Claim Missing Document
Check
Articles

TIPOLOGI STRUKTUR FRASE PREPOSISIONAL BAHASA RUSIA,INGGRIS, DAN INDONESIA (Suatu Kajian Kontrastif) Susi Machdalena; Ypsi Soeriasoemantri; Wagiati -
Sosiohumaniora Vol 4, No 3 (2002): SOSIOHUMANIORA, NOPEMBER 2002
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/sosiohumaniora.v4i3.5271

Abstract

Penelitian ini berjudul “Tipologi Frase Preposisional Bahasa Rusia,Inggris,dan Indonesia (Suatu Kajian Kontrasif).” Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji secara tipologis frase dari ketiga bahasa tersebut. Frase preposisional bahasa Rusia dikontrastifkan dengan frase preposisional bahasa Inggris dan Indonesia. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif analisis. Data-data diperoleh dari buku-buku pelajaran bahasa Rusia. Dari penelitian ini dihasilkan bahwa secara eksplisit dalam bahasa Rusia tidak digunakan istilah frase preposisional. Dalam bahasa Rusia hanya dikenal frase verba yang merupakan gabungan verba dengan nomina berpreposisi, sedangkan dalam bahasa Inggris dan Indonesia istilah tersebut disebut preposisional. Frase verba bahasa Rusia (gabungan verba dan nomina berpreposisi) memiliki pemarkah preposisi dan sufiks yang melekat pada nominanya. Adanya preposisi dalam frase tersebut menentukan kasus yang akan digunakan nomina, sedangkan dalam bahasa Inggris dan Indonesia nomina tidak berubah walaupun terdapat preposisi. Kata kunci : Tipologi, frase, kontrastif
AMANAT RELIGIUS DALAM NOVEL SENJA DI JAKARTA KARYA MOCHTAR LUBIS SEBAGAI SARANA MENDEKATKAN DIRI KEPADA TUHAN R. Yudi Permadi; Wagiati -; Eni Karlieni
Sosiohumaniora Vol 3, No 1 (2001): SOSIOHUMANIORA, MARET 2001
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/sosiohumaniora.v3i1.5196

Abstract

Penelitian ini membicarakan amanat religius dalam novel Senja di Jakarta. Adapun tujuannya adalah memperoleh gambaran yang jelas dan lengkap mengenai unsur religius yang berfungsi sebagai sarana untuk mendekatkan diri kepada Tuhan. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah struktural. Unsur-unsur yang membangun struktur novel tersebut secara fungsional saling berhubungan sehingga membantu dalam mengungkapkan maknanya. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa tokoh-tokoh yang mengalami krisis dalam hidupnya disebabkan oleh kurang didalaminya ajaran agama yang sebetulnya merupakan pedoman hidup. Karena itulah, ajaran agama sangat penting bagi manusia sebab merupakan kebutuhan jiwa yang paling dasar. Kata kunci : Mimesis, kredibilitas, fiksi, religius, legimitasi, Gramofon.
VITALITAS BAHASA SUNDA DI KABUPATEN BANDUNG Wagiati Wagiati; Wahya Wahya; Sugeng Riyanto
LITERA Vol 16, No 2: LITERA OKTOBER 2017
Publisher : Faculty of Languages and Arts, Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21831/ltr.v16i2.14357

