Claim Missing Document
Check
Articles

Found 36 Documents
Search

Analisis Kelayakan Usaha Alpukat dalam Pot di Desa Wisata Jambu Kabupaten Kediri Fauzan, Muhammad Bishma; Artini, Widi; Sidhi, Eko Yuliarsha; Aji, Satriya Bayu; Rahardjo, Djoko
Jurnal Ilmiah Pertanian Nasional Vol. 5 No. 1 (2025): JANUARY
Publisher : Universitas Kadiri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30737/jintan.v5i1.6511

Abstract

Avocado Kelud cultivation in Jambu Tourism Village, Kediri Regency, using the Tabulampot technique (fruit plants in pots), shows great potential as an agribusiness. This training aims to analyze the financial feasibility of the farming business by highlighting the main problems, such as the limitations of optimal application of the Tabulampot technique and the lack of research on its financial feasibility. Data were obtained from farmers' financial records during 2024 through a purposive sampling method. The analysis was carried out to calculate production costs, income, and financial feasibility indicators, such as Break-Even Point (BEP), Revenue-Cost Ratio (R-C Ratio), and Benefit-Cost Ratio (B-C Ratio). The results showed a total production cost of IDR 18,705,815, resulting in a total income of IDR 51,041,250 with a net profit of IDR 32,335,435. BEP was recorded at IDR 19,108 per kilogram, far below the selling price of IDR 45,000 per kilogram. The R-C Ratio value of 2.97 and B-C Ratio of 1.72 indicate that this business is efficient and profitable. This study emphasizes the importance of innovative marketing strategies, production cost management, and optimization of Tabulampot techniques to maintain product competitiveness in the premium market. This study provides practical recommendations for farmers and stakeholders to increase the productivity and sustainability of Tabulampot-based agribusiness, which can become a model for sustainable farming. Budidaya Alpukat Kelud di Desa Wisata Jambu, Kabupaten Kediri, menggunakan teknik Tabulampot (tanaman buah dalam pot) menunjukkan potensi besar sebagai usaha agribisnis. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kelayakan finansial usaha tani tersebut dengan menyoroti permasalahan utama, seperti keterbatasan penerapan teknik Tabulampot secara optimal dan minimnya penelitian mengenai kelayakan finansialnya. Data diperoleh melalui metode purposive sampling dari catatan keuangan petani selama tahun 2024. Analisis dilakukan untuk menghitung biaya produksi, pendapatan, serta indikator kelayakan finansial, seperti Break-Even Point (BEP), Revenue-Cost Ratio (R-C Ratio), dan Benefit-Cost Ratio (B-C Ratio). Hasil menunjukkan total biaya produksi sebesar Rp18.705.815 menghasilkan total pendapatan Rp51.041.250 dengan keuntungan bersih Rp32.335.435. BEP tercatat sebesar Rp19.108 per kilogram, jauh di bawah harga jual Rp45.000 per kilogram. Nilai R-C Ratio sebesar 2,97 dan B-C Ratio sebesar 1,72 mengindikasikan bahwa usaha ini sangat efisien dan menguntungkan. Studi ini menekankan pentingnya strategi pemasaran inovatif, pengelolaan biaya produksi, dan optimalisasi teknik Tabulampot untuk mempertahankan daya saing produk di pasar premium. Penelitian ini memberikan rekomendasi praktis bagi petani dan pemangku kepentingan untuk meningkatkan produktivitas dan keberlanjutan agribisnis berbasis Tabulampot, yang berpotensi menjadi model usaha tani berkelanjutan.
Pendampingan Teknis dan Pembinaan Petani dalam Peningkatan Kesadaran Lingkungan dan Kemandirian Pertanian Berkelanjutan di Kelurahan Lirboyo, Kediri Yuliyanto, Yuliyanto; Chamro', Wardatul; Hadiyanti, Nugraheni; Junaidi, Junaidi; Kustiani, Edy; Muharram, Muhammad; Sidhi, Eko Yuliarsha
JATIMAS : Jurnal Pertanian dan Pengabdian Masyarakat Vol. 5 No. 1 (2025): MAY
Publisher : Kadiri University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30737/jatimas.v5i1.6467

