Claim Missing Document
Check
Articles

Found 21 Documents
Search

PERBEDAAN PEMERIKSAAN TEKANAN DARAH MENGGUNAKAN SPYGMOMANOMETER AIR RAKSA DAN TENSIMETER DIGITAL Yuningrum, Hesti
Prosiding Seminar Nasional Multidisiplin Ilmu Vol 1, No 1 (2019): Prosiding Seminar Nasional Multidisiplin Ilmu
Publisher : Universitas Respati Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (539.128 KB)

Abstract

Penyakit tekanan darah tinggi atau hipertensi telah membunuh 9,4 juta warga dunia setiap tahunnya. Prevalensi hipertensi pada penduduk umur 18 tahun ke atas di Indonesia adalah sebesar 31,7%. DIY mempunyai prevalensi hipertensi lebih tinggi dari angka nasionalyaitu 35,8%. Spygmomanometer air raksa merupakan “gold standart” pada pengukuran tekanan darah dan memerlukan alat bantu stetoskop. Kesulitan ini menyebabkan timbulnya metode yang lebih praktis menggunakantensimeter digital tetapi keakuratan pengukuran tensimeter digital bergantung pada daya tahan baterai. Tujuan Penelitian ini untuk mengetahui perbedaan pemeriksaan tekanan darah menggunakan Spygmomanometer air raksa dan tensimeter digital. Metode penelitian yang digunakan adalah penelitian analitik dengan rancangan cross sectional. Subyek penelitian adalah pendudukberumur 40 tahun keatas yang berkunjung di Posbindu Dusun Kopat, Desa Karangsari, Kecamatan Pengasih, Kabupaten Kulon Progo. Teknik pengambilan sampel menggunakan metode accidental sampling.Jumlah sampel sebanyak100 orang. Analisis data menggunakan uji paired t-test. Alat pengukuran tekanan darah menggunakan tensimeter digital dibandingkan dengan spygmomanometer air raksa diperoleh nilai sensitivitas 88%, spesifisitas 86%, positif prediktif value (PPV) 87%, negatif prediktif value (NPV) 93%. Hasil uji paired t-test didapatkan nilai p-value=0,000 untuk sistol dan p-value=0,043 untuk diastol (p< 0,05). Terdapat perbedaan yang bermakna dari hasil pengukuran tekanan darah menggunakan pygmomanometer air raksa dan tensimeter digitalKata Kunci: tekanan darah, spygmomanometer air raksa, tensimeter digitalHigh blood pressure or hypertension has killed 9.4 million people worldwide every year. The prevalence of hypertension in residents aged 18 years and over in Indonesia is 31.7%. DIY has a higher prevalence of hypertension than the national figure of 35.8%. Mercury Spygmomanometer is a "gold standard" in blood pressure measurements and requires a stethoscope aid. This difficulty causes the emergence of more practical methods using digital tensimeter but the accuracy of digital tensimeter measurements depends on battery. Objectives of this research was to determine the differences in blood pressure checks using a mercury and digital tensimeter sphygmomanometer. This research used analytical research with cross sectional design. The research subjects were 40-year-old residents and above who visited Posbindu in Kopat Hamlet, Karangsari Village, Pengasih District, Kulon Progo Regency. The sampling technique uses the accidental sampling method. The total sample is 100 people. Data analysis using paired t -test. Blood pressure measuring devices using digital tensimeter compared to mercury spygmomanometer obtained a sensitivity value of 88%, 86% specificity, positive predictive value (PPV) 87%, negative predictive value (NPV) 93%. The paired t -test results obtained p-value = 0,000 for systole and p-value = 0.043 for diastole (p <0.05). There are significant differences from the results of blood pressure measurements using a mercury and digital tensimeter sphygmomanometer.Keywords: blood pressure, mercury spygmomanometer, digital tensimeter
Faktor Risiko Penyakit Tidak Menular (PTM) pada Remaja: Studi Kasus pada SMA Negeri dan Swasta di Kota Yogyakarta Yuningrum, Hesti; Trisnowati, Heni; Rosdewi, Naomi Nisari
Jurnal Formil (Forum Ilmiah) Kesmas Respati Vol 6, No 1 (2021)
Publisher : Universitas Respati Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35842/formil.v6i1.343

