Claim Missing Document
Check
Articles

Found 23 Documents
Search

EDUKASI PENTINGNYA 1000 HARI PERTAMA KEHIDUPAN DALAM UPAYA MENINGKATKAN STATUS GIZI ANAK Raden, Natalia Putri Damaiyanti; Manggul, Makrina Sedista; Bandur, Paskalinda Maria Yosefa
JMM (Jurnal Masyarakat Mandiri) Vol 8, No 6 (2024): Desember
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jmm.v8i6.26703

Abstract

Abstrak: Masalah gizi dan kesehatan, khususnya pada balita, dapat dicegah melalui kegiatan edukasi yang disediakan oleh Posyandu (Pos Pelayanan Terpadu). Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini berfokus pada edukasi kepada orang tua balita, khususnya para ibu yang berkunjung ke Posyandu, mengenai pentingnya 1000 Hari Pertama Kehidupan. Kegiatan ini diadakan di Kantor Desa. Tujuan dari kegiatan pengabdian ini adalah untuk meningkatkan pengetahuan orang tua tentang 1000 Hari Pertama Kehidupan dan mendorong perilaku gizi yang baik, sehingga meningkatkan status kesehatan dan gizi anak. Metode yang digunakan dalam kegiatan pengabdian ini melibatkan penyampaian materi tentang pentingnya gizi selama 1000 Hari Pertama Kehidupan. Materi ini diberikan secara langsung kepada 30 ibu balita di Balai Desa. Setelah seminar, terdapat peningkatan pengetahuan yang signifikan pada peserta yang mengikuti kegiatan ini. Sebelum diberikan pendidikan kesehatan, hanya 5 peserta (16%) yang memiliki pengetahuan baik, 8 peserta (27%) memiliki pengetahuan cukup, dan 17 peserta (57%) memiliki pengetahuan kurang. Setelah diberikan pendidikan, terjadi perubahan: 24 peserta (80%) memiliki pengetahuan baik, 6 peserta (20%) memiliki pengetahuan cukup, dan tidak ada lagi peserta dengan pengetahuan kurang.Kesimpulan: Kegiatan edukasi seperti ini sangat penting dalam meningkatkan kesadaran dan mempromosikan praktik gizi yang sehat di kalangan orang tua, yang dapat berujung pada peningkatan hasil kesehatan dan gizi anak.Abstract: Nutrition and health issues, especially in toddlers, can be prevented through educational activities provided by Posyandu (Integrated Health Service Post). This community service activity focuses on educating parents of toddlers, particularly mothers who visit Posyandu, on the importance of the First 1000 Days of Life. This activity is held at the Village Office. The purpose of this community service is to increase parents' knowledge about the First 1000 Days of Life and to encourage good nutritional practices, thus improving the health and nutritional status of children. The method used in this community service involves delivering material on the importance of nutrition during the First 1000 Days of Life. This material is presented directly to 30 mothers of toddlers at the Village Hall. After the seminar, there was a significant increase in the knowledge of participants who attended this activity. Before receiving health education, only 5 participants (16%) had good knowledge, 8 participants (27%) had adequate knowledge, and 17 participants (57%) had low knowledge. After receiving education, there was a shift: 24 participants (80%) had good knowledge, 6 participants (20%) had adequate knowledge, and no participants had low knowledge. Conclusion: Educational activities like this are essential in raising awareness and promoting healthy nutritional practices among parents, which can lead to improvements in children's health and nutrition outcomes.
Pendidikan Seks Bagi Orangtua yang Memiliki Remaja Berkebutuhan Khusus Christin Florentin Meinarty Bebok; Reineldis Trisnawati; Makrina Sedista Manggul; Maria Opylira Susanto; Maria Freinafreshty Piamat
Jurnal Kreativitas Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) Vol 9, No 5 (2026): Volume 9 Nomor 5 (2026)
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jkpm.v9i5.16614

