Claim Missing Document
Check
Articles

Upacara Adat Mangongkal Holi Etnik Batak Toba : Kajian Semiotika Simbolon, Selvi; Damanik, Ramlan; Sinulingga, Jekmen; Sinaga, Warisman; Tampubolon, Flansius
Jurnal Pendidikan Tambusai Vol. 8 No. 2 (2024)
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai, Riau, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Artikel ini berjudul Upacara Adat Mangongkal Holi Etnik Batak Toba : Kajian Semiotika. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif yang menggunakan teori semiotika yang dikemukakan oleh Charles Sander Peirce. Metode yang digunakan adalah metode deskriptif berlokasi di Desa Parhabinsaran Janji Matogu, Kecamatan Uluan, Kabupaten Toba. Hasil penelitian upacara adat mangongkal holi menjadi 3 tahapan. Tahapan pertama yaitu pra upacara adat mangongkal holi terbagi menjadi dua acara yaitu manopot angka hula-hula ni si ongkalon (menjumpai para marga dari pihak istri yang akan digali) dan martonggo raja (musyawarah tokoh adat Batak). Tahap kedua yaitu pelaksanaan mangongkal holi, terbagi dua acara yaitu acara penggalian tulang belulang (mangongkal holi), mata ni horja (pesta adat). Tahap ketiga, pasca mangongkal holi terbagi dua acara menguburkan kembali dan manambak (pesta tambak). Ada 25 simbol-simbol : Pinahan Lobu, Dekke Sitio-tio, Tambak : tugu, Gorga Simata Ni Ari, Gorga Ipon-Ipon, Gorga Gaja Dompak, Gorga Sompi-sompi, Ulos Ragidup, Gorga Jogia, Gorga Batu Assimun, Gorga Sigumang, Gorga Pinarhalak Boru, Gorga Pinarhalak Bawa, Gorga Lipan-Lipan, Ulos Sadum Panoropi, Uang, Air jeruk purut dan Kunyit, Ruma-ruma : Peti kecil, Demban Tiar, Sortali Boru, Sortali Bawa, Kerbau, Somba Marhula-Hula, Elek Marboru, Manat Mardongan Tubu
Pembelajaran Aksara Batak Toba melalui Huling-Huling Ansa sebagai Pembentukan Karakter Sagala, Erosima; Sinaga, Warisman; Purba, Asriaty R; Sinulingga, Jekmen; Herlina, Herlina
Jurnal Pendidikan Tambusai Vol. 8 No. 2 (2024)
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai, Riau, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Artikel ini berjudul Pembelajaran Aksara Batak Toba Melalui Huling-huling Ansa Sebagai Pembentukan Karakter. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan model pembelajaran Aksara Batak Toba melalui huling-huling ansa sebagai pembentukan karakter dan menjelaskan nilai-nilai karakter yang terdapat dalam pembelajaran aksara Batak Toba melalui huling-huling ansa sebagai pembentukan karakter. Teori yang digunakan dalam menganalisis data pada penelitian ini ada dua yaitu teori pembelajaran konstrukstivisme yang dikemukakan oleh Sigit Mangun Wardoyo dan teori kearifan lokal yang dikemukakan oleh Robert Sibarani. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif kualitatif. Pada penelitian ini ditemukan hasil metode pembelajaran yang digunakan yaitu menggunakan metode pembelajaran Contextual Teaching and Learning (CTL) melalui pendekatan huling-huling ansa, dan melaksanakan tujuh komponen sebelum memulai kegiatan pembelajaran, yaitu: konstrukstivisme, inkuiri, bertanya, masyarakat belajar, pemodelan, refleksi dan pemodelan nyata. Selain itu, enam langkah-langkah yang diterapkan yaitu: tahap pengenalan, tahap pengaitan, tahap penafsiran, tahap implementasi, tahap refleksi ,dan tahap evaluasi. Selanjutnya ditemukan nilai-nilai karakter yang terdapat pada pembelajaran, yaitu: religius, jujur, toleransi, disiplin, kerja keras, kreatif, mandiri, demokratis, rasa ingin tahu, semangat kebangsaan, cinta tanah air, menghargai prestasi, bersahabat, cinta damai, gemar membaca, peduli lingkungan, peduli sosial dan tanggung jawab.
