Claim Missing Document
Check
Articles

Found 6 Documents
Search
Journal : ecogreen

SIFAT ANATOMI ROTAN TOHITI (Calamus inops Beccari) DI KAWASAN HUTAN LINDUNG GUNUNG PAPALIA DESA MATA WOLASI KECAMATAN WOLASI KABUPATEN KONAWE Anatomy Nature Tohiti Rattan (Calamus inops Beccari) in Protected Forest Area Of Papalia Mountain Mata Wolasi Village, Wolasi District, Sout Wolasi Nurhayati Hadjar; Niken Pujirahayu; Istia Sitia Warni
Jurnal Ecogreen Vol 5, No 1 (2019)
Publisher : Universitas Haluoleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (182.731 KB)

Abstract

ABSTRACTThe purpose of this study was to determine the nature of anatomy Tohiti Rattan (Calamus inops Beccari) that is in Protected Forest Area Mountain Springs Village Papalia Wolasi District of Wolasi Konsel.  This research method using descriptive and anatomical measurements using standard IAWA (International Association Of Wood Anatomically, 2008).  Vascular bundles at Rattan Tohiti network file consists of a collection vessel (metaxylem, protoxylem and phloem) and the fiber bundle. The average diameter metaxylem 233,74μm and the average diameter protoxylem 37,87μm. The proportion of cells rattan Tohiti, obtained the proportion of parenchymal cells, fiber bundle 48,93%, 39,02% metaxylem, phloem protoxylem 4,98% and 2,63%. Based on measurements of fiber dimensions Tohiti rattan, known fiber length very long 1956,52μm, classified as moderate 13,55μm fiber diameter, the average diameter of the lumen 5,62μm and an average wall thickness 4,27μm.  Keywords: Rattan Tohiti, Structural Anatomy, Fiber Dimensions.                     
PEMANFAATAN TANNIN KULIT KAYU AKASIA UNTUK PENGAWETAN JATI PUTIH (Gmelina arborea) TERHADAP RAYAP TANAH (Coptotermes curvignathus holmgren) Niken Pujirahayu; zakiah Uslinawati; Nurhayati Hadjar
Jurnal Ecogreen Vol 1, No 1 (2015)
Publisher : Universitas Haluoleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (182.639 KB)

Abstract

The aim of the reserach was to determine the antitermite properties of bark extract of mangium (Acacia mangium) on Gmelina wood (Gmelina arborea) and determine the optimum concentration levels and immersion duration. The research scheme applied completely randomized design, treatment is done factorially with 2 factor treatments. The first factor is concentration levels of bark extract (7 % , 5 % and 3 %). The second factor is immersion duration in preservative material are 24 hours, 48 hours, and 72 hours. The test done with feeding test. The parameter which was observed namely: retention of mangium bark extract and weigh loss of gmelina wood.  Result showed that the higest retention  found on 7 % concentration levels and  48 hours immersion (3,75 kg/m 3).  The lowest wood sample weight loss found at concentration  7 % and 24 hours immersion (19,31 %). Keywords : bark extract, Acacia mangium, Gmelina arborea, retentions
PEMANFAATAN KULIT BAKAU (Rhizophora mucronata) SEBAGAI BAHAN PENGAWET BAMBU BETUNG (Dendrocalamus asper) TERHADAP SERANGAN KUMBANG BUBUK (Dinoderus minutus) Nurhayati Hadjar; Niken Pujirahayu; Muhammad Khaeruddin
Jurnal Ecogreen Vol 2, No 2 (2016)
Publisher : Universitas Haluoleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (178.042 KB)