Abstract

Penyakit Tidak Menular (PTM) pada remaja dipicu oleh pola hidup yang tidak sehat, seperti mengkonsumsi makanan siap saji, kurang konsumsi sayur dan buah, minuman bersoda, kurang aktivitas fisik, pernah merokok, dan mengonsumsi alkohol. Menurut hasil survei kesehatan global berbasis sekolah, diketahui bahwa gaya hidup remaja saat ini berisiko terhadap penyakit tidak menular. Tujuan penelitian untuk mengetahui gambaran faktor risiko PTM pada remaja. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kuantitatif.  Jumlah sampel 60 orang. Penelitian dilakukan pada SMA N 10 YK dan SMK/SMF INDONESIA. Pengumpulan data faktor risiko PTM menggunakan kuesioner secara online. Analisa data dilakukan dengan cara deskriptif.Hasil penelitian yaitu konsumsi sayur dan buah sebagian besar masuk dalam kategori buruk yaitu <5 porsi per hari sebanyak 51 (85%). Konsumsi minuman bersoda sebagian besar masuk kategori baik (tidak pernah) sebanyak 33 (55%). Konsumsi makanan cepat saji sebagian besar masuk kategori buruk  (hampir tiap hari dan setiap hari) sebanyak 49 (81,7%). Aktivitas fisik sebagian besar masuk kategori tidak berisiko yaitu aktifitas fisik minimal 60 menit sehari selama ≥ 3 hari seminggu sebanyak 31 (51,7%) dan sebagian besar tidak merokok sebanyak 46 (76,7%). Faktor risiko PTM yang berisiko pada remaja yaitu kurang konsumsi sayur dan buah serta konsumsi makanan cepat saji.
Consumption of Fried Foods as A Risk Factor for Hypercholesterolemia: Study of Eating Habits in Public Health Students Yuningrum, Hesti; Rahmuniyati, Merita Eka; Sumiratsi, Naomi Nisari Rosdewi
JHE (Journal of Health Education) Vol 5 No 2 (2020)
Publisher : Universitas Negeri Semarang cooperate with Association of Indonesian Public Health Experts (Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (IAKMI))

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/jhe.v5i2.38683

Abstract

Background: Students in the health sector should have more health literacy so that they can show better health practices as well. However, unfortunately, a preliminary study on students in the field of public health showed that almost 50% of students have eating habits and physical activity that was not following health recommendations. The behavior of consuming fried foods in this group of students can be a risk factor for hypercholesterolemia. For this reason, it is necessary to study the habit of consuming fried foods as a risk factor for hypercholesterolemia. Methods: The study was using analytical research with a cross-sectional design. The sampling technique used a purposive sampling method. The minimum sample size is 91 people. Data analysis used univariate, bivariate using chi-square test, and multivariate using logistic regression. Results: The results of the bivariate analysis showed significant results, namely BMI (RP= 2.20; 95% CI= 1.09-4.43; p= 0.03). Consumption of fried foods (RP= 3.33; 95% CI= 1.69-6.57; p= 0.001). Physical activity (RP= 2.23; 95% CI= 1.04-4.79; p= 0.03). The result of the bivariate analysis that was not significant was smoking (RP= 1.28; 95% CI= 0.55-2.98; p= 0.547). The results of multivariate analysis showed that the most influencing risk factor for hypercholesterolemia was fried food consumption (RP= 5.42; 95% CI= 1.18-16.21; p= 0.003). Conclusion: The factors associated with hypercholesterolemia are BMI, consumption of fried foods, and physical activity. The most influencing risk factor for hypercholesterolemia is the consumption of fried foods.
Consumption of Fried Foods as A Risk Factor for Hypercholesterolemia: Study of Eating Habits in Public Health Students Yuningrum, Hesti; Rahmuniyati, Merita Eka; Sumiratsi, Naomi Nisari Rosdewi
Journal of Health Education Vol 5 No 2 (2020)
Publisher : Universitas Negeri Semarang cooperate with Association of Indonesian Public Health Experts (Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (IAKMI))

