Claim Missing Document
Check
Articles

Found 22 Documents
Search

PENGARUH PEMERAMAN TANAH TERHADAP CBR TANAH YANG DISTABILISASI DENGAN ABU ARANG BIJI HANJELI Rombe Dendo, Ermitha Ambun; Masiku, Henrianto; Artanto Ampangallo, Bastian; Lody Honta Lambe, Zwengly; S. Mapaliey, Yulieanti; Kaalapadang, Escher
Jurnal Dynamic Saint Vol 8 No 2 (2023): Journal Dynamic Saint
Publisher : Publikasi dan UKI Press UKI Toraja.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47178/tpkwq833

Abstract

Peningkatan daya dukung tanah lunak perlu dilakukan sebelum konstruksi dibangun diatasnya sehingga konstruksi memiliki umur layanan yang lebih lama. Bahan alami yang dapat dipertimbangkan untuk digunakan sebagai bahan stabilisasi tanah yaitu abu biji hanjeli karena mengandung silika 10,53% dan kulit biji hanjeli mengandung silika 16% Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah eksperimental laboratorium. Pengujian sampel dilakukan di Labaroratorium Teknik Sipil UKI Toraja. Sampel tanah diambil dari Pamibak Utara, Lembang Sikuku’, Kecamatan Kapalapitu dan biji hanjeli diambil dari Lembang Pangala’, Kecamatan Rindingallo, Kabupaten Toraja Utara. Biji hanjeli dibakar pada suhu 600 oC hingga kemudian dihaluskan dan disaring menggunakan saringan no. 200 untuk memperoleh abu. Pengujian yang dilakukan yaitu uji CBR tanah dengan variasi pemeraman benda uji berumur 14 hari dan 28 hari dengan variasi abu biji hanjeli 5%, 10% dan 15% dari berat tanah kering Berdasarkan analisis hasil pengujian tanah lempung tanpa abu biji hanjeli diperoleh nilai berat jenis 2,60. Berdasarkan analisa butiran lolos saringan no 200 sebanyak 90,98%. Tanah memiliki batas cair 46,11%, batas plastis 33,77% dan indeks plastisitas 12,34%. Pada pengujian sifat fisik tanah lempung abu biji diperoleh nilai berat isi kering kompaksi 1,46 gr/cm3, kadar air optimum kompaksi 26%, dan hasil pengujian CBR diperoleh nilai 3,13%. Tanah dengan variasi abu biji hanjeli 5%, 10% dan 15% diperoleh nilai CBR untuk pemeraman 7 sebesar 6,34% 10,3% dan 14,07. Sedangkan untuk pemeraman 28 hari diperoleh nilai CBR berturut-turut 8,14%, 11,8%, dan 16,3 %. 
ANALIAS KUAT TARIK BELAH BETON PORUSYANG MENGGUNAKAN BAHAN TAMBAHABU CANGKANG KERANG HIJAU Artanto Ampangallo, Bastian; Rangan, Parea Rusan; Ambun, Ermitha; Ganti, Abraham; Runtukahu, Regita; Patongloan, Zain
Jurnal Dynamic Saint Vol 8 No 2 (2023): Journal Dynamic Saint
Publisher : Publikasi dan UKI Press UKI Toraja.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47178/ya1waq19

