Claim Missing Document
Check
Articles

Found 21 Documents
Search

FROM VALUES TO PRACTICE: THE ROLE OF RELIGIOUS CULTURE IN SHAPING SPIRITUAL INTELLIGENCE AMONG STUDENTS AT ELEMENTARY SCHOOL JEMBER Muhammad, Zahrul Adyan; Mas'ud, Mas'ud; Sarwan, Sarwan
ATTA`DIB Vol. 8 No. 3 (2024): DESEMBER
Publisher : Program Studi PGMI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32832/at-tadib.v8i3.19437

Abstract

This study aims to analyze the implementation of religious culture in fostering students' spir-itual intelligence at SD Baitul Amien 1 and SD Baitul Amien 2 Jember. The research focuses on strategies for instilling religious cultural values, the development of religious culture pro-grams, and their implications for students' spiritual intelligence. A qualitative approach was used with a case study and multi-case design. Data were collected through interviews, obser-vations, and document analysis. The research subjects were purposively selected, including the principal, vice principal of curriculum, Islamic education teachers, and students. Data analysis followed the Miles, Huberman, and Saldana model, with data validity tested through technique and source triangulation. The findings reveal that: (1) Strategies for instilling reli-gious cultural values are carried out through the development of an integrated curriculum, the creation of a supportive learning environment, and the involvement of all school compo-nents; (2) Religious culture programs include congregational Duha prayer, Monday-Thursday fasting, congregational prayer, prayer habituation, honesty canteens, and the 3S culture (Smile, Greet, Salute); (3) The implementation of religious culture has multidimen-sional implications, encompassing spiritual-personal, social-interpersonal, and academic-intellectual dimensions. This study concludes that a structured and integrated religious cul-ture can be an effective strategy for fostering students' spiritual intelligence in public schools.
Implementasi Nilai-Nilai Wasathiyah Melalui Pendidikan Islam Inklusif Pada Mahasantri di Pondok Pesantren Al-Bidayah Tegal Besar Kaliwates Jember Al Faqih, Iqbalul Haqqi; Sarwan, Sarwan
IJIT: Indonesian Journal of Islamic Teaching Vol 7 No 2 (2024): Indonesian Journal of Islamic Teaching
Publisher : Pendidikan Islam Pascasarjana IAIN Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35719/ijit.v7i2.2079

