Claim Missing Document
Check
Articles

Model Pendidikan Kewarganegaraan di Perguruan Tinggi Berbasis Folklore dalam Membina Civic Culture Calon Guru Sekolah Dasar S. Nailul Muna Aljamaliah; Agil Nanggala; Tita Mulyati; Dinie Anggraeni Dewi; Ayu Rahmawati; Alya Rahmadiyani; Yona Wahyuningsih
Pedagogia: Jurnal Ilmiah Pendidikan Vol. 16 No. 2 (2024)
Publisher : FKIP UNIVERSITAS PAKUAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55215/pedagogia.v16i2.6

Abstract

Riset ini berupaya merampungkan model PKn di perguruan tinggi berbasis folklore untuk membina civic culture calon guru sekolah dasar. Riset ini dirampungkan berbasis tradisi kualitatif dengan metode literature review dengan peneliti selaku instrumen kunci atau hidup untuk menelaah literatur yang berkaitan dengan substansi dan konsep penelitian, analisis data yaitu reduksi, display dan juga verifikasi. Hasil penelitian yaitu, pertama, model PKn di perguruan tinggi berbasis folklore untuk membina civic culture calon guru sekolah dasar, selaras dengan teori atau tradisi kewarganegaraan komunitarian, pendekatan kewarganegaraan Pancasila, lalu kapabel direalisasikan selaku civic education yang sifatnya formal, kurikuler dan teoretis juga selaku citizenship education yang sifatnya non-formal, sosio-kultural dan praktis untuk penguatan civic competence, kedua, model PKn di perguruan tinggi berbasis folklore untuk membina civic culture calon guru sekolah dasar, relevan dengan kurikulum PKn yang harus adaptif juga mengakomodir local wisdom, dan berprinsip student centered learning, maka bersifat modern, demokratis juga objektif, termasuk memuat community service dalam kerangka citizenship education selaku wahana peningkatan civic engagement mahasiswa pada pelestarian folklore, local wisdom dan kebudayaan nusantara secara sukarela dan berkualitas. Kesimpulan penelitian yaitu model PKn di perguruan tinggi berbasis folklore untuk membina civic culture bersifat integratif dan holistik, selaku titik temu atas adaptasi PKn pada modernisasi juga tanggung jawab PKn pada pelestarian kebudayaan nusantara dan habituasi civic culture pada calon guru sekolah dasar.
Deliberative Learning in Elementary Civic Education: Strengthen Students’ Communication Skills from a Vocational Perspective Rahmadiyani, Alya; Dewi, Dinie Anggraeni; Nanggala, Agil; Avilla, Roel V.
Jurnal Paedagogy Vol. 13 No. 1 (2026): January
Publisher : Universitas Pendidikan Mandalika

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33394/jp.v13i1.19027

Abstract

This study aims to formulate a deliberation-based Civic Education learning model from a vocational civic perspective to strengthen elementary school students’ communication skills. The study employed a qualitative approach using a case study method. Data were collected through in-depth interviews with Civic Education experts and classroom teachers at SDN 268 Panyileukan, classroom observations of the deliberative learning process, and document analysis. Data analysis was conducted through the stages of data reduction, data display, and conclusion drawing and verification. The findings indicate that the integration of deliberative practices with vocational civic education enhances students’ assertive and persuasive communication skills, active listening abilities, and collaborative competencies. In addition, the model fosters key character values, including tolerance, empathy, social discipline, and cooperation. This deliberation-based learning model is expected to serve as both a practical and theoretical reference for teachers, curriculum developers, and policymakers in implementing contextual and participatory Civic Education that emphasizes character development and 21st-century skills.
Pengembangan Kopi Spesialti Sebagai Strategi Pemberdayaan Petani dan Penguatan Ekonomi Lokal Komariah, Komariah; Dewi, Dinie Anggraeni; Nanggala, Agil; Rostika, Deti; Nurjaman, Asep Rudi; Hawa, Siti
Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol. 6 No. 1 (2026): Volume 6 Nomor 1 Tahun 2026
Publisher : Actual Insight

