Claim Missing Document
Check
Articles

Pengembangan Model Bimbingan Kelompok Berbasis Islam untuk Meningkatkan Perilaku Etik Berkomunikasi Siswa MTS Kota Banjarmasin Ridhani, Akhmad Rizkhi; Sutoyo, Anwar
Jurnal Bimbingan Konseling Vol 5 No 1 (2016): June 2016
Publisher : Jurnal Bimbingan Konseling

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (427.68 KB)

Abstract

Tujuan penelitian ini: (1) mengetahui pelaksanaan bimbingan kelompok di MTs Kota Banjarmasin, (2) mengetahui perilaku etik siswa dalam berkomunikasi dengan orang tua di MTs Banjar Selatan 1 Kota Banjarmasin, (3) menghasilkan model layanan bimbingan kelompok berbasis islam untuk meningkatkan perilaku etik siswa dalam berkomunikasi dengan orang tua pada siswa di MTs Banjar Selatan 1 Kota Banjarmasin, (4) mengetahui keefektivan model layanan bimbingan kelompok berbasis islam yang efektif untuk meningkatkan perilaku etik siswa dalam berkomunikasi dengan orang tua  pada siswa MTs Banjar Selatan 1 Kota Banjarmasin. Penelitian ini menggunakan metode research and development (R&D), dengan langkah-langkah sebagi berikut: (1) studi pendahuluan. (2) pengembangan model hipotetik. (3) validasi ahli. (4) revisi model. (5) uji coba produk. (6) model akhir. Hasil dari penelitian ini ialah dihasilkannya sebuah model layanan bimbingan kelompok berbasis islam untuk meningkatkan perilaku etik berkomunikasi terhadap orang tua yang terdiri dari (1) rasional, (2) pengertian, (3) visi dan misi, (4) prinsip, (5) tujuan, (6) isi, (7) dukungan system, (8) tahapan, (9) evaluasi dan tindak lanjut, (10) materi layanan, (11) panduan pelaksanaan. Hasil uji keefektifan model dengan uji-t independent berbantuan SPSS 16 diperoleh data T hitung (10,603) > T tabel (2,145) maka Ho ditolak dan Ha diterima. Oleh karena itu dapat disimpulkan bahwa layanan bimbingan kelompok berbasis islam efektif untuk meningkatkan etika berkomunikasi siswa terhadap orang tua. Simpulan: (1)  perilaku etik berkomunikasi siswa terhadap orang tua sebelum diberikan layanan bimbingan kelompok berbasis islam adalah berada pada kategori rendah, (2) perilaku etik berkomunikasi siswa terhadap orang tua setelah diberikan layanan adalah berada pada kategori tinggi, (3) telah ditemukan desain model layanan bimbingan kelompok berbasis islam untuk meningkatkan perilaku etik berkomunikasi siswa terhadap orang tua, (4) model ini efektif untuk meningkatkan perilaku etik berkomunikasi siswa terhadap orang tua.   The purpose of this study: (1) investigate the implementation of group counseling in MTs of Banjarmasin city, (2) determine ethical behavior of students in communicating with parents in MTs Banjar Selatan 1 Banjarmasin, (3) in a model of counseling services Islamic-based group to improve ethical behavior students in communicating with parents on students at MTs Banjar Selatan 1 Banjarmasin, (4) determine the effectiveness of the model Islamic -based group counseling services are effective to improve ethical behavior of students in communicating with parents on student MTs Banjar Selatan 1 Banjarmasin. This study uses research and development (R & D), with the steps as follows: (1) a preliminary study, (2) development of hypothetical model, (3) expert validation, (4) model revision, (5) product trials, (6) final model. Field test results, communicate ethical behavior of students to parents increased after following Islamic-based groups guidance services, proved to be effective for improving communicate ethical behavior with parents. Shown by the change of student’s ethical behavior communication to parents before treatment is being given and after treatment given. The results of testing the effectiveness of the model with independent t-test data obtained aided by SPSS 16, T count (10,603)> T table (2.145), then Ho is rejected and Ha accepted. Therefore it can be concluded that the Islamic -based group guidance service is effective for improving ethics communicate students with their parents. Conclusions and Recommendations: (1) ethical behavior to communicate students with their parents before being given Islamic-based group guidance is located in the low category, (2) ethical behavior communicate with students to their parents after being given the service is at the high category, (3) has been found the model design Islamic-based group counseling services to improve the ethical behavior of students communicating to their parents, (4) the model is effective for improving the ethical behavior of students communicating to their parent.
PENGEMBANGAN MODEL EVALUASI BIMBINGAN DAN KONSELING BERBASIS CIPP DI SMP KOTA BANJARMASIN Qasthalani, Qasthalani; Jarkawi, Jarkawi; Ridhani, Akhmad Rizkhi; Abidarda, Yulizar
Jurnal Mahasiswa BK An-Nur : Berbeda, Bermakna, Mulia Vol 5, No 1 (2019)
Publisher : Universitas Islam Kalimantan Muhammad Arsyad Al-Banjari Banjarmasin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (31.575 KB) | DOI: 10.31602/jmbkan.v5i1.1841

