Claim Missing Document
Check
Articles

APLIKASI PENGINDERAAN JAUH DAN SISTEM INFORMASI GEOGRAFI UNTUK PEMETAAN DAERAH BERPOTENSI TSUNAMI DI KABUPATEN KUPANG PROVINSI NUSA TENGGARA TIMUR Lidia Agustina Rumaal; Jehunias L. Tanesib; Jonshon Tarigan
Jurnal Fisika : Fisika Sains dan Aplikasinya Vol 3 No 2 (2018): Jurnal Fisika : Fisika Sains dan Aplikasinya
Publisher : Universitas Nusa Cendana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (758.25 KB) | DOI: 10.35508/fisa.v3i2.623

Abstract

Abstrak Telah dilakukan pemetaan daerah rawan tsunami berdasarkan estimasi waktu tiba gelombang dan tutupan lahan di Kabupaten Kupang Provinsi Nusa Tenggara Timur menggunakan aplikasi Penginderaan Jauh dan Sistem Informasi Geografi. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi, memetakan daerah rawan tsunami dan tingkat kerawanannya menurut estimasi waktu tiba gelombang dan tutupan lahan sebagai upaya mitigasi dampak bencana tsunami terhadap kepadatan penduduk. Metode penelitian secara umum dibagi dalam empat tahap utama yaitu pembangunan basis data berupa pembuatan peta tutupan lahan, peta gempa dan peta batimetri. Analisis data kerawanan dari peta tutupan lahan dan etimasi waktu tiba gelombang, penyajian hasil data dalam bentuk tingkat kerawanan masing-masing peta dan analisis hasil penelitian berupa tingkat kerawanan secara kualitatif masing-masing daerah titik pantau menurut peta tutupan lahan maupun estimasi waktu tiba gelombang. Selain itu, dampak kerawanan tsunami diklasifikasikan menurut tingkat kepadatan penduduk untuk kebutuhan mitigasi sebagai berikut Kecamatan Kupang Timur, Kupang Barat, Sulamu, Amfoang Timur, Semau, Semau Selatan, Amfoang Utara, Amfoang Barat Daya, Amfoang Barat Laut dan Fatuleu Barat. Kata kunci : Peta rawan tsunami, Penginderaan Jauh, Sistem Informasi Geografi, Estimasi Waktu Tiba Gelombang Abstract Mapping of hazard tsunami areas based on estimation of arrival time of wave and land cover in Kupang Regency of East Nusa Tenggara Province using remote sensing application and geographic information system has been done. The aims of this research are to mapping the hazard tsunami area and tsunami vulnerability level in Kupang Regency East Nusa Tenggara according to the estimated arrival time of the wave and land cover as an effort to mitigate the impact of the tsunami disaster on population density. These generally devided into four main phase namely development of database in the form of land cover map , seismic maps and bathymetry maps, data analysis of research results in the form of qualitative vulnerability of each monitoring area according to land cover map and estimated wave arrival time. Presentation of data results in the form of vulnerability level of each map and analysis and results analysis of research the form of vulnerability level of each map and analysis of research results in the form of qualitative vulnerability of each monitoring area according to land cover map and estimated wave arrival time. And then, the impact of tsunami vulnerability is classified according to population density levels for mitigation needs as follows Kupang Timur, Kupang Barat, Sulamu, Amfoang Timur, Semau, Semau Selatan, Amfoang Utara, Amfoang Barat Daya, Amfoang Barat Laut and Fatuleu Barat. Keywords: Tsunami Hazard Map, Remote Sensing, Geographic Information System, Estimated Time of arrival Wave
PEMETAAN DISTRIBUSI KANDUNGAN RADIOISOTOP DI DAERAH PERKEBUNAN UBI KAYU DI NUABOSI ENDE FLORES Yohanes Jean Del Rosario Lake; Bartholomeus Pasangka; Jehunias Leonidas Tanesib
Jurnal Fisika : Fisika Sains dan Aplikasinya Vol 4 No 2 (2019): Jurnal Fisika : Fisika Sains dan Aplikasinya
Publisher : Universitas Nusa Cendana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1300.944 KB) | DOI: 10.35508/fisa.v4i2.975