Abstract

AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk membuktikan vitalitas (daya hidup, tingkat kesehatan) bahasa Sunda menghadapi bahasa Indonesia. Penelitian itu berancangan kuantitatif dengan menggunakan dua variabel bebas, yakni penggunaan bahasa Sunda yang dihadapkan dengan bahasa Indonesia dan kelompok pengguna bahasa Sunda sebagai bahasa pertama, yakni keluarga asli Sunda yang bermukim di Kabupaten Bandung, Jawa Barat. Variabel terikatnya adalah pilihan bahasa, yakni bahasa Sunda atau bahasa Indonesia. Hasil penelitian membuktikan bahwa vitalitas bahasa Sunda kuat pada ranah kekeluargaan, transaksional, dan kekariban; tetapi lemah pada ranah kedinasan dan orang tidak dikenal. Dari segi kesepakatan, ranah keluarga, transaksional, dan kekariban juga menduduki tempat yang tinggi dibandingkan ranah kedinasan dan orang tidak dikenal. Penggunaan terbanyak bahasa Sunda ada pada ranah kekeluargaan, terutama pada saat informan berbicara dengan kakek/nenek dan ayah/ibu. Bahasa Sunda berkurang vitalitasnya pada ranah kedinasan dan ranah orang tidak dikenal.Kata kunci: vitalitas bahasa, bahasa pertama, bahasa Sunda THE VITALITY OF THE SUNDANESE LANGUAGE IN BANDUNG REGENCYAbstractThis study aims to prove the vitality of the Sundanese language to face the Indonesian language. This was a quantitative study involving two independent variables, namely the use of the Sundanese language to confront the Indonesian language and groups of users of the Sundanese language as the first language, namely the native Sundanese families living in Bandung Regency, West Java. The dependent variable was the choice of language, i.e. the Sundanese or Indonesian language. The results prove that the vitality of the Sundanese language is strong in the family, transaction, and closeness domains; but it is weak in the official domain and that related to strangers. In terms of agreement, the family, transaction, and closeness domains also occupy a high position compared to the official domain and that related to strangers. The use of the Sundanese language with the highest frequency is in the family domain, especially when the informants talk with grandparents and fathers/mothers. The vitality of the Sundanese language lessens in the official domain and that related to strangers.Keywords: language vitality, first language, Sundanese language
KOMPETISI ANTARA PETUNJUK SINTAKTIS DAN SEMANTIS DALAM PEMAHAMAN BAHASA INGGRIS: STUDI EKSPERIMENTAL BERTEKNOLOGI SEMIDARING Sugeng Riyanto; Wagiati Wagiati; Elly Sutawikara
Jurnal Sosioteknologi Vol. 16 No. 2 (2017)
Publisher : Fakultas Seni Rupa dan Desain ITB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/sostek.itbj.2017.16.2.3

Abstract

Penelitian tentang pemahaman kalimat ini merupakan salah satu bidang kajian dalam psikolinguistik. Pengguna bahasa memiliki berbagai petunjuk (cue) untuk memahami kalimat, yakni urutan (nomina pertama sebagai pelaku/subjek), kebernyawaan (nomina bernyawa sebagai pelaku/subjek), dan kongruensi (nomina sebagai pelaku/subjek adalah nomina yang bersesuaian dengan verba dalam kalimat). Penelitian berancangan kuantitatif dengan peubah bebas dua kelompok pembahan, lima tipe kalimat (setiap tipe terdiri atas empat kalimat). Peubah terikatnya dalah pilihan nomina pertama atau kedua dan waktu yang digunakan untuk menentukan pilihan. Hasilnya dianalisis menggunakan statistik berkaitan dengan rerata dan simpangan baku. Penelitian ini berhasil membuktikan bahwa pemahaman kalimat tidak bersifat semesta. Setiap kelompok penutur memiliki cara yang berbeda dalam memahami kalimat. Bobot relatif perangkat semantis (kebernyawaan) merupakan petunjuk terpenting pada kedua pembahan untuk menentukan pelaku perbuatan atau subjek kalimat, disusul urutan sebagai perangkat sintaktis, dan akhirnya kongruensi yang juga merupakan perangkat sintaktis.Kata kunci: pemahaman kalimat, pelaku/subjek, perangkat sintaktis, perangkat semantis.
BAHASA GAUL KAUM MUDA SEBAGAI KREATIVITAS LINGUISTIS PENUTURNYA PADA MEDIA SOSIAL DI ERA TEKNOLOGI KOMUNIKASI DAN INFORMASI Duddy Zein; Wagiati Wagiati
Jurnal Sosioteknologi Vol. 17 No. 2 (2018)
Publisher : Fakultas Seni Rupa dan Desain ITB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/sostek.itbj.2018.17.2.6

