Claim Missing Document
Check
Articles

The Values of Character in Traditional Games Simalungun Society Ramlan Damanik; Warisman Sinaga
Budapest International Research and Critics Institute (BIRCI-Journal): Humanities and Social Sciences Vol 4, No 1 (2021): Budapest International Research and Critics Institute February
Publisher : Budapest International Research and Critics University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33258/birci.v4i1.1713

Abstract

Simalungun ethnic is one of the ethnic in North Sumatra, Simalungun ethnic have some traditional games, marlubuk,marsitengka, marjalengkat, batu marsiada (mardara), marultop, margala, margodok, pattik lele, pecah piring, olei,olei, margasing, jalengkat sarip, marjakop, dan marampera. Discussions with an informan and immediately held a game involve some children in Sirpang Sigodang Kecamatan Raya village, for get Simalungun traditional games’ type. Methods such as recording, documenting, interviewing have eighteen character values, among others: religious values, honesty, tolerance, discipline, hard work, creative thinking, independence / independence, democracy, curiosity, national spirit, patriotism, appreciation for achievement, hospitality, peace, love to read, protect the environment, social care, and responsibility. Simalungun traditional games can be played at school, some friends in neighborhood for form character values.
Reproduction of Batak Manuscript for the Purposes of Revitalizing Local and Commercial Wisdom in Samosir Regency, North Sumatera Province Warisman Sinaga; Ramlan Damanik
Budapest International Research and Critics Institute (BIRCI-Journal): Humanities and Social Sciences Vol 3, No 4 (2020): Budapest International Research and Critics Institute November
Publisher : Budapest International Research and Critics University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33258/birci.v3i4.1443

Abstract

Pustaha laklak is a handscrift or manuscript from Batak that uses tree bark as its medium. The writing in this pustaha laklak uses Batak script or also called the Batak letter. Batak letter has special technicalities in its writing. And this writing system is also closely related to the culture and local wisdom of Batak people. The relationship between the Batak script and the Batak customs is too close, so that efforts to obtain and possess these old texts continue to be carried out. One of the efforts undertaken by the community in Samosir Regency is to copy back the old manuscripts. This activity is part of the reproduction of the manuscript. However, this copying activity was carried out not solely for the purpose of saving the manuscript. However, commercial interests tend to be motivated because the texts are traded as souvenirs for local and foreign tourists. The right approach taken in this study is the approach of philology and local wisdom. Djamaris (2002: 3) said that philology is a science that makes old texts as the object of writing. Manuscript reproduction is an object of philology while the text or all messages contained in the manuscript is a form of local wisdom of the Toba Batak people. The research method used is the single manuscript edition method. Tomok Village and Tuktuk Siadong Village are suitable locations to be used as research sites because these two villages are closely related to the reproduction of manuscripts for commercial purposes for local and foreign tourists. Based on the studies conducted, it can be seen that copying is always done. Every writing of a manuscript, the writer refers to the manuscript that becomes the reference. The copying process is according to requests from what people need. The mistake that tends to be made is the use of child letter and parent letter, especially for child letter / i / and / u /.
Legenda Raja Datuk Nabolon Pada Masyarakat Batak Toba : Analisis Psikosastra Franciskus Marshall C Silitonga; Warisman Sinaga
Kompetensi : Jurnal Pendidikan dan Humaniora Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan UNIBA Vol 15 No 2 (2022): Kompetensi
Publisher : Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Balikpapan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (168.732 KB) | DOI: 10.36277/kompetensi.v15i2.91