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56393/jpkm.v6i1.3856

Abstract

Indonesia merupakan produsen kopi terbesar keempat di dunia, dengan Desa Margamukti, Kabupaten Bandung Barat, sebagai salah satu sentra kopi Arabika Java Preanger. Meskipun memiliki potensi agroekologi yang mendukung, sebagian besar petani masih menjual kopi dalam bentuk bahan mentah dengan harga rendah akibat keterbatasan pemahaman standar kopi spesialti, praktik pascapanen, serta akses pasar. Program Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) ini bertujuan mengembangkan kopi spesialti sebagai strategi pemberdayaan petani dan penguatan ekonomi lokal melalui pendekatan pelatihan dan pendampingan partisipatif. Metode yang digunakan meliputi survei awal, pelatihan teknis pengolahan pascapanen kopi spesialti, pendampingan branding dan pemasaran digital, serta evaluasi berbasis pre-test dan post-test. Hasil kegiatan menunjukkan peningkatan pemahaman petani mengenai standar kopi spesialti sebesar 32%, perbaikan praktik panen selektif dan pascapanen, serta potensi peningkatan harga jual kopi hingga 20–30% dibandingkan harga sebelum intervensi. Selain itu, terbentuknya identitas produk dan kesiapan pemasaran digital menunjukkan penguatan kapasitas ekonomi dan sosial petani. Kebaruan program ini terletak pada integrasi peningkatan kualitas kopi spesialti dengan pendekatan pemberdayaan partisipatif yang memperkuat civic empowerment petani sebagai aktor utama dalam rantai nilai kopi lokal, sehingga berkontribusi terhadap keberlanjutan ekonomi masyarakat desa.
Model Civic Action Pemuda untuk Memberdayakan Disabilitas Berbasis Citienship Education Saepudin, Epin; Nanggala, Agil
Jurnal Ilmiah Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan Vol 10, No 2 (2025): Juli 2025
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17977/um019v10i2p105-114

Abstract

The purpose of this study is to analyze the role of youth civic action in overcoming the charity model of disability and the medical or individual model of disability, as well as the model of youth civic action in empowering persons with disabilities. This study used a qualitative descriptive method with observation, interviews, and document study techniques. The results show that youth civic action plays an important role in overcoming the stigma of the charity model of disability and the medical or individual model of disability. Youth civic action is guided by the principles of the social model of disability, which views persons with disabilities as capable of empowerment when supported by inclusive factors. Youth civic action models to empower people with disabilities can be implemented in three ways, by joining formal organizations, volunteering with community groups that support people with disabilities, and participating in collective incidental activities.
PEMENUHAN HAK POLITIK DAN PEMBERDAYAAN DISABILITAS MELALUI PENDIDIKAN KEWARGANEGARAAN BERBASIS SERVICE LEARNING UNTUK CIVIC EQUALITY Agil Nanggala
Bhineka Tunggal Ika Kajian Teori dan Praktik Pendidikan PKN
Publisher : Universitas Sriwijaya in Collaboration with AP3Kni (Asosiasi Profesi Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan Indonesia/Indonesia Association Profession of Pancasila and Civic Education)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36706/jbti.v12i1.190