Abstract

Evaluation is an important activity in management because evaluation of a program can be seen as exhausted. There are several facts in the field regarding Guidance and Counseling evaluation, namely the lack of BK teacher knowledge of the Guidance and Counseling evaluation model, BK teachers are more focused on evaluating the process and the results relating to students and counselors using the 2014 and 2016 Guidance and Counseling Guidance BK teachers who do not have Guidance and Counseling guidelines as a reference for evaluating Guidance and Counseling. The purpose of this study is to find out the factual conditions of Guidance and counseling evaluation, analyze the needs of BK teachers for CIPP based Guidance and Counseling model evaluation and produce CIPP based Guidance and Counseling based evaluation models. The research method used is Research and Development (R & D) carried out with 4 steps namely preliminary study, hypothetical model development, expert validation and model revision. The analysis technique used uses miles and huberman techniques. The results of the study, the BK teacher carried out Guidance and Counseling evaluations well but not yet maximally, the BK teacher needed a comprehensive evaluation model and CIPP based Guidance and Counseling model evaluations that had been validated by experts and practitioners. CIPP based guidance and counseling that has been validated by experts and practitioners.
Peer Counseling : Upaya Dalam Meminimalisir Masalah Remaja Akhmad Rizkhi Ridhani; Yulizar Abidarda
Aksiologiya: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol 4, No 1 (2020): Februari
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30651/aks.v4i1.2742

