Claim Missing Document
Check
Articles

Found 29 Documents
Search

Pelaksanaan Pendidikan Agama Islam Dalam Keluarga: Studi Kasus di Desa Alassumur Kecamatan Pujer, Kabupaten Bondowoso: The Implementation of Islamic Religious Education in the Family: A Case Study in Alassumur Village, Pujer Subdistrict, Bondowoso Regency Sarwan, Sarwan
Fenomena Vol 2 No 2 (2003): FENOMENA: Journal of the Social Sciences
Publisher : LP2M UIN KH.Achmad Siddiq Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35719/fenomena.v2i2.330

Abstract

-
Peran Tokoh Informal dalam Meningkatkan Mutu Pendidikan Umat di PP. An-Nuriyah Kaliwining Rambipuji Jember: The Role of Informal Leaders in Enhancing the Quality of Community Education at An-Nuriyah Islamic Boarding School, Kaliwining, Rambipuji, Jember Sarwan, Sarwan
Fenomena Vol 5 No 2 (2006): FENOMENA: Journal of the Social Sciences
Publisher : LP2M UIN KH.Achmad Siddiq Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35719/fenomena.v5i2.393

Abstract

-
Pembelajaran Tradisional dalam Pandangan Santri: Traditional Learning from the Perspective of Islamic Boarding School Students Sarwan, Sarwan
Fenomena Vol 6 No 1 (2007): FENOMENA: Journal of the Social Sciences
Publisher : LP2M UIN KH.Achmad Siddiq Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35719/fenomena.v6i1.402

Abstract

-
Pengembangan Tradisi Keilmuan Pondok Pesantren: Development of the Scientific Tradition in Islamic Boarding Schools Sarwan, Sarwan
Fenomena Vol 13 No 1 (2014): FENOMENA: Journal of the Social Sciences
Publisher : LP2M UIN KH.Achmad Siddiq Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35719/fenomena.v13i1.548

Abstract

Islamic boarding schools are believed to be an alternative solution to current educational problems. One of the management changes is the emergence of the development of boarding school traditions that combine Islamic education—synonymous with classical books—with general education, professional systems and methods, and skill provision for students. Thus, boarding schools, which were originally focused solely on Salaf education, are now seeing the emergence of Islamic boarding schools that incorporate general subject materials and science skills. Additionally, Islamic boarding schools are also striving to provide educational institutions that meet the needs of students, equipped with managerial techniques appropriate to changing demands. This study focuses on the scientific tradition of Islamic boarding schools. Pondok pesantren diyakini sebagai alternatif solusi bagi permasalahan pendidikan saat ini. Salah satu perubahan manajemen yang terjadi adalah munculnya pengembangan tradisi pesantren yang menggabungkan pendidikan Islam—yang identik dengan kitab-kitab klasik—dengan pendidikan umum, sistem dan metode profesional, serta pembekalan keterampilan bagi santri. Dengan demikian, pesantren yang awalnya hanya berfokus pada pendidikan salaf, kini mulai bermunculan pesantren yang memasukkan materi-materi pelajaran umum dan keterampilan sains. Selain itu, pesantren juga berupaya menyediakan lembaga pendidikan yang sesuai dengan kebutuhan santri, dilengkapi dengan teknik manajerial yang sesuai dengan tuntutan perubahan. Penelitian ini berfokus pada tradisi keilmuan pondok pesantren.
Differentiated Leadership Styles in Vocational Education to Improve Learning Quality at SMK YPT 1 Purbalingga Sarwan, Sarwan; Bambang Sudarsono; Achadi Budi Santoso
Bulletin of Pedagogical Research Vol. 5 No. 2 (2025): Bulletin of Pedagogical Research
Publisher : CV. Creative Tugu Pena