Abstract

ABSTRAK Telah dilakukan penelitian di wilayah perkebunan ubi kayu Desa Ndetundora III Nuabosi Kecamatan Ende Kabupaten Ende mengenai pemetaan distribusi kandungan radioisotop. Tujuan penelitian ini menentukan interval cacah radiasi dan temperatur di daerah perkebunan, memetakan distribusi kandungan radiosotop di daerah perkebunan berdasarkan cacah radiasi dan temperatur serta mengestimasi luas daerah yang cacah radioisotopnya cukup tinggi. Metode penelitian yang digunakan terdiri dari observasi, mapping, analisis dan interpretasi data. Data yang diperoleh dalam penelitian di lapangan adalah nilai cacah radiasi permenit (Cpm), temperatur tanah, elevasi dan data lintang bujur, data-data ini yang kemudian digunakan untuk membuat peta. Hasil penelitian diperoleh bahwa distribusi kandungan radioisotop di lokasi berkisar dari 11 cpm - 22 cpm dan temperatur berkisar dari 22oC - 31oC. Keseluruhan area penelitian memiliki kadar radiasi yang rendah. Kontaminasi radioisotop pada lingkungan masih tergolong rendah dan secara umum cacah radiasi dan temperatur masih berada pada batas toleransi. ABSTRACT [Title: Distribution Mapping Of Radioisotop Content In Wooden Sweet Plant Areas In Nuabosi Ende Flores] Research has been carried out in the cassava plantation area of ​​Ndetundora III Nuabosi Village, Ende Sub-district, Ende Regency about the distribution mapping of radioisotope content. The purposes of this study are; first, to determine the interval of radiation counts and temperatures in the plantation area: Second, to map the distribution of radioisotope content in the plantation area based on radiation counts and temperature; Third, to estimate the area with a high radioisotope count. The research method that used in this study consists of observation, mapping, analysis and interpretation of data. Data obtained in the field of research are the value of radiation counts per minute (Cpm), soil temperature, elevation and latitude longitude data, these data are then used to make maps. The results showed that the distribution of radioisotope content in the research sites based on radiation counts, ranged from 11 cpm - 22 cpm and temperatures ranged from 22oC - 31oC. The entire research area has low radiation levels. Radioisotope contamination in the environment is still classified as low contamination and generally the radiation count and temperature are still at the tolerance limit.
INVESTIGASI KANDUNGAN RADIOISOTOP DALAM SAMPEL BATUAN DI MUARA SUNGAI SUMLILI KUPANG BARAT Yosefina Molo; Bartholomeus Pasangka; Jehunias Leonidas Tanesib
Jurnal Fisika : Fisika Sains dan Aplikasinya Vol 5 No 1 (2020): Jurnal Fisika : Fisika Sains dan Aplikasinya
Publisher : Universitas Nusa Cendana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (641.989 KB) | DOI: 10.35508/fisa.v5i1.1235

