Claim Missing Document
Check
Articles

Found 21 Documents
Search

Peran Resiliensi dalam Mengurangi Stres Mahasiswa Kepaniteraan Klinik: Tinjauan Pustaka Syafira Salsabila; Lisiswanti, Rika; Yuningrum, Hesti; Ramadhian, Muhammad Ricky
Medula Vol 14 No 9 (2024): Medula
Publisher : CV. Jasa Sukses Abadi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53089/medula.v14i9.1417

Abstract

The transition from the preclinical to the clinical phase of medical education, characterized by a significant difference in the learning system and increased demands, often leads to stress among medical students. A very packed schedule, tight deadlines, and the need to adapt to a dynamic clinical environment are primary stressors for medical students during their clerkship. Prolonged high levels of stress can negatively impact mental health, academic performance, and the quality of medical care, increasing the risk of medical malpractice. Resilience, defined as an individual's ability to recover from difficult situations, has proven to be a crucial protective factor in mitigating the effects of stress. Resilience is a dynamic process demonstrated when individuals take adaptive actions in the face of adversity. It is not a genetic trait but a behavior that can be developed by strengthening the factors that support it. These factors can be internal, external, or interpersonal. One way to enhance resilience is through resilience training programs that involve interactive, independent, and reflective workshops. High levels of resilience among medical students are associated with increased subjective well-being, reduced stress levels, and a more positive perception of quality of life and the educational environment. Therefore, by enhancing resilience, medical students can better cope with the pressures of clerkship, maintain mental health, and optimize academic performance in medical care.
Faktor-Faktor Penyebab Terjadinya Syndrome Dyspepsia Pada Remaja Putri Habsari, Maharani Kusuma; Angraini, Dian Isti; Yuningrum, Hesti; Wardani, Dyah Wulan Sumekar Rengganis
Medula Vol 14 No 8 (2024): Medula
Publisher : CV. Jasa Sukses Abadi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53089/medula.v14i8.1266

Abstract

One of the most common non-communicable diseases is dyspepsia syndrome. A collection of symptoms in the upper gastrointestinal tract known as dyspepsia syndrome includes pain or discomfort in the upper abdominal area, a burning sensation in the chest, a feeling of fullness and early satiety, nausea, and vomiting. Indonesia ranks third after the United States as the country with the highest prevalence of dyspepsia syndrome, reaching 40–50%. Various risk factors, such as age, gender, dietary patterns, breakfast habits, consumption of spicy and sour foods, fast food, irritative beverages (soda, coffee, alcohol), exercise habits, smoking, nutritional status, and socioeconomic factors, can lead to the occurrence of dyspepsia syndrome. Adolescence is one of the risk factors that influence the occurrence of dyspepsia syndrome. Adolescents who are at higher risk of developing dyspepsia syndrome are those of the female gender. Teenage girls are more likely to pay attention to body shape and have a desire to emulate their online idols, which can lead them to adopt strict diets and irregular eating habits. Excessive physical activity contributes to the poor eating habits and breakfast habits of teenagers. The consumption of unhealthy foods, such as spicy and sharp-flavoured dishes, will increase stomach acid production. Stress in adolescents can be one of the triggers for dyspepsia syndrome. Prolonged stress can disrupt the digestive system and cause symptoms in healthy individuals. Every teenager with a busy schedule must be able to manage their time and schedule to avoid dyspepsia syndrome by bringing a packed lunch during activities.
Hubungan Protein Urin dengan Berat Jenis Urin pada Pasien Nefropati Diabetik Putri, Najwa Naraniya; Kurniati, Intanri; Yuningrum, Hesti; Susianti
Medula Vol 14 No 12 (2024): Medula
Publisher : CV. Jasa Sukses Abadi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53089/medula.v14i12.1273