Abstract

Pemahaman islam yang tekstualis seringkali mengakibatkan vonis kafir dan bid’ah pada sesama muslim. wasthiyyah (moderat) memandang sikap yang ditunjukkan oleh seorang muslim harus belandaskan pada nilai moderat dan inklusif, sehingga akan terciptanya kedamaian, sesuai dengan Pendidikan Islam Inklusif yang merekomendasikan keterbukaan dalam beragama di dalam bingkai rahmatan lil alamin. Melihat permasalahan tersebut maka perlu adanya proses implementasi nilai-nilai wasathiyyah, sebagai langkah untuk menyebarluaskan ajaran islam rahmat dan kasih sayang, berlandaskan pada aqidah ahlussunnah wal jama’ah yang bertujuan untuk menecetak santri yang berpemahaman moderat, toleran, dan nasionalis. Fokus dalam penelitian ini adalah: 1) Bagaimana implementasi nilai tawassuth melalui Pendidikan Islam inklusif pada mahasantri di Pondok Pesantren Al-Bidayah Jember? 2) Bagaimana implementasi nilai tasasmuh melalui Pendidikan Islam inklusif pada mahasantri di Pondok Pesantren Al-Bidayah Jember? 3) Bagaimana implementasi nilai I’tiraf bil urf melalui Pendidikan Islam inklusif pada mahasantri di Pondok Pesantren Al-Bidayah Jember? Tujuan penelitian ini adalah: 1) Untuk menganalisis nilai tawassuth melalui Pendidikan Islam inklusif pada mahasantri di Pondok Pesantren Al-Bidayah Jember. 2) Untuk menganalisis nilai tasamuh melalui Pendidikan Islam inklusif pada mahasantri di Pondok Pesantren Al-Bidayah Jember, 3) Untuk menganalisis nilai I’tiraf bil urf melalui Pendidikan Islam inklusif pada mahasantri di Pondok Pesantren Al-Bidayah Jember. Untuk menjawab permasalahan tersebut, peneliti menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian fenomenologi. Adapun teknik pengumpulan data menggunakan wawancara semiterstruktur, observasi partisipasi pasif, dan dokumentasi. Penelitian ini menggunakan analisis deskriptif kualitatif dengan model interaktif Miles, Huberman, dan Saldana yang meliputi pengumpulan data, kondensasi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Keabsahan data dilakukan dengan teknik kredibilitas, transferbilitas, dependabilitas, dan konfirmabilitas. Temuan penelitian ini adalah: 1) nilai tawassuth harus ditanamkan melalui kajian-kajian keagamaan yang berpatokan pada aqidah ahlusunnah wal jama’ah yang berpandangan moderat dan inklusif. 2) Nilai tasamuh adalah proses menghargai pendapat dan bertoleransi pada kebenaran pendapat tanpa merendahkan pendapat yang lain. 3) Nilai I’tirat bil urf adalah proses penerimaan budaya lokal sebagai praktik sosial keagamaan dan merawat warisan kreasi intelektual para ulama salaf. PENDAHULUAN Pendidikan Islam di Indonesia memiliki sejarah yang panjang dan berakar kuat dalam masyarakat. Ia menjadi salah satu pilar utama dalam penyebaran agama Islam di Nusantara. Tongkat estafet pendidikan Islam Indonesia memulai babak baru dalam perjalanan panjang perjuangan Islam yang bernafaskan rahmatan lil alamin, perbedaan situasi dan kondisi pada masyarakat menuntut adanya penerapan sikap yang inklusif dalam beragama. Hal semacam ini menjadikan Indonesia harus bisa mewadahi segala aspek yang berkenaan dengan ras, suku, dan agama. Dengan begitu harmonisasi di Indonesia akan sesuai dengan UUD Pasal 28 huruf E dijelaskan sebagai berikut: “Setiap orang bebas memeluk agama dan beribadat menurut agamanya, memilih pendidikan dan pengajaran, memilih pekerjaan, memilih kewarganegaraan, memilih tempat tinggal diwilayah negara dan meninggalkannya, serta berhak kembali.”[1] Sejalan dengan undang undang diatas, Agama Islam menjadikan konsep wasathiyyah (moderasi) sebagai sarana penyambung sosial antara ras, suku & agama yang ada di Indonesia. Dr. Ahmad Umar Hasyim, dalam wasathiyyat al-Islam mendefinisikan wasathiyyah (moderasi) sebagai keseimbangan dan kesetimpalan antara kedua ujung sehingga salah satunya tidak mengatasi ujung yang lain, tiada keberlebihan dan kekurangan, tiada pelampauan batas tidak juga pengurangan batas, ia mengikuti yang paling utama, paling berkualitas, dan paling sempurna.