Abstract

Abstrak Masalah pokok yang dikaji di penelitian ini adalah pemetaan dan analisis aktivitas jenis kandungan radioisotop dalam sampel batuan di muara sungai Sumlili Kupang Barat. Tujuan penelitian meliputi : menentukanrange cacah dan aktivitas jenis massa (C) kandungan radioisotop dalam sampel pasir di muara sungai Sumlili Kupang Barat, mengestimasi tingkat kontaminasi radioisotop sesuai standar di sekitar muara sungai Sumlili, dan memetakan sebaran cacah radioisotop pada luasan daerah tertentu yang terjangkau survei di lapangan. Metode penelitian meliputi : observasi/survei, sampling, serta analisis dan interpretasi data. Kisaran cacah radiasi di lapangan, di laboratorium, dan nilai aktivitas jenis massa kandungan radioisotop dalam 52 sampel pasir dari lokasi penelitian dimuara sungai Sumili Kupang Barat secara berturut-turut adalah 19 cpm sampai dengan 60 cpm, 29 cpm sampai dengan 73 cpm, dan 0,107 x 10-5μCi/gram sampai dengan 0,269 x 10-5μCi/gram. Berdasarkan kontur dan kurva tiga dimensi radiasi cacah radioisotop dalam sampel pasir di lapangan dan di laboratorium serta kontur dan kurva tiga dimensi aktivitas jenis massa di muara sungai Sumlili Kupang Barat dapat diketahui bahwa sebaran kontaminasi radioisotop di muara sungai Sumlili Kupang Barat lebih tinggi ke arah barat dan cenderung menurun ke arah timur. Hasil perhitungan aktivitas jenis massa kandungan radioisotop dalam sampel pasir di muara sungai Sumlili Kupang Barat, termaksud dalam kontaminasi rendah untuk radiasi alpha (α) dan beta (β), namun daerah ini perlu diwaspadai karna terdapat beberapa titik di lapangan, cacah radiasi nuklir kandungan radioisotop dalam deposit mineral cukup tinggi melebihi standar IAEA. Kata kunci : Radioisotop, Aktivitas Jenis Massa, Daerah Kontaminasi. ABSTRACT The main problem studied in this study is mapping and analyzing the activity of the types of radioisotope content in rock samples at the mouth of the Sumlili river in West Kupang. The research objectives included: determining the counting range and mass type activity (C) radioisotope content in the sand samples at the Sumlili River mouth in West Kupang, estimating the level of radioisotope contamination according to the standards around the Sumlili river estuary, and mapping the distribution of radioisotope counts in the area covered by surveys in field. Research methods include: observation / survey, sampling, and analysis and interpretation of data. The range of radiation counts in the field, in the laboratory, and the value of the type of mass activity of radioisotope content in 52 sand samples from the study locations in the West Kupang Sumili River are 19 cpm to 60 cpm, 29 cpm to 73 cpm, and 0.107 x 10-5μCi / gram up to 0.269 x 10-5μCi / gram. Based on the three-dimensional contour and curve of radiation from radioisotope counts in sand samples in the field and in the laboratory and three-dimensional contours and curves the activity of mass types in the Sumlili estuary of West Kupang can be seen that the distribution of radioisotope contamination in the Sumlili estuary of West Kupang is higher west and tends to decline to the east. The results of the calculation of the type of mass activity of radioisotope content in sand samples at the mouth of the Sumlili River in West Kupang, are referred to in low contamination for alpha (α) and beta (β) radiation, but this area needs to be watched out for there are several points in the field, nuclear radiation in mineral deposits quite high exceeding IAEA standards. Keywords : Radioisotopes, Mass Type Activities, Contamination Areas.
ANALISIS PASANG SURUT MENGGUNAKAN METODE LEAST SQUARE DI WILAYAH PERAIRAN ENDE, NUSA TENGGARA TIMUR Celiana F. J. P. Soares; Abdul Wahid; Jehunias L. Tanesib
Jurnal Fisika : Fisika Sains dan Aplikasinya Vol 4 No 1 (2019): Jurnal Fisika : Fisika Sains dan Aplikasinya
Publisher : Universitas Nusa Cendana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (986.953 KB) | DOI: 10.35508/fisa.v4i1.1428

Abstract

Abstrak Telah dilakukan penelitian tentang analisis pasang surut menggunakan metode Least Square di wilayah perairan Ende, Nusa Tenggara Timur. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan komponen harmonik pasang surut menggunakan metode Least Square serta menganalisis tipe pasang surut menggunakan bilangan Formzahl. Berdasarkan hasil analisis data, diketahui bahwa komponen pasang surut yaitu M2, S2, N2, K1, O1, Q1 dan tipe pasang surut di perairan Ende termasuk tipe campuran condong keharian ganda (mixed tide prevailing semidiurnal) dengan nilai Formzhal (F) setiap bulannya adalah (0,38), (0,31), (0,25), (0,28), (0,38), (0,44), (0,41), (0,33), (0,25), (0,27) (0,35) dan 0,42. Hasil analisis pasang surut menunjukkan nilai amplitudo harmonik pasang surut ganda utama M2 dan S2 lebih dominan dibandingkan komponen pasang surut tunggal utama K1 dan O1. Kata Kunci: Least Square, Campuran Condong Harian Ganda, Perairan Ende. Abstract Research on tidal analysis has been done using the Least Square method in the sea area surrounding Ende, East Nusa Tenggara. This research aims to determine the components of tidal harmonics using the Least Square method and to analyze the type of tides using Formzhal number. Based on the results of analysis data, it is known that tidal harmonic components are M2, S2, N2, K1, O1, Q1 and the type of tides in Ende sea included mixed type of tide prevailing semidiurnal with Formzhal (F) value of (0.38), (0.31), (0.25), (0.28), (0.38), (0.44), (0.41), (0.33), (0.25), (0.27), (0.35), and 0.42. The results show the amplitude of the main tidal component M2 and S2 is the dominant component in the Ende Sea compared to the main single tidal component K1 and O1. Keywords: Least Square, Mixed Tide Prevailing Semidiurnal, Ende Sea.
ANALISIS KEMUNCULAN SPREAD F DI ATAS KUPANG Adrianus Marselus Seran; Ali Warsito; Jehunias L. Tanesib
Jurnal Fisika : Fisika Sains dan Aplikasinya Vol 4 No 1 (2019): Jurnal Fisika : Fisika Sains dan Aplikasinya
Publisher : Universitas Nusa Cendana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (468.47 KB) | DOI: 10.35508/fisa.v4i1.1430