Abstract

Artikel ini membahas tentang Legenda Raja Datuk Nabolon Pada Masyarakat Batak Toba : Analisis Psikosastra. Dalam Masyarakat Desa Sipahutar, Kec. Sipahutar, Kab. Tapanuli Utara terdapat legenda Raja Datuk Nabolon yang menceritakan tentang pembagian harta warisan. Artikel ini bertujuan menguraikan unsur intrinsik dan menguraikan faktor yang memengaruhi psikis tokoh utama dalam legenda Raja Datuk Nabolon. Dalam menyelesaikan artikel ini penulis menggunakan teori psikoanalisis yang dikemukakan oleh Sigmund freud yang mengatakan bahwa teori psikoanalisis berhubungan dengan fungsi dan perkembangan mental manusia dengan metode deskriftif kualitatif. Untuk menunjang hasil dari artikel ini penulis menggunakan metode pengumpulan data dengan cara (1)wawancara dengan informan, (2) obsevasi dan  (3) dokumentasi. Adapun hasil yang ditemukan dalam artikel ini bahwa mitos Raja Datuk Nabolon diterima dengan baik oleh masyarakat setempat. Menurut temuan tersebut, penduduk setempat memahami bahwa berbagi kekayaan orang tua diantara saudara adalah inti dari tradisi Raja Datuk Nabolon, dan legenda ini berpotensi mengirimkan pesan positif. Namun, survei menemukan bahwa hanya orang tua yang percaya pada kisah Raja Datuk Nabolon. Cerita rakyat seputar Raja Datuk Nabolon dijunjung tinggi dengan harapan dapat menginspirasi generasi mendatang. Desa Sipahutar, Kecamatan Sipahutar, Kabupaten Tapanuli Utara memiliki peraturan perundang-undangan tersendiri yang harus diikuti oleh setiap masyarakat.
BAHASA BATAK TOBA SEBAGAI PEMBENTUK KARAKTER DAN PENUNJANG PEMBELAJARAN KURIKULUM 2013 DI SD N 173652 KABUPATEN TOBA Yolanda, Hanna; Sinaga, Warisman
Kompetensi : Jurnal Pendidikan dan Humaniora Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan UNIBA Vol 16 No 1 (2023): Kompetensi
Publisher : Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Balikpapan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36277/kompetensi.v16i1.96

Abstract

Karya ilmiah ini memiliki judul Signifikansi Bahasa Batak sebagai Faktor Kunci dalam Membentuk Karakter dan Mendukung Pembelajaran dalam Kurikulum 2013 di Sekolah Dasar Kabupaten Toba. Penelitian Ini memiliki tujuan agar dapat mengetahui Bagaimana Signifikansi Bahasa Batak sebagai Faktor Kunci dalam Membentuk Karakter dan Mendukung Pembelajaran dalam Kurikulum 2013 di Sekolah Dasar Kabupaten Toba. Karya ilmiah ini menggunakan Teori yang digunakan adalah teori kognitivisme dan teori konstruktivisme. Metode yang digunakan metode kualitatif. Hasil yang telah didapat dalam penelitian ini merupakan : (1) Terdapat 12 karakter yang memiliki peran penting dalam pembentukan karakter siswa SD 173652 desa Tanjung Pasir, (2) Dalam penelitian ini ditemukan 2 peran bahasa Batak Toba sebagai penunjang pembelajaran kurikulum 2013 yang gunakan di SD 173652 Desa Tanjung Pasir, (3) Dalam penelitian ini ditemukan 2 faktor yang mempengaruhi bahasa Batak Toba sehingga memiliki peran dalam pembentukan karakter dan sebagai penunjang pembelajaran Ke 2 faktor itu adalah faktor internal dan faktor eksternal. Faktor eksternal terbagi menjadi 3 yaitu faktor  internal psikologis, faktor internal kebiasaan, faktor internal cita-cita  dan faktor eksternal juga terbagi menjadi 3 yaitu faktor keluarga, faktor lingkungan sekitar dan faktor lingkungan sekolah. Seluruh faktor di atas berpengaruh dalam memberikan peran pada bahasa Batak Toba sebagai pembentuk karakter dan sebagai penunjang pembelajaran kurikulum 2013 di SD 173652 Desa Tanjung Pasir, Kecamatan Parmaksian, Kabupaten Toba.
ANALISIS SEMIOTIKA PADA ULOS HARUNGGUAN MUARA Parasian, Nehemia Anugrah; Sinulingga, Jekmen; Sinaga, Warisman
Kompetensi : Jurnal Pendidikan dan Humaniora Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan UNIBA Vol 17 No 1 (2024): Kompetensi
Publisher : Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Balikpapan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36277/kompetensi.v17i1.215