Abstract

The technical assistance and farmer empowerment activities in Lirboyo Subdistrict aim to raise environmental awareness, reduce dependency on chemical inputs, promote self-reliance in sustainable agricultural practices, and engage in the Go Green campaign. This program involves collaboration between university students, local farmers, and vocational high school students (SMKN), who work together through various activities. A Participatory Rural Appraisal (PRA) approach, along with preliminary observations and Focus Group Discussions (FGDs) involving local farmers, students, and participants from SMKN 1 Kediri City, was employed to identify needs. Furthermore, the program used demonstration methods to provide skills in the production of organic fertilizers, engaging farmers, university students, and vocational students in the process. The outcomes of this program show highly positive impacts. These include increased knowledge and skills among farmers, students, and vocational students in producing and applying liquid bokashi fertilizer, implementing natural pest control, and a shift in attitudes as indicated by participants’ growing awareness of the importance of environmental preservation. Participants also expressed a willingness to share information about organic fertilizer production with friends, family, and the surrounding community through direct communication and social media videos. Additionally, participants expressed interest in maintaining ongoing discussions with agricultural extension officers through digital messaging platforms. Kegiatan pendampingan teknis dan pembinaan petani di Kelurahan Lirboyo bertujuan untuk meningkatkan kesadaran lingkungan, mengurangi ketergantungan penggunaan bahan kimia, mendorong kemandirian dalam praktik pertanian berkelanjutan dan terlibat dalam upaya kampanye go green. Program ini melibatkan mahasiswa, petani, dan siswa SMKN, yang bekerja sama dalam berbagai kegiatan. Pendekatan yang dilakukan untuk mengidentfikasi kebutuhan adalah dengan pendekatan PRA (Particaptory action research), observasi pendahuluan, FGD yang melibatkan petani setempat, mahasiswa, dan siswa SMKN 1 Kota Kediri. Selanjutnya, kegiatan ini juga mengguanakan metode Demonstrasi untuk memberikan keterampilan pembuatan pupuk organik yang melibatkan petani, mahasiswa dan siswa SMKN 1 Kediri. Hasil dari program ini menunjukkan dampak yang sangat positif. Hasil dari kegiatan ini dapat terlihat dari peningkatan pengetahuan dan keterampilan petani, mahasiswa, dan siswa SMK berupa kemampuan dalam membuat dan mengaplikasikan pupuk bokhasi cair, mampu melaksanakan pengendalian OPT alami, serta berdasarkan hasil komunikasi dengan peserta kegiatan ingin terjadi perubahan sikap berupa kesadaran pentingnya menjaga kelestarian alam dan berkeinginan untuk ikut menyebarkan informasi terkait pembuatan pupuk organik kepada teman, keluarga, dan masyarakat disekitarnya melalaui komunikasi langsung, dan video di sosial media. Selain itu, para peserta juga ingin untuk dapat berdiskusi secara berkelanjutan melalui pesan digital dengan penyuluh.
PREFERENSI KONSUMEN ATAS PEMBARUAN KEMASAN PRODUK KERUPUK LAMUK (STUDI KASUS JAJANAN TRADISIONAL KHAS DESA KALIRONG, KEDIRI): (Studi Kasus Jajanan Tradisional Khas Desa Kalirong, Kediri) Wibowo, Moch. Agus Suryo; Artini, Widi; Sidhi, Eko Yuliarsha; Lisanty, Nina
JURNAL AGRICA Vol. 18 No. 2 (2025): JURNAL AGRICA
Publisher : Universitas Medan Area

