durian yang memiliki kandungan amilosa dan amilopektin dapat mempengaruhi setting time alginat. Tujuan menganalisis pengaruh penambahan tepung biji durian (Durio zibethinus Murr.) terhadap setting time bahan cetak alginat. Metode: Penelitian ini menggunakan jenis penelitian experimental laboratory dengan desain penelitian post-test only control group design. Sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah bahan cetak alginat murni serta alginat dengan penambahan tepung biji durian 20% dan 40%. Total sampel keseluruhan sebanyak 30 sampel. Setting time diukur dengan ujung batang silinder dan dihitung menggunakan stopwatch. Data hasil penelitian dianalisis menggunakan uji One Way ANOVA dan Post Hoc LSD. Hasil: Rata-rata hasil pengukuran setting time alginat murni, alginat 80%+tepung biji durian 20%, alginat 60%+tepung biji durian 40% berturut-turut adalah: 132,2±3,495; 212,3±3,742; 266,8±3,369. Penelitian ini menunjukkan bahwa penambahan tepung biji durian berpengaruh terhadap setting time bahan cetak alginat (p<0,05). Kesimpulan: Alginat dengan penambahan tepung biji durian 40% memiliki setting time yang paling lama dibandingkan dengan kelompok sampel lainnya pada penelitian ini. Alginat dengan penambahan tepung biji durian 20% dan 40% memiliki setting time yang masih sesuai dengan standar American Dental Association (ADA) No. 18.
Pengaruh aplikasi ekstrak cangkang kerang hijau (Perna Viridis) konsentrasi 20% dalam sediaan mousse terhadap kadar kalsium email gigi sulung: studi eksperimental Wardani, Sito Resmi Hayuning; Mahendra, Putri Kusuma Wardani; Bramanti, Indra
Jurnal Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran Vol 37, No 3 (2025): Desember 2025
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/jkg.v37i3.60956

Abstract

Pendahuluan: Cangkang kerang hijau (Perna viridis) mengandung 95% kalsium karbonat amorf murni yang berfungsi sebagai prekursor hidroksiapatit. Hidroksiapatit berperan dalam proses remineralisasi gigi.  Efektifitas penggunaan sintesis hidroksiapatit sangat dipengaruhi oleh bentuk sediaan yang diberikan. Tujuan penelitian ini menganalisis pengaruh aplikasi ekstrak cangkang kerang hijau (Perna Viridis) konsentrasi 20% dalam sediaan mousse terhadap kadar kalsium email gigi sulung. Metode: penelitian eksperimental semu dengan menggunakan 16 gigi insisivus desidui anterior yang dibagi menjadi 4 kelompok penelitian. Sebelum diberikan perlakuan, dilakukan demineralisasi menggunakan asam fosfat 37%. Kelompok perlakuan diaplikasikan mousse cangkang kerang hijau konsentrasi 20%, kelompok kontrol positif diaplikasikan CPP-ACP, kelompok kontrol negatif tidak diberikan perlakuan dan kelompok basis diaplikasikan mousse ke permukaan labial gigi. Keseluruhan sampel dimasukkan ke dalam inkubator bersuhu 37˚C dan diambil sesuai dengan waktu retensinya yaitu 30 menit, setelah pemaparan bahan remineralisasi. Pengukuran kadar kalsium gigi dilakukan menggunakan Spektrofotometri Serapan Atom (SSA). Analisis data dilakukan dengan menggunakan uji Anova dan post hoc.  Hasil: Kelompok mousse cangkang kerang hijau memiliki kadar kalsium tertinggi, diikuti dengan kelompok kontrol positif, basis mousse dan kelompok kontrol negatif. Hasil One Way ANOVA menunjukkan adanya perbedaan kadar kalsium yang bermakna antara kelompok perlakuan (p=0,001). Hasil uji Post Hoc LSD menunjukkan adanya perbedaan yang signifikan (p<0,05) antara kelompok kontrol negatif dengan kelompok kontrol positif (p=0,001) dan kelompok mousse kerang hijau (p=0,001). Simpulan: Pemberian aplikasi mousse ekstrak cangkang kerang hijau konsentrasi 20% dapat meningkatkan kadar kalsium email gigi sulung.Effect of 20% green mussel (Perna viridis) shell extract in mousse formulation on the calcium content of deciduous tooth enamel: an experimental studyIntroduction: Green mussel shells (Perna viridis) contain 95% amorphous calcium carbonate (CACO3), which serves as a precursor for hydroxyapatite, which plays an important role in the tooth remineralization process. The effectiveness of hydroxyapatite synthesis application is greatly influenced by the formulation and form of the preparation. This study aimed to determine the effect of a 20% green mussel shell extract in mousse formulation on the calcium content of deciduous tooth enamel. Methods: This was a quasi-experimental study using 16 anterior deciduous incisor teeth divided into four experimental groups. Before treatment, demineralization was performed using 37% phosphoric acid. The treatment group received mousse containing 20% green mussel shell extract, the positive control group received CPP-ACP, the negative control group received no treatment, and the base group received plain mousse applied to the labial tooth surface. All samples were placed in an incubator at a temperature of 37˚C and collected according to their retention time, i.e., 30 minutes after exposure to the remineralizing agents. Measurement of enamel calcium levels was performed using Atomic Absorption Spectrophotometry (AAS). Data were analyzed using one-way ANOVA followed by a post hoc LSD test. Results: The group treated with 20% green mussel shell mousse showed the highest calcium levels followed by the positive control group, mousse base group, and negative control group. The one-way ANOVA results showed a significant difference in calcium levels between treatment groups (p=0.001). The Post Hoc LSD test results showed a significant difference (p<0.05) between the negative control group and both the positive control (p=0.001) and green mussel mousse group (p=0.001). Conclusion: Application of 20% green mussel shell extract mousse effectively increases the calcium content of deciduous tooth enamel.
Availability, type, brand, and price as preference of shade matching tools for dentists in Jakarta’s dental sector: a cross-sectional study Octarina, Octarina; Tirtania, Carinna; Maringka, Stella Maria Fidela; Rinanti, Astri; Razak, Fathilah Abdul
Jurnal Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran Vol 37, No 3 (2025): Desember 2025
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/jkg.v37i3.63476