[2] Wasathiyyah (moderasi beragama) dalam Peraturan Presiden Nomor 58 Tahun 2023, tentang penguatan moderasi beragama pasal 1 menyebutkan: “Moderasi Beragama adalah cara pandang, sikap, dan praktik beragama dalam kehidupan bersama dengan cara mengejawantahkan esensi ajaran agama dan kepercayaan yang melindungi martabat kemanusiaan dan membangun kemaslahatan umum berlandaskan prinsip adil, berimbang, dan menaati Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 sebagai kesepakatan berbangsa.”[3] Ajaran Agama Islam merekomendasi adanya penerapan nilai-nilai moderasi yang meliputi: moderatisasi, toleransi, dan menerima kebudayaan lokal. Hal ini wujud dari adanya sikap tawassuth yang tertuang dalam Al-Qur’an surah Al-Baqarah ayat 143: y7Ï9ºx‹x.ur öNä3»oYù=yèy_ Zp¨Bé& $VÜy™ur (#qçRqà6tGÏj9 uä!#y‰pkà­ ’n?tã Ĩ$¨Y9$# tbqä3tƒur ãAqߙ§9$# öNä3ø‹n=tæ #Y‰‹Îgx© 3 ... ÇÊÍÌÈ Artinya: Dan demikian (pula) kami menjadikan kalian (umat Islam), umat penengah (adil dan pilihan), agar kamu menjadi saksi atas seluruh manusia dan agar Rasul (Muhammad SAW) menjadi saksi atas kamu…(Q.S Al-Baqarah:143).[4] Ummatan wasathan merupakan suatu harapan supaya mereka dapat tampil sebagai umat pilihan yang kerap memiliki sifat memberi penengah maupun berlaku adil, baik untuk menjalankan ibadah selaku individu ataupun ketika menjalankan interaksi sosial selaku anggota masyarakat. Islam mengajarkan agar tetap berpedoman pada Al-Qur’an dan hadis Nabi yang menjadi sumber utama pada ajaran Islam itu sendiri agar bisa bersikap moderat.[5] Pengalaman beragama dengan sikap moderat mengakibatkan penolakan pada sikap tathorruf (ekstrimis) yang berujung pada tindakan ekstrimisme. Namun fakta dilapangan mununjukkan adanya ketimpangan kondisi yang ada. menurut Laporan Institute for Economics and Peace (IEP) bertajuk Global Terrorism Index (GTI) 2023 menunjukkan bahwa Indonesia menempati urutan ketiga negara yang paling terdampak terorisme di kawasan Asia Pasifik pada tahun ini. Indonesia tercatat memperoleh skor sebesar 5,502 poin.[6] Maraknya aksi ekstrimisme atas nama Islam di dunia maupun Indonesia sedikit banyak telah menempatkan umat Islam sebagai pihak yang dipersalahkan. Ajaran jihad dalam Islam seringkali dijadikan sasaran tuduhan sebagai sumber utama terjadinya kekerasan atas nama agama oleh umat Islam. Dalam pandangan Noor Haidi Hasan, bahwa sesuatu dikatakan ekstrimis jika mengabsahkan penggunaan metode kekerasan dalam upaya mewujudkan perubahan radikal dalam sistem politik ataupun masyarakat.[7] Dengan demikian, ukuran ekstrimisme terletak pada kecenderungan mengupayakan perubahan radikal terhadap sistem yang ada dengan menggunakan kekerasan. Ketika ekstrimisme itu didasari oleh semangat menggantikan sistem yang ada dengan sistem baru yang bersumber dari syari’ah, maka ini disebut ekstrimisme Islam. Apabila ekstrimisme itu dipoles dengan doktrin-doktrin jihad, dalam arti pengesahan kekerasan itu dengan dalih jihad, maka disebut jihadisme. Dari jihadisme inilah berkembang terorisme Islam, atau lebih tepatnya, terorisme atas nama Islam. Inilah puncak aksi ekstrimisme.[8] [1] Sekretariat Negara Republik Indonesia, Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia No. 28E Tahun 1945, Tentang Kebebasan Beragama [2] Wasathiyyah wawasan Islam tentang moderasi beragama, Cetakan kedua (Pisangan, Ciputat, Tangerang Selatan: Lentera Hati, 2020), 7. [3] Sekretariat Negara Republik Indonesia, “Peraturan Presiden Republik Indonesia, Nomor 58 Tahun 2023, Tentang Penguatan Moderasi Beragama” (n.d.). [4] Departemen Agama RI, Al-Qur’an Terjemah (Bekasi: Cipta Bagus Segara, 2012). [5] Tim Penyusun Kementrian Agama RI, Moderasi Beragama (Jakarta: Badan Litbang dan Diklat Kementrian Agama Republik Indonesia, 2019), 25–26. [6] Cindy Mutia Nur, “Indonesia Masuk 3 Besar Negara Paling Terdampak Terorisme Di Asia Pasifik 2023,” 19/10/20023, https://databoks.katadata.co.id/datapublish/2023/10/19/indonesia-masuk-3-besar-negara-paling-terdampak-terorisme-di-asia-pasifik-2023. [7] Hasan N, Islam Politik Di Dunia Kontemporer: Konsep, Genealogi Dan Teori (Yogyakarta: Suka Press, 2012). [8] N.
WOMEN AND MUSLIM EDUCATION IN WEST SUMATRA, INDONESIA Srimulyani, Eka; Firdaus, Firdaus; Sarwan, Sarwan; Hanani, Silfia; Hayati, Syarifatul
Islam Futura Vol 25 No 1 (2025): Jurnal Ilmiah Islam Futura
Publisher : Universitas Islam Negeri Ar-Raniry