Abstract

Salah satu praktik berbahasa yang menjadi dampak perkembangan teknologi komunikasi dan informasi adalah munculnya kreativitas linguistis, khususnya di kalangan kaum muda. Kreativitas linguistis pada praktiknya telah menimbulkan adanya divergensi bahasa sehingga menimbulkan disparitas komunikasi antara kaum muda dengan kaum tua di tengah masyarakat. Tulisan ini mengangkat tiga hal utama, yaitu (1) bagaimanakah gejala lingual di kalangan kaum muda yang disebut sebagai bahasa gaul, (2) bagaimana bentuk-bentuk kreativitas linguistis di kalangan kaum muda, dan (3) faktor apa saja yang mendorong terjadinya proses kreativitas linguistis. Penelitian ini menggunakan pendekatan sosiolinguistik . Data penelitian diambil dari jejaring media sosial twitter pada tahun 2018. Hasil kajian memperlihatkan beberapa hal yaitu, (1) bahasa gaul di kalangan kaum muda pada dasarnya dipahami sebagai subragam informal bahasa Indonesia; (2) bahasa gaul di kalangan kaum muda memiliki identitas leksikal yang menjadi ciri utamanya, yaitu adanya reduksionisme, penyingkatan kata, dan akronimisasi; (3) faktor yang melatarbelakangi munculnya kreativitas linguistis di kalangan kaum muda, yaitu efisiensi berbahasa, sosialpsikologis, anutan berbahasa, kemajuan teknologi, dan keinginan untuk menciptakan varian (bahasa Indonesia) baru.
PEMERTAHANAN BAHASA SUNDA DALAM UPACARA PERNIKAHAN TRADISIONAL DI KABUPATEN BANDUNG Wagiati Wagiati; Duddy Zein
Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan Vol. 3 No. 2 (2018)
Publisher : Badan Standar, Kurikulum, dan Asesmen Pendidikan, Kemendikbudristek

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/jpnk.v3i2.1031

Abstract

The aim of this research is to explain the methods for maintaining the use of Sundanese language in the Sundanese Traditional Wedding Ceremony in Bandung Regency and to describe the factors that influence them. The method used in this reasearch was a descriptive-qualitative method. The data sources were the Sundanese traditional wedding ceremony in Kabupaten Bandung. The results show that the methods for maintaining the use of Sundanese language in the Sundanese traditional wedding Ceremony in Kabupaten Bandung include the traditional welcoming ceremony for bride and groom by lengser, saweran, ngaleupaskeun japati, door opening, and sungkem. The factors that influence the insistence of maintaining the usage of Sundanese language in the Sundanese Traditional Wedding Ceremony are to preserve the cultural identity and the cultural background of the bride and groom’s family.  AbstrakTujuan penelitian ini adalah mendeskripsikan bentuk-bentuk pemertahanan bahasa Sunda dalam upacara pernikahan adat Sunda di Kabupaten Bandung dan menjelaskan faktor-faktor yang mempengaruhinya. Metode yang digunakan adalah metode kualitatifdeskriptif. Sumber datanya adalah upacara pernikahan adat Sunda di Kabupaten Bandung. Berdasarkan data tersebut dilakukan analisis terhadapnya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa bentuk pemertahanan bahasa Sunda pada upacara pernikahan adat Sunda di Kabupaten Bandung, Jawa Barat meliputi bentuk penjemputan oleh lengser, saweran inti, ngaleupaskeun japati, buka pintu, dan sungkem. Faktor yang menyebabkan terjadinya pemertahanan bahasa Sunda pada upacara pernikahan adat Sunda adalah mempertahankan identitas kultural dan latar belakang kultural keluarga yang melangsungkan upacara pernikahan tersebut.
Kalimat Imperatif dalam Iklan Layanan Masyarakat Berbahasa Arab Terkait Covid-19 di SBS Australia Trian Ramadhan Nuryadin; Wagiati
Diglosia: Jurnal Kajian Bahasa, Sastra, dan Pengajarannya Vol 3 No 4 (2020)
Publisher : Magister Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (846.725 KB) | DOI: 10.30872/diglosia.v3i4.87