Abstract

Diabetic nephropathy is one of the main causes of end-stage renal failure or End Stage Renal Disease (ESRD) in patients with type 2 diabetes. Diabetic nephropathy is defined as the presence of albumin or protein of more than 30 mg/day in urine on two examinations within a period of 3-6 months, as well as a decrease in the glomerular filtration rate. Urinalysis examination using the dipstick method is carried out for certain indications or suspicions of complications of diabetes mellitus, one of which is diabetic nephropathy. Dipstick examination can detect protein, pH, glucose, specific gravity, ketones, urobilinogen, nitrite, blood, bilirubin, and leukocyte esterase. The specific gravity of urine depends on the concentration of glucose, urea, and protein particles in the solution. Therefore, the purpose of this study was to determine the relationship between protein in urine and specific gravity in patients with diabetic nephropathy. Observational analytical research was conducted with a cross-sectional approach. This study was conducted at the Medical Records Installation of Dr. H. Abdul Moeloek Hospital. The population of this study was diabetic nephropathy patients treated at Dr. H. Abdul Moeloek Hospital in January-December 2023. The sampling technique used the total sampling technique so that 49 samples were obtained that met the inclusion and exclusion criteria. The data obtained were analyzed using the Spearman correlation test. The results showed a correlation coefficient (r) of 0.589 and a significance p-value = 0.000. There is a relationship between urine protein and urine specific gravity in diabetic nephropathy patients.
Pelatihan Kader Malaria Pada Populasi Khusus Sebagai Langkah Nyata Menuju Eliminasi Malaria Di Kawasan Wisata Pesisir Kecamatan Rajabasa Kabupaten Lampung Selatan Suharmanto, Suharmanto; Hadibrata, Exsa; Larasati, Ratri M.; Yuningrum, Hesti; Lusina, Septia Eva; Yunianto, Andi Eka; Daulay, Suryani A.; Happy, Terza A; Ulandari, Atri Sri; Febriani, Wiwi; Firdaus, Purna; Ulya, M. Ridho
JPM (Jurnal Pengabdian Masyarakat) Ruwa Jurai Vol. 8 No. 2 (2023): JURNAL PENGABDIAN MASYARAKAT RUWA JURAI
Publisher : FK Unila

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23960/jpmrj.v8i2.3237

Abstract

Prevalensi penyakit malaria masih tinggi di dunia. Penyakit ini merupakan golongan penyakit menular. Penyakit ini memerlukan biaya yang tinggi dalam perawatan dan pengobatannya karena malaria dapat komorbiditas danmortalitas, atau bisa kronik, yang menunjukkan kalau malaria sangat berpengaruh terhadap kesehatan penderita. Pengabdian kepada masyarakat desa binaan ini bertujuan untuk meningkatkan derajat kesehatan masyarakat melaluipelatihan kader malaria pada populasi khusus sebagai langkah nyata menuju eliminasi malaria di Kawasan Wisata Pesisir  Kecamatan Rajabasa Kabupaten Lampung Selatan. Manfaat yang diharapkan dari kegiatan pengabdian iniadalah meningkatnya pengetahuan, pemahaman, sikap, praktik, meningkatkan literasi tentang pengobatan dan pencegahan malaria, menurunkan angka kesakitan dan kematian akibat malaria, mencegah adanya kejadian luarbiasa (KLB) malaria serta meningkatkan derajat kesehatan masyarakat pesisir. Metode yang digunakan dalam kegiatan ini adalah pemberian materi dan diskusi. Khalayak sasaran yang cukup strategis dalam kegiatan ini adalah 20 kader kesehatan. Materi penyuluhan yang diberikan mencakup materi tentang upaya skrining dan pencegahan malaria. Diskusi dilakukan setelah pemberian materi selesai dilaksanakan. Peserta bertanya tentang materi yang belum dipahami tentang upaya skrining dan pencegahan malaria. Penyuluhan terbukti efektif meningkatkan pemahaman tentang upaya skrining dan pencegahan malaria pada kader kesehatan di Desa Kunjir.Kata kunci:  eliminasi malaria, kader, pelatihan  
PENYULUHAN GENTING: GERAKAN ANTI STUNTING DI POSYANDU MELATI, DESA SERDANG, KECAMATAN TANJUNG BINTANG, LAMPUNG SELATAN Yuningrum, Hesti; Suharmanto
JPM (Jurnal Pengabdian Masyarakat) Ruwa Jurai Vol. 9 No. 1 (2024): JURNAL PENGABDIAN MASYARAKAT RUWA JURAI
Publisher : FK Unila