Abstract

Sebagian besar sarana transportasi di Indonesia saat ini sudah berupa aspal konvensional atau beton.” Berbagai penelitian dan percobaan dibidang beton dilakukan sebagai upaya untuk meningkatkan kualitas beton terutama juga pada beton porous. Peningkatan kualitas beton dapat dilakukan dengan penambahan bahan tambah. Bahan-bahan di sekitar lingkungan daapat dimanfaatkan sebagai bahan tambah dalam campuran beton porous. Oleh karena itu, peneliti menggunakan limbah cangkang kerang hijau sebahai bahan tambah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui nilai dari kuat lentur, kuat Tarik belah, permeabilitas dan porositas. Penelitian ini digunakan metode eksprimental, menggunakan cetakan silider dengan ukuran 30 cm x 15 cm. Perancangan campuran didasarkan pada standar ACI 522R-2010. Komposisi penambahan abu cangkang kerang hijau dalam penelitian ini sebesar 2%, 4%, 6% dari berat semen dan 0% sebagai pembandingan dengan umur perawatan 3, 7, 14, 21 dan 28 hari. Berdasarkan analisis data dari hasil pengujian pada umur 28 hari, kuat tarik belah rata-rata penambahan abu cangkang kerang hijau 2%, 4%, 6% yaitu 1,522 MPa, 1,557 MPa  dan 2,23 MPa dengan persentase peningkatan berturut-turut 2,49%, 4,85% dan 50,17% dari kuat tarik belah beton porus tanpa abu cangkang kerang hijau
PENGARUH PENAMBAHAN SERBUK ARANG DANSEMEN SEBAGAI BAHAN STABILISASI LATERITUNTUK ROAD SUBBASE Ambun, Ermitha; Rangan, Parea Rusan; Ampangallo, Bastian; Ganti, Abraham
Jurnal Dynamic Saint Vol 6 No 2 (2021): Jilid 6 Volume 2
Publisher : Publikasi dan UKI Press UKI Toraja.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47178/vyf3eg10

Abstract

Penelitian ini menggunakan serbuk arang kayu dan semen sebagai bahan stabilisasi. Metode penelitian yang digunakan adalah studi ekperimental yang dilakukan di laboratorium, yang berpedoman pada SNI - 1744 – 2012 mengenai CBR tanah. Variasi campuran serbuk arang kayu yang merupakan bahan stabilisasi sebanyak 6%,9% dan 12% dan semen sebanyak 3%. Tanah diperam selama 1, 7 dan 14 hari untuk mengetahui besarnya nilai CBR yang kemudian dikonfersi menjadi nilai daya dukung tanah. Pengujian yang dilakukan adalahpengujian karakteristik fisik dan tanah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa abu arang kayu dan semen efektif meningkatkan daya dukung tanah. Kenaikan nilai daya dukung tanah disebabkan oleh meningkatnya nilai CBR pada setiap kenaikan komposisi abu arang kayu dalam tanah. Kadar air optimum yang digunakan berfungsi sebagai pelumas bekerja membawa butiran abu arang kayu dan semen kedalam rongga antar butir tanah. Silika pada abu arang yang berfungsi sebagai pozzolan dan semen sebagai material perekat kemudian merekatkan butir tanah sehinggamenjadi lebih keras dan solid. Dengan demikian tanah lebih mampu untukmenerima beban dan nilai CBR serta Daya Dukung Tanah tanah jugamengalami kenaikan maksimum hingga 25.806 % terhadap tanah tanpapenambahan abu arang kayu. Kenaikan daya dukung tanah pada tanah dengan campuran 6%, 9% dan 12 % Arang Kayu serta 3% Semen terhadap tanah tanpa campuran abu arang kayu dan semen berturut turut 12.903%, 25.806% dan 14.516%. Komposisi terbaik abu arang kayu dan semen untuk bahan stabilisasi adalah campuran pada 9% Abu Arang Kayu & 3% Semen.
STUDI PENGARUH PENAMBAHAN WATERGLASS DAN LIMBAH KARBIT SEBAGAI SUBSTITUSI SEBAGIAN SEMEN TERHADAP KUAT TEKAN DAN KUAT TARIK BELAH PADA BETON Irianto; Rangan, Parea Rusan; Dendo, Ermitha Ambun Rombe; Miri, Gersony; Biang, Fery D.; Matasik, Rael Rabang; Lumembang, Agustina
Jurnal Dynamic Saint Vol 8 No 2 (2023): Journal Dynamic Saint
Publisher : Publikasi dan UKI Press UKI Toraja.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47178/pm7hc028