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22373/jiif.v25i1.21850

Abstract

Minangkabau was known for its dominant Islamic education history especially in modern times since the beginning of the twentieth century as a number of so-called madrasah or Islamic educational reforms have been credited to several prominent figures in the region. This region also has a significant history and tradition of matriarchal and matrilineal kinship that relate to women’s position, and their contributions in the public affairs, including in the field of education. Several prominent women from the region have been named as founders of several schools for women, or journalists that campaign for women’s education. This study examines the socio-historical aspects of women and education and the women’s educational movement initiatives from the cases of few female figures such as Rahmah el-Yunusiyyah and others. From a historical perspective and qualitative library research data, this study shows the presence of local female figures in the field of education alongside their male counterparts amidst the kaum muda and kaum tua socio-religious contestation. The socio-local traditions influenced women’s presence and contribution to the public sphere, and those women not only established schools for women but also advocated women’s rights, including their rights for education through journalism and politics.
KINERJA DA’I NAGARI DALAM MENINGKATKAN KEHIDUPAN BERAGAMA MASYARAKAT ISLAM DI KABUPATEN PASAMAN BARAT Yudistira, Fernando; Sarwan, Sarwan; Bukhari, Bukhari
Ijtimaiyya: Jurnal Pengembangan Masyarakat Islam Vol. 13 No. 2 (2020): Ijtimaiyya : Jurnal Pengembangan Masyarakat Islam
Publisher : Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24042/ijpmi.v13i2.6702

Abstract

The West Pasaman Regency government hopes that Da’i Nagari can improve the religious life of the Muslim community in order to achieve the vision and mission. The objectives of this study are as follows: (1) to reveal the performance process of Da’i Nagari; (2) reveal the role of Da’i Nagari; (3) reveal the evaluation of Da’i Nagari; and (4) reveal the inhibiting factors of Da’i Nagari in improving the religious life of the Muslim community in West Pasaman Regency. The research subjects consisted of 6 Da’i Nagari people. Each nagari was taken by 2 Da’i Nagari who served in Nagari Koto Baru, Kapa and Lingkuang Aua. The 3 nagari are inhabited by Javanese, Minang and Batak (JAMBAK) tribes. Data were collected through observation, interviews and documentation. The results of this study indicate, the process of improving the religious life of the Muslim community in West Pasaman Regency is related to how Da’i Nagari’s efforts to empower the community through religious programs. The materials given by Da’i Nagari to the community were selected according to the conditions of the people in West Pasaman Regency. Empowerment as a learning process is carried out by Da’i Nagari by teaching children in TPA. Da’i’s efforts to empower the community through religious programs such as sermons, lectures, TPA education, TPA guidance, and so on. Da’i Nagari also acts as a facilitator, educator, messenger and skills. Evaluation of the improvement of the religious life of the Muslim community is carried out by making comparisons between the data and facts obtained in the field, then reported to the nagari then the nagari party provides a report to the sub-district and to the welfare area. This report aims to assess the extent to which the activity process has been carried out. The inhibiting factor is the fanaticism of the community towards one mazhab and the availability of a limited budget and the lack of community participation in accepting the empowerment carried out by Da’i Nagari.
Implementasi Nilai-Nilai Wasathiyah Melalui Pendidikan Islam Inklusif Pada Mahasantri di Pondok Pesantren Al-Bidayah Tegal Besar Kaliwates Jember Al Faqih, Iqbalul Haqqi; Sarwan, Sarwan
IJIT: Indonesian Journal of Islamic Teaching Vol. 7 No. 2 (2024): Indonesian Journal of Islamic Teaching
Publisher : Pendidikan Islam Pascasarjana IAIN Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35719/ijit.v7i2.2079