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23960/jpmrj.v9i1.3318

Abstract

Salah satu dampak stunting pada anak yaitu memiliki kecerdasan rendah dan mudah sakit, khususnya pada saat usia dibawah lima tahun dan dua tahun. Salah satu faktor yang menyebabkan tingginya stunting di Indonesia adalah kurangnya pengetahuan ibu tentang pendidikan gizi dan minimnya pengetahuan tentang stunting sehingga menimbulkan dampak yang signifikan di 1000 hari pertama kehidupan anak yaitu ketika anak masih dalam kandungan sampai dengan anak berusia 2 tahun. Tujuan pengabdian masyarakat ini dilakukan untuk meningkatkan pengetahuan ibu balita dan ibu hamil tentang stunting. Mitra dalam pengabdian Masyarakat tersebut yakni Posyandu Melati Desa Serdang, Kecamatan Tanjung Bintang, Lampung Selatan. Metode yang digunakan dalam pengabdian pada masyarakat adalah ceramah dan tanya jawab mengenai materi stunting berupa definisi, penyebab, tanda dan gejala, mitos dan fakta, tatalaksana, serta pencegahan. Kegiatan pengabdian dilaksanakan pada tanggal 9 Desember 2023 dengan tema “Genting: Gerakan Anti Stunting”. Kegiatan ini dihadiri oleh 23 peserta yang terdiri dari ibu balita dan ibu hamil. Hasil pengabdian ini menunjukkan peserta mengalami peningkatan pengetahuan mengenai stunting ditunjukkan hasil uji Wilcoxon sebesar 0,013 artinya ada perbedaan antara pengetahuan ibu sebelum dilakukan penyuluhan dan setelah dilakukan penyuluhan. Penyuluhan “Genting: Gerakan anti Stunting” dapat meningkatkan pengetahuan untuk mencegah peningkatan angka kejadian stunting sejak kehamilan. Kata kunci: Penyuluhan, stunting, posyandu, ibu
PENYULUHAN TANGKIS: TANGGULANGI DIABETES DENGAN KONTROL KONSUMSI HARIAN KELUARGA DAN GAYA HIDUP SEHAT DI POSYANDU KEBON BIBIT Yuningrum, Hesti; Suryani Agustina Daulay; Atri Sri Ulandari; Maureen Angelica br. S
JPM (Jurnal Pengabdian Masyarakat) Ruwa Jurai Vol. 10 No. 1 (2025): JURNAL PENGABDIAN MASYARAKAT RUWA JURAI
Publisher : FK Unila

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23960/jpmrj.v10i1.3512

Abstract

Penyakit diabetes melitus merupakan salah satu masalah kesehatan masyarakat yang prevalensinya terus meningkat di Indonesia. Gaya hidup tidak sehat serta konsumsi makanan tinggi gula dan rendah serat menjadi faktor risiko utama terjadinya diabetes, terutama dalam lingkup keluarga. Kegiatan pengabdian masyarakat ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan dan kesadaran masyarakat mengenai pencegahan diabetes melalui kegiatan Penyuluhan TANGKIS (Tanggulangi Diabetes dengan Kontrol Konsumsi Harian Keluarga dan Gaya Hidup Sehat) yang dilaksanakan di Posyandu Kebon Bibit pada tanggal 16 Oktober 2024. Kegiatan ini diikuti oleh 27 ibu rumah tangga. Metode pelaksanaan meliputi penyuluhan interaktif menggunakan poster penyuluhan, diskusi kelompok, serta pembagian media edukatif berupa leaflet mengenai diabetes melitus, pola makan sehat dan aktivitas fisik rutin. Hasil evaluasi menunjukkan adanya peningkatan pengetahuan peserta sebesar 52,63% setelah mengikuti kegiatan. Program ini diharapkan dapat mendorong perubahan perilaku sehat dalam keluarga serta menjadi model edukasi berkelanjutan di lingkungan Posyandu. Kata kunci: Penyuluhan, diabetes melitus, konsumsi harian, hidup sehat, posyandu.
EDUKASI PEMBERIAN MAKANAN PENDAMPING ASI YANG TEPAT KEPADA IBU BALITA DI POSYANDU SIMBARINGIN DESA SIDOSARI Daulay, Suryani; Yuningrum, Hesti; Angraini, Dian Isti; Islami, Andi Rassya Daffa; Rahmani, Adrina Rizka
JPM (Jurnal Pengabdian Masyarakat) Ruwa Jurai Vol. 10 No. 1 (2025): JURNAL PENGABDIAN MASYARAKAT RUWA JURAI
Publisher : FK Unila