Abstract

Penelitian ini berupaya untuk merampungkan paradigma baru selaku missing link pada upaya pemenuhan hak politik dan pemberdayaan disabilitas melalui PKn berbasis service learning untuk civic equality, karena bersifat integratif. Penelitian ini berbasis literature review, dengan hasil penelitian, yaitu, PKn bersifat holistik untuk mengatasi stereotip ableisme, dan mewujudkan pemenuhan hak politik dan pemberdayaan disabilitas, untuk civic equality mengingat memiliki teori relevan, yaitu citizenship transformative dan civic empowerment untuk mengatasi individual atau medical model of disability. PKn selaku civic education adalah wahana strategis untuk memberi informasi holistik mengenai pemenuhan hak politik dan pemberdayaan disabilitas, lalu PKn selaku citizenship education adalah wahana strategis pemenuhan hak politik dan pemberdayaan disabilitas, yang bersifat sosio-kultural, praktik citizenship education, memuat service learning, agar holistik dan terpadu, lalu mengakomodir siasat kolaborasi pentahelix agar melibatkan lintas sektor, selaku penerapan spirit persatuan nasional, agar representatif dan integratif.   This research seeks to complete a new paradigm as a missing link in efforts to fulfill political rights and empower people with disabilities through service learning-based Civics for civic equality, because it is integrative. This research is based on a literature review, with research results, namely, Civics is holistic to overcome stereotypes of ableism and realizes the fulfillment of political rights and empowerment of people with disabilities, for civic equality considering that it has relevant theories, namely transformative citizenship and civic empowerment to overcome individual or medical models of disability. Civics as civic education is a strategic vehicle for providing holistic information regarding the fulfillment of political rights and empowerment of people with disabilities, then Civics as citizenship education is a strategic vehicle for fulfilling political rights and empowerment of people with disabilities, which is socio-cultural in nature, practices citizenship education, contains service learning, so that it is holistic and integrated, then accommodating pentahelix collaboration strategies to involve cross-sectors, as an implementation of the spirit of national unity, so that it is representative and integrative.
PENGEMBANGAN MODEL RESOLUSI KONFLIK BERBASIS KOLABORASI PENTAHELIX UNTUK MEWUJUDKAN INTEGRASI SOSIAL SECARA INKLUSIF DAN BERKELANJUTAN Agil Nanggala; Bunyamin Maftuh; Elly Malihah; Dodoh Siti Saadah
Bhineka Tunggal Ika Kajian Teori dan Praktik Pendidikan PKN
Publisher : Universitas Sriwijaya in Collaboration with AP3Kni (Asosiasi Profesi Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan Indonesia/Indonesia Association Profession of Pancasila and Civic Education)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36706/jbti.v12i2.232

Abstract

Penelitian ini dirampungkan dengan mempertimbangkan potensi konflik yang semakin dinamis dan kompleks, akibat dampak negatif globalisasi dan media sosial, serta kesenjangan dalam pendidikan. Penelitian ini didasarkan pada pendekatan kualitatif, dengan metode studi pustaka. Analisis data mengarah pada reduksi data, penyajian data, dan verifikasi. Hasil penelitian: Pertama, secara konseptual berdasarkan teori kewarganegaraan komunitarian, menegaskan pentingnya kebersamaan dengan melibatkan setiap sektor yang mewakili sifat kerja sama sehingga dapat mewujudkan integrasi sosial, kesejahteraan, keadilan dan penegakan budaya politik Pancasila. Kedua, penerapan model penyelesaian konflik berbasis kolaborasi Pentahelix bersifat preventif, persuasif, inklusif, dan humanis, kemudian secara eksplisit, implementasi model tersebut, adalah: 1) integrasi program kerja, 2) implementasi kolaborasi, 3) evaluasi dan tindak lanjut, serta 4) sosialisasi masif. Kesimpulan dari penelitian tersebut, yaitu pengembangan model penyelesaian konflik berbasis kolaborasi pentahelix untuk mewujudkan integrasi sosial yang inklusif dan berkelanjutan merupakan upaya ilmiah, kolaboratif, dan inklusif untuk meminimalisir dan mengatasi berbagai konflik sosial, khususnya horizontal di masyarakat, sebagai modal sosial dalam mewujudkan visi masyarakat sipil Indonesia.   This research was completed considering the potential for increasingly dynamic and complex conflicts, due to the negative impact of globalization and social media, as well as gaps in education. This research is based on a qualitative approach, with a literature study method. Data analysis led to reduction, display, and verification. Research results: First, conceptually based on the theory of communitarian citizenship, emphasizing the importance of togetherness by involving each sector that represents the nature of cooperation so that it can realize social integration, welfare, justice and the enforcement of the political culture of Pancasila. Second, the application of Pentahelix's collaboration-based conflict resolution model is preventive, persuasive, inclusive, and humane, then explicitly, the implementation of the model, is: 1) the integration of work programs, 2) the implementation of collaboration, 3) evaluation and follow-up, as well as 4) massive socialization. The conclusion of the study, namely the development of a conflict resolution model based on pentahelix collaboration to realize inclusive and sustainable social integration is a scientific, collaborative, and inclusive effort to minimize and overcome various social conflicts, especially horizontal in society, as social capital in realizing the vision of Indonesian civil society.
Model Pembudayaan Pancasila Berbasis Kolaborasi Pentahelix untuk Membangun Generasi Muda Indonesia yang Pancasilais Agil Nanggala
Pancasila: Jurnal Keindonesiaan 2023: VOLUME 3 ISSUE 2, OCTOBER 2023
Publisher : Badan Pembinaan Ideologi Pancasila

