Claim Missing Document
Check
Articles

Hubungan Tingkat Stres Belajar dengan Kecanduan Game Online pada Remaja Sekolah Menengah Atas Sapitri, Yunyka Wira; Pertiwi, Eri Riana; Jannah, Syarifah Rauzatul
Jurnal Penelitian Perawat Profesional Vol 7 No 2 (2025): April 2025, Jurnal Penelitian Perawat Profesional
Publisher : Global Health Science Group

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37287/jppp.v7i2.6026

Abstract

Stres belajar dapat memberikan tekanan psikologis yang dialami remaja akibat tuntutan akademik, seperti beban tugas, tekanan nilai, dan ekspektasi tinggi dari orang tua serta lingkungan sekolah. Kondisi ini mendorong beberapa remaja memilih mekanisme pelarian negatif, seperti bermain game online secara berlebihan, yang berisiko menyebabkan kecanduan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara tingkat stres belajar dengan kecanduan game online pada remaja SMA di Aceh Jaya. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan desain deskriptif korelatif, teknik pengumpulan sampel menggunakan proportionate random sampling dengan jumlah 180 responden. Data dikumpulkan menggunakan instrumen data demografi dan 2 kuesioner baku yaitu kuesioner Educational Stress Scale for Adolescents (ESSA) dan Internet Gaming Disorder (IGD-20). Metode Analisa data menggunakan analisis bivariat dengan uji chi square. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan antara tingkat stres belajar dengan kecanduan game online dengan nilai hasil uji korelasi yaitu P-value = 0,001. Hasil ini mengindikasikan bahwa stres belajar yang tinggi dapat memicu perilaku kecanduan game online sebagai bentuk coping yang kurang adaptif. Oleh karena itu, diharapkan pihak sekolah dapat menyediakan program konseling untuk mengedukasi dan membantu siswa agar dapat mengelola stres dan meningkatkan kesadaran siswa akan dampak kecanduan game online.
Patient Perceptions of Generalist Therapy for Schizophrenia with Violent Risk: A Phenomenological Study in Indonesia Permana, Hendrian Hadi; Aiyub; Jannah, Syarifah Rauzatul
Asian Journal of Public Health and Nursing Vol. 2 No. 2 (2025)
Publisher : Queeva Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62377/1yjsmg47

Abstract

Background: Generalist Therapy (GT) is a nursing approach that integrates physical, psychological, social, and spiritual care tailored to individual needs. While commonly used in mental health nursing, its implementation varies across countries. In Indonesia, GT is delivered through culturally adapted implementation strategies. These include deep breathing exercises, pillow-punching, medication adherence, assertive verbal communication, and spiritual practices. Although GT has become a standard practice in Indonesian mental health services particularly in Aceh Province, research on patient perceptions, especially among those with schizophrenia and a history of violence, remains limited. This study aims to explore patients’ subjective experiences of GT. Methods: This qualitative study employed a phenomenological approach. Data were collected through in-depth interviews with ten patients diagnosed with schizophrenia. The interviews were analyzed using Colaizzi’s seven-step method. Results: Three major themes emerged from the data: (1) the effectiveness of GT in emotional regulation, including managing anger, promoting calmness, and the role of medication in reducing negative emotions; (2) resilience enhancement, encompassing positive meaning-making, therapy commitment, improved social functioning, and self-control; and (3) barriers to GT implementation, including internal (emotional issues, low insight, restrictive personal beliefs, cognitive decline, and low participation) and external obstacles (limited facilities and overcrowded wards). Conclusion: GT is perceived as helpful in emotional regulation and recovery support. It strengthens resilience and improves patient insight, especially when supported by a conducive environment. Incorporating patients’ perspectives into therapeutic planning may enhance the effectiveness of mental health care.
Social Support For Coping Mechanism in Diabetic Ulcer Patients : A Cross Sectional Study Ikhsan, Muhammad; Rauzatul Jannah, Syarifah; Hermansyah, Hermansyah; Syarif, Hilman; Hayati, Wirda
Jurnal KESANS : Kesehatan dan Sains Vol 1 No 5 (2022): KESANS : International Journal of Health and Science
Publisher : Rifa'Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54543/kesans.v1i5.59