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23960/jpmrj.v10i1.3532

Abstract

Masa 1.000 hari pertama kehidupan, yang dimulai sejak masa kehamilan hingga anak berusia dua tahun, merupakan periode emas bagi tumbuh kembang anak. Pada usia 6 bulan, ASI tidak lagi cukup untuk memenuhi kebutuhan gizi anak sehingga diperlukan pemberian Makanan Pendamping ASI (MP-ASI) yang tepat, baik dari sisi waktu, jumlah, frekuensi, maupun kualitas kandungan gizinya. Pemberian MP-ASI yang tidak sesuai dapat menyebabkan gangguan pertumbuhan seperti stunting, wasting, dan kekurangan energi maupun zat gizi mikro lainnya. Pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan dan kesadaran ibu balita mengenai pentingnya pemberian Makanan Pendamping ASI (MP-ASI) yang tepat, baik dari segi waktu pemberian, jenis makanan, maupun kandungan gizinya. Manfaat yang diharapkan dari kegiatan pengabdian ini adalah meningkatkan pengetahuan, pemahaman, sikap, praktik, meningkatkan literasi tentang pemberian Makanan Pendamping ASI (MP-ASI) yang tepat. Metode yang digunakan dalam kegiatan ini adalah penyampaian materi dan diskusi. Sasaran dalam kegiatan ini adalah 20 ibu balita Posyandu Simbaringin, Desa Sidosari. Materi penyuluhan yang diberikan mencakup materi tentang pentingnya pemberian Makanan Pendamping ASI (MP-ASI) yang tepat, baik dari segi waktu pemberian, jenis makanan, maupun kandungan gizinya. Diskusi dilakukan setelah penyampaian materi selesai dilaksanakan. Penyuluhan yang dilakukan terbukti efektif meningkatkan pemahaman tentang pemberian Makanan Pendamping ASI (MP-ASI) yang tepat
Deteksi dini status gizi melalui pemeriksaan Bioelectrical Impedance Analysis (BIA) dan skrining penyakit tidak menular pada lansia Yuningrum, Hesti; Daulay, Suryani Agustina; Febriani, Wiwi; Ulandari, Atri Sri; Nabilla, Nabilla
SELAPARANG: Jurnal Pengabdian Masyarakat Berkemajuan Vol 9, No 6 (2025): November
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jpmb.v9i6.36063

Abstract

Abstrak Kelompok lansia merupakan populasi yang sangat rentan terhadap berbagai masalah kesehatan, termasuk malnutrisi dan penyakit tidak menular (PTM) seperti hipertensi, diabetes melitus, dan dislipidemia. Deteksi dini terhadap perubahan komposisi tubuh dan faktor risiko PTM penting dilakukan guna mencegah komplikasi dan menurunkan beban penyakit pada kelompok usia ini. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan untuk melakukan deteksi dini status gizi menggunakan alat Bioelectrical Impedance Analysis (BIA) serta melakukan skrining PTM (tekanan darah, gula darah, dan asam urat) pada lansia di posyandu lansia kebon bibit diwilayah kerja Puskesmas Hajimena, Lampung. Metode yang digunakan meliputi pemeriksaan langsung dan edukasi hasil skrining. Sasaran kegiatan adalah 40 orang lansia yang aktif mengikuti posyandu lansia. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini dapat meningkatkan kesadaran lansia akan pentingnya pemantauan status gizi dan kesehatan secara berkala. Hasil skrining PTM berdasarkan tekanan darah menunjukkan sebagian besar lansia dengan kategori pre hipertensi sebanyak 14 orang (35%), kadar gula darah sewaktu (GDS) dalam kategori normal sebanyak 32 orang (80%) dan pemeriksaan asam urat kategori tinggi sebanyak 24 orang (60%). Pemeriksaan menggunakan BIA didapatkan nilai IMT sebagian besar responden kategori obesitas sebanyak 18 orang (45%), lemak tubuh kategori sangat tinggi sebanyak 29 orang (72.5%), lemak visceral kategori normal sebanyak 27 orang (67.5%) dan massa otot kategori rendah sebanyak 28 orang (70%).  Penggunaan metode BIA dan skrining penyakit tidak menular dapat mendeteksi permasalahan gizi serta faktor risiko PTM. Program ini memperkuat tindakan promotif dan preventif dalam pelayanan kesehatan yang dapat dilakukan oleh petugas kesehatan seperti bidan desa. Kata kunci: deteksi dini; status gizi; BIA; Penyakit tidak menular; lansia. Abstract The elderly are a population that is highly vulnerable to various health problems, including malnutrition and non-communicable diseases (NCDs) such as hypertension, diabetes mellitus, and dyslipidemia. Early detection of changes in body composition and NCD risk factors is important in order to prevent complications and reduce the burden of disease in this age group. This community service activity aims to conduct early detection of nutritional status using Bioelectrical Impedance Analysis (BIA) and screening for NCDs (blood pressure, blood sugar, and uric acid) in the elderly at the Kebon Bibit elderly health center in the Hajimena Community Health Center working area. The methods used included direct examination and screening result education. The target of the activity was 40 elderly people who actively participated in the elderly health center. This community service activity can increase the awareness of the elderly about the importance of regular monitoring of nutritional status and health. The results of the PTM screening based on blood pressure showed that most elderly people were in the pre-hypertension category, with 14 people (35%), while 32 people (80%) had normal blood sugar levels (GDS) and 24 people (60%) had high uric acid levels. The BIA examination found that most respondents were obese, with 18 people (45%) in the obese category, 29 people (72.5%) in the very high body fat category, 27 people (67.5%) in the normal visceral fat category, and 28 people (70%) in the low muscle mass category.  The use of the BIA method and non-communicable disease screening can detect nutritional problems and NCD risk factors. This program strengthens promotive and preventive actions in health services that can be carried out by health workers such as village midwives. Keywords: early detection; nutritional status; BIA; non-communicable diseases; elderly.
Pelatihan Pembuatan Masker Wajah Organik Kelompok Ibu PKK di Desa Sukabanjar Pesawaran Ulandari, Atri Sri; Pardilawati, Citra Yuliyanda; Yuningrum, Hesti; Yunianto, Andi Eka; Putri, Zakiah Meyra; Nurlaili, Nurlaili
Mestaka: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol. 4 No. 6 (2025): Desember 2025
Publisher : Pakis Journal Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58184/mestaka.v4i6.802