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51278/bpr.v5i2.1942

Abstract

Principal leadership has huge implications for school quality. The success of leadership is highly dependent on the variety of styles displayed by the principal. The purpose of this study is to uncover the pattern of development of various leadership styles that have been carried out by the principal in the context of independent learning. This article analyzes the quality of education with its influence on various leadership styles in an educational institution. With a focus on leadership style in improving the quality of education. The researcher aims to investigate the extent to which leadership style can influence the quality of education. The research method used includes literature analysis. The results of the study show that a good and firm leadership style can create a harmonious educational environment. Several leadership styles that are applied tend to have an influence on improving the quality of education. For example, a leadership style that is inspirational, inclusive, visionary, humanistic, and supports the participation of school residents can create a conducive environment for developing potential and improving the quality of education.
Implementasi Nilai-Nilai Wasathiyah Melalui Pendidikan Islam Inklusif Pada Mahasantri di Pondok Pesantren Al-Bidayah Tegal Besar Kaliwates Jember Al Faqih, Iqbalul Haqqi; Sarwan, Sarwan
IJIT: Indonesian Journal of Islamic Teaching Vol. 7 No. 2 (2024): Indonesian Journal of Islamic Teaching
Publisher : Pendidikan Islam Pascasarjana IAIN Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35719/ijit.v7i2.2079