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/jhe.v5i2.38683

Abstract

Background: Students in the health sector should have more health literacy so that they can show better health practices as well. However, unfortunately, a preliminary study on students in the field of public health showed that almost 50% of students have eating habits and physical activity that was not following health recommendations. The behavior of consuming fried foods in this group of students can be a risk factor for hypercholesterolemia. For this reason, it is necessary to study the habit of consuming fried foods as a risk factor for hypercholesterolemia. Methods: The study was using analytical research with a cross-sectional design. The sampling technique used a purposive sampling method. The minimum sample size is 91 people. Data analysis used univariate, bivariate using chi-square test, and multivariate using logistic regression. Results: The results of the bivariate analysis showed significant results, namely BMI (RP= 2.20; 95% CI= 1.09-4.43; p= 0.03). Consumption of fried foods (RP= 3.33; 95% CI= 1.69-6.57; p= 0.001). Physical activity (RP= 2.23; 95% CI= 1.04-4.79; p= 0.03). The result of the bivariate analysis that was not significant was smoking (RP= 1.28; 95% CI= 0.55-2.98; p= 0.547). The results of multivariate analysis showed that the most influencing risk factor for hypercholesterolemia was fried food consumption (RP= 5.42; 95% CI= 1.18-16.21; p= 0.003). Conclusion: The factors associated with hypercholesterolemia are BMI, consumption of fried foods, and physical activity. The most influencing risk factor for hypercholesterolemia is the consumption of fried foods.
Shift Kerja dan Masa Kerja Terhadap Kelelahan Kerja pada Pengemudi Angkutan Batu Bara Maulani, H Akhmad; Sukismanto, Suksmanto; Yuningrum, Hesti; Nugroho, Ariyanto
Jurnal Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Masyarakat Indonesia Vol 1 No 1 (2020): JPPKMI: Juni 2020
Publisher : Asosiasi Institusi Pendidikan Tinggi Kesehatan Masyarakat Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/jppkmi.v1i1.41423

Abstract

Kelelahan kerja yang tinggi merupakan faktor resiko terjadinya kecelakaan kerja. Faktor kelelahan kerja karena jam kerja dan masa kerja yang lama. Sehingga tujuan penelitian untuk mengetahui hubungan antara shift kerja dan masa kerja dengan kelelahan kerja pada pengemudi angkutan batu bara. Metode Penelitian kuantitatif dengan pendekatan cross sectional. Sampel diambil dengan simple random sampling pada pengemudi angkutan batu bara di PT. Bukit Makmur Kalimantan Selatan yang berjumlah 71 orang dan dianalisis dengan menggunakan uji Mann- Whitney tingkat kepercayaan 95%. Hasil menunjukkan responden yang bekerja pada shift malam dan mengalami kelelahan sedang berjumlah 18 orang (25.4%). Berdasarkan analisis bivariat diperoleh nilai p = 0.022 (p<0.05). Responden yang mempunyai masa kerja lama dan mengalami kelelahan sedang berjumlah 22 orang (31.0%). Berdasarkan analisis bivariat diperoleh nilai p = 0.000 (p<0.05). Kesimpulan bahwa shift kerja dan masa kerja merupakan faktor yang berhubungan dengan kelelahan kerja pada pengemudi angkutan batu bara di PT. Bukit Makmur Kalimantan Selatan.
Hubungan Aktivitas Fisik dengan Kejadian Obesitas pada Remaja di SMA Swasta Cerdas Bangsa, Kecamatan Deli Tua, Kabupaten Deli Serdang, Medan Sembiring, Bela Aprilia; Rosdewi, Naomi Nisari; Yuningrum, Hesti
Jurnal Formil (Forum Ilmiah) Kesmas Respati Vol 7, No 1 (2022)
Publisher : Universitas Respati Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35842/formil.v7i1.421