Abstract

Introduction: Shade selection in aesthetic dental procedures remains a challenge in dentistry. This challenge arises due to the high complexity of natural tooth color. The use of a shade guide as a form of communication between dentists and dental technicians is highly subjective, leading to the emergence of digital methods that offer a higher level of accuracy and consistency. The purpose of this research is to assess the type, brand, and price as preference of shade matching tools for dentists in Jakarta’s dental sector. Methods: The survey was conducted as a descriptive observational study using cluster sampling through questionnaires and a review of shade matching product catalogs from 30 dental suppliers, 4 dental clinics, and 7 dental laboratories in Jakarta. Results: There is a variety in the price and availability of shade matching products sold by dental suppliers in Jakarta, with VITA branded products dominating the market, including VITAPAN Classical (25%), VITA Classical (15%), VITA 3D Master (12%), and Ivoclar Vivadent (12%). In both clinics and dental laboratories, all respondents reported using visual methods, with VITA Classical and VITA 3D Master being the most commonly used products. Conclusion: Shade matching products available from dental suppliers, as well as their use in clinics and laboratories in Jakarta, are predominantly based on visual methods, with VITA Classical and VITA 3D Master being the most preferred shade guides. Digital shade matching methods are rarely encountered, mainly due to product complexity, cost, distribution limitations, and lack of training.Ketersediaan, tipe, merk, dan harga sebagai preferensi alat pencocokan warna oleh dokter gigi di sektor kedokteran gigi jakarta: survei potong lintangPendahuluan: Pemilihan warna dalam prosedur estetika menjadi tantangan dalam kedokteran gigi. Tantangan ini muncul karena warna alami gigi memiliki kompleksitas yang tinggi. Penggunaan shade guide sebagai bentuk komunikasi antara dokter gigi maupun teknisi laboratorium bersifat sangat subjektif sehingga muncul metode digital yang menawarkan tingkat akurasi dan konsistensi yang lebih tinggi. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengevaluasi jenis, merek, dan harga sebagai preferensi alat pemilihan warna bagi dokter gigi di Jakarta. Metode: Survei dilakukan sebagai penelitian observasional deskriptif menggunakan sampling klaster dengan mengajukan pertanyaan serta penelahaan katalog produk shade matching pada 30 dental supplier, 4 klinik gigi, dan 7 laboratorium gigi yang ada di Jakarta. Hasil: Terdapat berbagai variasi dalam harga dan ketersediaan produk shade matching yang di jual dental supplier di Jakarta, dengan dominasi produk bermerek VITA, yaitu VITAPAN Classic (25%), VITA classical (15%), VITA 3D Master (12%) dan Ivoclar Vivadent (12%). Pada klinik dan laboratorium gigi didapatkan hasil bahwa seluruhnya menggunakan metode visual dengan produk yang paling banyak digunakan yaitu VITA Classical (27%) dan 3D Master (36%). Simpulan: Produk shade matching yang tersedia di dental supplier serta penggunaannya di klinik dan laboratorium Jakarta didominasi metode visual dengan VITA Classical dan 3D Master menjadi shade guide yang paling digemari. Metode pencocokan warna dengan metode digital jarang ditemui disebabkan kompleksitas produk, kendala harga, distribusi, dan kurangnya pelatihan. 
Tingkat kepedulian ibu dikaji dari pengetahuan dan perilaku ibu terhadap status kesehatan rongga mulut anak sindrom Down: studi cross sectional agustina, Bhintari ayu; Kuswandari, Sri; Supartinah, Al
Jurnal Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran Vol 37, No 3 (2025): Desember 2025
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/jkg.v37i3.60907

