Claim Missing Document
Check
Articles

Found 25 Documents
Search

Faktor Determinan Hipertensi pada Jemaah Haji Usia Lebih Dari 40 Tahun di Provinsi DKI Jakarta Tahun 2022 Danny, Danny; Sudaryo, Mondastri Korib
Jurnal Epidemiologi Kesehatan Indonesia Vol. 7, No. 2
Publisher : UI Scholars Hub

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Di seluruh dunia, hipertensi adalah penyakit tidak menular paling umum yang menyebabkan kematian. Hipertensi menjadi penyakit yang mendominasi pada jemaah haji Indonesia dengan prevalensi yang terus meningkat. Jemaah haji merupakan populasi khusus yang cukup rentan karena ibadah haji membutuhkan kemampuan fisik dan mental yang baik sehingga penyelenggaraan kesehatan haji menjadi tugas penting bagi pemerintah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor determinan kejadian hipertensi pada jemaah haji usia lebih dari 40 tahun di provinsi DKI Jakarta tahun 2022. Penelitian ini menggunakan desain studi potong lintang dengan sampel sebanyak 3.339 orang. Penelitian ini menggunakan data sekunder dari pemeriksaan kesehatan tahap 2 jemaah haji yang diperoleh dari aplikasi Siskohatkes Kementerian Kesehatan. Analisis data menggunakan uji chi square (bivariat) dan uji cox regression (multivariat). Penelitian ini menunjukkan bahwa faktor determinan hipertensi pada jemaah haji usia >40 tahun di provinsi DKI Jakarta tahun 2022 adalah usia (PR 1,45 ; 95% CI: 1,30-1,62) , jenis kelamin (PR 1,18 ; 95% CI: 1,06-1,32), riwayat hipertensi pada keluarga (PR 1,29 ; 95% CI: 1,15-1,45), status gizi (PR 1,38 ; 95% CI: 1,15-1,45), penyakit jantung (PR 1,33 ; 95% CI: 1,14-1,55) dan diabetes mellitus (PR 1,35 ; 95% CI: 1,18-1,54). Usia merupakan faktor determinan yang paling dominan, dimana usia >56 tahun memiliki risiko paling besar (1,45 kali) untuk terjadi hipertensi. Sebagian dari faktor determinan lainnya merupakan faktor risiko yang dapat diubah, sehingga upaya pencegahan hipertensi dapat dilakukan melalui pola hidup sehat dengan ruti melakukan aktivitas fisik yang cukup, mengonsumsi buah dan sayur, tidak merokok dan tidak mengonsumsi alkohol, serta selalu cek kesehatan secara berkala khusus pada jemaah haji usia diatas 56 tahun.
Asosiasi antara Indeks Massa Tubuh dan Mortalitas pada Pasien Gagal Ginjal Kronis yang Menjalankan Hemodialisa Reguler: Meta-analisis dari Studi Kohort Latupeirissa, Joue Abraham Trixie; Sudaryo, Mondastri Korib; Gabriella, Dorothy, Ms.; Suryandari, Benedikta, Ms.; Putri, Vine Aprilianita Sri Indah, Ms.
Jurnal Epidemiologi Kesehatan Indonesia Vol. 8, No. 2
Publisher : UI Scholars Hub

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Chronic kidney failure patients must undergo hemodialysis for life, therefore it is important to maximize hemodialysis services in every health facility. Accordingly, factors related to survival rates must be addressed. One of them is low Body Mass Index (BMI). This study assessed the relationship between low BMI and mortality in the patients. The study design used was meta-analysis. The articles involved were in the period 2012 - 2024. There are three literature sources: medical databases, previous studies, and ongoing research. Overall, 26 articles were obtained. Data analysis showed that BMI
Hubungan antara Hipertensi dan Kematian Pasien COVID-19 di Layanan Rawat Inap RSUD Tarakan Tahun 2022 (Association between Hypertension and Mortality of COVID-19 Inpatients at Tarakan Regional General Hospital in 2022) Widyasari, Karina; Sudaryo, Mondastri Korib
Jurnal Epidemiologi Kesehatan Indonesia Vol. 8, No. 2
Publisher : UI Scholars Hub