Abstract

ABSTRAK Masa kian berubah dari tahun ke tahun, seiring perubahan tersebut tentunya banyak fenomena yang kita lihat dan rasakan, tak terkecuali fenomena masalah yang terjadi di remaja, khususnya di Indonesia. Masa remaja merupakan masa dimana seseorang mulai tumbuh dari masa kanak-kanak menuju masa penemuan jati diri, dimana pada saat-saat seperti itulah biasanya para remaja akan bertingkah sembarangan tanpa memikirkan akibat apa yang akan terjadi dari perbuatannya tersebut. Sering kali dengan kelakuan sembarangannya itu para remaja mendapatkan masalah yang tidak ringan. Maka oleh sebab itu perlu dicanangkan program peer-counseling bagi remaja sehingga mereka dapat mengungapkan masalahnya dengan memanfaatkan teman sejawat. Hubungan sebaya memiliki peranan yang kuat dalam kehidupan remaja, hubungan sebaya ini menimbulkan suatu hubungan saling percaya antar teman sebaya. Hubungan ini dapat menimbulkan suatu perilaku dimana remaja lebih percaya terhadap teman sebaya daripada dengan orang tua, sehingga pembentukan dan pelatihan konselor sebaya dapat menjadi suatu pilihan yang tepat dalam upaya membentengi anak atau remaja dari pengaruh negatif lingkungan sekitarnya.Kata Kunci: masalah remaja; peer counseling. ABSTRACTThe period has changed from year to year, as these changes certainly have many phenomena that we see and feel, including the phenomenon of problems that occur in adolescents, especially in Indonesia. Adolescence is a period where a person begins to grow from childhood to the time of discovery of identity, where at times like that usually the teenagers will act carelessly without thinking about the consequences of what will happen from these actions. Often with careless behavior, teenagers get problems that are not light. Therefore, it is necessary to launch a peer-counseling program for adolescents so that they can express their problems by using colleagues. Peer relationships have a strong role in adolescent life, this peer relationship creates a trusting relationship between peers. This relationship can lead to a behavior where adolescents are more trusting of peers than with parents, so the formation and training of peer counselors can be an appropriate choice in an effort to fortify children or adolescents from the negative influences of the surrounding environment.Keywords: peer counseling; youth problems.
Implementasi 21st Century Community Counseling Program bagi Anak Kurang Beruntung di Yayasan Anak Bangsa Mandiri Banua Rudi Haryadi; Muhammad Eka Prasetia; Akhmad Rizkhi Ridhani; Yulizar Abidarda
Bubungan Tinggi: Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol 2, No 2 (2020): NOVEMBER 2020
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/btjpm.v2i2.2128

Abstract

Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan untuk untuk memberikan pelatihan 21st century skill melalui pelayanan bimbingan dan konseling secara terprogram bagi anak-anak kurang beruntung agar mampu mencegah masuknya pengaruh negatif lingkungan urban bagi mereka. Kegiatan dilaksanakan di Rumah Singgah milik Yayasan Anak Bangsa Mandiri Banua. Kegiatan ini mempunyai 11 metode terprogram yang dilaksanakan berkesinambungan selama 6 bulan. Tujuh dari sebelas program konseling komunitas telah dilaksanakan secara tatap muka, yaitu: (1) koordinasi program dengan pengelola komunitas; (2) asesmen dan orientasi program; (3) bimbingan klasikal teknik kuis dan teka-teki; (4) pelatihan keterampilan bahasa asing dasar; (5) bimbingan klasikal tema ‘leadership’ dengan Teknik storytelling dan symbolic modeling; (6) bimbingan kelompok tema ‘problem solving’ dengan metode permainan eduaktif; dan (7) konseling kelompok art therapy. Sedangkan 4 sisanya dilaksanakan secara daring karena adanya pemberlakuan aturan social-distancing akibat Pandemi Covid-19, yaitu: (1) bimbingan karier tema cita-cita dan masa depan; (2) konseling individual; (3) gerakan sadar literasi; dan (4) asesmen akhir. Hasil asesmen pada sebelum dan sesudah program menunjukkan adanya peningkatan kecil 21st century skills anak (+7,8 poin). Direkomendasikan agar kegiatan ini dapat terus diterapkan guna memperoleh efek yang lebih baik dalam peningkatan 21st century skills pada anak. Community service activities aim to provide 21st-century skills training through programmatic guidance and counselling services for disadvantaged children to be able to prevent the entry of negative influences on the urban environment for them. The activity held at the Rumah Singgah owned by the Yayasan Anak Bangsa Mandiri Banua. This activity has 11 programmed methods that are carried out continuously for six months. Seven of the eleven community counselling programs have been carried out face-to-face: (1) program coordination with community managers; (2) assessment and orientation of the program; (3) classical guidance on quiz and puzzle techniques; (4) basic foreign language skills training; (5) classical guidance on the theme 'leadership' with storytelling and symbolic modelling techniques; (6) theme group guidance ‘problem solving’ with educational methods; and (7) art therapy group counselling. While the remaining four are carried out online because of the enactment of social-distancing rules due to the Covid-19 Pandemic: (1) career guidance on the themes of ideals and future; (2) individual counselling; (3) literacy conscious movements; and (4) final assessment. The results of the assessment before and after the program showed a small increase in 21st-century children's skills (+7,8 points score). It is recommended that this activity can continue to be applied to obtain a better effect in improving 21st-century skills in children.
KARAKTERISTIK KONSELOR ISLAMI (KAJIAN EMPIRIS NILAI-NILAI PENDIDIKAN KARAKTER SYEKH MUHAMMAD ARSYAD AL-BANJARI) Khairullah Khairullah; Akhmad Rizkhi Ridhani; Aminah Aminah
JURNAL BIMBINGAN DAN KONSELING AR-RAHMAN Vol 4, No 2 (2018): December
Publisher : UPT Publikasi dan Pengelolaan Jurnal Universitas Islam Kalimantan MAB Banjarmasin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (449.312 KB) | DOI: 10.31602/jbkr.v4i2.1502