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31289/agrica.v18i2.14232

Abstract

Lamuk Crackers, a beloved traditional snack from Kalirong Village in Kediri, exemplifies an innovative way to repurpose cassava starch waste. Known for their distinctive flavour and cost-effective production, these crackers offer several advantages. However, they also face obstacles in today's competitive snack market, particularly in terms of packaging innovation. This study aims to understand consumer preferences for Lamuk Crackers better, emphasising the significance of packaging development and proposing strategies to improve packaging that can boost the product’s market position. We adopted a quantitative research approach, using a structured questionnaire as our primary data collection tool for surveys. Using simple random sampling, we gathered responses from 185 consumers who had previously tried Lamuk Crackers. Data analysis was performed using logistic regression to identify key factors that influence purchasing decisions. The findings reveal that innovative packaging, such as aluminium foil in a standing pouch design, considerably enhances consumer appeal and preference. Important factors influencing buying choices include product quality, materials, shelf life, brand loyalty, and price. There is a clear link between innovative packaging and the product’s visual appeal, which helps communicate its premium quality, improves protection, and prolongs shelf life—all of which affect consumer decisions. To grow the market share, implementing a comprehensive marketing strategy is essential, using social media, e-commerce platforms, and collaborations with retail partners. This approach aims to preserve the authentic identity of Lamuk Crackers while boosting its competitiveness amid a rapidly changing marketplace.
EFEKTIVITAS FASILITASI PENYEDIAAN PUPUK BERSUBSIDI KABUPATEN MANGGARAI TIMUR UNTUK USAHATANI PADI SAWAH Hardi, Dionisius Jusember; Sutiknjo, Tutut Dwi; Sidhi, Eko Yuliarsha
Jurnal Ilmiah Pertanian Nasional Vol. 3 No. 1 (2023): JANUARY
Publisher : Universitas Kadiri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30737/jintan.v3i1.3973

Abstract

Provision of food as a basic need for Indonesian citizens is a strategic role of the agricultural sector. The government continues to encourage increased farming activities by facilitating the provision of subsidized fertilizers for farmers. This activityis intended as an incentive for farmers to increase productivity. In practice, facilitating the provision of subsidized fertilizers is not always effective. The research was focused on rice production centers in East Manggarai Regency, precisely in LambahLeda Utara District, namely Satar Padut Village. Primary data was obtained from interviews with 24 farmers, 2 agricultural shop owners who were distributors, and employees of the local Food Crops Agriculture Office. This research employeddescriptive qualitative in presenting the results. The effectiveness of facilitating the provision of subsidized fertilizers in Satar Padut Villagewas measured by four indicators, which consistedof price accuracy, quantity, time of availability, and type of fertilizer. The research results showedthat the four indicatorswere not yet effective.The price of fertilizer sold to farmers above the highest retail price, besides,therewas still a shortage of fertilizer, and the type of fertilizer distributedwas not in accordance with government recommendations and the allocation of subsidized fertilizerwas not timely.Penyediaan pangan sebagai kebutuhan pokok warga Indonesia merupakan peran strategis sektor pertanian. Pemerintah terus mendorong peningkatan kegiatan usaha tani melalui fasilitasi penyediaan pupuk bersubsidi bagi para petani. Kegiatan ini ditujukan sebagai insentif bagi petani dalam peningkatan produktivitas. Dalam prakteknya, fasilitasi penyediaan pupuk bersubsidi tidaklah selalu efektif. Penelitian difokuskan di sentra produksi padi Kabupaten Manggarai Timur, tepatnya di Kecamatan Lambah Leda Utara, yaitu Desa Satar Padut. Data primer diperoleh dari hasil wawancara kepada 24 petani, 2 pemilik toko pertanian yang merupakan distributor, dan pegawai Dinas Pertanian Tanaman Pangan setempat. Penelitian menggunakan deskriptif kualitatif dalam memaparkan hasil. Efektivitas fasilitasi penyediaan pupuk bersubsidi di Desa Satar Padut yang diukur dari empat indikator, yang terdiri atas ketepatan harga, kuantitas, waktu ketersediaan, dan jenis pupuk. Hasil penelitian menunjukan bahwa keempat indikator tersebut belum efektif. Hal ini dapat dilihat dari harga pupuk yang dijual kepada para petani di atas harga eceran tertinggi, selain itu masih terjadi kelangkaan pupuk, dan jenis pupuk yang didistribusikan tidak sesuai dengan anjuran pemerintah serta pengalokasian pupuk bersubsidi tidak tepat waktu.
Faktor Produksi Usahatani Lada Putih (Piper nigrum L.) Kecamatan Paloh Kabupaten Sambas Selvi, Rosiana; Andajani, Wiwiek; Sidhi, Eko Yuliarsha
Jurnal Ilmiah Pertanian Nasional Vol. 3 No. 1 (2023): JANUARY
Publisher : Universitas Kadiri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30737/jintan.v3i1.4000