Pengenalan Aksara Batak Simalungun bagi Siswa Sekolah Dasar Negeri 091311 Pargampualan Kecamatan Panombean Panei Kabupaten Simalungun Sinaga, Warisman; Damanik, Ramlan; Sinulingga, Jekmen; Purba, Asriaty R; Tampubolon, Flansius; Herlina, Herlina; Mulyani, Rozanna; Fadlin, Fadlin; Baharuddin, Baharuddin; Sembiring, Sugihana
Jurnal Pendidikan Tambusai Vol. 8 No. 2 (2024)
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai, Riau, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Aksara Batak Simalungun memiliki bentuk yang unik dan berbeda dari aksara Latin yang biasa digunakan dalam sistem pendidikan nasional. Kurangnya pengetahuan dan keterampilan dalam membaca serta menulis aksara Batak Simalungun di kalangan generasi muda dapat mengancam keberlangsungan aksara ini. Aksara Batak Simalungun memiliki bentuk yang lebih kompleks dan artistik, dengan garis-garis yang lebih meliuk-liuk dan berpola. Kesan ornamen dan hiasan tampak jelas dalam aksara ini. Aksara ini digunakan dalam naskah-naskah adat, cerita rakyat, dan seni ukir oleh suku Simalungun. Aksara Simalungun hanya memiliki 19 huruf dan harus menggunakan 8 tanda bacanya dalam penulisan. Oleh karena itu, pengenalan dan pembelajaran aksara Batak Simalungun di sekolah dasar sangatlah penting. Kegiatan pengabdian kepada Masyarakat ini bertujuan untuk mengenalkan aksara Batak Simalungun kepada siswa Sekolah Dasar Negeri 091311 Pargampualan., meningkatkan kesadaran siswa akan pentingnya melestarikan warisan budaya lokal., membekali siswa dengan keterampilan dasar membaca dan menulis aksara Batak Simalungun. Kegiatan ini sejalan dengan Tri Dharma Perguruan Tinggi. Hasil Pengabdian ini yakni terdapat 19 induk surat. Dalam Pelaksanaan Pengabdian ini Mengenalkan Aksara Batak Simalungun kepada Siswa Sekolah Dasar Negeri 091311 Pargampualan, Meningkatkan Kesadaran Siswa Akan Pentingnya Melestarikan Warisan Budaya Lokal, Membekali Siswa dengan Keterampilan Dasar Membaca dan Menulis Aksara Batak Simalungun. Dengan pengabdian inidiharap mendapatkan dukungan dari pihak sekolah serta masyarakat, diharapkan siswa dapat mengenali, memahami, dan mencintai aksara Batak Simalungun sebagai bagian dari identitas mereka. Upaya ini tidak hanya akan memperkaya wawasan budaya siswa, tetapi juga menjaga keberlangsungan aksara Batak Simalungun di masa depan.