Abstract

Pemahaman islam yang tekstualis seringkali mengakibatkan vonis kafir dan bid’ah pada sesama muslim. wasthiyyah (moderat) memandang sikap yang ditunjukkan oleh seorang muslim harus belandaskan pada nilai moderat dan inklusif, sehingga akan terciptanya kedamaian, sesuai dengan Pendidikan Islam Inklusif yang merekomendasikan keterbukaan dalam beragama di dalam bingkai rahmatan lil alamin. Melihat permasalahan tersebut maka perlu adanya proses implementasi nilai-nilai wasathiyyah, sebagai langkah untuk menyebarluaskan ajaran islam rahmat dan kasih sayang, berlandaskan pada aqidah ahlussunnah wal jama’ah yang bertujuan untuk menecetak santri yang berpemahaman moderat, toleran, dan nasionalis. Fokus dalam penelitian ini adalah: 1) Bagaimana implementasi nilai tawassuth melalui Pendidikan Islam inklusif pada mahasantri di Pondok Pesantren Al-Bidayah Jember? 2) Bagaimana implementasi nilai tasasmuh melalui Pendidikan Islam inklusif pada mahasantri di Pondok Pesantren Al-Bidayah Jember? 3) Bagaimana implementasi nilai I’tiraf bil urf melalui Pendidikan Islam inklusif pada mahasantri di Pondok Pesantren Al-Bidayah Jember? Tujuan penelitian ini adalah: 1) Untuk menganalisis nilai tawassuth melalui Pendidikan Islam inklusif pada mahasantri di Pondok Pesantren Al-Bidayah Jember. 2) Untuk menganalisis nilai tasamuh melalui Pendidikan Islam inklusif pada mahasantri di Pondok Pesantren Al-Bidayah Jember, 3) Untuk menganalisis nilai I’tiraf bil urf melalui Pendidikan Islam inklusif pada mahasantri di Pondok Pesantren Al-Bidayah Jember. Untuk menjawab permasalahan tersebut, peneliti menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian fenomenologi. Adapun teknik pengumpulan data menggunakan wawancara semiterstruktur, observasi partisipasi pasif, dan dokumentasi. Penelitian ini menggunakan analisis deskriptif kualitatif dengan model interaktif Miles, Huberman, dan Saldana yang meliputi pengumpulan data, kondensasi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Keabsahan data dilakukan dengan teknik kredibilitas, transferbilitas, dependabilitas, dan konfirmabilitas. Temuan penelitian ini adalah: 1) nilai tawassuth harus ditanamkan melalui kajian-kajian keagamaan yang berpatokan pada aqidah ahlusunnah wal jama’ah yang berpandangan moderat dan inklusif. 2) Nilai tasamuh adalah proses menghargai pendapat dan bertoleransi pada kebenaran pendapat tanpa merendahkan pendapat yang lain. 3) Nilai I’tirat bil urf adalah proses penerimaan budaya lokal sebagai praktik sosial keagamaan dan merawat warisan kreasi intelektual para ulama salaf. PENDAHULUAN Pendidikan Islam di Indonesia memiliki sejarah yang panjang dan berakar kuat dalam masyarakat. Ia menjadi salah satu pilar utama dalam penyebaran agama Islam di Nusantara. Tongkat estafet pendidikan Islam Indonesia memulai babak baru dalam perjalanan panjang perjuangan Islam yang bernafaskan rahmatan lil alamin, perbedaan situasi dan kondisi pada masyarakat menuntut adanya penerapan sikap yang inklusif dalam beragama. Hal semacam ini menjadikan Indonesia harus bisa mewadahi segala aspek yang berkenaan dengan ras, suku, dan agama. Dengan begitu harmonisasi di Indonesia akan sesuai dengan UUD Pasal 28 huruf E dijelaskan sebagai berikut: “Setiap orang bebas memeluk agama dan beribadat menurut agamanya, memilih pendidikan dan pengajaran, memilih pekerjaan, memilih kewarganegaraan, memilih tempat tinggal diwilayah negara dan meninggalkannya, serta berhak kembali.”[1] Sejalan dengan undang undang diatas, Agama Islam menjadikan konsep wasathiyyah (moderasi) sebagai sarana penyambung sosial antara ras, suku & agama yang ada di Indonesia. Dr. Ahmad Umar Hasyim, dalam wasathiyyat al-Islam mendefinisikan wasathiyyah (moderasi) sebagai keseimbangan dan kesetimpalan antara kedua ujung sehingga salah satunya tidak mengatasi ujung yang lain, tiada keberlebihan dan kekurangan, tiada pelampauan batas tidak juga pengurangan batas, ia mengikuti yang paling utama, paling berkualitas, dan paling sempurna.[2] Wasathiyyah (moderasi beragama) dalam Peraturan Presiden Nomor 58 Tahun 2023, tentang penguatan moderasi beragama pasal 1 menyebutkan: “Moderasi Beragama adalah cara pandang, sikap, dan praktik beragama dalam kehidupan bersama dengan cara mengejawantahkan esensi ajaran agama dan kepercayaan yang melindungi martabat kemanusiaan dan membangun kemaslahatan umum berlandaskan prinsip adil, berimbang, dan menaati Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 sebagai kesepakatan berbangsa.”