Abstract

Pemahaman islam yang tekstualis seringkali mengakibatkan vonis kafir dan bid’ah pada sesama muslim. wasthiyyah (moderat) memandang sikap yang ditunjukkan oleh seorang muslim harus belandaskan pada nilai moderat dan inklusif, sehingga akan terciptanya kedamaian, sesuai dengan Pendidikan Islam Inklusif yang merekomendasikan keterbukaan dalam beragama di dalam bingkai rahmatan lil alamin. Melihat permasalahan tersebut maka perlu adanya proses implementasi nilai-nilai wasathiyyah, sebagai langkah untuk menyebarluaskan ajaran islam rahmat dan kasih sayang, berlandaskan pada aqidah ahlussunnah wal jama’ah yang bertujuan untuk menecetak santri yang berpemahaman moderat, toleran, dan nasionalis. Fokus dalam penelitian ini adalah: 1) Bagaimana implementasi nilai tawassuth melalui Pendidikan Islam inklusif pada mahasantri di Pondok Pesantren Al-Bidayah Jember? 2) Bagaimana implementasi nilai tasasmuh melalui Pendidikan Islam inklusif pada mahasantri di Pondok Pesantren Al-Bidayah Jember? 3) Bagaimana implementasi nilai I’tiraf bil urf melalui Pendidikan Islam inklusif pada mahasantri di Pondok Pesantren Al-Bidayah Jember? Tujuan penelitian ini adalah: 1) Untuk menganalisis nilai tawassuth melalui Pendidikan Islam inklusif pada mahasantri di Pondok Pesantren Al-Bidayah Jember. 2) Untuk menganalisis nilai tasamuh melalui Pendidikan Islam inklusif pada mahasantri di Pondok Pesantren Al-Bidayah Jember, 3) Untuk menganalisis nilai I’tiraf bil urf melalui Pendidikan Islam inklusif pada mahasantri di Pondok Pesantren Al-Bidayah Jember. Untuk menjawab permasalahan tersebut, peneliti menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian fenomenologi. Adapun teknik pengumpulan data menggunakan wawancara semiterstruktur, observasi partisipasi pasif, dan dokumentasi. Penelitian ini menggunakan analisis deskriptif kualitatif dengan model interaktif Miles, Huberman, dan Saldana yang meliputi pengumpulan data, kondensasi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Keabsahan data dilakukan dengan teknik kredibilitas, transferbilitas, dependabilitas, dan konfirmabilitas. Temuan penelitian ini adalah: 1) nilai tawassuth harus ditanamkan melalui kajian-kajian keagamaan yang berpatokan pada aqidah ahlusunnah wal jama’ah yang berpandangan moderat dan inklusif. 2) Nilai tasamuh adalah proses menghargai pendapat dan bertoleransi pada kebenaran pendapat tanpa merendahkan pendapat yang lain. 3) Nilai I’tirat bil urf adalah proses penerimaan budaya lokal sebagai praktik sosial keagamaan dan merawat warisan kreasi intelektual para ulama salaf. PENDAHULUAN Pendidikan Islam di Indonesia memiliki sejarah yang panjang dan berakar kuat dalam masyarakat. Ia menjadi salah satu pilar utama dalam penyebaran agama Islam di Nusantara. Tongkat estafet pendidikan Islam Indonesia memulai babak baru dalam perjalanan panjang perjuangan Islam yang bernafaskan rahmatan lil alamin, perbedaan situasi dan kondisi pada masyarakat menuntut adanya penerapan sikap yang inklusif dalam beragama. Hal semacam ini menjadikan Indonesia harus bisa mewadahi segala aspek yang berkenaan dengan ras, suku, dan agama. Dengan begitu harmonisasi di Indonesia akan sesuai dengan UUD Pasal 28 huruf E dijelaskan sebagai berikut: “Setiap orang bebas memeluk agama dan beribadat menurut agamanya, memilih pendidikan dan pengajaran, memilih pekerjaan, memilih kewarganegaraan, memilih tempat tinggal diwilayah negara dan meninggalkannya, serta berhak kembali.”[1] Sejalan dengan undang undang diatas, Agama Islam menjadikan konsep wasathiyyah (moderasi) sebagai sarana penyambung sosial antara ras, suku & agama yang ada di Indonesia. Dr. Ahmad Umar Hasyim, dalam wasathiyyat al-Islam mendefinisikan wasathiyyah (moderasi) sebagai keseimbangan dan kesetimpalan antara kedua ujung sehingga salah satunya tidak mengatasi ujung yang lain, tiada keberlebihan dan kekurangan, tiada pelampauan batas tidak juga pengurangan batas, ia mengikuti yang paling utama, paling berkualitas, dan paling sempurna.[2] Wasathiyyah (moderasi beragama) dalam Peraturan Presiden Nomor 58 Tahun 2023, tentang penguatan moderasi beragama pasal 1 menyebutkan: “Moderasi Beragama adalah cara pandang, sikap, dan praktik beragama dalam kehidupan bersama dengan cara mengejawantahkan esensi ajaran agama dan kepercayaan yang melindungi martabat kemanusiaan dan membangun kemaslahatan umum berlandaskan prinsip adil, berimbang, dan menaati Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 sebagai kesepakatan berbangsa.”