Abstract

Salah satu PTM yang menjadi masalah kesehatan di berbagai negara yaitu obesitas yang merupakan suatu kelainan ataupun penyakit yang ditandai dengan penumpukan jaringan lemak yang berlebihan di dalam badan.  Obesitas salah satu permasalahan yang sangat dikhawatirkan oleh remaja. Salah satu aspek yang bisa mempengaruhi terjadinya obesitas adalah aktifitas fisik karena saat ini telah terjadi perubahan gaya hidup dari yang aktif bergerak menjadi gaya hidup yang kurang bergerak. Dahulu permainan yang biasanya dimainkan merupakan permainan fisik yang mewajibkan berlari, melompat, ataupun melakukan gerakan yang lain tetapi saat ini sudah diganti dengan permainan yang kurang aktifitas fisik seperti permainan komputer atau elektronik,  bermain internet ataupun menonton televisi  tanpa harus bergerak. Tujuan penelitian untuk mengetahui hubungan aktivitas fisik dengan obesitas pada remaja di SMA Swasta Cerdas Bangsa Kecamatan Deli Tua Kabupaten Deli Serdang Medan. Jenis penelitian yaitu cross sectional dengan teknik stratified random sampling. Jumlah sampel 115 orang, terdiri dari kelas, 10, 11 & 12. Instrumen penelitian untuk mengukur aktivitas fisik menggunakan Global Physical Activity Questionnaire  (GPAQ) dan untuk mengetahui obesitas menggunakan Indeks Masa Tubuh (IMT). Analisis data yaitu univariat dan bivariat mengunakan uji fisher exact. Hasil univariat menunjukkan aktivitas fisik rendah sebanyak 47 orang (40,9%) dan obesitas 31 orang (27,0%). Hasil bivariat menunjukkan bahwa hubungan aktivitas fisik dengan obesitas pada remaja diperoleh nilai p-value 0,021. Kesimpulannya ada hubungan aktivitas fisik dengan obesitas pada remaja di SMA Swasta Cerdas Bangsa Kecamatan Deli Tua Kabupaten Deli Serdang Medan.
Family smoking behavior and stunting among children in rural areas of Sleman, Yogyakarta: A case-control study Panggabean, Eva Rortiana; Deta, Elisabeth; Yuningrum, Hesti; Trisnowati, Heni
Public Health and Preventive Medicine Archive Vol. 11 No. 2 (2023)
Publisher : Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53638/phpma.2023.v11.i2.p10

Abstract

Background and purpose: Stunting is one of the public health concerns in Indonesia. The prevalence of stunting among children under five in Kalasan Sub-district, Sleman District, Yogyakarta was high at 17.01%. One of the significant predictors of stunting is parental/family smoking behavior. This study aims to portray the smoking behavior of family members and its association with stunting. Methods: We used a quantitative method with a case-control design. The study was conducted in Tamanmartani Village, one area with a high incidence of stunting. The cases were 45 children under five years with stunting based on the public health center’s data and 45 children with normal nutritional status were selected as control. The data was collected by structured interviews using an online questionnaire which included children’s and mother’s characteristics, and smoking behavior among family members. Data was then analyzed descriptively and a Chi-square test was performed to assess the association between variables and stunting. Results: Children who experience stunting are mostly at the age of 24-35 months (35.6%), female (53.3%) and with family income below minimum wages (62.2%). The smoking behavior among the family was slightly higher among cases (66.7%) than controls (64.4%). Most smoking family members in both groups were smoking outside the house. There was no statistically significant association between all variables with stunting, however, we found a potential association between the father’s smoking, type of cigarette, and higher spending on cigarettes with stunting. Conclusion: Smoking among family members was high in both groups, and smoking among fathers is a potential predictor of stunting. Health promotion strategies to reduce smoking habits, smoke-free home innovations, and cessation services should be conducted to reduce and prevent stunting and to improve health.
Predisposing, Enabling, and Reinforcing Factors of E-cigarette Use among Junior High School Students in Yogyakarta, Indonesia Heni Trisnowati; Yuningrum, Hesti
Jurnal Promkes: The Indonesian Journal of Health Promotion and Health Education Vol. 12 No. SI2 (2024): Jurnal Promkes: The Indonesian Journal of Health Promotion and Health Educat
Publisher : Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20473/jpk.V12.ISI2.2024.15-24