[3] Ajaran Agama Islam merekomendasi adanya penerapan nilai-nilai moderasi yang meliputi: moderatisasi, toleransi, dan menerima kebudayaan lokal. Hal ini wujud dari adanya sikap tawassuth yang tertuang dalam Al-Qur’an surah Al-Baqarah ayat 143: y7Ï9ºx‹x.ur öNä3»oYù=yèy_ Zp¨Bé& $VÜy™ur (#qçRqà6tGÏj9 uä!#y‰pkà­ ’n?tã Ĩ$¨Y9$# tbqä3tƒur ãAqߙ§9$# öNä3ø‹n=tæ #Y‰‹Îgx© 3 ... ÇÊÍÌÈ Artinya: Dan demikian (pula) kami menjadikan kalian (umat Islam), umat penengah (adil dan pilihan), agar kamu menjadi saksi atas seluruh manusia dan agar Rasul (Muhammad SAW) menjadi saksi atas kamu…(Q.S Al-Baqarah:143).[4] Ummatan wasathan merupakan suatu harapan supaya mereka dapat tampil sebagai umat pilihan yang kerap memiliki sifat memberi penengah maupun berlaku adil, baik untuk menjalankan ibadah selaku individu ataupun ketika menjalankan interaksi sosial selaku anggota masyarakat. Islam mengajarkan agar tetap berpedoman pada Al-Qur’an dan hadis Nabi yang menjadi sumber utama pada ajaran Islam itu sendiri agar bisa bersikap moderat.[5] Pengalaman beragama dengan sikap moderat mengakibatkan penolakan pada sikap tathorruf (ekstrimis) yang berujung pada tindakan ekstrimisme. Namun fakta dilapangan mununjukkan adanya ketimpangan kondisi yang ada. menurut Laporan Institute for Economics and Peace (IEP) bertajuk Global Terrorism Index (GTI) 2023 menunjukkan bahwa Indonesia menempati urutan ketiga negara yang paling terdampak terorisme di kawasan Asia Pasifik pada tahun ini. Indonesia tercatat memperoleh skor sebesar 5,502 poin.[6] Maraknya aksi ekstrimisme atas nama Islam di dunia maupun Indonesia sedikit banyak telah menempatkan umat Islam sebagai pihak yang dipersalahkan. Ajaran jihad dalam Islam seringkali dijadikan sasaran tuduhan sebagai sumber utama terjadinya kekerasan atas nama agama oleh umat Islam. Dalam pandangan Noor Haidi Hasan, bahwa sesuatu dikatakan ekstrimis jika mengabsahkan penggunaan metode kekerasan dalam upaya mewujudkan perubahan radikal dalam sistem politik ataupun masyarakat.[7] Dengan demikian, ukuran ekstrimisme terletak pada kecenderungan mengupayakan perubahan radikal terhadap sistem yang ada dengan menggunakan kekerasan. Ketika ekstrimisme itu didasari oleh semangat menggantikan sistem yang ada dengan sistem baru yang bersumber dari syari’ah, maka ini disebut ekstrimisme Islam. Apabila ekstrimisme itu dipoles dengan doktrin-doktrin jihad, dalam arti pengesahan kekerasan itu dengan dalih jihad, maka disebut jihadisme. Dari jihadisme inilah berkembang terorisme Islam, atau lebih tepatnya, terorisme atas nama Islam. Inilah puncak aksi ekstrimisme.[8] [1] Sekretariat Negara Republik Indonesia, Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia No. 28E Tahun 1945, Tentang Kebebasan Beragama [2] Wasathiyyah wawasan Islam tentang moderasi beragama, Cetakan kedua (Pisangan, Ciputat, Tangerang Selatan: Lentera Hati, 2020), 7. [3] Sekretariat Negara Republik Indonesia, “Peraturan Presiden Republik Indonesia, Nomor 58 Tahun 2023, Tentang Penguatan Moderasi Beragama” (n.d.). [4] Departemen Agama RI, Al-Qur’an Terjemah (Bekasi: Cipta Bagus Segara, 2012). [5] Tim Penyusun Kementrian Agama RI, Moderasi Beragama (Jakarta: Badan Litbang dan Diklat Kementrian Agama Republik Indonesia, 2019), 25–26. [6] Cindy Mutia Nur, “Indonesia Masuk 3 Besar Negara Paling Terdampak Terorisme Di Asia Pasifik 2023,” 19/10/20023, https://databoks.katadata.co.id/datapublish/2023/10/19/indonesia-masuk-3-besar-negara-paling-terdampak-terorisme-di-asia-pasifik-2023. [7] Hasan N, Islam Politik Di Dunia Kontemporer: Konsep, Genealogi Dan Teori (Yogyakarta: Suka Press, 2012). [8] N.
The Grounding Islamic Washatiyah-Based Peace Education At al Qodiri Islamic Boarding School Jember Indonesia Asnawan, Asnawan; Dahri, Harapandi; Sarwan, Sarwan
QALAMUNA: Jurnal Pendidikan, Sosial, dan Agama Vol. 15 No. 1 (2023): Qalamuna - Jurnal Pendidikan, Sosial, dan Agama
Publisher : Lembaga Penerbitan dan Publikasi Ilmiah Program Pascasarjana IAI Sunan Giri Ponorogo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37680/qalamuna.v15i1.2382