Abstract

Bambu merupakan salah satu sumber daya alam Non kayu yang banyak dimanfaatkan oleh masyarakat Indonesia. Permasalahan yang sering ditemukan adalah bambu mudah terserang kumbang bubuk, dan untuk mengatasi kendala tersebut perlu perlakuan pengawetan agar umur pakai bambu bisa lebih lama.  Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh berbagai konsentrasi kulit bakau terhadap peningkatan retensi bahan pengawet bambu Betung dan daya tahan bambu dari serangan kumbang  bubuk.   Pengaplikasian bahan pengawet menggunakan metode perendaman panas dengan konsentrasi bahan pengawet 5%, 10% dan 15%.  Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian bahan pengawet ekstrak kulit Bakau memberikan pengaruh sangat nyata terhadap retensi dan penurunan berat.   Perlakuan pemberian konsentrasi 15% memberikan hasil yang terbaik pada peubah retensi, dan derajat kerusakan keawetan bambu Betung. Bagian pangkal bambu lebih rentan terhadap serangan kumbang bubuk dibandingkan dengan bagian tengah dan ujung bambu sehingga diperlukan konsentrasi bahan pengawet yang lebih tinggi. Kata kunci : Bambu Betung, pengawetan, ekstrak kulit Bakau, serangga bubuk.
SIFAT FISIKA ROTAN TOHITI (Calamus inops Becc.) DI KAWASAN HUTAN LINDUNG GUNUNG PAPALIA DESA MATA WOLASI KECAMATAN WOLASI KABUPATEN KONAWE SELATAN Nurhayati Hadjar; Niken Pujirahayu; Marniati Marniati
Jurnal Ecogreen Vol 3, No 2 (2017)
Publisher : Universitas Haluoleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (208.457 KB)

Abstract

ABSTRAKPenelitian ini dilakukan untuk mengetahui sifat fisika Rotan Tohiti (Calamus inops Becc.).  Rotan Tohiti yang diamati berasal dari Mata Wolasi Kecamatan Wolasi.  Sifat fisika rotan yang diamati terdiri dari kadar air dan berat jenis. Penelitian ini menggunakan menggunakan metode Rancangan Acak Lengkap dan di uji lanjut dengan BNJ.  Jumlah contoh uji yang digunakan untuk pengujian sifat fisika rotan dengan contoh uji yang telah ditetapkan yaitu 3 pohon x 3 bagian (P, T, U) x 3 (Ulangan) = 27 contoh uji. Pengujian sifat fisika rotan dilaksanakan mengikuti Japan Industrial Standart JIS Z 2101 dengan ukuran 2 cm x 2 cm x 2 cm.  Hasil Penelitian menunjukkan bahwa Rotan Tohiti (Calamus inops Becc.) mengandung kadar air basah rata-rata 38 %, kadar air kering udara rata-rata  11 %, berat jenis basah rata-rata 0.5, berat jenis kering udara rata-rata 0.6, dan berat kering tanur rata-rata 0.7. Kata Kunci : Rotan Tohiti, Sifat Fisika, kadar air, berat jenis.  ABSTRACTThe purpose of this study was to determine the physical properties Tohiti Rattan (Calamus inops Becc.).  Rattan Tohiti observed coming from the District Desa Mata Wolasi Kecamatan Wolasi.  Rattan observed physical properties consist of water content and density. This research was conducted using analytical models using RAL followed by a further test HSD if significant., each treatment was repeated 3 times. Amount of test sample used for testing the physical properties of rattan with a predetermined test sample tree is 3 x 3 (P, T, U)  x 3 (Dt) = 27 sample. Tests carried out according to the physical properties of rattan Japan Industrial Standard JIS Z 2101 with a size of 2 cm x 2 cm x 2 cm.  The results showed that Rattan Tohiti (Calamus inops Becc.) contain a moisture content of wet average of 38 %, the water content of air dry average of 11 %, by weight wet type average 0.5, dry density of water on average 0.6 and weight the average dry kiln 0.7. Key Word : Rattan Tohiti, hysical properties, moisture content, specific gravity.
PENGARUH EKSTRAK DAUN CENGKEH (SYZYGIUM AROMATICUM) DALAM PENGAWETAN BAMBU BETUNG (DENDROCALAMUS ASPER BACKER) TERHADAP SERANGAN KUMBANG BUBUK Nurnaningsih Hamzah; Niken Pujirahayu; Nurhayati Hadjar; Wa Ode Rosdia
Jurnal Ecogreen Vol 4, No 1 (2018)
Publisher : Universitas Haluoleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (105.974 KB)