Abstract

Beton merupakan bahan kontruksi yang mempunyai banyak kelebihan dan mudah dikerjakan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh penambahan Waterglass dan Limbah Karbit sebagai substitusi sebagian semen pada beton. Dari hasil penelitian diperoleh Kuat tekan beton normal pada umur 28 hari sebesar 25,67 Mpa, sedangkan pada umur beton 28 hari, beton dengan variasi waterglass 4% dan limbah karbit 4% memiliki kuat tekan sebesar 27,18 Mpa atau naik 5,88%, beton dengan variasi bahan waterglass 6% dan limbah karbit 6% memiliki kuat tekan sebesar 28,03 Mpa atau naik 9,19% , beton dengan variasi waterglass 8% dan limbah karbit 8 % memiliki kuat tekan sebesar 30,10 Mpa atau naik 17,26% dari kuat tekan beton normal. Kuat tarik belah beton normal pada umur 28 hari sebesar 2,52 Mpa. Sedangkan pada beton umur 28 hari, beton dengan variasi waterglass 4% dan limbah karbit 4% memiliki nilai kuat tarik belah sebesar 2,62 Mpa atau naik 3,97% , beton dengan variasi waterglass 6% dan limbah karbit 6% memiliki nilai kuat tarik belah sebesar 2,74 Mpa atau naik 8,73%, beton dengan variasi waterglass 8% dan limbah karbit 8% memiliki nilai kuat tarik belah sebesar 2,97 Mpa atau naik 17,86% dari kuat tarik belah beton normal. Dengan menambahkan kedua bahan ini sebagai substitusi sebagian semen pada campuran beton diharapkan dilakukan penelitian selanjutnya dengan benda uji kubus beton dengan variasi penggunaan waterglass dan limbah karbit sebagai substitusi semen yang sama pada beton mutu tinggi.
CULTURE-BASED EDUCATION IN TONGKONAN CONSTRUCTION ACTIVITIES Dendo, Ermitha Ambun Rombe; Ampangallo, Bastian artanto; Arrang, Abdias Tandi; Masiku, Henrianto
Jurnal Literasiologi Vol 12 No 3 (2024): Jurnal Literasiologi
Publisher : Yayasan Literasi Kita Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47783/literasiologi.v12i3.763

Abstract

This study explores the integration of culture-based education into the construction activities of Tongkonan, traditional Torajan ancestral houses in Indonesia. Tongkonan not only serve as architectural marvels but also embody cultural values, social structures, and ancestral heritage. The research examines how incorporating cultural education into the construction process can enhance both the preservation of traditional practices and the educational outcomes for participants. By analyzing case studies of Tongkonan construction projects, the study identifies key pedagogical strategies that leverage cultural narratives, traditional craftsmanship, and community rituals. Findings suggest that such an approach fosters a deeper appreciation for cultural heritage, improves skill acquisition, and strengthens communal bonds. The study concludes with recommendations for educational frameworks that integrate cultural elements into construction training programs, aiming to sustain both the physical and intangible heritage of the Torajan people.
Pengaruh Campuran Metakaolin dan Waterglass Terhadap Nilai California Bearing Ratio Tanah Lempung Ganti, Abraham; Ambun RD, Ermitha; Escher Kalapadang; Rabang Matasik, Rael; Daud Biang, Feri
Journal of Mandalika Literature Vol. 6 No. 1 (2025)
Publisher : Institut Penelitian dan Pengembangan Mandalika (IP2MI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36312/jml.v6i1.3937