Abstract

Since its establishment, Al Qodiri Islamic Boarding School has set itself as a peace boarding school with moderate character. When radicalism, extremism, and terrorism threaten world peace, the schools consistently campaign for peaceful movement. Therefore, this study focuses on peace education in planning, implementing, and its implication on students’ behavior and attitude in Al Qodiri Islamic Boarding School Jember to find a learning model of planning, implementing, and implication of peace education. This study used a qualitative research design using a multiple case study approach. The informants were chosen using a purposive sampling technique. The findings of the research are: first, peace education planning in al Qodiri Islamic Boarding School Jember refers to vision, mission, institutional philosophy, Islam washatiyah, started with the need analysis of an era, society, and students and by considering the suggestion of education users formulated by an educational institution. Second, peace education implementation employs an adaptation of religious text material using a moderation approach, Islamic method, and universal method, a website supporting media containing digital washatiyah literacy and digital sufism literacy implemented in formal institution integrated with ahlussunnah waljama’ah teaching through class-based-extracurricular activities and intensive and doctrinal extracurricular activities. Third, the peace education implication in Islamic boarding schools builds students’ polite and tolerant behavior, moderate and contextual perspective, sufistic behavior, and positive image for the local, national, and regional society and supports Islamic boarding schools' continuous transformation.
The Existence of Hizbut Tahrir Indonesia's Da'wah after Dissolution Sabiruddin, Sabiruddin; Taqiyuddin, Muhammad Fikri; Ridwan, Muhammad; Sarwan, Sarwan; Mardiana, Puja Dikusuma
International Journal of Islamic Studies Higher Education Vol. 2 No. 3 (2023): November
Publisher : Islamic Studies and Development Center in collaboration with Department of Islamic Education Universitas Negeri Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24036/insight.v2i3.143

Abstract

Hizbut Tahrir Indonesia is a political da'wah organization that focuses on spreading Islamic ideology through scientific and intellectual approaches. This research aims to analyze the da'wah strategy, political ideas, and reasons for the dissolution of Hizbut Tahrir Indonesia in the context of the spread of ideology through intellectual-based channels. Tsaqofah and evaluation of the strategic ideas proposed to realize their ideals. This research uses a qualitative method with a literature study approach, which is analyzed through three stages: data reduction, data presentation, and conclusion. The research results show that Hizbut Tahrir Indonesia prefers a da'wah-based path tsaqofah (scientific) as its main basis, which is realized through seminars, discussions, and conferences to spread its ideas. With this approach, Hizbut Tahrir Indonesia is known as an intellectual movement that does not involve physical action like other radical organizations. Hizbut Tahrir Indonesia also carries out two phases of organized struggle, namely (i) Tafa'ul ma'al umma, the phase of socializing ideas to the general public, and (ii) Tafa'ul bil aam, the phase of interaction of ideas in public space. Apart from that, Hizbut Tahrir Indonesia proposed two strategic ideas to realize its ideals, namely (i) adopting the principle of moderation in Nahdlatul Ulama's preaching which various groups accept, and (ii) taking a step back to move forward by joining a political party as a first step to achieve long-term goals. This research provides insight into the da'wah strategy and dynamics of the Indonesian Hizbut Tahrir political movement, as well as its relevance in Indonesia's social and political context.
Ekstraksi Titanium Dioksida (TiO2) dari Pasir Besi Pantai Tembakak Pesisir Barat sebagai Nanopartikel dengan Metode Hidrometalurgi Lisa Rahmawati; Sudibyo; Pratama, Dian Septiani; Sembiring, Zipora; Suharso, Suharso; Anggraeni, Tika; Sarwan, Sarwan
Analit : Analytical and Environmental Chemistry Vol. 9, No. 01 April (2024) Analit : Analytical and Environmental Chemistry
Publisher : Jurusan Kimia FMIPA Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23960/analit.v9i01.165

Abstract

The iron sand sample came from Tembakak Beach, Pesisir Barat Regency, was prepared and then analyzed using XRF, obtained an Fe content of 58.294%; Si 18.525%; Ti 8.775%; Al 6.785%; Ca 3.885%; K 1.624%, as well as minor elements with a content below 0.5%. Titanium dioxide (TiO2) can be obtained from ilmenite (FeTiO3), by hydrometallurgical extraction methods. The extraction results were analyzed using XRF, obtained TiO2 at varying concentrations of HCl 7 Μ of 15.033%, HCl 9 Μ of 16.367%, and HCl 12 Μ of 17.421%. XRD characterization of TiO2 extraction results with variations in HCl concentration of 12 Μ shows that TiO2 has a rutile crystal phase with a tetragonal crystal structure, and has a particle size of 33.92 nm so that the TiO2 particles obtained are nanoparticles that play an important role in technological and industrial development.