Abstract

Social networking media became the main media to spread public service announcements related to Covid-19 during a pandemic to prevent the spread of this outbreak. This study focuses on imperative sentences on public service Arabic announcements related to Covid-19 issued by SBS Australia. The purpose of this study is to describe the structure of imperative sentence forms in these advertisements syntactically and to group them into imperative sentence types according to Alwi (2010). This research is included in the research type of descriptive analysis research. The data analysis method used in this study is a method of distribution with the basic technique for direct elements (BUL) which is used to describe and analyze data from data sources. This study found as many as; 5 data are categorized as imperative commands or ordinary orders, 1 data are categorized as imperative subtle commands, 2 data are categorized as imperatives and invitations, 2 data are categorized as imperative prohibitions or negative commands. In addition, the imperative sentence in this ad is preceded by the structure of the predicate-object-complement-description sentence.
Sikap Berbahasa para Remaja Berbahasa Sunda di Kabupaten Bandung: Suatu Kajian Sosiolinguistik NFN Wagiati; Sugeng Riyanto; NFN Wahya
Metalingua: Jurnal Penelitian Bahasa Vol 15, No 2 (2017): METALINGUA EDISI DESEMBER 2017
Publisher : Balai Bahasa Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (487.794 KB) | DOI: 10.26499/metalingua.v15i2.62

Abstract

This writing describes the language attitude of the Sundanese-speaking teenagers inBandung regency using qualitative method. It analyzes the use of Sundanese languagein six domains of communication, namely the domain of kinship, neighborhood,close relations, education, transactions, and government. The language attitude inquestion is measured by the use of Sundanese: the more Sundanese is used in theconversation, the more positive the user’s language attitude. Based on the amount ofSundanese use in every aspect, the result showed that Sundanese-speaking teenagersin Bandung regency showed positive attitude toward Sundanese language on fourcommunication domains, namely kinship domain, closeness domain, neighborhooddomain, and transaction domain. As for the other two domains, namely educationand government, the Sundanese-speaking teenagers in Bandung regency display anegative attitude towards the Sundanese language. AbstrakPenelitian ini mendeskripsikan sikap berbahasa para remaja berbahasa Sunda diKabupaten Bandung. Metode yang digunakan adalah metode kualitatif. Analisisdibagi menjadi penggunaan bahasa Sunda pada enam ranah komunikasi, yaitu ranahkekeluargaan, ketetanggaan, kekariban, pendidikan, transaksi, dan pemerintahan.Untuk mengukur sikap bahasa yang dimaksud, dipakai ukuran penggunaan bahasaSunda: semakin banyak bahasa Sunda digunakan di dalam situasi percakapan, semakinpositif sikap si pemakai itu. Hasil penelitian menunjukkan bahwa berdasarkanintensitas penggunaan bahasa Sunda pada setiap ranah, dapat disimpulkan bahwapara remaja berbahasa Sunda di Kabupaten Bandung menunjukkan sikap bahasayang positif terhadap bahasa Sunda pada empat ranah komunikasi, yaitu ranahkekeluargaan, ranah kekariban, ranah ketetanggaan, dan ranah transaksi. Adapunpada dua ranah lainnya, yaitu ranah pendidikan dan ranah pemerintahan, para remajaberbahasa Sunda di Kabupaten Bandung menampilkan sikap yang negatif terhadapbahasa Sunda.
KOSAKATA ETNOMEDISIN DALAM PENGOBATAN TRADISIONAL SUNDA: KAJIAN LINGUISTIK ANTROPOLOGI (ETHNOMEDICINE LEXICON IN SUNDANESE TRADITIONAL TREATMENT: AN ANTROPOLINGUISTICS STUDY) Dadang Suganda; NFN Wagiati; Sugeng Riyanto; Nani Darmayanti
Metalingua: Jurnal Penelitian Bahasa Vol 16, No 2 (2018): Metalingua Edisi Desember 2018
Publisher : Balai Bahasa Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (713.481 KB) | DOI: 10.26499/metalingua.v16i2.241