Abstract

Tanah dasar yang baik untuk konstruksi mempunyai daya dukung yang cukup untuk menerima beban diatasnya serta berkemampuan mempertahankan perubahan volume selama masa pelayanan. Namun tidak semua tempat memiliki tanah dengan daya dukung yang baik bahkan tanah cenderung lunak. Perlu dilakukan perbaikan tanah sebelum dilakukan pembangunan konstruksi diatas tanah lunak. Stabilisasi merupakan salahsatu solusi perbaikan tanah lunak menggunakan bahan campuran dan diharapkan dapat meminimalisir sifat-sifat tanah yang kurang baik. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi pengaruh penggunaan metakaolin dan waterglass sebagai bahan stabilisasi tanah. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah uji eksperimental di laboratorium dengan mencampurkan tanah dengan waterglass dan metakaolin. Pengujian sampel dilakukan di Laboratorium Geoteknik Teknik Sipil UKI Toraja meliputi uji berat jenis, uji distribusi butiran tanah, uji batas-batas atterberg, uji kepadatan tanah dan uji CBR. Variasi metakaolin dan waterglass yang digunakan dalam penelitian ini yaitu variasi 0%, 5%, 10% dan 15% dari berat tanah kering serta abu waterglass 10% dari berat air. Hasil pengujian CBR pada tanah dengan bahan stabilisasi dengan memberikan kenaikan tertinggi pada pemeraman 12 hari dengan variasi metakaolin dan waterglass yang digunakan 5%, 10% dan 15% serta 10% waterglass masing-masing sebesar sebesar 1.82%, 2.39% dan 3.11% terhadap tanah yang tidak menggunakan bahan stabilisasi metakaolin dan watergalass.
Efektifitas Abu Daun Salak Dan Waterglass Sebagai Bahan Stabilisasi Tanah Lempung Lunak Ermitha Ambun RD; Yohanis Bara Lotim; Regita O. Runtukahu; Yulienty Sarah Mapaliey
Journal of Mandalika Literature Vol. 6 No. 1 (2025)
Publisher : Institut Penelitian dan Pengembangan Mandalika (IP2MI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36312/jml.v6i1.3977

Abstract

Masalah utama pembangunan konstruksi di tanah lunak adalah terbatasnya daya dukung dan penurunan tanah yang besar dan cenderung tidak seragam. Kondisi tersebut dapat menyebabkan kerusakan baik kerusakan alam seperti tanah longsor maupun kerusakan pada konstruksi bangunan. Perlu dilakukan perbaikan tanah sebelum dilakukan pembangunan konstruksi diatas tanah lunak dengan metode stabilisasi. Stabilisasi tanah menggunakan bahan campuran diharapkan dapat meminimalisir sifat-sifat tanah yang kurang baik. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi dampak penggunaan abu daun salak dan waterglass. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah uji eksperimental di laboratorium. Pengujian sampel dilakukan di Laboratorium Geoteknik Teknik Sipil UKI Toraja. Variasi abu daun salak dan waterglass yang digunakan dalam penelitian ini yaitu variasi 0%, 5%, 10% dan 15% dari berat tanah kering serta abu waterglass 4% dari berat air. Hasil pengujian CBR tanah tanpa bahan stabilisasi dengan Pemeraman 3,7,12 hari pada variasi 5% berturut-turut yaitu 3,17%, 4,16%, 5,04%. Pada variasi 7% sebesar 5,73%, 8,39%, 10,6%, dan pada variasi 10% sebesar 11,82%, 13,8%, 17,37%.
Pengaruh Zeolit Dan Abu Cangkang Telur Sebagai Bahan Stabilisasi Terhadap Nilai CBR Tanah Henrianto Masiku; Yusri Anugerah Manapa Ambabunga; Ermitha Ambun Rombe Dendo; Rudolf Masiku
Jurnal Cahaya Mandalika ISSN 2721-4796 (online) Vol. 5 No. 2 (2024)
Publisher : Institut Penelitian Dan Pengambangan Mandalika Indonesia (IP2MI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36312/jcm.v5i2.3428

