Claim Missing Document
Check
Articles

Found 34 Documents
Search

Transformasi Gender Dalam Perspektif Konstruksi Sosial (Studi Pada Transpuan Kota Gorontalo) Mobilingo, Rapli; Hatu, Dewinta Rizky R; Tamu, Yowan
RIGGS: Journal of Artificial Intelligence and Digital Business Vol. 4 No. 4 (2026): November - January
Publisher : Prodi Bisnis Digital Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/riggs.v4i4.4470

Abstract

Penelitian Ini Mengkaji Proses Transformasi Gender Pada Transpuan Di Kota Gorontalo Melalui Perspektif Konstruksi Sosial Berger Dan Luckmann Dan Faktor  Yang Melatarbelakangi Transformasi Ini Serta Mengankat Pengalaman  Dalam Menjalani Kehidupan Sebagai Transpuan Di Tengan Norma Heteronormatif. Latar Belakang Penelitian Berangkat Dari Fenomena Ketidaksesuaian Antara Jenis Kelamin Biologis Dan Identitas Gender Yang Dialami Sebagian Individu, Yang Dipengaruhi Oleh Faktor Keluarga, Lingkungan Sosial, Serta Pengalaman Hidup Sejak Masa Kanak-Kanak. Penelitian Ini Bertujuan Untuk Menganalisis Bagaimana Proses Eksternalisasi, Objektivasi, Dan Internalisasi Membentuk Identitas Gender Transpuan, Serta Mengidentifikasi Faktor Sosial Yang Mendorong Terjadinya Transformasi Tersebut. Metode Yang Digunakan Adalah Penelitian Kualitatif Dengan Pendekatan Deskriptif, Melalui Wawancara Mendalam, Observasi, Dan Dokumentasi Terhadap Tiga Informan Transpuan Yang Telah Bertransformasi Secara Konsisten. Hasil Penelitian Menunjukkan Bahwa Transformasi Gender Berlangsung Secara Bertahap Sejak Usia Anak-Anak Hingga Remaja, Ditandai Oleh Kecenderungan Bermain Dengan Teman Perempuan, Kenyamanan Mengekspresikan Sifat Feminin, Serta Proses Perubahan Penampilan Seperti Memanjangkan Rambut, Menggunakan Make Up, Hingga Mengadopsi Nama Baru. Faktor Ekonomi Keluarga, Minimnya Figur Ayah, Kedekatan Dengan Lingkungan Perempuan, Serta Dukungan Komunitas Turut Mempercepat Internalisasi Identitas Sebagai Transpuan. Kesimpulannya, Transformasi Gender Pada Transpuan Merupakan Proses Sosial Yang Dibentuk Melalui Interaksi Berkelanjutan Dengan Lingkungan, Bukan Sekadar Dorongan Biologis, Dan Berlangsung Melalui Mekanisme Konstruksi Sosial Yang Kompleks
Tradisi Budaya “Baruda” Pada Kaum Milenial (Desa Oluhuta, Kabila, Bone Bolango) Djauhari, Sri Sinta; Tanipu, Funco; Hatu, Dewinta Rizky R.
RIGGS: Journal of Artificial Intelligence and Digital Business Vol. 4 No. 4 (2026): November - January
Publisher : Prodi Bisnis Digital Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/riggs.v4i4.4499

Abstract

Tradisi Buruda merupakan salah satu warisan budaya Gorontalo yang mengandung nilai historis, religius, dan sosial, namun menghadapi ancaman degradasi akibat modernisasi dan melemahnya proses pewarisan antar generasi. Penelitian ini bertujuan memahami kondisi aktual tradisi Buruda di Desa Olohuta, mengidentifikasi faktor-faktor penyebab penurunan keberlanjutan tradisi, serta menganalisis peran pemerintah desa dalam upaya pelestariannya. Penelitian menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif melalui observasi, wawancara terstruktur, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa revitalisasi Buruda sejak 2023 diprakarsai oleh aktor budaya lokal, tetapi partisipasi generasi milenial tetap rendah akibat dominasi musik modern, perubahan orientasi budaya, serta minimnya peran keluarga sebagai agen pewarisan. Selain itu, upaya pemerintah desa melalui musyawarah, sosialisasi, dan pembentukan kelompok belajar belum sepenuhnya efektif karena tidak diimbangi dengan minat remaja dan keterikatan mereka terhadap identitas budaya lokal. Temuan ini menegaskan bahwa keberlanjutan Buruda bergantung pada kolaborasi antara pemerintah, keluarga, tokoh budaya, dan generasi muda melalui strategi pelestarian yang lebih adaptif terhadap perubahan sosial serta perkembangan teknologi.  
Transformasi Gender Berdasarkan Pengalaman Pribadi Transpuan: Suatu Tinjauan Sosiologis Atas Proses Konstruksi Sosial Hatu, Dewinta Rizky R; Tamu, Yowan; Mobilingo, Rapli
RIGGS: Journal of Artificial Intelligence and Digital Business Vol. 4 No. 4 (2026): November - January
Publisher : Prodi Bisnis Digital Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/riggs.v4i4.4565