Abstract

Abstrak Telah dilakukan dilakukan penelitian tentang kemunculan spread F di atas Kupang dengan menggunakan data hasil scalling ionogram pada tahun 2013 hingga 2015. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kerakteristik kejadian spread F dan variasi tipe kemunculan spread F berdasarkan klimatologi kemunculannya yang berdampak pada perambatan gelombang radio High Frequency (HF;3-30 MHz) dan sistem navigasi berbasis satelit yang dikenal Global Navigation Satelit System (GNSS). Kemunculan spread F mempunyai korelasi dengan kejadian sintilasi yang bersumber dari aktivitas matahari dan gelombang gravitasi yang umunya terjadi pada malam hari (18.00-06.00) LST. Hasil analisis kemunculan Spread F pada periode tahun 2013-2015 menunjukan bahwa kemunculan spead F tertinggi di tahun 2014 dengan tipe spread F frekuensi karena pada periode tahun 2014 masih merupakan puncak siklus matahari ke 24 meskipun dikatakan siklus terlemah atau aktivitas mataharinya sangat minimum namun gangguan aktivitas matahari seperti flare dan CME awal bulan pertengahan bulan tahun 2014 sangat tinggi intensiasnya yang menimbulkan gangguan geomagnet pada lapisan ionosfer sangat besar dimana tipe spread F frekuensi disebabkan oleh gangguan geomagnet. Intensitas kejadian spread F terjadi di pertengahan tahun yakni bulan Juni dibandingkan dengan bulan-bulan awal dan akhir tahun yang tingkat kemunculannya rendah terutama pada fase ekuinoks. Jumlah kemunculan spread F maksimum terjadi pada tengah malam (22.00-03.00) LST dan minimum di awal dan di akhir malam. Analisis dalam domain frekuensi dengan menggunakan metode Fast Fourier Transform (FFT), menunjukan bahwa adanya kemunculan spread F selama 3 tahun (36 bulan) terjadi rentang waktu 200 hingga 600 hari. Frekuensi kemunculan spread F untuk tiap tahunnya adalah 0,1 sampai 0,2 perhari. Informasi ini menunjukan bahwa intensitas kemunculan spread F yang dapat mengganggu perambatang pelombang radio pada lapisan ionosfer di atas wilayah Kupang masih rendah dengan periode kejadian yaitu 365 hari atau 1 tahun selama 3 tahun (2013-2015) dan dapat digunakan sebagai indicator peluang kejadian spread F setiap tahunnya. Kata kunci: Spread F; FFT; Kupang Abstract Research has been conducted on the emergence of the distribution of F above Kupang by using scaling ionogram data from 2013 to 2015. This study aims to study the characteristics of F distribution events and variations in the type of occurrence of F distribution based on their climatology appearance used in High Frequency radio wave moorings (HF ; 3-30 MHz) and a satellite-based navigation system called the Global Navigation Satellite System (GNSS). The appearance of spread F has an interaction with the scintillation event that originates from the activity of the sun and the wave of release that occurs at night (18.00-06.00) LST. The results of the analysis of the emergence of the F spread in the period 2013-2015 indicate that the appearance of the highest F spead in 2014 with the type of spread F frequency in the period of 2014 is still the peak of the 24th solar cycle which is expected to be protected or used by the minimum sun to be used to monitor solar activity such as flares and CME at the beginning of the middle of 2014 is very high, which causes geomagnetic disturbances in the ionospheric layer to be very large where the frequency F type spread is related to geomagnetic interference. The intensity of diffuse F events occurs in the middle of the year in June compared to the initial and end of the year with a low rate of occurrence in the equinox phase. The maximum number of occurrences of the F spread occurs at midnight (10:00 p.m.: 00: 00) LST and minimum at the beginning and end of the night. Analysis in the domain using the Fast Fourier Transform (FFT) method, showed that there were occurrences that spread F for 3 years (36 months) occurring in the range 200 to 600 days. The frequency of occurrence of spread F for each semester is 0.1 to 0.2 per day. This information shows that the intensity of the spread of occurrence of F that can be carried out by radio waves in the ionospheric layer above the Kupang region is still low with an event period of 365 days or 1 year for 3 years (2013-2015) and can be used as an Annual indicator. Keywords: Spread F; FFT; Kupang
ANALISIS POLA DISTRIBUSI UNSUR-UNSUR CUACA DI LAPISAN ATAS ATMOSFER DI WILAYAH KOTA KUPANG Artini Waluwanja; Jehunias Leonidas Tanesib; Jonshon Tarigan; Abdul Wahid
Jurnal Fisika : Fisika Sains dan Aplikasinya Vol 4 No 2 (2019): Jurnal Fisika : Fisika Sains dan Aplikasinya
Publisher : Universitas Nusa Cendana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (513.516 KB) | DOI: 10.35508/fisa.v4i2.1831