Abstract

Pepper plants in Sambas Regency, West Kalimantan Province, are included in the type of plantation crops ranked the sixth largest crop yield. Some obstacles pepper farmers face are the significant investment required, the long waiting period for the harvest, climate change, fluctuating selling prices, hard-to-find labour, and restrictions on subsidized fertilizers. Those obstacles affect pepper farmers to switch to other commodities recently. Financially, this study aimed to determine farming feasibility and production factors influencing pepper farming. Thirty farmers in the area were given equal opportunities to be selected as research respondents. Data were collected in two ways: interviews and questionnaires distributed to respondents. Data analysis was carried out quantitatively by calculating total costs, revenue, income, business feasibility, and statistical tests. The analysis showed that the total production cost of IDR52,285,255 was gained from 1,457 kg per hectare production. The price per kg was IDR68,000, which resulted in an income of IDR46,790,745 per hectare. R/C analysis of 1.89 indicated farming feasibility and profitability. Based on the results of multiple regression analysis, the independent variables (seeds, fertilizers, pesticides, labour, and land area) determined the amount of pepper production for 64.7%. Simultaneously, those independent variables significantly affected pepper production. Production factors significantly influenced production were fertilizers, pesticides, and land area. Tanaman lada di Kabupaten Sambas Provinsi Kalimantan Bagian Barat yang masuk dalam jenis tanaman perkebunan dengan hasil tanaman terbesar nomor 6 setelah tanaman perkebunan lainnya. Beberapa kendala yang dihadapi oleh petani lada diantaranya investasi yang diperlukan besar, masa tunggu panen yang lama, iklim, harga jual fluktuatif, tenaga kerja sulit didapat, serta pembatasan pupuk subsidi Hal ini dapat menyebabkan petani lada akan beralih ke komoditas lain jika tidak dilakukan penghitungan analisis finansialnya. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui usahatani, kelayakan usahatani serta faktor produksi yang berpengaruh terhadap usahatani lada putih. Responden yang digunakan sebanyak 30 petani yang ditentukan dengan memberikan kesempatan yang sama untuk dipilih sebagai responden. Data dikumpulkan dengan dua cara yakni wawancara dan juga kuisioner yang di sebar kepada responden. Analisis data dilakukan secara kuantitatif dengan menghitung biaya total, penerimaan, dan pendapatan, kelayakan usaha, serta uji statistik. Hasil analisis menunjukkan bahwa dari total biaya produksi Rp52.285.255 pada produksi sebanyak 1.457 per ha yang harga per kg di harga Rp68.000, maka di peroleh pendapatan dengan besaran nilainya Rp46.790.745 per ha. Hasil perhitungan R/C ratio pada angka 1,89>1 menunjukkan hasil usaha tani pada Desa Nibung tergolong menguntungkan. Berdasarkan hasil analisis regresi berganda, variabel independen (benih, pupuk, obat-obatan, tenaga kerja, dan luas lahan) menentukan jumlah produksi lada putih sebesar 64,7%. Secara simultan variabel independen berpengaruh signifikan terhadap produksi lada putih karena F hitung (8,781) lebih besar daripada F tabel (2,56) dengan signifikansi 0,05. Faktor produksi yang berpengaruh nyata terhadap produksi lada putih adalah pupuk, obatobatan, dan luas lahan
Perbandingan Keuntungan Petani Bengkuang Atas Pilihan Penerapan Pola Tanam di Kabupaten Kediri Rahmawati, Siti Zenita; Artini, Widi; Sidhi, Eko Yuliarsha; Lisanty, Nina
Jurnal Ilmiah Pertanian Nasional Vol. 3 No. 1 (2023): JANUARY
Publisher : Universitas Kadiri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30737/jintan.v3i1.4001