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Coronavirus Disease 2019 (COVID-19) is an infectious disease caused by the Severe Acute Respiratory Syndrome Coronavirus 2 (SARS-CoV-2). COVID-19 was the leading disease in terms of the highest number of hospital admissions and cause of death at the Tarakan Regional General Hospital (RSUD Tarakan) in 2022. COVID-19 patients who received treatment at the hospital were often individuals with underlying conditions, such as hypertension. Therefore, it is important to conduct research on comorbidities, specifically hypertension, and its relationship to COVID-19 mortality at the RSUD Tarakan’s inpatient in 2022, so the hospital can design spesific care plans for COVID-19 patients with hypertension. This study used a retrospective cohort design with secondary data from the RSUD Tarakan's SIMRS reports. A total of 534 samples met the criteria for analysis. The variables measured included COVID-19 mortality, patient’s age and gender, hypertension, type 2 Diabetes Mellitus (DM), heart failure, Chronic Kidney Disease (CKD), Acute Kidney Injury (AKI), sepsis, and Acute Respiratory Distress Syndrome (ARDS). Analysis was performed using cox proportional hazards regression. The results showed a significant association between hypertension and COVID-19 mortality (aRR= 0.406; 95% CI 0.250-0.659; p-value: 0.000) after controlling for age. This indicates that patients with hypertension were 59.4% less likely to die from COVID-19 compared to those without hypertension. It is important to note that there are other factors that were not considered in this study. Therefore, the researchers suggest conducting further studies which take into account the severity of hypertension and the impact of antihypertensive treatment on COVID-19 mortality.
Determinan Faktor dengan Ketidakpatuhan dalam Mengonsumsi Obat Antiretroviral Pada Orang Dengan HIV(ODHIV) Di Rumah Sakit Umum Daerah Kabupaten Tangerang Tahun 2023 SARI, DESSI MARANTIKA NILAM; Sudaryo, Mondastri Korib; Syarif, Syahrizal; Umniyati, Helwiah; ., Suyono
Jurnal Epidemiologi Kesehatan Indonesia Vol. 9, No. 1
Publisher : UI Scholars Hub

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Ketidakpatuhan alasan utama Pasien HIV tidak menerima pengobatan ARV sehingga harus selalu dipantau dan dinilai secara teratur serta didorong pada setiap kunjungan. Penelitian ini bertujuan untuk mengamati determinan faktor terjadinya ketidakpatuhan dalam mengonsumsi obat ARV pada ODHIV yang mendapatkan terapi ARV di Rumah Sakit Umum Daerah Kabupaten Tangerang. Jenis penelitian ini menggunakan penelitian observasional dengan rancangan cross sectional. Penelitian dilakukan di poli HIV RSUD Kabupaten pada bulan November 2023 menggunakan data laporan HIV pada SIHA. Populasi penelitian berjumlah 1.337 ODHIV aktif menjalani pengobatan antiretroviral di RSUD Kabupaten Tangerang dengan menggunakan total sampling sesuai dengan kriteria inklusi dan ekslusi sehingga sampel penelitian berjumlah 1.286 ODHIV. Metode analisis data menggunakan cox regression dengan aplikasi STATA. Hasil analisis univariat menunjukan bahwa 88% studi populasi masuk dalam populasi kunci. Didapatkan faktor dominan yang berpengaruh terhadap ketidakpatuhan minum obat ARV adalah: variabel umur (PR 1,20 dengan 95% CI 1,05-1,38), status perkawinan (PR 1,18 dengan 95% CI 1,03-1,36), domisili (PR 1,19 dengan 95% CI 1,04-1,36), viral load (PR 1,27 dengan 95% CI 1,10-1,43), lamanya pengobatan (PR 1,25 dengan 95% CI 1,07-1,47), kelompok populasi kunci (PR 1,27 dengan 95% CI 1,04-1,56) dan dukungan teman sebaya (PR 1,15 dengan 95% 1,00-1,32). Hasil penelitian ini diharapkan menjadi acuan bagi RSUD dan Dinas Kesehatan Kabupaten Tangerang dalam meningkatkan penanganan HIV/AIDS, melalui edukasi dan motivasi kepatuhan ARV yang didukung keluarga, PMO, dan teman sebaya. Selain itu, perlu pengembangan SIM RS yang fleksibel serta standarisasi pencatatan dan pelaporan untuk optimalisasi pemantauan pasien.
Determinan Ketidakpatuhan Kunjungan Pengambilan Obat Antiretroviral Pasien HIV/AIDS di Kabupaten Bekasi Tahun 2023-2024 Sihombing, Intan Ully Athalia; Sudaryo, Mondastri Korib; Helda, Helda; Umniyati, Helwiah; Hasyim, Irva Zulviya
Jurnal Epidemiologi Kesehatan Indonesia Vol. 9, No. 2
Publisher : UI Scholars Hub

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Non-adherence to scheduled antiretroviral (ARV) medication pickup can reduce treatment effectiveness, increase the risk of drug resistance, and contribute to poor HIV infection control. This study aimed to identify factors associated with missed ARV pickup appointments among people living with HIV/AIDS in Bekasi District. An analytical cross-sectional study was conducted using secondary data from HIV/AIDS patients undergoing ARV therapy in 2023–2024. Data were analyzed descriptively (univariate), using Chi-square tests (bivariate), and log-binomial regression (multivariate). Among 811 patients, 341 (42%) were recorded as non-adherent to their medication pickup schedule. The results showed that having an unsuppressed viral load (>50 copies/ml) significantly increased the risk of non-adherence (PR: 2.23; 95% CI: 1.74–2.86; p<0.001). Additionally, patients who had been on treatment for more than five years showed a higher tendency for non-adherence, although this was not statistically significant (PR: 1.17; 95% CI: 0.91–1.49; p=0.214). These findings highlight the importance of regular viral load monitoring and sustained support for long-term ARV patients to improve adherence. Keywords : HIV/AIDS, Adherence of Appointment, Viral Load, Antiretroviral Therapy, Treatment Duration