Abstract

UHM merupakan salah satu ulos etnik Batak Toba. Ulos yang berasal dari Muara ini memiliki motif yang tergabung dari motif ulos yang dimiliki oleh etnik Batak Toba dan komodifikasi dilakukan sebagai pengembangan dari ulos ini. UHM memiliki kain dengan motif yang terinspirasi dari kehidupan masyarakat Batak Toba yang hidup di sekitar Danau Toba. Motif ini memiliki arti yang sangat penting bagi masyarakat Batak Toba, karena melambangkan keberanian dan semangat juang untuk menghadapi berbagai rintangan dan tantangan dalam hidup. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan bentuk simbol, fungsi, makna yang terdapat pada UHM dan mendeskripsikan komodifikasi yang terdapat pada UHM. Teori yang digunakan dalam menganalisis data merupakan teori semiotika yang dikemukakan oleh Charles Sanders Peirce dan teori komodifikasi yang dikemukakan oleh Mosco. Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah deskriptif kualitatif dengan sumber data penelitian dihasilkan dari penelitian lapangan dan penelitian sekunder. Pada penelitian ini ditemukan hasil simbol, yakni 22 bentuk simbol motif antara lain: topi, simarpusoran, ragi ambasang, bolean, suri suri, hait masusang, maratur, bola bola anduri, pucca, sibolang, ragi hotang, pinunsaan, ragi singkam, mangiring, situtur, ragi hidup, runjat, suri suri sanggar, gatip gatip, sibolang maranak, maratur toba, dan sitolu tuho. Dari hasil penelitian terhadap fungsi simbol, ditemukan 2 fungsi, yakni: (1) fungsi simbolis dan (2) fungsi praktis. Berdasarkan maknanya, ditemukan 2 makna, yakni: (1) makna konotasi dan (2) makna denotasi, serta komodifikasi yang terdapat yakni: (1) komodifikasi fungsi dan penggunaan UHM dan (2) komodifikasi fungsi dan bentuk UHM.
TINDAK TUTUR PADA PATAMPEI PARSAHAPAN ETNIK SIMALUNGUN Sigiro, Triputri; Sinaga, Warisman; tampubolon, Flansius
Kompetensi : Jurnal Pendidikan dan Humaniora Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan UNIBA Vol 17 No 1 (2024): Kompetensi
Publisher : Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Balikpapan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36277/kompetensi.v17i1.218

Abstract

Kurangnya pemahaman generasi muda tentang adat istiadat terutama adat patampei parsahapan maka diperlukannya dokumentasi. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan adat patampei parsahapan, menjelaskan tentang penuturnya, menganalisis tindak tuturnya, dan menjelaskan fungsi tindak tutur pada adat patampei parsahapan suku Simalungun. Teori tindak tutur sesuai digunakan untuk penelitian ini. Teori Austin dan Searle dipilih dan digunakan dalam penelitian ini. Austin membagi tindak tutur menjadi tiga yaitu: tindak tutur lokusi, tindak tutur ilokusi, dan tindak tutur perlokusi. Searle membedakan tindak tutur ilokusi berdasarkan fungsinya menjadi lima yaitu: tindak tutur representatif, direktif, ekspresif, komisif, dan deklarasi. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif. Teknik pengambilan data yaitu metode kepustakaan dan tenik wawancara. Data yang diperoleh lalu di analisis yaitu mulai dari penerjemahan tuturan dari Bahasa Simalungun ke Bahasa Indonesia. Mengeliminasi data yang tidak relevan. Mengklasifikasikan data. Data dianalisis berdasarkan jenis dan fungsinya. Membuat kesimpulan dari penelitian.  Dari penelitian ini dapat ditemukan sebagai berikut: adat patampei parsahapan adalah perkenalan secara resmi kedua keluarga belah pihak, membahas mengenai jumlah partadingan, lokasi dan waktu pesta, jumlah hiou, dan lain sebagainya. Pada patampei parsahapan ini anak boru jabu, anak boru sanina dari pihak paranak dan parboru, tulang dari pengantin perempuan, tokoh adat turut memberikan tuturan. Tindak tutur lokusi, ilokusi, dan perlokusi ditemukan dalam adat patampei parsahapan. Terdapat empat fungsi tindak tutur yaitu tindak tutur representatif, direktif, komisif, dan ekspresif.  Penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi sebagai dasar pertimbangan, pendukung dan sumbangan pemikiran kepada masyarakat mengenai tindak tutur pada adat patampei parsahapan.
LEKSIKOSTATISTIK BAHASA BATAK KARO DAN BAHASA BATAK TOBA: SUATU KAJIAN LINGUISTIK HISTORIS KOMPARATIF Ginting, Ria Clara; Sinaga, Warisman; Damanik, Ramlan
Kompetensi : Jurnal Pendidikan dan Humaniora Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan UNIBA Vol 17 No 1 (2024): Kompetensi
Publisher : Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Balikpapan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36277/kompetensi.v17i1.219