Abstract

Jicama (Pachyrhizus erosus) is a plant that has been cultivated by farmers in Kediri Regency. Initially, farmers planted jicama in monoculture during one growing season. Furthermore, some farmers develop an intercropping pattern of jicama and choy sum to increase the chances of greater yields and help reduce expenses because maintenance of two crops can be done at one time. The research was conducted in Ngampel Village, Papar District, one of jicama producing centers in Kediri Regency, to investigate the income comparison and the feasibility of jicama farming using different cropping patterns. Data were taken from all the farmers in the research location who cultivated jicama as many as 60 farmers, who were divided into two categories of cropping pattern application. The data were then analyzed by cost-income, farming feasibility analysis, and two independent sample tests. The results showed that the average total cost of jicama farming intercropped with choy sum was IDR28,439,687 per ha with an average income of IDR48,625,350 per ha. Meanwhile, jicama monoculture farming required an average cost of IDR24,395,391 per ha and generated an average income of IDR35,302,661 per ha. The statistical test results also proved that the costs and income of farmers applying the penanaman sela pattern exceeded monocultures. Both cropping patterns were feasible and profitable with R/C ratios of 2.57 and 2.78 for monoculture and intercropping respectively. Bengkuang (Pachyrhizus erosus) merupakan tanaman yang mulai dibudidayakan oleh petani di Kabupaten Kediri. Awalnya petani menanam bengkuang secara penanaman tunggal pada suatu musim tanam. Selanjutnya, sebagian petani mengembangkan pola penanaman sela untuk meningkatkan peluang hasil yang lebih besar dan membantu menekan biaya pengeluaran karena perawatan dua jenis tanaman yang bisa dilakukan dalam satu waktu sekaligus. Penelitian dilakukan di sentra bengkuang Kediri, yang berlokasi di Desa Ngampel, Kecamatan Papar, untuk mengetahui perbandingan pendapatan dan kelayakan usahatani bengkuang dengan penerapan pola tanam berbeda. Data diambil dari semua petani di lokasi penelitian yang membudidayakan bengkuang sebanyak 60 petani, yang terbagi dua kategori penerapan pola tanam. Data kemudian dianalisis dengan analisis biaya dan pendapatan, analisis statistik uji beda rata-rata, dan analisis kelayakan usahatani. Rerata biaya total per hektar tanam sela bengkuang-sawi sebesar Rp28.439.687 dengan pendapatan per hektar Rp48.625.350. Sementara tanam tunggal bengkuang membutuhkan rerata biaya per hektar Rp24.395.391 untuk menghasilkan pendapatan per hektar Rp35.302.661. Hasil uji statistik beda rata-rata membuktikan bahwa biaya dan pendapatan petani bengkuang penerap pola tanam sela memang melebihi penanaman tunggal. Kedua pola tanam sangat layak diusahakan dan menguntungkan dengan nilai rasio R/C 2,57 dan 2,78 masing-masing untuk usahatani bengkuang penanaman tunggal dan penanaman sela dengan sawi.
Analisis Pendapatan Petani Bawang Merah Dengan Sistem Mulsa dan Non Mulsa di Kabupaten Nganjuk Tahun 2021 (Studi Kasus di Desa Sukorejo Kecamatan Rejoso Kabupaten Nganjuk) Setiawan, Doni; Artini, Widi; Sidhi, Eko Yuliarsha
Jurnal Ilmiah Pertanian Nasional Vol. 3 No. 1 (2023): JANUARY
Publisher : Universitas Kadiri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30737/jintan.v3i1.4008