Rurun Merga Silima dalam Etnik Batak Karo : Kajian Semiotika Sosial Depari, Edi; Tampubolon, Flansius; Sinulingga, Jekmen; Herlina, Herlina; Sinaga, Warisman
Jurnal Pendidikan Tambusai Vol. 8 No. 3 (2024)
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai, Riau, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk (1). Mendeskripsikan rurun merga silima dalam etnik Batak Karo. (2). Mendeskripsikan fungsi rurun merga silima dalam etnik Batak Karo. (3). Mendeskripsikan makna rurun merga silima dalam etnik Batak Karo. Teori yang digunakan dalam penelitian ini merupakan teori semiotika sosial oleh Pateda. Metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu metode kualitatif. Adapun hasil yang didapatkan penulis dari penelitian ini adalah rurun merga silima dalam etnik Batak Karo antara lain sebagai berikut: untuk Karo-karo memiliki 17 sub merga, masing-masing memiliki rurun merga yaitu sekali Riong, kemit Logos, samura Tabong, sitepu Ganding, sinulingga Mangkok, sinuraya Tabong, sinuhaji Logos, sinukaban Cinor, surbakti Gajah, kacaribu Mitut, barus Cinor, bukit Logos, kaban Cinor, ujung Logos, purba Lagat, ketaren Kolam dan gurusinga Pabelo. Untuk Ginting memiliki 16 sub merga, masing-masing memiliki rurun merga yaitu babo Gajut, sugihen Nangkul, suka Mburak, beras Mbayak, anjartambun Kapor, garamata Mburak, jandibata Canggah, pase Gudam, munte Mburak, manik Mangat, sinusinga Mburak, seragih Mburak, jawak Lajor, tumangger Lajor, capah Ciak dan gurupatih Gurah. Untuk Tarigan memiliki 14 sub merga, masing-masing memiliki rurun merga yaitu bondong Batu, jampang Lumbung, gersang Mondan, gana-gana Gombong, pekan Kawas, tambak Turah, purba Batu, sibero Batu, silangit Segar, tegur Batu, tambun Mondan, tua Mondan, gerneng Kawas, dan tendang Kawas. Untuk Sembiring memiliki 19 sub merga, masing-masing memiliki rurun merga yaitu kembaren Ropo, keloko Daram, sinulaki Rontang, sinupayung Ropo, brahmana Kawar, pandia Gobang, colia Kuliki, gurukinayan Pagoh, keling Gawah, pelawi Talah, depari Togong, busuk Jambe, bunuaji Baji, meliala Jemput, maha Pasir, muham Bugan, pandebayang Jemput, sinukapur Bugan dan tekang Jambe. Dan perangin-angin memiliki 18 sub merga, masing-masing memiliki rurun merga yaitu mano Mundong, sebayang Rabun, pencawan Jambor, sinurat Tangko, perbesi Rabun, ulunjandi Ramban, penggarun Guni, pinem Jaren, uwir Sagu, laksa Batonggan, singarimbun Kerangen, keliat Teger, kacinambun Njorang, bangun Teger, tanjung Tuluk, manjerang Batok, namohaji Gudong dan sukatendel Gantang. Fungsi rurun merga silima dalam etnik Batak Karo yaitu memudahkan memanggil seseorang dan pengenalan asal-usul merga seseorang. Makna rurun merga silima dalam etnik Batak Karo berupa pengenalan karakter dari merga seseorang.
Simbol Pada Abit Sabe-Sabe Etnik Batak Angkola/Mandailing : Kajian Semiotika Siagian, Anggi Novita; Damanik, Ramlan; Sinulingga, Jekmen; Sinaga, Warisman; Herlina, Herlina
Jurnal Pendidikan Tambusai Vol. 8 No. 3 (2024)
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai, Riau, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini berjudul Simbol Pada Abit Sabe-Sabe Etnik Batak Angkola/Mandailing Kajian Semiotika. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif deskriptif yang bertujuan untuk mendeskripsikan apa saja simbol motif yang terdapat pada abit sabe-sabe, apa saja fungsi simbol yang terdapat pada abit sabe-sabe, apa saja makna yang terdapat pada abit sabe-sabe. Penulis menggunakan teori semiotika yang dikemukakan oleh Charles Sander Peirce. Metode yang digunakan adalah metode deskriptif, dan lokasi penelitian ini di Desa Paranjulu, Kecamatan Sipirok Kabupaten Tapanuli Selatan. Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa motif simbol pada abit sabe-sabe etnik Batak Angkola/Mandailing di Kabupaten Tapanuli Selatan Sipirok terdiri dari 18 motif yaitu rambu, manik-manik simata, sirat, pusuk robung, luslus, tutup mumbang, iran-iran, jojak mata-mata, yok yok mata pune, ruang, sijobang, singap, horas tondi madingin sayur matua bulung, bunga, suri-suri, dalihan natolu, tugu. Bentuk dari motif simbol pada Abit Sabe-sabe Batak Angkola/Mandailing ialah berbentuk geometris dan dekoratif. Sumber inspirasi dari motif tenun simbol pada abit sabe-sabe etnik Batak Angkola/Mandailing ialah makhluk hidup dan lingkungan sekitar. Makna konotasi dan makna denotasi yang terkandung dalam motif tenun Abit Sabe-sabe etnik Batak Angkola/Mandailing yaitu berupa nasehat, harapan, dan doa serta silsilah keluarga Masyarakat Batak Angkola/Mandailing.