Abstract

Konselor sebagai tenaga profesional tentunya harus mampu memberikan pelayanan secara optimal, sistematis, objektif, logis, serta berkelanjutan kepada setiap individu agar individu tersebut dapat berkembang optimal sesuai dengan perkembangannya masing-masing. Indonesia merupakan mayoritas pendudukannya Islam tentunya merupakan tatantangan tersendiri bagi seorang konselor dalam memberikan layanan. Maka oleh sebab itu perlu dikaji bagaimana karakteristik konselor islami. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji nilai-nilai pendidikan karakter Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari sebagai dasar untuk mengetahui bagaimana bentuk karakteristik konselor islami. Metodologi yang digunakan ialah kualitatif dengan desain etnografi realis, yang dimana data diperoleh melalui orang ketiga, kemudian dari pada itu melaporkan secara objektif tentang informasi yang dipelajari dari partisipan di lapangan. Intrumen utama dalam penelitian ini ialah wawanacara. Hasil dari penelitian ini ialah terdapatnya nilai-nilai pendidikan karakter Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari dari kisah-kisah beliau semasa hidup. Selain dari pada itu tersusunya karakteristik konselor islami berdasarkan kajian empris dari nilai pendidikan karakter Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari.__________________________________________________________ Counselors as professionals must certainly be able to provide services optimally, systematically, objectively, logically, and sustainably to each individual so that individuals can develop optimally in accordance with their respective developments. Indonesia is the majority of its occupation Islam is certainly a separate challenge for a counselor in providing services. Therefore, it is necessary to examine the characteristics of Islamic counselors. This study aims to examine the character education values of Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari as a basis for knowing how the characteristics of Islamic counselors are. The methodology used is qualitative with a realist ethnographic design, in which data is obtained through a third person, then from that it reports objectively on information learned from participants in the field. The main instrument in this study is wawanacara. The results of this study are the existence of the character education values of Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari from the stories of him during his lifetime. Apart from that the characteristics of Islamic counselors are based on empirical studies of the character education values of Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari
PENGEMBANGAN NEED ASSESMENT LAYANAN BIMBINGAN KELOMPOK BERBASIS TEKNOLOGI INFORMASI Akhmad Rizkhi Ridhani; Zainal Fauzi
JURNAL BIMBINGAN DAN KONSELING AR-RAHMAN Vol 5, No 1 (2019): June
Publisher : UPT Publikasi dan Pengelolaan Jurnal Universitas Islam Kalimantan MAB Banjarmasin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1777.674 KB) | DOI: 10.31602/jbkr.v5i1.1903