Abstract

Background: The number of e-cigarette users has increased tenfold over the past ten years. The prevalence of e-cigarette use continues to increase, especially among students. Objective: This study aims to identify factors that encourage the use of e-cigarettes among junior high school students in Yogyakarta City. Methods: This study used a cross-sectional survey approach with a sample size of 582 taken using a proportional stratified random sampling technique. Data were collected through a structured questionnaire, including respondent characteristics (gender, and age) as well as predisposing, enabling, and reinforcing factors for e-cigarette use. Data were analyzed using a chi-square test for bivariate analysis and a logistic regression test for multivariate analysis. Results: The results showed that knowledge (RP=4.06, CI 95%=1.60-10.3, p<0.05), affordability (RP=2.46, CI 95%=1.37-4.39, p<0.05), family members smoking (RP=3.14, CI 95%=1.62-6.09, p<0.05), peers smoking (RP=8.14, CI 95%=3.92-16.9, p<0.05) were associated with the use of e-cigarettes in students. Meanwhile, the availability of cigarettes is not significant with the use of e-cigarettes in students (RP=1.98, CI 95%=0.96-4.09, p>0.05). The results of multivariate analysis showed that the most influential factor in the use of e-cigarettes was peer smoking behavior. Conclusion: There is a relationship between knowledge, affordability, smoking family members, and smoking peers with the use of e-cigarettes in students. Health promotion programs on the dangers of e-cigarette use and how to avoid them should be implemented, as well as restrictions on access to e-cigarettes through the implementation of smoke-free areas in schools.
EVALUASI PROGRAM LELE CENDOL DAN KAMPUNG SAYUR DI KOTA YOGYAKARTA Yuningrum, Hesti; Sahayati, Sri
Jurnal Jarlit Vol. 16 No. 1 (2020): PENINGKATAN KUALITAS SUMBER DAYA MANUSIA YANG MENDORONG PEMERATAAN PEMBANGUNAN
Publisher : Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Kota Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.70154/jid.v16i1.23