Pengunaan Ulos sebagai Talitali Pada Masyarakat Batak Toba : Kajian Kearifan Lokal Simanjuntak, Elisa; Sibarani, Robert; Tampubolon, Flansius; Sinaga, Warisman; Herlina, Herlina
Jurnal Pendidikan Tambusai Vol. 8 No. 3 (2024)
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai, Riau, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini membahas tentang Penggunaan Ulos Sebagai Talitali Pada Masyarakat Batak Toba: Kajian Kearifan Lokal. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tahapan-tahapan bentuk Ulos Talitali yang terdapat pada masyarakat Batak Toba, jenis-jenis Ulos yang digunakan sebagai Talitali, kearifan lokal yang terdapat pada Talitali Ulos masyarakat Batak Toba. Metode ini bersifat interaktif kualitatif dan teknik lapangan. Penelitian ini menggunakan teori Kearifan Lokal oleh Sibarani. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa, tahapan-tahapan bentuk Talitali, yaitu: (1) Kain ulos mangiring harus diletakkan atau dibentangkan dengan cara yang khusus dan teratur; (2) lipat kain ulos dari salah satu sisi sebelah kiri hingga membentuk segitiga siku-siku; (3) Setelah itu, lipat kain ulos sebanyak tiga kali dan dibalik untuk menyesuaikan dengan bentuk kepala; (4) Kemudian, saat talitali dipakai, lipatan kain ulos harus membentuk pola yang menyerupai rumah adat Batak Toba. Selain itu, jenis-jenis ulos yang terdapat pada Talitali yaitu: (1) Talitali Bintang Maratur; (2) Talitali Bolean; (3) Talitali Sitolu Tuho; (4) Talitali Tumtuman Suratti; (5) Talitali Simarpisoran; (6) Talitali Tolu Bolit atau Bonang; (7) Talitali Pinutor; (8) Talitali Na Marmutiha; (9) Talitali Jujung Buhit; (10) Talitali Sampu Borna; (11) Talitali Ramban. Nilai kearifan lokal yang terdapat pada Talitali antara lain: (a) Kedamaian, terdiri dari (1) Kesopansantunan; (2) Kejujuran; (3) Komitmen; (4) Pikiran Positif; (5) Rasa Syukur. (b) Kesejahteraan terdiri dari (1) Kerja Keras; (2) Pelestarian dan Kreativitas Budaya. Dapat disimpulkan bahwa penggunaan Ulos sebagai talitali adalah nilai spiritual dengan adanya nilai sakral dan tidak sembarangan orang yang menggunakannya, karena adanya bentuk ikatan kasih artinya Ulos melambangkan persaudaraan dalam ikatan kasih.