Abstract

Analisis kebutuhan merupakan hal utama dan pertama bagi konselor sekolah untuk menganalisis kebutuh yang dihendaki peserta didik. Namun pada tataran pelaksanaannya konselor kurang efesien dalam memanfaatkan teknologi, dimana kebanyak konselor sekolah masih menganalisis kebutuhan peserta didik secara manual (offline). Padahal teknologi bagi kita merupakan pengetahuan terhadap penggunaan alat dan kerajinan, dan bagaimana hal tersebut mempengaruhi kemampuan untuk mengontrol dan beradaptasi dengan lingkungan alamnya. Maka oleh sebab itu tujuan dari penelitian ini ialah mengembangkan sebuah analisis kebutuhan terhadap layanan bimbingan kelompok berbasis teknologi informasi. Metodelogi penelitian yang digunakan peneliti yakni penelitian dan pengembangan (research and development). Dalam pengembangan model ini instrument pengumpul data yang digunakan peneliti yakni; (1) angket, (2) lembar validasi ahli. Hasil penelitian yakni : (a) tersusunya model hipotetik analisis kebutuhan layanan bimbingan kelompok berbasis teknologi informasi hasil revisi dari masukan para ahli yang telah ditetapkan peneliti kriterianya; (b) kekurangan dari model hipotetik ini ialah peneliti hanya menggunakan 5 tahapan pengembangan yakni : (1) studi pendahuluan. (2) perencanaan, (3) pengembangan hipotetik, (4) penelaahan model hipotetik, (5) revisi model hipotetik, sehingga belum dapat dilihat efektifitas model yang dikembangkan peneliti._______________________________________________________________ Needs analysis is the main and first thing for school counselors to analyze the needs of students. But at the level of implementation the counselor is less efficient in utilizing technology, where most school counselors still analyze the needs of students manually (offline). Though technology for us is knowledge of the use of tools and crafts, and how it affects the ability to control and adapt to their natural environment. So the purpose of this study is therefore to develop a needs analysis of information technology-based group guidance services. The research methodology used by researchers is research and development. In developing this model data collection instruments used by researchers are; (1) questionnaire, (2) expert validation sheet. The results of the study are: (a) the establishment of a hypothetical model of the analysis of the need for revised information technology-based group guidance services from the input of experts who have been determined by the researchers; (b) the shortcomings of this hypothetical model are that researchers only use 5 stages of development namely: (1) preliminary study (2) planning, (3) hypothetical development, (4) hypothetical model review, (5) hypothetical model revision, so that the effectiveness of the model developed by the researcher cannot be seen.
PENGARUH LAYANAN BIMBINGAN KELOMPOK DENGAN TEKNIK SOSIODRAMA DALAM MENGURANGI PERILAKU AGRESIF SISWA DI MTs PANGERAN ANTASARI MARTAPURA Faradila Kusuma Wardani; Eka Sri Handayani; Akhmad Rizkhi Ridhani
JURNAL BIMBINGAN DAN KONSELING AR-RAHMAN Vol 5, No 2 (2019): December
Publisher : UPT Publikasi dan Pengelolaan Jurnal Universitas Islam Kalimantan MAB Banjarmasin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (397.033 KB) | DOI: 10.31602/jbkr.v5i2.2207