Abstract

Community Service was carried out to provide education and training on making natural face masks from medicinal plants in Sukabanjar Village, Pesawaran. The purpose of this activity is to provide information to the community regarding how to make natural face masks using natural ingredients available in the area as an effort to maintain healthy facial skin. The method applied is to provide counseling on the benefits of medicinal plants as well as providing booklets and training on making natural face masks from medicinal plants in the local environment. The specific targets to be achieved are to improve the ability to process natural ingredients into traditional cosmetic preparations and motivate the community, especially members of the PKK women’s group in Sukabanjar Village to always maintain healthy facial skin. With this training program, it is expected that the community, particularly members of the PKK women’s group in Sukabanjar Village, can utilize local medicinal plants as ingredients to make natural cosmetics without chemical mixtures that can provide many benefits for daily use.
Hubungan Aktivitas Fisik dengan Status Hidrasi Pada Mahasiswa dan Mahasiswi Fakultas Kedokteran Universitas Lampung Almufit, Sabrina Early; Setiorini, Anggi; Yuningrum, Hesti; Berawi, Khairun Nisa
JIMKI: Jurnal Ilmiah Mahasiswa Kedokteran Indonesia Vol 12 No 2 (2025): JIMKI: Jurnal Ilmiah Mahasiswa Kedokteran Indonesia Vol. 12.2 (2025)
Publisher : BAPIN-ISMKI (Badan Analisis Pengembangan Ilmiah Nasional - Ikatan Senat Mahasiswa Kedokteran Indonesia)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53366/jimki.v12i2.928

Abstract

Pendahuluan: Status hidrasi merupakan faktor penting dalam mendukung fungsi fisiologis dan kognitif, terutama pada mahasiswa kedokteran yang memiliki aktivitas akademik dan fisik yang tinggi. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara aktivitas fisik dengan status hidrasi pada mahasiswa dan mahasiswi Fakultas Kedokteran Universitas Lampung. Metode: Desain penelitian yang digunakan adalah deskriptif analitik dengan pendekatan cross-sectional, melibatkan mahasiswa aktif sebagai responden. Aktivitas fisik diukur menggunakan kuesioner International Physical Activity Questionnaire (IPAQ) versi short, sedangkan status hidrasi diukur menggunakan Bioelectrical Impedance Analysis (BIA). Data dianalisis menggunakan uji chi-square. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan p-value pada mahasiswi sebesar 0,378 sedangkan pada mahasiswa sebesar 0,465. Pembahasan: Temuan ini mengindikasikan bahwa tingkat aktivitas fisik bukan faktor dominan yang memengaruhi status hidrasi, dan kemungkinan besar dipengaruhi oleh pola asupan cairan serta kebiasaan hidrasi individu. Simpulan: Tidak terdapat hubungan signifikan antara aktivitas fisik dengan status hidrasi pada mahasiswa kedokteran. Penelitian ini menegaskan pentingnya edukasi mengenai kebiasaan hidrasi yang proaktif, bukan hanya pada individu dengan aktivitas fisik tinggi, tetapi juga secara umum pada populasi mahasiswa kedokteran.