Gaya Bahasa Pada Umpasa Marhata Sinamot Etnik Batak Toba: Kajian Stilistika Togatorop, Julhayati; Purba, Asriaty; Tampubolon, Flansius; Sinulingga, Jekmen; Sinaga, Warisman
Jurnal Pendidikan Tambusai Vol. 8 No. 3 (2024)
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai, Riau, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini berjudul Gaya Bahasa Pada Umpasa Mahata Sinamot Etnik Batak Toba: Kajian Stilistika. Umpasa adalah salah satu jenis yang berbentuk pantun atau syair yang mengandung makna seperti makna restu, harapan, doa ataupun nasehat yang dimiliki etnik Batak Toba dan dituturkan di upacara adat Batak Toba dan disampaikan oleh raja parhata. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan gaya bahasa atau majas pada umpasa marhata sinamot etnik Batak Toba. Teori majas sesuai untuk penelitian ini adalah teori Stilistika oleh henry Guntur Tarigan 2013. Penelitian ini menggunakan adalah metode kualitatif bersifat deskriptif. Sumber data dalam adalah studi pustaka dan narasumber/raja parhata dalam upacara marhata sinamot. Dari penelitian ini hasil yang diperoleh adalah: Pada umpasa marhata sinamot etnik Batak Toba ialah: 1). Gaya bahasa pengulangan terdapat 4 jenis yaitu Asonansi, Mesodilopsis, Antanaklasis, anafora. 2). Gaya bahasa perbandingan terdapat 4 jenis yaitu: Perumpamaan, defersonifiksi, pleonasme, perifeasis. 3). Gaya bahasa pertentangan terdapat 4 jenis yaitu: oksimoron, ironi, inuendo, sarkasme. 4). Gaya bahasa pertautan terdapat 2 jenis yaitu: metonimia dan antonomasia. Makna dari umpasa marhata sinamot etnik Batak Toba adalah berupa ungkapan pengharapan, nasehat, dan penderitaan pada setiap kalimat umpasa marhata sinamot upacara adat etnik Batak Toba.
Ornamen Makam Raja Sidabutar : Kajian Semiotika Panjaitan, Novita Marlina; Tampubolon, Flansius; Sinulingga, Jekmen; Siahaan, Jamorlan; Sinaga, Warisman
Jurnal Pendidikan Tambusai Vol. 8 No. 3 (2024)
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai, Riau, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Makam adalah tempat peristirahatan terakhir seseorang yang sudah meninggal dunia. Salah satunya makam Raja Sidabutar yang merupakan makam tertua di Tomok, raja Sidabutar ini adalah orang yang pertama berada di Tomok dan memiliki banyak sejarah kehidupan raja-raja Sidabutar yang dikenal dengan kesaktiannya. Raja Sidabutar ini sebelum meninggal mereka sudah mempersiapkan makam nya. Makam raja Sidabutar ini dibuat dari batu alam yang diukir berbentuk kepala yang ukiran dipahat oleh tangan (gorga) yang menjadi simbol spiritual orang Batak Toba dengan tiga warna yaitu: merah artinya keberanian, putih artinya kesucian, hitam artinya kepemimpinan. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan bentuk simbol yang ditemukan dalam makam Raja Sidabutar, mendeskripsikan fungsi dan makna simbol yang terdapat pada makam Raja Sidabutar. Teori yang digunakan untuk menganalisis data hasil penelitian ini merupakan teori semiotik yaitu simbol yang dikemukakan oleh Peirce dan makna yang dikemukan oleh Ogden dan Richard. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa simbol yang terdapat pada makam Raja Sidabutar memiliki 13 bentuk Simbol, fungsi simbol dan makna simbol yang meliputi simbol peralatan, simbol mantra. Makam Raja Sidabutar memiliki 10 jenis simbol peralatan antara lain : Ulos, Pintu masuk makam Raja Sidabutar, cicak "Boras Pati", payudara "Odap-odap", makam Raja Sidabutar (Ompu Soribuntu Sidabutar), makam Raja Sojoloan Sidabutar (Ompu Na Ibatu), anting malela boru Sinaga, rambut panjang "Simba", Dalihan Na Tolu, bendera Batak Toba.1 jenis simbol mantra yaitu : bunga dan air. 3 jenis simbol peralatan antara lain : panglima Tengku Muhammad Said, makam Ompu Solompoan Sidabutar, pintu keluar makam Raja Sidabutar. Setiap simbol memiliki fungsi dan makna yang tertentu terhadap makam Raja Sidabutar. Dengan demikian maka dapat disimpulkan bahwa makam Raja Sidabutar masih memiliki tradisi yang hingga saat ini dilakukan dan dilaksanakan. Sehingga peninggalan sejarah raja Sidabutar tidak hilang dan masih memiliki simbol dan fungsi serta makna yang terdapat pada makam Raja Sidabutar.