Abstract

Shallot is the primary commodity for most farmers in Sukorejo Village Nganjuk Regency. The shallot planting system must be optimized to produce optimal products. This study aimed to determine the income of shallot farmers using mulch and non-mulch systems. The determination of the sample was stratified random sampling. Two categories of shallot farmers were identified as mulch system users and non-users. Analysis results showed that both categories simultaneously affected income. The mulch users gained an income of IDR 204,929,703, while non-mulch users earned IDR 267,901,111. Therefore, the income of farmers using a non-mulch system was greater than that of farmers using a mulch system. In conclusion, the absence of a mulch system helps farmers save more on production costs. The mulching system users require to pay more attention and extra care on the utilization to reduce maintenance costs. Bawang Merah merupakan komoditi utama bagi mayoritas petani pada daerah penelitian. Sistem penanaman bawang merah harus bisa dioptimalkan agar menghasilkan produk yang optimal juga. Penelitian ini memiliki tujuan untuk mengetahui pendapatan petani bawang merah sistem mulsa dan non mulsa. Pengambilan sampel menggunakan stratified random sampling Sistem Mulsa dan non mulsa secara bersama–sama (simultan) berpengaruh terhadap pendapatan. Perbedaan pendapatan dalam penggunaan Sistem Mulsa dan Sistem Non Mulsa di Desa Sukorejo Kecamatan petani yang menggunakan sistem mulsa memperoleh pendapatan sejumlah 204.929.703 dan sistem non mulsa memperoleh pendapatan sejumlah 267.901.111. Jadi pendapatan petani menggunakan sistem non mulsa lebih besar pendapatannya dibandingkan dengan petani menggunakan sistem mulsa. Sebaiknya petani menggunakan sistem tersebut karena lebih bisa menghemat biaya produksi. Untuk petani yang menggunakan sistem mulsa dibutuhkan perawatan yang lebih ekstra sehingga bisa lebih menekan pengeluaran biaya rawat.
Analisis Komparatif Pendapatan Usahatani Tebu (Saccharum Officinarum L) Sistem Ratoon Cane (RC) Dan Sistem Plant Cane (PC) di Desa Gondang Kecamatan Plosoklaten Kabupaten Kediri Yuliandari, Neti; Artini, Widi; Sidhi, Eko Yuliarsha
Jurnal Ilmiah Pertanian Nasional Vol. 4 No. 1 (2024): JANUARY
Publisher : Universitas Kadiri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30737/jintan.v4i1.5059

Abstract

This research analyses differences in production cost levels between Ratoon Cane sugarcane farming and the Plant Cane system. The research was conducted in Gondang Village,Plosoklaten District, Kediri  Regency. The research was carried out from March to May 2023. Respondents were determined using a saturated sampling method. The number of respondents in this study were 10 who were Ratoon Cane (RC) system sugar cane farmers and 10 who were Plant Cane (PC) system sugar cane farmers. Thus, the total number of respondents was 20 farmers. The data analysis method was carried out using qualitative and quantitative analysis. From the results of research and data analysis, it can be obtained that the production costs used for Plant Cane sugar cane farming are higher than for Ratoon Cane sugar cane farming, namely an average per hectare of IDR57,623,212. Meanwhile, the average Ratoon Cane sugar cane farmer per hectare is only IDR46,240,466. There is a difference in production between Ratoon Cane and Plant Cane sugar cane farming in Gondang Village, Plosoklaten District, Kediri Regency, in 2021-2022. The average production per ha of Ratoon Cane farming is 828 quintals, and Plant Cane sugar cane farming is 908 quintals. Thus, it will affect revenue, namely IDR72,233,663 Ratoon Cane sugar cane and Rp78,314,663 Plant Cane sugar cane. There is a difference in revenue of IDR6,081,000 per hectare. Ratoon Cane's sugar cane farming income is IDR25,993,196, higher than Plant Cane's IDR20,691,450.   Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis perbedaan tingkat biaya produksi antara usahatani tebu Ratoon Cane dengan sistem Plant Cane. Penelitian dilakukan di Desa Gondang Kecamatan Plosoklaten Kabupaten Kediri. Penelitian dilaksanakan mulai Bulan Maret sampai dengan bulan Mei tahun 2023. Penentuan responden menggunakan metode sampling jenuh, jumlah responden pada penelitian ini 10 orang responden petani tebu sistem Ratoon Cane (RC) dan 10 orang responden petani tebu sistem Plant Cane (PC). Dengan demikian jumlah responden keseluruhan sebanyak 20 orang petani. Metode analisis data yang dilakukan dengan analisis kualitatif dan kuantitatif. Dari hasil penelitian dan analisa data, dapat diperoleh hasil bahwa penggunaan biayao produksi usahatani tebu Plant Cane lebih tinggi dibanding dengan usahatani tebu Ratoon Cane yaitu rata-rata per hektar sebesar Rp57.623.212,-.Sedangkan petani tebu Ratoon Cane rata-rata per hektar hanya sebesar Rp46.240.466.. Terdapat perbedaan produksi antara usahatani tebu Ratoon Cane dan Plant Cane di Desa Gondang Kecamatan Plosoklaten Kabupaten Kediri pada tahun 2021-2022. Rata-rata produksi per ha usahatani Ratoon Cane sebesar 828 kuintal dan usahatani tebu Plant Cane sebesar 908 kuintal. Dengan demikian akan berpengaruh terhadap penerimaan yaitu sebesar Rp72.233.663 tebu Ratoon Cane dan sebesar Rp78.314.663 tebu Plant Cane. Terdapat selisih penerimaan sebesar Rp6.081.000,- per hektar. Pendapatan usahatani tebu Ratoon Cane sebesar Rp25.993.196,- lebih tinggi dibandingkan dengan usahatani tebu Plant Cane sebesar Rp20.691.450.
Evaluasi Pendapatan dan Strategi Pemasaran dalam Usaha Pertanian Cabai Merah (Capsicum annum L.) Desa Puncu Kabupaten Kediri Putro, Wahyu Rianto; Sidhi, Eko Yuliarsha; Sutiknjo, Tutut Dwi; Pamujiati, Agustia Dwi; Djoko Rahardjo
Jurnal Ilmiah Pertanian Nasional Vol. 4 No. 1 (2024): JANUARY
Publisher : Universitas Kadiri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30737/jintan.v4i1.5288

