Claim Missing Document
Check
Articles

Found 13 Documents
Search

POLA PERESEPAN ANTIBIOTIK UNTUK PENGOBATAN INFEKSI SALURAN PERNAFASAN ATAS (ISPA) DI KLINIK X KOTA SEMARANG Sari, Wulan Kartika; Advistasari, Yustisia Dian; Elisa, Novi
Cendekia Journal of Pharmacy Vol 8, No 1 (2024): Cendekia Journal of Pharmacy
Publisher : Institut Teknologi Kesehatan Cendekia Utama Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31596/cjp.v8i1.275

Abstract

Infeksi Saluran Pernafasan Atas (ISPA) merupakan 10 penyakit terbanyak di Indonesia. Penyakit ISPA diawali dengan gejala demam, batuk selama kurang lebih jangka waktu 2 minggu, pilek atau hidung tersumbat dan sakit tenggorokan. Penyebab ISPA dapat berasal dari berbagai mikroorganisme yakni bakteri dan virus. Beberapa faktor yang mempengaruhi penyebaran infeksi saluran pernafasan atas diantaranya faktor lingkungan, perilaku masyarakat yang kurang baik terhadap hygne dan sanitasi diri, keluarga, dapat pula dari kurangnya asupan makanan yang bergizi serta menurunnya imunitas tubuh  Penelitian ini dilakukan secara retrospektif dengan periode pengambilan data Januari hingga Juni 2023 yang bertempat di Klinik X di Kota Semarang, Jawa Tengah dengan periode pengambilan data Januari hingga Juni 2023. Subyek penelitian yang sesuai dengan kriteria inklusi sebanyak 3945 pasien. Karakteristik pasien dalam penelitian kemudian dikategorikan berdasarkan jenis kelamin diperoleh hasil  laki laki 46,24% dan perempuan 53,76%, perempuan lebih sigap, tanggap, cekatan serta memiliki kepekaan, kepedulian, perhatian yang lebih terhadap kesehatan dan lingkungan sekitarnya. Pasien dengan penderita ISPA banyak terjadi pada retang usia secara berturut turut 0 -12 th (34,63%), 13-25 th (15,59%), 26-38 th (17,79%), 39-51th (20,51%) dan 52-60 th (11,48%). Usia 0 sampai 12 tahun memiliki persentase tertinggi hal ini dikarenakan penyakit ISPA berhubungan dengan adanya kemampuan imunitas tubuh terhadap serangan bakteri atau virus. Bentuk sediaan antibiotik yang banyak diresepkan oleh dokter yakni syrup (12,09%), pulveres (21,88%), tablet (66.03%). Antibiotik yang banyak diresepkan oleh dokter yakni amoxycillin (54,90%), kloramfenikol (25,63%), thiamphenicol (8,04%), ciprofloxacin (10,70%) dan sefadroxil 0,74%). Pemilihan amoxycillin dalam terapi ISPA dikarenakan amoxycillin memiliki mekanisme kerja dalam kondisi tertentu sebagai bakteriostatik dapat pula bersifat bakterisid yakni dengan cara merusak dinding sel pada bakteri yang mengandung mucoprotein kompleks terhadap mikroba. Berdasarkan hasil penelitian diperoleh hasil bahwa pada klinik X penyakit ISPA banyak terjadi pada pasien perempuan dan antibiotik yang paling banyak diresepkan adalah amoxycillin tablet 500 mg.
Pemanfaatan Ampas Tahu menjadi Tepung dan Brownies Chips Sebtiana Kristantri, Rika; Verdia M, erlita; Advistasari, Yustisia Dian; Ningrum, Erna Prasetya; Suharsanti, Ririn
Jurnal Dimas Vol 6 No 1 (2024): Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat
Publisher : SEKOLAH TINGGI ILMU FARMASI YAYASAN PHARMASI SEMARANG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53359/dimas.v6i1.71

Abstract

Ampas tahu merupakan hasil samping dari pembuatan tahu yang selama ini kebanyakan hanya dimanfaatkan sebagai pakan ternak. Hasil olahan ampas tahu menjadi makanan juga tergolong masih rendah variasinya. Desa Ngabean Kabupaten Magelang memiliki projek untuk mencegah stunting pada anak sesuai arahan menteri kesehatan RI. Oleh karena itu kegiatan pengabdian kali ini adalah untuk mengolah ampas tahu yang masih memiliki kandungan gizi menjadi tepung dan selanjutnya menjadi olahan pangan brownies chip sebagai upaya mencegah stunting pada anak. Kegiatan dilakukan selama 2 hari pada hari Jumat-Sabtu, 27-28 Oktober 2023 di Balai Desa Ngabean dimulai dari persiapan, pretest, penyampaian materi pelatihan pada hari pertama serta praktek pada hari kedua. Hasil Pretest menunjukkan bahwa warga hanya 96% yang beraanggapan ampas tahu bisa diolah menjadi tepung. Selain itu juga warga setuju sebesar 96% ampas tahu masih memiliki nilai gizi. Pelatihan pada hari pertama dan kedua berjalan sesuai harapan dan tampak pada hasil evaluasi kegiatan bahwa 100% warga menilai pelatihan ini memenuhi harapan warga dan 100% meningkatkan pengetahuan serta keterampilan warga.
EXTRACT AND FRACTIONS EXPLORATION OF DAYAK ONION (Eleutherine America-na Merr.) WITH ANTIOXIDANTS POTENTIAL USING GC-MS and FTIR METHODS Elisa, Novi; Advistasari, Yustisia Dian; Lepangkari, Jaka Seprianto; Hidayatullah, Muhammad Haqqi
Jurnal Bioteknologi & Biosains Indonesia (JBBI) Vol. 12 No. 1 (2025)
Publisher : BRIN - Badan Riset dan Inovasi Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55981/jbbi.2025.9209

Abstract

Free radicals can cause various diseases in the body if not treated immediately. Large levels of free radicals may trigger damage to normally functioning tissues, lipid layers, blood vessels, DNA synthesis disturbances, and even destruction of cells. The objective is to evaluate the antioxidants potential of dayak onion extract and fractions. FTIR spectrophotometers, gas chromatography-mass spectrometry (GC-MS) and an antioxidants multimode reader are some of the research methods. The outcomes of this research are identifying plants that showed the dayak onion extract of the species Eleutherine Americana Merr. It contains compounds such as flavonoids, alkaloids, tannins, and saponins. In addition, the components found in the extract, water fraction, ethyl acetate fraction, and n-hexane fraction are octadecanoic acid 298 m/z, 9-octadecanoic acid 282 m/z, undecanoic acid 214 m/z, hexadecanoic acid 368 m/z, and nonadecanoic acid 326 m/z. Therefore, the antioxidants test using the DPPH method showed that the best IC50 value is for ethyl acetate with IC50 20.56 ppm.