Legenda Raja Sumba di Desa Tipang Kecamatan Baktiraja: Kajian Psikologi Sastra Simanjutak, Sadrak; Tampubolon, Flansius; Sinaga, Warisman; Sinulingga, Jekmen; Purba, Asriaty R.
Jurnal Pendidikan Tambusai Vol. 8 No. 3 (2024)
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai, Riau, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Masalah dalam penelitian ini adalah unsur-unsur intrinsik dan aspek psikologi tokoh yaitu: id, ego, dan superego, pada tokoh Legenda Raja Sumba di Desa Tipang Kecamatan Baktiraja. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif kualitatif. Penelitian ini mengguanakan teori kepribadian psikoanalisis Sigmund Freud. Berdasarkan hasil penelitian ditemukan, yakni: 1. Unsur intrinsik pada Legenda Raja Sumba di Desa Tipang Kecamatan Baktiraja: tema, alur, latar/setting, perwatakan, sudut pandang, dan amanat. 2. Selain itu, penelitian juga menghasilkan struktur kepribadian id, ego, dan superego, yang terdapat pada tokoh Raja Sumba, Sorbadibanua, Raja Sobu, Naipospos, dan Siboru Pareme, dalam Legenda Raja Sumba di Desa Tipang Kecamatan Baktiraja. Dalam legenda Raja Sumba di Desa Tipang Kecamatan Baktiraja ada tokoh Raja Sumba yang menunjukkan kepribadian id, ego, superego. Peran id yang mengepresikan keinginan dan kebutuhan yang mendalam, ego menunjukkan kemampuan untuk berpikir realistis dan dapat di terima secara sosial, dan superego bagian moral dan kepribadian yang mewakili nilai-nilai atau aturan sosial yang di tanamkan melalui pendidikan, lingkungan dan budaya. Superego bekerja sebagai suara hati yang menilai apakah tindakan itu benar.
Ndilo Wari Udan Pada Etnik Batak Karo Kajian : Semiotika Sosial Gultom, Frendy Hendrico; Sinaga, Warisman; Tampubolon, Flansius; Sinulingga, Jekmen; Purba, Asriaty R.
Jurnal Pendidikan Tambusai Vol. 8 No. 3 (2024)
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai, Riau, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini berjudul Ndilo Wari Udan pada Etnik Batak Karo Kajian : Semiotika Sosial. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan apa saja bentuk symbol, fungsi simbol dan makna simbol yang terdapat pada Ndilo Wari Udan etnik Batak Karo. Ndilo Wari Udan adalah salah satu istilah dalam budaya etnik Batak Karo yang berkaitan dengan tradisi atau kepercayaan masyarakat setempat. Secara harfiah, istilah ini terdiri dari kata "Ndilo" yang berarti "mengundang" atau "memanggil", "Wari" yang artinya "hari", dan "Udan" yang berarti "hujan". Jika digabungkan, Ndilo Wari Udan dapat diartikan sebagai memanggil hujan pada hari tertentu, kegiatan ini dilaksanakan ketika musim kemarau panjang. Penelitian ini menggunakan metode penelitian deskriptif kualitatif. Penelitian ini menggunakan teori semiotika sosial yang dikemukakan oleh Haliday. Berdasarkan hasil penelitian yang ditemukan sebanyak 20 bentuk simbol, simbol peralatan sebanyak 8 bentuk dan simbol makanan ada sebanyak 12 bentuk simbol.