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52738/pjk.v3i2.166

Abstract

Pembudayaan Pancasila pada generasi muda Indonesia, adalah orientasi, strategi, juga upaya pembentukan karakter warga negara yang Pancasilais, terlebih Pancasila selaku ideologi, landasan filsafat dan dasar hukum, maka perlu dirampungkan untuk menjadi model ilmiah, supaya inklusif, kolaboratif juga berkelanjutan, demi puncak peradaban Indonesia. Penelitian ini dilakukan berbasis pendekatan kualitatif, dengan metode grounded theory, analisis data, yaitu, reduksi, display, dan verifikasi, hasil penelitian yaitu, pertama, model pembudayaan Pancasila berbasis kolaborasi pentahelix pada generasi muda, bersifat substantif, representatif juga holistik, karena melibatkan seluruh pihak, yaitu, pemerintah, akademisi, komunitas atau masyarakat, swasta, juga media, maka bermakna juga berdampak nyata bagi pembangunan karakter Pancasilais generasi muda Indonesia, kedua, model pembudayaan Pancasila berbasis pentahelix, bersifat inklusif, kontekstual juga berkelanjutan, karena tidak hanya dilakukan secara kulikuler, tetapi juga sosio-kultural, tahapan realisasinya adalah: 1) perampungan konstruksi berpikir ilmiah, 2) finalisasi kolaborasi program, 3) implementasi program, 4) peneguhan komitmen dan konsistensi, 5) evaluasi dan tindak lanjut, juga 6) sosialisasi masif. Kesimpulan riset, yaitu, model pembudayaan pancasila berbasis kolaborasi pentahelix untuk membangun generasi muda Indonesia yang Pancasilais, begitu relevan direalisasikan pada era modern, karena praktik yang bersifat inovatif inklusif juga berkelanjutan, untuk memantik atensi generasi muda dalam membudayakan Pancasila, selaku representasi warga negara religius, humanis, juga berdaya, atau generator citizens.
Civic Journalism as a Fortress of Democracy: An Analysis of the Dangers of Simulacra, Agitation, and Fake News Rahma Lathifa Utami; Dinie Anggraeni Dewi; Agil Nanggala
Journal of Future Education Vol 1 No 2 (2024): Journal of Future Education
Publisher : CV. Ksatria Siliwangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.67025/journaloffutureeducation.v1i2.39

Abstract

The development of digital media has transformed patterns of public communication and journalistic practices, while simultaneously posing serious challenges to democracy, such as simulacra, media agitation, and the spread of fake news. These phenomena have the potential to create pseudo-realities, manipulate public opinion, and weaken public rationality and critical awareness. This study aims to analyze the role of civic journalism as a democratic safeguard in addressing the threats of simulacra, agitation, and hoaxes in the digital era. The research employs a descriptive method with a literature review approach, examining relevant books, journal articles, and previous research findings. The results indicate that civic journalism plays a crucial role in strengthening democracy by encouraging active citizen participation, presenting fact-based information, and expanding spaces for public discourse. However, the practice of civic journalism continues to face challenges, including low media literacy, limited information verification, and the dominance of social media algorithms. Therefore, strengthening digital literacy and journalistic ethics is essential.