Abstract

Background: Diabetic ulcers are complications that often occur in patients with Diabetes Mellitus and will have an impact on the sufferer's physical, psychological, social and economic. One thing that is really needed by patients to help heal is social support from their surroundings. Objective: to examine the relationship of social support with coping mechanisms in ulcer patients. Method: using an analytical survey with a cross-sectional study, the sampling method used is purposive sampling of 116 respondents. The instruments used in this study were the Coping Scale Questionnaire (CSQ) to measure coping mechanisms and the Multidimensional Scale of Perceived Social Support to measure social support. Result and Discussion: The results of this study were found in the coping mechanism and social support variables, the majority had adaptive coping and high social support as many as 79 respondents (68.1%). It can be concluded from 79 respondents with high support, there are 61 respondents (77.2%) with adaptive coping mechanisms and of 37 respondents with low social support, 19 respondents (51.4%) with maladaptive coping mechanisms. Hypothesis test results obtained P value = 0.004<0.05. Conclusions: there is a significant relationship between social support and coping mechanisms in diabetic ulcer patients.
PENGGUNAAN MEDIA SOSIAL PADA REMAJA DI KOTA SABANG Fiddini, Azzahra; Jannah, Syarifah Rauzatul; Novitayani, Sri
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Fakultas Keperawatan Vol 7, No 3 (2023)
Publisher : Jurnal Ilmiah Mahasiswa Fakultas Keperawatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penggunaan media sosial telah menjadi suatu kebutuhan dikalangan remaja. Penggunaan media sosial dapat memberikan dampak positif seperti kemudahan mencari informasi, berkomunikasi, mengembangkan minat bakat, bertukar ide dan mencari kesenangan. Selain itu, juga dapat memberikan dampak negatif seperti penyalahgunaan untuk mencari informasi dan ketergantungan pada media sosial, yang dapat mengubah kondisi psikologis dan berisiko penyakit mental. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui representasi pemakaian media sosial terhadap remaja di kota Sabang. Desain penelitian yang digunakan adalah descriptive dengan pendekatan cross sectional study. Sampel berjumlah 244 yang diperoleh melalui teknik proportional random sampling. Pengumpulan data dilakukan menggunakan dua instrumen yaitu data demografi dan Social Media Addiction Scale-Student Form yang dilakukan secara langsung dengan membagikan kuesioner secara paper-based. Hasil penelitian menunjukkan tingkat kecanduan media sosial berada pada kategori tinggi yaitu sebanyak 126 orang (51,6%). Penelitian ini diharapkan mampu menjadi masukan bagi remaja. Harapannya remaja dapat lebih bijak seperti mengatur waktu pemakaian media sosial sehingga tidak berisiko mengalami kecanduan media sosial.
PENERAPAN TERAPI MUSIK PADA RESIDEN UNTUK MENGURANGI RISIKO PERILAKU KEKERASAN: SUATU STUDI KASUS Saputra, Farhan; Jannah, Syarifah Rauzatul; Alfiandi, Rudi
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Fakultas Keperawatan Vol 7, No 3 (2023)
Publisher : Jurnal Ilmiah Mahasiswa Fakultas Keperawatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Salah satu dampak buruk dari penyalahgunaan NAPZA dapat menimbulkan fenomena gangguan jiwa jika digunakan dalam waktu yang lama. Apabila tidak diatasi dengan segera, penyalahguna NAPZA akan mengalami keadaan depresi dan mengakibatkan_gangguan pada jiwanya sehingga seseorang_mudah marah, emosi, stres serta mudah membahayakan orang lain karena akan adanya tindakan perilaku kekerasan. Studi kasus ini bertujuan untuk melakukan penerapan terapi musik pada residen untuk mengurangi risiko perilaku kekerasan di Instalasi Rehabilitasi NAPZA Rumah Sakit_Jiwa Aceh. Studi kasus ini mengambil 1 orang residen yaitu dengan risiko perilaku kekerasan, residen diberikan pendekatan asuhan keperawatan berupa strategi pelaksanaan resiko perilaku kekerasan yaitu latihan fisik, minum obat secara teratur, cara verbal (meminta, menolak dan mengungkapkan rasa marah dengan baik) dan teknik spiritual (shalat dan dzikir) selama 1 hari serta penerapan terapi musik selama 2 hari. Terapi musik yang dilakukan selama 3 sesi, tiap sesi berdurasi 15 menit dengan musik yang diputar berjenis musik klasik. Didapatkan hasil bahwa penerapan terapi_musik mampu menurunkan resiko_perilaku kekerasan pada residen. Terapi musik dapat memberikan dampak positif, memperbaiki suasana hati, menghadirkan rasa nyaman, tenang dan rileks serta mampu mengurangi tanda dan gejala marah pada residen dengan risiko_perilaku kekerasan. Terapi musik sesuai diterapkan_pada residen dengan risiko perilaku kekerasan dikarenakan berpengaruh dalam menurunkan rasa marah sehingga mencegah residen melakukan perilaku kekerasan. Kesimpulan dari studi kasus ini adalah penerapan terapi musik mampu menurunkan risiko perilaku kekerasan terhadap residen serta mampu memunculkan rasa nyaman dan tenang. Diharapkan terapi musik dapat terus diterapkan oleh individu pada saat di instalasi rehabilitasi maupun saat dipulangkan ke rumah.
Pengetahuan Remaja tentang Lesbian, Gay, Biseksual dan Transgender (LGBT) Afrida, Fitry; Jannah, Syarifah Rauzatul; Aiyub, Aiyub
Jurnal Assyifa: Jurnal Ilmu Kesehatan Lhokseumawe Vol. 10 No. 2 (2025): Juli-Desember
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Muhammadiyah Lhokseumawe