Abstract

The development of the agricultural sector has the main objective of increasing food production and nutrition and improving the standard of living and welfare of the community. One of the potential contributors to the income of the farmers studied is the red chili plant. This research was conducted in Puncu Village, Kediri Regency, as a red chili production center. The research used a census method with 15 red chili farmer respondents. Data collection was carried out through interviews and questionnaires with farmers and traders. Data analysis was carried out qualitatively and quantitatively. The research results show that red chili farming in Puncu Village, Kediri, produces an average of 8,823 kg/ha with a total production cost of IDR34,594,639 per hectare. Farmers' income reaches IDR218,218,667, so the profit per hectare reaches IDR183,624,028 with an R/C ratio of 6.43, indicating significant profits. Red chili marketing was carried out through two channels where the first channel (farmers to retailers to consumers) was classified as efficient, with an efficiency level of 1.07%. Meanwhile, the second channel (farmer to collector to retailer to consumer) could be more efficient, with an efficiency level of 3.13%. Analysis of costs, profits, and marketing efficiency provides a deeper understanding of the economic dynamics in the red chili sector in Puncu Village, Kediri.   Pembangunan sektor pertanian memiliki tujuan utama untuk meningkatkan produksi pangan dan gizi, serta meningkatkan taraf hidup dan kesejahteraan masyarakat. Salah satu potensi penyumbang pendapatan petani yang diteliti adalah tanaman cabai merah. Penelitian ini dilakukan di Desa Puncu, Kabupaten Kediri, sebagai sentra produksi cabai merah. Penelitian menggunakan metode sensus dengan 15 responden petani cabai merah. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara dan kuesioner kepada petani dan pedagang. Analisis data dilakukan secara kualitatif dan kuantitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa usahatani cabai merah di Desa Puncu, Kediri, rata-rata menghasilkan 8.823 kg/ha dengan total biaya produksi Rp34.594.639 per hektar. Penerimaan petani mencapai Rp218.218.667, sehingga keuntungan per hektar mencapai Rp183.624.028 dengan R/C ratio 6,43, menandakan keuntungan yang signifikan. Pemasaran cabai merah dilakukan melalui dua saluran, dimana saluran pertama (petani ke pedagang pengecer ke konsumen) tergolong efisien dengan tingkat efisiensi 1,07%. Sementara itu, saluran kedua (petani ke pedagang pengumpul ke pedagang pengecer ke konsumen) tidak efisien dengan tingkat efisiensi 3,13%. Analisis biaya, keuntungan, dan efisiensi pemasaran memberikan pemahaman lebih mendalam tentang dinamika ekonomi di sektor cabai merah di Desa Puncu, Kediri.
Kendala Petani Padi Dalam Menerapkan Sistem Padi Organik (Studi Kasus: Desa Damarwulan Kecamatan Kepung Kabupaten Kediri) Puji Setiono; Sidhi, Eko Yuliarsha; Pamujiati, Agustia Dwi; Arissaryadin, Arissaryadin
Jurnal Ilmiah Pertanian Nasional Vol. 4 No. 1 (2024): JANUARY
Publisher : Universitas Kadiri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30737/jintan.v4i1.5323