[3] Ajaran Agama Islam merekomendasi adanya penerapan nilai-nilai moderasi yang meliputi: moderatisasi, toleransi, dan menerima kebudayaan lokal. Hal ini wujud dari adanya sikap tawassuth yang tertuang dalam Al-Qur’an surah Al-Baqarah ayat 143: y7Ï9ºx‹x.ur öNä3»oYù=yèy_ Zp¨Bé& $VÜy™ur (#qçRqà6tGÏj9 uä!#y‰pkà­ ’n?tã Ĩ$¨Y9$# tbqä3tƒur ãAqߙ§9$# öNä3ø‹n=tæ #Y‰‹Îgx© 3 ... ÇÊÍÌÈ Artinya: Dan demikian (pula) kami menjadikan kalian (umat Islam), umat penengah (adil dan pilihan), agar kamu menjadi saksi atas seluruh manusia dan agar Rasul (Muhammad SAW) menjadi saksi atas kamu…(Q.S Al-Baqarah:143).[4] Ummatan wasathan merupakan suatu harapan supaya mereka dapat tampil sebagai umat pilihan yang kerap memiliki sifat memberi penengah maupun berlaku adil, baik untuk menjalankan ibadah selaku individu ataupun ketika menjalankan interaksi sosial selaku anggota masyarakat. Islam mengajarkan agar tetap berpedoman pada Al-Qur’an dan hadis Nabi yang menjadi sumber utama pada ajaran Islam itu sendiri agar bisa bersikap moderat.[5] Pengalaman beragama dengan sikap moderat mengakibatkan penolakan pada sikap tathorruf (ekstrimis) yang berujung pada tindakan ekstrimisme. Namun fakta dilapangan mununjukkan adanya ketimpangan kondisi yang ada. menurut Laporan Institute for Economics and Peace (IEP) bertajuk Global Terrorism Index (GTI) 2023 menunjukkan bahwa Indonesia menempati urutan ketiga negara yang paling terdampak terorisme di kawasan Asia Pasifik pada tahun ini. Indonesia tercatat memperoleh skor sebesar 5,502 poin.[6] Maraknya aksi ekstrimisme atas nama Islam di dunia maupun Indonesia sedikit banyak telah menempatkan umat Islam sebagai pihak yang dipersalahkan. Ajaran jihad dalam Islam seringkali dijadikan sasaran tuduhan sebagai sumber utama terjadinya kekerasan atas nama agama oleh umat Islam. Dalam pandangan Noor Haidi Hasan, bahwa sesuatu dikatakan ekstrimis jika mengabsahkan penggunaan metode kekerasan dalam upaya mewujudkan perubahan radikal dalam sistem politik ataupun masyarakat.[7] Dengan demikian, ukuran ekstrimisme terletak pada kecenderungan mengupayakan perubahan radikal terhadap sistem yang ada dengan menggunakan kekerasan. Ketika ekstrimisme itu didasari oleh semangat menggantikan sistem yang ada dengan sistem baru yang bersumber dari syari’ah, maka ini disebut ekstrimisme Islam. Apabila ekstrimisme itu dipoles dengan doktrin-doktrin jihad, dalam arti pengesahan kekerasan itu dengan dalih jihad, maka disebut jihadisme. Dari jihadisme inilah berkembang terorisme Islam, atau lebih tepatnya, terorisme atas nama Islam. Inilah puncak aksi ekstrimisme.[8] [1] Sekretariat Negara Republik Indonesia, Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia No. 28E Tahun 1945, Tentang Kebebasan Beragama [2] Wasathiyyah wawasan Islam tentang moderasi beragama, Cetakan kedua (Pisangan, Ciputat, Tangerang Selatan: Lentera Hati, 2020), 7. [3] Sekretariat Negara Republik Indonesia, “Peraturan Presiden Republik Indonesia, Nomor 58 Tahun 2023, Tentang Penguatan Moderasi Beragama” (n.d.). [4] Departemen Agama RI, Al-Qur’an Terjemah (Bekasi: Cipta Bagus Segara, 2012). [5] Tim Penyusun Kementrian Agama RI, Moderasi Beragama (Jakarta: Badan Litbang dan Diklat Kementrian Agama Republik Indonesia, 2019), 25–26. [6] Cindy Mutia Nur, “Indonesia Masuk 3 Besar Negara Paling Terdampak Terorisme Di Asia Pasifik 2023,” 19/10/20023, https://databoks.katadata.co.id/datapublish/2023/10/19/indonesia-masuk-3-besar-negara-paling-terdampak-terorisme-di-asia-pasifik-2023. [7] Hasan N, Islam Politik Di Dunia Kontemporer: Konsep, Genealogi Dan Teori (Yogyakarta: Suka Press, 2012). [8] N.
The Grounding Islamic Washatiyah-Based Peace Education At al Qodiri Islamic Boarding School Jember Indonesia Asnawan, Asnawan; Dahri, Harapandi; Sarwan, Sarwan
QALAMUNA: Jurnal Pendidikan, Sosial, dan Agama Vol. 15 No. 1 (2023): Qalamuna - Jurnal Pendidikan, Sosial, dan Agama
Publisher : Lembaga Penerbitan dan Publikasi Ilmiah Program Pascasarjana IAI Sunan Giri Ponorogo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37680/qalamuna.v15i1.2382