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan hubungan genetik antara bahasa Batak Karo dan Batak Toba, menentukan waktu perpisahan linguistik mereka, dan memperkirakan usia kedua bahasa tersebut. Menggunakan teori linguistik historis komparatif, khususnya pendekatan leksikostatistik dan glotokronologi yang dikemukakan oleh Gorys Keraf, penelitian ini menyediakan kerangka analisis untuk memahami evolusi linguistik dari bahasa-bahasa ini. Data untuk penelitian ini dikumpulkan melalui kombinasi metode observasi, wawancara, teknik pencatatan, dan perekaman. Data tersebut kemudian dianalisis menggunakan metode deskriptif kuantitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari 500 kosakata yang diteliti, terdapat 320 pasangan kata kerabat yang menunjukkan hubungan genetik sebesar 65%. Perpisahan antara bahasa Batak Karo dan Batak Toba diperkirakan terjadi sekitar tahun 1028 M atau pada abad ke-11, sekitar 995 tahun yang lalu (dihitung dari tahun 2023). Hasil ini memiliki implikasi penting bagi klasifikasi dan pemahaman hubungan genetik dalam bahasa-bahasa Batak. Temuan ini menekankan pentingnya penelitian komparatif yang lebih komprehensif yang melibatkan semua varian bahasa Batak guna mendapatkan gambaran yang lebih lengkap tentang hubungan genetik dalam keluarga bahasa Batak. Penelitian ini tidak hanya berkontribusi pada studi linguistik historis komparatif bahasa-bahasa Austronesia di Indonesia, tetapi juga menyoroti pentingnya melestarikan keunikan dan kekayaan linguistik setiap varian bahasa Batak.
Umpasa In The Giving Of Ulos In Traditional Batak Toba Ceremonies: Ananthropolinguistic Study Erica Yulia Citra Sitorus; Robert Sibarani; Sibarani, Jekmen Sinulingga; Warisman Sinaga; Ramlan Damanik
Journal of Mandalika Literature Vol. 5 No. 3 (2024)
Publisher : Institut Penelitian dan Pengembangan Mandalika (IP2MI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36312/jml.v5i3.3582

