Claim Missing Document
Check
Articles

Found 34 Documents
Search

Pengaruh Pijat Perineum Pada Primigravida Trimester Ketiga Terhadap Kejadian Ruptur Perineum Pada Ibu Bersalin Di Bpm Gunung Tabur Berau Tanjilatin, Tanjilatin; Ritha, Aniah; Purwanti, Heni; Wahyuni, Ridha
Cerdika: Jurnal Ilmiah Indonesia Vol. 3 No. 3 (2023): Cerdika : Jurnal Ilmiah Indonesia
Publisher : Publikasi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59141/cerdika.v3i3.549

Abstract

Latar Belakang: Proses persalinan seringkali mengakibatkan ruptur perineum. Ruptur perineum merupakan perlukaan perineum yang terjadi pada saat kelahiran bayi baik menggunakan alat maupun tidak menggunakan alat. Di Indeonesia ruptur perineum terjadi pada 75% ibu melahirkan pervaginam. Terdapat upaya-upaya untuk mencegah ruptur perineum salah satunya dengan pijat perineum. mekanisme pijat perineum dapat mengurangi derajat ruptur perineum yaitu dengan memberikan pijatan, maka aliran darah akan lancar dan nutrisi otot sekitar perineum semakin banyak terpenuhi sehingga menjaga kekenyalan dan elastisitas otot. Tujuan: untuk mengetahui pengaruh pijat perineum pada primigravida trimester ketiga terhadap kejadian ruptur perineum pada ibu bersalin. Metode: Rancangan penelitian adalah pre-eksperiment berbentuk desain pretest and posttest with control group. Populasi seluruh ibu hamil primigravida trimester III di BPM Gunung Tabur. Metode pengambilan sampel dengan nonprobability sampling menggunakan teknik purposive sampling. Besar sampel yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi sebanyak 34 orang yang terbagi menjadi kelompok intervensi dam kontrol. Hasil: pada kelompok intervensi, sesudah diberikan pijat perineum sebagian besar tidak mengalami ruptur perineum sebanyak 12 orang (70,6%) sedangkan sisanya mengalami ruptur perineum sebanyak 5 orang (29,4%). Pada kelompok kontrol sebagian besar mengalami ruptur perineum sebanyak 13 orang (76,5%) sedangkan sisanya tidak mengalami ruptur perineum sebanyak 4 orang (23,5%). Diperoleh uji statistik Mann-Whitney didapatkan nilai-p 0,007 (p<0,05) yang berarti pijat perineum pada primigravida trimester ketiga berpengaruh terhadap tidak adanya kejadian ruptur perineum pada ibu bersalin. Kesimpulan: Pemberian pijat perineum pada ibu primigravida trimester ketiga berpengaruh terhadap tidak adanya kejadian ruptur perineum pada ibu bersalin
Pengaruh Edukasi Dengan Media Audio Visual Terhadap Perilaku Wus Dalam Melakukan Iva Test Di Wilayah Puskesmas Pembantu Pegat Batumbuk Muharni, Uci; Purwanti, Heni
Cerdika: Jurnal Ilmiah Indonesia Vol. 3 No. 4 (2023): Cerdika : Jurnal Ilmiah Indonesia
Publisher : Publikasi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59141/cerdika.v3i4.574

Abstract

 Deteksi dini kanker serviks sangat penting dilakukan dalam upaya pencegahan kanker serviks serta untuk menurunkan angka kematian perempuan. Kanker serviks banyak ditemukan di negara berkembang termasuk Indonesia. Di Indonesia diperkirakan 20-25 orang meninggal karena kanker serviks dikarenakan keterlambatan dalam penanganan atau kurangnya pengetahuan tentang pendeteksian dini kanker serviks.. Penggunaan media audio visual dalam penyuluhan kesehatan akan membantu memperjelas informasi yang disampaikan. Audi visual mengandalkan pendengaran dan penglihatan  dimana melibatkan semua alat indra pembelajaran sehingga semakin besar kemungkinan isi informasi tersebut dapat dimengerti dan dipertahankan dalam ingatan. Metode: Desain penelitian ini adalah Quasi Eksperiment dengan desain pretest and posttest (one group pretest-posttest design). Teknik pengambilan sampel dengan Nonprobability sampling yakni purposive sampling dengan besaran sampel menggunakan rumus Slovin didapatkan  sebanyak 47 orang.  Hasil: Berdasarkan hasil uji analisa menggunakan uji Wilcoxon, terdapat perubahan perilaku WUS sebelum dan sesudah diberikan intervensi dengan didapatkan nilai p value 0,000 (p<0,05) yang artinya  terdapat pengaruh pemberian edukasi dengan audio visual terhadap perilaku WUS dalam melakukan IVA test di Puskesmas Pembantu Pegat Batumbuk. Diskusi: terdapat pengaruh edukasi menggunakan audio visual terhadap perubahan perilaku WUS dalam melakukan IVA test dan perubahannya sangat signifikan.  
Profil Kemampuan Penalaran Matematis dalam Menyelesaikan Masalah Matematika ditinjau dari Efikasi Diri Siswa Kusmiyatun, Dyah Ayumi; Indianti, Intan; Purwanti, Heni
Imajiner: Jurnal Matematika dan Pendidikan Matematika Vol 7, No 6 (2025): Imajiner: Jurnal Matematika dan Pendidikan Matematika
Publisher : Universitas PGRI Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26877/imajiner.v7i6.21910