Abstract

Abstrak Telah dilakukan analisis pola distribusi unsur-unsur cuaca di lapisan atas atmosfer di wilayah kota Kupang, menggunakan data radiosonde dengan rentang data selama 4 tahun (2015-2018) dari 4 titik pengambilan data yaitu di kota kupang, banjarmasin, surabaya, dan makassar yang meliputi data suhu, kelembapan dan angin yang kemudian dibuat menjadi peta distribusi dengan menggunakan aplikasi surfer 13. Hasil analisis menunjukan bahwa pada bulan April-September (musim kemarau), di lapisan 850 mb memiliki suhu di BBU yang lebih tinggi dari BBS, dan kelembapannya paling tinggi ada di wilayah banjarmasin dan paling rendah ada di wilayah kota Kupang. Pada lapisan 700 mb distribusi suhu tidak merata di berbagai wilayah. Kota kupang memiliki suhu paling tinggi tetapi kelembapan paling rendah. Pada lapisan 500 mb penyebaran suhu hampir merata. Angin yang bertiup pola sirkulasi monsun timur, Serta Aliran udara dari selatan yang berpusat di BBU yang membawa massa udara kering dan stabil yang menyebabkan musim kemarau. Pada bulan Oktober–Maret (musim hujan), peta pola distribusi menunjukan bahwa pada lapisan 850 mb suhu di BBS lebih tinggi dari BBU. Suhu tertinggi ada di kota kupang tetapi kelembapannya rendah, kelembapan tertinggi ada di Banjarmasin. Pada lapisan 700 mb, suhu tertinggi di Makassar dan kelembapan paling tinggi di Banjarmasin sedangkan kelembapan paling rendah di kota Kupang. Pada lapisan 500 mb, persebaran suhu hampir merata dengan suhu paling tinggi di kota Kupang dan Kelembapan paling tinggi ada di banjarmasin. Angin yang bertiup adalah pola sirkulasi monsun barat. Serta angin utara yang membawa massa udara yang lembab dan tidak stabil yang menyebabkan musim hujan. Kata kunci: radiosonde; distribusi cuaca; surfer13. Abstract [Analysis of the distribution patterns of weather elements in the upper atmosphere in the Kupang city area] The Analysis of the distribution patterns of weather elements in the upper atmosphere using radiosonde data with a range of data for 4 years (2015-2018) from 4 data collection points, namely in Kupang, Banjarmasin, Surabaya, and Makasar which included temperature, humidity and wind data which are then made into a distribution map using the surfer 13 application. The results of the analysis show that in April-September (dry season), the 850 mb layer has a temperature at BBU that is higher than BBS, and the highest humidity is in the area of ​​Banjarmasin and the lowest is in the city of Kupang. In the 700 mb layer the temperature distribution is uneven in various regions. Kupang city has the highest temperature but the lowest humidity. In the 500 mb layer the temperature is spread evenly. Winds that blow the circulation patterns of the east monsoon, as well as air flow from the south which is centered at the BBU which carries a dry and stable air mass that causes the dry season. In October - March (the rainy season), the distribution pattern map shows that at 850 mb layer the temperature at BBS higher than BBU. The highest temperature is in Kupang city but the humidity is low, the highest humidity is in Banjarmasin. In the 700 mb layer, the highest temperature in Makassar and the highest humidity in Banjarmasin while the lowest humidity in Kupang. In the 500 mb layer, the temperature distribution is almost evenly distributed with the highest temperature in Kupang city and the highest humidity is in Banjarmasin. The wind that blows is the circulation pattern of the western monsoon. As well as northern winds that bring masses of moist and unstable air which causes the rainy season. Keywords: radiosonde; weather distribution; surfer 13.
ANALISIS POLA SEBARAN AIR LINDI SEKITAR TEMPAT PEMBUANGAN AKHIR (TPA) NOENBILA KABUPATEN TIMOR TENGAH SELATAN MENGGUNAKAN METODE ELEKTROMAGNETIK KONDUTIVITAS Harison Nubatonis; Hadi Imam Sutaji; Ali Warsito; Jehunias L. Tanesib
Jurnal Fisika : Fisika Sains dan Aplikasinya Vol 6 No 1 (2021): Jurnal Fisika : Fisika Sains dan Aplikasinya
Publisher : Universitas Nusa Cendana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35508/fisa.v6i1.2489