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54460/jifa.v10i2.139

Abstract

Lesbian, Gay, Biseksual dan Transgender (LGBT) telah menjadi isu krusial yang memerlukan perhatian serius. Masyarakat Indonesia menganggap LGBT sebagai perilaku menyimpang karena tidak sesuai dengan orientasi seksual yang sesuai dengan norma sosial dan agama. Guna meminimalisir perilaku menyimpang ini, peningkatan pengetahuan tentang kesehatan reproduksi sangatlah penting khususnya bagi remaja. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi tingkat pengetahuan remaja tentang LGBT. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kuantitatif dengan pendekatan crossectional . Sebanyak 276 siswa SMA di Banda Aceh direkrut menjadi sampel menggunakan metode cluster random sampling . Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebanyak 204 responden (73,9%) memiliki pengetahuan tentang LGBT dengan kategori tinggi, sekitar 36 responden (13%) berada pada kategori sedang dan 36 responden (13%) berada pada kategori rendah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa remaja SMA Negeri 1 Banda Aceh memiliki pengetahuan dalam kategori tinggi. Situasi ini menjadi modal bagi sekolah dan petugas kesehatan dalam upaya meminimalisir perilaku menyimpang termasuk LGBT. Hasil penelitian menunjukkan bahwa remaja SMA Negeri 1 Banda Aceh memiliki pengetahuan dalam kategori tinggi. Situasi ini menjadi modal bagi sekolah dan petugas kesehatan dalam upaya meminimalisir perilaku menyimpang termasuk LGBT.
Analisis Perilaku Proaktif Perawat Dalam Melaksanakan Handover Di Ruang Intensif Elvi Mardhiah; Syarifah Rauzatul Jannah; Said Usman; Hajjul Kamil; Dewi Marianti
Jurnal Kepemimpinan dan Manajemen Keperawatan Vol. 5 No. 1 (2022)
Publisher : Persatuan Perawat Nasional Indonesia Jawa Tengah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32584/jkmk.v5i1.881

Abstract

Handover merupakan proses komunikasi serah terima pasien yang melibatkan perawat dan tim kesehatan lain dalam pelaksanaannya. Dibutuhkan tindakan proaktif perawat dalam mengoptimalkan pelaksanaan handover guna meningkatkan keselamatan pasien. Tujuan penelitian untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan perilaku proaktif perawat dalam melaksanakan handover di ruang rawat intensif. Jenis penelitian kuantitatif dengan desain cross sectional study. Populasi penelitian 124 perawat ruang intensif. Teknik pengambilan sampel menggunakan total sampling. Alat pengumpulan data menggunakan kuesioner Proactive Behaviors in Organization Scale (PBOS), Proactive Personality Scale (PPS) short version, General Self Eficacy Scale dan Orientasi pembelajaran dan analisis data menggunakan statistik differential non-parametrik, regresi logistik. Hasil penelitian menunjukkan ada hubungan kepribadian proaktif (p-value 0,041), efikasi diri (p-value 0,002), orientasi pembelajaran (p-value 0,013) dengan perilaku proaktif perawat dalam melaksanakan handover di ruang rawat intensif Rumah Sakit Umum Daerah Pemerintah Aceh. Selanjutnya, faktor yang paling dominan berhubungan dengan perilaku proaktif perawat dalam melaksanakan handoveradalah efikasi diri dengan nilai p-value = 0,020 dan nilai odd ratio 5,419. Berdasarkan hasil penelitian direkomendasikan bagi manajer atau pimpinan untuk terus meningkatkan motivasi perawat agar terus proaktif dalam melaksanakan handover melalui pelatihan rutin.
Symptom Severity, Anxiety, Family Support, and Resilience of Breast Cancer Patients Undergoing Chemotherapy Hilman Syarif; Novi Afrianti; Dewiyuliana; Monaris Daralina; Syarifah Rauzatul Jannah
Jurnal Kesehatan - STIKes Prima Nusantara Vol 16 No 2 (2025): Jurnal Kesehatan Volume 16 Nomor 2 Tahun 2025
Publisher : LPPM Universitas Prima Nusantara Bukittinggi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35730/jk.v16i2.1240