Abstract

Since its establishment, Al Qodiri Islamic Boarding School has set itself as a peace boarding school with moderate character. When radicalism, extremism, and terrorism threaten world peace, the schools consistently campaign for peaceful movement. Therefore, this study focuses on peace education in planning, implementing, and its implication on students’ behavior and attitude in Al Qodiri Islamic Boarding School Jember to find a learning model of planning, implementing, and implication of peace education. This study used a qualitative research design using a multiple case study approach. The informants were chosen using a purposive sampling technique. The findings of the research are: first, peace education planning in al Qodiri Islamic Boarding School Jember refers to vision, mission, institutional philosophy, Islam washatiyah, started with the need analysis of an era, society, and students and by considering the suggestion of education users formulated by an educational institution. Second, peace education implementation employs an adaptation of religious text material using a moderation approach, Islamic method, and universal method, a website supporting media containing digital washatiyah literacy and digital sufism literacy implemented in formal institution integrated with ahlussunnah waljama’ah teaching through class-based-extracurricular activities and intensive and doctrinal extracurricular activities. Third, the peace education implication in Islamic boarding schools builds students’ polite and tolerant behavior, moderate and contextual perspective, sufistic behavior, and positive image for the local, national, and regional society and supports Islamic boarding schools' continuous transformation.
The Existence of Hizbut Tahrir Indonesia's Da'wah after Dissolution Sabiruddin, Sabiruddin; Taqiyuddin, Muhammad Fikri; Ridwan, Muhammad; Sarwan, Sarwan; Mardiana, Puja Dikusuma
International Journal of Islamic Studies Higher Education Vol. 2 No. 3 (2023): November
Publisher : Islamic Studies and Development Center in collaboration with Department of Islamic Education Universitas Negeri Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24036/insight.v2i3.143

Abstract

Hizbut Tahrir Indonesia is a political da'wah organization that focuses on spreading Islamic ideology through scientific and intellectual approaches. This research aims to analyze the da'wah strategy, political ideas, and reasons for the dissolution of Hizbut Tahrir Indonesia in the context of the spread of ideology through intellectual-based channels. Tsaqofah and evaluation of the strategic ideas proposed to realize their ideals. This research uses a qualitative method with a literature study approach, which is analyzed through three stages: data reduction, data presentation, and conclusion. The research results show that Hizbut Tahrir Indonesia prefers a da'wah-based path tsaqofah (scientific) as its main basis, which is realized through seminars, discussions, and conferences to spread its ideas. With this approach, Hizbut Tahrir Indonesia is known as an intellectual movement that does not involve physical action like other radical organizations. Hizbut Tahrir Indonesia also carries out two phases of organized struggle, namely (i) Tafa'ul ma'al umma, the phase of socializing ideas to the general public, and (ii) Tafa'ul bil aam, the phase of interaction of ideas in public space. Apart from that, Hizbut Tahrir Indonesia proposed two strategic ideas to realize its ideals, namely (i) adopting the principle of moderation in Nahdlatul Ulama's preaching which various groups accept, and (ii) taking a step back to move forward by joining a political party as a first step to achieve long-term goals. This research provides insight into the da'wah strategy and dynamics of the Indonesian Hizbut Tahrir political movement, as well as its relevance in Indonesia's social and political context.
Strategies for Islamic Education Teachers in Dealing with the Impact of the Zoning System on New Student Admissions Rahmadiati, Rahmadiati; Sarwan, Sarwan; Batubara, Juliana
International Journal of Multidisciplinary Research of Higher Education Vol 8 No 4 (2025): (October) Theme Education, Religion Studies, Social Sciences, STEM, Economic, Tou
Publisher : Islamic Studies and Development Center in Collaboration With Students' Research Center Universitas Negeri Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24036/ijmurhica.v8i4.352