Abstract

Latar Belakang: Dalam upaya pengentasan kemiskinan Pemerintah Kota Yogyakarta melakukan berbagai macam program. Salah satu contoh program yang bisa diterapkan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat adalah budidaya lele cendol dan kampung sayur. Budidaya lele cendol adalah budidaya lele menggunakan buis beton sebagai media kolam. Kampung sayur adalah menanam aneka sayur dengan memanfaatkan lorong-lorong gang di permukiman atau di lorong- lorong jalan. Tujuan Penelitian: untuk mengevaluasi program serta kendala dalam pelaksanaan program lele cendol dan kampung sayur di Kota Yogyakarta tahun 2019. Metode Penelitian: Penelitian ini menggunakan metode penelitian tindakan (action research). Penelitian dilakukan dengan cara wawancara menggunakan kuesioner dan kendala untuk melihat masalah pokok (diagnosing) kemudian menyusun rencana tindakan yang tepat (action planning) dilanjutkan melakukan tindakan (action taking) serta evaluasi. Subyek penelitian adalah 32 lurah dan 275 orang budidaya lele cendol dan 28 orang budidaya kampung sayur di setiap kelurahan. Analisa data dilakukan dengan cara deskriptif. Hasil Penelitian: Kendala dalam program lele cendol adalah pemasaran, pakan mahal, bibit kurang bagus, dalam perawatan banyak kematian, pengetahuan kurang, penyakit lele, musim atau cuaca, pengolahan limbah dan bau, masalah air, SDM dan pembagian waktu. Kendala dalam program kampung sayur yaitu SDM, hama tanaman, biaya air, pembagian waktu, kurang minat dan motivasi. Kendala untuk program lele cendol dan kampung sayur adalah masih belum ada pendampingan dan bimbingan teknis secara rutin. Menyusun rencana tindakan yang tepat yaitu membuat dua agenda pelatihan. Melakukan tindakan yaitu penyuluhan atau sosialisasi tentang manajemen pakan dan pengolahan lele disertai dengan demonstrasi pembuatan pakan lele dan abon lele. Evaluasi program dapat dilihat dari aspek input : sudah pernah mengikuti pelatihan lele cendol (94,2%) dan pelatihan kampung sayur (92,9%). Ketersediaan sarana buis, benih lele, pakan, bibit tanaman dan pupuk organik sudah mencukupi (100%). Anggaran operasional belum tersedia untuk program lele cendol (94,9%) dan kampung sayur (57,1%). Aspek proses : Program lele cendol (60,7%) tidak membuat rencana program kerja sedangkan pada program kampung sayur yang membuat program kerja (78,6%). Pelaksanaan terdiri dari pembesaran bibit yaitu lele ukuran benih lele 6-7 cm (79,3%) dan pemberian pakan lele yang dilakukan 2 kali sehari (91,3%). Program kampung sayur menanam dengan berbagai macam bibit 5-10 bibit tanaman (60,7%) dan panen 1-2 kali sebulan (78,6%). Supervisi dan bimbingan teknis : belum dilakukan untuk program lele cendol (90,2%) dan program kampung sayur (85,7%). Aspek output : Jumlah lele yang dipanen dalam sekali panen 0-499 ekor (94,5%), waktu pembibitan sampai panen membutuhkan waktu 2-3 bulan (80,7%), jumlah lele dalam 1 kg terdapat 8-10 ekor (81,1%). Bibit tanaman yang hidup 0-199 bibit (71,4%), jumlah sayur yang dipanen dalam satu kali panen 0-10 kilo (85,7%), pemanfaatan hasil panen sayur dikonsumsi dan dijual (60,7%). Aspek outcome : jumlah lele yang dipanen dan layak jual 0-62 kilo (84%), hasil panen lele Rp. 20.000-Rp1.240.000 (65,4%). Sayur yang dipanen dan layak jual 11-20 kilo (46,4%) dan hasil panen sayur sebagian besar tidak dijual (35,7%). Kesimpulan : Perlu tindak lanjut dan perbaikan dari hasil evaluasi pelaksanaan program lele cendol dan kampung sayur di Kota Yogyakarta tahun 2019 Saran dan rekomendasi : Jangka pendek: mengumpulkan pembudidaya lele yang sukses dan dimintai kesediaannya membantu pembudidaya lele cendol yang masih belum berhasil. Jangka menengah: membuat kordinasi pembuatan pakan mandiri. Jangka panjang: membuat koperasi bagi pembudidaya lele cendol Kata Kunci: evaluasi program, lele cendol, kampung sayur
Case Report: Comprehensive Management Of Patients With Lung Cancer Suspected Of Brain Metastases Accompanied By Pneumonia Mustofa, Syazili; Nursidiq, Iqbal Muhammad Rafi; Yuningrum, Hesti; Busman, Hendri; NA, Ahmad Mufid
Jurnal Ilmu Kedokteran dan Kesehatan Vol 11, No 11 (2024): Volume 11 Nomor 11
Publisher : Prodi Kedokteran Fakultas Kedokteran Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jikk.v11i11.16235

Abstract

Worldwide, the most frequently diagnosed cancer is lung cancer. The chief complaints of the disease are dyspnea and chest discomfort. Lung cancer causes an immunodeficiency state in the body, which can lead to infection. Lung cancer is also known to complicate cerebrovascular disease, causing an infarction or stroke. This case report aims to elucidate the etiology of lung cancer-associated infection and cerebrovascular disease and effectively detect and heal the disease. A 58-year-old man came with his family to the emergency department of Abdoel Moeloek Hospital, Lampung Province with complaints of shortness of breath that worsened, accompanied by complaints of cough and pain in the right chest. The doctor conducted a detailed examination and then the doctor diagnosed the patient with community-acquired pneumonia because of immunodeficiency from lung squamous cell carcinoma, hemiparesis dextra, dysarthria due to cerebrovascular disease, and malnutrition. The doctor administered oxygen and a nebulizer to the patient. Subsequently, he was hospitalized for symptomatic therapy and antibiotic treatment.