Abstract

Telah dilakukan penelitian tentang analisis pola sebaran air lindi sekitar tempat pembuangan akhir (TPA) Noenbila Kabupaten Timor Tengah Selatan menggunakan metode elektromagnetik konduktivitas. Tujuan penelitian adalah menentukan nilai konduktivitas dan suseptibilitas, keterkaitan antara keduanya serta pola sebaran lindi bawah permukaan pada TPA Noenbila. Akuisisi data menggunakan GF Instrument CMD-4 dan GPS (Global Positioning System) di lima lokasi yaitu A/1, B/2, C/3, D/4 dan E/5. Hasil pengukurannya berupa konduktivitas, suseptibilitas serta titik koordinat dalam lintang dan bujur. Data tersebut kemudian diinterpretasikan secara kuantitatif dan kualitatif. Hasil interpretasi kuantitatif menunjukkan bahwa lokasi yang tercemar lindi hanya di C/3 dan E/5 yang memiliki konduktivitas dan suseptibilitas yaitu 3,11-137,37 mS/m dan 4,02-44,27 ppt serta 3,86-110,11 mS/m dan 3,93-12,02 ppt. Interpretasi kualitatif menunjukkan pola sebaran lindi yang berada di lokasi C/3 dan E/5 berpotensi mengalir atau merembes dari arah utara TPA menuju sungai yang berada di bagian selatan. Potensi ini, akan lebih besar terjadi karena geologi bawah permukaan TPA Noenbila berupa batugamping koral yang relatif mudah dialiri air karena memiliki ukuran porous yang besar dan adanya faktor luar seperti turunnya air hujan serta meningkatnya tumpukan sampah penyebab terbentuknya lindi.
PEMULIAAN TANAMAN KACANG TUNGGAK (VIGNA UNGUILATA) LOKAL MALAKA DENGAN METODE IRRADIASI MULTIGAMMA Adelina Bete; Jehunias Leonidas Tanesib; Bartholomeus Pasangka
Jurnal Fisika : Fisika Sains dan Aplikasinya Vol 5 No 2 (2020): Jurnal Fisika : Fisika Sains dan Aplikasinya
Publisher : Universitas Nusa Cendana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Kacang tunggak (vigna unguilata) merupakan tanaman palawija berpolong yang telah lama dikenal oleh masyarakat NTT sebagai bahan makanan bergizi yang biasanya dimasak bersama nasi. Tingkat produktivitas kacang tunggak sangat dipengaruhi oleh banyak faktor antara lain penggunaan varietas unggul, kesuburan tanah serta teknik budidayanya. Oleh karena itu untuk meningkatkan produktivitas kacang tunggak pada lahan kering dilakukan penelitian untuk mengetahui dan untuk mendapat varietas unggul, dengan menggunakan teknik radiasi multigamma. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah dengan menggunakan radiasi multigaamma dengan dosis 1000 rads, 2000 Rads, 3000 Rads, 4000 Rads. Hasil penelitian menunjukan bahwa penggunaan dosis radiasi terbaik terdapat pada dosis 2000 Rads. Katakteristik fisis unggul yang diperoleh meliputi tumbuh lebih cepat, tinggi tanaman 205,5 cm, umur panen lebih singkat yaitu 80 hari setelah tanam, jumlah produksi lebih tinggi yaitu 43, 67 gram/ 100 biji dan kandungan protein 19, 679%. Kata kunci: Pemuliaan; kacang tungga; irradias; multigamma. Abstract The cowpea (vigna unguilata) is a sprouted palawija plant that has long been known by the people of NTT as a nutritious food ingredient that is usually cooked with rice. The productivity level of cowpea is strongly influenced by many factors including the use of improved varieties, soil fertility and cultivation techniques. Therefore, to increase the productivity of cowpea on dry land, a research was conducted to find out and to get superior varieties, using multigamma radiation techniques. The method used in this research is to use multigaamma radiation at a dose of 1000 rads, 2000 Rads, 3000 Rads, 4000 Rads. The results showed that the use of the best radiation dose was found at a dose of 2000 Rads. The superior physical catabolism obtained includes growing faster, plant height 205.5 cm, shorter harvest life, 80 days after planting, the number of production is higher, 43.67 gram / 100 seeds and protein content 19, 679%. Keywords: Breeding; cowpea; irradiation; multigamma.
PEMETAAN DAERAH RAWAN EROSI DENGAN MENNGUNAKAN METODE UNIVERSAL SOIL LOSS EQUATION (USLE) DI KOTA KUPANG Elsa Yovanka Neolaka; J. L. Tanesib; Bernandus Bernandus
Jurnal Fisika : Fisika Sains dan Aplikasinya Vol 7 No 1 (2022): Jurnal Fisika : Fisika Sains dan Aplikasinya
Publisher : Universitas Nusa Cendana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35508/fisa.v7i1.6081