Abstract

ABSTRAK Pendidikan seksual ini juga merupakan hak dari anak berkebutuhan khusus, sehingga mereka diharapkan mampu memahami diri mereka sendiri, nilai- nilai dan perilaku yang diharapkan dari mereka. Walau demikian pendidikan seksual bagi anak berkebutuhan khusus ini memang masih merupakan perdebatan, mengingat masih harus dilakukan perbaikan kurikulum dan sumberdaya manusia/para guru/pendidik, pelatihan Penerapan pendidikan seksual oleh guru dan orang tua bagi anak berkebutuhan khusus dan persiapan bagi guru-guru, pengukuran dampak pengajaran, dan keterlibatan orang tua dalam pendidikan seksual itu sendiri. Tujuan diberikannya pendidikan seksualitas ini adalah untuk memahamkan Orangtua pentingnya mengajarkan seks pada anak yang berkebutuhan khusus serta memberikan pengetahuan mengenai materi apa saja yang perlu untuk diajarkan pada anak berkebutuhan khusus mengenai pendidikan seks dan cara mengajarkannya pada anak. Psikoedukasi diberikan dengan metode ceramah dan diskusi tanya jawab tanpa pelatihan. Metode ceramah bertujuan untuk memberikan pengetahuan pada ranah kognitif sehingga sesuai dengan permasalahan dan fokus intervensi yakni memberikan pemahaman pentingnya mengajarkan seks serta memberikan pengetahuan mengenai materi apa saja yang perlu diajarkan sesuai dengan anak usia remaja.  Hasil yang didapat   bahwa terjadi  pertambahan pengetahuan pada peserta atau orangtua yang ditandai dengan peningkatan jumlah jawaban yang benar pada hasil rerata keseluruhan peserta.  Berdasarkan hasil analisa deskriptif terhadap hasil pretest, posttest dan Follow up dapat disimpulkan bahwa psikoedukasi yang dilakukan berhasil memberikan pengaruh sesuai dengan tujuan dilakukannya intervensi yakni memberikan pengetahuan pada orangtua mengenai materi pendidikan seks dan cara mengajarkannya pada anak berkebutuhan khusus. Kata Kunci: Pendidikan Seksualitas, Psikoedukasi, Orangtua, Anak Berkebutuhan Khusus.  ABSTRACT Sexual education is also the right of children with special needs, so that they are expected to be able to understand themselves, the values and behavior expected of them. However, sexual education for teenagers with special needs is still a matter of debate, considering that improvements to the curriculum and human resources/teachers/educators still need to be made, training in the application of sexual education by teachers and parents for children with special needs and preparation for teachers, measurement the impact of teaching, and parental involvement in sexual education itself. The aim of providing this psychoeducation is to understand parents about the importance of teaching sex to children with special needs and to provide knowledge about what material needs to be taught to children with special needs regarding sex education and how to teach it to children. psychoeducation is provided using lecture and question and answer discussion methods without training. The lecture method aims to provide knowledge in the cognitive domain so that it is appropriate to the problem and focus of the intervention, namely providing an understanding of the importance of teaching sex and providing knowledge about what material needs to be taught according to teenagers. The results obtained showed that there was an increase in knowledge among participants or parents, which was marked by an increase in the number of correct answers in the overall average results of the participants.  Based on the results of descriptive analysis of the results of the pretest, posttest and follow-up, it can be concluded that the psychoeducation carried out was successful in having an influence in accordance with the aim of the intervention, namely providing knowledge to parents regarding sex education material and how to teach it to children with special needs. Keywords: Sexuality Education, Psychoeducation, Parents, Children with Special Needs.
Fast track: PENGALAMAN AYAH YANG TERLIBAT DALAM PERAWATAN KANGURU PADA BAYI PREMATUR Raden, Natalia Damaiyanti Putri; Manggul, Makrina Sedista; Bandur, Paskalinda Maria Yosefa
Jurnal Penelitian Kesehatan SUARA FORIKES Vol 17, No 4 (2026): April 2026
Publisher : FORIKES

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Perawatan Kanguru sering kali diidentifikasi sebagai perawatan yang dilakukan oleh ibu, dan sebagian besar penelitian menitikberatkan pada efek perawatan kanguru yang dilakukan oleh ibu. Keterlibatan ayah dalam pengasuhan anak seringkali terabaikan. Masalah privasi selama menyusui, memompa ASI, dan pelaksanaan Perawatan Kanguru kadang membuat ayah terpisah dari unit perawatan. Tanggung jawab seperti memberikan dukungan finansial dan menjadi pelindung sosial keluarga dianggap sebagai tugas ayah. Akibatnya, ayah biasanya hanya memberikan dukungan dari jauh karena peran mereka yang diterima secara sosial, seperti mendukung ibu, memberikan dukungan keuangan kepada keluarga, dan melindungi keluarga. Dampak sosiologis menyebabkan ayah tetap absen dalam pengasuhan bayi, yang berdampak negatif pada peran pengasuhan dan ikatan antara ayah dan bayi. Perawatan Kanguru yang dilakukan oleh ayah dapat meningkatkan kemampuan mereka untuk berperan aktif dalam kehidupan bayinya dan membantu mereka memahami peran mereka sendiri sebagai seorang ayah. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi pengalaman ayah yang terlibat dalam perawatan kanguru. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan pendekatan fenomenologis deskriptif. Subjek penelitian dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Data dianalisis menggunakan metode Colaizzi. Penelitian ini mengungakapkan 6 Tema utama yaitu Kesadaran dan Pengetahuan Ayah tentang Perawatan Kanguru, Motivasi dan Harapan Ayah dalam Perawatan Kanguru, Pengalaman Emosional Ayah dalam Perawatan Kanguru, Penguatan Peran Ayah melalui Perawatan Kanguru, Hambatan dan Tantangan dalam Pelaksanaan Perawatan Kanguru, Strategi dan Dukungan untuk Meningkatkan Keterlibatan Ayah. Perlu adanya cuti ayah yang setara dengan cuti ibu, sehingga ayah bisa membantu istrinya dalam merawat bayi mereka. Tenaga kesehatan harus mendorong dan membantu ayah untuk mempraktikkan perawatan kanguru. Selain itu, direkomendasikan untuk menciptakan lingkungan yang mendukung praktik kanguru serta meningkatkan manajemen rumah sakit terkait kebijakan institusi. Memiliki struktur fisik di rumah sakit yang memungkinkan ruangan menjadi lebih ramah bagi ayah akan memperkuat peran mereka sehingga dapat menghabiskan malam bersama bayi mereka.