Abstract

The process of accepting new students using the zoning system has an impact on students' morals, religious practices, and learning processes. The purpose of this study is to provide an overview of the efforts of Islamic Education teachers in dealing with the impact of the zoning system for accepting new students. This study uses a descriptive qualitative method. The sources of data for this study were Islamic Education teachers, Guidance Counseling teachers, student representatives, and school principals, with data collection techniques through observation, interviews, and documentation. The data were analyzed, reduced, and presented in narrative form, after which conclusions were drawn. This study found that the efforts made by Islamic Education teachers in coping with the impact of the zoning system for new student admissions related to moral violations and enthusiasm in practicing worship were to reprimand students and encourage them to always do good deeds. In addition, Islamic Education teachers coordinated with each other, including homeroom teachers, guidance counselors, school administrators, and parents. To mitigate the impact of the zoning system for new student admissions on the diversity of students' abilities and learning styles, teachers taught according to standard processes, including efforts to implement differentiated learning as recommended by the government.
Penggunaan Media Cacpcut dalam Pembelajaran Sejarah Kebudayaan Islam (SKI) Untuk Meningkatkan Kreativitas Siswa MI Insaniyah, Iltiqo'un; Rodliyah, St; Sarwan, Sarwan
Al-Madrasah: Jurnal Ilmiah Pendidikan Madrasah Ibtidaiyah Al-Madrasah Vol. 10, No. 1 (Januari 2026)
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Al-Qur'an (SIQ) Amuntai Kalimantan Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35931/am.v10i1.5459

Abstract

Mata pelajaran Sejarah Kebudayaan Islam (SKI) memiliki peran penting dalam menanamkan nilai-nilai sejarah, spiritual, dan budaya Islam kepada peserta didik. Namun, pendekatan pembelajaran konvensional yang monoton masih menjadi tantangan dalam menciptakan pembelajaran yang menarik dan bermakna. Untuk menjawab tantangan tersebut, pemanfaatan media digital seperti CapCut menjadi salah satu alternatif solusi inovatif. Artikel ini bertujuan untuk mendeskripsikan penggunaan aplikasi CapCut dalam pembelajaran SKI di MI Fathus Salafi Jember sebagai media untuk meningkatkan kreativitas dan pemahaman siswa terhadap materi sejarah Islam. Metode yang digunakan adalah studi kualitatif deskriptif dengan teknik observasi, wawancara, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa CapCut tidak hanya meningkatkan minat belajar siswa, tetapi juga mendorong mereka untuk berpikir kritis, bekerja sama, dan menyampaikan gagasan melalui karya visual yang kreatif. Siswa mampu memproduksi video edukatif tentang peristiwa sejarah Islam yang dipelajari, seperti hijrah Nabi Muhammad SAW, Piagam Madinah, dan masa kejayaan Islam. Dengan bimbingan guru dan dukungan fasilitas sederhana, CapCut menjadi media yang efektif dan relevan dalam pembelajaran SKI berbasis proyek.
Da’wah in Muhammadiyah Education: Muhammadiyah Renewal for Islamic Education in West Sumatra Sarwan, Sarwan; Azzahrah, Fatimah; Sabiruddin, Sabiruddin
Jurnal Ilmiah Syi'ar Vol 22, No 2 (2022): December 2022
Publisher : UIN Fatmawati Sukarno Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29300/syiar.v22i2.10389

Abstract

Education has been a significant focus for the Muhammadiyah organization in Indonesia. Unfortunately, this sector has yet to be studied as a massive da'wah movement. This study discusses how da'wah has been transformed into education. The mission of inviting people to God's way has been practised gently. This article discusses the history of Muhammadiyah education renewal, explaining the history of Muhammadiyah education and revealing the renewal of Muhammadiyah education. West Sumatra has been designated as a case study explained using a literature approach. This research relies on secondary data through searching Muhammadiyah books, articles and websites. The results of this study indicate: firstly, the history of Muhammadiyah education renewal was triggered by the condition of Muslims in Indonesia and the influence of reformers from the Middle East and the Nusantara. Secondly, the history of Muhammadiyah education in West Sumatra begins with the establishment of executive branches. The third, Muhammadiyah is reforming Islamic education in West Sumatra by changing traditional education to a modern system. Third, the renewal of Muhammadiyah education is oriented towards da'wah, in which the marginalized, orphan and converts become inseparable.