Abstract

The research has done about mapping of erosion-prone areas using the USLE method in Kupang city. The purpose of this research is to map erosion-prone areas and determine the potential level of erosion hazard in Kupang city. The parameters used are rain erosivity (R), soil erodibility (K), slope (LS), and land cover (CP). The process of overlaying erosion parameters and calculating the rate of erosion produces erosion hazard map which are categorized into five class, namely very light, light, medium, heavy and very heavy. Very light erosion (<15 tons/ha/year) has the largest area of 104.92 km², light erosion class (15-60 tons/ha/year) with an area of 28.32 km², medium erosion class (60-180 tons/ha/year) with an area of 13.37 km², heavy erosion class (180-480 tons/ha/year) with an area of 2.37 km², and very heavy erosion class (>480 tons/ha/year) has the smallest area of 0.526 km². The level of erosion hazard is very light and light spread throughout the city of Kupang. While the level of medium to very heavy erosion hazard is widely spread in Alak sub-district, especially the villages of Alak, Manutapen, Nunbaun Sabu, Batuplat, Manulai II. In the Maulafa sub-district spread in the villages of Sikumana and Belo. And several points in the villages of Tuak Daun Merah and Liliba, especially in the river area.
KARAKTERISTIK PERISTIWA PETIR TERKAIT CURAH HUJAN DI WILAYAH MAUMERE NUSA TENGGARA TIMUR Riski Basrin; Hadi Imam Sutaji; Apolinaris S. Geru; Jehunias L. Tanesib
Jurnal Fisika : Fisika Sains dan Aplikasinya Vol 6 No 2 (2021): Jurnal Fisika : Fisika Sains dan Aplikasinya
Publisher : Universitas Nusa Cendana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35508/fisa.v6i2.6836

