Claim Missing Document
Check
Articles

Found 24 Documents
Search

Pelatihan Pembuatan sign sistem pada Sekolah Dasar Negeri 61 Puntondo Takalar Faizal Erlangga Makawi; Muliana; Andi Fauziyah Hijrina Fatimah; Yulita Sirinti Pongtambing
Paramacitra Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. 3 No. 01 (2025): Volume 03 Nomor 01 (November 2025)
Publisher : PT Ininnawa Paramacitra Edu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62330/pjpm.v3i01.486

Abstract

Program pengabdian ini bertujuan meningkatkan tata kelola lingkungan belajar melalui pelatihan dan penerapan sign system di SDN 61 Puntondo Takalar. Kegiatan diawali dengan pelatihan bagi guru dan staf mengenai prinsip desain signage, pemilihan warna dan ikon ramah anak, serta standar penempatan informasi visual. Hasil pelatihan kemudian diimplementasikan dalam pembuatan produk sign system berupa papan penunjuk arah, label ruang kelas, penanda area khusus, dan papan informasi edukatif. Penerapan signage dilakukan di titik strategis sekolah untuk mendukung navigasi, keamanan, serta kenyamanan siswa dan pengunjung. Hasil kegiatan menunjukkan bahwa sign system tidak hanya memperbaiki aspek visual dan tata ruang sekolah, tetapi juga meningkatkan literasi visual, disiplin, dan identitas lingkungan belajar. Program ini memberikan kontribusi nyata terhadap terciptanya sekolah yang lebih informatif, ramah anak, dan profesional.
PERANCANGAN BUKU POP-UP “MENGENAL BUDAYA BUGIS” SEBAGAI MEDIA PEMBELAJARAN UNTUK ANAK USIA 7-12 TAHUN Andi Fauziyah Hijrina; Muhammad Zia Ulhaq
Tanra: Jurnal Desain Komunikasi Visual Fakultas Seni Dan Desain Universitas Negeri Makassar Vol 13, No 1 (2026): April
Publisher : Universitas Negeri makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26858/tanra.v1i1.83612

Abstract

In the modern era, the preservation of local cultural values faces significant challenges, particularly among Generation Alpha. The lack of engaging and communicative educational media for children aged 7 to 12 contributes to the decline in cultural awareness. This study aims to design and develop an interactive pop-up book as a cultural learning medium introducing Bugis ethnic traditions through engaging three-dimensional visuals. The development process employed a qualitative approach with the Four-D model (Define, Design, Develop). The results indicate that the pop-up book effectively serves as an innovative learning tool that enhances children’s interest in local culture and supports the transmission of cultural values. This book is expected to serve as a model for local wisdom-based educational media in Indonesia's cultural education curricula.
KAJIAN TRANSIT, TRANSISI, DAN GLOBALISASI TARI SERE BISSU MAGGIRI (TARIAN BISSU) Andi Fauziyah Hijrina
Boting Langi: Jurnal Seni Pertunjukan Vol 4, No 3 (2025): Juli- Septermber
Publisher : Universitas Negeri Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26858/bl.v4i3.77541

Abstract

Penelitian ini mengkaji fenomena perubahan budaya dalam Tari Sere Bissu Maggiri sebagai bagian dari tradisi sakral komunitas Bissu di Sulawesi Selatan, melalui pendekatan transit, transisi, dan globalisasi. Tari ini awalnya berfungsi sebagai ritus spiritual dalam upacara adat Bugis yang dipimpin oleh Bissu, sosok pendeta androgini yang dipercaya sebagai perantara antara manusia dan Dewata SeuwwaE. Namun seiring dengan masuknya Islam, tekanan politik, serta pengaruh pariwisata dan globalisasi, terjadi pergeseran fungsi, makna, dan bentuk penyajian tari tersebut. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif berbasis kajian pustaka, dengan pendekatan teoretis dari Maruska Svasek (transit dan transisi budaya) dan Jonathan Friedman (globalisasi dan identitas kultural). Temuan menunjukkan bahwa Tari Sere Bissu Maggiri telah mengalami proses transit secara geografis dari pusat kerajaan ke wilayah-wilayah pinggiran, serta mengalami transisi makna dari sakral menjadi profan. Globalisasi mempercepat komodifikasi tari ini dalam ranah industri pariwisata, menggeser praktik ritual menuju bentuk pertunjukan budaya yang terlepas dari akar-akar spiritualnya. Penelitian ini merefleksikan pentingnya pelestarian makna otentik dalam tradisi budaya minoritas agar tidak tereduksi menjadi sekadar tontonan folkloristik di tengah arus homogenisasi budaya global
PKM PELATIHAN DASAR PENGENALAN KECAPI BUGIS-MAKASSAR BAGI SISWA KELAS X SMA NEGERI 3 PANGKEP Sri Darmawati; Faidhul Inayah; Muhammad Syafruddin Akmal; Andi Aryani; Andi Fauziyah Hijrina Fatimah; Nurul Inayah Aniskamah
Sureq: Jurnal Pengabdian Masyarakat Berbasis Seni dan Desain Vol 5, No 1 (2026): Januari-Juni
Publisher : Universitas Negeri Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26858/srq.v5i1.86091

Abstract

Penurunan ketertarikan generasi muda terhadap alat musik tradisional merupakan dampak nyata dari arus globalisasi dan modernisasi yang memicu terjadinya diskoneksi pengetahuan budaya. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan untuk meningkatkan pemahaman kognitif dan keterampilan psikomotorik dasar siswa dalam memainkan instrumen kecapi Bugis-Makassar. Mitra pengabdian adalah SMA Negeri 3 Pangkep dengan subjek sasaran sebanyak 32 siswa kelas X IPS 1. Metode pelaksanaan diterapkan melalui tiga tahapan terstruktur, yaitu tahap persiapan (observasi dan penyusunan modul), tahap pelaksanaan inti (transformasi teori organologi, teknik petikan dasar, dan pengenalan laras Salendro serta Pelog), dan tahap praktik terbimbing (ansambel lagu daerah "Indologo"). Kegiatan dilaksanakan secara intensif pada tanggal 15–17 Maret 2026. Hasil pengabdian menunjukkan adanya peningkatan signifikan pada aspek apresiasi dan keterampilan motorik halus siswa, di mana pada hari ketiga peserta telah mampu mengartikulasikan melodi dasar lagu "Indologo" dalam versi satu oktaf secara berkelompok. Faktor pendukung utama kegiatan ini adalah tingginya motivasi intrinsik siswa dan dukungan tata pamong sekolah, sementara hambatan logistik berupa keterbatasan durasi dan rasio instrumen diantisipasi melalui metode peer learning berbasis rotasi kelompok. Kegiatan ini berhasil mengonversi pengenalan seni tradisi menjadi model pembelajaran praktis yang efektif bagi generasi muda.