Abstract

ABSTRAKBambu di Indonesia diperkirakan 157 jenis, dan 50% diantaranya merupakan bambu endemik Indonesia. Umur panen yang relatif cepat yaitu 3 - 4 tahun serta mudahnya bambu tumbuh dan berkembang menjadikan bambu semakin banyak diminati oleh pengrajin untuk menafaatkan bambu dalam berbagai macam bentuk. Permasalahan yang kemudian timbul adalah umur pakai bahan yang terbuat dari bambu tidak bertahan lama karena rentan terhadap organisme perusak seperti kumbang bubuk dan rayap, permasalahan ini juga dirasakan oleh masyarakat Sulawesi Tenggara yang banyak memanfaatkan bambu dalam kehidupan sehari-harinya. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh ekstrak daun cengkeh (Syzygium aromaticum) sebagai bahan pengawet alami bambu betung (Dendrocalamus asper backer) terhadap serangan kumbang bubuk, serta memanfaatkan daun cengkeh sebagai pengawet alami. Perbandingan ekstrak daun cengkeh yang digunakan yaitu 0,75%, 1 % dan 1,5 %. Hasil penelitian menunjukkan pengawetan bambu betung dengan pengawet alami dari ekstrak daun cengkeh berpengaruh sangat nyata terhadap retensi dan penurunan berat bambu. Pemberian ekstrak daun cengkeh dengan konsentrasi 1,5 % memberikan hasil yang lebih baik untuk semua variabel pengamatan.Kata Kunci : Bambu betung, pengawetan, kumbang bubuk, ekstrak kulit cengkeh
KERAGAMAN JENIS BAMBU (Bambusa sp.) DI KAWASAN TAHURA NIPA-NIPA KELURAHAN MANGGA DUA Nurhayati Hadjar; Niken Pujirahayu; Eko Fitriono
Jurnal Ecogreen Vol 3, No 1 (2017)
Publisher : Universitas Haluoleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (230.366 KB)

Abstract

Kawasan Taman Hutan Raya (Tahura) Nipa-nipa memiliki kekayaan jenis yang perlu di eksplore, penelitian ini mencoba mengidentifikasi keragaman jenis-jenis bambu yang terdapat pada Kawasan Tahura Nipa-Nipa Kelurahan Mangga Dua.  Sampel ditentukan dengan  menggunakan metode purposive sampling yaitu ditunjuk secara langsung spot-spot keberadaan bambu.  Luas kawasan Tahura kelurahan mangga dua sebesar 40 Ha, jumlah sampel yang diambil sebanyak 50 plot yang berukuran 20 m x 20 m. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada Kawasan Tahura Nipa-nipa kelurahan mangga Dua terdapat 3 marga bambu yaitu Gigantochloa, Bambusa dan Dendrocalamus yang terdiri dari jenis-jenis bambu Ater (Gigantochloa atter), bambu Apus  (Gigantochloa apus), bambu Cina (Bambusa multiplex Lour.), bambu Betung (Dendrocalamus asper), dan bambu Kuning (Bambusa vulgaris). Jenis bambu yang memiliki Indeks Nilai Penting tertinggi adalah bambu Ater (Gigantochloa atter) dengan jumlah INP sebesar 162.99%. Sedangkan yang terendah adalah bambu Betung (Dendrocalamus asper) 19.69%.  Keanekaragaman jenis bambu di kawasan Tahura Nipa-Nipa Kelurahan Mangga Dua masih tergolong rendah yaitu 0.548. Kata kunci : Jenis Bambu, Indeks Nilai Penting (INP) Bambu, Keanekaragaman Bambu, Tahura Nipa-Nipa.