Abstract

Perilaku Agresif adalah bentuk perilaku atau tindakan melukai yang disengaja oleh sesorang dengan disengaja yang dapat menyakiti orang lain. Perilaku agresif itu sendiri berasal dari proses kognitif yang terganggu, sehingga di harapkan permasalahan peserta didik tersebut bisa dibantu penyelesaiannnya agar tidak mengganggu perkembangan dan pertumbuhannya. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengurangi perperilaku Agresif siswa dengan Layanan Bimbingan Kelompok Dengan Teknik Sosiodrama Dalam Mengurangi Perilaku Agresif Siswa Kelas VIII Di Mts Pangeran Antasari Martapura. Dalam penelitian ini. menggunakan Pre-eksperimental design, yaitu one-group pretest dan posttest. populasi siswa dalam penelitian ini adalah siswa kelas VIII C MTs Pangeran Antasari. Berdasrkan hasil skor angket skala perilaku Agresif diambil sampel 6 orang siswa yang memiliki skor tertinggi dan 2 orang siswa skor rendah untuk diberikan perlakuan layanan bimbingan kelompok dengan tekniksosiodrama, Setelah itu akan dibandingkan keadaan sebelum dan sesudah diberi perlakuan. Data hasil penelitian ini dianalisis menggunakan uji wilcoxon Berdasarkan hasil perhitungan uji Wilcoxon pada data keseluruhan siswa diperoleh bahwa nilai signifikasi (Sig). sebesar 0,012 kurang dari 0,05. Hal ini berarti terdapat perbedaan antara hasil pre-test dan post-test menggunakan layanan bimbingan kelompok dengan teknik sosiodrama, atau dapat dikatakan bahwa ada pengaruh dari layanan bimbingan kelompok_________________________________________________________ Aggressive Behavior is a form of intentional intentional hurt behavior or actions that can hurt others. Aggressive behavior itself comes from cognitive processes that are disrupted, so it is hoped that the students' problems can be helped so that they do not interfere with their development and growth. The purpose of this study was to reduce the aggressive behavior of students with Group Guidance Services with Sociodrama Techniques in Reducing Aggressive Behavior of Class VIII Students in Mts Pangeran Antasari Martapura. In this research. using Pre-experimental design, which is one-group pretest and posttest. the population of students in this study were students of class VIII C MTs Pangeran Antasari. Based on the results of the Aggressive behavior scale questionnaire scores a sample of 6 students who had the highest score and 2 students of low scores was taken to be treated with group guidance services with sociodrama techniques, after which conditions were compared before and after being treated. Data from the results of this study were analyzed using the Wilcoxon test. Based on the results of the Wilcoxon test calculation on the overall data of the students, it was obtained that the significance value (Sig). amounted to 0.012 less than 0.05. This means that there is a difference between pre-test and post-test results using group guidance services with sociodrama techniques, or it can be said that there is an influence of group guidance services.
Pengembangan Pribadi Konselor Berbasis Islam Akhmad Rizkhi Ridhani; Zainal Fauzi
JURNAL KONSELING GUSJIGANG Vol 4, No 2 (2018): Jurnal Konseling Gusjigang Desember 2018
Publisher : Universitas Muria Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (600.33 KB) | DOI: 10.24176/jkg.v4i2.4731

Abstract

Penelitian yang akan dilaksanakan dengan tujuan pengembangan pribadi konselor yang dimana dalam hal ini menjadi fokus utama peneliti dalam melakukan penelitian. Pada tataran pengembangannnya ini nantinya peneliti mengkaji terlebih dahulu tentang nilai-nilai yang terkandung dalam Islam karangan Syech Muhammad Arysad Al-Banjari. Selanjutnya nilai-nilai tersebut diimplementasi dalam pengembangan pribadi konselor. Dipilihnya Islam disini karena peneliti memandang subyek dalam layanan bimbingan dan konseling mayoritas islam khususnya di daerah Kalimantan Selatan. Kemudian dari pada itu pula minimnya kepercayaan public akan kinerja konselor diakibatkan oleh kurangnya kualitas pribadi dari seorang konselor menjadikan peneliti tertarik untuk mengembangkan sebuah model pribadi konselor yang relegius keislaman. Desain penelitian yang digunakan peneliti mengacu pada desain research and develompmentc (R and D) yang dikembangkan oleh Borg and Gall, dimana peneliti dalam mengembangkan pribadi konselor berbasis Islam mengadopsi sepuluh tahapan pengembangan menurut Borg and Gall yang dimodifikasi menjadi lima tahapan, hal ini dilakukan dengan alasan disesuiakan dengan kebutuhan penelitian. lima tahapan tersebut adalah sebagai berikut : (1) studi pendahuluan. (2) perencanaan, (3) pengembangan hipotetik, (4) penelaahan model hipotetik, (5) revisi. Hasil dari penelitian ini yakni tersusunya konsep pengembangan pribadi konselor berbasis islam pada tahapan teruji 1 (akademisi dan praktisi bidang bimbingan dan konseling).
Strategi Layanan Konseling Kelompok Dengan Teknik Positive Reinforcement Untuk Mengurangi Perilaku Merokok Siswa SMP Negeri 2 Martapura Akhmad Sanusi; Jarkawi Jarkawi; Akhmad Rizkhi Ridhani
JURNAL KONSELING GUSJIGANG Vol 6, No 1 (2020): Jurnal Konseling Gusjigang Juni 2020
Publisher : Universitas Muria Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24176/jkg.v6i1.3733