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kemampuan penalaran matematis siswa dalam menyelesaikan masalah matematika pada materi persamaan dua variabel, yang ditinjau dari efikasi diri siswa. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif kualitatif. Subjek penelitian terdiri dari tiga siswa di SMP N 1 Pulokulon pada tahun ajaran 2024/2025, yang dipilih berdasarkan hasil angket efikasi diri. Satu siswa berada pada tingkat level, satu siswa pada tingkat strength, dan satu siswa pada tingkat generality. Pengumpulan data dilakukan melalui tes tertulis, wawancara, dan dokumentasi. Proses analisis data terdiri dari tiga langkah: reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan.Hasil penelitian menunjukkan bahwa indikator kemampuan penalaran matematis siswa berdasarkan efikasi diri mereka bervariasi. Subjek pada tingkat level dapat menyelesaikan soal dengan benar, baik secara tertulis maupun lisan, serta mampu memenuhi indikator penalaran matematis seperti menyajikan pernyataan matematika, mengajukan dugaan, melakukan manipulasi, dan menarik kesimpulan. Subjek pada tingkat strength dapat menyelesaikan soal, namun hasil akhirnya kurang maksimal karena terburu-buru sehingga melakukan kesalahan dalam langkah-langkah penyelesaian. Subjek ini hanya memenuhi dua indikator penalaran matematis, yaitu menyajikan pernyataan matematika dan mengajukan dugaan. Sementara itu, subjek pada tingkat generality mampu menyelesaikan soal dengan baik dan benar pada soal kedua, memenuhi indikator penalaran matematis seperti menyajikan pernyataan matematika, melakukan manipulasi, dan menarik kesimpulan. Namun, pada soal pertama, subjek mengalami kesalahan langkah sehingga hasilnya tidak sempurna dan hanya memenuhi indikator menyajikan pernyataan matematika. Secara keseluruhan, siswa-siswa ini dapat menyampaikan konsep-konsep matematis dengan baik, baik secara lisan maupun tertulis, serta dapat menginterpretasikan hasil penyelesaian masalah.
The Effect of Brain Gymnastics on Fine Motor Skills in Children at Al Kautsar Islamic Kindergarten in South Jakarta City in 2024 Purwanti, Heni; Sitanggang, Tantri Wenny; Ernawilis; Anjani, Laila
Jurnal Kesehatan Budi Luhur: Jurnal Ilmu-Ilmu Kesehatan Masyarakat, Keperawatan, dan Kebidanan Vol. 18 No. 2 (2025): July 2025
Publisher : STIKes Budi Luhur Cimahi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62817/jkbl.v18i2.413

Abstract

Fine motor skills are essential in early childhood development, supporting daily activities and school readiness. Brain gymnastics is a series of structured and simple movements involving coordination between the brain and body, designed to stimulate the nervous system and enhance motor development in a playful way. This study used a pre-experimental design with a one-group pretest-posttest approach. A total of 33 children aged 4–6 years were selected using purposive sampling. The Denver Developmental Screening Test (DDST) was used as the main instrument, completed through parent interviews and direct observation by the researcher before and after the brain gymnastics intervention. Data were analyzed using the Wilcoxon Signed-Rank Test. Before the intervention, 21 children (63.3%) showed delayed fine motor development. After the intervention, 30 children (90.9%) reached the normal developmental stage appropriate for their age. The Wilcoxon Signed-Rank Test revealed a significant difference with a p-value of 0.000 (p < 0.05), indicating a statistically significant improvement in fine motor skills. The results demonstrate that brain gymnastics effectively improves fine motor skills in children aged 4–6 years. Through engaging and coordinated movements, brain gymnastics stimulates neural pathways and supports optimal motor development. It can be applied as a fun and practical method of stimulation in early childhood education settings.