Abstract

Pendahuluan: Anak dengan sindrom Down memiliki risiko tinggi mengalami kesehatan rongga mulut yang buruk akibat gangguan motorik, gangguan kognitif serta rendahnya kepedulian ibu. Tujuan penelitian ini untuk menganalisis pengaruh tingkat kepedulian ibu yang berdasarkan pengetahuan dan perilaku ibu terhadap status kesehatan rongga mulut anak sindrom Down usia 6-12 tahun. Metode: Penelitian observasional dengan pendekatan cross sectional dilakukan pada 30 anak sindrom Down dan Persatuan Orang Tua Anak sindrom Down (POTADS) di Yogyakarta dan Kebumen. Tingkat pengetahuan dan perilaku dinilai menggunakan kuesioner skala Guttman yang di kembangkan dari penelitian Arnela Nur. Status kesehatan rongga mulut anak diukur dengan gingival index (GI) dan patient hygiene performance index (PHP). Analisis statistik menggunakan uji correlation Spearman dan regresi linier berganda pada tingkat kepercayaan 95%. Hasil: Terdapat hubungan bermakna antara perilaku ibu dengan GI (r=0,57; p<0,05), PHP (r=0,74; p<0,05) dan pengetahuan ibu dengan PHP (r=0,38; p<0,05) pengetahuan dengan PHP (r=-0,20; p>0,05) tidak bermakna. Kontribusi pengetahuan dan perilaku ibu terhadap GI memiliki nilai R²=0,39, sedangkan kontribusinya terhadap PHP adalah R²=0,67.  Simpulan: Pengetahuan ibu memiliki hubungan yang lemah terhadap penurunan skor PHP dan tidak berhubungan dengan GI ,anak, sedangkan perilaku ibu menunjukkan hubungan bermakna terhadap penurunan skor GI dan PHP anak, sehingga perilaku perawatan mulut yang baik dari ibu untuk anak dapat meningkatkan kesehatan rongga mulut anak sindrom Down.Assessment of maternal concern based on mothers’ knowledge and behavior toward the oral health status of children with Down syndrome: a cross-sectional studyIntroduction: Children with Down syndrome are at high risk for poor oral health due to motor impairments, cognitive limitations, and low levels of maternal concern. The purpose of this study was to analyze the influence of maternal concern, based on knowledge and behavior, on the oral health status of children with down syndrome aged 6-12 years. Methods: This observational study with a cross-sectional approach involved 30 children with Down syndrome and their mothers, members of Persatuan Orang Tua Anak Sindrom Down (POTADS) in Yogyakarta and Kebumen. Maternal knowledge and behavior were assessed using a Guttman scale questionnaire developed from the study of Arnela Nur. The children’s oral health status was measured using the Gingival Index (GI) and Patient Hygiene Performance (PHP) Index. Data were analyzed using Spearman’s correlation test and multiple linear regression at a 95% confidence level. Results: There was a significant relationship between maternal behavior and the GI (r=0.57; p<0.05) and PHP scores (r=0.74; p<0.05), as well as between maternal knowledge and PHP (r 0.38; p<0.05). However, the relationship between knowledge and GI was not significant (r=–0.20; p>0.05). The contribution of maternal knowledge and behavior to GI was R²=0.39, while their contribution to PHP was R²=0.67. Conclusion: Maternal knowledge showed a weak relationship with lower PHP scores and no association with GI, whereas maternal behavior showed a significant relationship with reduced GI and PHP scores in children. Thus, good maternal oral care behavior can improve the oral health status of children with Down syndrome.

Page 1 of 1 | Total Record : 10