Abstract

The purpose of this study is to analyze the level of behavior of students smoking before and after the service, and analyze the level of effectiveness of service strategies. In this study, researchers used a pre-experimental design that is one-group pretest and posttest design. Pretest-treatment-posttest research procedure. The sampling technique uses purposive sampling. Data collection techniques using a measurement scale through the instrument. Validity and reliability using Pearson Correlation and Cronbach alpha. Analyzing, experimental results, researchers used descriptive statistical counts, and tested the effectiveness of the service test with the Wilcoxon formula with the help of the IBM SPSS Statistics 23 application. treatment 224 or 41%, the average yield can be classified as low. Level of service effectiveness Based on the results of the Wilcoxon test calculation on student data obtained that the significance value (Sig). 0.012 is less than 0.05. The influence of smoking behavior before and after the service is provided.
PELATIHAN PENINGKATAN SELF CONCEPT DAN SELF ACCEPTANCE PADA WARGA BINAAN DI LP PEREMPUAN KELAS II A MARTAPURA Eka Sri Handayani; Rudi Haryadi; Akhmad Rizkhi Ridhani; Zainal Fauzi
JURNAL PENGABDIAN AL-IKHLAS UNIVERSITAS ISLAM KALIMANTAN MUHAMMAD ARSYAD AL BANJARY Vol 6, No 1 (2020): AL-IKHLAS JURNAL PENGABDIAN
Publisher : Universitas Islam kalimantan MAB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (399.179 KB) | DOI: 10.31602/jpaiuniska.v6i1.3371

Abstract

Dalam lembaga pemasyarakatan, narapidana termasuk narapidana wanita yang melakukan tindak pidana menghadapi sejumlah permasalahan yang sangat berpengaruh terhadap psikologis mereka. Kehidupan yang dijalani seorang narapidana selama berada di penjara, membuat dirinya menghadapi berbagai masalah psikologis antara lain kehilangan keluarga, kehilangan kontrol diri, kehilangan model, dan kehilangan dukungan. Konsep diri yang positif adalah modal dalam berinteraksi di kehidupanbermasyarakat. Konsep diri positif membuat individu mampu menerima perbedaan antarpribadi dan mengatasi konflik secara konstruktif (Rogers dalam Batista, 2012). Konsep diri yang negatif membawa individu pada perasaan minder, harga diri yang rendah dan memunculkan perilaku yang tidak mendukung interaksi hubungan interpersonal.West dan Turner (2008) mengemukakan definisi konsep diri sebagai halyang ingin ditampilkan individu pada individu lain. Peserta dengan jumlah 30 orang (Peserta Warga Binaan) yang mengikuti pelatihan, umumnya mendapatkan kenaikan skor dari sebelumnya dalam kategori sedang dan meningkat menjadi masuk dalam kategori tinggi, pada skala Self Concept dan pada aspek atau pengukuran Self Acceptance, bisa di lihat dari semua peserta sebanyak 30 orang (Peserta Warga Binaan) yang mengikuti pelatihan, sebelumnya mendapatkan kategori rendah untuk penerimaan diri mereka, setelah mendapatkan pelatiihan mereka lebih bisa menerima keadaan dan menyesuaiakan diri dengan lingkungan selama menjadi Warga Binaan di Lapas Kelas II A Martapura.