Abstract

Purpose: The objective of this study was to exploring the relationship of symptom severity, anxiety, and family support to the resilience of breast cancer patients undergoing chemotherapy. Method: This research is a quantitative correlation with a cross-sectional study design. The sample size was 107 breast cancer patients undergoing chemotherapy at hospitals in Aceh Province and selected non-randomly with consecutive sampling technique. Bivariate data analysis was Pearson correlation. Results: The results showed that there was a significant negative relationship between symptom severity with resilience (r -0.249; p 0.010), and anxiety with resilience (r -0.569; p < 0.001). There was a significant positive relationship between family support and resilience (r 0.184; p 0.049). Conclusions: Resilience of breast cancer patients undergoing chemotherapy is closely related to symptom severity, anxiety and family support. Recommendations, to oncology nurses in order to increase interventions, especially on factors that can reduce the severity of symptoms and anxiety of patients, also increase family support.
Effectiveness of Emotion Regulation Therapy on the Resilience of Caregivers of Schizophrenia Patients in Aceh: A Quasy-Experimental Study Khalida, Hayyuni; Syarifah, Rauzatul Jannah; Marthoenis
Jurnal Kesehatan - STIKes Prima Nusantara Vol 16 No 3 (2025): Jurnal Kesehatan Volume 16 Nomor 3 Tahun 2025
Publisher : LPPM Universitas Prima Nusantara Bukittinggi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35730/jk.v16i3.1292

Abstract

Schizophrenia is a chronic mental disorder that requires long-term care, which puts caregivers at risk of emotional burdens that can decrease their level of resilience. Families, as caregivers, play an important role in patient care and need to possess strong emotional endurance. Emotion Regulation Therapy is an intervention aimed at improving individuals’ ability to manage emotions adaptively to enhance resilience. This study aims to determine the effect of emotion regulation therapy on increasing the resilience of caregivers who care for patients with schizophrenia in Aceh. The study used a quasi-experimental design with a one-group pre-post-test approach. The sample consisted of 33 caregivers selected through purposive sampling and was given emotion regulation therapy over seven sessions. The instruments used in this study were a demographic data sheet to obtain respondent characteristics and the Connor-Davidson Resilience Scale (CD-RISC) questionnaire to measure resilience levels. The Wilcoxon Signed-Rank Test results showed a significant effect of emotion regulation therapy on increasing caregiver resilience, with a Z value = -5.205 and p < 0.001. The results indicated that before the intervention, the majority of respondents (51.5%) were in the low resilience category. After the intervention, there was a significant increase, with 84.8% of respondents categorized as having high resilience. Additionally, the average resilience score increased from 49.00 to 73.15. Based on these findings, emotion regulation therapy has been shown to be effective in increasing the resilience of caregivers caring for patients with schizophrenia. These results indicate that this intervention can be used as a relevant strategy to help caregivers deal with long-term emotional stress.
THE EFFECT OF INTERPERSONAL THERAPY ON DEPRESSION AND ANXIETY AMONG ADOLESCENT INMATES IN ACEH: A PRE-EXPERIMENTAL STUDY Miftahurrahmi; Syarifah, Rauzatul Jannah; Febriana, Dara
Jurnal Kesehatan - STIKes Prima Nusantara Vol 16 No 2 (2025): Jurnal Kesehatan Volume 16 Nomor 2 Tahun 2025
Publisher : LPPM Universitas Prima Nusantara Bukittinggi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35730/jk.v16i2.1293

Abstract

Juvenile inmates are highly vulnerable to mental health disorders, particularly depression and anxiety. Factors such as the prison environment, limited social support, and restricted access to mental health services contribute to this vulnerability. If left untreated, these conditions can adversely impact their psychological well-being and rehabilitation process. Interpersonal Therapy is a psychotherapeutic approach focusing on interpersonal relationships, proven effective in treating affective disorders among adolescents. This study aimed to assess the effectiveness of Interpersonal Therapy in reducing depression and anxiety among juvenile inmates at the Banda Aceh Juvenile Correctional Institution. A Pre - experimental one-group pre-test and post-test design was employed. A total of 33 participants were recruited using purposive sampling, based on power analysis (power 0.80, effect size 0.70, α = 0.05). The intervention consisted of five sessions of Interpersonal Therapy. Data were collected using demographic questionnaires, the Beck Depression Inventory-II (BDI-II) to measure depression, and the Beck Anxiety Inventory (BAI) to assess anxiety levels. The Wilcoxon Signed-Rank Test revealed a significant effect of Interpersonal Therapy on reducing depression (Z = -3.764; p < 0.001) and a non-significant trend in reducing anxiety (Z = -1.732; p = 0.083). Before the intervention, most respondents had moderate depression (60.6%) and mild anxiety (66.7%). After the intervention, 45.5% of participants experienced minimal depression, while mild anxiety increased to 87.9%. The mean depression score decreased from 20.94 to 13.79, and the anxiety score from 17.27 to 13.58. Interpersonal Therapy was effective in reducing depression and contributed to improvements in anxiety among juvenile inmates. This therapy can be used as a non-pharmacological approach in psychiatric nursing to support adolescents mental well-being in correctional settings