Abstract

Transformasi gender merupakan fenomena sosial yang semakin mendapat perhatian dalam kajian akademik maupun ruang publik. Bagi kaum transpuan, proses ini tidak hanya menyangkut perubahan fisik, tetapi juga melibatkan dimensi psikologis, sosial, dan politik yang kompleks. Identitas gender mereka sering kali berhadapan dengan norma cisgender yang dominan, sehingga pengalaman transformasi menjadi arena negosiasi antara kenyamanan batin, kejujuran terhadap diri sendiri, serta tuntutan pengakuan sosial.Penelitian ini bertujuan untuk menggali pandangan kaum transpuan mengenai makna transformasi gender berdasarkan pengalaman pribadi mereka. Fokus penelitian diarahkan pada bagaimana identitas gender dibangun, dinegosiasikan, dan dipertahankan dalam konteks sosial yang penuh stigma, serta bagaimana faktor sosial memengaruhi proses tersebut.Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif dengan pendekatan deskriptif. Lokasi penelitian berada di Kota Gorontalo, yang menjadi pusat aktivitas ekonomi sekaligus ruang sosial bagi kaum transpuan. Data diperoleh melalui wawancara mendalam dengan informan, sehingga menghasilkan pemahaman yang kaya mengenai pengalaman dan refleksi mereka terhadap transformasi gender.Hasil penelitian menunjukkan bahwa transformasi gender dimaknai secara multidimensional. Informan pertama menekankan kenyamanan dan hak asasi manusia, informan kedua menyoroti otonomi individu dalam perubahan, sedangkan informan ketiga menekankan ekspresi fisik sebagai representasi identitas. Kesimpulannya, transformasi gender bukan sekadar perubahan estetika tubuh, melainkan proses aktif dan dinamis yang menegaskan autentisitas diri, hak asasi, serta urgensi pengakuan sosial terhadap keberagaman identitas transpuan.
Kontribusi Masyarakat terhadap Efektivitas Program Pemberdayaan Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) di Kabupaten Pohuwato Tamu, David; Hatu, Rauf A.; Hatu , Dewinta Rizky R.
Sosiologi Jurnal Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat Vol. 3 No. 1 (2025): Sosiologi Jurnal Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat
Publisher : Program Studi Sosiologi, Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Gorontalo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37905/sjppm.v3i1.473

Abstract

Penelitian ini bertujuan menganalisis bentuk partisipasi masyarakat dalam implementasi program pemberdayaan BUMD di Kabupaten Pohuwato serta faktor-faktor yang memengaruhi efektivitasnya. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan teknik pengumpulan data melalui wawancara mendalam, observasi, dokumentasi, dan FGD. Informan terdiri dari pengelola BUMD, aparat pemerintah, tokoh masyarakat, dan penerima manfaat program yang dipilih melalui purposive dan snowball sampling. Analisis data dilakukan menggunakan model interaktif Miles, Huberman, dan Saldaña. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat partisipasi masyarakat berbeda pada setiap tahapan program. Pada tahap perencanaan, partisipasi bersifat terbatas karena komunikasi yang tidak merata dan proses perumusan program yang masih top–down. Pada tahap pelaksanaan, partisipasi meningkat seiring adanya insentif ekonomi dan manfaat langsung yang dirasakan masyarakat. Namun, pada tahap evaluasi, partisipasi kembali rendah karena tidak adanya mekanisme evaluasi partisipatif yang jelas. Penelitian juga menemukan bahwa insentif ekonomi, kedekatan sosial dengan pengelola program, dan persepsi keadilan distribusi sumber daya menjadi faktor yang sangat memengaruhi tingkat keterlibatan masyarakat. Temuan penting penelitian ini adalah adanya kesenjangan antara desain program BUMD dan kebutuhan riil masyarakat, serta lemahnya ruang dialog antara warga dan pengelola BUMD. Penelitian menyimpulkan bahwa keberhasilan program pemberdayaan sangat bergantung pada kualitas komunikasi, partisipasi sejak tahap awal, dan keberadaan evaluasi yang inklusif. Kajian ini merekomendasikan penguatan mekanisme partisipatif dan peningkatan kapasitas BUMD dalam membangun kolaborasi berbasis komunitas.