Abstract

Abstrak Telah dilakukan penelitian tentang karakteristik peristiwa petir, khususnya jenis Cloud to Gground (CG) terkait curah hujan (CH) di wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT). Hasil penelitian menunjukkan bahwa total sambaran petir CG yang terjadi di wilayah Maumere pada periode bulan Desember 2014 sampai November 2019 sebesar 18.194 sambaran dengan sambaran maksimum terjadi pada bulan Nopember sampai April dan sambaran minimum terjadi di bulan Juli sampai Oktober. Untuk curah hujan yang terjadi pada daerah Maumere dan periode tersebut sebesar 4.201 mm dengan pola hujan bertipe monsunal, dimana curah hujan maksimum terjadi di bulan Desember sampai Februari, sedangkan curah hujan minimum terjadi pada bulan Juli sampai Oktober. Peristiwa sambaran petir CG dan curah hujan di wilayah tersebut, umumnya memiliki hubungan yang tidak searah atau tidak kuat namun tergolong pada korelasi sedang. Selain itu, jumlah peristiwa sambaran petir untuk jumlah curah hujan pada setiap tahunnya berbeda yang ditunjukkan dengan nilai perhitungan Rain-Yield per Flash (RPF). Hal ini diduga karena adanya beberapa faktor, seperti perubahan cuaca yang begitu cepat, pergerakan angin yang kencang serta adanya faktor lama penyinaran matahari yang terjadi di wilayah tersebut. Abstract Research on the characteristics of lightning events has been carried out, especially the type of cloud to ground (CG) related to rainfall (CH) in the East Nusa Tenggara (NTT) region. The result showed that the total CG lightning strikes that occurred in the Maumere area in the period December 2014 to November 2019 were 18.194 strikes with the maximum strikes occurring from November to April and the minimum incidents occurring from July to October. The rainfall that occurs in these Maumere regions and periods is 4.201 mm with a monsoon-type rain pattern, where the maximum rainfall occurs in December to February, while the minimum rainfall occurs from July to October. The CG lightning strikes events and rainfall in the area, generally have a unidirectional or not strong relationship but are classified as moderate correlation. Also In addition, the number of lightning strikes events for the amount of rainfall in each year is different as indicated by the Rain-Yield per Flash (RPF) calculation value. This is presumably due to several factors, such as rapid weather changes, strong wind movements, and the long time factor of sun exposure in the area.
Co-Authors Abdul Wahid Abdul Wahid Abdul Wahid Adelina Bete Admiranto, A. Gunawan Adrianus Marselus Seran Adu, Hari Kornelius Albert Z. Johannes Ali Warsito Andreas Christian Louk Andreas Christian Louk Apolinaris S. Geru Ari Bangkit Sanjaya Umbu Artini Waluwanja Aryanti Irnawati Pellokila Bartholomeus Pasangka Bartholomeus Pasangka Bergita Linong Bernandus Bernandus Bernandus Bernandus Bernandus Bernandus, Bernandus Bethan, Agustinus Deka Boimau, Yanti Bria, Maria Bukit, Minsyahril Celiana F. J. P. Soares Christine Mbiliyora Christine Mbiliyora Debi Lodo Ratu Devy K. Syahbana Dinas, Natalia Ciciani Djima, Umbu Elsa Yovanka Neolaka Fidelis Nitti Frederika Rambu Ngana Ginya, Selciana Godensius Tematur Harison Nubatonis Hery L. Sianturi Johannes, Albert Zicko Jonshon Tarigan K. K. Lesu Kalista Ina Dai Nimun Lapono, Laura A. S. Lapono, Laura Anastasi Seseragi Lau, Claudya Hendrika Putri Laura A. S. Lapono Lidia Agustina Rumaal Lima, Joshua Liukae, Aidy M. Leng Maria S. Mali Martins, Manuela Maubana, Wenti Marlensi Mauribu, Yantilinena Mautorin, Novita Ester Melkianus Dona Minsyharil Bukit Nenotek, Epriadi Noor, M. Ferdhiansyah Novita Ester Mautorin Nuryanti Nuryanti Olin, Fransisco Rokirianto Pasangka, Bartholomeus Pingak, Redi Kristian Raja, Aprianus Ramli Seravianus Richard Lewerissa Riski Basrin Sevarianus Ramli Sianturi, H. L Sianturi, H. L. Sianturi, Hery Leo SITI MARYAM Stefanus Spulo Sogen Sutaji, Hadi Imam Tarigan, Jonshon Warsito, Ali Wenti Marlensi Maubana Widiawati, Yosepha Yatini, Clara Yono Yohanes Jean Del Rosario Lake Yosefina Molo Zakarias Seba Ngara