Abstract

This research is entitled Umpasa in Giving Ulos at the Toba Batak Traditional Ceremony: An Anthropolinguistic Study. This research aims to describe the performance of umpasa in giving ulos at the Toba Batak traditional ceremony, the indexicality of umpasa in giving ulos at the Toba Batak traditional ceremony, and the participation of umpasa in giving ulos at the Toba Batak traditional ceremony. The theory used to analyze the data is anthropolinguistic theory proposed by Alessandro Duranti. The method used in this research is descriptive qualitative method of interactive model. The results obtained from this study are the performance of umpasa in giving ulos at the traditional birth ceremony, namely: (1) mangirdak/mambosuri, (2) mangharoani, (3) mebat/paebathon, (4) tardidi. Performances in the traditional wedding ceremony, namely: (1) marhusip/marhori-hori dinding, (2) marhata sinamot, (3) martumpol, (4) marsibuhai-sibuhai, (5) manjalo pasu-pasu parbogashon, (6) marunjuk, (7) paulak une, and (8) manikkir tangga. Performances in the traditional death ceremony, namely: (1) martonggo raja, (2) sarimatua, and (3) saurmatua. Indexicality in the Toba Batak traditional ceremony, namely, (1) umpasa, (2) ulos. Participants of umpasa in giving ulos at the Toba Batak traditional ceremony are Dalihan Natolu (1) hula-hula, (2) dongan tubu, and (3) boru.
BULANG (WOMEN’S HEAD COVERING) SIMALUNGUN BATAK ETHNIC damanik, ramlan; sinaga, warisman; r purba, asriaty; sinulingga, jekmen; herlina
Lingue : Jurnal Bahasa, Budaya, dan Sastra Vol. 6 No. 1 (2024): Indonesian Language and Literature Studies
Publisher : LP2M IAIN Ambon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33477/lingue.v6i1.7568

Abstract

This article was written to reveal the meaning of the head covering for women or bulang for the Simalungun Batak community. The use of bulang or head coverings for women and what the meaning and function are for millennials, especially those who live in urban areas, has very little understanding. Therefore, the author created this article for describing the types of bulang and what the function and meaning of bulang are for the Simalungun Batak ethnic community. This research uses a qualitative approach and descriptive method and uses semiotic theory by Charles Sanders Pierce and data collection is carried out by observation, interviews and literature study. Data analysis was carried out using data reduction, translation and conclusions and suggestions. There are 4 types of bulang, namely Bulang Sulappei, Bulang Teget, Bulang Suyuk /Gijang and Bulang Hurbu Salalu. Bulang is for head cover and for giving identity. The meaning of wearing this bulang is as a symbol of maturity for Simalungun women.
The Simalungun Script in the Development of Cultural Heritage and Local Wisdom Learning Plans Damanik, Ramlan; Sinaga, Warisman; Herlina; Purba, Asriaty r; Sinulingga, Jekmen
Jurnal Pembelajaran Bahasa dan Sastra Vol. 4 No. 3 (2025): Mei 2025
Publisher : Raja Zulkarnain Education Foundation

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55909/jpbs.v4i3.745

Abstract

The Simalungun script is one of the intangible cultural heritages of the Simalungun Batak community, possessing significant historical, linguistic, and symbolic value. However, modern developments and the dominance of the Latin alphabet have led to a significant decline in its usage. This article aims to examine the role of the Simalungun script in cultural heritage development through a community-based preservation and revitalization approach. Utilizing Laurajane Smith’s (2006) theory of heritage preservation and an ecolinguistic perspective, this study analyzes strategies for strengthening the Simalungun script through education, digitalization, and integration into creative media. The research employs a descriptive method with a qualitative approach. The findings reveal that the Simalungun script can serve as a contextual and educational tool for cultural transformation and identity formation among younger generations. School involvement programs, the development of local curriculum, and the implementation of technology-based initiatives using the script have proven effective in raising awareness and enhancing cultural literacy skills. The study also identifies that the Simalungun script consists of 19 ina ni surat (main letters): a, ha/ka, ba, pa, na, wa, ga, ja, da, ra, ma, ta, sa, ya, nga, la, nya, i, and u. These characters are typically curved and angular, and are written from left to right on media such as tree bark, bamboo, or bone. Additionally, eight anak ni surat (derived letters) are recognized: haluan, haboritan, hatalingan, sihorlu, hamisaran, hatulungan, hajoringan, and panongon. Therefore, preserving the Simalungun script is not merely an act of conservation, but a dynamic strategy for the development of cultural heritage that is adaptive to the times.