Abstract

Penelitian ini mendeskripsikan kosakata etnomedisin dalam pengobatan tradisional Sunda di dilihat dari kajian antropolinguistik. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini terdiri atas dua pendekatan, yaitu pendekatan secara teoretis dan pendekatan secara metodologis. Secara teoretis, pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan antropolinguistik. Secara metodologis, pendekatan yang digunakan di dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif deskriptif. Atas dasar itu, metode yang digunakan adalah metode kualitatif dengan analisis data deskriptif. Analisis dibagi menjadi klasifikasi dan deskripsi leksikon berdasarkan bahan pengobatan tradisional, klasifikasi dan deskripsi leksikon berdasarkan nama penyakit tradisional sunda, cerminan kultural kosakata etnomedisin dalam pengobatan tradisional sunda, dan gejala kultural dari praktik etnomedisin dalam pengobatan tradisional sunda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) kosakata etnomedisin dalam pengobatan tradisional Sunda diklasifikasikan berdasarkan sudut pandang bentuk lingualnya menjadi dua bentuk, yaitu bentuk kata dan bentuk frasa, (2) kosakata etnomedisin dalam pengobatan tradisional Sunda setidaknya memiliki tiga cerminan kultural, yaitu adanya harmonisasi masyarakat dengan alam, adanya harmonisasi nilai religius terhadap alam, dan cerminan ekonomis, dan (3) keberadan pengetahuan masyarakat atas bahan-bahan pengobatan tradisional termasuk warisan kultural yang telah diwariskan secara turun-temurun dari generasi tua kepada generasi muda.Kata kunci: leksikon, etnomedisin, bahasa Sunda, antropolinguistik
PEMERTAHANAN BAHASA SUNDA OLEH MAHASISWA YANG BERBAHASA PERTAMA SUNDA Sugeng Riyanto; nfn Wagiati
Metalingua: Jurnal Penelitian Bahasa Vol 14, No 2 (2016): METALINGUA, EDISI DESEMBER 2016
Publisher : Balai Bahasa Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (92.177 KB) | DOI: 10.26499/metalingua.v14i2.200

Abstract

SUNDANESE language as a second largest language in Indonesia is expected tosurvive against the dominance of Indonesian language on the condition thatyoung people, especially the students, maintain the use of their first language inthe domain that is occupied by the language. This writing was conducted toprove the Sundanese language maintenance. The study was in quantitativeapproach by using two independent variables, namely the use of Sundanese versusthe use of Indonesian language and two groups of Sundanese as a first languageusers, the male students and the female students of Faculty of Humanities,Padjadjaran University. Dependent variable is their choice of language:Sundanese or Indonesian language. The results showed that the students stillmaintain Sundanese language in the domain which was supposed to be used.The male students used more Sundanese language than the female students inthree domains, namely in the campus, arround the campus, and in the familyenvironment. The family is the most important domain for the maintenance of thelanguage. Familiarity factors also affect the selection of language. AbstrakBAHASA Sunda sebagai bahasa terbesar kedua penuturnya di Indonesia diharapkanmampu bertahan menghadapi desakan kuat bahasa Indonesia dengan syarat parapemudanya, terutama mahasiswa yang berbahasa pertama Sunda tetapmempertahankan penggunaannya pada ranah yang memang ditempati oleh bahasa itu.Penelitian ini dilakukan untuk membuktikan pemertahanan bahasa Sunda itu. Penelitianini berancangan kuantitatif dengan menggunakan dua variabel bebas, yakni penggunaanbahasa Sunda yang dihadapkan dengan bahasa Indonesia dan dua kelompok penggunabahasa Sunda sebagai bahasa pertama, yakni mahasiswi dan mahasiswa Fakultas IlmuBudaya Unpad. Variabel terikatnya adalah pilihan bahasa yang mereka lakukan: bahasaSunda atau bahasa Indonesia. Hasil penelitian menunjukkan bahwa para mahasiswamasih mempertahankan bahasa Sunda pada ranah yang memang seharusnya bahasaSunda digunakan. Para mahasiswa lebih banyak menggunakan bahasa Sunda di tigaranah, yakni di dalam kampus, di luar kampus, dan di lingkungan keluarga. Ranahkeluarga merupakan tempat terpenting untuk pemertahanan bahasa Sunda. Faktorkeakraban juga berpengaruh pada pemilihan bahasa Sunda.