Abstract

This research aims to understand the implementation of organic rice farming in Damarwulan Village, Kepung District, Kediri Regency. This research involved the Ungkal Jaya Farmers Group in Damarwulan Village, Kepung District, Kediri Regency, which consisted of 38 farmers. In this group, 27 members use a conventional rice planting system, while 11 use an organic one. This research found that the average organic rice production per hectare was 6,698 kg for Harvested Dry Grain (GKP) and 5,655 kg for Milled Dry Grain (GKG). If farmers decide to process it into rice, they get around 4,354 kg of rice. Production costs incurred amounted to IDR20,688,409. The average income from organic rice farming in this research location is IDR19,366,286 for GKP, IDR21,586,822 for GKG, and IDR35,776,514 for rice. The research results also revealed several obstacles faced by farmers in cultivating organic rice, including (1) farmers' perception that organic farming is complicated because it requires special treatment, including the use of pesticide-free water, (2) the process takes time because the rice fields are contaminated by chemical residues and limited distribution of organic production facilities, (3) higher risk of pest and disease attacks, (4) market price uncertainty, and (5) expensive organic certification costs with a validity period of 3 years. Thus, organic rice cultivation has high-profit potential. However, farmers face various obstacles, such as the limited supply of organic resources, changes in farmer behavior patterns, the threat of plant pest organisms, and market uncertainty for organic rice.   Penelitian ini bertujuan untuk memahami implementasi pertanian padi organik di Desa Damarwulan, Kecamatan Kepung, Kabupaten Kediri. Penelitian ini melibatkan Kelompok Tani Ungkal Jaya di Desa Damarwulan, Kecamatan Kepung, Kabupaten Kediri, yang terdiri dari 38 petani. Dalam kelompok ini, 27 anggota menerapkan sistem tanam padi konvensional, sementara 11 anggota menerapkan sistem tanam padi organik. Pada riset ini, ditemukan bahwa rata-rata produksi padi organik per hektar adalah 6.698 kg untuk Gabah Kering Panen (GKP) dan 5.655 kg untuk Gabah Kering Giling (GKG). Jika petani memutuskan untuk mengolahnya menjadi beras, mereka mendapatkan sekitar 4.354 kg beras. Biaya produksi yang dikeluarkan sebesar Rp20.688.409. Rata-rata pendapatan dari usahatani padi organik di lokasi penelitian ini adalah Rp19.366.286 untuk GKP, Rp21.586.822 untuk GKG, dan Rp35.776.514 untuk beras. Hasil penelitian juga mengungkapkan beberapa kendala yang dihadapi petani dalam budidaya padi organik, antara lain: (1) persepsi petani bahwa pertanian organik rumit karena memerlukan perlakuan khusus, termasuk penggunaan air bebas pestisida, (2) proses yang memakan waktu karena tercemarnya sawah oleh residu kimia dan keterbatasan sarana produksi organik yang merata, (3) risiko serangan hama dan penyakit yang lebih tinggi, (4) ketidakpastian harga pasar, dan (5) biaya sertifikasi organik yang mahal dengan masa berlaku selama 3 tahun. Dengan demikian, budidaya padi organik sebenarnya memiliki potensi keuntungan yang tinggi, namun petani dihadapkan pada berbagai kendala, seperti keterbatasan pasokan sumber daya organik, perubahan pola perilaku petani, ancaman organisme pengganggu tanaman, dan ketidakpastian pasar beras organik.