Abstract

Soil is the place where construction is built, thats why the soil must have a high bearing capacity. Clay is a fine-grained soil that has low bearing capacity. its necessary to improve it so that the construction can be built and provide a longer service life. Soil improvement to increase the bearing capacity of the soil can be done by stabilization. Soil stabilization using mixed materials is expected to minimize unfavorable soil properties. This research aims to evaluate the impact of using eggshell ash and zeolite as a stabilizer on the bearing capacity of the soil, in this case the CBR value of the soil. The method used is an experimental study in the laboratory. Sample testing was carried out at the UKI Toraja Civil Engineering Geotechnical Laboratory. Stabilizing materials include egg shells and natural zeolites. Egg shells and natural zeolite are burned until then ground and filtered using sieve No. 200 (0.075 mm) until ash is obtained. The variations of eggshell ash and natural zeolite used in this research were 0%, 4%, 6% and 8% of the dry weight of the soil and variations of eggshell ash of 4% of the dry weight of the soil. From the test results obtained, it can be seen that the combined use of zeolite and eggshell ash as a clay soil stabilization material can increase the CBR value of the soil in variations of Zeolite 4% and ACT 4%, Zeolite 6% and ACT 4% as well as Zeolite 8% and ACT 4%. – respectively 8.0 %, 25.3 % and 36.4 for soil without stabilization material.
Analisis Kepuasan dan Preferensi Pengguna terhadap Moda Angkutan Umum dan Transportasi Online di Rantepao, Kabupaten Toraja Utara Sombolinggi, Azril Tangke; Bua', Rilva Toding; Dendo, Ermitha Ambun Rombe; Arrang, Abdias Tande
Jurnal Komposit: Jurnal Ilmu-ilmu Teknik Sipil Vol. 10 No. 1 (2026)
Publisher : Universitas Ibn Khaldun

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32832/komposit.v10i1.22405

Abstract

Rantepao, as the capital of North Toraja Regency, experiences high social and economic activities that require an effective transportation system to support daily mobility. This study aims to analyze user satisfaction and preference toward online transportation and public transport in Rantepao. Data were collected through a questionnaire survey involving 200 respondents, consisting of 100 online transportation users and 100 public transport users. The analyzed variables include safety, service availability, fare, and service quality. Data analysis was conducted using multiple linear regression to examine factors influencing user satisfaction and binary logistic regression to analyze mode choice preference. The results indicate that user satisfaction with public transport is significantly influenced by fare, while satisfaction with online transportation is influenced by service availability, fare, and service quality. The binary logistic regression results show that service availability and safety increase the likelihood of choosing online transportation, whereas fare tends to encourage the selection of public transport. These findings highlight the importance of service characteristics in shaping transportation satisfaction and mode preference in Rantepao.
UTILIZATION OF HIGH-VOLUME FLY ASH AS A SUPPLEMENTARY CEMENTITIOUS MATERIAL IN ENVIRONMENTALLY FRIENDLY CONCRETE Yohans Sunarno; Parea Rusan Rangan; Ermitha Ambun; Andi Asiz; Miswar Tumpu; Astri Rinanti; Lisa Oksri-Nelfia
INDONESIAN JOURNAL OF URBAN AND ENVIRONMENTAL TECHNOLOGY VOLUME 7, NUMBER 1, APRIL 2024
Publisher : Universitas Trisakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25105/urbanenvirotech.v7i1.19658

Abstract

Innovations in material technology are expected to reduce the use of commercial cement and replace it with other environmentally friendly materials with the same performance as normal concrete. Aim: This study aim to analyze the mechanical property of High-Volume Fly Ash Concrete (HVFAC) using F class fly ash with different mix percentages. Methodology and Results: The experiment was conducted in laboratory scale. Four variations of test specimens consisted of: 1 variation (F0), which is conventional concrete with 100% Portland cement as control specimen, and three variations of HVFC (F70, F80, and F90), which were made with fly ash content (%) 70, 80, and 90 of total cementitious. Fresh concrete testing to determine workability, while hard concrete testing is done by density and compressive strength tests at the age of 3, 7, and 28 days on specimens that have been treated with the water submerged curing method. Conclusion, significance, and impact of study: All HVFAC specimens fulfill the Self Compacting Concrete (SCC) category. The compressive strength test results at 28 days showed that the addition of fly ash percentage caused a decrease in compressive strength values in all HVFAC variants, but still exceeded the minimum requirements of high and medium quality concrete. All HVFAC variations meet the requirements of ASTM C618-23 based on the evaluation of Strength Activity Index (SAI) values at 7 and 28 days of age. The utilization of 90% fly ash as a cement substitute resulted in an environmentally friendly concrete product based on the concept of cleaner production.